BAB III METODE PENELITIAN
F. Analisa
1. Pengkajian Keperawatan
a. Pengkajian keperawatan pada pasien
Menurut Stuart (2013), pengkajian merupakan tahapan awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkam menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien.
Pengkajian dilakukan dengan cara wawancara dan observasi kepada pasien dan keluarga. Menurut Keliat (2013), pengkajian keperawatan pada pasien dengan defisit perawatan diri adalah sebagai berikut :
1) Identitas klien
Perawat yang merawat pasien melakukan perkenalan dengan pasien tentang : nama perawat, nama pasien, panggilan perawat, panggilan pasien, tujuan, waktu dan tempat pertemuan, topik yang akan dibicarakan.
2) Keluhan utama
Biasanya pasien mengeluh malas mandi, tidak mau menggosok gigi, tidak mau memotong kuku, tidak mau berhias atau berdandan, tidak bisa dan tidak mau menggunakan alat mandi atau alat kebersihan diri, tidak mau menggunakan alat makan dan minum saat makan dan minum, tidak mau membersihkan diri dan tempat buang air besar dan buang air kecil setelah buang air besar dan buang air kecil atau tidak mengetahui cara perawatan diri yang benar.
3) Faktor predisposisi
Menurut Irman (2016), hal – hal yang mempengaruhi terjadinya defisit perawatan diri diantaranya meliputi :
a) Faktor biologis
Pada pasien yang mengalami defisit perawatan diri ditemukan adanya faktor penyakit fisik dan mental serta adanya faktor herediter yang menyebabkan pasien tidak mampu melakukan perawatan diri.
b) Faktor biologis
Pada pasien yang mengalami defisit perawatan diri dapat ditemukan adanya masalah dalam faktor perkembangan yang disebabkan oleh keluarga terlalu memanjakan pasien sehingga perkembangan inisiatif terganggu, kemampuan realitas menurun. Pasien gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri
c) Sosial
Pasien dengan defisit perawatan diri didapatkan kurang dukungan dan situasi lingkungan yang mempengaruhi kemampuan dalam perawatan diri.
4) Faktor presipitasi
Stressor presipitasi pada pasien dengan defisit perawatan diri ditemukan adanya kerusakan kognitif atau persepsi, menurunnya motivasi, cemas, lelah, lemah, yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. 5) Agama
Data ini menjelaskan tentang agama yang dianut oleh masing-masing keluarga, perbedaan kepercayaan yang dianut serta kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan
6) Prilaku
Menurut Keliat (2013) prilaku yang dapat ditemukan pada pasien dengan defisit perawatan diri biasanya pasien tampak malas mandi, tidak mau menyisir rambut, tidak mau menggosok gigi, tidak mau memotong kuku, tidak mau berhias dan berdandan, tidak mau menggunakan alat mandi atau kebersihan diri, tidak mau menggunakan alat makan dan minum saat makan dan minum, tidak mau membersihkan diri dan tempat buang air besar dan buang air buang air kecil, tidak mengetahui cara perawatan diri yang benar
Prilaku lain yang dapat ditemukan ada pasien dengan defisit perawatan diri antara lain pasien tampak tidak menggunakan alat mandi dengan benar, memilih, mengambil dan memakai alat sembarangan, tidak memakai sendal dan sepatu, makan dan minum berceceran dan sembarangan, tidak menggunakan alat makan dan minum, tidak mampu menyiapkan makanan, tidak mampu memindahkan makanan ke alat makan, buang air besar dan buang air kecil tidak pada tempatnya, tidak mampu menjaga kebersihan toilet, tidak mmpu menyiram toilet (Keliat, 2013)
7) Mekanisme koping
Menurut Dermawan (2013), mekanisme koping pada pasien dengan defisit perawatan diri adalah sebagai berikut :
(a) Regresi
Menghindari stress, kecemasan dan menampilkan prilaku kembali seperti pada prilaku perkembangan anak atau berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengulangi ansietas. (b) Penyangkalan
Melindungi diri terhadap kenyataan yang tidak menyenangkan dengan menolak menghadapi hal itu, yang sering dilakukan dengan cara melarikan diri seperti menjadi sakit atau kesibukan serta tidak berani melihat dan mengakui kenyataan yang menakutkan (Yusuf, 2015).
