• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. PEMBAHASAN

5.1.2. Penghitungan Nilai Temperature Humidity Index (THI)

Dalam penentuan tingkat kenyamanan di suatu daerah, kita tidak bisa memasukan semua parameter iklim secara langsung, diperlukan suatu persamaan yang mengandung dua atau lebih parameter untuk menentukan tingkat kenyamanan. Suhu dan kelembaban relatif merupakan parameter iklim yang biasa digunakan dalam masalah kenyamanan udara yang dinyatakan dalam bentuk Temperature Humidity Index (THI). Indeks Kenyamanan dalam kondisi nyaman ideal bagi manusia Indonesia berada pada kisaran THI 20 – 26.

Penentuan nilai THI ditentukan dari data suhu dan kelembaban yang didapat dari pengukuran lapangan dan berdasarakan data BMG Bandung. Nilai THI yang di dapat dari hasil pengukuran lapangan dapat dilihat pada Tabel 5.4 sedangkan dari data BMG dapat dilihat pada Tabel 5.5.

Berdasarkan Table 5.4 nilai THI di ketiga lokasi pengukuran (lahan terbangun, badan air, dan ruang terbuka hijau), masih dikatagorikan nyaman yaitu berkisar pada selang THI 20 – 26. Urutan nilai THI dari yang terendah hingga yang tertinggi adalah RTH (THI = 22,7), Badan air (THI = 24,1), serta lahan terbangun (THI = 26,5). Serta nilai THI rata-rata dari ketiga lokasi tersebut adalah 24,4. Semakin tinggi nilai THI,

41

maka semakin menurun tingkat kenyamananya. Sehingga perlu adanya perbaikan lingkungan dan tata ruang (lanskap) pada area terbangun agar nilai THI tetap pada katagori nyaman. Hal yang dapat dilakukan salah satunya adalah penanaman vegetasi terutama pepohonan dan penataan ruang pada area terbangun, sehingga iklim mikro di area ini semakin sejuk dan nyaman.

Tabel 5.4 Nilai THI WP Bojonagara berdasarkan Data Pengukuran Lapang Bulan Oktober 2009

Lokasi Suhu Udara

(ºC) Kelembaban Relatif (%) THI Stasiun KA Bandung 27,8 68 26,0 Perumahan Pasirkaliki 28,0 71 26,4 Perdagangan Sukajadi 28,3 81 27,2

Rata-Rata Lahan Terbangun 28,0 73 26,5

Sungai Cipedes 25,3 85 24,5

Sungai Cibeureum 24,3 83 23,4

Kali Lemahneundeut 25,5 76 24,3

Rata-Rata Badan Air 25,0 81 24,1

Pemakaman Kristen Pandu 23,8 82 22,9

Taman Sukajadi 23,3 83 22,4

Persawahan Gegerkalong 23,5 83 22,7

Rata-Rata RTH 23,5 83 22,7

Rata-Rata Seluruhnya 25,5 79 24,4

Sumber : Pengukuran Lapangan Bulan Oktober 2009

Berdasarkan Tabel 5.5, nilai THI di Wilayah Pengembangan Bojonagara masih dapat dikatakan nyaman karena masih berada pada kisaran nyaman yaitu nilai THI rata-ratanya 22,37. Dengan nilai THI maksimum 22,62 pada tahun 2007 dan nilai THI minimum 21,84 pada tahun 1999. Nilai THI di Wilayah Pengembangan Bojonagara dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan, dan tidak menutup kemungkinan pada tahun-tahun berikutnya nilai THI di Wilayah Pengembangan Bojonagara melebihi ambang nyaman. Sehingga perlu adanya pengendalian lingkungan dan tata ruang agar nilai THInya tetap pada ambang nyaman.

Nilai THI di Wilayah Pengembangan Bojonagara yang masih dikatagorikan nyaman, salah satunya dikarenakan letak geografis kota Bandung yang berada di

cekungan Bandung dan faktor geografis lain yang mendukung terciptanya kenyamanan.

