BAB IV METODELOGI PENELITIAN
4.5 Pengolahan Data dan Analisis
a. Asupan kalsium
Data asupan kalsium diolah dengan cara menghitung konsumsi jenis bahan makanan dengan menggunakan nutrisurvey, kemudian dirata-ratakan sehingga dapat diketahui data asupan per hari. Hasil asupan kalsium dikategorikan menjadi :
- Kurang, jika asupan kalsium < 80% AKG - Baik, jika asupan kalsium ≥ 80% AKG
b. Asupan protein
Data asupan protein diolah dengan cara menghitung konsumsi jenis bahan makanan dengan menggunakan nutrisurvey, kemudian dirata-ratakan sehingga dapat diketahui data asupan per hari. Hasil asupan protein dikategorikan menjadi :
- Kurang, jika asupan kalsium < 80% AKG - Baik, jika asupan kalsium ≥ 80% AKG
c. Tinggi badan
Data hasil pengukuran dari pengukuran tinggi badan sampel dalam hasil cm menggunakan mikrotiose dan dengan ketelitian 0,1 cm. Dan hasil pengukuran tinggi badan diolah dengan cara menghitung status gizi siswa (TB/U) dengan menggunakan WHO Antro Plus. Kemudian tinggi badan ini dikategorikaan menjadi :
- Pendek, jika status gizi (TB/U) < -2 SD - Normal, jika status gizi (TB/U) ≥ -2 SD 4.5.2 Analisis Data
4.5.2.1 Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menyajikan data secara deskriptif, dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Analisis ini dilakukan terhadap data umum sampel seperti data jenis kelamin, umur, tinggi badan kemudian data asupan kalsium dan asupan protein.
4.5.2.2 Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan kalsium, protein dengan tinggi badan pada siswa kelas 5 SD, menganalis hubungan antara asupan kalsium, protein dengan tinggi badan pada siswa kelas 5 SD,digunakan uji chi kuadrat dengan software SPSS pada tingkat kepercayaan 95%.
Chi kuadrat satu sampel adalah teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis bila dalam populasi terdiri atas dua atau lebih kelas dimana data berbentuk ordinal dan sampelnya besar (Sugiyono, 2012). Dasar dari uji Chi kuadrat adalah membandingkan frekuensi yang diamati dengan frekuensi yang diharapkan (Sabri, 2008).
Rumus dasar Chi kuadrat adalah sebagai berikut
∑
Dimana :
= Chi Kuadrat
fo = Frekuensi yang diobservasi fh = Frekuensi yang diharapkan
(Sugiyono, 2012)
dimana df = (b-1) (k-1) (Sabri,2008)
b = baris k = kolom
Dalam analisis uji Chi kuadrat yang tersering digunakan dalam penelitian kesehatan adalah menyajikan data dalam bentuk tabel 2x2 (four fold tabel) yakni dua kelompok dan dua kemungkinan respon.
Bentuk umum tabel 2x2 pada uji Chi kuadrat
Faktor Resiko Asupan Kalsium Kurang (-)
Asupan Kalsium
Baik (+) Jumlah
Tinggi Badan Kurang (-) A B a+b
Tinggi Badan Normal (+) C D c+d
Jumlah a+c b+d (a+b)+(c+d) (N)
Dengan data sedemikian, maka nilai statistik Chi kuadrat dapat dicari tanpa menghitung frekuensi harapan dengan rumus :
(Sabri,2008) Syarat uji Chi kuadrat adalah sebagai berikut :
1. Jumlah sampel > 40 atau jumlah sampel antara 20-40 dan tidak ada sel yang nilai harapannya <5
2. Apabila jumlah sampel <20 atau 20-40 dan ada sel yang nilai harapannya kurang kurang dari 5, lebih di 20% total selnya.
