• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

2.5 Penanganan Pasca Panen

2.5.3 Pengolahan Cara Basah

Proses pengolahan kopi cara basah (Fully Washed) meliputi kegiatan pokok sortasi kopi gelondong, pulping, fermentasi atau tanpa fermentasi, pencucian, pengeringan, huliing, sortasi biji, pengemasan dan penggundangan.

Bagan alur tahapan proses pengolahan kopi secara basah (Fully Washed) disajikan dalam gambar.

Gambar 2.2

Proses pengolahan basah (2014)

Sumber : Bergendaal Koffie (2016)

2.5.4 Pengolahan Cara Semibasah

Proses pengolahan kopi cara semibasah (Semi Washed Process) dilakukan untuk menghemat penggunaan air dan menghasilkan kopi dengan citarasa yang khas, bewarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi Arabika yang diproses cara semibasah biassanya memiliki tingkat keasaman lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding kopi yang di proses basah penuh. Proses semibasah juga dapat dieterapkan pada kopi Robusta. Secara umum kopi yang diproses secara semibasah memiliki mutu yang baik. Proses secara semibasah lebih singkat dibanding proses secara basah. Diagram atau bagan tahapan proses pengolahan kopi cara semibasah disajikan dalam gambar di bawah ini :

Gambar 2.3

Proses Pengolahan Semi Basah (2014)

Sumber : Bergendaal Koffie (2016)

2.5.5 Penyangraian (Roasting)

Proses penyangraian terdiri dari beberapa tahapan, yakni persiapan biji beras (green bean), proses penyangraian, pendinginan, penyimpanan sementara, dan pengemasan. Sebelum di sangrai, aroma dan cita rasa kopi masih tersimpan di dalam biji kopi. Setelah disangrai, aroma dan cita rasa kopi dapat dirasakan dan dinikmati. Penyangraian sangat berperan penting terhadap hasil akhir kopi (seduhan kopi). Beberapa faktor yang perlu diperhatikan selama menyangrai, diantaranya sistem mesin penyangrai, bahan plat tabung penyangraian, stabilitas sumber api tabung penyangrai, dan jenis bahan baku kopiserta karakterisrtiknya.

Selain faktor alat penyangraian, aspek lainnya yang juga penting yakni suhu, waktu, keahlian, dan teknik penyangraian.

Suhu yang diperlukan dalam menyangrai kopi sekitar 60-250oC.

Sementara itu lama waktu menyangrai cukup bervariasi, tergantung dari sistem dan tipe mesin penyangrai. Umumnya, waktu diperlukan dalam menyangrai sekitar 15-30 menit. Fase kematangan dalam penyangraian dibedakan menjadi 3, yaitu pematangan di bagian luar, pematangan di bagian tengah, dan pematangan di bagian dalam biji.

Spesialisasi atau keahlian seseorang untuk menyangrai dalam mengidentifikasi biasa disebut roast master seorang roast master dapat menentukan batasan waktu dan tingkat kematangan penyangraian. Secara umum, terdapat tiga tingkat kematangan penyangraian, yaitu mild, smooth, dan bold . tingkat kematangan tidak berhubungan dengan stronger tetapi berpengaruh pada hasil akhir saat penyajian, seperti rasa yang ditinggalkan (after taste), kandungan kafein, dan crema (ketebalan busa atau minyak setelah disedu).

Penilaian Jenis dan Syarat Untuk Kopi Beras (Green Bean) 1. Robusta

Untuk kopi robusta yang baik, sebagian orang sering menyebutnya kopi EK (Eerst Kwaliteit), artinya kualitas nomor satu. Berdasarka ukurannya, kopi robusta dapat dibedakan menjadi tiga, sebagai beriku.

a. Biji ukuran besar, tidak lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 7,5 mm dengan maksimum lolos 2,5 %.

b. Biji ukuran sedang, lolos ayaka bulat ukuran diameter 7,5 mm, tetapi tidak lolos ayakan 6.5 mm, denggan maksimmum lolos 2,5%.

c. Biji ukuran kecil, lolos ayakan bulat ukuran 6,5 mm, tetapi tidak lolos ayakan 5,5 mm, dengan maksimum lolos 2,5 %.

2. Arabika

Untuk jenis kopi Arabika yang baik biasa disebut DP. Dalam perdagangan lokal, sebagian besar dibedakan menjadi tiga kelompok sebagai berikut.

a. Grade 1 (DP) – grade 6.

b. Grade asalan.

c. Grade cabutan.

