IV SUITABILITY HABITAT OF WATERBIRDS
5. Pengolahan Data Spasial
Semua data hasil ground cek lapangan diolah dengan metode interpolasi IDW (Inverse Distance weighted). Faktor-faktor penyusun model yang berpengaruh terhadap model kesesuaian habitat burung disajikan pada Tabel 24.
Geokoreksi citra Google Maps
Peta yang berpeluang sebagai tempat mencari makan
Analisis spasial dan statistik
Skor = a fk1 + b fk2 + c fk3 + d fk4 + e FK5 + f fk6
Ya
Validasi
Cek lapangan (ground check) Burung air dan makanan, Faktor fisik&kimia air Interpretasi citra dan identifikasi Google Maps
Peta rupa bumi
Citra Google Maps Peta tutupan lahan
Peta kesesuaian habitat burung air
Tidak Interpolasi
Regresi berganda stepwise dilakukan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap model. Penentuan skoring pada masing-masing faktor penyusun model dilakukan berdasarkan metode rangking dengan melihat pengaruh masing-masing faktor terhadap burung air, sesuai dengan kebutuhan burung dalam memilih lokasi makan.
Urutan skoring dilakukan berdasarkan pertimbangan pada kebutuhannya, makin baik kriteria yang digunakan maka makin tinggi nilai skoring yang diberikan. Pengolahan peringkat dan bobot dilakukan pada masing-masing faktor. Pemberian peringkat dan bobot didasarkan atas nilai kepentingan atau kesesuaian bagi habitat burung air (Tabel 25 dan 26). Pembobotan menggunakan metode proporsi/skala (rating method) dengan cara memberikan langsung bobot secara eksplisit pada masing-masing faktor dengan mengalokasikan sejumlah nilai yang jika dijumlahkan akan menjadi 100 atau 1,0 (Jaya 2007). Alur pengolahan data sparsial dari lapangan disingkat pada Gambar 30.
0 < Wij< 100; ∑Wij = 100 untuk semua faktor
Pemodelan spasial kesesuaian habitat yang dibuat masuk kedalam kategori coicidence modeling dengan melakukan overlay poligo (AGI 2010). Metode ini dilakukan dengan menggunakan bobot terhadap peubah yang telah di skoring sehingga skor total merupakan kombinasi yang linier (Jaya 2007).
atau Dimana C = skor komposit untuk suatu unit spasial tertentu dan n = jumlah peubah (variabel), Wi = bobot ke-i dan Xi = peubah atau variabel ke-i
Indeks kesesuaian habitat memiliki nilai 0 – 1, untuk mendapat nilai yang sesuai dengan nilai kesesuaian habitat nilai total hasil perkalian antara skor dan bobot dari faktor penyusun model dilakukan normalisasi.
Gambar 30 Pengolahan data sparsial menggunakan ArcGis 9.3.
Tabel 24 Faktor penyusun model kesesuian habitat burung merandai dan burung pantai
No Parameter Argumen
1. Tipe lahan basah Lahan basah yang digunakan untuk lokasi makan burung merandai dan burung pantai
2. Makanan Burung merandai dan burung pantai memakan berbagai jenis makanan diantara; makrozoobentos dan ikan
3. Ketinggian air Dalam melakukan aktivitas makan burung merandai dan burung pantai sangat dipengaruh oleh Ketinggian air.