(c) Menarik diri
Reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis, reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindari sumber stressor. Reaksi psikologis individu menunjukkan prilaku
apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan
(d) Intelektualisasi diri
Suatu bentuk penyekatan emosional karena beban emosi dalam suatu keadaan yang menyakitkan, diputuskan atau diubah misalnya rasa sedih karena kematian orang terdekat maka mengatakan sudah nasibnya (Yusuf, 2015).
8) Sumber koping
Sumber koping merupakan suatu evaluasi terhadap pilihan koping dari strategi seseorang individu dapat mengatasi stress dan ansietas dengan menggunakan sumber koping yang ada di lingkungannya. Sumber koping tersebut dijadikan sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. Dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang efektif.
9) Psikosial (a) Genogram
Pada genogram biasanya terlihat ada anggota keluarga yang mengalami kelainan jiwa, pola komunikasi pasien terganggu begitu juga dengan pengambilan keputusan dan pola asuh yang terganggu.
(b) Konsep Diri
Biasanya gambaran dari pasien mengeluh dengan keadaan tubuhnya, ada bagian yang dia sukai dan ada bagian yang tidak dia sukai. Identits pasien sebelum sakit : pasien biasanya mampu menilai identitasnya, pasien menyadari peran dirinya sebelum
sakit, saat dirawat peran pasien terganggu, ideal diri tidak menilai diri, pasien memiliki harga diri rendah yang akan berakibat pasien tidak peduli akan perawatan diri sehingga terjadi defisit perawatan diri
(c) Hubungan Sosial
Biasanya pasien kurang bergaul dan bersosialisasi dilingkungan keluarga maupun masyarakat.
(d) Spritual
Biasanya nilai dan keyankinan pasien dengan gangguan jiwa dipandang tidak sesuai dengan agama dan budaya, kegiatan ibadah : pasien biasanya melakukan kegiatan agama dirumah, saat sakit ibadah pasien terganggu.
10) Mental
(a) Penampilan
Biasanya penampilan diri yang tidak rapi, kotor, tidak serasi atau tidak cocok dan berubah dari biasanya
(b) Pembicaraan
Biasanya tidak teroganisir dan bentuk yang maladaptif seperti kehilangan, tidak logis, dan berbelit-belit
(c) Aktivitas Motorik
Biasanya aktivitas motorik meningkat atau menurun, impulsif, kataton dan beberapa gerakan yang abnormal.
(d) Alam Perasaan
Biasanya Beberapa suasana emosi yang memanjang akibat dari faktor presipitasi misalnya sedih dan putus asa disertai apatis. (e) Afek : biasanya afek sering tumpul, datar, tidak sesuai dengan
(f) Interaksi selama wawancara
Biasanya selama interaksi dapat dideteksi sikap pasien yang tampak komat-kamit, tertawa sendiri, tidak terkait dengan pembicaraan, menggaruk – garuk, gatal dan juga kacau
(g) Persepsi
Biasanya pada pasien defisit perawatan diri yang terjadi pada pasien yaitu malas melakukan perawatan diri, tidak mau mandi, mencuci rambut, tidak mau menggososk gigi, tidak bisa memperhatikan penampilan ( berdandan dan berhias ), tidak makan dan minum dengan benar, tidak buang air besar dan buang air kecil ditempatnya.
(h) Proses pikir
Biasanya pasien tidak mampu mengorganisir dan menyusun pembicaraan logis dan koheren, tidak berhubungan, berbelit. Ketidakmampuan pasien ini sering membuat lingkungan takut dan merasa aneh terhadap pasien
(i) Tingkat kesadaran
Biasanya klien akan mengalami disorientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
(j) Memori
Biasanya terjadi gangguan daya ingat jangka panjang dan jangka pendek, mudah lupa, klien kurang mmapua menjalankan peraturan yang telah disepakati, tidak mudah tertarik. pasien berulang kali menanyakan waktu.
