• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. ANALISA STRUKTUR HIRARKI

1. Pengolahan Horizontal

Pengolahan horizontal dilakukan dengan untuk menyusun prioritas elemen-elemen keputusan pada tingkat hirarki yang sama. Pengolahan horizontal

dilakukan pada tiap-tiap level hirarki yaitu pembobotan untuk level faktor dan level subfaktor.

a. Level Faktor

Pada tingkat ini pengolahan dilakukan dengan melihat perhatian petani pada faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan tenaga pengolahan tanah seperti aspek ekonomi, aspek kondisi lapangan, aspek teknis dan ergonomi serta aspek sosial budaya (level 2). Hasil pengolahan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil pengolahan horizontal pada faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan tenaga pengolahan lahan (level 2)

No. Faktor Bobot Prioritas

1 Aspek ekonomi 0.3102 2

2 Aspek Teknis dan Ergonomi 0.1087 3

3 Aspek Kondisi Lapangan 0.5176 1

4 Aspek Sosial Budaya 0.0.635 4

Hasil pengolahan memperlihatkan bahwa yang menjadi prioritas pertimbangan utama petani dalam penggunaan alat mesin pertanian khususnya traktor adalah aspek kondisi lapangan dengan besar bobot 0.5176. Hal ini karena para petani mempertimbangkan keadaan lapangan yang tidak mendukung untuk penggunaan alat mesin (khususnya traktor). Kendala yang dihadapi petani antara lain ialah tidak adanya jalan khusus traktor dalam lahan, luas petakan yang kecil, lahan yang berbatu dan lahan yang berbukit. Kondisi lapangan yang kurang mendukung untuk penggunaan traktor menjadikan aspek kondisi lapangan menjadi prioritas utama dalam penggunaan traktor.

Kemudian faktor aspek ekonomi merupakan prioritas kedua setelah aspek kondisi lapangan dengan besar bobot 0.3102. Dengan pendapatan yang tidak menentu setiap musimnya petani tentu mempertimbangkan biaya produksi setiap musimnya, dengan mempertimbangkan penggunaan sumber tenaga kerja yang ada (manusia, hewan dan mesin). Harga beli/sewa dan harga suku cadang traktor yang mahal serta biaya operasional yang tinggi dari traktor yang

menjadikan mengapa aspek ekonomi menempati urutan prioritas kedua setelah aspek kondisi lapangan.

Selanjutnya yang menjadi pertimbangan petani dalam penggunaan traktor dalam usaha tani padi sawah adalah aspek teknis dan ergonomi dengan besar bobot 0.1087. Aspek teknis dan ergonomi merupakan aspek yang berhubungan langsung akan penggunaan traktor dan merupakan pendapat petani selama penggunaan alat mesin pertanian, khususnya traktor. Banyak alat pertanian tradisional yang biasa digunakan petani seperti cangkul atau arit tidak sesuai desain atau bentuknya dengan fisik petani, dan alat yang cukup berat sehingga petani menjadi mudah lelah. Serta konsumsi bahan bakar yang tinggi pada traktor yang harus beroperasi terus menerus seharinya, mengakibatkan petani harus mempertimbangkan pengggunaan traktor.

Sebagai prioritas terakhir adalah aspek sosial budaya dengan besar bobot 0.0635. Selama ini petani menganggap penggunaan traktor hanya akan membebani biaya produksi dengan biaya operasional yang tinggi serta masih banyaknya tenaga kerja lokal (manusia dan hewan) sehingga petani enggan untuk menggunakan traktor. Ketersediaan informasi serta pengetahuan tentang alat mesin pertanian, khususnya traktor masih tidak memadai dan mendalam serta masih kurang. Untuk lebih jelas urutan prioritas pada level faktor dapat dilihat pada Gambar 10.

0.3102

0.1087

0.5176

0.0635 0

0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6

Aspek ekonomi Aspek Teknis dan Ergonomi

Aspek Kondisi Lapangan

Aspek Sosial Budaya

Nilai bobot

Gambar 10. Nilai bobot prioritas pada level faktor

b. Level Subfaktor

Pada tingkat ini pengolahan dilakukan dengan menganalisa lebih mendalam pada subfaktor-subfaktor dalam setiap faktor yang mempengaruhi pemilihan tenaga pengolahan lahan oleh petani padi sawah (level 3). Hasil pengolahan horizontal pada level 3 dapat dilihat pada Tabel 7 dan Lampiran 3.