Tabel 5.5 Nilai THI WP Bojonagara Tahun 1999-2007 Tahun Suhu Udara Rata-Rata

(°C)

Kelembaban Relatif Rata - Rata

(%) THI 1999 22.90 77 21.84 2000 23.52 76 22.41 2001 23.11 78 22.10 2002 23.56 77 22.45 2003 23.57 76 22.42 2004 23.53 77 22.46 2005 23.38 82 22.54 2006 23.47 80 22.51 2007 23.52 81 22.62 Rata-Rata 23.39 78 22.37

Sumber : BMG Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung (diolah)

Gambar 5.4 Grafik Perbandingan Nilai THI WP Bojonagara Tahun 1999-2007 5.1.3. Penghitungan Komponen Penduduk

Kependudukan merupakan salah satu komponen yang penting dalam perencanaan kota. Faktor penduduk juga merupakan salah satu penentu tingkat kenyamanan dalam suatu wilayah, karena dengan bertambahnya penduduk akan memerlukan ruang kehidupan seperti perumahan, sarana sosial, sarana ekonomi, dll

43

yang tentunya akan mengkonversi penggunaan ruang lainnya seperti ruang terbuka hijau. Data jumlah dan kepadatan penduduk di Wilayah Pengembangan Bojonagara dapat dilihat pada Tabel 5.6 dan Tabel 5.7.

Tabel 5.6 Jumlah Penduduk di Wilayah Pengembangan Bojonagara Menurut Kelurahan Tahun 2002-2007

No. Kecamatan / Kelurahan

Jumlah Penduduk (Jiwa)

2002 2003 2004 2005 2006 2007 A Kecamatan Andir 123.305 130.515 133.272 138.192 136.880 140.307 1 Campaka 15.891 20.348 20.779 20.829 20.532 21.740 2 Malebar 23.885 26.351 26.905 27.638 27.376 28.273 3 Garuda 14.151 13.137 13.414 13.819 13.688 13.562 4 Puguscariang 24.603 24.518 25.034 26.256 27.276 27.966 5 Ciroyom 25.643 27.223 27.808 29.020 27.476 27.920 6 Kebonjeruk 19.132 18.938 19.332 20.630 20.532 20.846 B Kecamatan Cicendo 82.323 91.321 94.239 100.652 105.822 112.323 1 Arjuna 11.467 15.801 16.303 17.111 17.990 19.794 2 Pasirkaliki 7.774 10.228 10.550 11.080 11.660 12.733 3 Pamoyanan 6.997 9.399 9.693 11.062 11.620 12.950 4 Pajajaran 19.868 22.459 23.185 25.163 26.455 28.268 5 Husen Sastranegara 14.203 14.867 15.345 16.104 17.990 19.014 6 Sukaraja 22.014 18.567 19.163 20.132 20.107 19.564 C Kecamatan Sukajadi 102.258 109.460 111.724 116.916 120.723 125.548 1 Sukawarna 14.226 15.068 15.382 16.368 16.901 17.611 2 Sukagalih 15.604 19.310 19.702 19.876 20.523 21.817 3 Sukabungah 22.234 27.474 28.047 29.066 30.181 32.317 4 Cipedes 27.429 25.983 26.529 27.054 28.573 28.841 5 Pasteur 22.765 21.625 22.064 24.552 24.545 24.962 D Kecamatan Sukasari 79.383 84.653 85.062 85.013 89.985 92.728 1 Sarijadi 27.586 28.924 29.064 28.904 30.595 31.362 2 Sukarasa 11.557 12.963 13.029 12.752 13.498 13.994 3 Gegerkalong 28.367 26.113 26.238 26.354 27.895 27.742 4 Isola 11.873 16.653 16.731 17.003 17.997 19.630 BOJONAGARA 387.269 415.949 424.297 440.773 453.410 470.906 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bandung Tahun 2002-2007

Berdasarkan Tabel 5.6, data jumlah penduduk di Wilayah Pengembangan Bojonagara tahun 2002 - 2007, pertumbuhan penduduk rata-rata pertahun adalah 4,04%. Kecamatan yang pertumbuhan penduduknya paling tinggi adalah kecamatan

Cicendo sebesar 6,52%, sedangkan kecamatan yang paling rendah pertumbuhan penduduknya adalah kecamatan Andir sebesar 2,68%.