(k) Tingkat kosentrasi dan berhitung
Biasanya Kemampuan kosentrasi menurun terhadap realitas ekternal, seperti sukar menyelesaikan tugas, sukar berkosentrsi pada kegiatan atau pekerjaan dan mudah mengalihkan perhatian, mengalami masalah dalam memberikan perhatian.
(l) Kemampuan menilai
Biasanya pasien mengalami kemampuan meilai yang kurang, pasien tidak bisa membedakan keadaan yang bersih dan kotr, pasien juga tidak bisa menilai mana yang baik untuk dirinya.
(m) Daya titik diri
Biasanya pasien mengalami ketidakmampuan dalam mengambil keputusan. Menilai dan mengevaliuasi diri sendiri, penilaian terhadap lingkungan dan stimulus, membuat rencana termasuk memutuskan, melaksnakan keputusan yang telah disepakatai. pasien yang sama sekali tidak dapat mengambil keputusan, situsi ini sering mempegaruhi motivasi dan insiatif pasien
11) Kebutuhan sehari – hari pasien (a) Makan
Biasanya pada pasien defisit perawatan diri tidak mnegtahui cara makan yang benar, pasien tidak bisa membandingkan makan an yang bersih dan kotor, pasien juga tidak bisa mengetahui cara makan yang benar.
(b) Buang air besar dan buang air kecil
Biasanya pasien tidak buang air besar dan buang air kecil di tempatnya (toilet), pasien juga tidak membersihkan diri setelah buang air besar dan buang air kecil
(c) Mandi : biasanya pasien malas mandi, mencuci rambut, pasien juga malas menggosok gigi,
(d) Berpakaian : biasanya pakaian pasien kotor, bau, robek – robek, tidak rapi, tidak sesuai dan tidak diganti, pasien juga tidak mengetahui cara memakainya dengan benar.
(e) Tidur : biasanya lama waktu tidur siang dan malam : biasanya istirahat pasien terganggu bila terjadinya komlikasi seperti penyakit kulit yang diakibatkan dari defisit perawatan diri
(f) Pemeliharaan Kesehatan
Pemeliharaan kesehatan pasien selanjutnya, peran keluarga dan sistem pendukung sangat menentukan.
(g) Aktivitas dalam rumah
Biasanya pasien tidak mampu melakukan aktivitas didalam rumah seperti menyapu
12) Aspek Medis
(a) Diagnosa Medis : Skizofrenia (b) Terapi yang diberikan
Obat yang diperika pada pasien dengan defisit perawatan diri biasanya diberikang antipsikotik seperti haloperidol (HLP), chlorpromazine (CPZ), Triflnu perazin(TFZ), dan anti parkinson trohenski phenidol (THP), triplofrazine arkine.
b. Pengkajian keperawatan pada keluarga
1) Identitas lengkap penanggung jawab pasien
Meliputi nama KK, umur, Jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor telepon, dan komposisi atau susunan anggota keluarga. Komposisi keluarga mejelaskan anggota keluarga yang diidentifikasi sebagai bagian dari keluarga mereka
2) Tipe Keluarga
Menjelaskan mengenai tipe keluarga beserta kendala mengenai jenis tipe keluarga atau masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tradisional dan non tradisional
3) Riwayat keluarga dan Tahap Perkembangan a) Tahap perkembangan keluarga saat ini
Dari beberapa tahap perkembangan keluarga, identifikasi tahap perkembangan keluarga saat ini. Tahap perkembangan keluarga ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.
b) Tahap Perkembangan keluarga yang belum tercapai
Identifikasi tahap perkembangan keluarga yang sudah terpenuhi dan yang belum terpenuhi. Pengkajian ini juga menjelaskan kendala – kendala yang membuat tugas perkembangan keluarga tersebut belum terpenuhi.
