Dalam aspek pengkajian resep antibiotika, dari 27 responden ada 77,78%
melakukan pengkajian resep dengan baik, dengan nilai rata-rata 96,83, kategori cukup ada 22,22%, dengan nilai rata-rata 72,22. Secara keseluruhan pelayanan pengkajian resep dapat dikatakan baik dengan nilai 91,36 dan memenuhi standar pelayanan antibiotika, namun dalam pelaksanaan pengkajian resep masih terdapat sedikit hal yang perlu ditingkatkan dalam pengkajian resep, dalam kuesioner masih ada beberapa pelayanan pengkajian resep yang langsung menyiapkan antibiotika begitu saja setelah menerima resep dari dokter. Jika dilihat dari jumlah resep antibiotika yang dilayani dalam sehari yaitu 6 – 10 resep antibiotika perhari, sebaiknya dalam pelayanan perlu meluangkan waktu untuk melakukan pengkajian resep secara menyeluruh, mengingat antibiotika merupakan terapi yang memiliki risiko tinggi dalam penggunaanya. Menurut PMK No. 2406 Tahun 2011 Tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika, upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan antibiotika tenaga kesehatan harus memahami prinsip Penetapan dosis, Interval, Rute, dan Lama Pemberian (rejimen dosis). Oleh sebab itu, farmasis/apoteker berperan dalam mengkaji kelengkapan resep dan dosis rejimennya serta mengkaji ulang kesesuaian instruksi pengobatan dengan rekam medik (KemenKes RI, 2011). Hal ini bertujuan agar pasien dapat memperoleh obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis atau kebutuhan pengobatannya dan mencegah kesalahan pemberian obat (medication error) (KemenKes RI, 2019). Dengan melakukan pengkajian dan pelayanan resep, risiko klinis, finansial, dan ketidakabsahan resep dapat diminimalisir. Dalam pelaksanaannya pengkajian dan pelayanan resep dilakukan oleh apoteker dan dapat dibantu oleh TTK. TTK dapat membantu pengkajian pelayanan resep dengan kewenangan terbatas dalam persyaratan administrasi dan farmasetik (KemenKes RI, 2019).
11 C. Dispensing
Dalam aspek dispensing, dari 27 responden ada 100% melakukan dispensing dengan baik, dengan nilai rata-rata 100. Secara keseluruhan pelayanan dispensing dapat dikatakan baik dengan nilai 100 atau dengan perkataan lain memenuhi standar pelayanan antibiotika. Berdasarkan observasi di ruang instalasi farmasi di puskesmas wilayah Kabupaten Sleman, di dalam ruangan terdapat tiga sampai lima orang tenaga kesehatan farmasi, dimana satu atau dua diantara lima tenaga kesehatan adalah apoteker dan sisanya adalah tenaga teknis kefarmasian.
Apoteker dapat memberikan wewenangnya kepada TTK untuk melakukan dispensing sehingga beban kerja apoteker optimal dan mendapat nilai penuh pada pelayanan dispensing. Dalam pelaksanaannya kegiatan dispensing merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket, dan menyerahkan sediaan farmasi dengan informasi yang memadai dan disertai dokumentasi (KemenKes RI, 2016a).
D. Pelayanan Informasi Obat
Dalam aspek pelayanan informasi obat, dari 27 responden ada 22,22%
melakukan pelayanan informasi obat dengan baik, dengan nilai rata-rata 91,67, dan kategori cukup ada 77,78%, dengan nilai rata-rata 67,86. Secara keseluruhan pelayanan informasi obat dapat dikatakan cukup dengan nilai 73,15 atau dengan perkataan lain sudah memenuhi standar pelayanan antibiotika. Berdasarkan hasil kuesioner, masih ada beberapa pelaksanaan pelayanan informasi obat yang menjelaskan informasi obat hanya sebatas yang tertulis pada etiket saja, dianjurkan agar penyerahan obat kepada pasien, selalu disertai dengan informasi tambahan mengenai peringatan atau hal-hal yang harus diperhatikan saat menggunakan obat, seperti peringatan penggunaan antibiotika dengan obat lain, peringatan penggunaan antibiotika dengan makanan dan minuman, serta peringatan lainnya yang dapat mengancam kesehatan pasien. Menurut PMK No 74 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas, upaya untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian di puskesmas, harus dilakukan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian meliputi monitoring dan evaluasi (KemenKes RI 2016a). Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan informasi dan rekomendasi
12
obat yang dilakukan oleh apoteker kepada dokter, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien dan pihak lain di luar puskesmas. Tujuan dilakukannya pelayanan informasi obat kepada pasien yaitu menyediakan informasi mengenai antibiotika kepada pasien dan meningkatkan penggunaan antibiotika yang rasional (KemenKes RI, 2011).
