• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.7 Pengolahan dan Analisa Data …

Keterangan:

Ca = Frekuensi nyamuk hinggap pada lengan kontrol Ta = Frekuensi nyamuk hinggap pada lengan perlakuan

4.6 Pengumpulan data 4.6.1 Data primer

Data primer pada penelitian ini diperoleh langsung dari hasil uji efikasi laboratorium, yaitu berupa data jumlah nyamuk yang hinggap pada lengan subjek uji yang diamati mulai dari periode pengujian jam ke-0 hingga jam ke-6. Data tersebut selanjutnya dicatat dan diolah untuk mengetahui data persentase daya proteksi.

4.6.2 Data sekunder

Data sekunder yang diperoleh pada penelitian ini bersumber dari studi kepustakaan berupa buku atau jurnal-jurnal yang memuat tentang penelitian serupa, teori-teori pendukung, data-data statistik, dan berupa guideline pelaksanaan uji efikasi repellent dengan menggunakan manusia sebagai subjek uji.

4.7Pengolahan dan Analisa data

Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan menggunakan program statistik computer (SPSS for windows). Data pengamatan berupa jumlah nyamuk yang hinggap pada lengan subjek uji (kontrol dan perlakuan) kemudian digunakan untuk menentukan nilai daya proteksi untuk masing-masing konsentrasi ekstrak daun Iler

48

selama tujuh interval waktu pengujian (jam ke-0 hingga ke-6). Data daya proteksi yang didapat selanjutnya dianalisa menggunakan uji Anova untuk mengetahui adanya perbedaan daya proteksi diantara variasi konsentrasi ekstrak daun Iler (20%, 40%, 60%, dan 100%).

Data daya proteksi tersebut selanjutnya dianalisa dengan metode probit dan dilanjutkan dengan uji regresi linier untuk mendapatkan persamaan garis yang digunakan untuk menentukan nilai EC50 (konsentrasi ekstrak yang memberikan efek

repellent atau daya proteksi sebesar 50% )ekstrak daun Iler selama tujuh interval waktu pengujian. Kemudian dilanjutkan dengan uji korelasi pearson dan regresi linier untuk mengetahui adanya hubungan serta berapa besar hubungan antara variasi konsentrasi dan lamanya interval waktu terhadap daya proteksi atau potensi ekstrak daun Iler sebagai plant-based repellent terhadap Aedes aegypti yang didapat.

49 BAB V HASIL

5.1 Pengaruh Ekstrak Daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) Sebagai Plant-based Repellent Terhadap Aedes aegypti

Daya tolak (repellent) ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) terlihat dari frekuensi hinggap Aedes aegypti pada lengan subjek uji yang telah diaplikasi variasi konsentrasi ekstrak daun Iler (0%, 20%, 40%, 60%, dan 100%) hingga terjadinya efficacy failure untuk setiap interval waktu pengujian (jam ke-0 hingga ke-6). Sebelum prosedur tersebut diterapkan, terlebih dulu dilakukan standardisasi pada sampel dan subjek uji, yang bertujuan untuk mencegah terjadinya bias pada penelitian karena munculnya keanekaragaman data.

Standardisasi Aedes aegypti dilakukan dengan homogenisasi morfologi berupa umur (2-5 hari); bionomik (feeding activity), yaitu dengan memblok akses larutan gula 12 jam sebelum pengujian; serta dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban ruangan uji untuk memastikan siklus gonotropik tetap berlangsung. Pada subjek uji, homogenisasi dilakukan pada respon fisiologis, yaitu dengan menetapkan kriteria seperti tidak memiliki riwayat alergi dan tidak memakai produk repellent atau parfum; serta perilaku, yaitu dengan membatasi pergerakan subjek uji saat uji efikasi berlangsung.