4. Ketebalan substrat Keberhasilan memperoleh makanan burung pantai dipengaruhi oleh ketebalan substrat/sedimen
5. Gangguan/aktivitas manusia
Burung merandai dan burung pantai memiliki reaksi berbeda terhadap kehadiran manusia
6. Salinitas Salinitas mempengaruh makrozoobentos dan perilaku burung air dalam mencari makan
7. pH Kehadiran makrozoobentos, perilaku dan fisiologi burung air dalam mencari makan dipengaruhi oleh pH (bisa berpengaruh langsung ataupun tidak langsung dari makrozoobentos)
8. DO Kelimpahan makrozoobentos dipengaruhi oleh DO dan secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku dan fisiologi burung air dalam memperoleh makanan dipengaruhi DO
9. BOD Kelimpahan makrozoobentos dipengaruhi oleh BOD dan secara tidak langsung akan mempengaruhi Perilaku dan fisiologi burung air dalam memperoleh makanan
Tabel 25 Skoring dan bobot faktor penyusun model kesesuaian habitat burung merandai
No. Parameter Tingkatan Skala Skor Bobot 1. Tipe lahan basah Mudflat/hutan rawa Sawah/rawa belukar Tambak 3 2 1 15 2. Makanan Mudflat Sawah Tambak 4 klas 3 klas 2 klas 3 2 1 20 3. Ketinggian air Sangat rendah
Rendah Sedang Tinggi < 40 cm 40 – 70 cm 70 – 90 cm > 90 cm 4 3 2 1 15 4. Aktivitas manusia Rendah Sedang Tinggi 1 kegiatan 2 kegiatan > 3 kegiatan 3 2 1 20 5. Salinitas <20 20-25 25-34 >34 2 4 3 1 10 6. pH <6 6-6.5 6.5-7 >7 2 4 3 1 10 7. DO <3 3-4 4-5 >5 2 4 3 1 5 8. BOD <1 1-2 2-4 >4 2 4 3 1 5
Tabel 26 Skoring dan bobot faktor penyusun model kesesuaian habitat burung pantai
No. Parameter Tingkatan Skala Skor Bobot
1. Tipe lahan basah Mudflat/hutan rawa Sawah/rawa belukar Tambak Sungai 4 3 2 1 15 2. Makanan Mudflat Sawah Tambak 4 klas 3 klas 2 klas 1 klas 4 3 2 1 20
3. Ketinggian air Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi < 40 cm 40 – 70 cm 70 – 90 cm > 90 cm 4 3 2 1 10 4. Aktivitas manusia Rendah Sedang Tinggi 1 kegiatan 2 kegiatan > 3 kegiatan 3 2 1 20 5. Sedimen <40 cm 40-60 cm >60 cm 3 2 1 5 6. Salinitas <20 20-25 25-34 >34 2 4 3 1 10 7. pH <6 6-7 >7 2 3 1 10 8. DO <3 3-4 4-5 >5 2 4 3 1 5 9. BOD <1 1-2 2-4 >4 2 4 3 1 5
Analisis Data
Analisis data dilakukan melalui analisis spasial dan analisis statistika dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi, berdasarkan metode tumpang tindih (overlay), pengkelasan (class), pembobotan (weighting) dan pengharkatan (scoring). Model matematika adalah:
a. Nilai Skor klasifikasi kesesuian habitat burung
W1 xFk1 SKOR
W1 = bobot untuk setiap parameter Fk1 = faktor kelas dalam parameter
Skor = nilai dalam penetapan klasifikasi kesesuaian habitat b.Nilai selang skor klasifikasi kesesuaian habitat burung
K S Smaks
SELANG min
Smaks = nilai skor tertinggi Smin = nilai skor terendah
K = banyaknya klasifikasi kesesuian habitat
Selang = nilai dalam penetapan selang klasifikasi kesesuaian habitat c. Nilai indeks kesesuaian habitat burung air
Selang IKHn IKHN atau dan Selang S IKHn min / 1
Smin = nilai skor terendah
Selang = nilai dalam penetapan selang klasifikasi kesesuaian habitat IKHn-1 = Nilai indeks kesesuaian habitat sebelumnya
IKHn = Nilai indeks kesesuaian habitat ke n
d. Nilai validitas klasifikasi kesesuaian habitat burung air
% 100 X N n VALIDASI
n = jumlah titik pertemuan dengan burung air pada satu klasifikasi kesesuaian
N = jumlah total titik pertemuan dengan burung air hasil survey Kriteria kesesuaian habitat (Majka et al. 2007)
100 = kesesuaian tinggi/sangat sesuai
80 = kesesuaian sedang/sesuai
HASIL
Ada delapan komponen habitat yang digunakan untuk membangun model kesesuaian habitat burung air di lokasi penelitian:
Tipe Tutupan Lahan
Tutupan lahan di area penelitian dapat dibagi menjadi 10 yaitu: lumpur, belukar rawa, hutan rawa sekunder, pemukiman, perkebunan, pertanian lahan kering, sawah, semak belukar, tambak dan tubuh air, hamparan lumpur memiliki luas 2.652 km2, tambak 28.624 km2 dan sawah 19.194 km2 (Gambar 31, Tabel 27).
