4.4 Metode Penelitian
4.4.4 Pengolahan Data
Data yang dihasilkan dari penelitian ini secara umum diolah melalui tahapan pemeriksaan jawaban responden, penentuan kategori jawaban untuk pertanyaan terbuka dan penentuan kode untuk tiap jawaban, serta scoring/penentuan skor terhadap jawaban responden dan tabulasi data. Pengolahan data secara khusus untuk tiap aspek penelitian dijelaskan sebagai berikut:
a. Motivasi guru untuk mengajarkan PLH
Motivasi guru untuk mengajarkan PLH diukur dengan menggunakan skala tipe Likert dengan 5 poin jawaban/respon. Skor yang digunakan untuk pernyataan positif adalah sebagai berikut: selalu benar (skor 5), seringkali benar (skor 4), kadang benar (skor 3), seringkali tidak benar (skor 2), selalu tidak benar (skor 1), sedangkan untuk pernyataan negatif skor yang digunakan adalah kebalikannya, yaitu: selalu benar (skor 1), seringkali benar (skor 2), kadang benar (skor 3),
31 seringkali tidak benar (skor 4), selalu tidak benar (skor 5). Semakin tinggi skor yang didapat responden guru, menunjukkan bahwa motivasi guru untuk mengajar PLH semakin tinggi.
b. Sikap guru terhadap PLH
Sikap guru terhadap PLH dibatasi pada self-efficacy dan outcome expectancy guru dalam pengajaran PLH. Pengukuran dilakukan menggunakan modifikasi dari Environmental Education Efficacy Belief Instrument/EEEBI (Sia 1992; Moseley et al. 2002; Moseley dan Utley 2008) yang terdiri dari dua skala, yaitu skala pertama yang mengukur self-efficacy guru dan skala kedua yang mengukur outcome-expectancy guru dalam pengajaran PLH. Skala tersebut menggunakan skala tipe Likert dengan 5 poin jawaban/respon yang berkisar antara sangat setuju sampai sangat tidak setuju.
Skor yang digunakan untuk tiap pernyataan positif adalah: sangat setuju (skor 5), setuju (skor 4), ragu-ragu (skor 3), tidak setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1), sedangkan untuk tiap pernyataan negatif skornya adalah kebalikannya, yaitu: sangat setuju (skor 1), setuju (skor 2), ragu-ragu (skor 3), tidak setuju (skor 4), sangat tidak setuju (skor 5). Semakin tinggi skor yang didapatkan oleh responden guru menunjukkan bahwa persepsi guru tentang penyelenggaraan PLH semakin positif.
c. Persepsi guru tentang lingkungan
Persepsi guru tentang lingkungan digali dengan menggunakan instrument Draw An-Environment Test (DAET) Moseley dan Desjean-Perrotta 2010). Tulisan definisi lingkungan yang dibuat oleh responden dianalisis dengan mengkodekan jawaban responden berdasarkan konsep lingkungan dalam NAAEE Guidelines (Desjean-Perrotta et al. 2008), sedangkan untuk gambar dilakukan dengan menggunakan DAET Rubric (DAET-R; Moseley dan Desjean-Perrotta 2010).
Pengolahan data untuk definisi lingkungan
Analisis isi dilakukan terhadap definisi lingkungan yang dituliskan oleh responden guru, dengan mengelompokkan jawaban responden guru dalam kategori berdasarkan konsep yang ada dalam NAAEE Guidelines
(Desjean-Perrotta et al. 2008). Kode yang digunakan adalah: 1 = manusia, 2 = organism hidup lainnya/biotik, 3 = lingkungan fisik/abiotik, 4 = lingkungan buatan, dan 5 = interaksi dan saling ketergantungan. Setiap respon tertulis dari guru ditelaah dan diberi kode sesuai dengan konsep yang diuraikan dalam tulisan tersebut, kemudian dicatat jumlah respon yang telah terkodekan untuk setiap kategori konsep.
Pengolahan data untuk gambar lingkungan
Gambar lingkungan dianalisis menggunakan DAET-Rubric (DAET-R). DAET-R dikembangkan berdasarkan deskripsi lingkungan yang digambarkan dalam NAAEE Guidelines for the Preparation and Professional Development of Environmental Educators (2004), yang menguraikan empat faktor pembentuk lingkungan (yaitu manusia, organisme hidup lainnya, lingkungan fisik alamiah dan lingkungan buatan) dan konsep sistem, salingketergantungan dan interaksi antara keempat faktor tersebut.