50 5.1.1 Frekuensi Hinggap Aedes aegypti

Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat bahwa frekuensi hinggap Aedes aegypti pada lengan subjek uji berbeda untuk setiap variasi konsentrasi dan interval waktu pengujian di setiap replikasinya.Sementara itu, terjadinya efficacy failure (kegagalan efikasi) pada kelompok konsentrasi ekstrak daun Iler cenderung homogen, yaitu terjadi segera setelah pengujian berlangsung (jam ke-0) disetiap replikasinya.

Namun, durasi proteksi yang didapat bervariasi untuk masing-masing konsentrasi uji yang diaplikasi, yaitu berturut-turut terjadi pada ≤ 2 menit untuk konsentrasi 20%, ≤ 3 menit untuk konsentrasi 40%, 3-4 menit untuk konsentrasi 60%, dan ³ 4 menit untuk konsentrasi 100%. Data frekuensi hinggap Aedes aegypti untuk masing-masing konsentrasi uji (20%, 40%, 60% dan 100% v/v) pada tujuh interval waktu pengujian (jam ke-0 hingga jam ke-6) disetiap replikasinya terlihat pada tabel 5.1 hingga 5.5 berikut ini.

Tabel 5.1 Frekuensi Hinggap Aedes aegypti

pada Konsentrasi 0% (Kontrol) dan Tujuh Interval Jam Pengujian

Replikasi Jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada Interval Jam ke- Rata-rata 0 1 2 3 4 5 6 I 9 7 9 8 9 8 8 8,29 II 9 8 9 8 8 9 7 8,29 III 9 8 9 8 8 8 9 8,43 IV 8 9 8 9 7 8 8 8,14 Rata-rata 8,29

51

Berdasarkan tabel 5.1 diatas, terlihat bahwa pada kelompok kontrol berupa aplikasi aquades pada lengan kanan subjek uji tidak memberikan daya tolak (repellent) yang signifikan terhadap frekuensi Aedes aegypti yang hinggap. Hal tersebut terihat dari masih banyaknya jumlah nyamuk yang hinggap pada lengan subjek uji. Frekuensi hinggap Aedes aegypti tertinggi mencapai 9 ekor, sementara frekuensi terendah mencapai 7 ekor yang terjadi di interval akhir pengujian. Rata-rata jumlah Aedes aegypti yang hinggap selama tujuh interval waktu pengujian adalah sebanyak 8,29 ekor.

Tabel 5.2 Frekuensi Hinggap Aedes aegypti

pada Konsentrasi 20% dan Tujuh Interval Jam Pengujian

Replikasi Jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada Interval Jam ke- Rata-rata 0 1 2 3 4 5 6 I 5 4 6 6 7 7 8 6,14 II 4 4 5 5 6 7 7 5,43 III 6 5 6 6 7 7 8 6,43 IV 5 6 6 7 6 7 7 6,29 Rata-rata 6,07

Pada tabel 5.2 diatas, terlihat bahwa daya tolak (repellent) daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) terhadap Aedes aegypti mulai terlihat di periode awal waktu pengujian. Frekuensi tertinggi Aedes aegypti yang hinggap pada lengan kiri subjek uji mencapai 8 ekor yang ditemukan di akhir periode waktu pengujian (jam ke-6). Sedangkan frekuensi terendah mencapai 4 ekor yang didapat di awal periode

52

waktu pengujian (jam ke-0 dan ke-1). Rata-rata jumlah Aedes aegypti yang hinggap selama tujuh interval waktu pengujian pada kelompok ini adalah sebanyak 8,29 ekor.

Tabel 5.3 Frekuensi Hinggap Aedes aegypti

pada Konsentrasi 40% dan Tujuh Interval Jam Pengujian

Replikasi Jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada Interval Jam ke- Rata-rata 0 1 2 3 4 5 6 I 5 4 6 6 7 6 7 5,86 II 3 3 4 4 5 6 6 4,43 III 4 5 6 6 7 7 8 6,14 IV 4 5 5 6 6 7 7 5,71 Rata-rata 5,54

Tabel 5.3 diatas menjelaskan adanya peningkatan penolakan (repellent) dari ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) terhadap Aedes aegypti dibanding dengan aplikasi konsentrasi sebelumnya. Rata-rata jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada lengan kiri subjek uji selama tujuh interval waktu pengujian yaitu sebesar 5,54 ekor. Frekuensi tertinggi Aedes aegypti yang hinggap pada kelompok ini mencapai 8 ekor yang terjadi di akhir periode pengujian (jam ke-6), dan terendah mencapai 3 ekor yang didapat diawal periode pengujian (jam ke-0 dan ke-1).

