BAB IV TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
1. Pengkajian
Pada langkah satu dikumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan, baik data subyektif maupun data obyektif.
1) Data subyektif adalah data yang merupakan pernyataan yang disebabkan oleh pasien dan dicatat sebagai kutipan langsung dan hanya mencatat tanda- tanda dan sesuai dengan kasus yang diambil penulis mioma uteri, maka pada pengkajian lebih difokuskan pada pemeriksaan gynekologis (Varney, 2004). Pengkajian pasien meliputi :
a) Identitas pasien (1) Nama pasien
Dikaji pasien dengan nama jelas dan lengkap, untuk menghindari adanya kekeliruan atau membedakan dengan pasien lainnya (Depkes,2009).
(2) Umur
Umur pasien dikaji untuk mengetahui apakah pasien termasuk golongan resiko tinggi terserang mioma uteri, karena mioma uteri lebih sering ditemukan pada wanita pada umur 35-34 tahun (Depkes, 2009).
(3) Agama
Dengan mengetahui agama pasien maka petugas dapat memberikan dukungan moril sesuai dengan kepercayaannya (Depkes, 2009).
(4) Suku/bangsa
Untuk mengetahui factor pembawa/ ras. Pada wanita dengan ras. Pada wanita dengan khas tertentu khususnya wanita berkulit hitam angka kejadian mioma uteri tinggi (Depkes, 2009).
(5) Tingkat pendidikan
Latar belakang pendidikan akan mempengaruhi pengertian dan tingkat pengetahuan pasien terhadap masalah kesehatan reproduksi ( Depkes, 2009).
(6) Pekerjaan
Pekerjaan akan mempengaruhi aktivitas, istirahat, gizi, tingkat social ekonomi dan besarnya penghasilan (Depkes, 2009).
(7) Alamat
Untuk mengetahui tempat tinggal pasien (Depkes, 2009).
b) Keluhan utama
Untuk mengetahui alasan/ keluhan utama yang menyebabkan pasien dating berkaitan dengan penyakitnya. Pada mioma uteri alasan masuk biasanya adalah ibu merasakan nyeri sekali setiap menstruasi disertai nyeri di bagian panggul dan dalam sebulan bias mengalami dua kali menstruasi dan darah menstruasi banyak. Pada saat post histerektomi biasanya pasien mengeluhkan adanya nyeri pada daerah luka bekas jahitan (Wiknjosastro, 2007).
c) Riwayat haid
Untuk mengetahui menarche umur berapa, apakah siklus haidnya teratur atau tidak berapa hari lamanya haid, banyaknya darah yang keluar pada waktu haid. Apakah ada keluhan nyeri pada saat haid, kapan tanggal haid terakhir. Pada kasus mioma uteri biasanya haidnya lama, bias sebulan dua kali haidnya, nyeri pada waktu mens (Wikjosastro, 2007).
d) Status perkawinan
Berapa kali kawin, berapa usia kawin pertama, berapa lama perkawinan, suami yang ke berapa (Wikjosastro, 2007). e) Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Riwayat kehamilan dikaji untuk mengetahui apakah ibu pernah hamil dan bersalin, apa keadaan anak hidup. Mioma uteri lebih sering di dapat pada wanita multipara atau kurang subur dan mioma uteri dapat menyebabkan infertilitas (Wikjosastro, 2007).
f) Riwayat KB
Riwayat KB terutama dikaji untuk mengetahui penggunaan KB hormonal yaitu esterogen, karena rangsanagan esterogen merupakan factor predisposisi terjadinya mioma uteri (Wikjosastro, 2007).
g) Riwayat kesehatan
(1) Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui keadaan pasien saat ini dan mengetahui adakah penyakit lain yang biasa memperberat keadaan pasien (Wikjosastro, 2007).
(2) Riwayat kesehatan yang lalu
Apakah penderita pernah menderita suatu penyakit kronis, menular, penyakit infeksi, apakah pernah menjalani operasi dan jenis operasi apa yang dialami dan kapan operasi tersebut (Wikjosastro, 2007).