Tabel 5.7 Kepadatan Penduduk di Wilayah Pengembangan Bojonagara Tahun 2002-2007

No. Kecamatan / Kelurahan

Luas (Ha)

Kepadatan Penduduk (Jiwa/Ha)

2002 2003 2004 2005 2006 2007 A Kecamatan Andir 370,74 332,59 352,04 359,48 372,75 369,21 378,45 1 Campaka 64,24 247,37 316,75 323,46 324,24 319,61 338,42 2 Malebar 53,00 450,66 497,19 507,64 521,47 516,53 533,45 3 Garuda 44,60 317,29 294,55 300,76 309,84 306,91 304,08 4 Puguscariang 69,00 356,57 355,33 362,81 380,52 395,30 405,30 5 Ciroyom 60,00 427,38 453,72 463,47 483,67 457,93 465,33 6 Kebonjeruk 79,90 239,45 237,02 241,95 258,20 256,97 260,90 B Kecamatan Cicendo 686,69 119,88 132,99 137,24 146,58 154,10 163,57 1 Arjuna 68,00 168,63 232,37 239,75 251,63 264,56 291,09 2 Pasirkaliki 109,00 71,32 93,83 96,79 101,65 106,97 116,82 3 Pamoyanan 52,00 134,56 180,75 186,40 212,73 223,46 249,04 4 Pajajaran 73,00 272,16 307,66 317,60 344,70 362,40 387,23 5 Husen Sastranegara 252,69 56,21 58,83 60,73 63,73 71,19 75,25 6 Sukaraja 132,00 166,77 140,66 145,17 152,52 152,33 148,21 C Kecamatan Sukajadi 430,90 237,31 254,03 259,28 271,33 280,16 291,36 1 Sukawarna 80,00 177,83 188,35 192,28 204,60 211,26 220,14 2 Sukagalih 131,00 119,11 147,40 150,40 151,73 156,66 166,54 3 Sukabungah 49,90 445,57 550,58 562,06 582,48 604,83 647,64 4 Cipedes 51,00 537,82 509,47 520,18 530,47 560,25 565,51 5 Pasteur 119,00 191,30 181,72 185,41 206,32 206,26 209,76 D Kecamatan Sukasari 627,53 126,50 134,90 135,55 135,47 143,40 147,77 1 Sarijadi 157,06 175,64 184,16 185,05 184,03 194,80 199,68 2 Sukarasa 123,02 93,94 105,37 105,91 103,66 109,72 113,75 3 Gegerkalong 167,77 169,08 155,65 156,39 157,08 166,27 165,36 4 Isola 179,68 66,08 92,68 93,12 94,63 100,16 109,25 BOJONAGARA 2.115,86 183,03 196,59 200,53 208,32 214,29 222,56

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bandung Tahun 2002-2007

Salah satu masalah kependudukan yang terdapat di wilayah Bojonagara adalah penyebaran penduduk yang tidak merata. Kelurahan yang memiliki kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Sukajadi, tepatnya di kelurahan Sukabungah yaitu sebesar 647,64 jiwa/Ha, sedangakan kelurahan dengan kepadatan paling rendah yaitu

45

sebesar 75,25jiwa/Ha adalah kelurahan Husein Sastranegara, karena di kelurahan ini terdapatnya Bandar Udara Husein Sastranegara. Adapun kecamatan Andir memiliki kepadatan tertinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya yaitu sebesar 378,45 jiwa/Ha, sedangkan kecamatan yang kepadatannya paling rendah adalah kecamatan Sukasari yaitu sebesar 147,77jiwa/Ha.