Dalam faktor aspek ekonomi, petani memberikan perhatian lebih pada subfaktor biaya operasional dengan besar bobot 0.5763 dalam pertimbangan penggunaan traktor. Hal ini disebabkan oleh biaya operasional yang tinggi bila dibandingkan dengan menggunakan tenaga kerja yang lain (tenaga manusia dan hewan). Biaya operasional alat mesin pertanian (traktor) dapat dikatakan tinggi bila penggunaannya pada lahan yang tidak luas/luas olahan rendah dan jam kerja yang sedikit, sehingga agar biaya operasional dapat lebih rendah jika luas olahan tinggi dengan didukung keterampilan operator yang tinggi. Hubungan biaya pengolahan lahan dengan luasan olah dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4.

Prioritas selanjutnya yang diperhatikan petani dalam aspek ekonomi adalah subfaktor harga suku cadang dengan besar bobot 0.2329. Harga suku cadang yang dimaksud adalah suku cadang asli buatan pabrik dari alat mesin sebelumnya, bukan yang tiruannya. Kebanyakan alat mesin pertanian, khususnya traktor yang ada merupakan buatan luar negeri dan suku cadang asli masih diimpor, sehingga harga suku cadang asli masih mahal. Sedangkan pada suku cadang tiruan harga tidak terlalu mahal namun kualitasnya tidak sebaik yang asli, cepat rusak kembali.

Kemudian subfaktor harga beli/sewa traktor adalah prioritas ketiga yang mendapat perhatian petani dalam penerapan traktor dalam usaha taninya dengan besar bobot 0.1236. Alat mesin pertanian, khususnya traktor yang ada pada pasar masih banyak yang buatan luar negeri sehingga mengakibatkan harga beli yang tinggi bagi petani. Serta harga sewa dapat lebih rendah jika luas olahan tinggi dengan didukung keterampilan operator yang tinggi.

Prioritas terakhir dari faktor aspek ekonomi yang menjadi perhatian petani adalah subfaktor pendapatan petani dengan besar bobot 0.0672. Hal ini disebabkan pendapatan petani yang tidak sama atau tidak menentu setiap musimnya, sehingga bila pada musim dan pendapatan cukup baik petani akan

mempertimbangkan untuk penggunaan traktor untuk pengolahan lahannya.

Namun bila musim dan pendapatan tidak baik petani akan mempertimbangkan lebih dalam penggunaan traktor. Untuk lebih jelasnya urutan prioritas subfaktor dalam faktor aspek ekonomi dapat dilihat pada Gambar 11.

0.1236

0.2329

0.5763

0.0672 0

0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7

Harga Beli/sewa Harga Suku Cadang

Biaya Operasional

Pendapatan Petani

Nilai bobot

Gambar 11. Nilai bobot prioritas subfaktor pada faktor aspek ekonomi

Dalam faktor aspek teknis dan ergonomi, subfaktor berat traktor merupakan prioritas pertama dengan besar bobot 0.4125. Petani merasa terbebani dalam penggunaan traktor yang berat, di mana mereka harus bekerja dengan traktor tersebut dalam sehari di lahan. Khususnya traktor roda dua, jenis traktor yang digunakan responden dalam wawancara, berdasarkan hasil wawancara petani merasakan traktor yang digunakan memiliki berat yang membebani petani saat dijalan yang mendaki dan lahan yang berbukit. Hal ini yang menjadikan subfaktor berat menjadi prioritas utama pertimbangan petani dalam penggunaan traktor.

Prioritas kedua adalah subfaktor kemampuan manuver dengan besar bobot 0.2538. Petani merasakan kesulitan dalam membelokkan arah laju traktor saat digunakan pada kecepatan yang cukup tinggi meskipun sudah ada sistem yang membantu pada traktor. Petani pun merasakan sulit untuk bergerak bebas dengan traktor. Bagi petani yang belum menguasai penggunaan traktor sering kali

hampir celaka bila tidak hati-hati, hal ini dikarenakan traktor sulit untuk dikendarai/bermanuver bagi pemula.