53

Tabel 5.4 Frekuensi Hinggap Aedes aegypti

pada Konsentrasi 60% dan Tujuh Interval Jam Pengujian

Replikasi Jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada Interval Jam ke- Rata-rata 0 1 2 3 4 5 6 I 2 3 4 5 6 5 6 4,43 II 4 4 5 5 6 7 6 5,29 III 4 4 5 5 6 6 7 5,29 IV 3 4 4 5 5 6 7 4,86 Rata-rata 4,97

Mengacu pada tabel 5.4 diatas, efek penolakan (repellent) terhadap Aedes aegypti yang diberikan oleh ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) pada konsentrasi 60% terlihat terus mengalami peningkatan jika dibanding dengan 2 konsentrasi sebelumnya. Frekuensi terendah Aedes aegypti yang hinggap pada lengan kiri subjek ukelompok ini mencapai 2 ekor yang didapat diawal periode pengujian (jam ke-0). Sedangkan frekuensi tertinggi mencapai 7 ekor yang didapat di akhir periode pengujian (jam ke- 5 dan ke-6), dengan rata-rata jumlah Aedes aegypti yang hinggap selama tujuh interval waktu pengujian (jam ke-0 hingga jam ke-6) yaitu sebesar 4,97.

54

Tabel 5.5 Frekuensi Hinggap Aedes aegypti

pada Konsentrasi 100% dan Tujuh Interval Jam Pengujian

Replikasi Jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada Interval Jam ke- Rata-rata 0 1 2 3 4 5 6 I 3 3 4 4 6 5 6 4,43 II 2 2 3 4 5 6 5 3,86 III 3 3 4 4 5 5 6 4,29 IV 2 3 3 4 4 5 5 3,71 Rata-rata 4,07

Berdasarkan tabel 5.5 diatas, efek penolakan (repellent) terhadap Aedes aegypti dari ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) pada konsentrasi 100% terlihat terus mengalami peningkatan jika dibanding dengan 3 konsentrasi sebelumnya. Rata-rata jumlah Aedes aegypti yang hinggap selama tujuh interval waktu pengujian adalah sebesar 4,07. Frekuensi terendah Aedes aegypti yang hinggap pada kelompok ini mencapai 2 ekor yang didapat diawal periode pengujian (jam ke-0 dan ke-1), sedangkan frekuensi tertinggi mencapai 6 ekor yang didapat di akhir periode pengujian (jam ke- 4 hingga ke-6).

5.1.2 Perhitungan Daya Proteksi

Pada tabel 5.3 diatas, terlihat bahwa pada kelompok kontrol (0%), meskipun tidak memberikan efek repellent terhadap Aedes aegypti, namun sebesar 17,1% sampel ditemukan menunjukkan respon menolak atau menghindar dari lengan subjek

55

uji. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya bias pada nilai daya proteksi yang didapatkan maka perlu dilakukan pengkoreksian data menggunakan rumus abbott untuk memastikan bahwa efek penolakan yang didapatkan pada kelompok perlakuan (konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 100% v/v) adalah benar-benar sebagai akibat dari pengaplikasian ekstrak daun Iler. Persentase daya proteksi ekstrak daun Iler sebagai plant-based repellent terhadap Aedes aegypti dapat dilihat pada tabel 5.6 dibawah ini.