(3) Riwayat kesehatan keluarga
Untuk mengetahui apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit menular seperti: AIDS, hepatitis, TBC, dan penyakit menurun seperti: Asma, jantung, DM, hipertensi, maupun keturunan kembar (Wikjosastro 2007). h) Pola kebiasaan sehari- hari
(1) Pola nutrisi
Pola nutrisi perlu dikaji bagaimana variasi makanan, bagaimana kuantitas dan kualitas makanan, apakah ada makanan pantangan atau tidak, karena setelah operasi penderita mioma uteri biasanya mengalami anemia, dan lemas akibat perdarahan yang berlebihan. Pada pasien post
diperbolehkan makan dan minum setelah flatus (Wiknjosastro, 2007).
(2) Pola eliminasi
Apakah ada keluhan BAK, bagaimana warnanya, berapa kali kencing dalam sehari, apakah ada keluhan BAB, bagaimana konsistensinya, berapa kali BAB dalam sehari. Pada pasien post histerektomi atas indikasi mioma uteri terpasang dower cateter karena pasien belum boleh banyak bergerak (Wiknjosastro, 2007).
(3) Istirahat
Pola istirahat dikaji mengenai kebiasaan ibu tidur malam dan siang hari (Wiknjosastro, 2007).
(4) Personal hygine
Berapa kali dalam sehari aktivitas mandi, gosok gigi,dan ganti pakaian. Bagaimana kebersihan daerah kelamin (Wiknjosastro, 2007).
(5) Aktivitas seksual
Berapa kali dalam seminggu ibu melakukan hubungan seksual, karena adanya mioma uteri dalam uterus yang membesar dan dapat menimbulkan perdarahan (Wiknjosastro, 2007).
Dikaji untuk mendapatkan dukungan moral dan penjelasan sehingga pasien lebih tenang. Pada pasien mioma uteri biasanya pasien mengatakan khawatir, takut dan cemas (Depkes, 2009).
2) Data obyektif
a) Pemeriksaan fisik
(1) Keadaan umum : Untuk mengetahui keadaan umum pasien baik, sedang lemah. Biasanya keadaan umum pasien dengan post histerektomi lemah karena mengalami anemia (Depkes, 2009).
(2) Kesadaran pasien : Apakah pasien sadar sepenuhnya (composmentis), apatis, somnolen, delirium, semi koma atau koma. Kesadaraan pasien post histerektomi koma atau syok karena perdarahan setelah dilakukan histerektomi (Depkes, 2009).
(3) Tekanan Darah : Meningkat karena hipertensi dan kecemasaan yang dialami ibu dapat menjadi factor predisposisi.
Batas normal tekanan darah 120/80 mmHg (Depkes, 2009). (4) Nadi : Denyut nadi dihitung dalam 1
menit. Normal nadi 60- 80 x/ menit. Pada pasien post histerektomi denyut nadinya meningkat (Depkes, 2009).
(5) Suhu : Pada pasien post histerektomi Meningkat Karena adanya infeksi pada mioma. Normal suhu rectal/ axilla 370C dan 360C (Depkes, 2009).
(6) Respirasi : Pasca operasi menjadi menurun, hal ini berpengaruh dengan keadaan ibu yang masih lemah. Normal respirasi 78- 85 x/menit (Depkes, 2009).
b) Pemeriksaan sistematis, meliputi :
(1) Rambut : Apakah tampak bersih atau kotor, mudah di cabut atau tidak (Depkes, 2009). (2) Mata : Apakah conjungtiva anemia atau tidak,
apakah sclera tampak ikterik atau tidak (Depkes, 2009).
(3) Mulut : Apakah ada stomatitis, bersih atau kotor, pada gigi caries atau tidak (Depkes, 2009).
(4) Leher : Apakah ada pembesaran kelenjar tiroid atau tidak (Depkes, 2009).
(5) Dada : Apakah keadaan dada pada saat bernafas normal atau tidak (Depkes, 2009).
(6) Perut : Apakah tampak bekas luka operasi. Pada kasus post histerektomi ini nampak bekas luka operasi di perut (Depkes, 2009).