E. Konseling
Dalam aspek konseling, dari 27 responden ada 44,44% melakukan konseling dengan baik, dengan nilai rata-rata 100, kategori cukup ada 14,81%, dengan nilai rata-rata 75, dan kategori kurang ada 40,74%, dengan nilai rata-rata 45,54. Secara keseluruhan pelayanan konseling dapat dikatakan cukup dengan nilai 74,07 dan memenuhi standar pelayanan antibiotika. Berdasarkan hasil kuesioner, masih ada beberapa pelaksanaan pelayanan konseling kepada pasien yang belum sepenuhnya terpenuhi, penilaian pemahaman pasien masih sebatas three prime question saja, sebaiknya perlu dilakukan penggalian informasi secara luas dan lengkap, sehingga pasien mendapatkan segala informasi dan pemahaman yang pasien butuhkan tentang antibiotika. Sikap profesionalitas yang diberikan kepada pasien juga dapat menjadi faktor tercapainya pemahaman pasien. Perlu adanya peningkatan mutu pelayanan kefarmasian dalam konseling antibiotika. Dengan adanya konseling, pemberian pemahaman kepada pasien maupun keluarga pasien terkait antibiotika menjadi lebih baik. Konseling terutama ditujukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menggunakan antibiotika sesuai instruksi dokter dan untuk mencegah timbulnya resistensi bakteri serta meningkatkan kewaspadaan pasien maupun keluarganya terhadap efek samping yang mungkin terjadi (KemenKes RI, 2011).
F. Pemantauan Terapi Obat
Dalam aspek pemantauan terapi obat, dari 27 responden ada 48,15%
melakukan pemantauan terapi obat dengan baik, dengan nilai rata-rata 100, dalam kategori cukup ada 44,44%, dengan nilai rata-rata 75, dan dalam kategori kurang ada 7,41%, dengan nilai rata-rata 50. Secara keseluruhan pelayanan pemantauan terapi obat dapat dikatakan baik dengan nilai 85,19 dan memenuhi standar
13
pelayanan antibiotika. Berdasarkan hasil kuesioner, dalam pelaksanaan pelayanan pemantauan terapi obat, masih terdapat pelayanan yang belum terpenuhi, seperti memberikan rekomendasi terapi pengobatan antibiotika kepada tenaga kesehatan lain dan identifikasi masalah terkait obat antibiotika. Sebaiknya perlu memberikan rekomendasi kepada tenaga kesehatan lain, dibutuhkan kerja sama antar tenaga kesehatan dalam menangani terapi obat antibiotika dan dibutuhkan adanya interprofessional education (IPE) dan interprofessional collaboration (IPC).
Menurut PMK No.74 tahun 2016, pemantauan terapi obat merupakan proses yang memastikan bahwa pasien mendapatkan terapi obat yang efektif, terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping (KemenKes RI, 2016a).
Pemantauan terapi antibiotika dilakukan oleh apoteker yang memiliki SIPA yang masih berlaku dan untuk antibiotika yang mempunyai rentang terapi sempit.
Antibiotika yang perlu dilakukan pemantauan terapi adalah golongan aminoglycoside seperti gentamycin dan amikacin, serta vancomycin (KemenKes RI, 2011).
G. Monitoring Efek Samping Obat
Dalam aspek monitoring efek samping obat, dari 27 responden ada 92,59%
melakukan MESO dengan baik, nilai rata-rata 100 dan dalam kategori cukup ada 7,41%, dengan nilai rata-rata 66,67. Secara keseluruhan pelayanan monitoring efek samping obat dapat dikatakan baik dengan nilai 97,53 dan memenuhi standar pelayanan antibiotika. Berdasarkan hasil kuesioner, pelaksanaan pelayanan monitoring efek samping obat hampir seluruhnya terpenuhi, sehingga perlu sedikit adanya upaya peningkatan dan pemeliharan pelayanan monitoring efek samping obat dalam memberikan laporan ke Pusar Monitoring Efek Samping Obat.