5.1.4. Perubahan Penggunaan dan Penutupan Lahan A. Perubahan Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di wilayah Pengembangan Bojonagara secara umum memiliki karakteristik mixed use serta aglomerasi kegiatan tertentu yang relatif homogen. Selain mixed use, fenomena penggunaan lahan yang terjadi di Wilayah Pengembangan Bojonagara adalah adanya kecenderungan perubahan penggunaan guna lahan dari area tak terbangun menjadi area terbangun, serta perubahan fungsi dari perumahan menjadi fungsi komersil. Perubahan penggunaan lahan di Wilayah Pengembangan Bojonagara menurut kecamatan tahun 2001 dan 2006 dapat dilihat pada Tabel 5.8, Tabel 5.9, Tabel 5.10, dan Tabel 5.11.

Berdasarkan Tabel 5.8, penggunaan lahan di Kecamatan Andir didominasi oleh kawasan pemukiman yaitu seluas 230,33 Ha atau 62,13% dari luas total Kecamatan Andir. Walupun penggunaan lahan didominasi oleh kawasan pemukiman, fenomena perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Andir adalah perubahan dari area tak terbangun seperti sawah, lapangan, dan tanah kosong menjadi area industri dan area perdagangan dan jasa. Tidak hanya area terbuka yang di konversi menjadi area terbangun, akan tetapi area terbangun pemukiman pun dikonversi menjadi area terbangun perdagangan dan jasa.

Dari tahun 2001 ke tahun 2006, luasan kebun/sawah/ladang terkonversi dari luas yang semula 17,14 Ha menjadi 15,68 Ha atau berkurang 1,46 Ha. Luasan lapangan terkonversi dari luas yang semula 7,26 Ha menjadi 6,78 Ha atau berkurang 0,48 Ha. Luasan semak/tanah kosong terkonversi dari luas yang semula 5,66 Ha menjadi 4,04 Ha atau berkurang 1,62 Ha. Begitupun luasan pemukiman terkonversi dari luas yang semula 246,78 Ha menjadi 230,33 Ha atau berkurang 16,45 Ha. Sedangkan area yang

luasannya bertambah adalah area industri yang luasnya 10,85 Ha menjadi 12,90 Ha atau bertambah 2,05 Ha. Begitupun luasan area perdagangan dan jasa yang bertambah luasanya 17,69 Ha, yang mana luas semula 33,99 Ha menjadi 51,95 Ha. Dari data tersebut konversi lahan yang sangat tinggi terjadi pada area perdagangan dan jasa yaitu 17,69 Ha. Hal tersebut menunjukan pula bahwa luasan terbangun dari tahun ke tahun semakin meningkat dan menurunkan proporsi ruang terbuka hijau.

Tabel 5.8 Penggunaan Lahan di Kecamatan Andir Tahun 2001 dan 2006

No Guna Lahan (Ha) 2001 2006

Luas (Ha) % Luas (Ha) %

1 Fasilitas Kesehatan 3,52 0,95 3,52 0,95 2 Fasilitas Umum 4,45 1,20 4,45 1,20 3 Industri 10,85 2,93 12,90 3,48 4 Kebun/Sawah/Ladang 17,14 4,62 15,68 4,23 5 Kolam 0,44 0,12 0,44 0,12 6 Bandara 3,15 0,85 3,15 0,85 7 Lapangan 7,26 1,96 6,78 1,83 8 Pendidikan 13,68 3,69 13,68 3,69