Penilaian Karakteristik Kopi Secara Organoleptik 1. Penilaian karakteristik pada Biji Kopi Beras

a. Keseragaman ukuran b. Keseragaman warna c. Bau

2. Penilaian karakteristik pada Biji Kopi Hasil Sangrai

a. Kecerahan

b. Celah tangan (Center Cut) c. Bau

d. Warna biji

Tabel 2.1

Penilaian Karakteristik Pada Seduhan Kopi (Cupping Test 2014)

Sumber : Cupping Test (2016)

Biji Kopi

Brilliant Putih (white) Sangat baik (fine)

2.6 Teknik Penyajian Kopi

Aroma dan flavor kopi mulai berkurang ketika dibuka lebih satu minggu atau lebih dari enam bulan sejak digiling (Ground). Penurunan kualitas ini beerlaku juga untuk bubuk kopi kopi (powder) dan kopi setelah disangrai.

Berdasarkan metode dan tekniknya, penyajian kopi dibedakan menjadi dua, yaitu teknik tradisional dan modern

1. Penyajian Secara Tradisional

Beberapa peralatan masak yang biasa digunakan dalam pembuatan kopi teknik tradisional di antaranya ibrik, ceret, dan open pot. Berikut berbagai cara peyajian kopi secara tradisional.

a. Masak kopi bubuk dengan air. Setelah suhu mencapai 90-95oC, berikan gula secukupnya, kemudian sajikan.

b. Aduk bubuk kopi dan gula pasir secara bersamaan dengan menuangkan air panas secukupnya ke dalam gelas atau cangkir, lalu sajikan

c. Masukkan kopi bubuk ke dalam wadah sekaligus disaring menggunakan penyaring. Tambahkan air yang telah mendidih ke dalam wadah tersebut dan tampung ke dalam gelas atau cangkir.

Setelah itu, aduk larutan di wadah tersebut, baik tanoa maupun dengan gula sebagai pemanis.

d. Masak biji kopi yang sudah di sangrai bersama dengan air di dalam wadah tahan panas. Setelah air mendidih (90-100oC ) masukkan beberapa jenis makanan tertentum seperti daging dan sayuran.

Sajikan dan siap konsumsi.

2. Penyajian Secara Modern a. Pulnger

Alat ini biasanya digunakkan untuk mencampurkan bubuk kopi dengan air seduhan. Bentuknya seperti cangkir gelas yang memiliki tutup dan penyaring.

b. Brewer Coffee (Vacuum Pot)

Alat ini bekerja menggunakan tenaga listrik. Prinsip kerja alat ini adalah memadatkan energi untuk memanaskan air. Uap hasil yang dihasilkan akan dialirkan ( ditampung) melalui suatu wadah yang berisi kertas filter yang berisi bubuk kopi. Karena itu, terjadi proses pengembunan dari uap air menjadi tetesan kopi.

c. Espresso Machine

Alat ini merupakan generasi terakhir alat penyeduh kopi yang menggunakan daya listrik sebesar 1.200-4.000 watt. Menurut prinsip kerjanya, alat ini dapat menggunakan dua teknik yang berbeda, yakni espresso machine traditional dan fully automatic.

Cara mebedakan keduanya, jika masih menggunakan stick holder itu termasuk espresso machine traditional. Sementara itu, espresso machinefully automatic tidak menggunakan stick holder.

d. Streamer

Berfungsi untuk menghasilkan foam susu, sekaligus sebagai pemanas. Sebelum menggunakan streamer, siapkan susu segar yang masih baru dalam kondisi dingin. Wadah sebaiknya berbahan stainless steel.

2.7 Penelitian Terdahulu

Salah satu faktor yang mendukung penelitian ini adalah penelitian-penelitian terdahulu yang mempunyai tema pembahasan yang juga sama. Hal ini tentu untuk menambah referensi bagi peneliti dalam melaksanakan penelitiannya.

Dan berikut beberapa penelitian yang dapat dijadikan referensi dalam penelitian ini :

1. Pratiwi, Retno Rahmawati (2016).

Judul : Hambatan dan Strategi Pengembangan Usaha tani Kopi Dalam Upaya Peningkatan Produksi di Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung.

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor perkebunan Indonesia. Kabupaten Temanggung sebagai sentra kopi di Jawa Tengah ikut berperan dalam kontribusi produksi kopi Jawa Tengah.

