PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN
A. Pengolahan Data dan Pembahasan
Dari hasil penelitian mengenai sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang meliputi 5 fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi dan pengendalian pada PT. Industri Kapal Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Fungsi Perencanaan (safety) K3 PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar
Berdasarkan data sekunder yang diperoleh perusahaan telah menyusun perencanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang mengacu pada pedoman sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (SMK3) dalam permenaker per.05/Men/1996. Perencanaan terlampir pada Lampiran 1.
b. Fungsi Organisasi K3 PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar
Berdasarkan data sekunder yang diperoleh perusahaan telah membentuk struktur organisasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) disamping itu tugas serta wewenang
34
tanggung jawab dalam struktur Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) didalam organisasi safety. Terlampir pada Lampiran 2. Sedangkan berdasarkan pelaksanaanya dilapangan fungsi organisasi belum sepenuhnya terlaksana dikarenakan belum terbentuknya Panitia Pembina Kesehatan dan Keselamatan Kerja (P2P3K) yang sebelumnya telah direncanakan ini dibuktikan dengan hasil kuesioner penelitian yang ditanyakan kepada karyawan pada bagian produksi PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar.
c. Fungsi Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar.
Dari hasil pengisian kuesioner penelitian (Kuesioner penelitian terlampir) oleh pegawai pada bagian produksi
PT. Industri Kapal Indonesia (persero) telah melaksanakan 52 kriteria dan 28 kriteria yang tidak terlaksana dari 80 kriteria yang telah direncanakan mengenai Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3). 52 Perencanaan yang terlaksana adalah sebagai berikut :
1. Kebijakan umum Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) ( safety policy ) yang dikeluarkan pihak manajemen.
35
2. Ketentuan umum Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) ( occupational safety and health rules ) yang di susun dan ditetapkan.
3. Penyelia lini pertama telah mendapatkan pendidikan dan latihan dasar-dasar pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
4. Prosedur tetap kesehatan dan keselamatan kerja (K3) 5. Petunjuk teknis untuk melaksanakan pekerjaan berbahaya 6. Pemeriksaan kesehatan sebelum penerimaan
7. Pendidikan dan latihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) diberikan oleh para ahli.
8. Seleksi dan penempatan pegawai sesuai dengan pekerjaan yang diberikan
9. Latihan penaggulangan kebakaran dan keadaan darurat bagi operator dan pekerja
10. Program Kesehatan Kerja
11. Petugas kesehatan kerja yang berkualifikasi
12. Pemeriksaan untuk evaluasi dan mengendalikan bahan beracun dan berbahaya
13. Adanya ahli hygiene perusahaan dan kesehatan kerja perusahaan
14. Penyuluhan menegenai pentingnya hygiene dan kesehatan kerja untuk pekerja
36
15. Prosedur pengendalian bahan berbahaya
16. Petugas khusus yang bertanggung jawab tarhadap keadaan darurat
17. Petugas tanggap darurat telah dididik secara khusus 18. Menyediakan tempat evakuasi untuk keadaan darurat
19. Peralatan untuk menghentikan proses bila dalam keadaan darurat mudah diketahui dan dapat bekerja dengan baik 20. Kotak P3K lengkap dan memadai tempat-tempat yang
srategis
21. Mempekerjakan seorang dokter secara tetap
22. Setiap kecelakaan dicatat dan dilaporkan secara tertulis 23. Menyediakan formulir laporan kecelakaan yang terperinci 24. Pintu dan jalan penyelamatan dengan jumlah yang memadai 25. Saluran pembuangan dalam keadaan baik dan sambungan