Tabel 7. Hasil pengolahan horizontal pada subfaktor dalam setiap faktor yang mempengaruhi pemilihan tenaga pengolahan lahan (level 3)

Faktor Subfaktor Bobot Prioritas

Aspek ekonomi Harga beli/sewa Harga suku cadang Aspek teknis dan ergonomi Kesesuaian desain

Berat

Fungsi kegunaan Kemampuan manuver Konsumsi bahan bakar

Ketersediaan bengkel dan spare part

0.0544 Aspek kondisi lapangan Ukuran petakan

Bentuk petakan Aspek sosial budaya Pengetahuan

Informasi

Ketersediaan tenaga kerja lokal

0.1368

Prioritas selanjutnya yang menjadi pertimbangan petani dalam penggunaan traktor adalah subfaktor konsumsi bahan bakar dengan besar bobot 0.1250. Hal ini dikarenakan penggunaan traktor yang harus beroperasi terus menerus seharinya mengakibatkan konsumsi bahan bakar yang tinggi sehingga petani harus mempertimbangkan pengggunaan traktor. Selain konsumsi, permasalahan pada bahan bakar yang dihadapi adalah tempat pembelian yang dirasakan cukup jauh dari desa, sehingga untuk pembelian bahan bakar harus

menambah biaya transportasi yang dianggap petani cukup membebani pada biaya produksinya. Hal ini yang menjadikan subfaktor konsumsi bahan bakar menjadi prioritas ketiga bagi petani dalam mempertimbangkan penggunaan traktor dalam usaha taninya.

Selanjutnya yang menjadi prioritas keempat bagi petani dalam mempertimbangkan penggunaan traktor adalah subfaktor ketersediaan bengkel dan spare part dengan besar bobot 0.1103. Ketersediaan bengkel khusus alat mesin pertanian, khususnya traktor untuk saat ini sangat sulit ditemui, mungkin juga memang belum ada. Banyak traktor dan alat mesin pertanian lainnya yang telah rusak namun tidak dapat diperbaiki karena sulitnya mekanik/ahli yang dapat memperbaikinya di kalangan petani atau daerah pertanian, sehingga banyak pula traktor atau alat mesin pertanian yang tidak terpakai dan dijual murah oleh petani ke tempat penjualan barang bekas. Mekanik yang ada di daerah lokal pertanian biasanya adalah mekanik/montir kendaraan bermotor (mobil atau motor). Selain sulitnya mekanik/ahli alat mesin pertanian di daerah lokal, spare part asli dari traktor pun sulit ditemui, yang banyak di pasaran adalah yang tiruan dengan kualitas yang kurang baik. Bila pun dapat ditemui spare part asli memiliki harga yang tinggi, hal ini karena spare part asli masih buatan luar negeri dan harus diimpor. Sedangkan spare part tiruan banyak di pasaran dengan harga yang terjangkau dengan petani, namun kualitasnya tidak baik.

Kemudian subfaktor yang menjadi prioritas kelima pertimbangan petani dalam penerapan traktor adalah subfaktor kesesuaian desain dengan besar bobot 0.0544. Banyak alat mesin pertanian yang kurang sesuai dengan proporsi tubuh petani, seperti cangkul yang terlalu panjang pegangannya, pompa penyemprot yang terlalu panjang dan berat serta kemudi traktor yang cukup tinggi bagi petani.

Untuk dapat digunakan dengan baik alat mesin yang tidak sesuai dengan proporsi tubuh petani harus disesuaikan terlebih dahulu. Dalam wawancara menurut petani, hal ini membutuhkan pekerjaan tambahan atau mungkin biaya tambahan pula yang dapat memberatkan petani.

Prioritas terakhir dari faktor aspek teknis dan ergonomi adalah subfaktor fungsi kegunaan dengan besar bobot 0.0440. Menurut Kastaman (1999) maksud dari fungsi kegunaan adalah manfaat yang diberikan produk kepada pemakai

untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Dalam wawancara, beberapa petani beranggapan hasil pengolahan dengan tenaga hewan (kerbau) masih lebih baik dibandingkan dengan tenaga mesin (traktor), serta lahan yang telah diolah dengan traktor pada saat pengolahan musim berikutnya tanah terasa lebih keras untuk diolah kembali. Hal ini dianggap akan membebani petani karena waktu pengolahan lahan berikutnya akan lebih lama sehingga perlu tambahan biaya pengolahan. Untuk lebih jelasnya urutan prioritas subfaktor dalam faktor aspek teknis dan ergonomi dapat dilihat pada Gambar 12.