Kecamatan Candiroto sebagai daerah penghasil kopi terbesar dan luas lahan terluas di Kabupaten Temanggung memiliki banyak hambatan untuk berkontribusi dalam pencapaian produksi kopi Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hambatan dalam pengembangan usahatani kopi dalam peningkatan produksi dan strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan usahatani kopi dalam upaya peningkatan produksi di Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif untuk mengetahui hambatan pengembangan usahatani kopi dan Analisis Hierarki Proses (AHP) digunakan untuk menentukan strategi dalam pengembangan usahatani kopi. Informan dari penelitian ini

terdapat 12 keyperson yang ditentukan secara purposive terdiri dari dinas terkait, pedagang dan petani kopi Kecamatan Candiroto.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan dalam pengembangan usahatani kopi adalah belum terlaksananya teknik baku budidaya, hasil olahan kopi belum diterima oleh pasar, tertutupnya akses informasi dan kurangnya promosi. Dari metode AHP diperoleh hasil bahwa aspek budidaya menjadi prioritas utama yang menggambarkan pengembangan usahatani kopi di Kecamatan Candiroto sangat memerlukan pengetahuan teknik budidaya untuk mengembangkan usahanya. Kemudian aspek pemasaran menjadi prioritas kedua karena usahatani kopi memerlukan promosi untuk membuka peluang pasar.

Prioritas ketiga adalah aspek pengolahan pasca panen karena perlunya peningkatan kesadaran dalam penanganan pasca panen yang tepat. Aspek kelembagaan menjadi prioritas keempat karena perlunya pemberdayaan pada kelembagaan petani untuk membentuk sebuah mitra agar mendorong peningkatan usahatani. Kemudian aspek kebijakan menjadi aspek kelima karena belum adanya peraturan dalam perlindungan harga dan tata niaga kopi yang menguntungkan petani.

2. Rohma Yani Capah (2011)

Judul : Analisis Strategi Pengembangan Usaha pada Kopi Bubuk Cap Nona

Kopi Bubuk Cap Nona Nantampuk Mas Sidikalang merupakan usaha produksi kopi yangberdiri sejak tahun 2010.Potensi produksi kopi dan pengolahan kopi cukup layak untuk dikembangkan mengingat luas

tanaman kopi sebagai bahan bakucukup tersedia, namun persaingan semakin ketat dan para kompetitor baik pengusaha lokal maupun Nasional saling menawarkan kelebihannya. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan strategi pengembangan usaha yang tepat untuk diterapkan pada usaha Kopi Bubuk Cap Nona Nantampuk Mas Sidikalang melalui pendekatan SWOT dengan menganalisis faktor lingkungan internal yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan serta faktor lingkungan eksternal yang terdiri dari peluang dan ancaman.

Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan dilaksanakan dengan teknik wawancara.Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

Hasil penelitian dengan Analisis SWOT menunjukkan bahwa berdasarkan analisis pada tabel matriks evaluasi EFAS (Eksternal Factor Analysis Summary), dimana faktor peluang (opportunity) mempunyai sub

total 1,01, sedangkan faktor ancaman (threat) mempunyai sub total 0,47.

Sementara hasil analisis pada tabel matriks evaluasi IFAS (Internal Factor Analysis Summary), dimana kekuatan (strengths) mempunyai sub total

1,20, sedangkan faktor kelemahan (weakness) mempunyai sub total 0,48.

Hasil sub total tersebut menunjukkan bahwa posisi usaha Kopi Bubuk Cap Nona Nantampuk Mas Sidikalang berada pada diagram kuadran I, yaitu bahwa strategi yang digunakan dalam mengembangkan usaha adalah strategi agresif yang mendukung kebijakan pertumbuhan usaha.

3. Dwi Retno Andriani, Heru Santoso, Rendra Widya Tama (2012) Judul : Analisis produksi dan pendapatan kopi robusta kualitas ekspor (studi kasus di pt perkebunan nusantara xii (persero) kebun ngrangkah pawon, kabupaten kediri)

Pada penelitian ini mendapatkan kesimpulan Kuantitas produksi dari kopi robusta kualitas ekspor di Kebun Ngrangkah Pawon dari tahun ke tahun fluktuatif dan trend produksi kopi robusta kualitas ekspor cenderung menurun, sedangkan peramalan trend produksi pada tahun 2013 dan 2014 juga menurun. Faktor produksi yang berpengaruh terhadap kualitas produksi kopi robusta kualitas ekspor antara lain pemanenan, pengupasan, pencucian, dan pengeringan. Pemanenan, pengupasan, pencucian, dan pengeringan berpengaruh positif karena prosentase hasil dari ketiga kegiatan ini tinggi yaitu pemanenan sebesar 90 persen, pengupasan sebesar 99 persen, pencucian sebesar 98.7 persen, dan pengeringan sebesar 97 persen. Faktor produksi yang mempengaruhi kualitas ini berpengaruh positif karena standar yang telah ditentukan oleh perusahaan dalam melakukan kegiatan pengolahan kopi robusta.

