• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen Fitokimia dan Aktivitas (Halaman 68-83)

BAB V PENUTUP

B. Saran

Saran yang dapat diberikan berdasarkan simpulan di atas adalah :

1. Perlu dilakukan isolasi terhadap ekstrak tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri agar diketahui kandungan senyawa yang terdapat didalamnya.

2. Perlu dilakukan pengujian dengan metode biautografi untuk mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang memberikan aktivitas antibakteri.

3. Ekstrak metanol beberapa bagian tanaman Keji beling (S. crispus), Belimbing (A. bilimbi) dan Secang (C. sappan) memiliki potensi sebagai antibakteri terhadap S. typhi YCTC sehingga penelitian ini dapat dijadikan sebagai literatur untuk penelitian selanjutnya dengan metode lain (in vivo).

4. Untuk memberikan informasi dan pengetahuan mengenai potensi dan profil fitokimia tanaman obat ini, dapat dilakukan publikasi melalui media internet maupun sosialisasi kepada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Adyana, I, K., Yulinah. E., Sigit J. I. K Fisheri N., dan Insanu M., 2004, Efek Ekstrak Daun Jambu Biji Daging Buah Putih dan Jambu Biji Daging Buah Merah sebagai Antidiare, Acta Pharmaceutica Indonesia, (1).

Ajizah, A.. 2004. Sensitivitas Salmonella Typhimurium terhadap Ekstrak Daun Psidium Guajava L. Bioscientiae. 1 (1).

Alamsyah, A, N., 2006, Biodisel Jarak Pagar: Bahan Bakar Alternatif Yang Ramah Lingkungan, Agromedia Pustaka, Jakarta.

Amelia, 2008, Saponin Fitokimia Ajaib, http/209.85.175.104/search?q=

cache;XqOe419Ap-sJ: Diakses pada 23 Mei 2014.

Anonim, 1986, Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Aripin, S., 2007, Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Bunga Angsret (Spathoda campanulata Beauv) dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antioksidan, Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang.

Awoyinka, O.A., Balogun, I.O., dan Ogunnowo, A.A.. 2007. Phytochemical Screening and In Vitro Bioactivity Cnidoscolus aconitifolius (Euphorbiaceae). Journal of Medicinal Plants Research. 1 (3).

Brodjonegoro, T, P., Rekksowardjojo, I, K., dan Soerawidjaja, T, H., 2006, Jarak Pagar, Sang Primadona, Departemen Teknik Kimia, Laboratorium Termofluida dan System Utilitas, Kelompok Riset Biodiesel ITB, Bandung.

Cheeke, R, P., 2004, Saponins : Surprising Benefits Of Desert Plants, Linus Pailing Institute, USA.

Christina, 2008, Formulasi Gel Antioksidan Ekstrak Buah Buncis (Phaseolus vulgaris L) dengan Menggunakan Basis Aqupec 505 hv., Universitas Padjajaran, Bandung.

Cowan, M., 1999, Plant Product as Antimicrobial Agent, Clinical Microbiology Reviews, 12 (4)

Dalimartha, S., dan Wijayakusuma, H., 2006. Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Hepatitis, Penebar Swadaya, Jakarta.

Daris, A., 2010, Fitokimia Mencegah Penyakit Degeneratif. Indonesian Pharmacists Association, Diakses 27 Juni 2014.

Dianasari, N., 2009, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella dysentriae serta Bioautografinya, Skripsi, Universitas Muhammadiyah, Surakarta.

Dumont, 1985, Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi, ITB, Bandung.

Dwidjoseputro, D., 2010, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta.

Fajriati, I., Malawati, R., dan Muzakky, 2011, Studi Ekstraksi Padat Cair Menggunakan Pelarut Logam Cr dan Cu dalam Sampel Sedimen Sungai di Sekitar Calon PLTN Muria, Jurnal Ilmu Dasar, 12 (1).

Gandjar, I. G., dan Abdul, R., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Ganiswara, G, G., 2007, Farmakologi dan Terapi. Edisi 5, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Gunawan, D., dan Mulyani, S., 2004, Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Edisi 1, Penebar Swadaya, Jakarta.