Burung air sangat tergantung pada lahan basah untuk mencari makan meliputi: belukar rawa, hutan belukar, hamparan lumpur, sawah dan tambak. Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa burung air lebih memilih hamparan lumpur yang terbentuk saat air laut surut di sepanjang garis pantai dibandingkan sawah dan tambak. Luas area mencari makan bagi burung air sangat mempengaruhi jumlah burung air. Total luas area lahan basah yang diperkirakan menjadi lokasi mencari makan burung air mencapai 60%.
Tabel 27 Luas tutupan lahan di lokasi penelitian
No Tutupan lahan Luas (km2)
1. Belukar rawa 7.852
2. Hutan rawa sekunder 0.476
3. Lumpur 2.652
4. Pemukiman 4.284
5. Perkebunan 1.742
6. Pertanian lahan kering 27.654
7. Sawah 19.194
8. Semak belukar 5.643
9. Tambak 28.624
Gambar 31 Tutupan lahan di lokasi penelitian. Makanan
Makanan merupakan faktor yang paling menentukan kehadiran burung air. Berdasarkan jumlah individu dan jumlah spesies burung air yang ditemukan dilokasi penelitian secara garis besar dapat dibagi menjadi burung merandai dan burung pantai. Jenis makanan yang ditemukan terdiri dari makrozoobentos (bivalvia, gastropoda, crustacea dan polychaeta) dan ikan. Hamparan lumpur memiliki jenis makrozoobentos lebih beragam, sebanyak empat klas (bivalvia, gastropoda, crustacea dan polychaeta), dibandingkan dengan sawah dan tambak yang hanya memiliki dua klas (gastropoda dan polychaeta). Masing-masing hamparan lumpur memiliki jumlah jenis makrozoobentos yang berbeda. Sebaran makrozoobentos di lokasi penelitian disajikan pada Gambar 32.
Gambar 32 Sebaran makanan di lokasi penelitian. Ketinggian Air
Keberhasilan memperoleh makanan bagi burung air sangat ditentukan oleh ketinggian air. Ketinggian air sangat dipengaruhi oleh siklus pasang surut air laut. Perbedaan siklus pasang surut air laut dan ketinggian air akan berpengaruh terhadap ketersediaan hamparan lumpur sebagai tempat untuk mencari makan (feeding ground) burung air. Pada saat pasang tinggi ketinggian air dapat mencapai 200 cm, sedangkan pada saat pasang rendah umumnya ketinggian air berkisar di 80-100 cm. Pada saat pasang mati, ketinggian air berkisar 50-80 cm. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan dan interpolasi terhadap ketinggian air, ada 13 kategori ketinggian air (Gambar 33). Ketinggian air terendah yang diukur adalah dibawah 10 cm dan tertinggi 110 cm.
Burung merandai dapat mencari makanan (ikan) di sekitar perairan dengan ketinggian air antara 0 sampai 40 cm sedangkan bagi burung pantai ketersediaan lokasi makan sangat dipengaruhi oleh lamanya waktu pasang surut. Waktu pasang
surut yang terjadi di lokasi penelitian mengalami fluktuasi. Umumnya lama waktu surut berkisar 2 sampai 4 jam.
Gambar 33 Sebaran ketinggian air di lokasi penelitian. Kedalaman Sedimen
Ketebalan sedimen sangat menentukan kehadiran makanan burung air. Makrozoobentos pada lokasi penelitian ditemukan pada kedalaman 0 sampai 40 cm. Keberhasilan burung air, khususnya burung pantai, dalam memperoleh makanan sangat dipengaruhi oleh ketebalan sedimen dan tekstur sedimen.