serta kontrol alirannya bersih
26. Fasilitas penyimpangan cukup memadai
27. Tersedia tempat penyimpangan benda tidak terpakai secara khusus
28. Tersedia peralatan angkat dan angkut material
29. Tempat penyimpanan barang diperiksa secara berkala 30. Bahan kimia yang disimpan dicatat dengan baik
37
32. Menyediakan tempat penyimpanan yang aman, pemberian label dan prosedur penggunaan bahan berbahaya
33. Semua bahan yang mudah terbakar dan meledak disimpan dan digunakan secara aman
34. Alat pemadam kebakaran tersedia dalam jumlah dan jenis yang cukup
35. Hidran kebakaran dan persediaan air selalu cukup digunakan oleh regu pemadam kebakaran
36. Tanda “ dilarang merokok “ dipajang disekitar tempat yang mempuyai resiko bahaya kebakaran
37. Disediaka alat penyelamatan diri dan jalan penyelamatan yang bebas rintangan
38. Pemasangan poster Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sudah direncanakan dengan baik
39. Ada publikasi tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
40. Tanda peringatan bahaya dipasang di tempat yang mudah dilihat
41. Daerah kerja terpelihara kerapian dan kebersihannya 42. Tempat kerja diberi penerangan yang memadai
43. Tersedia tempat pembuangan sampah dan bahan yang tidak terpakai lagi
38
44. Dilakukan pemeliharaan jalan kendaraan, halaman, pagar pembatas dan sebagainya
45. Pintu keluar berfungsi dengan baik
46. Petunjuk operasi penanggulangan bahaya.
47. Petunjuk tertulis mengenai pengendalian dan penanggulangan keadaan darurat pada tempat yang mudah dilihat
48. Menyediakan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kerja 49. Menyediakan alat pelindung diri (APD) menurut karakteristik
pekerjaan
50. Penggantian alat pelindung diri (APD) yang mengalami penurunan kualitas
51. Memberikan petunjuk penggunaan alat pelindung diri (APD) dan kegunaannya kepada tenaga kerja
52. Ketentuan umum mengenai kewajiban menggunakan alat pelindung diri (APD) di tempat berbahaya.
Sedangkan 28 kriteria yang belum dilaksanakan oleh PT. Industri Kapal Indonesia (persero) adalah :
1. Perusahaaan mempunyai Panitia pelaksana Kesehatan dan Keselamatan Kerja (P2K3)
2. Anggota P2K3 mendapat pelatihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sesuai tugas dan fungsinya meneurut UU.No.13 tahun 2003
39
3. Perogram latihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) 4. Program tahunan perusahaan telah mencakup kegiatan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
5. Penggunaan teknik-teknik identifikasi bahaya dan rugi
6. Manajer dan penyelia membuat jadwal dan melaksanakan inpeksi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
7. Peninjauan berkala peraturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang ditetapkan oleh perusahaan
8. Pendidikan dan latihan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi pegawai dilakukan secara teratur
9. Latihan deteksi dini dan pengendalian bahaya kecelakaan / kebakaran / peledakan oleh pihak perusahaan.
10. Pemeriksaan kesehatan secara berkala
11. Hasil pemeriksaaan kesehatan dilaporkan kepada P2K3 12. Program pengukuran dan pengendalian kebisingan 13. Penyediaan fasilitas P3K sesuai ketentuan
14. Petugas khusus P3K dalam jumlah yang memadai 15. Prosedur penanggulangan keadaan darurat
16. System tanda bahaya dan system komunikasi untuk keadaan darurat dan penyelamatan pada setiap ruangan atau bangunan
17. Pelatihan P3K untuk semua tenaga kerja secara teratur 18. Pembuatan statistik kecelakaan
40
19. Pengaman otomatis disediakan dengan baik
20. Penempatan alat pemadam kebakaran dengan baik, mudah dilihat, dan terjangkau
21. Sistem peringatan kebakaran yang terdengar dan terlihat jelas
22. Prosedur penyelamatan / evakuasi terpajang dengan baik 23. Prosedur keselamatan kerja tertulis pada tempat yang
mudah dilihat
24. Semua pintu keluar dibuatkan tanda yang mudah dilihat dan diberi penerangan yang memenuhi syarat.
25. Alat pelindung diri (APD) disimpan pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau jika akan digunakan.
26. Mengadakan perawatan khusus untuk alat pelindung diri (APD)
27. Pemeriksaan kualitas alat pelindung diri (APD) secara berkala
28. Sanksi khusus bagi tenaga kerja yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai ketentuan
Dengan 52 kriteria atau 65% dari seluruh Kriteria yang ditanyakan telah dilaksanakan oleh PT. Industri Kapal Indonesia (persero) dan 28 kriteria atau 35% yang tidak dilaksanakan, maka untuk pelaksanaan Sistem Manajemen Kesehatan dan
41
Keselamatan Kerja (SMK3) masuk dalam kategori cukup dalam pelaksanaan SMK3.
Menurut kepala bagian safety & K3 beberapa Kriteria yang belum sempat dilaksanakan PT. Industri Kapal Indonesia (persero) karena biaya operasional perusahaan yang lebih difokuskan kepada pemenuhan keperluan pokok karyawan dan biaya operasional lainnya serta kurangnya Sumber Daya Manusia khususnya K3, Namun kedepannya perusahaan akan berusaha meninggkatkan Pelaksanaan Sistem Manajemen Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (SMK3) sebagai upaya PT. Industri Kapal Indonesia (persero) dalam mewujudkan
lingkungan kerja yang aman bagi tenaga kerja sehingga dapat terhindar dari bahaya dan kecelakaan.
d. Fungsi evaluasi PT. Industri Kapal Indonesia (persero).
Berdasarkan data sekunder yang diperoleh Seluruh pelaksanaan program kegiatan K3 di evaluas setiap akhir pelatihan kepada karyawan yang mengikuti kegiatan tersebut, apabila karyawan tersebut telah mengikuti pelatihan maka akan diikuti dengan kegiatan yang digelutinya (safety K3) kemudian bagi karyawan yang belum mengikuti kegiatan K3 diharapkan mengikuti aturan yang telah di programkan dalam pelatihan K3.