Ho ditolak apabila p < α (0,05), dan Ha diterima Ho diterima apabila p > α (0,05), dan Ha ditolak
39 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Sampel
Sekolah Dasar Negeri Bojong Timur 1 merupakan salah satu SDN di Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta. SDN Bojong Timur 1 memiliki jumlah kelas sebanyak 6 kelas. Pada tahun ajaran 2014/2015 memiliki murid sebanyak 246 orang. Sekolah ini terletak di pedesaan penduduk yang lingkungannya jauh dari keramaian. Di sekolah tersebut terdapat kantin sekolah yang menjual beraneka jajanan seperti kue, snack ringan, susu dan lain-lain. Dan di depan sekolah tersebut terdapat pejual jajanan keliling yaitu cilor, cilok dan baslub dan harga dari jajanan yang di jual di sekitar sekolah tersebut relatif murah.
Sampel yang digunakan adalah siswa/i kelas 5 sebanyak 40 orang.
Sampel terdiri 23 orang laki dan 17 orang perempuan. Sampel laki-laki berusia 10– 12 tahun sebanyak 21 orang, sampel perempuan berusia 10 – 12 tahun sebanyak 17 orang, sampel laki-laki berusia 13 – 15 tahun sebanyak 2 orang, dan tidak ada sampel perempuan berusia 13 – 15 tahun.
5.2 Analisis Univariat
5.2.1 Distribusi sampel berdasarkan asupan kalsium
Asupan Kalsium rata-rata anak sekolah di SDN Bojong Timur 1 Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta adalah 970,5 mg dengan asupan terendah sebesar 764,2 mg sedangkan asupan tertinggi sebesar 1134,3 mg.
Asupan kalsium dikategorikan menjadi 2 kategori, yaitu kurang apabila asupan kurang dari 80% AKG, dan Baik apabila asupan lebih dari sama dengan AKG. Standar AKG disesuaikan berdasarkan usia sampel.
anak laki-laki usia 10 – 12 tahun dikategorikan memiliki asupan kalsium baik apabila asupan kalsium harian lebih dari/ sama dengan 960 mg,dan Anak perempuan usia 10 – 12 tahun dikategorikan memiliki asupan kalsium baik apabila asupan kalsium harian lebih dari/ sama dengan 960 mg, Anak laki-laki usia 13 – 15 tahun dikategorikan memiliki asupan kalsium baik apabila asupan kalsium harian lebih dari/ sama dengan 960 mg, dan Anak perempuan usia 13 – 15 tahun dikategorikan memiliki asupan kalsium baik apabila asupan kalsium harian lebih dari/
sama dengan 960 mg. Distribusi sampel berdasarkan asupan kalsium dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.1
DISTRIBUSI FREKUENSI ASUPAN KALSIUM PADA SISWA KELAS 5 DI SDN BOJONG TIMUR 1
Asupan Kalsium N %
Kurang 16 40,0
Baik 24 60,0
Total 40 100
Hasil penelitian ini menunjukkan dari 40 orang sampel, sebagian besar sampel yaitu sebanyak 16 orang (40,0%) memiliki asupan kalsium yang kurang dan 24 orang (60,0%) sampel memiliki asupan kalsium yang baik. Asupan kalsium ini didapat dari konsumsi sampel baik kalsium dari susu maupun bahan makanan non-susu yang mengandung kalsium. Dari seluruh anak yang menjadi sampel, sebagian besar anak (40,0%) memiliki asupan kalsium yang kurang, hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman siswa dalam mengkonsumsi makanan sumber kalsium sehingga sampel tidak rutin minum susu yang merupakan sumber kalsium terbanyak.
Sumber kalsium tidak terbatas pada produk susu dan olahannya saja tetapi juga bisa diperoleh dari berbagai bahan pangan lain baik hewani maupun nabati. Sumber kalsium lainnya ini penting untuk dapat memenuhi kebutuhan kalsium anak sampai 1000 – 1200 mg/hr. Ikan yang dimakan dengan tulangnya termasuk ikan – ikan kering (ikan teri) merupakan sumber kalsium yang baik. Makanan sumber laut mengandung kalsium lebih banyak dibanding daging sapi maupun daging ayam. Roti dan biji-bijian juga menyumbang asupan kalsium yang nyata karena sering dikonsumsi. Serealia, kacang-kacangan dan hasil olahannya (Tahu, tempe) serta sayuran hijau sebenarnya merupakan sumber kalsium yang cukup baik namun karena umumnya bahan makanan ini juga mengandung zat yang menghambat penyerapan (seperti serat, asam fitat, dan oksalat) maka bioavailabilitasnya menjadi rendah, terutama pada bayam yang mengandung oksalat cukup tinggi.