Burung pantai memiliki ukuran paruh yang bervariasi, ada yang panjang dan pendek. Burung yang memiliki paruh panjang dapat memperoleh makanan sampai kedalaman 40 cm, sedangkan burung dengan paruh yang pendek hanya mencari makan pada permukaan sedimen sampai kedalaman kurang lebih 10 cm. Burung merandai yang memiliki paruh yang tebal hanya memperoleh makanan dari permukaan sedimen. Distribusi sebaran kedalaman sedimen hasil pengukuran di lapangan dan hasil interpolasi dibagi menjadi 16 kategori yang terendah lebih kecil dari 10 cm dan tertinggi besar dari 130 cm (Gambar 34).
Gambar 34 Kedalaman sedimen di lokasi penelitian. Gangguan (Aktivitas Manusia)
Gangguan yang terjadi di lokasi penelitian akan sangat mempengaruhi keberhasilan burung air dalam memperoleh makanan. Gangguan ini akan menyebabkan burung air menghindar atau terbang untuk mencari lokasi yang aman, gangguan ini akan menghabiskan waktu dan energi burung air sehingga mempengaruhi perolehan makanan. Pada beberapa kali pengamatan ditemukan bahwa burung merandai berusaha menghindar dari kehadiran manusia dengan terbang menjauh. Hasil analisis dengan ArcGis mendapatkan bahwa sebaran aktivitas manusia di lokasi penelitian dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis kegiatan (Gambar 35).
Gangguan yang ditemukan selama penelitian berlangsung terdiri dari: 1. Pemasangan jaring untuk menangkap ikan atau untuk menangkap burung air 2. Transportasi; lalu lalang perahu motor di sekitar lokasi penelitian akan
mempengaruhi kenyamanan burung air mencari makan 3. Pemasangan bubu atau perangkap kepiting
4. Pemancingan
5. Perburuan burung air 6. Penjualan burung air
7. Pengunaan wilayah makan sebagai area permainan billyard yang mengakibatkan kegaduhan dari para pemain
Gambar 35 Aktivitas manusia di lokasi penelitian. Salinitas
Burung air, terutama burung pantai, mencari makan di sepanjang pantai yang memiliki kadar salinitas yang berbeda-beda. Burung air harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Keterkaitan burung air dengan keberadaan makrozoobentos sebagai makanannya sangat dipengaruhi oleh salinitas. Salinitas yang terlalu tinggi akan menyebabkan berkurangnya jumlah makrozoobentos dan salinitas yang terlalu rendah juga akan memberikan pengaruh yang sama.
Hasil uji regresi stepwise menunjukkan bahwa salinitas selain mempengaruhi keberadaan makrozoobentos juga mempengaruhi kehadiran spesies burung air sebesar 75% dan individu burung air sebesar 54%. Salinitas
mempengaruhi kehadiran spesies makrozoobentos sebesar 72% dan individu makrozoobentos 61%. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan salinitas di lokasi penelitian berkisar antara 21‰ sampai 28 ‰. Hasil pengukuran ini menunjukkan bahwa salinitas di lokasi penelitian masih baik. Hasil interpolasi dengan ArcGis memperoleh sebanyak delapan kategori salinitas (Gambar 36).
Gambar 36 Sebaran salinitas di lokasi penelitian. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehadiran makrozoobentos sebagai sumber makanan burung air. Pengaruh pH terhadap burung air secara langsung berkaitan dengan kehadiran sumber makanan dalam hal ini makrozoobentos. Hasil uji regresi stepwise menujukkan pengaruh pH terhadap jumlah spesies burung air 78% dan terhadap jumlah individu burung air 53%. Pengaruh pH terhadap jumlah spesies makrozoobentos 73% dan terhadap jumlah individu makrozoobentos 77%. pH yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah akan mempengaruhi kehadiran makrozoobentos dan fisiologi burung air
yang hidup dan mencari makan disekitar wilayah perairan terutama di sepanjang garis pantai.
Hasil pengukuran di lapangan mendapatkan kisaran pH antara 6 sampai 6,9, dengan hanya 4 titik memiliki pH lebih dari 7 (7,1 – 7,2). Hasil interpolasi berdasarkan data lapangan memperoleh tujuh kategori (Gambar 37). Mengingat bahwa pH yang sesuai dengan baku mutu air laut untuk biota laut 7 – 8,5 maka secara umum pH hasil pengukuran di lokasi penelitian masih cukup baik.