(7) Vulva : Apakah ada varices, apakah ada bekas luka perineum (Depkes, 2009).
(8) Anus : Apakah ada haemoroid (Depkes, 2009). (9) Ekstremitas : Simetris atau tidak, ada oedema atau
tidak. Pada pasien post histerektomi pada tangan terpasang infus (Depkes, 2009).
c) Status khusus obstetri
(1) Inspeksi
(a) Mammae : Apakah kedua mammae simetris (Depkes, 2009).
(b) Abdomen : Apakah tampak adanya pembesaraan atau tidak (Depkes, 2009).
(c) Urogenital : Apakah ada perdarahan yang keluar. Pada kasus ini terdapat pengeluaran pervaginam berupa darah terpasang DC (Manuaba, 2001)
(2) Palpasi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan apakah pengangkatan uterus dalam rahim berhasil (Manuaba, 2001).
(3) Auskultasi
Untuk mengetahui apakah terdapat suara pekak atau tidak di bagian perut maka diketahui terjadi distensi atau tidak (Husodo, 2002).
(4) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan urine (warna, kejernihan, bau dan protein) (Saifudidin, 2002). Yang termasuk dalam data penunjang yang di butuhkan dalam menegakkan diagnose mioma uteri adalah Pemeriksaan darah (hemoglobin) untuk mengetahui kadar Hb ibu kurang atau tidak pasca operasi untuk indikasi diberikannya transfusi darah jika diperlukan. (Wiknjosastro, 2007).
b. Langkah 2 : Interprestasi data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnose dan kebutuhan klien berdasarkan interprestasi data yang benar atas data- data yang dikumpulkan, diinterprestasikan sehingga dapat dirumuskan diagnose dan masalah di gunakan karena masalah yang spesifik. Rumusan diagnose dan masalah digunakan karena masalah tidak dapat diidentifikasikan serta diagnose tetap membutuhkan penanganan (Varney, 2004).
1) Diagnosa kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidang dalam lingkup praktek kebidanan (Varney, 2004).
Diagnosa
Ny X, umur…….. tahun, P… A… post histerektomi atas indikasi Mioma uteri
DS : a) Ibu mengatakan nyeri di daerah luka bekas operasi. b) Ibu mengatakan merasa lemas dan pusing
DO : a) Keadaan umum pada post histerektomi lemah.
b) Kesadaraan pada pasien post histerektomi koma atau syok karena perdarahan yang terjadi setelah dilakukannya histerektomi.
c) Vital sign : TD :120/ 70 mmHg N : 86x/Menit S : 36,50C R : 20x/menit
d) Inspeksi
Terdapat luka bekas operasi yang masih basah, luka bekas operasi tertutup kain kassa (manuaba, 2001).
e) Palpasi
Waktu melakukan pemeriksaan abdomen, maka kandung kemih dan rectum dalam keadaan kosong. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan apakah penagangkatan tumor dalam rahim berhasil, dan tidak adanya indikasi apapun dalam pemeriksaan (Engram, 2001).
f) Auskultasi
Tidak terdapat suara pekak di bagian perut (Husodo, 2002).
g) Genetalia
Terdapat pengeluaran pervaginam berupa darah (Alimul, 2006).
2) Masalah
Masalah adalah masalah yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari hasil pengkajian/ yang menyertai diagnosa sesuai dengan keadaan pasien (Varney, 2004).
Pada kasus mioma uteri masalah yang dihadapi pasien yaitu kecemasan dan nyeri pada bekas operasi Histrektomi (Engram, 2000).
3) Kebutuhan
Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan pasien dan belum terindentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang didapatkan dengan melakukan analisa data (Varney, 2004).
Penanganan post histrektomi dengan indikasi mioma uteri memerlukan dukungan moril tentanga keadaannya, kebutuhan gizi dan relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri pada bekas jahitan (Engram, 2000).
c. Langkah 3 : Diagnosa potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasikan diagnose potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose baru, langkah ini membutuhkan antisipasi pencegahan bila memungkinkan, menunggu sambil mengamati dan bersikap siap bila hal tersebut benar- benar terjadi (Varney, 2004).