Berdasarkan hasil wawancara, sampel cenderung lebih sering mengonsumsi makanan sumber kalsium yang berasal dari ikan teri, kacang-kacangan dan hasil olahannya serta sayur-sayuran.
Asupan kalsium anak yang masih kurang dari Angka Kecukupan Gizi juga dimungkinkan karena pengetahuan gizi yang anak miliki belum dipahami secara menyeluruh dan belum diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
5.2.2 Distribusi sampel berdasarkan asupan protein
Asupan potein rata-rata anak sekolah di SDN Bojong Timur 1 Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta.adalah 48,52 gram dengan asupan terendah sebesar 37,5 gram sedangkan asupan tertinggi sebesar 58,8 gram.
Asupan protein dikategorikan menjadi 2 kategori, yaitu kurang apabila asupan kurang dari 80% AKG, dan Baik apabila asupan lebih dari sama dengan AKG. Standar AKG disesuaikan berdasarkan usia sampel,
anak laki-laki usia 10 – 12 tahun dikategorikan memiliki asupan protein baik apabila asupan protein harian lebih dari 44,8 gram,dan Anak perempuan usia 10 – 12 tahun dikategorikan memiliki asupan protein baik apabila asupan protein harian lebih dari 48 gram. Anak laki-laki usia 13 – 15 tahun dikategorikan memiliki asupan protein baik apabila asupan protein harian lebih dari 57,6 gram, dan Anak perempuan usia 13 – 15 tahun dikategorikan memiliki asupan protein baik apabila asupan protein harian lebih dari 55,2 gram. Distribusi sampel berdasarkan asupan protein dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.2
DISTRIBUSI FREKUENSIASUPAN PROTEIN PADA SISWA KELAS 5 DI SDN BOJONG TIMUR 1
Asupan Protein N %
Kurang 15 37,5
Baik 25 62,5
Total 40 100
Hasil penelitian ini menunjukkan dari 40 orang sampel, sebagian besar sampel yaitu sebanyak 25 orang (62,5%) memiliki asupan protein yang baik dan 15 orang (37,5%) sampel memiliki asupan protein yang kurang. Dari seluruh anak yang menjadi sampel, 37,5% anak memiliki asupan protein yang kurang, hal ini disebabkan karena beberapa anak jarang mengkonsumsi sumber protein hewani bernilai biologi tinggi.
Sumber protein hewani bernilai biologi tinggi diantaranya seperti ayam, telur, ikan, susu, dll. Kurangnya asupan protein disebabkan oleh berbagai faktor yaitu kurangnya jumlah protein yang dikonsumsi serta kurang bervariasinya protein yang dikonsumsi.
5.2.3 Distribusi sampel berdasarkan tinggi badan (TB/U)
Kategori status gizi (TB/U) dibagi menjadi 2 yaitu pendek apabila nilai Z-Skor < -2 SD dan normal apabila nilai Z-Skor ≥ - 2 SD. Distribusi sampel berdasarkan status gizi (TB/U) dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 5.3
DISTRIBUSI FREKUENSITINGGI BADAN (TB/U) PADA SISWA KELAS 5 DI SDN BOJONG TIMUR 1
Tinggi Badan (TB/U) N %
Pendek 17 42,5
Normal 23 57,5
Total 40 100
Hasil penelitian ini menunjukkan dari 40 orang sampel, sebagian besar sampel yaitu sebanyak 23 orang (57,5%) memiliki tinggi badan (TB/U) normal dan 17 orang (42,5%) sampel memiliki tinggi badan (TB/U) pendek. Dari seluruh anak yang menjadi sampel 42,5% memiliki tinggi badan pendek yang menunjukkan bahwa anak- anak tersebut mengalami gangguan pertumbuhan kronis. Persentase ini lebih rendah dibandingkan prevalensi kependekan (stunting) anak usia 6 -12 tahun secara nasional yang mencapai 48,1%. Namun, lebih rendahnya prevalensi kependekan (stunting) di SDN Bojong Timur 1 dibandingkan prevalensi kependekan (stunting) nasional tetap merupakan suatu masalah karena hal ini menunjukkan masih tingginya prevalensi kependekan (stunting) di daerah pedesaan yang memiliki ketersediaan pangan cukup.