DAET-R dibagi dalam empat bagian yang menekankan pada derajat keberadaan interaksi antara keempat faktor lingkungan, yaitu faktor tidak ada, faktor ada, faktor berinteraksi dengan faktor lainnya, dua atau lebih faktor berinteraksi dalam suatu pendekatan sistem. Skor persepsi guru didapatkan dengan melihat keberadaan empat faktor lingkungan dan derajat interaksi dari keempat faktor lingkungan tersebut. Skor yang digunakan berkisar antara 0 – 3, dengan penilaian sebagai berikut:
1) Gambar menunjukkan adanya kehadiran suatu faktor: skor 1;
2) Gambar menunjukkan adanya interaksi antara suatu faktor dengan satu atau lebih faktor lainnya: skor 2;
3) Gambar menunjukkan adanya interaksi diantara faktor-faktor lingkungan dengan penekanan pada pendekatan sistem dalam definisi lingkungan: skor 3; 4) Gambar tidak menunjukkan keberadaan suatu faktor tertentu: skor 0.
Skor total yang mungkin didapatkan berkisar antara 0 – 12. Semakin tinggi skor yang didapatkan menunjukkan bahwa pemahaman responden terhadap interaksi antara keempat faktor lingkungan seperti yang diuraikan dalam NAAEE Guidelines (2004) semakin tinggi.
33 4.4.5 Analisis Data
a. Statistik Deskriptif
Data secara umum dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif, yaitu metode yang membantu untuk mengorganisasikan, merangkum dan menyederhanakan data yang dihasilkan dari penelitian (Gravetter dan Forzano 2006). Perhitungan dilakukan untuk mendapatkan rata-rata dan persentase guru, yang kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel ataupun grafik, sehingga dapat digunakan untuk menunjukkan pola yang dapat teramati dari jawaban responden guru.
Statistik deskriptif juga digunakan dalam analisis terhadap tulisan definisi lingkungan dan gambar lingkungan yang dibuat oleh guru. Statistik deskriptif digunakan untuk mendapatkan persentase guru yang menuliskan dan/atau menggambarkan masing-masing komponen dan konsep lingkungan (persentase guru yang menulis dan/atau menggambar manusia, biotik, abiotik, lingkungan buatan, interaksi dan saling ketergantungan), serta persentase guru berdasarkan jumlah komponen lingkungan yang dituliskan dan/atau digambarkan (persentase guru yang menuliskan dan/atau menggambarkan satu, dua, tiga, dan empat komponen lingkungan).
b. Analisis Faktor
Analisis faktor dilakukan untuk meringkas informasi yang ada dalam variabel asli (awal) menjadi satu set dimensi baru atau variate (faktor) dengan cara menentukan struktur lewat data summarization atau lewat data
reduction/pengurangan data (Ghozali 2005). Analisis faktor dilakukan terhadap skor dari 6 subskala motivasi dan 2 subskala sikap untuk mendapatkan faktor yang dapat menggambarkan persepsi guru tentang penyelenggaraan PLH.
Faktor yang didapatkan dari hasil analisis tersebut kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan Spearman correlation, uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney, untuk mengetahui hubungan dan/atau perbedaan berbagai variabel yang diukur (seperti sekolah, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman, dsb.) dengan faktor persepsi tersebut.
c. Spearman Correlation
Analisis statistik dengan menggunakan Spearman correlation digunakan untuk menentukan arah dan derajat hubungan/asosiasi antara berbagai variabel/peubah dari faktor individu, obyek/sasaran dan situasi dengan persepsi guru tentang penyelenggaraan PLH. Hasil analisis korelasi dengan Spearman
correlation menunjukkan peubah apa saja yang mempengaruhi persepsi guru dalam penerapan PLH di sekolah (persepsi guru tentang lingkungan dan persepsi guru tentang penyelenggaraan PLH).