c) Riwayat keluarga inti
Pengkajian dilakukan mengenai riwayat kesehatan keluarga inti, meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing – masing anggota keluarga meliputi penyakit yang pernah diderita oleh keluarga, terutama gangguan jiwa.
d) Riwayat keluarga sebelumnya
Pengkajian mengenai riwayat kesehatan orang tua dari suami dan istri, serta penyakit keturunan dari nenek dan kakek mereka. Berisi tentang penyakit yang pernah diderita oleh keluarga pasien, baik berhubungan dengan panyakit yang diderita oleh pasien, maupun penyakit keturunan dan menular lainnya
4) Status Sosial dan Ekonomi
Data ini menjelaskan pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu status ekonomi sosial keluarga ditentukan pula oleh kebutuhan – kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang – barang yang dimiliki oleh keluarga.
5) Data Lingkungan
a) Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, jarak septic tank dengan sumber air, sumber air minum yang digunakan serta dilengkapi dengan denah rumah.
b) Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Identifikasi mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan penduduk setempat serta budaya setempat yang memengaruhi kesehatan.
c) Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga dapat diketahui melalui kebiasaan keluarga berpindah tempat.
d) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Identifikasi mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana interaksi keluarga dengan masyarakat.
6) Struktur Keluarga
a) Sistem pendukung keluarga
Hal yang perlu dalam identifikasi sistem pendukung keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang sehat, fasilitas – fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan mencakup fasilitas fisik, fasilitas psikologis atau dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan dari masyarakat setempat.
b) Pola komunikasi keluarga
Identifikasi cara berkomunikasi antar anggota keluarga, respon anggota keluarga dalam komunikasi, peran anggota keluarga, pola komunikasi yang digunakan, dan kemungkinan terjadinya komunikasi disfungsional.
c) Struktur kekuatan keluarga
Mengenai kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah prilaku.
d) Struktur peran
Mengetahui peran masing – masing anggota keluarga baik secara formal maupun informal
e) Nilai dan norma keluarga
Mengetahui nilai dan norma yang dianut oleh keluarga yang berkaitan dengan kesehatannya.
4) Fungsi Keluarga a) Fungsi afektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya, bagaiman kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
b) Fungsi sosialisasi
Kaji mengenai interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya, serta prilaku.
c) Fungsi perawatan kesehatan
Mengetahui sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlingdungan, serta perawatan anggota keluarga yang sakit. Kesanggupan anggota keluarga dalam melaksanakan perawatan kesehatan dilihat dari kemampuan keluarga dalam melaksanakan lima tugas kesehatan keluarga, yaitu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk melakukan tindakan, melakukan perawatan terhadap anggota yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan, dan mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan tempat tinggal.
d) Fungsi reproduksi
Fungsi Reproduksi perlu dikaji mengenai jumlah anak, rencana mengenai jumlah anggota keluarga, dan upaya mengendalikan jumah anggota keluarga.
e) Fungsi ekonomi
Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, sejauh mana keluarga memanfaatkan sumberdaya dimasyarakat untuk meningkatkan status kesehatannya
2. Pohon masalah
Pohon maslah pada masalah defisit perawatan diri dapat diuraikan sebagai berikut (Fitria, 2009)
Gambar 1.1 Pohon masalah defisit perawatn diri (Fitria, 2009)
3. Diagnosa keperawatan pasien perawatan diri
Diagnosa keperawatan adalah identifikasi atau penilaian terhadap pola respons pasien baik aktual maupun potensial (Direja, 2011). Rumusan diagnosa adalah problem atau masalah berhubungan dengan etiologi dan keduanya saling berhubungan sebab akibat secara ilmiah. Diagnosis ini juga bisa permasalahan, penyebab dan simtom atau gejala sebagai data penunjang. Jika diagnosis tersebut sudah diberikan tindakan keperawatan, tetapi permasalahan belum teratasi, maka perlu dirumuskan diagnosis baru sampai tindakan keperawatan tersebut dapat diberikan hingga masalah tuntas (Kusuma, 2010).