5.3 Analisis Bivariat
5.3.1 Hubungan Antara Asupan Kalsium dengan Tinggi Badan (TB/U)
Status gizi adalah tanda-tanda atau penampilan fisik yang diakibatkan karena adanya keseimbangan antara pemasukan gizi di satu pihak, serta pengeluaran oleh organisme di lain pihak yang terlihat melalui variabel-variabel tertentu, yaitu melalui suatu indikator status gizi.
Pemasukan gizi tersebut salah satunya adalah asupan kalsium.
Seseorang dengan asupan kalsium baik cenderung memiliki status gizi yang baik pula. Hubungan Asupan Kalsium dengan Tinggi Badan pada siswa kelas 5 dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel 5.4
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN KALSIUM DENGAN TINGGI BADAN (TB/U) PADA SISWA KELAS 5 DI SDN BOJONG TIMUR 1
Berdasarkan Tabel 5.4 dapat disimpulkan bahwa dari 16sampel yang memiliki asupan kalsium kurang, 13 orang (81,2%) memiliki tinggi badan pendek dan dari 24 sampel yang memiliki asupan kalsium baik, 20 orang (83,4%) memiliki tinggi badan normal.
Hasil uji statistik menggunakan Fisher Exactpada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa secara statistikterdapat hubungan
Asupan
bermakna antara asupan kalsium dengan tinggi badan pada siswa kelas 5 di SDN Bojong Timur 1 berdasarkan TB/U dengan nilai p=0,00.
Hasil penelitian ini seiring dengan penelitian yang dilakukan oleh Yunita (2012) pada anak sekolah di SDN 02 Pasirhalang yang mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan kalsium dan status gizi siswa SD berdasarkan indikator TB/U. Hasil penelitian ini juga seiring dengan penelitian yang dilakukan oleh Faisal (2012) yang dilakukan terhadap siswa SD Inpres 2 Pannampu Kecamatan Tallo Kota Makassar yang mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan kalsium dan status gizi siswa SD berdasarkan indikator TB/U.
Berdasarkan hasil – hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa asupan kalsium berhubungan secara signifikan terhadap pertumbuhan anak.
5.3.2 Hubungan Antara Asupan Protein dengan Status Gizi (TB/U)
Status gizi adalah tanda-tanda atau penampilan fisik yang diakibatkan karena adanya keseimbangan antara pemasukan gizi di satu pihak, serta pengeluaran oleh organisme di lain pihak yang terlihat melalui variabel-variabel tertentu, yaitu melalui suatu indikator status gizi.
Pemasukan gizi tersebut salah satunya adalah asupan protein. Seseorang dengan asupan protein baik cenderung memiliki status gizi yang baik pula.