Gambar 37 Sebaran pH (derajat keasaman) di lokasi penelitian. Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut (DO) merupakan salah satu faktor yang menentukan kehadiran makrozoobentos sebagai sumber makanan burung air. Hubungan langsung DO dengan kehadiran burung air di lokasi penelitian berkaitan langsung dengan makrozoobentos sebagai sumber makanannya. Makrozoobentos sebagai hewan yang hidup pada sedimen membutuhkan oksigen terlarut untuk kehidupannya, DO yang terlalu tinggi akan mempengaruhi jumlah dan kehadiran makrozoobentos.
Hasil analisis regresi stepwise menunjukkan bahwa pengaruh DO bagi jumlah spesies burung air sebesar 64% dan pengaruh DO terhadap jumlah individu burung air adalah 51%. Pengaruh DO terhadap jumlah individu makrozoobentos sebesar 64% dan terhadap jumlah spesies makrozoobentos sebesar 46%.
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan ditemukan kisaran DO antara 3,7 sampai 4,5 sehingga masih memenuhi baku mutu air laut untuk biota laut sesuai KepMenLH No. 51 tahun 2004. Hasil ini menunjukkan DO di lokasi penelitian masih baik. Hasil pengukuran di lapangan memperoleh empat kategori DO (Gambar 38).
Gambar 38 Sebaran oksigen terlarut (DO) di lokasi penelitian. Biochemical Oxygen Demand BOD
Biochemical Oxygen Demand (BOD) merupakan salah satu faktor yang menentukan kehadiran makrozoobentos sebagai sumber makanan burung air. Hubungan langsung BOD dengan kehadiran burung air di lokasi penelitian berkaitan langsung dengan makrozoobentos sebagai sumber makanannya.
Makrozoobentos sebagai hewan yang hidup pada sedimen membutuhkan oksigen terlarut untuk kehidupanya, BOD yang terlalu tinggi akan mempengaruhi jumlah dan kehadiran makrozoobentos.
Hasil analisis regresi stepwise menunjukkan pengaruh BOD bagi jumlah spesies burung air sebesar 69% dan jumlah individu burung air sebessr 29%. Pengaruh BOD bagi jumlah spesies makrozoobentos sebesar 68% dan jumlah individu makrozoobentos sebesar 60%. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan ditemukan kisaran BOD antara 1,1 mg/l sampai 2,9 mg/l, masih memenuhi baku mutu air laut untuk biota laut sesuai KepMenLH No. 51 tahun 2004. Hasil pengukuran di lapangan memperoleh sembilan kategori BOD (Gambar 39).
Gambar 39 Biochemical Oxygen Demand (BOD) di lokasi penelitian. Kesesuaian habitat burung air yang dibangun dibagi menjadi dua kelompok yaitu burung merandai dan burung pantai. Pembagian ini berdasarkan atas perbedaan morfologi dan cara memperoleh makanan.
Kesesuaian Habitat Burung Merandai
Hasil analisis terhadap komponen habitat mendapatkan tiga kelas kesesuaian habitat bagi burung merandai yaitu: sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Sangat sesuai meliputi hamparan lumpur dan tambak, sesuai meliputi: tambak, hutan belukar dan belukar rawa (Gambar 40).
Komponen habitat yang dipergunakan untuk membangun model kesesuain habitat terdiri dari: tipe lahan basah (tutupan lahan), makanan, ketinggian air, salinitas, pH, BOD, DO dan gangguan. Hasil penghitungan terhadap total skor semua komponen habitat untuk membangun model kesesuaian habitat bagi burung merandai berkisar antara 0 sampai 335 (Tabel 28).
Tabel 28 Pembagian selang kelas kesesuaian habitat burung merandai
Selang Skor Kategori Klasifikasi
kesesuaian
1-0.33 = 0.67 ≥ 0.80 HSI1 Sangat sesuai
0.67-0.33 =0.34 0.80 – 0.65 HSI2 Sesuai
0.34 ≤ 0.65 HSI3 Tidak sesuai
Untuk mengetahui tingkat kepercayaan terhadap model yang dibangun dilakukan uji validasi model kesesuaian habitat burung merandai dengan mencocokkan hasil analisis spasial dengan data titik pertemuan burung merandai yang ditemukan di lapangan. Hasil uji validasi menunjukkan tingkat akurasi untuk memprediksi habitat burung merandai dengan kelas sangat sesuai mencapai 53,33% dan kelas sesuai 46,67% (Tabel 29).