Analisis korelasi dengan Spearman correlation dilakukan terhadap peubah usia, pendidikan, masa kerja, lama mengajar dan persepsi lingkungan dengan faktor persepsi yang dihasilkan dari analisis faktor. Hubungan/asosiasi antara persepsi guru tentang lingkungan dengan persepsi guru tentang penyelenggaraan PLH juga dianalisis.
d. Uji Kruskal-Wallis
Uji Kruskal-Wallis digunakan untuk membandingkan tiga atau lebih kelompok data contoh. Uji ini dilakukan terhadap peubah sekolah (tempat mengajar), tingkat kelas yang diasuh saat ini, tingkat kelas yang pernah diasuh, mata ajaran khusus yang saat ini diasuh, mata ajaran khusus yang pernah diasuh, tugas lainnya, PLH formal yang pernah diikuti, PLH non formal yang pernah diikuti, pengalaman organisasi yang kegiatannya fokus pada alam, serta pengalaman interaksi dengan alam dan waktu mendapatkan pengalaman tersebut. e. Uji Mann-Whitney
Uji Mann-Whitney dilakukan untuk membandingkan dua kelompok data contoh. Uji ini dilakukan terhadap peubah pengalaman mengajar PLH dan jenis kelamin yang hanya terdiri dari dua kategori, yaitu pernah dan tidak pernah serta laki-laki dan perempuan. Uji ini memungkinkan untuk mengetahui apakah guru yang pernah mengajar PLH memiliki persepsi yang sama atau berbeda dengan guru yang tidak pernah mengajar PLH sebelumnya, dan apakah guru perempuan berbeda dengan guru laki-laki.
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
Guru sebagai salah satu faktor kunci dalam penerapan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah membawa dua persepsi dalam mengajarkan PLH kepada para siswanya, yaitu persepsi tentang lingkungan dan persepsi tentang penyelenggaraan PLH. Penelitian ini mengukur kedua persepsi tersebut dan berbagai faktor yang diperkirakan mempengaruhi persepsi, seperti faktor individu guru (umur, jenis kelamin, pendidikan formal dan non formal, serta pengalaman dan harapan) yang mempengaruhi persepsi guru tentang lingkungan dan penyelenggaraan PLH, serta program pengajaran PLH di sekolah sebagai faktor obyek/sasaran dan kondisi sekolah sebagai faktor situasi yang mempengaruhi persepsi guru tentang penyelenggaraan PLH.
5.1 Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Guru
Persepsi individu dipengaruhi oleh faktor individu, faktor obyek/sasaran, dan faktor situasi (Robbins 2003). Faktor individu guru berkaitan dengan karakteristik pribadi guru, pendidikan dan pengalaman guru yang diuraikan sebagai karakteristik guru.
Faktor obyek/sasaran dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan penerapan PLH, yaitu kebijakan PLH dan keberadaan kurikulum PLH di sekolah, sedangkan faktor situasi dibatasi pada kondisi lingkungan sekolah dan sekitarnya yang meliputi lingkungan fisik (ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan, seperti bangunan, lahan sekolah, buku sumber/buku ajar, dan alat bantu/media pengajaran), lingkungan biologis (peluang penggunaan sumberdaya biologis yang terdapat di sekolah dan sekitarnya sebagai sumber dan media pembelajaran) dan lingkungan sosial (dukungan kepala sekolah dan sesama rekan guru). Faktor obyek/sasaran dan situasi selanjutnya dirangkum dalam satu kategori peubah, yaitu sekolah, untuk keperluan analisis statistik lebih lanjut. 5.1.1 Karakteristik Guru sebagai Faktor Individu yang Mempengaruhi
Persepsi
Data yang dikumpulkan berkaitan dengan faktor individu guru adalah usia/umur, jenis kelamin, pendidikan formal terakhir, pengalaman mengajar,
pengalaman berorganisasi yang kegiatannya fokus pada alam, pendidikan PLH formal/nonformal yang pernah didapatkan, dan pengalaman guru berinteraksi dengan alam. Total jumlah guru yang menjadi responden dari keempat sekolah contoh sebesar 31 orang guru.
a. Karakteristik demografis guru
Berdasarkan usia, 51,61% guru pada sekolah contoh berusia ≤ 30 tahun dan 9,68% berusia ≥ 51 tahun, sisanya berusia antara 31 – 50 tahun. Persentase guru perempuan lebih besar daripada guru laki-laki, yaitu 54,84% guru perempuan, dan 45,16% guru laki-laki. Sebagian besar guru sekolah contoh memiliki pendidikan SMA (51,61%). Adapula guru yang berpendidikan diploma sebanyak 16,13% dan sarjana (S1) sebanyak 32,27% guru.