Berdasarkan Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika, antibiotika yang perlu diwaspadai antara lain adalah antibiotika yang efek sampingnya dapat mengakibatkan syok anafilaksis, Steven Johnson’s Syndrome atau Toxic Epidermal Necrolysis (TEN). Antibiotika yang perlu diwaspadai penggunaannya terkait kemungkinan terjadinya Steven Johnson’s Syndrome atau Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) adalah golongan sulfonamide (cotrimoxazole),
14
penicillin/ampicillin, cephalosporin, quinolone, rifampicin, tetracycline dan erythromycin (KemenKes RI, 2011).
Dalam pelaksanaannya dokter, apoteker, dan spesialis mikrobiologis klinis melakukan pemantauan secara rutin kemungkinan terjadi efek samping antibiotika yang digunakan pasien. Pemantauan yang dilakukan dengan mengkaji kondisi klinis pasien, data laboratorium, serta data penunjang lain. Jika terjadi efek samping obat, sebaiknya segera dilaporkan ke pusat MESO Nasional, menggunakan form MESO. Pelaporan sendiri dapat dilakukan oleh apoteker, dokter maupun perawat, dan sebaiknya dibawah koordinasi Sub komite Farmasi dan Terapi yang ada di rumah sakit (KemenKes RI, 2011).
H. Hambatan
Dalam aspek hambatan pelayanan antibiotika, dari 27 responden 74,07%
sangat tidak setuju dengan adanya hambatan, dengan nilai 82,25 dan ada 25,93%
tidak setuju dengan adanya hambatan, dengan nilai 75. Secara keseluruhan responden memberikan nilai respon sangat tidak setuju terhadap adanya hambatan pelayanan antibiotika dengan nilai 80, 37 dalam interval nilai respon 76 – 100.
Berdasarkan hasil kuesioner, beberapa responden memberikan respon tidak setuju dan sangat tidak setuju, tidak ada satupun responden yang memberikan respon setuju dan sangat setuju, sehingga dengan kata lain dapat dikatakan dalam pelayanan antibiotika tidak ditemukan adanya hambatan. Dalam upaya
Tabel IV. Kategori Aspek Pelayanan Antibiotika
Aspek Nilai Kategori
Pengkajian Resep 91,36 Baik
Dispensing 100 Baik
Pelayanan Informasi Obat 73,15 Cukup
Konseling 74,07 Cukup
Pemantauan Terapi Obat 85,19 Baik
Monitoring Efek Samping Obat 97,53 Baik
Sumber: Data primer yang diolah dengan software Microsoft Excel
15
mewujudkan suatu pelayanan antibiotika yang baik di puskesmas tentu akan ada hambatan dalam mewujudkannya. Sebagaimana diketahui dalam memberikan pelayanan antibiotika, sikap petugas dan keterampilannya dalam pelayanan antibiotika juga turut serta menjadi faktor dalam keberhasilan pengobatan pasien.
Ketidakpatuhan dan ketidakpahaman pasien dalam menjalankan terapi dapat menjadi salah satu faktor kegagalan terapi. Pemberian informasi dan konseling tentang penggunaan antibiotika kepada pasien diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan pasien, merubah perilaku dan gaya hidup pasien, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatannya (Muljabar and Supadmi, 2014).
Tabel V. Hambatan Dalam Melakukan Pelayanan Antibiotika
Pernyataan %STS %TS %S %SS
Saya enggan untuk melayani pasien yang memiliki penyakit menular, karena penyakit menular mempunyai gejala yang tidak dapat diprediksi.
7,41 92,59 0 0
Saya takut tertular dan membuat saya
enggan melayaninya. 33,33 66,67 0 0
Saya enggan menghadapi kemungkinan timbulnya masalah akibat penggunaan obat/antibiotika
25,93 74,07 0 0
Saya merasa tidak nyaman karena takut akan timbul masalah adanya interaksi obat antibiotika dengan obat lain.
penggunaan antibiotika yang harus ditaati sesuai guideline.
