Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 17.0 dengan tingkat kemaknaan p < 0.05, dan interval kepercayaan 95 %. uji-t independen, t dependen dan uji chi square untuk menilai frekuensi, dan lama atau durasi sakit perut .
46 BAB 4. HASIL PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di kelurahan Siwalima kecamatan Pulau Pulau Aru, kabupaten Kepulauan Aru. Telah diperiksa sebanyak 380 pelajar dari tiga sekolah menengah, dan dijumpai sebanyak 105 penderita dispepsia fungsional, 17 diantaranya menolak ikut dalam penelitian ini, dan sisanya 88 anak diikutkan dalam penelitian. Kemudian secara randomisasi sederhana dibagi dua kelompok yaitu masing-masing terdiri dari 43 penderita yang mendapat pengobatan amitriptilin dan 45 mendapat plasebo.
Gambar 4.1. Profil penelitian
380 children 105 functional dyspepsia 17 n Amitriptilin Plasebo n = 43 n = 45
frekuensi dan durasi nyeri perut
Tabel 4.1. Karakteristik Responden Penelitian 88 anak diikutkan dalam penelitian
47
Karakteristik Responden Amitriptilin
n = 43 Plasebo n = 45 p Jenis Kelamin, n (%) Laki-laki 11 (25.6) 8 (17.8) 0.529 Perempuan 32 (74.4) 37 (82.2)
Umur, tahun, mean (SD) 14.72 (1.24) 14.91 (1.36) 0.496 Berat Badan, kg, mean (SD) 41.3 (5.28) 42.56 (6.08) 0.306 Tinggi Badan, cm, mean (SD) 148.7 (6.77) 150.91 (5.40) 0.093 Penghasilan Orangtua < Rp. 500 ribu 12 (27.9) 7 (15.6) 0.326 Rp. 500 ribu – 1 juta 24 (55.8) 31 (68.9) > Rp 1 juta 7 (16.3) 7 (15.6) Pendidikan Orangtua SD 3 (7) 2 (4.4) 0.985 SMP 10 (23.3) 10 (22.2) SMA 22 (51.2) 24 (53.4) Sarjana 8 (18.5) 9 (20)
Dari karakteristik sampel masing-masing kelompok sebelum intervensi (tabel 4.1), tampak bahwa terdapat mayoritas remaja perempuan mengalami dispepsia fungsional, 74.4% pada kelompok yang mendapat amitriptilin dan 82.2% pada kelompok plasebo. Prevalensi remaja usia 12 sampai 18 tahun pada penelitian ini 27.6%. Rerata umur pada kedua kelompok tidak jauh berbeda, 14.72 tahun dan 14.91 tahun pada masing-masing kelompok penerima amitriptilin dan plasebo. Begitu pula untuk rerata berat badan dan tinggi badan yaitu 41.3 kg dan 148.7 cm pada kelompok yang menerima amitriptilin dan 42.56 kg dan 150.91 cm pada kelompok yang mendapatkan plasebo. Penghasilan orangtua pada kedua kelompok sebagian besar dengan penghasilan antara Rp. 500.000 sampai Rp 1.000.000, 55.8% pada
48 anak-anak yang memperoleh amitriptilin dan 68.9% pada anak-anak yang mendapatkan plasebo. Selanjutnya, kebanyakan kedua kelompok memiliki orangtua yang berpendidikan SMA lebih dari 50%.
Tabel 4.2. Perbandingan frekuensi dispepsia sebelum dan setelah pengobatan 2 bulan
Frekuensi Dispepsia Sebelum Sesudah 95%CI P Mean (SD)
Amitriptilin 8,7(3.55) 2.6(2.40) 4.88-7.17 0.0001 Plasebo 6.0(2.04) 2.5(2.26) 2.82-4.25 0.0001
Pada tabel 4.2 tampak penurunan frekuensi dispepsia yang signifikan setelah pengobatan selama 2 bulan. Data ini diolah dengan menggunakan analisa statistika uji T dependent, didapatkan hasil penurunan frekuensi dispepsia pada kelompok Amitriptilin yaitu dari 8.7 (SD 3.55) kali per bulan menjadi 2.6 (SD 2.40) kali per bulan (p = 0.0001; 95%CI 4.88-7.17) sedangkan pada kelompok plasebo juga terdapat perbedaan bermakna yaitu dari 6.0 (SD 2.04) kali per bulan menjadi 2.5 (SD 2.26) per bulan (p = 0.0001; 95%CI 2.82-4.25).
