IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembahasan
4.2.4. Penginderaan citra satelit Sentinel-2A
Landsat 8 memiliki resolusi spasial 30 meter, resolusi ini lebih besar daripada satelit ASTER, sehingga tingkat klasifikasi semakin tidak detail.
Menurut Rini dan Susatya (2019), Landsat 8 merupakan kelanjutan dari misi Landsat yang untuk pertama kali menjadi satelit pengamat bumi sejak tahun 1972 (Landsat 1). Landsat 8 tergolong satelit baru walaupun sebenarnya lebih cocok disebut sebagai satelit yang melanjutkan misi dari landsat 7, hal ini karena landsat 8 memiliki karakteristik yang mirip dengan landsat 7 hanya saja ada beberapa tambahan yang menjadi titik penyempurnaan dari landsat 7 seperti jumlah band, rentang spectrum dan nilai bit atau rentang nilai digital number.
Pengolahan citra satelit Landsat 8 digunakan untuk menganalisis perubahan luasan karang hidup tahun 2015. Satelit Landsat 8 memiliki 11 band. Band yang digunakan yaitu band 4,3,2. Hampir sama halnya dengan satelit lain, kegunaan band 2 dan 3 untuk wilayah perairan dan dapat menembus air, sedangkan band 4 untuk vegetasi. Hal ini diperkuat oleh Cahyani et al., (2015) penggunaan band 2 dan 3 memiliki kemampuan untuk penetrasi kolom air laut, sedangkan band 4 untuk klorofil-a atau vegetasi pantai yang hidup.
4.2.4. Penginderaan citra satelit Sentinel-2A
Citra satelit ketiga yang digunakan yaitu Sentinel-2A. Sentinel-2A digunakan untuk menganalisis perubahan luasan terumbu karang tahun 2019. Sentinel-2A diluncurkan pada tahun 2015. Menurut Putri, et al., (2018), Sentinel-2 merupakan pencitraan optik Eropa yang diluncurkan pada tahun 2015. Sentinel-2 merupakan satelit pertama yang diluncurkan sebagai bagian dari program European Space Agency (ESA) Copernicus. Satelit ini membawa berbagai petakresolusi tinggi imager
multispectral dengan 13 band spektral. Satelit ini akan melakukan pengamatan terestrial dalam mendukung layanan seperti pemantauan hutan, deteksi perubahan lahan tutupan, dan manajemen bencana alam.
Sentinel-2A memiliki 13 band, tetapi yang digunakan dalam analisis penelitian kali ini menggunakan band 4,3,2. Band tersebut memiliki kegunaan yang hampir sama seperti satelit lainnya. Band 2 dan 3 dapat menembu perairan, sedangkan band 4 untuk pemantauan vegetasi, yang membedakan dengan satelit ASTER dan Landsat 8 resolusi spasial dari satelit Sentinel-2A yaitu 10 meter. Resolusi spasial jauh lebih kecil dibandingkan dengan satelit ASTER dan Landsat 8, sehingga cukup detail untuk pembagian setiap kelasnya. Menurut Hartoko et al., (2019), resolusi spasial yang berbeda akan memiliki hasil akurasi spasial yang berbeda pula dalam pembagian kelas terumbu karang
4.2.5. Kerentanan dan Kepekaan Terumbu Karang
Kepulauan Karimunjawa merupakan kawasan perairan semi tertutup, karena di kelilingi gugusan pulau-pulau besar dan kecil, dengan terumbu karang yang tersebar di semua pulau yang dapat melindungi dari gangguan ombak. Penelitian yang dilakukan mengenai kerentanan terumbu karang menunjukan bahwa kondisi ketiga lokasi masuk dalam kategori kerentanan dan kepekaan sedang, kerentanan dan kepekaan terumbu karang terjadi karena kondisi terumbu karang yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian secara langsung di lapangan bahwa lokasi penelitian ke-2 (Dermaga Kemujan) yang memiliki resiko rusak karena adanya kapal yang lalu lalang, aktivitas perikanan dan tempat kapal berlabuh, ditakutkan jangkar mengenai karang serta limbah dari bahan bakar kapal
masuk ke perairan. Menururt informasi warga sekitar, kapal yang terdapat di dermaga Kemujan rata-rata berukuran Panjang 10 meter dan lebar 2,5 meter. Kapal tersebut digunakan untuk menangkap ikan. Ikan yang biasanya ditangkap oleh nelayan yaitu ikan ekor kuning, ikan kakak tua, ikan tongkol dan ikan beronang. Adanya aktivitas tersebut harus menjadi perhatian lebih oleh pengelola. Kedepannya terumbu karang pada lokasi tersebut dapat mengalami kerusakan apabila tidak dilakukan pemantauan secara berkala oleh pengelolal Taman Nasional Karimunjawa. Apabila terumbu karang rusak hal tersebut dapat mengancam keberlangsungan hidup biota yang ada di bergantung pada terumbu karang yang memiliki fungsi sangat penting. Menurut Morgan (1998) dalam Munasik (2012), terumbu karang merupakan ekosistem perairan tropis yang sangat penting dan produktif di lingkungan. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumberdaya terumbu karang tertinggi di dunia.
Pulau Kemujan, Karimunjawa merupakan lokasi yang digunakan untuk penelitian. Penelitian dilakukan pada tiga lokasi, masing-masing lokasi dilakukan perhitungan pembobotan berdasarkan hasil penelitian dan sudah didiskusikan terlebih dahulu oleh pakar yang memahami terumbu karang. Hasil pembobotan yang didapat pada ketiga lokasi yaitu terumbu karang di Pulau Kemujan memiliki tingkat kerentanan dalam kategori rentan, dan kepekaan dalam kategori peka. Hal ini berarti kondisi terumbu karang memang rentan dengan adanya perubahan alam maupun aktivitas yang ada di perairan tersebut.
Kerusakan terumbu karang pada dasarnya memang disebabkan oleh faktor alam dan manusia. Menurut Uar et al., (2016), kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam misalnya: perubahan suhu air laut, angin topan, perubahan iklim global, gempa
bumi, letusan gunung berapi, pemangsa dan penyakit. Dampak kerusakan yang disebabkan oleh manusia biasanya adalah kegiatan perikanan yang tidak ramah lingkungan, ataupun kegiatan yang menyebabkan pencemaran lingkungan.
Kondisi terumbu karang yang rentan dan peka dengan adanya perubahan, didukung pula dengan hasi pengolahan citra satelit. Adanya perubahan luasan terumbu karang pada tahun 2011,2015, dan 2019 menunjukan bahwa memang kondisi tersebut harus diperhatikan agar pada tahun-tahun kedepan tidak semakin berkurang, meskipun terumbu karang memiliki kemampuan untuk pulih sendiri (recovery). Pengamatan tutupan terumbu karang dilakukan di dua zona penelitian berbeda yaitu reef flat dan slope, pada dua zona pengamatan tersebut terumbu karang di zona reef flat lebih banyak ditemukan Acropora Branching (ACB) hal ini menunjukan bahwa faktor alam yang sesuai sehingga mempengaruhi pertumbuhan Acropora Branching (ACB), selain itu Acropora Branching (ACB) memiliki kemampuan pulih (recovery) lebih cepat dari terumbu karang yang lain. Menurut Febrianti, et al., (2018), terumbu karang pada dasarnya memiliki kemampuan untuk pulih kembali atau recovery ketika keadaannya memburuk, tetapi proses ini membutuhkan waktu yang tidak cepat sehingga dalam proses pemulihannya di-perlukan keadaan yang tenang agar proses pemulihannya berjalan lancar.