Gunawan, I., 2011, Efek Keji Beling (Sericocalyx Crispus L) terhadap Penurunan Tekanan Darah Pria Dewasa, Skripsi, Fakultas kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

Harborne, J, B., 2003, Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan. Edisi II, Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Hariyadi, 2005, Budidaya Tanaman Jarak (Jatropha curcas ) sebagai Sumber Bahan Alternatif Biofuel, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian IPB, Bogor.

Hariana, A.. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri Pertama. Penerbit Penebar Swadaya : Jakarta.

Hayani, E., dan Sukmasari, M., 2005, Teknik Pemisahan Komponen Ekstrak Purwoceng Secara Kromatografi Lapis Tipis, Buletin Teknik Pertanian, 10 (2).

Indriani H., 2003, Stabilitas Pigmen Alami Kayu Secang (Caesalpinia sappan Linn) dalam Model Minuman Ringan, Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Irmalia, W.R.. 2011. Daya Antibakteri Ekstrak Biji Coklat (Theobroma cacao) Varietas Farastero terhadap Streptococus mutans. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga.

Jawetz, E., J, L, Melnick, dan E, A, Adelberg, 2007, Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan (Review of Medical Microbiology) : Diterjemahkan oleh H.

Tomang, Penerbit EGC, Jakarta.

Jaya, A, M., 2010, Isolasi dan Uji Efektivitas Antibakteri Senyawa Saponin dari Akar Putri Malu (Mimosa pudica), Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Kemenkes, 2006, Pedoman Pengendalian Demam Tifoid, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Khunaifi, M., 2010, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, Skripsi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Kingsbury, J, M., 1964, Poisonous Plants of the United States and Canada.

Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey.

Kristianingsih, 2005, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Triterpenoid dari Akar Tanaman Kedondong Laut (Polyscias fruticosa), Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang.

Kusnaeni, V., 2008, Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Fraksi n-Heksana dari ekstrak kulit batang Angsret (Spathoda campanulata Beauv), Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang.

Lenny, S. 2006. Senyawa Flavonoida, Fenilpropanoida dan Alkaloida, Karya Ilmiah, Departemen Kimia FMIPA Universita Sumatera Utara, Medan.

Liana, I., 2010, Aktivitas Antimikroba Fraksi dari Ekstrak Metanol Daun Senggani (Melastoma candidum D. Don) terhadap Staphylococcus aureus dan Salmonella typhimurium serta Profil Kromatografi Lapis Tipis Fraksi Teraktif, Skripsi, Jurusan Biologi F-MIPA. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Lutfillah, M., 2008, Karakterisasi Senyawa Alkaloid Hasil Isolasi dari Kulit Batang Angsret (Spathoda campanulata Beauv) Serta Uji Aktivitasnya Sebagai Antibakteri secara In Vitro, Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang.

Madigan, M, T., Martinko, J, M., Stahl, D, A., dan Clark, D, P., 2012, Brock : Biology of Microorganism 13thEdition.

Madjid, B., 2003, Mikrobiologi Medik 2, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Mardjono, M., 1995, Farmakologi dan Terapi, Gaya Baru, Jakarta.

Maryani, H., 2003, Tanaman Obat untuk Mengatasi Penyakit pada Usia Lanjut, Agromedia Pustaka, Jakarta.

Noor, M. S. Poeloengan., dkk, 2007, Uji Daya Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Batang Bungur (Largerstoremia speciosa Pers) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara in vitro, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Universitas Pancasila Jakarta.

Olson, J., 2004, Belajar Mudah Farmakologi, Cetakan 1, EGC, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.

Pan, X., Chen, F., Wu, T., Tang, H., dan Zhao, Z. 2009. The Acid, Bile Tolerance and Antimicrobial Property of Lactobacillus acidophilus NIT. J. Food Control. 20

Pelczar, M J., dan Chan, E, C, S., 2005, Dasar-dasar Mikrobiologi Edisi 1, UI Press, Jakarta.