0.0544

Gambar 12. Nilai bobot prioritas subfaktor pada faktor aspek teknis dan ergonomi

Dalam faktor aspek kondisi lapangan, subfaktor aksesibilitas traktor dalam lahan menempati prioritas pertama dengan besar bobot 0.4675. Kesulitan yang dihadapi petani saat menggunakan traktor pada lahan yang berada di tengah-tengah areal persawahan adalah jalan khusus traktor dalam lahan yang tidak ada, jalan yang ada hanya cukup untuk satu orang saja atau disebut galangan/batas antar petakan. Untuk dapat mencapai areal yang berada di tengah lahan petani harus membongkar traktor terlebih dahulu dengan memisahkan bagian mesin/motor, rangka, dan alat bajak kemudian setelah di lahan yang di tuju barulah traktor dirakit kembali atau traktor dijalankan melewati saluran irigasi.

Berdasarkan hasil wawancara, hal ini sangat merepotkan petani dengan banyak membutuhkan waktu dan tenaga.

Prioritas selanjutnya yang menjadi pertimbangan petani dalam penggunaan alat mesin pada faktor aspek kondisi lapangan adalah subfaktor fasilitas penunjang operasi dengan besar bobot 0.3077. Contoh dari penunjang operasi seperti jalan desa yang telah teraspal rapi, jembatan yang dapat dilalui traktor di setiap akan menyeberangi saluran air/irigasi, mobil pick up/kendaraan yang dapat mengangkut traktor bila lahan yang akan diolah cukup jauh dari garasi/tempat menyimpan traktor, serta tempat penjualan bahan bakar. Menurut petani seluruh penunjang operasi tersebut dirasakan masih kurang dan belum memadai untuk penggunaan traktor. Hal ini yang menjadikan subfaktor penunjang operasi menjadi prioritas kedua dalam pertimbangan penggunaan traktor bagi petani. Contoh jalur traktor dari garasi ke lahan dapat dilihat pada Lampiran 6.

Pada lampiran 6 terlihat ada area persawahan yang dapat diakses dan diolah menggunakan traktor dan area persawahan yang tidak dapat diakses dan diolah menggunakan traktor. Area persawahan yang tidak dapat diakses dengan traktor karena area persawahan yang berbukit serta tidak ada jalan yang memadai untuk traktor masuk ke lahan, dan jalan desa yang belum teraspal rapi.

Selanjutnya prioritas ketiga dalam pertimbangan penggunaan traktor pada faktor aspek kondisi lapangan adalah subfaktor ukuran petakan dengan besar bobot 0.0913. Berdasarkan hasil wawancara, luas petakan yang dimiliki para petani berkisar 500 m2-800 m2 sedangkan yang memiliki luas lebih dari 1000 m2 hanya sedikit, dengan lebar petakan rata-rata 10 m-20 m dan panjang petakan rata-rata 40 m-50 m. Menurut petani pengolahan lahan pada luasan lahan yang dimiliki petani, pengolahannya cukup mudah meskipun harus ada perhatian tertentu pada saat mengemudikan traktor, sebab harus sering membelokan arah laju traktor. Bila petani tidak hati-hati traktor bisa menabrak galangan/pembatas antar petakan yang bisa berakibat fatal.

Prioritas keempat dalam pertimbangan penggunaan traktor pada faktor aspek kondisi lapangan adalah subfaktor bentuk petakan dengan besar bobot 0.0797. Bentuk petakan yang tidak beraturan akan menyulitkan dalam penggunaan traktor, di mana pengemudi harus memperhitungkan titik belok untuk

mengubah arah laju traktor agar tidak terjadi kecelakaan. Pada lahan yang tidak beraturan akan banyak bagian lahan yang tidak dapat dijangkau untuk diolah dengan traktor, sehingga harus diolah secara manual atau dengan tenaga manusia.

Menurut petani, hal ini akan menambah biaya pengolahan lahan yang akan memberatkan bagi mereka.

Subfaktor kedalaman lapisan lumpur dengan besar bobot 0.0539 menjadi prioritas terakhir bagi petani dalam pertimbangan penggunaan traktor.