Pada kasus post histrektomi dengan indikasi mioma uteri yang dapat terjadi antara lain : perdarahan, infeksi pada luka operasi histrektomi (Djuwantono, 2004).
d. Langkah 4 : Antisipasi
Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses managemen kebidanan. Managemen bukan hanya selama asuhan primer periodic atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama klien tersebut bersama bidan terus- menerus. Beberapa data mungkin mengidentifikasikan situasi yang gawat dimana bidan terus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu. Dalam kondisi tertentu klien mungkin juga akan memerlukan. Konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam managemen asuhan kebidanan (Varney, 2004). Perawatan luka, observasi perdarahan pada luka operasi (Observasi tanda- tanda infeksi) dengan cara kolaborasi dengan dokter SpOG ataupun mandiri (Wiknjosastro, 2007).
e. Langkah 5 : Perencanaan
Perencanaan yaitu merencanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah- langkah sebelumnya (Varney, 2004). Langkah ini merupakan lanjutan dari diagnose yang telah diidentifikasikan atau diantisipasi setiap rencana harus dapat disetujui oleh kedua belah pihak yaitu bidan dan pasien agar dapat dilaksanakan dengan efektif. Pada langkah ini tugas seorang bidan merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan bersama sebelum melaksanaknnya. Semua petugas yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus mencerminkan nasional yang benar- benar valid berdasarkan pengetahuan teori yang berhubungan dan up to date (Varney, 2004).
Penatalaksanaan ibu post histerektomi atas indikasi mioma uteri menurut Husodo (2002), terdiri atas :
1) Perawatan luka insisi
2) Observasi keadaan umum dan vital sign(tekanan darah, suhu, respirasi, nadi)
3) Observasi cairan yang masuk dan keluar
4) Berikan cairan infuse yang banyak dan mengandung elektrolit yang diperlukan : Dektrose 5%, Nacl 0,9%, Ringer laktat. Secara bergantian dengan dosis 20 tetes per menit. Apabila pasien sudah flatus diperbolehkan minum ataupun makan.
5) Memberikan obat- obatan anti sakit dan penenang seperti injeksi IM pethidine dengan dosis 10- 15 mg.
6) Beritahu pasien boleh bergerak miring kekiri dan kekanan setelah 6- 10 jam ibu sadar.
7) Berikan obat antibiotik, analgesik (anti nyeri), anti inflamasi, sesuai dengan kebutuhan dan sediakan transfusi darah untuk waspada terhadap kemungkinan perdarahan pasca bedah.
8) Pemasangan dower cateter untuk menghindari retensi urine. 9) Lakukan pemeriksaan kadar hemoglobin pada ibu.
f. Langkah 6 : Pelaksanaan
Langkah keenam adalah pelaksanaan rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima. Perencanaan ini dilakukkan seluruhnya oleh bidan, pasien, dan tim kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melaksanakan sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaan tersebut (Varney, 2004).
Pelaksanaan asuhan kebidanan pada post histrektomi atas indikasi mioma uteri sesuai dengan perencanaan yang telah di buat. g. Langkah 7 : Evaluasi
Langkah ini merupakan evaluasi apakah rencana asuhan yang meliputi kebutuhan benar- benar telah terpenuhi secara efektif atau tidak (Varney, 2004). Menurut hellen varney, alur berfikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 langkah untuk mengetahui apa yang telah dilakukkan oleh seorang bidan melalui proses berfikir sistematis.
Pada kasus gangguan reproduksi post histerektomi atas indikasi mioma uteri tingkat keberhasilan cukup tinggi, dengan berbagai tindakan yang telah dilakukan sesuai rencana yang di susun. Hasil yang diharapkan berupa keadaan umum ibu baik, tidak terjadi perdarahan, tidak terjadi infeksi pada bekas operasi (Djuwantono, 2004).