____________, 2007, Dasar-Dasar Mikrobiologi Edisi 2, UI Press, Jakarta.

Praptiwi, Puspa Dewi, dan Mindarti Harapini, Nilai Peroksida Dan Aktivitas Anti Radikal Bebas Diphenyl Picril Hydrazil Hydrate (Dpph) Ekstrak Metanol Knema laurina, Majalah farmasi indonesia, 17(1).

Pratiwi, S,T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta.

Prescott L.M., Harley, J.P., dan Klein, D.A., 2005. Microbiology, Sixth Edition.

McGraw-Hill, New York.

Pudjiaji, A, H., Hegar, B., Handryastuti, S., Idris, N, S., Gandaputra, E, P., dan Harmoniati, E, D., 2009, Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis.

Purnobasuki, H., 2004, Potensi Mangrove sebagai Tanaman Obat. Jurusan Biologi FMIPA Unair, Surabaya.

Rahmadani, S. S., 2013, Uji Daya Hambat Ekstrak Tanaman Komba – Komba (Chromolaena odorata) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus ATCC 25923, Streptococcus sp, Salmonella typhi YCTC, dan Escherechia

coli ATCC 35218. Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo, Kendari.

Robinson, 2005, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, ITB, Bandung.

Ruslin dan Sahidin, I., 2008, Identifikasi dan Determinasi Tanaman Obat Tradisional Masyarakat Sulawesi Tenggara pada Arboretum Prof. Mahmud Hamundu, Majalah Farmasi Indonesia. 19 (2).

Santosa, H., 2008 Ragam dan Khasiat Tanaman Obat. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Setiabudy, R., 2009, Farmakologi dan Terapi, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Sudarmadji, S., Haryono, B., dan Suhardi, 2007, Analisa Bahan Makanan dan Pertanian, Penerbit Liberty, Yogyakarta.

Sumaryanto, A., 2009, Isolasi Karakterisasi Senyawa Alkaloid dari Kulit Batang Tanaman Angsret (Spathoda campanulata Beauv) Serta Uji Aktivitas Biologisnya dengan Metode Uji Brine Shrimp, Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang.

Sundari, D, L., Widowati, dan M, W, Winarno., 1998, Informasi Khasiat, Keamanan dan Fitokimia Tanaman Secang (Caesalpinia sappan L.). Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 4 (3).

Supriyono, 2011, Demam Tifoid, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Susanti, M., Isnaeni, dan Poedjiarti, S., 2009, Validasi Metode Bioautografi untuk Determinasi Kloramfenikol, Jurnal Kedokteran Indonesia, 1 (1).

Tanaka, J.C.A., C.C. da Silva, A.J.B. de Oliveira, C.V. Nakamura dan B.P. Dias Filho, 2006, Antibacterial activity of indole alkaloids from Aspidosperma ramiflorum, Braz J Med Biol Res, 39.

The United States Pharmacopeial Convention, 1999, The United States Pharmacopeia. Ed. 31th, Vol. 2nd, The United States Pharmacopeial Convention, Inc., Philadelphia.

Tjitrosoepomo, G., 2000, Morfologi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wahyono, H., 2010, Resistensi Antibiotik, Pidato pengukuhan guru besar Mikrobiologi FK UNDIP, Semarang.

Wahyuni, A., Hardjono dan P, H, Yamrewav., 2004, Ekstraksi Kurkumin dari Kunyit, Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia.

Wardhani, K, L., dan Nanik, S., 2012, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Daun Binahong (Anredera scandens (L.) Moq.) terhadap Shigella flexneri Beserta Profil Kromatografi Lapis Tipis. Jurnal Ilmiah Kefarmasian 2 (1)

Widoyono, 2011, Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasannya. Edisi II, Erlangga, Jakarta.

Winarti, C., dan Nurdjanah, N., 2005, Peluang Tanaman Rempah dan Obat Sebagai Sumber Pangan Fungsional, Jurnal Litbang Pertanian. 24 (2).

Yodha, Agung W, M., 2012, Isolasi dan Elusidasi Struktur Senyawa Kimia Dari Kulit Batang Mangkokan (Nothopanax Scutellarium Merr) Serta Uji Aktivitasnya Terhadap Bakteri, Fungi Dan Radikal Bebas, Skripsi, Universitas Haluoleo, Kendari.