42
Pelatihan tersebut diprogramkan oleh Perusahaan setiap 1 kali setahun atau sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
e. Fungsi pengendalian PT. Industri Kapal Indonesia (persero). Berdasarkan data sekunder yang diperoleh perusahaan telah Melakukan langkah-langkah preventif untuk menekan kecelakaan kerja dilingkungan perusahaan khususnya di bagian produksi selain itu diupayakan agar sistem pengendalian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) betul-betul diterapkan di tengah-tengah karyawan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Program Diklat terlampir pada lampiran 3. Sedangakan berdasarkan hasil kuesioner mengenai pelaksanaan pelatihan, masih banyak pelatihan yang belum terlaksana sehingga kecelakaan dan penyakit akibat kerja masih tinggi. Adapun pelatihan/pendidikan yang terlaksana di proritaskan bagi kepala-kepala bagian dan pormen-pormen yang menyebabkan kurang efektifnya pelaksanaan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja tersebut.
Data kecelakaan dan penyakit akibat kerja pada bagian Produksi PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar.
43
Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari perusahaan kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang terjadi selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut :
No. Tahun Jumlah Kecelakaan
Ringan Berat Meniggal
1. 2004 7 5 2 -
2. 2005 3 2 1 -
3. 2006 6 3 3 -
4. 2007 5 5 - -
5. 2008 2 1 1 -
Tabel 1 : Kecelakaan yang terjadi pada PT. IKI selama 5 tahun terakhir
Ket :
Ringan : Terjepit, , luka lecet, keseleo.
Berat : Terpotong jari tangan/kaki, Kejatuhan benda dari atas, Terkelupas kulit, Tertumbuk plat besi, Patah tulang, tertusuk benda/plat,luka bakar, terjatuh.
Sumber : PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar
Gambar 2 : Diagram batang kecelakaan akibat kerja 5 tahun terakhir. pada PT. Industri Kapal Indonesia (persero)
0 1 2 3 4 5 6 7 8 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008
DIAGRAM BATANG
Jumlah Kecelakaan Ringan Berat Meniggal44
Dari data kecelakaan yang diperoleh di atas menunjukan tingkat kecelakaan yang terjadi pada PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar 5 tahun terakhir semakin menurun.
No. Tahun Jumlah Penyakit Ringan Berat Meniggal
1. 2004 132 130 2
2. 2005 221 218 4
3. 2006 212 211 1
4. 2007 193 190 3
5. 2008 151 146 5
Tabel 2 : Penyakit akibat kerja yang terjadi pada PT. IKI 5 Tahun terakhir.
Ket :
Ringan : Sakit kepala, batuk pilek, sakit mata, alergi, nyeri anggota badan, batuk-batuk, gatal-gatal, cepat lelah, pusing-pusing, gemetaran.
Berat : paru-paru, Gangguan pendengaran,Keracunan, katarak.
Sumber : Poliklinik PT. Industri Kapal Indonesia
Gambar 3 : Diagram Batang Penyakit akibat kerja yang terjadi pada PT. IKI 5 Tahun terakhir
0 50 100 150 200 250 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008
DIAGRAM BATANG
Jumlah Penyakit Ringan Berat Meniggal45
Dari hasil pengisian kuesioner penelitian (Kuesioner terlampir) mengenai kecelakaan akibat kerja oleh pegawai pada bagian produksi PT. Industri Kapal Indonesia (persero) dapat di lihat pada tabel di bawah ini :
No. Jenis Kecelakaan Jumlah
1. Keseleo 19
2. Luka lecet 18
3. Terjepit 17
4. Tertumbuk plat besi 2
5. Kejatuhan benda dari atas 2 6. Terpotong jari tangan/kaki 1
7. Kulit terkelupas 1 8. Tertusuk benda/plat 1 9. Patah tulang 1 10. Luka Bakar 1 11. Terjatuh 1 Jumlah 64
Tabel 3 : Kecelakaan yang terjadi pada PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar berdasarkan hasil kuesioner.
46
Gambar 4 : Diagram Pie kecelakaan akibat kerja pada PT. Industri Kapal Indonesia (persero) berdasarkan hasil kuesioner. Berdasarkan hasil kuesioner menunjukan jumlah kecelakaan yang terjadi pada PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar semakin meningkat bila dibandingkan tahun sebelumnya, dimana tahun 2008 jumlah kecelakaan hanya 2 orang.
Berdasarkan hasil pengamatan pada bagian Produksi PT. Industri Kapal Indonesia (persero) Makassar akibat kecelakaan yang terjadi berdasarkan pendekatan ilmu ergonomi adalah :
Terjepit, di akibatkan karena posisi kerja dan beban benda yang diangkat/dipindahkan melebihi batas yang diperbolehkan. Untuk itu sebaiknya perusahaan membuat prosedur kerja dan pengadaan alat yang ergonomi.
26% 1% 28% 30% 1% 3% 2% 2% 2% 2% 3%