C. Data perkembangan
Menurut Varney (2004), data perkembangan menggunakan SOAP meliputi : S : Subyektif
Menggunakan pendokumentasian, hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa.
O : Obyektif
Menggunakan pendokumentasian hasil pemikiran fisik klien, hasil laboratorium untuk mendukung pemberian asuhan pada ibu post histerektomi atas indikasi mioma uteri.
A : Assessment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interprestasi data subyektif dan obyektif suatu indentifikasi :
1. Diagnose atau masalah
2. Antisipasi diagnosa atau masalah potensial
3. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau kolaborasi dengan dokter SpOG.
P : Plan
Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan perencanaan
assessment.
D. Landasan Hukum
Dalam penanganan ibu post histerektomi atas indikasi mioma uteri, bidan mempunyai kewenangan berdasarkan Kep Menkes No.369/Menkes/SK/III/2007 tentang standar profesi bidan yang disebut dalam kompetensi bidan ke-9 yaitu melaksanakan asuhan kebidanan gangguan reproduksi post histerektomi atas indikasi mioma uteri. Salah satunya bidan memiliki ketrampilan dasar melakukan kolaborasi dan atau rujukan secara cepat dan tepat pada wanita/ ibu dengan gangguan system reproduksi (IBI, 2005).
BAB III METODOLOGI
A. Jenis studi kasus
Jenis studi kasus adalah deskriptif yaitu untuk menemukan atau mengembangkan subyek secara nyata dengan bentuk studi kasus individu yaitu suatu metode yang berdasarkan keadaan sebenarnya studi kasus (Notoatmodjo, 2002).
B. Lokasi Studi Kasus
Lokasi merupakan tempat dimana pengambilan kasus dilaksanakan (Notoadmojo, 2002). Studi kasus dilaksanakan di RSUD Dr Moewardi Surakarta.
C. Subyek Studi Kasus
Subyek adalah seseorang yang akan dikaji sampel untuk dilakukan studi kasus (Notoatmodjo, 2002). Subyek kasus ini adalah Ny. S dengan post
histerektomi atas indikasi mioma uteri.
D. Waktu Studi Kasus
Waktu merupakan batas waktu dimana pengambilan kasus dilaksanakan (Notoadmodjo, 2002). Studi kasus ini dilaksanakan pada tanggal 10 – 19 Agustus 2012.
E. Instrumen Studi Kasus
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengambilan data dalam proposal yang penulis susun menggunakan alat bantu yang berupa format asuhan kebidanan pada gangguan system reproduksi dan data lembar status atau dokumentasi pasien tentang kesehatan sebelumnya (Notoadmojo, 2002).
F. Tehnik Pengumpulan Data 1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari pasien (Notoadmojo, 2002). Cara mendapatkan data primer yaitu dengan :
a. Wawancara
Wawancara adalah suatu prosedur yang dilakukan untuk mendapatkan keterangan secara lisan dari responden (Notoadmojo, 2010). Pengambilan kasus ini penulis melakukan wawancara dengan pasien dan keluarganya, tenaga kesehatan.
b. Observasi (Pengamatan)
Observasi adalah suatu prosedur yang terencana antara : Melihat, mencatat, jumlah dan taraf aktifitasn tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diamati (Notoadmojo, 2010 ).
Dalam kasus post histerektomi pada indikasi mioma uteri penulis melakukan observasi untuk mengetahui perkembangan asuhan yang telah diberikan dengan menggunakan lembar status pasien.
Observasi keadaan umum pasien, observasi kesadaraan, observasi pengeluaran pervaginam, luka operasi, TTV (Nadi, respirasi, tekanan darah, dan suhu badan pasien).
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik adalah tehnik pengumpulan data dengan cara memeriksa pasien secara langsung. Dengan menggunakan berbagai cara seperti pemeriksaan fisik secara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi sebagai penunjang pemewriksaan, agar mendapatkan diagnose yang jelas dan tepat (Notoadmojo, 2010).