Tabel 5.6

Daya Proteksi Ekstrak Daun Iler pada setiap

Konsentrasi dan Tujuh Interval Waktu Pengujian (empat replikasi) Konsentrasi

Replikasi

Daya Proteksi (%) pada Interval Jam ke- Total

Rata-rata 0 1 2 3 4 5 6 20% I 44,44 42,86 33,33 25 22,22 12,5 0 II 55,56 50 44,44 37,5 25 22,22 0 III 33,33 37,5 33,33 25 12,5 12,5 11,11 IV 37,5 33,33 25 22,22 14,29 12,5 12,5 Rata-rata 42,71 40,92 34,03 27,43 18,5 14,93 5,9 26,35% 40% I 44,44 42,86 33,33 25 22,22 25 12,5 II 66,67 62,5 55,56 50 37,5 33,33 14,29 III 55,56 37,5 33,33 25 12,5 12,5 11,11 IV 50 44,44 37,5 33,33 14,29 12,5 12,5 Rata-rata 54,17 46,83 39,93 33,33 21,63 20,83 12,6 32,76% 60% I 77,78 57,14 55,56 37,5 33,33 37,5 25 II 55,56 50 44,44 37,5 25 22,22 14,29

56 III 55,56 50 44,44 37,5 25 25 22,22 IV 62,5 55,56 50 44,44 28,57 25 12,5 Rata-rata 62,85 53,18 48,61 39,24 27,98 27,43 18,5 39,68% 100% I 66,67 57,14 55,56 50 33,33 37,5 25 II 77,78 75 66,67 50 37,5 33,33 28,57 III 66,67 62,5 55,56 50 37,5 37,5 33,33 IV 75 66,67 62,5 55,56 42,86 37,5 37,5 Rata-rata 71,53 65,33 60,1 51,39 37,8 36,46 31,1 50,53%

Berdasarkan tabel 5.6 diatas, terlihat bahwa variasi konsentrasi ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) memberikan daya proteksi yang berbeda terhadap Aedes aegypti. Daya proteksi tertinggi ekstrak daun Iler terlihat mencapai 77,78% yang didapat diawal periode waktu uji (jam ke-0) pada konsentrasi ekstrak 100%. Sedangkan daya proteksi terendah mencapai 0% yang terjadi di akhir periode waktu uji (jam ke-6) pada konsentrasi 20%. Diketahui pula bahwa total daya proteksi tertinggi ekstrak daun Iler terhadap Aedes aegypti selama tujuh interval waktu pengujian yaitu sebesar 50,53% yang dicapai pada aplikasi konsentrasi 100%.

Dari tabel daya proteksi diatas, terlihat bahwa kenaikan daya proteksi ekstrak daun Iler terjadi bersamaan dengan kenaikan konsentrasi ekstrak yang diaplikasikan. Trend tersebut terlihat terjadi secara kontinuiti dari awal hingga periode akhir pengujian (jam ke-0 hingga ke-6). Tabel diatas juga menunjukkan adanya perbedaan daya proteksi disetiap interval waktu pengujian, dimana daya proteksi ekstrak daun

57

Iler semakin menurun seiring dengan peningkatan interval waktu uji, dan hal tersebut terjadi disemua kelompok konsentrasi ekstrak daun Iler.

Meskipun terlihat adanya perbedaan daya proteksi pada variasi konsentrasi ekstrak daun Iler disetiap interval waktu pengujiannya, namun untuk mengetahui apakah perbedaan tersebut signifikan, serta untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari variable konsentrasi dan interval waktu pengujian terhadap daya proteksi ekstrak daun Iler sebagai plant-based repellent terhadap Aedes aegypti, maka selanjutnya perlu dilakukan pengujian secara statistik.

5.2 Pengaruh Variasi Konsentrasi Ekstrak Daun Iler Terhadap Daya Proteksi Untuk mengetahui adanya pengaruh dari variasi konsentrasi ekstrak daun Iler dengan daya proteksi yang diberikan dari ekstrak tersebut terhadap frekuensi hinggap Aedes aegypti, maka dilakukan uji analisa varians atau Anova. Terlebih dulu dilakukan uji normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov untuk memastikan bahwa data berdistribusi normal. Setelah normalitas data terpenuhi, selanjutnya dilakukan uji kesamaan ragam Levene (Levene test homogeneity of variances) untuk memastikan bahwa data yang didapatkan homogen.