Hubungan Asupan Protein dengan Tinggi Badan anak berdasarkan indikator TB/U dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel 5.5
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN PROTEIN DENGAN TINGGI BADAN (TB/U) PADA SISWA KELAS 5 DI SDN BOJONG TIMUR 1
Berdasarkan Tabel 5.5 dapat disimpulkan bahwa dari 15sampel yang memiliki asupan protein kurang, 13 orang (86,7%) memiliki tinggi badan pendek dan dari 25 sampel yang memiliki asupan protein baik, 21 orang (83,3%) memiliki tinggi badan normal.Berdasarkan tabel di atas diketahui pula bahwa 4 orang sampel yang memiliki asupan protein baik, memiliki status gizi pendek, hal ini disebabkan bahwa asupan protein sampel yang baik merupakan asupan saat ini, sedangkan status gizi sampel yang tergolong pendek merupakan cerminan masalah gizi sampel pada masa lampau atau masalah gizi kronik. Sedangkan, 2 orang sampel yang memiliki asupan protein kurang, memiliki tinggi badan normal (TB/U) disebabkan karena asupan protein yang kurang pada saat ini tidak menggambarkan asupan protein masa lalu, sehingga tinggi badan sampel (TB/U) tergolong normal.
Hasil uji statistik menggunakan Chi Square pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan bermakna antara asupan protein dengan tinggi badan pada siswa kelas 5 di SDN Bojong Timur 1 dengan nilai p=0,00.
Hasil penelitian ini seiring dengan penelitian yang dilakukan olehAmelia,dkk. (2013) yang dilakukan terhadap santri putri Yayasan
Asupan
Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar Sulawesi Selatan menunjukkan hubungan yang bermakna antara asupan protein dan status gizi berdasarkan indikator TB/U. Sedangkan, Hasil penelitian yang dilakukan Makalew, dkk. (2013) yang dilakukan terhadap anak sekolah kelas 4 dan kelas 5 SDN 1 Tounelet dan SD Katolik St. Monica Kecamatan Langowan Barat menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara asupan protein dengan status gizi berdasarkan indikator TB/U. Perbedaan hasil penelitian ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tempat, jumlah, dan karakteristik sampel, kondisi lingkungan dan lain-lain.
48 BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
6.1.1 Tingkat Asupan kalsium sampel di SDN Bojong Timur 1 Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta yang kurang sebanyak 16 orang (40,0%).
6.1.2 Tingkat Asupan protein sampel di SDN Bojong Timur 1 Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta yang kurang sebanyak 15 orang (37,5%).
6.1.3 Tinggi badan sampel di SDN Bojong Timur 1 Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta yang pendek sebanyak 17 orang (42,5%).
6.1.4 Terdapat hubungan bermakna antara asupan kalsium dan tinggi badan sampel (TB/U) di SDN Bojong Timur 1 Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta dengan nilai p = 0,00.
6.1.5 Terdapat hubungan bermakna antara asupan protein dan tinggi badan sampel (TB/U) di SDN Bojong Timur 1 Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta dengan nilai p = 0,00.
6.2 Saran
6.2.1 Anak yang memiliki tinggi badan pendek diharapkan dapat meningkatkan asupan makannya sesuai dengan kebutuhan tubuh
6.2.2 Meningkatkan asupan kalsium dan protein untuk pertumbuhan tinggi badan yang optimal perlu diadakannya penyuluhan oleh tenaga pelaksana gizi di puskesmas yang bekerjasama
dengan petugas UKS kepada anak sekolah dan orang tua SDN Bojong Timur 1 mengenai pentingnya protein dan kalsium bagi pertumbuhan; pentingnya memilih jajanan sekolah secara selektif terutama jajanan sumber protein dan kalsium; serta jenis dan jumlah kebutuhan protein dan kalsium yang dianjurkan bagi anak sekolah.
6.2.3 Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan asupan zink dan iodium terhadap status gizi (TB/U) anak sekolah dengan memperhatikan faktor lain.
50
DAFTAR PUSTAKA
Adriani, M dan Wirjatmadi, B. (2012). Peranan Gizi Dalam Siklus Kehidupan.Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Almatsier, Sunita. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Almatsier, S., Soetardjo, S., Soekatri, M., (2011). Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Amelia, A. Reski, dkk. 2013. Hubungan Asupan Energi dan Zat Gizi dengan Status Gizi Santri Putri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar Sulawesi Selatan Tahun 2013 dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin Makassar. 1 – 15.