1) Inspeksi
Suatu proses observasi yang dilakukan secara sistematis dengan menggunakan indera penglihatan, pendengaran dan penciuman sebagai suatu alat untuk pengumpulan data (Nursalam, 2001). Dalam pengambilan kasus ini penenliti melakukan inspeksi pada pasien post mioma uteri dari kepala sampai kaki.
2) Palpasi
Suatu tehnik yang menggunakan indera peraba, tangan dan jari. Dalam hal ini dilakukan untuk memeriksa abdomen (Nursalam, 2001).
3) Perkusi
Suatu pemeriksaan dengan jalan mengetuk atau membandingkan kiri kanan pada setiap daerah permukaan tubuh
dengan tujuan menghasilkan suara. Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk dan kosistensi jaringan (Nursalam, 2001). Dalam pengambilan kasus ini peneliti melakukan perkusi pada daerah abdomen pasien mioma uteri tersebut.
4) Auskultasi
Pemeriksaan dengan jalan mendengarkan suara yang diahasilkan oleh tubuh dengan menggunakan stetoskop. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi frekuensi jantung (Nursalam, 2001). Pada pengambilan kasus ini peneliti melakukan auskultasi untuk mengetahui frekuensi jantung.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari lingkungan studi kasus. Meliputi :
a. Studi dokumentasi
Dokumentasi adalah tehnik pengumpulan data yang diperoleh dengan cara mengambil semua data yang terdapat dalam catatan-catatan atau dokumen- dokumen yang ada (Notoadmojo, 2010).
Dokumen merupakan pertanyaan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian. Dalam hal ini dilakukan untuk melengkapi data yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Dokumen dapat berupa catatan rekam medik atau dokumen yang menyajikan informasi tentang berbagai hal (Notoadmojo, 2010).
Dokumentasi ini didapat dengan melihat catatan Rekam Medik (RM) pasien umum di RSUD Dr Moewardi Surakarta.
b. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu bahan-bahan pustaka yang sangat penting dalam memunjang latar belakang teoritis dalam suatu penelitian (Notoadmojo, 2010).
Bahan pustaka dalam kasus ini penulis mengambil dari buku-buku dan internet yang berhubungan dengan mioma uteri dari tahun 1999 – 2011.
G. Alat-Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam tehnik pengumpulan data lain : 1. Wawancara
Menggunakan alat:
a. Format pengkajian pada gangguan sistem reproduksi b. Buku tulis c. Alat tulis 2. Observasi a. Spigmomanometer b. Stetoskop c. Thermometer
3. Dokumentasi menggunakan alat
a. Format asuhan kebidanan dengan gangguan sistem reproduksi b. Alat tulis
BAB IV
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
Ruang : Mawar 3
No. registrasi : 614168
Tgl. Masuk : 8 Agustus 2012
A. TINJAUAN KASUS 1. Pengkajian
Tanggal 10 Agustus 2012, Pukul 13.00 WIB a. Identitas
1) Biodata
Nama : Ny.S Nama : Tn.B
Umur : 47 tahun Umur : 49 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa, Indonesia Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : SMP Pendidikan : STM
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Alamat : Purbayan RT 10 RW 8 Baki Sukoharjo b. Anamnesa (data subyektif)
1) Keluhan utama
Ibu mengatakan masih lemas dan terasa nyeri pada luka jahitan setelah menjalani operasi pengangkatan rahim tanggal 10 Agustus 2012, pukul 10.00 WIB.
2) Riwayat haid
a) Menarche : Ibu mengatakan haid pertama umur 12 tahun.
b) Siklus : Ibu mengatakan siklusnya haidnya 28 hari
c) Keluhan : kadang-kadang mengalami menstruasi diluar siklus haid.
d) Lamanya : Ibu mengatakan lamanya haid 7 hari. e) Banyaknya : Ibu mengatakan ganti pembalut 2 – 3
kali per hari.
f) Teratur/tidak teratur : Ibu mengatakan tidak teratur setiap bulan.
g) Sifat darah : Ibu mengatakan sifat darah encer, berwarna merah, kadang hanya bercak. h) Dismenorhoe : Ibu mengatakan kadang nyeri saat haid. 3) Riwayat perkawinan
Ibu mengatakan perkawinannya syah, kawin satu kali pada umur 21 tahun, dengan suami umur 23 tahun, lamanya 26 tahun dan punya 3 anak.
4) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu
No Tgl/Thn Partus Umur Anak Tmpat Partus Umur Khamilan Jenis Partus Penolong
Anak Nifas Keadaan Anak Sekarang Jenis BB (gram) PB (cm) Kead Laktasi
1. 20-08-92 16 tahun RB 9 bulan Normal Bidan P 31 49 Baik 2 tahun Hidup 2. 18-05-99 10 tahun RB 9 bulan Normal Bidan P 30 48 Baik 2 tahun Hidup 3. 21-04-00 9 tahun RB 9 bulan Normal Bidan P 34 49 Baik 2 tahun Hidup
5) Riwayat KB
a) Setelah melahirkan anak pertama, ibu menjadi akseptor KB suntik 3 bulanan selama 2 tahun dan tidak ada keluhan.
b) Setelah melahirkan anak kedua, ibu menjadi akseptor KB suntik 3 bulanan selama 1 tahun dan tidak ada keluhan.
c) Setelah melahirkan anak ketiga, ibu menjadi akseptor KB suntik 3 bulanan selama 2 tahun sampai sekarang dan ibu tidak ada keluhan selama menjadi akseptor KB suntik 3 bulanan. 6) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan setelah operasi merasakan nyeri pada luka jahitan dan ibu masih takut untuk bergerak.
b) Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti: Jantung : Ibu mengatakan jantung tidak terasa
berdebar-debar dan keluar keringat dingin pada telapak tangan.
DM : Ibu mengatakan tidak pernah merasakan haus, lapar, dan buang air kecil pada malam hari. Asma : Ibu mengatakan tidak sesak nafas atau sukar
bernafas.
TBC : Ibu mengatakan tidak pernah batuk dalam waktu yang lama + 100 hari disertai dengan keluhan dahak.
Ginjal : Ibu mengatakan tidak pernah merasa sakit saat BAB / BAK dan sakit pada pinggang bagian belakang.
Hipertensi : Ibu mengatakan tidak pernah mempunyai tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.
Hepatitis : Ibu mengatakan pada mata, kuku, dan kulit tidak berwarna kuning.
Epilepsi : Ibu mengatakan tidak pernah kejang disertai keluarnya busa dari mulut.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti DM, asma, hipertensi dan penyakit menular seperti TBC dan hepatitis.
7) Pola Kebiasan sehari- hari a) Pola nutrisi
(1)Selama dirumah sakit
(a) Makan 2- 3 kali sehari, porsi satu piring, sayur, lauk dan kadang ada buah.
(b) Minum 5- 6 kali sehari air putih, teh, dan kadang kopi. (2)Sesudah operasi
(a) Pasien belum diperbolehkan makan oleh perawat. (b) Pasien belum diperbolehkan minum oleh perawat
b) Pola eliminasi
(1)Selama dirumah sakit
(a) BAB 1 kali sehari, konsistensi lunak, warna sesuai yang dimakan dan bau khas.
(b) BAK 4- 5 kali sehari, konsistensi cair, warna kuning jernih bau khas.
(2)Sesudah operasi
Sesudah operasi belum BAB, masih terpasang dower
cateter.
c) Pola istirahat
(1)Selama dirumah sakit
Tidur malam 7-8 jam, siang 1-2 jam sehari. (2)Sesudah operasi
Setelah operasi ibu mengatakan tidur siang belum bisa tidur nyenyak.
d) Personal hygine
(1)Selama di rumah sakit
Mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari, ganti pakaian 1 kali sehari, ganti pembalut selama perdarahan 2 kali sehari.
(2)Sesudah operasi ibu mengatakan belum mandi, tetapi menyuruh keluarganya untuk mengusap keringat dengan menggunakan waslap basah.
e) Pola Aktivitas
Sebelum operasi ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyapu dan membersihkan rumah dilakukan