PENGHARGAAAN DAN PERLINDUNGAN
B. Penghargaan dan Perlindungan serta Prestasi Kerja
Perlindungan dan rasa aman psikologis menjadi syarat agar pengawas merasa aman dan nyaman dalam bekerja. Rasa aman dalam bekerja berpengaruh pada daya konsentrasi kerja, kesungguhan dan totalitas kerja. Hal ini sangat penting karena konsentrasi menjadi basis kecermatan, ketepatan dan efesiensi serta efektivitas kerja. Konsentrasi dan totalitas kerja akan menjadi elemen penting dalam melaksanakan tugas. Tanpa adanya jaminan perlindungan kerja yang komprehensif pengawas satuan pendidikan akan bekerja dengan penuh keraguan, kurang totalitas kerja. Dalam kondisi semacam itu, pengawas
satuan pendidikan akan sulit mengambil keputusan yang tepat terkait dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas profesional.
Perlindungan kerja pengawas adalah suatu bentuk atau cara menciptakan situasi kerja yang aman dan nyaman. Perlindungan itu dapat diberikan dalam bentuk perlindungan hukum yang dilandasi oleh aturan perundang-undangan yang secara terprogram disusun dengan maksud untuk bisa memberikan jaminan kepastian hukum setiap individu pengawas untuk bisa melakukan berbagai tugas dan kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Adanya jaminan kepastian hukum yang dapat memberikan perlindungan hukum bagi setiap pengawas satuan pendidikan dalam melaksanakan tugasnya akan menumbuhkan iklim kerja yang sehat sehingga mampu meningkatkan produktivitas kinerja dan hasil kerjanya.
Rollomay (1989) menyatakan bahwa ada dua hal yang harus dikembangkan untuk mendorong tumbuhkembangnya kreativitas dan produktivitas kerja. Pertama, rasa aman psikologis (psychological safety). Kedua, kebebasan psikologis (psychological freedom).
Rasa aman psikologis (psychological safety) dapat dibangun jika setiap pengawas satuan pendidikan memiliki jaminan kepastian hukum atas dasar undang-undang atau peraturan pemerintah yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan tugas profesionalnya. Selama mereka menjalankan tugas dalam koridor tupoksi yang menjadi kewenangan sesuai dengan aturan hukum dan tata cara kerja birokrasi yang disepakati maka pengawas satuan pendidikan akan merasa aman secara psikologis.
Adapun yang dimaksud dengan kebebasan psikologis adalah suasana hati yang merasa tanpa beban, tidak tertekan, tidak terintimidasi oleh lingkungan kerja, ataupun orang lain. Kebebasan psikologis ini dapat diwujudkan jika dalam bekerja setiap tenaga pengawas satuan pendidikan punya pedoman atau rujukan aturan hukum perundang-undangan yang jelas dan rinci. Dengan demikian kebebasan psikologis bukan berarti kebebasan yang tanpa batas
melainkan justru kebebasan yang terbatas pada koridor hukum dan perundang-undangan yang menjadi acuan.
Kebebasan dan rasa aman psikologis ini menjadi modal utama dalam meningkatkan kreativitas, inovasi dan produktivitas kerja pengawas satuan pendidikan. Dengan rasa aman dan kebebasan psikologis itu memungkinkan setiap pengawas satuan pendidikan dapat bekerja dengan penuh dedikasi, tidak cemas, tidak diliputi rasa takut, dan was-wqas sehingga mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara efektif dan efisien.
Dampak lain dari rasa aman dan kebebasan psikologis adalah berkembangnya budaya kerja yang sehat, disiplin dan produktif. Bekerja dengan rasa aman dan bebas dapat menumbuhkan berbagai ide kreatif dan inovasi produk dalam memberikan layanan pada stakeholder pendidikan. Hal inilah yang menjadikan perlunya implementasi kebijakan Harlindung bagi pengawas satuan pendidikan untuk dilakukan secara optimal.
C. Tujuan Penghargaan 1. Tujuan Umum:
Meningkatkan self esteem dan motivasi kerja pengawas satuan pendidikan yang pada perkembangannya diharapkan memiliki dampak positif terhadap dedikasi kerja, produktivitas kerja dan daya inovasi dalam melaksanakan Tupoksinya secara profesional.