Tabel 29 Penentuan klasifikasi kesesuaian habitat burung merandai di Percut Sei Tuan Tingkat kesesuaian Klas kesesuaian Habitat Jumlah titik Pertemuan Validasi (%) 1 Sangat sesuai 8 53,33 2 Sesuai 7 46,67 3 Tidak sesuai Total 15
Gambar 40 Peta kesesuaian habitat burung merandai.
Kesesuaian Habitat Burung Pantai
Hasil analisis terhadap komponen habitat mendapatkan tiga kelas kesesuaian habitat bagi burung pantai yaitu: sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Sangat sesuai meliputi hamparan lumpur, tambak, belukar rawa, hutan belukar dan sawah, sesuai meliputi: tambak, sawah dan semak belukar (Gambar 41).
Komponen habitat yang dipergunakan untuk membangun model kesesuain habitat terdiri dari: tipe lahan basah (tutupan lahan), makanan, ketinggian air, ketebalan sedimen, salinitas, pH, DO, BOD dan gangguan. Hasil penghitungan terhadap total skor untuk semua komponen habitat untuk membangun model kesesuaian habitat bagi burung pantai berkisar antara 0 sampai 335 (Tabel 30). Tabel 30 Pembagian selang kelas kesesuaian habitat burung pantai
Selang Skor Kategori Klasifikasi
kesesuaian
1-0.33 = 0.63 ≥ 0.80 HSI1 Sangat sesuai
0.63-0.33 = 0.34 0.80– 0.60 HSI2 Sesuai
0.34 ≤ 0.60 HSI3 Tidak sesuai
Untuk mengetahui tingkat kepercayaan terhadap model yang dibangun dilakukan uji validasi model kesesuaian habitat burung pantai dengan mencocokkan hasil analisis spasial dengan data titik pertemuan burung pantai yang ditemukan di lapangan. Hasil uji validasi menunjukkan tingkat akurasi untuk memprediksi habitat burung pantai dengan kelas sangat sesuai mencapai 60% dan sesuai 26,67% dan tidak sesuai 13,33% (Tabel 31).
Tabel 31 Penentuan klasifikasi kesesuaian habitat burung pantai di Percut Sei Tuan Tingkat kesesuaian Klas kesesuaian Habitat Jumlah titik Pertemuan Validasi (%) 1 Sangat sesuai 9 60 2 Sesuai 4 26.67 3 Tidak sesuai 2 13.33 Total 15
Gambar 41 Peta kesesuaian habitat burung pantai.
PEMBAHASAN
Tipe tutupan lahan
Hanya lima dari 10 kategori tutupan lahan di lokasi penelitian yang digunakan burung air untuk lokasi mencari makan, yaitu: hamparan lumpur, tambak, hutan rawa, belukar rawa dan sawah. Kelima tutupan lahan tersebut merupakan lahan basah. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa hamparan lumpur yang terbentuk saat air laut surut merupakan lokasi mencari makan yang paling sering digunakan oleh burung air (merandai dan pantai). Lahan basah merupakan habitat penting bagi jenis-jenis burung termasuk burung air. Burung air menggunakan lahan basah sebagai tempat untuk mencari makan, bersarang dan tempat tinggal (Weller 2003).
Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa tambak dan pertanian lahan kering merupakan tutupan lahan yang paling luas. Hal ini sesuai keadaan di lapangan, terutama di Tanjung Rejo. Pertanian lahan kering yang banyak ditemukan di lapangan adalah kebun kelapa sawit dan tanaman pertanian seperti cabe dan jagung. Hamparan lumpur merupakan lokasi mencari makan yang paling dipilih oleh burung air dibandingkan sawah dan tambak. Hal ini disebabkan hamparan lumpur menyediakan sumber makanan yang dibutuhkan burung air lebih beragam dibandingkan dengan sawah dan tambak. Sawah yang di lokasi penelitian merupakan sawah tadah hujan (memiliki kecenderungan kering dan tekstur tanah yang keras). Tambak di area penelitian memiliki ketinggian air sampai mencapai 70 cm. Kondisi sawah dan tambak tidak menguntungkan bagi burung air yang memiliki keterbatasan morfologinya (ukuran paruh dan kaki) pada ketinggian air dan kemampuan memperoleh makan pada tanah bertekstur lembut.