Berdasarkan uji normalitas data yang dilakukan, diketahui bahwa data daya proteksi ekstrak daun Iler berdistribusi normal (p > 0,05) pada tujuh periode waktu pengujian (lampiran 3). Namun, dari hasil uji kesamaan ragam Levine diketahui bahwa hanya pada 5 dari 7 periode waktu pengujian didapatkan data daya proteksi yang relatif homogen (p > 0,05) (lampiran 3), yaitu pada interval waktu pengujian

58

jam ke-0 hingga jam ke-4. Dengan demikian, uji Anova dapat dilakukan pada data daya proteksi yang didapatkan pada periode pengujian jam ke-0 hingga ke-4, sementara data daya proteksi pada periode pengujian jam ke-5 dan ke-6 dilakukan uji non parametrik Kruskal-Wallis untuk mengetahui adanya perbedaan daya proteksi diantara variasi konsentrasi ekstrak daun Iler.

Dari hasil analisis Anova dan Kruskal Wallis, didapatkan adanya perbedaan daya proteksi (p < 0,05) pada variasi konsentrasi ekstrak daun Iler (20%, 40%, 60%, dan 100%) disetiap periode waktu pengujian (jam ke-0 hingga jam ke-6) (lampiran 3).Perbedaan daya proteksi diantara variasi konsentrasi ekstrak daun Iler secara jelas telihat pada grafik dibawah ini.

Gambar 5.1 Plot Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Iler (C. scutellarioides) sebagai

Plant-based Repellent terhadap A. aegypti pada tujuh Interval Waktu Pengujian

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 0 1 2 3 4 5 6

Daya Proteksi (%) Ekstrak daun Iler sebagai

Plant

-based Repellent

tehadap

A. aegypti

Interval Waktu Pengujian (Jam ke-)

Kons. 20%

Kons. 40%

Kons. 60%

59

Plot diatas menunjukkan adanya pengaruh variasi konsentrasi dengan daya proteksi ekstrak daun Iler disetiap periode waktu uji. Terlihat bahwa dengan ditingkatkannya konsentrasi ekstrak, meningkat pula daya proteksi dari ekstrak daun Iler terhadap Aedes aegypti. Namun sebaliknya, dengan penambahan periode waktu uji, penurunan daya proteksi ekstrak daun Iler pun terjadi. Didapatkan pula bahwa diantara kelompok perlakuan ekstrak daun Iler yang digunakan, ekstrak daun Iler pada konsentrasi 100% merupakan yang paling baik memberikan perlindungan terhadap Aedes aegypti, seperti yang ditunjukkan dengan persentase daya proteksi yang paling besar diantara daya proteksi konsentrasi ekstrak daun Iler lainnya.

5.3 Nilai EC50 Ekstrak Daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth)

Nilai daya proteksi ekstrak daun Iler terhadap frekuensi hinggap Aedes aegypti yang didapat dari hasil pengkoreksian menggunakan formula Abbott selanjutnya digunakan untuk mendapatkan nilai probit dengan menggunakan tabel konversi probit. Setelah diketahui nilai probit untuk masing-masing konsentrasi uji, kemudian dilakukan uji regresi untuk mendapatkan nilai EC50 ekstrak daun Iler yang

menunjukkan konsentrasi optimum dari ekstrak tersebut sebagai plant-based repellent pada 50% jumlah Aedes aegypti.

Berdasarkan hasil uji regresi didapatkan adanya hubungan antara log10

konsesntrasi ekstrak daun Iler dengan probit (p = 0,02). Persamaan regresi yang didapat berupa Y = 0,912x + 3,160; dimana Y menyatakan nilai probit, dan x menyatakan log10 konsentrasi ekstrak daun Iler.