Resiko tinggi isolasi sosial
Defisit perawatan diri
Harga diri rendah
Effect atau akibat
Core Problem
Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan tanda dan gejala defisit perawatan diri yang ditemukan. Jika hasil pengkajian menunjukkan tanda dan gejala defisit perawatan diri, maka diagnosa keperawatan yang ditegakkan adalah defisit perawatan diri : kebersihan diri, berdandan, makan dan minum, buang air besar dan buang air kecil.
Berdasarkan data yang didapat dari pasien defisit perawatan diri ditetapkan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien defisit perawatan diri diantaranya :
a. Defisit perawatan diri b. Harga diri rendah c. Isolasi sosial
4. INTERVENSI
Menurut Direja (2011) penatalaksanaan defisit perawatan diri dapat dilakukan dengan pendekatan strategi pelaksanaan diagnosa keperawatan jiwa baik itu pada pasien maupun pada keluarga.
a. Defisit perawatan diri
1) Strategi pelaksaan pada pasien defisit perawatan diri
Strategi pelaksanaan pada pasien dengan defisit perawatan diri adalah sebagai berikut :
Strategi pelaksanaan pasien pertemuan 1 :
a) Identifikasi masalah perawatan diri, kebersihan diri, berdandan, makan dan minum, buang air besar dan buang air kecil.
b) Jelaskan pentingnya kebersihan diri c) Jelaskan alat dan cara kebersihan diri
d) Latihan cara menjaga kebersihan diri, mandi, ganti pakaian, sikat gigi, cuci rambut, dan potong kuku
e) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan mandi, sikat gigi ( 2 kali per hari), cuci rambut ( 2 kali per minggu ), potong kuku ( satu kali per minggu )
Strategi pelaksanaan pasien pertemuan 2 :
a) Evaluasi kegiatan kebersihan diri, beri pujian b) Jelaskan cara dan alat untuk berdandan
c) Latihan cara berdandan setelah kebersihan diri, sisiran, rias muka untuk perempuan, cukuran untuk pria
d) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri dan berdandan
Strategi pelaksanaan pasien pertemuan 3 :
a) Evaluasi kegiatan kebesihan diri berdandan dan beri pujian b) Jelaskan cara dan alat untuk makan dan minum
c) Latihan cara makan dan minum yang baik
d) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri, berdandan makan dan minum
Strategi pelaksanaan pasien pertemuan 4 :
a) Evaluasi kegiatan kebesihan diri, berdandan makan dan minum dan beri pujian
b) Jelaskan cara dan alat buang air besar dan buang air kecil yang baik
c) Latihan cara buang air besar dan buang air kecil yang baik
d) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri, berdandan, makan dan minum serta buang air besar dan buang air kecil
2) Strategi pelaksanaan pada keluarga pasien defisit perawatan diri
Strategi pelaksanaan keluarga pertemuan 1 :
a) Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien
b) Jelaskan pengertian tanda dan gejala serta proses terjadinya defisit perawatan diri
c) Jelaskan cara merawat pasien dengan defisit perawatan diri d) Latihan cara merawat kebersihan diri
e) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian Strategi pelaksanaan keluarga pertemuan 2 :
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat dan melatih pasien kebersihan diri dan beri pujian
b) Bimbing keluarga membantu pasien berdandan
c) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian Strategi pelaksanaan keluarga pertemuan 3 :
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat dan melatih pasien kebesihan diri berdandan dan beri pujian
b) Bimbing keluarga untuk membantu makan dan minum pasien c) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian d) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri, berdandan,
makan dan minum
Strategi pelaksanaan keluarga pertemuan 4 :
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat dan melatih pasien kebesihan diri berdandan, makan dan minum dan beri pujian b) Bimbing keluarga merawat buang air besar dan buang air kecil
pasien