9 Perdagangan dan Jasa 33,99 9,17 51,95 14,01

10 Peribadatan 5,93 1,60 5,93 1,60 11 Perkantoran 12,75 3,44 12,75 3,44 12 Permukiman 246,78 66,56 230,33 62,13 13 Semak/Tanah kosong 5,66 1,53 4,04 1,09 14 Lainnya 5,14 1,39 5,14 1,39 Luas Wilayah 370,74 100,00 370,74 100,00

Sumber : Dinas Tataruang dan Ciptakarya Bandung Tahun 2006

Pada Tabel 5.9, dapat dilihat bahwa penggunaan lahan di Kecamatan Cicendo didominasi oleh kawasan pemukiman yaitu seluas 367,61 Ha atau 53,53% dari luas total Kecamatan Cicendo. Walupun penggunaan lahan didominasi oleh kawasan pemukiman, fenomena perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Cicendo adalah perubahan dari area tak terbangun seperti sawah, lapangan, dan tanah kosong menjadi area industri dan area perdagangan dan jasa. Tidak hanya area terbuka yang di konversi menjadi area terbangun, akan tetapi area terbangun pemukiman pun dikonversi menjadi area terbangun perdagangan dan jasa.

47

Dari tahun 2001 ke tahun 2006, luasan kebun/sawah/ladang terkonversi dari luas yang semula 24,99 Ha menjadi 23,67 Ha atau berkurang 1,32 Ha. Luasan lapangan terkonversi dari luas yang semula 26,01 Ha menjadi 25,06 Ha atau berkurang 0,95 Ha. Luasan semak/tanah kosong terkonversi dari luas yang semula 12,88 Ha menjadi 9,13 Ha atau berkurang 3,75 Ha. Begitupun luasan pemukiman terkonversi dari luas yang semula 376,83 Ha menjadi 367,61 Ha atau berkurang 9,22 Ha. Sedangkan area yang luasannya bertambah adalah area industri yang luasnya 27,88 Ha menjadi 28,36 Ha atau bertambah 0,48 Ha. Begitupun luasan area perdagangan dan jasa yang bertambah luasanya 14,76 Ha, yang mana luas semula 30,88 Ha menjadi 45,64 Ha. Dari data tersebut konversi lahan yang sangat tinggi terjadi pada area perdagangan dan jasa yaitu 14,76 Ha. Hal tersebut menunjukan pula bahwa luasan terbangun dari tahun ke tahun semakin meningkat dan menurunkan proporsi ruang terbuka hijau. Tabel 5.9 Penggunaan Lahan di Kecamatan Cicendo Tahun 2001 dan 2006

No Guna Lahan (Ha) 2001 2006

Luas (Ha) % Luas (Ha) %

1 Fasilitas Kesehatan 5,42 0,79 5,42 0,79 2 Fasilitas Umum 7,00 1,02 7,00 1,02 3 Industri 27,88 4,06 28,36 4,13 4 Kebun/Sawah/Ladang 24,99 3,64 23,67 3,45 5 Kolam 0,62 0,09 0,62 0,09 6 Bandara 96,21 14,01 96,21 14,01 7 Lapangan 26,01 3,79 25,06 3,65 8 Pendidikan 19,50 2,84 19,50 2,84

9 Perdagangan dan Jasa 30,88 4,50 45,64 6,65

10 Peribadatan 11,81 1,72 11,81 1,72 11 Perkantoran 30,40 4,43 30,40 4,43 12 Permukiman 376,83 54,88 367,61 53,53 13 Semak/Tanah kosong 12,88 1,88 9,13 1,33 14 Stasiun KA 8,31 1,21 8,31 1,21 15 Lainnya 7,95 1,16 7,95 1,16 Luas Wilayah 686,69 100,00 686,69 100,00