Tabel 2 Persentase guru berdasarkan usia, jenis kelamin, dan pendidikan
Sekolah Usia Jenis Kelamin Pendidikan
≤ 30 31 - 50 ≥ 51 L P SMA Dipl. S1 S2 SDN Gunung Sari 01 6,45 12,90 3,23 9,68 12,90 9,68 3,23 9,68 0,00 SDN Gunung Bunder 03 19,35 3,23 3,23 6,45 19,35 16,13 6,45 3,23 0,00 SDN Gunung Bunder 04 9,68 16,13 3,23 12,90 16,13 19,35 0,00 9,68 0,00 SDN Gunung Picung 06 16,13 6,45 0,00 16,13 6,45 6,45 6,45 9,68 0,00 Total 51,61 38,71 9,68 45,16 54,84 51,61 16,13 32,27 0,00 b. Pengalaman mengajar
Pengalaman mengajar guru merupakan faktor kontekstual individu guru. Pengalaman mengajar guru dilihat berdasarkan lama mengajar, kelas yang saat ini diasuh, kelas yang pernah diasuh, mata ajaran yang saat ini diasuh, mata ajaran yang pernah diasuh, dan pengalaman mengajar PLH (Tabel 3). Guru dari sekolah
contoh sebagian besar (70,97%) memiliki pengalaman mengajar selama ≤ 10
tahun. Satu orang guru (3,23%) belum memiliki pengalaman mengajar pada kelas lainnya sebelumnya karena baru mengajar selama 1 tahun di sekolah tempatnya mengajar. Sebesar 54,84 % guru tidak mengasuh mata ajaran khusus karena bertugas sebagai guru kelas yang mengasuh hampir semua mata ajaran pada tingkat kelas yang diasuhnya. Namun demikian ada guru yang bertugas mengasuh mata ajaran khusus/tertentu, baik untuk semua tingkat maupun untuk tingkat kelas tertentu, seperti mata ajaran agama, matematika, bahasa Inggris, PJOK (olahraga) dan SBK (Seni Budaya dan Keterampilan).
37 Tabel 3 Pengalaman mengajar yang dimiliki guru pada sekolah contoh
Jenis Pengalaman Jumlah %
Lama mengajar
<=10 tahun 22 70,97
11 - 20 tahun 4 12,90
21 -30 tahun 4 12,90
> 30 tahun 1 3,23
Saat ini mengajar pada kelas
Kelas rendah (1 – 3 SD) 13 41,94
Kelas tinggi (4 – 6 SD) 15 48,39
Kelas rendah dan tinggi 3 9,68
Sebelumnya pernah mengajar kelas
Kelas rendah (1 – 3 SD) 10 32,26
Kelas tinggi (4 – 6 SD) 9 29,03
Kelas rendah dan tinggi 11 35,48
belum ada pengalaman 1 3,23
Mata ajaran yang saat ini diasuh
Tidak ada m.a. khusus 17 54,84
Agama 5 16,13
Olahraga 3 9,68
Bahasa Inggris 2 6,45
Lainnya 2 6,45
Agama dan Bahasa Inggris 1 3,23
Olahraga dan Lainnya 1 3,23
Mata ajaran yang pernah di asuh
Tidak ada m.a. khusus 17 54,84
Agama 3 9,68
Olahraga 3 9,68
Bahasa Inggris 3 9,68
Lainnya 3 9,68
Agama dan Bahasa Inggris 1 3,23
Agama dan Lainnya 1 3,23
Pengalaman mengajar PLH
Tidak Pernah (1) 4 12,90
Sebagian besar (87,10%) guru menyatakan pernah mengajar PLH (Tabel 3). Pengalaman mengajar PLH tersebut berupa pengalaman mengajarkan materi-materi mengenai lingkungan hidup yang terintegrasi dalam mata ajaran yang diasuh oleh guru tersebut, maupun pemberian materi mengenai lingkungan hidup yang dilaksanakan dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Namun demikian ada 4 orang guru (12,90%) yang menyatakan tidak memiliki pengalaman mengajar PLH. Guru yang menyatakan tidak pernah mengajar PLH tersebut satu orang bertugas khusus mengasuh mata ajaran matematika untuk kelas 4 di SDN Gunung Sari 01, sedangkan 3 guru lainnya adalah guru agama, guru kelas 1 dan guru kelas 3 dari SDN Gunung Bunder 03.