Lampiran 1. Penyiapan Ekstrak Tanaman a. Pembuatan ekstrak kental

b. Pembuatan larutan ekstrak 10.000 ppm Sampel Tanaman

- Dikumpulkan

- Dibersihkan dengan air mengalir - Dikeringkan

- Dipotong kecil-kecil

- Diblender hingga menjadi serbuk Serbuk tanaman

- Ditimbang 50-100 gram

- Dimasukkan dalam wadah plastik

- Direndam dengan metanol selama 3x24 jam

- Dipisahkan filtrat dan residunya

Filtrat Residu

- Dikumpulkan

- Dipekatkan dengan vacuum rotary evaporatorpada suhu 56oC

- Disimpan pada wadah vial Ekstrak kental

Ekstrak kental

- Ditimbang 0,5 gram

- Dimasukkan dalam labu takar 50 ml

- Dilarutkan dengan metanol hingga tanda tera

- Dimasukkan dalam wadah kaca Larutan ekstrak 10.000 ppm

Lampiran 2. Pembuatan Reagen

a. Pembuatan Dragendrof (alkaloid) noda coklat jingga

1. 0,6 g bismutsubnitrat dalam 2 mL HCl pekat dan 10 mL H2O.

2. 6 g KI dalam 10 mL H2O.

Kedua larutan tersebut dicampur dengan 7 mL HCl pekat dan 15 mL H2O (Harborne, 1987).

b. Pembuatan FeCl31%

1% = x100 %

1% = x100 %

gram = 1

Jadi, untuk membuat larutan FeCl31% diambil sebanyak 1 gram serbuk FeCl3dan dilarutkan dalam labu ukur 100 ml

c. Pembuatan H2SO40,1 M M1x V1 = M2x V2

18 x V1 = 0,1 x 50 V1 = 0,277 ml

Jadi, untuk membuat H2SO4 0,1 M dipipet 0,277 ml H2SO4 18 M dan dilarutkan dalam labu ukur 50 ml.

d. Pembuatan reagen Lieberman-Burchard

5mlasam asetat anhidrat dan 5 mL asam sulfat konsentrate ditambahkan secara hati-hati melalui dindingnya ke dalam 50 mL etanol dalam keadaan dingin (Wagner, 2001).

Lampiran 3. Penapisan Fitokimia a. Alkaloid

b. Flavonoid

c. Tanin

Ekstrak tanaman

- Diditotolkan pada jarak ± 1 cm dari tepi bawah plat KLT

- Dielusi dengan kloroform-metanol (9:1)

- Disemprotkan pereaksi Dragendorff - Diamati perubahan yang terjadi - Positif mengandung alkaloid jika

muncul noda coklat-jingga Hasil

- Diditotolkan pada jarak ± 1 cm dari tepi bawah plat KLT

- Dielusi dengan kloroform-metanol (9:1)

- Diuapi dengan amoniak

- Diamati perubahan yang terjadi - Positif mengandung flavonoid jika

menghasilkan warna kuning-kuning kehijauan

Hasil

Ekstrak tanaman

- Diditotolkan pada jarak ± 1 cm dari tepi bawah plat KLT

- Dielusi dengan kloroform-metanol (9:1)

- Disemprotkan FeCl31%

- Diamati perubahan yang terjadi - Positif mengandung tanin jika

menghasilkan warna lembayung (biru kehitaman)

Hasil Ekstrak tanaman

d. Saponin

e. Triterpenoid

- Diditotolkan pada jarak ± 1 cm dari tepi bawah plat KLT

- Dielusi dengan kloroform-metanol (9:1)

- DitambahkanH2SO4

- Diamati perubahan yang terjadi - Positif mengandung saponin jika

menimbulkan warna ungu-ungu gelap

Hasil Ekstrak tanaman

- Diditotolkan pada jarak ± 1 cm dari tepi bawah plat KLT

- Dielusi dengan kloroform-metanol (9:1)

- Disemprotkan pereaksi Lieberman-burchard

- Diamati perubahan yang terjadi - Positif mengandung saponin jika

menimbulkan warna merah ungu (violet)

Hasil Ekstrak tanaman

Lampiran 4. Pembuatan Standar Kekeruhan McFarland

Standar McFarland berada dalam bentuk skala yang bernomor dari 0,5 sampai 10, yang menjelaskan konsentrasi spesifik dari bakteri per mL.