Tabel 4.3. Perbandingan durasi dispepsia sebelum dan setelah pengobatan Amitritptilin selama 2 bulan
Durasi Dispepsia Sebelum terapi (n %) Sesudah terapi (n %) p
< 10 menit 18 (41.9) 28 (65.1)
10-30 menit 22 (51.2) 14 (32.6) 0.019 30-60 menit 3 (7) 1 (2.2)
49 Tabel 4.4. Perbandingan durasi dispepsia sebelum dan setelah pemberian plasebo selama 2 bulan
Durasi dispepsia sebelum terapi (n%) sesudah terapi(n%) p
< 10 menit 15 (33.3) 31 (68.9)
10-30 menit 23 (51.1) 12 (26.7) 0.001 30-60 menit 6 (13.3) 4 (4.4)
> 60 menit 1 (2.2) 0 (0)
Tabel ini menggunakan analisa statistika dengan chi square dengan tabel 4x4. Pada tabel ini durasi dispepsia sebelum dan setelah pemberian Amitriptilin selama 2 bulan tampak mengalami penurunan yang signifikan (p=0.019; 95% CI: 0.024 – 0.03). Sebelum pemberian Amitriptilin, sebagian besar responden mengalami dispepsia selama 10 – 30 menit yaitu sebanyak 22 orang (51.2%). Namun, setelah pengobatan selama 2 bulan, kebanyakan responden yaitu sebanyak 28 anak (65.1%) mengalami dispepsia hanya kurang dari 10 menit. Hasil yang sama juga ditunjukkan pada kelompok responden yang memperoleh plasebo, terdapat perbedaan yang bermakna durasi dispepsia antara sebelum dan setelah pemberian plasebo. Sebelum pemberian plasebo, sebanyak 15 anak (51.1%) menderita dispepsia selama kurang dari 10 – 30 menit, setelah pemberian plasebo, sebagian besar responden sebanyak 31 orang (68.9%) mengalami dispepsia kurang dari 10 menit.
50 Tabel 4.5. Perbandingan hasil penggunaan Amitriptilin dan plasebo setelah 2 bulan Parameter Amitriptilin n = 43 Plasebo n = 45 95%CI P Frekuensi, Mean (SD) Sebelum 8.7 (3.55) 6.07 (2.04) 1.392 – 3.870 0.0001 Bulan 1 3.88 (2.657) 2.49 (2.09) 0.385 – 2.404 0.007 Bulan 2 2.67 (2.40) 2.53 (2.26) -0.84 – 1.129 0.777 Durasi, n (%) Sebelum: < 10 menit 18 (41.9) 15 (33.3) 0.562 10 – 30 menit 22 (51.2) 23 (51.1) 30 – 60 menit 3 (7) 6 (13.3) > 60 menit 0 (0) 1 (2.2) Bulan 1: < 10 menit 26 (60.5) 28 (62.2) 0.941 10 – 30 menit 15 (34.9) 14 (31.3) 30 – 60 menit 2 (4.7) 3 (6.7) > 60 menit Bulan 2: < 10 menit 28 (65.1) 31 (68.9) 0.728 10 – 30 menit 14 (32.6) 12 (26.7) 30 – 60 menit 1 (2.3) 2 (4.4) > 60 menit
Tabel 4.5. menyajikan perbandingan hasil pemberian amitriptilin dan plasebo dengan melihat perbedaan frekuensi dan durasi dispepsia untuk masing-masing perlakuan dengan pengamatan selama 2 bulan. Perbedaan frekuensi amitriptilin dibandingkan dengan plasebo menggunakan analisa statistika independent t test. Parameter yang memiliki perbedaan yang signifikan
adalah frekuensi dispepsia sebelum pengobatan (p=0.0001; 95%CI: 1.392– 3.87) dan setelah pengobatan selama 1 bulan (p=0.007; 95%CI: 0.385-2.404). Perbedaan durasi dispepsia antara kelompok amitriptilin dan plasebo
51 menggunakan analisa statistika uji chi square, didapatkan hasil tidak ditemukan perbedaan yang signifikan untuk parameter durasi dispepsia dari kedua kelompok responden setelah pengobatan 1 bulan (p=0.941) dan 2 bulan (p=0.728).
52 BAB 5. PEMBAHASAN
Dispepsia fungsional pada anak dan remaja merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian besar. Pengobatan yang diberikan pada dewasa belum tentu sesuai untuk anak dan remaja.Suatu penelitian didapatkan prevalensi dispepsia bervariasi antara 3,5% dan 27%.26 . Penelitian di Rusia pada 449 siswa usia 14 sampai 17 tahun ternyata remaja perempuan lebih banyak menderita dispepsia fungsional dibandingkan remaja laki – laki yaitu 27% dan 16%.39
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi pada remaja usia 12 sampai 18 tahun masih cukup tinggi, yaitu sebesar 27.6%, dengan usia rata-rata 14.7 tahun pada kelompok amitriptilin dan 14.9 tahun pada kelompok plasebo. Penelitian ini juga didapatkan lebih tinggi kejadian dispepsia pada remaja perempuan (78,4%) dibandingkan remaja laki-laki (21,6%). Remaja terutama remaja perempuan sering terlalu ketat dalam pengaturan pola makan untuk menjaga penampilannya karena rasa cemas akan bentuk tubuhnya. 17
Penelitian ini menggunakan kriteria Rome III dalam menegakkan diagnosis dispepsia fungsional. Kriteria Rome III mulai dipublikasikan pada bulan april 2006 dan merupakan kriteria terbaru yang berhubungan dengan gangguan gastrointestinal fungsional. Berdasarkan kriteria Rome III, dispepsia fungsional dibagi dua kategori berdasarkan gejalanya yaitu postprandial distress syndrome dan epigastric pain syndrome.12
Penelitian di Malaysia melaporkan, kejadian sakit perut berulang lebih sering dijumpai secara bermakna pada anak sekolah di daerah pedesaan dibanding perkotaan dan dengan tingkat pendidikan orang tua yang rendah.40 Pada penelitian ini dilakukan didaerah pedesaan, dimana didapati pendapatan rata-rata orang tua termasuk golongan berpendapatan rendah
53 Penelitian ini bertujuan untuk melihat manfaat amitriptilin sebagai pengobatan dispepsia fungsional pada remaja khususnya dalam mengurangi frekuensi dan durasi yang terjadi. Amitriptilin merupakan obat golongan TCA dan derivat dari dibenzocycloheptadiene dengan berat molekul 313.87, dan umum dipakai sebagai anti depresi.24-26 Amitriptilin bekerja dengan mempengaruhi aktivitas neurotransmiter monoamin, termasuk norepinefrin dan serotonin, dengan cara menghambat reuptake neurotransmiter norepinefrin dan serotonin dari celah sinaps. Amitriptilin juga berefek menekan anti muskarinik. 17,25,27.