c) Jelaskan follow up Puskesmas, mengenal tanda kambuh dan rujukan
b. Harga diri rendah
1) Strategi pelaksanaan pada pasien harga diri rendah Strategi pelaksanaan pada pasien pertemuan 1 :
a) Mengidentifikasi pandangan atau penilaian pasien tentang diri sendiri dan pengaruhnya terhadap hubungan dengan orang lain, harapan telah dan belum tercapai, upaya yang dilakukan untuk mencapai harapan yang belum terpenuhi
b) Mengidentifikasi kemampuan melakukan kegiatan dan aspek positif pasien ( buat daftar kegiatan )
c) Membantu pasien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan d) Membantu pasien dapat memilih dan menetapkan kegiatan
berdasarkan daftar kegiatan yang dapat dilakukan
e) Melatih kegiatan yang telah dipilih sesuai kemampuan yaitu kegiatan pertama ( alat dan cara melakukan )
f) Bantu pasien memasukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan perhari
g) Berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap selesai latihan Strategi pelaksanaan pasien pertemuan 2 :
a) Evaluasi kegiatan pertama dan beri pujian
b) Bantu pasien memilih kegiatan kedua yang akan dilatih c) Latih kegiatan kedua ( alat dan cara )
d) Berikan dukungan dan pujian untuk meningkatkan harga diri pasien
e) Masukkan pada jadwal kegiatan perhari untuk latihan Strategi pelaksanaan pasien pertemuan 3 :
a) Evaluasi kegiatan pertama dan kedua serta berikan dukungan serta tingkatan harga diri pasien
c) Latih kegiatan ketiga ( alat dan cara )
d) Berikan pujian dan dukungan serta tingkatkan harga diri pasien e) Masukkan pada jadwal kegiatan harian pasien
Strategi pelaksanaan pasien pertemuan 4 :
a) Evaluasi kegiatan pertama kedua dan ketiga serta berikan dukungan serta tingkatan harga diri pasien
b) Bantu pasien memilih kegiatan keempat yang akan dilatih c) Latih kegiatan keempat ( alat dan cara )
d) Berikan pujian dan dukungan serta tingkatkan harga diri pasien e) Masukkan pada jadwal kegiatan harian pasien
2) Strategi pelaksaan pada keluarga harga diri rendah Strategi pelaksanaan keluarga pertemuan 1 :
a) Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien
b) Jelaskan pengertian tanda dan gejala serta proses terjadinya harga diri rendah
c) Jelaskan cara merawat pasien dengan harga diri rendah
d) Latihan cara merawat harga diri rendah latihan kegiatan pertama e) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian,
dukungan untuk meningkatkan harga diri pasien Strategi pelaksanaan keluarga pertemuan 2 :
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat dan melatih pasien kegiatan pertama
b) Bimbing keluarga membantu pasien latihan kedua
c) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian serta tingkatkan harga diri pasien
Strategi pelaksanaan keluarga pertemuan 3 :
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat dan melatih pasien kegiatan pertama dan kedua
b) Bimbing keluarga untuk membantu pasien latihan ketiga
c) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian d) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan kegiatan
Strategi pelaksanaan keluarga pertemuan 4 :
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat dan melatih pasien kegiatan pertama, kedua dan ketiga
b) Bimbing keluarga utuk membantu pasien latihan kegiatan keempat c) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian d) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan kegiatan
e) Jelaskan follow up Puskesmas, mengenal tanda kambuh dan rujukan
5. Implementasi
Tindakan keperawatan dilakukan berdasarkan intervensi yang telah dibuat oleh perawat sesuai dengan diagnosa pasien tersebut. sedangkan standart asuhan keperawatan terdiri dari tindakan keperawatan untuk pasien maupun keluarga
6. Evaluasi
Evaluasi menurut Keliat (2013) adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan kepada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang dilaksanakan.