Mata ajaran Matematika memang sangat kurang relevansinya dengan PLH sehingga sulit dijadikan wadah integrasi materi-materi PLH. Selain itu daya serap siswa terhadap mata ajaran matematika biasanya tidak terlalu tinggi. Padahal pertimbangan dalam memilih mata ajaran untuk dijadikan wadah integrasi materi-materi PLH adalah relevansi mata ajaran tersebut dengan PLH dan daya serap siswa terhadap mata ajaran tersebut tinggi, sehingga mempermudah guru mengintegrasikan materi PLH ke dalam suatu mata ajaran.
Materi PLH pada dasarnya dapat diintegrasikan ke dalam mata ajaran apapun, termasuk Matematika. Guru perlu memiliki penguasaan materi-materi PLH dan kreativitas untuk dapat mengintegrasikan materi PLH ke dalam mata ajaran inti yang diasuhnya. Relevansi mata ajaran dengan materi PLH, daya serap siswa, dan kompetensi guru diduga menjadi penyebab guru matematika tersebut tidak mengintegrasikan materi PLH ke dalam pengajarannya, sehingga menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki pengalaman mengajar PLH.
Berkaitan dengan guru dari SDN Gunung Bunder 03, Kepala sekolah SDN Gunung Bunder 03 dalam wawancara menyatakan bahwa pelaksanaan PLH di sekolah tersebut memang belum intensif karena keterbatasan kondisi sekolah. Kepala sekolah baru sebatas memberikan himbauan kepada para guru agar menyisipkan materi-materi PLH ke dalam mata ajaran yang ada, namun belum ada dorongan yang lebih kuat agar guru memperkaya pengajarannya dengan materi-materi PLH lain. Sekolah ini juga belum pernah mendapatkan intervensi/kegiatan PLH (Environmental Education intervention) dari lembaga
39 manapun sehingga guru-gurunya belum memiliki pemahaman maupun kemampuan mengenai PLH. Selain itu, materi-materi terkait PLH pada tingkat kelas 1 dan 3 terbatas pada topik mengenai kebersihan diri, lingkungan rumah dan sekolah, yang sudah termuat dalam silabus tematik kurikulum tingkat kelas tersebut. Hal-hal tersebut diduga menjadi penyebab guru kelas 1 dan 3 pada SDN Gunung Bunder 03 tersebut merasa belum memiliki pengalaman mengajar PLH.
Penyebab lain yang membuat guru agama dari SDN Gunung Bunder 03 merasa belum memiliki pengalaman mengajar PLH berkaitan dengan kurikulum mata ajaran agama. Mayoritas siswa di sekolah beragama Islam, sehingga pengajaran yang diberikan adalah Agama Islam. Kurikulum pendidikan Agama Islam di sekolah dasar lebih menekankan pada pengetahuan-pengetahuan keagamaan dan ibadah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Bahasan mengenai hubungan manusia dengan alam/lingkungan memang ada namun belum menjadi fokus pengajaran dalam mata ajaran Agama Islam. Marten (2001) menyatakan bahwa Islam lebih mementingkan kehidupan setelah kematian serta hubungan manusia dengan Tuhannya dibandingkan dunia materil dan kehidupan manusia di bumi yang hanya sementara saja. Hal tersebut juga menjadi salah satu sebab guru agama di SDN Gunung Bunder 03 merasa tidak memiliki pengalaman mengajar PLH.
c. Pendidikan dan pelatihan berkaitan dengan PLH
Pelaksanaan PLH oleh guru di sekolah akan dapat lebih efektif jika guru memiliki bekal kemampuan untuk mengajarkan PLH. Guru bisa mendapatkan bekal kemampuan tersebut melalui PLH formal maupun nonformal. Guru dari sekolah-sekolah contoh sebagian besar (67,74%) belum pernah mendapatkan PLH melalui jalur pendidikan formal sebelumnya, sebaliknya PLH non formal sudah didapatkan oleh 58,06% guru melalui berbagai kegiatan (Tabel 4). Kegiatan-kegiatan PLH non formal yang pernah diikuti sebagian guru dari sekolah contoh adalah seminar PLH, pelatihan PLH, kegiatan tafakur alam saat masih SMA,
Search and Rescue (SAR) Sayaga Tagana dan Karang Taruna, Pecinta Alam, kegiatan penanaman dan permainan alam dari pihak luar sekolah, serta kegiatan terkait program WSLIC (Water Sanitation for Low Income Community) dari Bank Dunia.