Amitriptilin dosis rendah telah diusulkan sebagai pengobatan alternatif untuk pasien dengan dispepsia fungsional. Dosis pada anak antara 0,1 mg/kgbb sampai 0,5 mg/kgbb/hari sedangkan dosis untuk remaja antara 10 sampai 20 mg/hari. Amitriptilin mulai menimbulkan respon terapi setelah 2 sampai 4 minggu. Amitriptilin bersifat analgesik, mengurangi sensitivitas dari saraf perifer, meningkatkan ambang dan toleransi nyeri, dan bersifat antikolinegik.35
Pada penelitian ini dosis amitriptilin yang digunakan 10 mg sekali sehari untuk remaja yang berat badan kurang dari 35 kg dan 20 mg untuk remaja yang berat badannya lebih dari 35 kg sekali sehari selama 4 minggu. Amitriptilin dimakan pada malam hari karena efek mengantuk setelah penggunaan obat.2
Uji klinis manfaat TCA juga telah diteliti di California pada anak – anak dan remaja, dimana pada studi ini Manfaat terapi amitriptilin secara bermakna menurunkan frekuensi dan beratnya sakit perut berulang.41 Penelitian di Amerika Serikat pada 90 anak usia 8-17 tahun yang menderita gangguan gastrointenstinal fungsional ditemukan amitriptilin dan plasebo memberikan respon terapi yang baik, namun tidak ada perbedaan yang bermakna antara amitriptilin dan plasebo setelah diterapi selama 4 minggu.2
54 Penelitian ini menunjukkan amitriptilin dan plasebo sama baiknya dalam pengobatan dispepsia fungsional, dimana baik amitriptilin dan plasebo menurunkan frekuensi dan durasi pasien dispepsia fungsional pada remaja, tapi tidak ada perbedaan yang bermakna baik frekuensi (P=0.777 95%CI[-0,846 - 1.129]) maupun durasi (P=0.728 95%CI[0,719 - 0.736]) setelah pengobatan antara amitriptilin dan plasebo.
Efek palsebo dapat menstimulasi kondisi gastrointestinal pada anak. Untuk memperjelas pengaruh plasebo diperlukan studi baru mengenai efek placebo pada anak dengan gangguan pencernaan fungsional. Beberapa penelitian telah dipublikasikan mengenai efek plasebo dalam pengobatan migrain pada anak, kondisi yang juga menganut model biopsikososial.2
Beberapa studi menunjukkan efek plasebo lebih tinggi pada anak-anak muda dan perempuan. Sebuah studi pada pasien dewasa dengan Iritable bowel syndrome (IBS) menunjukkan bahwa tingkat kecemasan berkorelasi dengan efek analgesia pada plasebo. Studi yang membandingkan efek plasebo pada orang dewasa dan studi migrain pada anak-anak menunjukkan efek plasebo yang lebih besar pada anak dibandingkan orang dewasa . Sebuah meta-analisis meninjau efek plasebo dari beberapa uji klinis untuk IBS pada orang dewasa menemukan sebuah respon plasebo rata-rata 40% dengan kisaran 16% -71%. Tingginya efek plasebo mungkin karena tingginya kepercayaan dan harapan dari subyek dan orang tua kepada dokter dan hubungan antara subyek dan dokter selama penelitian.2
Penelitian ini masih dijumpai beberapa keterbatasan antara lain kurangnya pengawasan terhadap kepatuhan penderita memakan obat yang telah diberikan. Pemantauan hanya dilakukan pada jumlah obat yang diberikan kepada penderita, hal ini ditunjukan dengan tidak adanya obat yang dikembalikan oleh penderita selama penelitian ini dilaksanakan. Beberapa
55 aspek penilaian seperti frekuensi dan durasi sangat subjektif dari setiap penderita.
56 BAB 6