Jumlah bakteri sesuai dengan skala Mc. Farland (Smile, 2009) Skala

McFarland

Jumlah Bakteri (x 106/mL)

0,5 150

1 300

2 600

3 900

4 1.200

5 1.500

6 1.800

7 2.100

8 2.400

9 2.700

10 3.000

Bahan-bahan yang digunakan dalam standar Mc. Farland antara lain yaitu : Larutan 1 : 1% Barium Klorida encer (1% b/v BaCl2)

Larutan 2 : 1% Asam Sulfat encer (1% b/v H2SO4) Komposisi bahan standar McFarland

Standar McFarland

No. 0,5 0,05 mL BaCl2dalam 9,95 mL H2SO4

No. 1 0,1 mL BaCl2dalam 9,9 mL H2SO4

No. 2 0,2 mL BaCl2dalam 9,8 mL H2SO4

No. 3 0,3 mL BaCl2dalam 9,7 mL H2SO4

No. 4 0,4 mL BaCl2dalam 9,6 mL H2SO4

No. 5 0,5 mL BaCl2dalam 9,5 mL H2SO4

No. 6 0,6 mL BaCl2dalam 9,4 mL H2SO4

No. 7 0,7 mL BaCl2dalam 9,3 mL H2SO4

No. 8 0,8 mL BaCl2dalam 9,2 mL H2SO4

No. 9 0,9 mL BaCl2dalam 9,1 mL H2SO4

No.10 1,0 mL BaCl2dalam 9,0 mL H2SO4

Standar McFarland tersedia di pasaran (Smile, 2009).

Pembuatan Larutan Standar McFarland 0,5

- diambil 9,95 ml - diambil 0,05 ml

BaCl21,175 % H2SO41 %

- Dicampur

- Dikocok dengan vortex Larutan standar McFarland 0,5

- Diukur dengan spektrofotometer pada λ 625 nm

Absorbansi larutan standar

Lampiran 5. Bagan Alir Uji Aktivitas Antibakteri a. Sterilisasi

b. Pembuatan Media

c. Pembuatan Suspensi Mikroba Larutan NaCl Steril

- Ditambahkan kultur mikroba yang akan diujikan sedikit demi sedikit

- Dikocok dengan vortex

- Diukur kekeruhannya dengan spektrofotometer pada λ 625 nm hingga absorbansinya sama dengan absorbansi larutan standar McFarland0,5

Suspensi mikroba

- Ditimbang sebanyak 20 gram

- Dilarutkan sampai 1.000 ml dengan akuades dalam erlenmeyer

- Dipanaskan sampai mendidih

- Dimasukkan dalam autoklaf pada suhu 121oC dan tekanan 15 Psi selama 15 – 20 menit

Media bakteri (NA) Nutrient Agar (NA)

- Dicuci sampai bersih - Dikeringkan

- Dibungkus dengan kertas

- Dimasukkan dalam autoklaf pada suhu 121oC dan tekanan 15 Psi selama 15– 20 menit

Alat dan Bahan Steril Alat dan Bahan

d. Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tanaman

Ekstrak kental

- Dibuat dalam konsentrasi 10.000 ppm - Diteteskan sedikit demi sedikit pada

kertas cakram steril (diameter 6 mm) hingga 20 µl

Kertas cakram yang mengandung 20 µl ekstrak tanaman

- Diletakkan diatas kultur mikroba uji dalam cawan petri

- Diinkubasi selama 18-24 jam

Kultur bakteri yang telah diinkubasi

- diukur zona bening jika ada yang terbentuk di sekitar kertas cakram Diameter zona hambat

Dalam dokumen Fitokimia dan Aktivitas (Halaman 68-83)

Dokumen terkait