4. Sari Nalurita, Ratna Winandi Asmarantaka, dan Siti Jahroh (2014)

Judul : Analisis Daya saing dan Strategi Pengembangan bisnis Kopi Indonesia

Rendahnya produktivitas kopi Indonesia disebabkan karena 95 persen kopi Indonesia merupakan perkebunan rakyat yang umumnya belum menggunakan bibit kopi unggul, teknik budidaya yang masih sederhana serta lambat melakukan peremajaan tanaman, minimnya sarana

dan prasarana pendukung mengakibatkan rendahnya mutu kopi Indonesia.

Dalam hal produksi, industri skala kecil memiliki keterbatasan sarana dan prasarana produksi (mesin pengolahan dan pengemasan), teknologi yang tinggi baru dimiliki oleh industri skala menengah dan besar, selain itu industri skala kecil kurang berinovasi dalam menciptakan diversifikasi produk yang saat ini jenis kopi olahan sudah sangat beragam dikalangan masyarakat.

Upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan daya saing kopi dalam negeri adalah dengan menetapkan sistem standarisasi nasional sejak tahun 1975 melalui SK Menteri Perdagangan No. 266/KP/X/76.

Berdasarkan standar tersebut, mutu biji kopi dibagi menjadi mutu 1, 2, 3 dan 4, hal ini berlaku bagi pengolahan kering maupun basah (Abdoellah, 2003). Selain itu Departemen Pertanian mengalokasikan dana APBN sebanyak Rp. 9,29 miliar untuk rehabilitasi dan peremajaan tanaman kopi seluas 2.828 hektar untuk meningkatkan pengembangan kopi Arabika (Ditjenbun, 2008). Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan melakukan kegiatan penyuluhan mulai dari pra panen sampai pasca panen.

Pemerintah juga banyak melakukan banyak penelitian mengenai bibit unggul dan melepaskan varietas bibit kopi unggul guna mendukung daya saing kopi Indonesia.

5. Mirza Fahmi, Akhmad Baihaqi, dan Irwan A Kadir (2013)

Judul : Analisis Strategi Pemasaran Kopi Arabika „Bergendaal Koffie‟ Di Kabupaten Bener Meriah

Bergendaaal Koffie memiliki kekuatan tertentu yang tidak di miliki oleh pesaing, yang dapat menjadi keunggulan. Dengan keunggulan ini dapat digunakan strategi tertentu dan dapat memperbaiki kondisi perusahaan agar bisa berada dalam persaingan diatas rata-rata.

Posisi Invest memungkinkan bagi industri Bergendaal Koffie, hal ini disebabkan oleh: 1. Permintaan kopi yang berpeluang meningkat dan otomotis juga akan berpeluang mempertinggi penawaran terhadap kopi. 2.

Meningkatnya jumlah pengusaha kopi akan membuka peluang kerjasama dengan Bergendaal Koffie. Kemudahan memperoleh dan ketersediaan bahan baku berkualitas merupakan peluang bagi industri Bergendaal Koffie untuk bisa bertahan dalam jangka waktu lama.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan bentuk penelitian yang bertujuan menjelaskan variabel secara mandiri.

Artinya meskipun dalam penelitian yang dikaji lebih dari satu variabel, namun penelitian tersebut tidak bertujuan untuk mencari hubungan atau pengaruh variabel satu dengan yang lain.

Bentuk penelitian dengan pendekatan kualitatif dianggap sesuai diterapkan mendalam penelitian ini karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan menganalisis produksi kopi yang efektif dalam meningkatkan dan mengembangakan kualitas produksi kopi Bergendaal Koffie.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada UMKM Bergendaal Koffie yang terletak di Jalan Raya Takengon-Bireuen, Desa Simpang Teritit No 85, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Waktu penelitian dilakukan selama 1 bulan dimulai pada bulan April-Mei.