60

Nilai EC50 ekstrak daun Iler sebagai plant-based repellent selanjutnya dihitung

menggunakan persamaan regresi diatas dengan memasukkan nilai probit 5,0 untuk mendapatkan nilai EC50. Dari persamaan linier tersebut, maka didapatkan nilai log10

konsentrasi sebesar 2,018. Dengan demikian, nilai EC50 ekstrak daun Iler adalah

pada konsentrasi 100% (antilog 2). Plot hubungan log10 konsentrasi ekstrak daun Iler

terhadap nilai probit dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Gambar 5.2 Grafik Persamaan Garis Regresi EC50 Ekstrak Daun Iler

5.4 Hubungan Konsentrasi Ekstrak dan Interval Waktu Pengujian dengan Potensi Daun Iler Sebagai Plant-based Repellent

Untuk mengetahui hubungan antara interval waktu pengujian dan konsentrasi ekstrak dengan potensi atau daya proteksi ekstrak daun Iler terhadap Aedes aegypti, maka dilakukan uji korelasi Pearson dengan hasil seperti yang terlihat pada tabel 5.9.

Y = 0.912x + 3.160 R² = 0.961 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 4.9 5 5.1 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 Probit

Log10 Konsentrasi ekstrak daun Iler

61

Tabel 5.7 Korelasi antara Variasi Konsentrasi Ekstrak dan Interval Waktu dengan Potensi Daun Iler sebagai Plant-based Repellent terhadap Aedes aegypti

Variabel Koefisien korelasi (r) Pvalue Potensi (Daya proteksi) daun Iler

(Coleus scutellarioides Linn. Benth) dengan konsentrasi ekstrak

0,501 0,000

Potensi (Daya proteksi) daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) dengan Interval waktu pengujian

- 0,780 0,000

Berdasarkan hasil analisis diatas, terlihat bahwa interval waktu pengujian dan konsentrasi ekstrak memiliki korelasi yang signifikan (p < 0,05) dengan potensi atau daya proteksi daun Iler, dengan koefisien korelasi yang didapat menunjukkan besaran serta sifat dari hubungan tersebut.

Dari tabel diatas terlihat bahwa bahwa korelasi antara konsentrasi ekstrak dengan potensi atau daya proteksi daun Iler adalah berbanding lurus, yang berarti setiap peningkatan konsentrasi ekstrak akan cenderung meningkatkan potensi daun Iler sebagai plant-based repellent terhadap Aedes aegypti (r = 0,501). Sementara itu, korelasi antara interval waktu pengujian dengan daya proteksi daun iler berbanding terbalik, yang berarti semakin meningkat interval waktu pengujian, maka potensi atau daya proteksi daun Iler justru akan cenderung semakin menurun ( r = - 0,780).

Sementara itu, hasil dari uji regresi untuk mengetahui bentuk hubungan diantara konsentrasi ekstrak, interval waktu , dan daya proteksi dari ekstrak daun Iler sebagai repellent menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (p < 0,05), dengan

62

persamaan regresi yang didapat berupa Y = –6,949 x1 + 0,302x2 + 41,58; dimanaY

menyatakan potensi atau daya proteksi ekstrak daun Iler, x1 sebagai interval waktu pengujian, dan x2 sebagai konsentrasi ekstrak.

Berdasarkan persamaan regresi tersebut diketahui bahwa tanpa mempertimbangkan pengaruh konsentrasi ekstrak dan interval waktu pengujian, maka daya proteksi ekstrak daun Iler akan meningkat secara konstan sebesar 41,582%. Namun, dengan memperhatikan faktor konsentrasi dan interval waktu pengujian, maka setiap kenaikan 1% konsentrasi ekstrak akan menyebabkan kenaikan daya proteksi ekstrak daun Iler sebesar 0,302%, sedangkan untuk setiap penambahan satu periode waktu pengujian akan menyebabkan terjadinya penurunan potensi atau daya proteksi ekstak sebesar 6,949%.