Intensifikasi pertanian, pembangunan industri, rekreasi dan pemanenan sumber daya merupakan aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan habitat. Dalam melakukan upaya konservasi biologi perlu diketahui hubungan antara satu wilayah dengan keanekaragaman spesies, kelimpahan dan jumlah spesies yang menggunakan suatu wilayah baik itu untuk mencari makan, bersarang maupun beristirahat (Paracuellos & Tellería 2004). Penggunaan ruang untuk mencari
makan oleh burung air sangat tergantung pada ketersediaan sumber makanan, komposisi dan struktur komunitas burung air (Boldreghini & Dall’Alpi 2008). Makanan
Pemilihan habitat oleh burung air pada lahan basah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan dan kemudahan untuk memperoleh makanan sesuai dengan kebutuhan harian masing-masing spesies burung air yang mencari makanan pada suatu area tertentu. Umumnya burung air memiliki kecenderungan mendatangi lokasi makan yang kaya akan sumber makanan dan lokasi makan yang sama dari tahun ke tahun (bagi burung migran). Burung pantai migran merupakan tipe predator yang senantiasa menggunakan lokasi persinggahan yang sama setiap tahun untuk tempat beristirahat dan memperoleh makanan (Morrison & Myers 1989).
Sumber makanan baik itu spesies makrozoobentos dan jumlah individu makrozoobentos memperlihatkan pengaruh yang positif sebesar 94% dan 85% terhadap kehadiran burung air. Ini menunjukkan makin banyak jumlah dan spesies makrozoobentos pada suatu wilayah akan mempengaruhi keanekaragaman burung air. Menurut Krebs (1978) dan Newton (1980) suplai makanan dan kelimpahan makanan merupakan faktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan populasi hewan. Kebutuhan makan burung pantai dipengaruhi oleh kepadatan mangsa, ukuran mangsa, kandungan kalori, kemampuan mencerna, aktivitas, dan kemampuan memperoleh makan (Zwarts et al. 1996). Burung merandai umumnya pemakan ikan, crustacea, amfibia, reptil dan makrozoobentos lain (Erwin et al. 2003).
Kelimpahan dan ketersediaan makrozoobentos merupakan faktor yang penting untuk menentukan kualitas habitat, distribusi dan perilaku burung pantai. Distribusi dan kelimpahan makrozoobentos ini sangat dipengaruhi oleh ketinggian dan kimia air, secara tidak langsung mempengaruhi distribusi dan perilaku burung pantai dalam mengkonsumsi makrozoobentos untuk memenuhi kebutuhannya (Colwell & Landrum 1993; Fredrickson-Knapp 2001; Lee 2007). Indek kesesuaian bagi burung merandai didasarkan pada jumlah mangsa dan kemudahan burung untuk menangkap mangsa (Gawlik 2002).
Pemilihan lokasi mencari makan oleh burung pantai dipengaruhi oleh sedimen dan ketersediaan mangsa. Kondisi fisik sedimen yang terbentuk akibat pasang surut akan mempengaruhi ketersediaan mangsa dan mempengaruhi perilaku dan distribusi burung pantai. Sedimen yang lembut dan lembab akan mempengaruhi keberhasilan memperoleh mangsa dalam sedimen dan pergerakan burung pantai selama mencari makan serta mempermudah penetrasi paruh burung untuk mendeteksi mangsa dan memperolehnya secara cepat (Velasquez & Navarro 1993).
Ketinggian air
Hasil pengukuran di lapangan memperlihatkan ketinggian air terendah pada saat air laut surut disekitar hamparan lumpur berkisar antara 40 sampai 70 cm. Bagi burung merandai ketinggian air mencapai 40 cm masih dapat memperoleh makanan berupa ikan dan udang, sebaliknya burung pantai dalam mencari makan benar-benar dalam keadaan surut. Ketinggian air yang masih