14,81 85,19 0 0
Saya tidak memahami mekanisme aksi antibiotika
22,22 77,78 0 0 Saya tidak memahami penyakit menular 18,52 81,48 0 0 Saya enggan melakukan pelayanan terkait
penggunaan antibiotika karena permintaan hanya sedikit.
18,52 81,48 0 0
16
Lanjutan Tabel V. Hambatan Dalam Melakukan Pelayanan Antibiotika Saya enggan melakukan pelayanan terkait
penggunaan antibiotika dan lebih baik menyerahkannya kepada Tenaga Teknis Kefarmasian
22,22 77,78 0 0
Sumber: Data primer yang diolah dengan software Microsoft Excel Keterangan:
STS : Sangat Tidak Setuju TS : Tidak Setuju
S : Setuju
SS : Sangat Setuju
17
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Secara keseluruhan apoteker yang bekerja di puskesmas wilayah Kabupaten Sleman sudah memenuhi standar pelayanan antibiotika. Aspek pengkajian resep dalam kategori baik (91,36), aspek dispensing dalam kategori baik (100), aspek Pelayanan Informasi Obat (PIO) dalam kategori cukup (73,15), aspek konseling dalam kategori cukup (74,07), aspek Pemantauan Terapi Obat (PTO) dalam kategori baik (85,19), aspek Monitoring Efek Samping Obat dalam kategori baik (97,53). Seluruh responden menyatakan tidak ada hambatan dalam melayani antibiotika, dengan nilai respon sangat tidak setuju (80,37) terhadap adanya hambatan. Pelayanan antibiotika sudah baik dan perlu peningkatan dalam hal KIE.
B. Saran
Diharapkan bagi apoteker agar dilakukan evaluasi berkala dalam pelayanan kefarmasian penggunaan antibiotika agar dapat menjaga dan mempertahankan pelayanan yang sudah dalam kategori baik, yaitu pengkajian resep, dispensing, PTO, dan MESO dan meningkatkan kualitas pelayanan yg termasuk dalam kategori cukup dan kurang, yaitu PIO dan Konseling..
18
DAFTAR PUSTAKA
DinKes, 2020. Profil Kesehatan Kabupaten Sleman Tahun 2020. Dinas Kesehatan Sleman.
Fendya, W.T. and Setya Chendra Wibawa, 2018. PRODUCT UNTUK
MENGETAHUI KEPUASAN PENDIDIKAN KOMPUTER PADA LPK CYBER COMPUTER. IT-EDU, 3 (1), 45–53.
Istiqomah, F.N. and Satibi, 2012. EVALUASI IMPLEMENTASI STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN OLEH APOTEKER. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi, 2 (3), 127–132.
KemenKes RI, 2011. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2406/MENKES/PER/XII/2011. PEDOMAN UMUM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK.
KemenKes RI, 2016a. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS.
KemenKes RI, 2016b. Informasi SDM Kesehatan Nasional [online]. Badan PPSDM Kesehatan. Available from:
http://bppsdmk.kemkes.go.id/info_sdmk/info/index?rumpun=102%0Ahttp://
bppsdmk.kemkes.go.id/info_sdmk/info/index?prov=16.
KemenKes RI, 2019a. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 328/MENKES/SK/VIII/2013 Tentang Formularium Nasional.
KemenKes RI, 2019b. PETUNJUK TEKNIS STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS.
Larasanty dkk., 2018. Pengembangan Kuesioner Kepuasan Pasien Untuk Pelayanan Farmasi Klinik yang baru di Negara Indonesia. Jurnal Farmasi Udayana, 7 (1), 7–12.
Masturoh, I. and Nauri Anggita T., 2018. METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN.
Muljabar, S.M. and Supadmi, W., 2014. Pengaruh Pemberian Informasi Obat Terhadap Tingkat Kepatuhan Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Ispa Di Puskesmas Kotagede I Yogyakarta. Pharmaciana, 4 (2), 143–149.
Pranatawijaya, V.H., Widiatry, W., Priskila, R., and Putra, P.B.A.A., 2019.
Penerapan Skala Likert dan Skala Dikotomi Pada Kuesioner Online. Jurnal Sains dan Informatika, 5 (2), 128–137.
Utami, E.R., 2011. Antibiotika, Resistensi, Dan Rasionalitas Terapi. el–Hayah, 1 (4), 191–198.