Tabel 5.10 Penggunaan Lahan di Kecamatan Sukajadi Tahun 2001 dan 2006

No Guna Lahan (Ha) 2001 2006

Luas (Ha) % Luas (Ha) %

1 Fasilitas Kesehatan 10,34 2,40 10,34 2,40 2 Fasilitas Umum 7,93 1,84 7,93 1,84 3 Kebun/Sawah/Ladang 26,41 6,13 23,79 5,52 4 Kolam 5,47 1,27 5,47 1,27 5 Komplek Militer 1,64 0,38 1,64 0,38 6 Lapangan 12,95 3,01 10,33 2,40 7 Pendidikan 13,87 3,22 13,87 3,22

8 Perdagangan dan Jasa 20,93 4,86 45,12 10,47

9 Peribadatan 8,36 1,94 8,36 1,94 10 Perkantoran 28,37 6,58 28,37 6,58 11 Permukiman 277,87 64,49 262,40 60,90 12 Semak/Tanah kosong 12,83 2,98 9,35 2,17 13 Lainnya 3,93 0,91 3,93 0,91 Luas Wilayah 430,90 100,00 430,90 100,00

Sumber : Dinas Tataruang dan Ciptakarya Bandung Tahun 2006

Berdasarkan Tabel 5.10 penggunaan lahan di Kecamatan Sukajadi didominasi oleh kawasan pemukiman yaitu seluas 262,40 Ha atau 60,90% dari luas total Kecamatan Andir. Walupun penggunaan lahan didominasi oleh kawasan pemukiman, fenomena perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Sukajadi adalah perubahan dari area tak terbangun seperti sawah, lapangan, dan tanah kosong serta area terbangun pemukiman menjadi area Perdagangan dan jasa.

Dari tahun 2001 ke tahun 2006, luasan kebun/sawah/ladang terkonversi dari luas yang semula 26,41 Ha menjadi 23,79 Ha atau berkurang 2,62 Ha. Luasan lapangan terkonversi dari luas yang semula 12,95 Ha menjadi 10,33 Ha atau berkurang 2,62 Ha. Luasan semak/tanah kosong terkonversi dari luas yang semula 12,83 Ha menjadi 9,35 Ha atau berkurang 3,48 Ha. Begitupun luasan pemukiman terkonversi dari luas yang semula 277,87 Ha menjadi 262,40 Ha atau berkurang 15,47 Ha. Sedangkan area yang luasannya bertambah adalah area perdagangan dan jasa yang luasnya 20,93 Ha menjadi 45,12 Ha atau bertambah 24,19 Ha. Data tersebut menunjukan bahwa perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Sukajadi sebesar 24,19 Ha terkonversi menjadi area perdagangan dan jasa. Hal tersebut menunjukan pula bahwa

49

luasan terbangun dari tahun ke tahun semakin meningkat dan menurunkan proporsi ruang terbuka hijau.

Tabel 5.11 Penggunaan Lahan di Kecamatan Sukasari Tahun 2001 dan 2006

No Guna Lahan (Ha) 2001 2006

Luas (Ha) % Luas (Ha) %

1 Fasilitas Kesehatan 6,40 1,02 6,40 1,02 2 Fasilitas Umum 6,34 1,01 6,34 1,01 3 Kebun/Sawah/Ladang 95,55 15,23 87,12 13,88 4 Kolam 8,53 1,36 8,53 1,36 5 Lapangan 23,01 3,67 19,70 3,14 6 Pendidikan 42,11 6,71 42,11 6,71

7 Perdagangan dan Jasa 28,03 4,47 42,51 6,77

8 Peribadatan 12,61 2,01 12,61 2,01 9 Perkantoran 34,84 5,55 34,84 5,55 10 Permukiman 318,28 50,72 323,79 51,60 11 Semak/Tanah kosong 46,78 7,45 38,53 6,14 12 Lainnya 5,05 0,80 5,05 0,80 Luas Wilayah 627,53 100,00 627,53 100,00

Sumber : Dinas Tataruang dan Ciptakarya Bandung Tahun 2006

Berdasarkan Tabel 5.11 penggunaan lahan di Kecamatan Sukasari didominasi oleh kawasan pemukiman yaitu seluas 323,79 Ha atau 51,60% dari luas total Kecamatan Andir. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi di kecamatan Sukasari adalah perubahan dari area tak terbangun seperti sawah, lapangan, dan tanah kosong menjadi area pemukiman dan area perdagangan dan jasa.