Tabel 4 PLH formal dan non formal yang pernah didapat guru Jenis PLH Jumlah % PLH formal Tidak ada 21 67,74 PLH formal di SD/sederajat 6 19,35 PLH formal di SMP/sederajat 2 6,45 PLH formal di SMA/sederajat 0 0,00 PLH formal di Perguruan Tinggi 2 6,45
PLH non Formal
Tidak ada 13 41,94
Seminar PLH 3 9,68
Lokakarya/Workshop PLH 0 0,00
Pelatihan PLH 2 6,45
Seminar dan Lainnya 4 12,90 Lokakarya dan Lainnya 3 9,68
Lainnya 6 19,35
d. Pengalaman organisasi yang kegiatannya fokus pada alam
Pengalaman guru mengikuti organisasi yang kegiatannya berfokus pada alam, seperti misalnya Saka Wana Bakti (organisasi Pramuka yang kegiatannya fokus pada kehutanan) dan organisasi pecinta alam, juga dapat memberikan bekal kemampuan untuk mengajarkan PLH kepada guru. Keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan organisasi tersebut dapat menumbuhkan persepsi positif terhadap lingkungan yang dapat ditransfer oleh guru kepada siswanya. Pengalaman organisasi seperti itupun dapat menumbuhkan minat dan kesenangan guru terhadap PLH.
Tabel 5 Pengalaman guru dalam organisasi yang kegiatannya berfokus pada alam
Pengalaman Organisasi Jumlah %
Tidak pernah 21 67,74
Saka Wana Bakti dan Pecinta Alam 1 3,23
Saka Wana Bakti, Pecinta Alam dan Lainnya 1 3,23
Pramuka 6 19,25
SAR 1 3,23
41 Sebagian besar guru dari sekolah contoh (67,74%) tidak memiliki pengalaman dalam organisasi yang kegiatannya fokus pada alam, sedangkan sisanya menyatakan pernah mengikuti organisasi yang kegiatannya fokus pada alam. Organisasi yang pernah diikuti oleh guru yaitu Saka Wana Bakti, Pecinta Alam, Pramuka, dan SAR (Tabel 5).
e. Pengalaman berinteraksi dengan alam
Seorang tenaga pendidik lingkungan harus memiliki kemampuan untuk mempelajari dan mengevaluasi permasalahan lingkungan serta peran serta dalam pemecahan masalah lingkungan tersebut (NAAEE 2004). Kemampuan tersebut dapat diasah dengan melakukan interaksi dengan alam/lingkungan. Pengalaman guru berinteraksi dengan alam dapat menumbuhkan kepekaan guru terhadap alam/lingkungan dan permasalahan terkait.
Tabel 6 Pengalaman guru berinteraksi dengan alam
Interaksi dengan Alam Jumlah %
Jenis Pengalaman
pengalaman positif 23 74,19
pengalaman negatif 2 6,45
pengalaman positif dan negatif 2 6,45
Tidak memberi jawaban 2 6,45
Jawaban tidak jelas 2 6,45
Waktu Mendapatkan Pengalaman
2005 – 2010 13 41,94
< 2005 3 9,68
Jawaban tidak jelas 9 29,03
Tidak memberi jawaban 6 19,35
Pengalaman positif saat berinteraksi dengan alam dinyatakan oleh 74,19% guru, sedangkan masing-masing 6,45% guru menyatakan memiliki pengalaman negatif, positif dan negatif, tidak memberikan jawaban, dan jawaban tidak jelas/tidak dapat ditentukan positif atau negatifnya. Sebesar 41,94% guru mendapatkan pengalaman pada kurun waktu 2005 – 2010 dan 9,68% mendapatkan pengalaman interaksi dengan alam pada kurun waktu sebelum 2005.