19 LAMPIRAN
20 Lampiran 1. Informed Consent
PERNYATAAN PERSETUJUAN (INFORMED CONSENT)
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama/Inisial :
Tempat Tanggal Lahir : Menyatakan bahwa:
1. Saya telah mendapat penjelasan mengenai kegiatan penelitian dengan judul
“Pelayanan Kefarmasian Terkait Penggunaan Antibiotika Di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman”.
2. Saya berhak memutuskan untuk keluar dan tidak berpartisipasi lagi dalam penelitian yang diselenggarakan bila terdapat hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan.
3. Data yang diperoleh hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian serta dijaga kerahasiaannya.
Setelah saya memahami penjelasan yang diberikan, dengan kesadaran dan tanpa paksaan dari siapapun, saya bersedia ikut serta dalam penelitian ini. Demikian pernyataan yang saya buat. Semoga bermanfaat.
Yogyakarta,………
Peneliti Yang membuat pernyataan
(Ruben James Sibarani) (……….)
21 Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
KUESIONER
PELAYANAN KEFARMASIAN TERKAIT PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA DI PUSKESMAS WILAYAH KABUPATEN SLEMAN
Survei ini adalah survei untuk penulisan skripsi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD), oleh karena itu saya sebagai peneliti berterima kasih atas kesediaan bapak/ibu/saudara sekalian untuk mengisi dan menjawab setiap pernyataan dengan sukarela dan sesuai dengan kondisi saat ini.
I. IDENTITIAS APOTEKER
Berikan tanda Check () pada kolom yang telah tersedia dengan kondisi anda saat ini.
1. Jenis Kelamin dan Umur
Laki – laki __ tahun
Perempuan __ tahun2. Pengalaman sebagai Apoteker di Puskesmas
≤ 1 tahun
> 1 – 5 tahun
> 5 – 10 tahun
> 10 tahun3. Jumlah lembar resep antibiotika yang dilayani per hari
≤ 5 lembar
6 – 10 lembar
11 – 20 lembar
21 – 30 lembar22 Lanjutan Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
> 30 lembar4. Frekuensi kehadiran di Puskesmas
Setiap hari, selama puskesmas buka
Setiap hari, pada jam tertentu
Yang lain:5. Tuliskan jenis antibiotika yang sering anda layani:
II. Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian terkait penggunaan antibiotika.
Anda diharapkan untuk menjawab pernyataan-pernyataan dibawah ini dengan memberi tanda Check () pada jawaban yang sesuai dengan kondisi saat ini.
No. Kegiatan Ya Tidak
A. PENGKAJIAN RESEP
A1 Ketika menerima resep antibiotika, saya memastikan kembali persyaratan administrasi meliputi: nama pasien, umur, berat badan pasien, nama dokter, paraf dokter, dan tanggal resep.
Kajian farmasetis
A2 Saya memastikan kembali bentuk sediaan dan kekuatan sediaan obat ketika menerima resep antibiotika.
23 Lanjutan Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
A3 Ketika menerima resep antibiotika terkait dosis dan jumlah obat, saya langsung menyerahkan kepada TTK begitu saja sesuai dengan apa yang tertulis di dalam resep untuk disiapkan/diracik.
A4 Saya memastikan kembali ketepatan aturan dan cara penggunaan obat ketika menerima resep antibiotika.
Kajian klinis
A5 Ketika menerima resep antibiotika, saya mengikuti begitu saja apa yang tertulis di dalam resep bahwa obat sudah sesuai dengan indikasinya.
A6 Saya memastikan kembali dosis dan waktu penggunaan obat antibiotika sudah tepat ketika menerima resep.
A7 Saya memeriksa riwayat pengobatan atau kondisi klinis pasien untuk memastikan obat antibiotika yang digunakan tidak kontraindikasi.
A8 Ketika di dalam resep terdapat dua atau lebih obat antibiotika dengan indikasi yang sama, saya langsung menyiapkannya obat itu begitu saja sesuai dengan resep.
A9 Ketika menerima resep antibiotika, saya selalu memeriksa interaksi obat pada resep dengan pustaka yang kredibel.
B. DISPENSING
B1 Saya menyiapkan/meracik obat antibiotika ketika resep tersebut sudah tepat dan sesuai dengan persyaratan administrasi, farmasetik, dan klinis.