2. Tujuan Khusus:
a. Meningkatkan harkat dan martabat pengawas satuan pendidikan sebagai pengawas satuan pendidikan yang profesional.
b. Meningkatkan self esteem dan self confidence pengawas satuan pendidikan dalam mengemban tanggungjawab tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas profesional.
c. Meningkatkan dedikasi kerja, loyalitas dan kinerja pengawas satuan pendidikan.
d. Membangun civil effect bagi masyarakat luas, utamanya stakeholder pendidikan agar lebih apresiatif terhadap keberadaan pengawas satuan pendidikan.
e. Membangun tradisi kultural untuk selalu dapat menghargai prestasi kerja setiap pengawas satuan pendidikan sehingga menumbuhkan iklim dan budaya kerja yang berorientasi pada dedikasi dan prestasi. D. Prinsip Pemberian Penghargaan
Agar kegiatan pemberian penghargaan terhadap pengawas satuan pendidikan ini dapat dilakukan sesuai dengan target yang ditetapkan maka dalam penyelenggaraannya dilandasi oleh prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Prinsip Pengganjaran: Pada prinsipnya pengawas satuan pendidikan menjalankan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan bidang pengawasannya. Namun dalam pelaksanaan tugas itu melibatkan dedikasi, loyalitas dan penampilan kerja yang optimal. Mereka ini bekerja tanpa pamrih, layak mendapatkan ganjaran (reward) sebagai wujud dari perhatian, pengakuan, rasa terima kasih dan pujian dari Dit Tendik sebagai institusi yang menaungi pengawas satuan pendidikan.
2. Prinsip Keadilan: pemberian penghargaan pada pengawas satuan pendidikan harus memperhatikan prinsip keadilan. Artinya pemberian penghargaan terhadap pengawas satuan pendidikan harus bebas dari kepentingan kelompok atau golongan berdasarkan suku, agama, ras, daerah, politik dan lain-lain, tetapi sepenuhnya didasarkan atas pertimbangan keadilan berdasarkan prestasi, pengabdian, dedikasi dan loyalitasnya dalam melaksanakan tugas kepengawasannya.
3. Prinsip Akuntabilitas: pemberian penghargaan harus didasarkan pada hasil penilaian yang terbuka, obyektif dan jujur, dengan mengikutsertakan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) pada proses dan hasil kepengawasan di sekolah dalam rangka mencapai kinerja sekolah yang efektif.
4. Prinsip Transparansi: pemberian penghargaan harus didasari oleh kepercayaan pada kemampuan melakukan penilaian secara obyektif oleh aparat di lapangan termasuk pihak yang berkepentingan (stakeholders),
yang langsung dapat mengamati dan mengikuti kegiatan kepengawasan. Semua tahap penilaian dalam rangka pemeberian penghargaan harus dilakukan secara transparan.
5. Prinsip Motivasi dan Promosi: pemberian penghargaan harus di fokuskan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan kinerja kepengawasan, pengabdian, kesetiaan, disiplin, dedikasi dan loyalitas, agar berfungsi dalam meningkatkan motivasi dan kinerjanya, sehingga berpengaruh pada pembinaan dan pengawasan sekolah secara efektif dan efisien.
6. Prinsip Keseimbangan: pemberian penghargaan harus seimbang dalam arti tidak hanya memberikan peluang yang tinggi bagi pengawas satuan pendidikan yang bekerja di perkotaan yang dekat dengan pusat-pusat pendidikan tinggi sehingga selalu terbuka kesempatan meningkatkan kemampuan profesionalitasnya, sementara itu mengabaikan pengawas-pengawas di desa-desa atau wilayah sulit dan terpencil. Oleh karena itu penghargaan harus memberi kesempatan yang seimbang untuk semua pengawas. Keseimbangan ini dapat ditempuh dengan menetapkan jenis-jenis atau kategori penghargaan yang memungkinkan pengawas-pengawas yang bekerja di daerah yang berbeda kondisi, fasilitas kerja, kesempatan untuk maju dan berkembang, kondisi social ekonomi orang tua dan masyarakat sekitarnya dan lain-lain, semuanya memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan penghargaan. Oleh karena itu perlu ditetapkan Kriteria yang relevan untuk kelompok masing-masing.
7. Prinsip Demokrasi: pemberian penghargaan harus memberikan peluang yang sama pada semua pengawas untuk berkompetisi dalam suasana kebebasan dalam mengimplementasikan profesionalitasnya, melalui kreatifitas, inisiatif, prakarsa dan kepeloporan dalam bekerja, sepanjang tidak merugikan kepentingan guru, kepala sekolah, masyarakat, bangsa dan negara.
E. Sasaran dan Ruang Lingkup Penghargaan 1. Sasaran
Sasaran pemberian penghargaan adalah:
a. Pengawas satuan pendidikan dari semua bidang pengawasan, baik pengawas TK/SD, SMP, SMA, SMK maupun SLB.
b. Pengawas satuan pendidikan di semua jabatan pengawas yang mencakup pengawas muda, pengawas madya, pengawas utama/samapta.
2. Ruang Lingkup
Aspek penilaian yang dijadikan landasan pemilihan pengawas yang akan mendapat penghargaan mencakup ruang lingkup: kualitas kepribadian, profesionalisme dalam mengimplementasikan kompetensi kepengawasan, hubungan dan keterampilan sosial/kemasyarakatan, prestasi, dedikasi, disiplin, loyalitas, inisiatif dan kreatifitas dalam melaksanakan tugas kepengawasan. Informasi mengenai aspek penilaian dapat diperoleh dari guru, kepala sekolah dan staf sekolah lainnya, sejawat/korwas, dan Kepala Dinas Pendidikan setempat.