f. Harapan guru
Pelaksanaan PLH di sekolah menumbuhkan berbagai harapan pada diri guru. Harapan guru berkaitan dengan kapasitas guru untuk mengajar PLH kepada siswanya di sekolah, sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar PLH di sekolah, dan harapan terhadap pelaksanaan PLH secara umum di sekolah. Tabel 7 Harapan guru berkaitan dengan kapasitas guru, sarana prasarana dan
pelaksanaan PLH di sekolah
Harapan Guru Jumlah %
Berkaitan dengan Kapasitas Guru
Ada upaya peningkatan kapasitas guru 13 41,94 PLH dapat meningkatkan kapasitas siswa 10 32,26
Tidak memberi jawaban 4 12,90
Lainnya 4 12,90
Berkaitan dengan Sarana Prasarana
Ketersediaan buku ajar dan alat bantu pengajaran 3 9,68 Ketersediaan media belajar/alat bantu pengajaran 2 6,45
Ketersediaan lahan yang luas 1 3,23
Peningkatan sarana prasarana 10 32,26
Ketersediaan kurikulum, buku penunjang dan media/alat bantu pengajaran
2 6,45
Tidak memberi jawaban 4 12,90
Lainnya 9 29,03
Berkaitan dengan Pelaksanaan PLH
PLH dapat meningkatkan kapasitas guru, siswa 12 38,71 PLH membantu menciptakan lingkungan bersih, indah,
nyaman
3 9,68
Adanya peningkatan pelaksanaan PLH di sekolah 4 12,90
Ada keterlibatan pihak terkait 2 6,45
Tidak memberikan jawaban 4 12,90
Lainnya 6 19,35
Sebanyak 41,94% guru mengharapkan adanya upaya peningkatan kapasitas guru melalui berbagai kegiatan. Selain itu 32,26% guru juga mengharapkan adanya peningkatan sarana prasarana untuk mendukung kegiatan belajar mengajar
43 PLH di sekolah, tanpa menyebutkan secara spesifik sarana dan prasarana yang dimaksud. Ketersediaan buku ajar dan alat bantu pengajaran diharapkan oleh 9,68% guru, ketersediaan media belajar/alat bantu pengajaran dan ketersediaan kurikulum, buku penunjang dan media/alat bantu pengajaran masing-masing diharapkan oleh 6,45% guru (Tabel 7).
PLH diharapkan dapat meningkatkan kapasitas guru dan siswa (38,71%), membantu menciptakan lingkungan yang bersih, indah dan nyaman (9,68%). Guru juga berharap ada peningkatan pelaksanaan PLH tanpa menyebutkan secara rinci peningkatan yang diharapkannya (12,90%). Keterlibatan pihak terkait dalam pelaksanaan PLH di sekolah nampaknya dirasa masih kurang, sehingga ada 6,45% guru yang mengharapkan adanya keterlibatan pihak terkait, seperti perguruan tinggi dan instansi terkait lainnya.
Sekolah-sekolah contoh letaknya berdekatan dengan kawasan hutan yang juga menjadi kawasan wisata alam, namun sekolah-sekolah tersebut belum mendapatkan dukungan yang intensif dalam pelaksanaan dan pengembangan PLH sekolah dari pihak pengelola hutan, baik Perum Perhutani, maupun Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor sebagai instansi yang bertanggung jawab terhadap perkembangan sekolah juga masih lebih fokus pada pengembangan mata ajaran inti, sehingga belum menyentuh PLH.
PLH adalah wadah dan sarana untuk membentuk generasi penerus yang memiliki kemampuan untuk mengelola lingkungan dengan baik. Khusus untuk sekolah di sekitar hutan, PLH dapat menjadi wadah untuk membentuk generasi penerus yang memiliki kemampuan dan motivasi untuk melakukan kegiatan konservasi hutan. Para pengelola hutan dan institusi terkait seharusnya mendukung sekolah sekitar hutan secara intensif dalam pengembangan dan penyelenggaraan PLH agar sekolah dapat mengoptimalkan perannya dalam menghasilkan SDM yang berkualitas.
5.1.2 Faktor Obyek/Sasaran yang Mempengaruhi Persepsi guru tentang Penyelenggaraan PLH
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) sebagai obyek/sasaran persepsi guru merupakan hal dan istilah yang relatif baru bagi sebagian besar guru pada sekolah
dasar contoh, meskipun pada dasarnya materi-materi mengenai lingkungan sudah sejak lama diajarkan kepada siswa di sekolah dasar. PLH sebagai suatu program