3.3 Jenis dan Sumber Data 3.3.1 Jenis Data

Adapun jenis dan sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Data Kualitatif yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak-pihak (pemilik perusahaan supervisor dan karyawan) yang berkepentingan berupa data lisan dengan penjelasan mengenai pembahasan dan dengan pembuktian berupa dokumentasi penelitian yang dilakukan sebagai pembuktian otentik dalam penelitian tersebut.

3.3.2 Sumber Data

Untuk menunjang kelengkapan pembahasan dalam penulisan proposal ini, penulis memperoleh data yang bersumber dari :

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian langsung yang dilakukan peneliti dilokasi penelitian. Metode-metode yang dapat dilakukan dalam upaya memperoleh data primer antara lain :

a. Observasi

Observasi yang dilakukan pada penelitian ini dengan observasi langsung yang dilakukan pada 6 hari kerja.

b. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan berinteraksi langsung, dialog secara aktif dua arah dan mendalam dengan pemilik usaha untuk memperoleh sumber data yang berkaitan langsung dengan masalah yang ingin dikaji.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari mencari sumber kedua yang berfungsi sebagai pendukung data primer yang berasal dari literatur, bacaan, jurnal serta publikasi data baik lembaga tekait ataupun swasta lainnya. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara:

a. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan metode dalam memperoleh data yang dilakukan dengan melihat sumber-sumber referensi dari buku, jurnal ilmiah, karya ilmiah, dan sejenisnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

b. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mendokumentasikan dan melihat data-data historis yang di dapat dari lokasi penelitian.

3.3.3 Informan Penelitian

a. Informan kunci yaitu Pemilik usaha Bergendaal Koffie yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian

b. Informan utama yaitu Manager, Karyawan Bergendaal Koffie yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang diteliti.

c. Informan tambahan yaitu Petani Kopi, Konsumen yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang sedang diteliti.

3.4 Metode Analisis Data

Proses penyusunan perencanaan strategi melalui dua tahap analisis : 1. Tahap pengumpulan data.

2. Tahap hasil implimentasi.

Tahap pengumpulan data adalah tahap yang pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data tetapi juga merupakan suatu kegiatan mengklasifikasikan dan pra analisis.

Tahap analisis adalah mengumpulkan informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan usaha tersebut. Tahap selanjutnya akan menjadi hasil kesatuan dari analisis data yang ada.

3.5 Kerangka Konseptual

Sistem Pengendalian

Produksi

Strategi pengembangan dan peningkatan

produksi produksi

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Sejarah dan Visi Misi UMKM Bergendaal Koffie 4.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Bergendaal Koffie berada di Jalan Raya Takengon-Biruen, Desa Simpang Teritit, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah. Dan berada di tengah-tengah perkebunan kopi eks maskapai Belanda. Salah satu bukti kepurbakalaan yang berkaitan dengan komoditas kopi ini adalah temuan berupa sisa pabrik pengeringan kopi (biji kopi). Secara astronomis terletak pada 040 36.640′ LU dan 0960 45.660′ BT (47 N 0251594 UTM 0510018). Bekas pabrik pengeringan kopi tersebut menempati lahan berukuran 110 m x 60 m. Pada lahan tersebut terdapat sisa bangunan berupa sisa pondasi, sisa tembok bangunan, bekas tempat kincir air, dan beberapa kolam tempat proses pengeringan kopi.

Era itu dimulai sejak tahun 2008 lalu, ketika Bergendaal Koffie mulai mematahkan stigma tentang kopi arabika yang dianggap tidak cocok dengan lidah warga. Kehadiran Bergendaal Koffie waktu itu banyak dikritik warga yang umumnya peminum kopi robusta. Namun, produk Bergendaal Koffie terus membanjiri pasar dengan bubuk kopi dan coffee roasted arabika. Perlahan, produk Bergendaal Koffie berhasil tampil beda dan membentuk selera coffee lover akan cita rasa kopi sejati.

Permintaan pasar terhadap bubuk kopi varietas arabika terus meningkat.

Penggemar kopi robusta dan kopi kemasan yang selama ini menentang habis-habisan usaha pengolahan kopi arabika, perlahan mulai beralih setelah mencicipi

kopi arabika yang bercita rasa tinggi. Rupanya, stigma negatif terhadap cita rasa kopi arabika berangkat dari tradisi lisan sejak era kolonial. Ternyata, stigma itu sengaja diciptakan pihak kolonial agar buah kopi arabika yang ditanam petani, semuanya dijual kepada ekportir Belanda. Dan, setelah berani berbeda dalam menilai cita rasa kopi, akhirnya selera minum kopi warga Aceh Tengah khususnya berubah pula. Mereka menjadi peminum kopi yang bergelar “one of the best coffee.”