Aritonang, 1996. Pemantauan Pertumbuhan Balita Petunjuk Praktis Menilai Status Gizi dan Kesehatan, Kanisius, Yogyakarta
Astari LD, Amini N, Cesilia MD. (2006). Hubungan ASI dan MPASI serta kejadian Stunting anak usia 6-12 bulan di Kabupaten Bogor. Media Gizi dan Keluarga. 2006 Juli
Atmarita. (2005). Nutrition Problem In Indonesia; Articel; An Integrated International Seminar and Workshop on Lifestyle-Related Disease. Universitas Gajah Mada.
Atmawikarta, S, 2007, Pemberdayaan untuk Tekan Kemiskinan, makalah pada Musyawarah Rencana Pembangunan Propinsi Tahun 2007 dengan Proyek Nasional
51
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Direktorat Kesehatan Bappenas, Jakarta.
B, Bogin. 1986, Pattern and human growth, Cambrigde University Press, USA
Badan Litbang Kesehatan Departmen Kesehatan. (2014). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)2013 : Laporan Nasional.
Jakarta: Badan Litbangkes Depkes.
Bappenas, 2011. Rancangan Bangun Peningkatan Daya Saing SDM Indonesia. Dalam Info Kajian Bappenas. Desember 2011 vol 8. no.2. Hal 1.
Depkes RI, 2012. Laporan Situasi Perkembangan Tuberkulosis di Indonesia Tahun 2011. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan.
Jakarta
Devi, Nirmala. 2012. Gizi Anak sekolah.Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Faisal, Muhammad. 2012. Hubungan Antara Zat Gizi Mikro dengan Status Gizi Siswa SD Inpres 2 Pannampu Kecamatan Tallo Kota Makassar Tahun 2012. Skripsi pada Program S-1 Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar.
Guthrie A, Helen and picciano F, Marry. 1995. Human Nutrition.
USA: Mosby-Year Book,Inc.
Grantham-McGregor S. and Baker-Henningham, H. 2005. Review of the evidence linking protein and energy to mental development. Public Health Nutr, 8: 1191-1201.
52
Hartono, Rudy.2012. Hubungan Asupan Protein, Kalsium, dan Vitamin C dengan kejadian Stunting pada Anak di SD Makassar. Karya Tulis Ilmiah pada Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Makassar
Jahari, Basuni. 1998. Penilaian Status Gizi Secara Antropometri.
Bagian Proyek Pendidikan Akademi Gizi, Jakarta.
Jalal, F. dan Atmojo, S. 1998. Gizi dan Kualitas Hidup: Agenda perumusan Program Gizi Repelita VII Untuk Mendukung Pengembangan Sumberdaya Manusia yang Berkualitas.
Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI. LIPI. Jakarta Kementerian Kesehatan RI. 2010. Keputusan Kementerian
Kesehatan RI tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
Jakarta.
Kodyat, B.A dkk. 1998. ‘penuntasan masalah gizi kurang’, dalam Widyakarya Pangan Nasional dan Gizi VI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Kurniasih, E. (2010). Sehat dan BugarBerkat Gizi Seimbang.
Jakarta: Gramedia
Lingga, Lanny. 2012. Sehat dan Sembuh dengan Lemak. Jakarta:
Elex Media.
Makalew, Yanti M., dkk. 2013. Hubungan Antara Asupan Energi dengan Status Gizi Anak Sekolah Dasar Kelas 4 dan Kelas 5 SDN 1 Tounelet dan SD Katolik St. Monica Kecamatan Langowan Barat dalam Jurnal Gizi Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado.
1 – 8.
53
Notoatmodjo,Soekidjo.2005.Metodologi Penelitian Kesehatan,edisi revisi.Jakarta.Penerbit PT RINEKA CIPTA.
Page. D.S. (1997). Prinsip-Prinsip Biokimia. Edisi Kedua.
Penerjemah R. Soendoro. Jakarta: Erlangga.
Par’i, Holil M.2013.Pedoman Pengukuran Penilaian Status Gizi(PSG).Bandung. Jurusan Gizi Poltekkes Bandung.