Dari tahun 2001 ke tahun 2006, luasan kebun/sawah/ladang terkonversi dari luas yang semula 95,55 Ha menjadi 87,12 Ha atau berkurang 8,43 Ha. Luasan lapangan terkonversi dari luas yang semula 23,01 Ha menjadi 19,70 Ha atau berkurang 3,31 Ha. Luasan semak/tanah kosong terkonversi dari luas yang semula 46,78 Ha menjadi 38,53 Ha atau berkurang 8,25 Ha. Sedangkan area yang luasannya bertambah adalah area pemukiman yang luasnya 318,28 Ha menjadi 323,79 Ha atau bertambah 5,51 Ha. Begitupun luasan area perdagangan dan jasa yang bertambah luasanya 14,48 Ha, yang mana luas semula 28,03 Ha menjadi 42,51 Ha. Dari data tersebut konversi lahan yang sangat tinggi terjadi pada area perdagangan dan jasa yaitu sebesar 14,48 Ha.

Bertambahnya luasan pemukiman di Kecamatan Sukasari, dikarnakan bertumbuhnya perumahan mewah berkavling besar di kecamatan ini. Kondisi ini memerlukan upaya pengendalian karena kecenderungan perubahan ruang ini menurunkan proporsi RTH.

Berikut adalah data rekapitulasi penggunaan lahan yang terjadi di WP Bojonagara dari tahun 2001 ke tahun 2006.

Tabel 5.12 Rekapitulasi Perubahan Penggunaan Lahan di WP Bojonagara Tahun 2001 dan 2006 (Ha)

Guna Lahan Kecamatan WP

Bojonagara Andir Cicendo Sukajadi Sukasari

Industri 2,05 0,48 0 0 2,53

Perdaganan dan Jasa 17,96 14,76 24,19 14,48 71,39

Total Penambahan 20,01 15,24 24,19 14,48 73,92 Kebun/Ladang/Sawah -1,46 -1,32 -2,62 -8,43 -13,83 Lapangan -0,48 -0,95 -2,62 -3,31 -7,36 Pemukiman -16,45 -9,22 -15,47 5,51 -35,63 Semak/Tanah Kosong -1,62 -3,75 -3,48 -8,25 -17,10 Total Pengurangan -20,01 -15,24 -24,19 -14,48 -73,92

Sumber : Hasil Analisis, 2009

Tabel 5.12, menunjukan bahwa perubahan penggunaan lahan yang dominan di Wilayah Pengembangan Bojonagara adalah pada guna lahan perdagangan dan jasa, dimana dalam kurun waktu 5 (lima) tahun telah terjadi penambahan luas sebesar 73,92 Ha. Guna lahan perdagangan dan jasa ini selain mengkonversi area terbuka, mengkonversi pula guna lahan pemukiman. Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat tinggi, sehingga perubahan guna lahannya pun menuju arah yang komersil atau perdagangan. Sedangkan jenis RTH yang mengalami defisit terbesar adalah semak/tanah kosong dimana dalam kurun waktu 5 (lima) tahun luasannya berkurang sebesar 17,1 Ha.

Luasan jenis penggunaan lahan yang bertambah ialah guna lahan industri dan perdagangan dan jasa. Pertambahan luas rata-rata pertahun untuk guna lahan industri adalah +1,27%, sedangkan untuk guna lahan perdagangan dan jasa adalah +10,23%. Sementara itu, jenis guna lahan yang mengalami penurunan luas rata-rata pertahun

51

adalah kebun/lading/sawah (-1,75%), lapangan (-2,22%), pemukiman (-0,59%), dan semak/tanah kosong (-4,82%).