Seiring dengan berubahnya selera konsumen, cafe dan usaha jasa coffee roasted terus tumbuh menjamur di kota Takengon dan sekitarnya. Inilah hikmah

dari berani berbeda selera. Sekarang, Aceh Tengah dan Bener Meriah benar-benar memasuki era baru dalam hal menikmati aroma dan cita rasa kopi arabika.

Ketergantungan kepada kopi kemasan yang umumnya berbahan baku robusta dan dipasok dari luar daerah, kini berkurang tajam. Pasalnya, mereka bisa menyeruput kopi arabika asli dari hasil ladangnya sendiri. Untuk menghasilkan coffee roasted dengan cita rasa tinggi diisyaratkan bahwa green bean (biji gabah) harus berasal dari buah yang masak sempurna. Proses fermentasinya minimal harus 48 jam.

Penjemurannya juga wajib diatas balai-balai supaya tidak terpapar bau asing dan aroma tanah. Karena warga ingin tampil beda dalam menyajikan sensasi dan cita rasa kopi arabika yang mereka tanam sendiri, maka prasyarat untuk hasilkan cita rasa itu sangat diperhatikan.

4.1.2 Visi dan Misi Bergendaal Koffie 4.1.2.1 Visi Bergendaal Koffie

Bergendaal Koffie adalah perusahaan pengolahan kopi yang memiliki visi bagaimana kopi gayo (aceh) dapat menjadi tuan di wilayah sendiri. Tujuan utama usaha bergendaal koffie adalah untuk meningkatkan mutu kualitas kopi gayo mulai dari sistem Produksi, sistem Pengolahan dan sistem Pemasaran perekonomian yang berdampak kepada masyarakat secara menyeluruh dan khususnya petani kopi serta mampu menyediakan lapangan kerja.

4.1.2.2 Misi Bergendaal Koffie

a. Misi usaha ini yakni membenahi pengolahan kopi dengan menerapkan teknologi yang tepat guna dan mempunyai daya saing.

b. Mengupayakan penerapan teknologi pengolahan kopi yang berbasis kepada sektor perkebunan mulai dari segmen, produksi, pengolahan, dan pemasaran.

c. Mampu menciptakan usaha yang sehat dengan memperhatikan lingkungan.

d. Mempersiapkan langkah-langkah untuk menghadapi globalisasi perekonomian dunia.

4.1.2.3 Motto Bergendaal Koffie

Adapun motto UMKM Bergendaal Koffie adalah “Menyajikan apa yang dijanjikan”.

4.2 Struktur Organisasi Bergendaal Koffie

Struktur organisasi adalah salah satu susunan dan hubungan antara tiap- tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Berdasarkan struktur organisasi tersebut juga dapat dilihat dengan jelas pembagian kerja secara jelas dari setiap bagian. Berikut merupakan struktur organisasi Bergendaal koffie.

4.2.1. Uraian Peran Dan Fungsi Struktur Organisasi Bergendaal Koffie

Kegiatan usaha bergendaal koffie meliputi beberapa proses yang panjang dalam pelaksanaannya guna memperoleh efisiensi dan efektivitas dalam operasi (termasuk produktivitas serta pemasaran), mencapai kualitas yang diinginkan, dan mendapatkan kapasitas sesuai dengan apa yang diharapkan terhadap waktu dan pendistribusian produk tersebut oleh sebab itu setiap orang yang terdaftar dan tertera di struktur organisasi bergendaal koffie mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dengan tujuan untuk pencapaian visi dan misi yang telah ditargetkan di Bergendaal koffie yang meliputi:

Tabel 4.1

peran dan fungsi sturktur organisasi Bergendaal koffie

NO NAMA PERAN FUNGSI

1. Drs.H.

Yusrin.HM

Ketua Mengontrol segala aktivitas yang ada dibergendaal koffie serta memutuskan suatu kebijakan yang menyangkut pencapaian visi dan misi bergendaal koffie.

Ketua Mengontrol segala aktivitas yang ada dibergendaal koffie serta memutuskan suatu kebijakan yang menyangkut pencapaian visi dan misi bergendaal koffie.

Dokumen terkait