Telah dibahas sebelumnya bahwa suatu produk repellent yang memanfaatkan bahan aktif kimia dikategorikan efektif jika daya proteksi yang diberikan dari produk tersebut mencapai lebih dari 90% (selama periode 6 jam aplikasi), seperti yang ditetapkan oleh Komisi Pestisida Indonesia. Oleh karena itu, berdasarkan hasil perhitungan nilai daya proteksi ekstrak daun Iler dengan menggunakan model regresi diatas, diketahui bahwa konsentrasi ekstrak daun Iler yang diperlukan untuk memberikan daya proteksi sebesar 90% selama 6 jam pengaplikasian adalah sebesar 298,38% v/v.

63 BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Peneliti

Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu diantaranya:

1) Penentuan rangkaian konsentrasi uji yang dipakai tidak terstandar, hanya mengikuti rekomendasi dari WHO yang kemudian disesuaikan dengan hasil uji pendahuluan yang didapat.

2) Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dan tidak dilakukan uji fitokimia dari hasil ekstrak tersebut, sehingga komposisi kandungan metabolit sekunder yang terlarut tidak diketahui apakah semua senyawa yang terlarut memiliki bioaktivitas sebagai repellent.

3) Ekstrak daun Iler yang digunakan masih berupa ekstrak kasar yang rentan terhadap kontaminasi, dan senyawa volatil yang terkandung dalam ekstrak tersebut berisiko untuk menguap lebih cepat, sehingga kinerja dari ekstrak daun Iler berkurang ketika uji efikasi dilakukan.

4) Faktor yang berpengaruh terhadap daya proteksi ekstrak daun Iler sebagai repellent yang diukur pada penelitian ini hanya faktor konsentrasi dan interval waktu uji. Sementara faktor-faktor berpengaruh lain seperti faktor lingkungan, subjek uji, serangga target tidak dilakukan.

64

6.2 Pengaruh Ekstrak Daun Iler Terhadap Frekuensi Hinggap Aedes aegypti Hasil pengamatan terhadap frekuensi hinggap Aedes aegypti pada lengan subjek uji sebagai akibat dari aplikasi 5 variasi konsentrasi ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) didapatkan starting point efikasi (jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada jam ke-0) yang berbeda. Berdasarkan tabel 5.1, diketahui bahwa pada kelompok kontrol (0%) berupa aquades, didapatkan rata-rata jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada lengan subjek uji sebesar 82,9%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada efek penolakan yang diberikan karena masih cukup banyak didapatkannya jumlah Aedes aegypti yang hinggap pada lengan subjek uji.

Pengaruh ekstrak daun Iler dalam menolak Aedes aegypti untuk hinggap pada lengan subjek uji mulai terlihat pada konsentrasi 20%,dimana rata-rata jumlah Aedes aegypti yang hinggap mengalami penurunan, yaitu mencapai 60,7% (tabel 5.2). Efek penolakan ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) terhadap Aedes aegypti terus mengalami peningkatan searah dengan peningkatan konsentrasi ekstrak yang digunakan. Hal tersebut terlihat dari rata-rata jumlah Aedes aegypti yang hinggap dikelompok perlakuan ekstrak daun Iler pada konsentrasi 40%, 60%, dan 100%, yaitu masing-masing sebesar 55,4%, 49,7%, dan 40,7% (tabel 5.3 hingga 5.5).

Adanya perbedaan starting point efikasi dibeberapa replikasi kelompok perlakuan (tabel 5.2 hingga 5.5) diindikasikan terjadi karena adanya perbedaan komposisi senyawa metabolit sekunder volatil yang terkandung dalam masing-masing konsentrasi ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth).

65

Hal tersebut didukung dari penelitian yang dilakukan oleh Ridwan (2010) dan Shinta (2010) yang menyatakan bahwa pada konsentrasi tertinggi ekstrak yang digunakan pada uji efikasi cenderung memiliki proporsi senyawa aktif repellent yang lebih besar dibanding dengan konsentrasi ekstrak yang lebih rendah. Dengan begitu, besarnya konsentrasi ekstrak mempengaruhi besarnya nilai daya proteksi dari ekstrak daun Iler terhadap Aedes aegypti.