24 Lanjutan Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
B2 Saya langsung menyerahkan obat begitu saja ke pasien, karena saya yakin obat yang saya serahkan sudah sesuai dengan apa yang tertulis di dalam resep.
B3 Saya selalu memberikan etiket pada kemasan obat antibiotika yang berisi nomor resep, tanggal resep, nama pasien, waktu dan aturan pakai obat, bentuk sediaan, nama dan jumlah obat, serta waktu kadaluarsa obat.
C. PELAYANAN INFORMASI OBAT (PIO) C1 Saya memberikan informasi terkait dosis obat
antibiotika meliputi: dosis obat yang diminum sesuai dengan resep antibiotika dan obat harus dihabiskan.
C2 Saya memberikan informasi kepada pasien terkait bentuk sediaan antibiotika dengan cara
memperlihatkan obat antibiotika tersebut kepada pasien
C3 Saya memberikan informasi mengenai cara dan waktu minum obat antibiotika hanya sebatas yang tertulis pada etiket obat.
C4 Saya memberikan informasi mengenai tanda dan gejala efek samping obat antibiotika kepada pasien, serta hal yang dilakukan jika mengalami efek samping obat antibiotika.
C5 Menurut saya pemberian informasi kepada pasien terkait interaksi obat antibiotika tidak diperlukan C6 Pada saat saya memberikan informasi kepada
pasien, tidak lupa saya memberikan informasi mengenai harga obat dan pilihan alternatif harga obat lainnya.
C7 Ketika memberikan informasi kepada pasien, saya menjelaskan bahwa menyimpan obat antibiotika di tempat yang kering sudah cukup.
25 Lanjutan Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
C8 Saya merasa pencatatan pengobatan pasien terkait penggunaan antibiotika (medication record) hanya akan membuang-buang waktu.
D. KONSELING
D1 Saya selalu melakukan konseling yang
terdokumentasi terkait penggunaan antibiotika.
D2 Saya merasa penilaian pemahaman pasien sudah cukup melalui three prime questions terkait penggunaan antibiotika.
D3 Apapun sikap yang ditunjukkan pasien kepada saya, saya akan tetap menggali informasi dan menyelesaikan masalah penggunaan obat antibiotika yang digunakan pasien.
D4 Saya merasa verifikasi akhir pada pasien terkait penggunaan antibiotika diperlukan apabila pasien bersikap ramah.
E. PEMANTAUAN TERAPI OBAT (PTO) E1 Ketika melakukan pemantauan terapi obat
antibiotika, saya menjelaskan kepada pasien tujuan dilakukannya PTO agar pasien dapat bekerja sama dalam memaksimalkan efikasi pengobatannya E2 Saya merasa melakukan identifikasi masalah
terkait obat antibiotika diperlukan jika keadaan mendesak saja.
E3 Saya memberikan rekomendasi terapi pengobatan antibiotika kepada tenaga kesehatan lain.
E4 Saya merasa komunikasi dengan tenaga kesahatan lain terkait kegiatan PTO, dilakukan hanya dalam kondisi hubungan kerja yang baik saja
F. MONITORING EFEK SAMPING OBAT (MESO) F1 Menurut saya, dalam melaksanakan Monitoring
Efek Samping Obat perlu adanya kerja sama yang terintegrasi dengan tenaga kesehatan lain.
F2 Ketika menganalisis laporan efek samping obat terkait penggunaan obat antibiotika, saya merasa itu merupakan tugas dokter.
26 Lanjutan Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
F3 Saya merasa pelaporan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional terkait efek samping obat yang berat, tidak dikenal, dan frekuensinya jarang tidak perlu dilakukan.
III. Hambatan dalam melakukan pelayanan resep antibiotika. Nyatakan alasan anda secara jujur dengan memberikan tanda checklist () pada kolom pernyataan yang telah tersedia.
Keterangan:
Saya enggan untuk melayani pasien yang memiliki penyakit menular, karena penyakit menular mempunyai gejala yang tidak dapat diprediksi.
Saya takut tertular dan membuat saya enggan melayaninya.
Saya enggan menghadapi kemungkinan timbulnya masalah akibat penggunaan obat/antibiotika
Saya merasa tidak nyaman karena takut akan timbul masalah adanya interaksi obat antibiotika dengan obat lain.