B. Perubahan Penutupan Lahan

Perubahan penutupan lahan di Wilayah Pengembangan Bojonagara dapat diketahui dari peta landsat tahun 1999, 2004, dan 2007. Klasifikasi penutupan lahan berdasarkan BPN menjadi acuan dalam pengolahan dan pengklasifikasian peta landsat tahun 1999, 2004, dan 2007. Peta landsat diklasifikasikan menjadi 5 (lima) kelas penutupan lahan yaitu kebun campuran, taman kota, rumput dan semak, sawah dan ruang terbangun. Data jumlah penduduk dan perubahan luas tiap kelas penutupan lahan di Wilayah Pengembangan Bojonaraga pada tahun 1999, 2004, dan 2007 dapat dilihat pada Tabel 5.13. Sedangkan grafik perbandingan penutupan lahan di Wilayah Bojonagara dapat dilihat pada Gambar 5.5.

Tabel 5.13 Jumlah Penduduk dan Perubahan Penutupan Lahan Wilayah Pengembangan Bojonagara Tahun 1999, 2004, dan 2007

Tahun 1999 2004 2007

Jumlah Penduduk 348.804 Jiwa 424.297 Jiwa 470.906 Jiwa Klasifikasi

Penutupan Lahan Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) %

Kebun Campuran 573,8468 24,90 629,7181 27,33 551,8268 23,95 Rumput dan Semak 372,4832 16,16 4,6508 0,20 16,0285 0,70 Ruang Terbangun 991,1015 43,01 1.059,4899 45,98 1.502,0107 65,18

Sawah 17,1300 0,74 24,2005 1,05 14,8141 0,64

Taman Kota 349,7634 15,18 586,2656 25,44 219,6448 9,53 Total 2.304,3249 100,00 2.304,3249 100,00 2.304,3249 100,00 Sumber : Hasil Analisis 2009

Berdasarkan data diatas, dari tahun 1999 ke tahun 2007, pertumbuhan penduduk rata-rata pertahun adalah +3,82%. dengan pertumbuhan penduduk tersebut, kebutuhan lahan untuk pemukiman khususnya semakin meningkat. Hal tersebut terlihat dari luasan ruang terbangun yang semakin meningkat (pertambahan luas rata-rata pertahun +5,33%). Sementara itu, luasan jenis penutupan lahan selain ruang terbangun menunjukan nilai negatif, dengan kata lain terjadi pengurangan luas rata-rata pertahun pada masing-masing jenis penutupan lahan tersebut, yaitu kebun

campuran (-0,49%), rumput dan semak (-32,51%), sawah (-1,79%), dan taman kota (-5,65%).

Gambar 5.5 Grafik Perbandingan Penutupan Lahan Wilayah Pengembangan Bojonagara Tahun 1999, 2004, dan 2007

Klasifikasi penutupan lahan berupa ruang terbangun, kebun campuran, rumput dan semak, sawah dan taman kota dikelompokkan menjadi ruang terbangun dan ruang terbuka hijau (RTH). RTH meliputi kebun campuran, rumput dan semak, sawah, dan taman kota. Perubahan luas RTH pada tahun 1999, 2004 dan 2007 dapat dilihat pada Tabel 5.11.

Berdasarkan tabel perubahan RTH, terjadi pengurangan luasan RTH di Wilayah Pengembangan Bojonagara. Pada tahun 1999 – 2004 pertumbuhan penduduk rata-rata pertahun sebesar 3,99%, sedangkan rata-rata penurunan luas RTH pertahun sebesar 1,06%. Dari tahun 2004 – 2007, dengan rata-rata pertumbuhan penduduk pertahun sebesar 3,54%, rata-rata penurunan luas RTH pertahun sebesar 13,62%. Penurunan luas RTH rata-rata pertahun dari tahun 1999 – 2007 adalah 5,97% dengan pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun sebesar 3,82%.

Dokumen terkait