RISKESDAS.2013. Laporan Riset Kesehatan Dasar. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Rogol et al, 2000. Growth and pubertal development in children and adolescents: effects of diet and physical activity. Ameican Journal of Clinical Nutrition.
Rogol A.D., Roemmich J.N., dan Clark P.A. 2002. Growth at Puberty. J Adolesc Health. 31: 192-300
Sabri,Luknis,Sutanto Priyo Hastono.2008.STATISTIK KESEHATAN. Jakarta.Penerbit PT RAJAGRAFINDO PERSADA.
Sadiaoetama AD. (2008). Kebutuhan Zat-zat Gizi Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid I edisi 8 Jakarta: Dian Rakyat.
Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: EGC. 1995
Sugiyono.2012.Statiska Untuk Penelitian.Bandung.Penerbit ALFABETA,CV.
Supariasa, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi.Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Taguri AE, Ibrahim B, Salah MM, Abdel MA, OliverG, Pilar G, Serge H. (2008).Risk factors for stunting among under-fives in Libya. Public Health Nutrition, 2008 Sept 15:12 (8).14111-1149.
54
WHO.2003. Diet, Nutrition and The Prevention of Chronic Diseases.Geneva.
WHO. (2007). Who Growth Standards: Length/Height-for-age, Weight-for-Age,Weight-for-Height and Body Mass Index-for-Age: Methods and Development. Geneva: WHO Press. Diakses: 2 Juni 2014 http://www.who.int/gdgm/p child_pdf/per.pdf:
WHO. (2010). Nutrition Landscape Information System (NLIS) Country Profile Indicators: Interpretation Guide. Switzerland:
WHO press; 2010.
Winarno, F. G. 2004Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Yunitasari L. Perbedaan Intellegence Quotient (IQ) Antara Anak Stunting dan Tidak Stunting Umur 7-12 Tahun di Sekolah Dasar (Studi pada Siswa SD Negeri Buara 04 Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes). Jurnal Kesehatan Masyarakat 2012; Volume 1 No 2 Hal 586-595
Yunita, Yuyun. 2012. Hubungan Antara Kebiasaan Minum Susu, Asupan Kalsium, dengan Status gizi Anak Sekolah di SDN 02 Pasirhalang di Kabupaten Bandung Barat. Karya Tulis Ilmiah pada Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung.
55 LAMPIRAN 1
NASKAH PENJELASAN PENELITIAN
Tinggi badan menjadi penting karena merupakan salah satu indikator status gizi seseorang. Masalah gizi pada anak sekolah muncul karena perilaku gizi yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara asupan kalsium, protein dan tinggi badan pada anak sekolah khususnya kelas 5.
Partisipasi adik bersifat sukarela. Adik akan dilakukan pengukuran tinggi badan (± 3 menit). Selain itu dilakukan wawancara untuk mengetahui identitas diri (nama, usia, jenis kelamin, nomor telepon), asupan makanan khususnya kalsium dan protein (±10 menit).
Penelitian ini tidak menimbulkan risiko apapun. Manfaat mengikuti penelitian ini adalah mengetahu status gizi (TB/U), serta mendapat informasi mengenai hubungan antara asupan kalsium, protein dan tinggi badan. Kompensasi yang adik terima 1 buah minuman ringan. Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang adik berikan. Jika ada hal-hal yang kurang jelas dapat menghubungi peneliti utama a.n. Tasori dengan no HP.
085224237538.
56
PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) (INFORMED CONSENT)
Saya telah mendapat penjelasan secara rinci dan mengerti penelitian hubungan antara asupa kalsium, protein dan tinggi badan pada siswa kelas 5 di SDN Bojong Timur 1.
Pernyataan kesediaan berpartisipasi :
Nama :
Tanggal/Bulan/Tahun :
Tanda Tangan,
( )
57 LAMPIRAN 2
FORMULIR TINGGI BADAN
No sampel Nama
Jenis Kelamin
(L/P)
Kelas
Tanggal
Tanggal