DAFTAR LAMPIRAN
2.5. Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai objek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik terhadap obyek (Lo 1995). Teknologi Penginderaan Jauh menghasilkan beberapa bentuk citra yang selanjutnya dapat diproses dan diinterpretasi guna membuahkan suatu data yang bermanfaat untuk aplikasi di berbagai bidang keilmuan, seperti pertanian, arkeologi, kehutanan, geografi, geologi, perencanaan wilayah. Lebih jauh Lillesand dan Kiefer (1994) mendefinisikan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah dan fenomena dengan jalan menganalisis langsung terhadap objek, daerah atau fenomena yang diamati. Objek yang diindera mencakup objek-objek yang berada di permukaan bumi maupun di antariksa, sehingga penginderaan terhadap objek-objek tersebut dilakukan dari jarak jauh, dan karenanya ilmu ini disebut dengan penginderaan jauh (Sutanto 1984).
Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh pada saat ini meningkat dengan pesat. Ada beberapa alasan yang mendasari pemanfaatan penginderaan jauh, antar lain (a) citra mengambarkan objek, daerah, gejala permukaan bumi dengan wujud dan letak objek yang sama dengan permukaan bumi, relatif lengkap, dapat meliputi daerah yang luas, dan bersifat permanen, (b) karakteristik objek yang tidak nampak pada citra dimungkinkan untuk dikenali, (c) citra dapat diperoleh secara tepat, dan (d) citra sering dibuat dengan periode ulang yang pendek (Sutanto 1984).
Dewasa ini pengideraan jauh tidak sedikit dimanfaatakan untuk kajian- kajian kebencanaan alam dan mitigasi, khususnya untuk pemetaan wilayah yang berpotensi terkena bencana alam. Melalui teknik penginderaan jauh maka dapat dilakukan inventarisasi potensi sumberdaya alam serta mengidentifikasi wilayah-
wilayah yang berpeluang dilanda bencana alam terutama terkait dengan kondisi geomorfologinya (bentuklahan).
Salah satu contoh pemanfaatan data penginderaan jauh untuk studi banjir adalah yang dilakukan oleh Parwati et al. (2008), yang memanfaatkan data MTSAT-IR untuk menghasilkan informasi spasial tentang peluang hujan lebat harian, sehingga data ini dapat dijadikan untuk informasi spasial dan pemantauan terhadap daerah rawan banjir secara harian.
2.6. Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk mengolah data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografis. Star dan Estes (1990) mengemukakan bahwa SIG secara umum menyediakan fasilitas-fasilitas untuk mengambil, mengelola, memanipulasi dan menganalisis data serta menyediakan hasil, baik dalam bentuk grafik maupun dalam bentuk data tabular, sehingga fungsi utama SIG adalah untuk mengelola data spasial. Dalam hal ini komponen utama SIG dapat dibagi ke dalam empat kelompok, yaitu perangkat keras, perangkat lunak, organisasi (manajemen), dan pemakai.
SIG telah banyak dimanfaatkan untuk kajian kebencanaan alam, seperti penilaian bahaya dan risiko banjir. Dengan penggunaan teknologi tersebut dapat dilakukan analisis spasial dengan lebih cepat dan efisien. SIG mampu menghasilkan peta-peta tematik baru (turunan) yang didasarkan dari beberapa peta tematik lain melalui suatu proses tumpang-tindih (overlay). Peta bahaya dan peta risiko banjir misalnya juga dihasilkan dari proses tersebut.
2.7. Evaluasi Multi Kriteria
Saat ini aplikasi SIG dalam inventarisasi dan pemetaan sumberdaya alam semakin berkembang. Aplikasi SIG dalam perencanaan dan pengambilan keputusan telah digunakan secara luas untuk menyajikan pendapat dan opini dari para pengambil keputusan. Pendekatan yang menggabungkan antara SIG dengan proses pengambilan keputusan disebut pendekatan multi-criteria decision making
(MCDM) atau pengambilan keputusan kriteria majemuk.
kriteria majemuk maka berkembang menjadi suatu sistem penunjang keputusan spasial (Spatial Decision Support System/SDSS). Perbedaan antara SDSS dan sistem pendukung keputusan tradisional adalah dipertimbangkannya aspek geografis yang tereferensi secara geografik yang dapat diaplikasikan dalam penanganan masalah penataan ruang (Aminu 2007).
Pendekatan MCDM terbagai atas dua pendekatan, yaitu multi-atribut decision making (MADM) dan multi-objective decision making (MODM). MADM sering disebut sebagai multi-criteria assessment (MCA) atau multi- criteria evaluation (MCE), sedangkan, MODM lebih dekat dengan pareto optimum, yakni suatu pencarian dengan menggunakan teknik pemrograman matematis (Jankowski 1994; Malczewski 1999). Tujuan utama dari MCDM adalah untuk membantu para pengambil keputusan memilih alternatif terbaik dari sejumlah alternatif pilihan yang terdapat pada beberapa kriteria yang beragam. Setiap teknik MCDM memiliki metode analisis yang dapat digunakan sesuai kebutuhan (Jankowski 1995).
Metode MCE ditujukan untuk menganalisis masalah keruangan yang menghasilkan spatial multi criteria evaluation (SMCE) (Wairmahing 2008). SMCE dijalankan secara transparan dengan membangun struktur analisisnya, memberikan skala penilaian, skoring, dan pembobotan sesuai dengan karakteristik masing-masing faktor/kriteria. Penggunaan teknologi dan sistem informasi yang semakin baik akan memberikan efektivitas dan efisiensi dalam proses perencanaan dan penerapan pembangunan. Adapun diskusi, negosiasi, musyawarah untuk mufakat tetap dapat digunakan karena metode ini memberikan peluang lebih dari satu atau sekelompok pengambil keputusan yang terlibat didalamnya (Wairmahing 2008).
Penerapan MCE telah dilakukan oleh Yalcin dan Akyurek (2004), untuk analisis wilayah rawan banjir, yaitu dengan mengintegrasikan SIG dengan metode
Cell-based Multicriteria Evaluation (MCE). Dengan menggunakan software
ArcView, semua data disimpan dan nilai kriterianya divisualisasikan sebagai peta berlapis-lapis.
Keputusan spasial multikriteria secara khusus menghasilkan satu set pendefinisian alternatif-alternatif secara geografis dari salah satu atau lebih
(alternatif) yang didasarkan pada suatu set evaluasi kriteria (Malczewski 2006). Terdapat dua pertimbangan terpenting dari analisis keputusan spasial multikriteria, yaitu (Jankowski1995) :
1. Komponen GIS (pengambilan data, penyimpanan, pemanggilan kembali, manipulasi, dan kemampuan analisis);
2. Komponen analisis MCDM (agregasi data spatial dan prefensi-preferensi pengambil keputusan dalam alternatif-alternatif keputusan yang berlainan).
III. BAHAN DAN METODE
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di DAS Cisadane yang secara administratif berada di Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Bogor dan Kota Bogor) dan Provinsi Banten (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan). Secara geografis DAS Cisadane terletak antara 106 0 28 ' 53.5" hingga 106 0 56 ' 42.2 " BT dan 6 0 47 '17.8 " hingga 6 00 ' 14.8 " LS. Penelitian berlangsung dari bulan Februari 2012 hingga Januari 2013.