Ketidakstabilan suhu dan kelembaban ruangan uji untuk setiap peningkatan periode waktu uji, seperti yang diamati terjadi di setiap awal pengujian, juga diperkirakan mempengaruhi variasi frekuensi hinggap Aedes aegypti pada lengan subjek uji. Hal tersebut terjadi karena suhu dan kelembaban berkaitan dengan proses metabolisme dan keadaan oviparitas yang menjadi penentu keaktifan nyamuk dalam mendeteksi host untuk menggigit atau mengkonsumsi darah (Reiter, 2001; Depkes RI, 2007).

6.3 Pengaruh Variasi Konsentrasi dan Interval Waktu Pengujian Terhadap Potensi Daun Iler Sebagai Plant-based Repellent

Berpotensi atau tidaknya suatu sediaan tanaman dalam memberikan perlindungan terhadap nyamuk direpresentasikan dengan besarnya persentase daya proteksi yang diberikan selama beberapa interval waktu tertentu. Hasil pengkoreksian daya proteksi ekstrak daun Iler (Coleus scutellarioides Linn. Benth) terhadap Aedes aegypti menggunakan rumus abbot didapatkan adanya perbedaan daya proteksi yang terjadi

66

pada interval pengujian jam ke-0 hingga ke-6, seperti yang ditunjukkan dari hasil analisis Anova dan Kruskal-Wallis (p < 0,05) (lampiran 3).

Meskipun didapatkan perbedaan daya proteksi ekstrak daun Iler di tujuh interval waktu uji, namun diketahui bahwa perbedaan terbesar terlihat pada interval pengujian jam ke-0 (p = 0,005) dan jam ke-1 (p = 0,005). Senyawa metabolit sekunder volatil yang terkandung dalam ekstrak daun Iler bekerja dalam fase uap, dan umumnya efektif bekerja sebagai repellent segera setelah pengaplikasian (Kalita, 2013). Dengan begitu, uap atau molekul bau yang dihasilkan oleh variasi konsentrasi ekstrak daun Iler dengan proporsi yang berbeda itulah yang menyebabkan perbedaan daya proteksi yang cukup besar pada kedua periode waktu uji tersebut.

Analisa probit terhadap daya proteksi ekstrak daun Iler juga dilakukan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak yang mampu memberikan efek penolakan (repellent) optimum sebesar 50% jumlah Aedes aegypti yang dilihat dari nilai EC50. Berdasarkan analisis regresi terhadap probit yang didapat, diketahui adanya hubungan antara log10 konsentrasi ekstrak daun Iler dengan probit (p = 0,02), dimana nilai EC50 yang didapat sebesar 100% (antilog 2). Nilai EC50 yang relatif besar tersebut menandakan cenderung rendahnya aktivitas repellent ekstrak daun Iler karena kecilnya proporsi kandungan senyawa metabolit sekunder yang bertanggung jawab terhadap aktivitas repellent dalam ekstrak tersebut.

Rendah atau tingginya proporsi kandung metabolit sekunder tanaman yang bekerja sebgai repellent salah satunya dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan,

67

serta metode ekstraksi yang diaplikasikan (Ridwan 2010). Efek tersebut terlihat pada tabel 5.2 hingga 5.5, dimana daya kerja ekstrak daun Iler dalam memberikan perlindungan terhadap Aedes aegypti berlangsung singkat, yang ditandai dengan efficacy failure yang cenderung terjadi segera setelah pemaparan (pada jam ke-0) pada semua kelompok perlakuan.

Spesifikasi mekanisme kerja senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak tanaman sebagai repellent hingga saat ini masih dalam proses studi, namun secara umum kinerjanya dikaitkan dengan indera penciuman nyamuk. Sifat dari

Dokumen terkait