Saya enggan melakukan pelayanan penggunaan antibiotika karena akan timbul kejadian resistensi antibiotika.
27 Lanjutan Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
Saya enggan melakukan pelayanan antibiotika karena ketatnya aturan penggunaan antibiotika yang harus ditaati sesuai guideline.
Saya tidak memahami mekanisme aksi antibiotika Saya tidak memahami penyakit menular
Saya enggan melakukan pelayanan terkait
penggunaan antibiotika karena permintaan hanya sedikit.
Saya enggan melakukan pelayanan terkait penggunaan antibiotika dan lebih baik
menyerahkannya kepada Tenaga Teknis Kefarmasian
Alasan lain:
…Terima kasih atas waktu anda…
28 Lampiran 3. Uji Validitas
29 Lampiran 4. Uji Reliabilitas
Data Reliabilitas Kuesioner Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian Terkait Penggunaan Antibiotika
30 Lanjutan Lampiran 4. Uji Reliabilitas Kuesioner
31 Lanjutan Lampiran 4. Uji Reliabilitas Kuesioner
Data Reliabilitas Kuesioner Hambatan Dalam Melakukan Pelayanan Kefarmasian Terkait Penggunaan Antibiotika
32 Lampiran 5. Uji Pemahaman Bahasa
33 Lampiran 6. Surat Izin Penelitian
1. Surat Izin Penelitian Puskesmas Kalasan
34 Lanjutan Lampiran 6. Surat Izin Penelitian 2. Surat Izin Penelitian Puskesmas Pakem
35 Lanjutan Lampiran 6. Surat Izin Penelitian 3. Surat Izin Penelitian Puskesmas Gamping I
36 Lampiran 7. Tabel Data Penelitian
Tabel I. Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase
Perempuan 24 88,89%
Laki-laki 3 11,11%
Total 27 100%
Tabel II. Pengalaman Sebagai Apoteker di Puskesmas
Waktu Jumlah Responden Persentase
≤ 1 tahun 3 11,11%
> 1 – 5 tahun 20 74,07%
> 5 – 10 tahun 3 11,11%
> 10 tahun 1 3,71%
Total 27 100%
Tabel III. Jumlah Resep Antibiotika yang Dilayani per Hari
Jumlah Resep Jumlah Responden Persentase
≤ 5 lembar 0 0%
6 – 10 lembar 27 100%
11 – 20 lembar 0 0%
21 – 30 lembar 0 0%
> 30 lembar 0 0%
Total 27 100%
37 Lanjutan Lampiran 7. Tabel Data Penelitian Tabel IV. Frekuensi Kehadiran di Puskesmas
Frekuensi Jumlah Responden Persentase Setiap hari. selama
puskesmas buka 27 100%
Setiap hari. pada jam
tertentu 0 0%
Total 27 100%
Tabel V. Antibiotika yang Sering Dilayani
Antibiotika Jumlah Responden Persentase
Amoxicillin 27 100,00%
Ciprofloxacin 9 33,33%
Erythromycin 7 25,93%
Chloramphenicol 8 29,63%
Cotrimoxazole 7 25,93%
Metronidazole 11 40,74%
Cefixime 8 29,63%
Clindamycin 5 18,52%
38
BIOGRAFI PENULIS
Penulis skripsi berjudul “Pelayanan Kefarmasian Terkait Penggunaan Antibiotika di Puskesmas Wilayah Kabupaten Sleman” bernama lengkap Ruben James Sibarani merupakan anak ketiga dari pasangan Parasian dan Marsaulina yang lahir di Sorong pada tanggal 01 Januari 1998. Pendidikan formal yang telah ditempuh oleh penulis dimulai dari SD Negeri 05 Manokwari (2004 - 2010), SMP Negeri 03 Manokwari (2010 - 2013) dan SMA BOPKRI 2 Yogyakarta (2013 – 2016). Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada tahun 2016. Selama masa perkuliahan, penulis aktif dalam beberapa kegiatan kepanitiaan, antara lain menjadi ketua divisi dana dan usaha dalam kegiatan “AKSI KANKER TULANG” (2017), ketua divisi perlengkapan “AKSI OSTEOPOROSIS DAY” (2017), anggota perlengkapan panitia inagurasi Fakultas Farmasi “TITRASI” (2017).