Hal ini karena kedalaman lapisan lumpur yang ada pada lahan tidaklah terlalu dalam, berdasarkan hasil wawancara rata-rata kedalaman lapisan lumpur yang ada berkisar 10 cm-30 cm, kedalaman lapisan lumpur tersebut tidaklah menyulitkan dalam penggunaan traktor. Tetapi ada juga lapisan lumpur yang mencapai 50 cm lebih yaitu daerah rawa, pada kedalaman ini traktor tidak dapat digunakan. Untuk lebih jelasnya urutan prioritas subfaktor dalam faktor aspek kondisi lapangan dapat dilihat pada Gambar 13.

0.0913 0.0797

Gambar 13. Nilai bobot prioritas subfaktor pada faktor aspek kondisi lapangan

Dalam faktor sosial budaya, ketersediaan tenaga kerja lokal menempati prioritas pertama dengan besar bobot 0.6442. Beberapa petani pada Desa Cikarawang mengatakan keengganannya dalam menggunakan traktor karena

masih keluarga. Bila petani menggunakan tenaga traktor, mereka menganggap telah menghilangkan mata pencaharian saudara mereka. Sedangkan pada desa yang lain, masalah tenaga kerja karena sedikitnya pengemudi traktor yang baik serta banyak tenaga kerja usia muda yang enggan untuk turun ke sawah untuk mengemudikan traktor.

Prioritas kedua dalam faktor aspek sosial budaya ditempati oleh subfaktor informasi dengan besar bobot 0.2191. Banyak petani yang tidak mengetahui perkembangan terbaru tentang informasi mengenai pertanian, khususnya bidang alat mesin pertanian. Petani mengetahui adanya alat mesin pertanian yang terbaru hanya dari tetangga atau peneliti yang ada di daerah mereka atau dari pamflet/brosur iklan di toko tempat petani membeli alat pertanian. Informasi yang mereka dapatkan tidak terlalu lengkap untuk mereka pahami.

Prioritas terakhir pada faktor aspek sosial budaya adalah subfaktor pengetahuan dengan besar bobot 0.1368. Berdasarkan hasil wawancara pengetahuan petani tentang pertanian hanya berdasarkan dari apa yang diajarkan orang tua terdahulu serta pengalaman. Pada kelompok tani yang ada, pelatihan tentang pertanian telah diadakan tetapi masih belum optimal karena pelatihan hanya dilakukan dari badan penyuluhan saja, tidak ada penyelenggara lain.

Pelatihan yang dilakukan pun hanya terbatas tentang budidaya pertanian, sedangkan tentang alat mesin pertanian jarang dilakukan. Untuk lebih jelasnya urutan prioritas subfaktor dalam faktor aspek sosial budaya dapat dilihat pada Gambar 14.

0.1368

0.2191

0.6442

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7

Pengetahuan Informasi Ketersediaan Tenaga Kerja Lokal

Nilai Bobot

Gambar 14. Nilai bobot prioritas subfaktor pada faktor aspek sosial budaya

2. Pengolahan Vertikal

Pengolahan vertikal digunakan untuk menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tiap tingkatan hirarki keputusan terhadap sasaran utama.

Sasaran dari keputusan adalah kendala pemakaian traktor dalam pengolahan lahan tanah sawah dari seluruh subfaktor yang ada pada struktur hirarki. Pengolahan vertikal dilakukan dengan cara mengalikan bobot nilai subfaktor yang telah dihitung, terhadap bobot nilai faktor atau elemen pada tingkat diatasnya.

Pengolahan vertikal meliputi perhitungan pada level faktor dan level subfaktor.

Hasil pengolahan vertikal pada level faktor dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil pengolahan vertikal pada faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan tenaga pengolahan tanah sawah (level 2)

No. Faktor Bobot Prioritas

1 Aspek ekonomi 0.3102 2

2 Aspek Teknis dan Ergonomi 0.1087 3

3 Aspek Kondisi Lapangan 0.5176 1

4 Aspek Sosial Budaya 0.0635 4

Hasil pengolahan vertikal pada level kedua tidak berbeda dengan hasil pengolahan horizontal pada level kedua, karena tingkat ini langsung berada di bawah level pertama atau fokus dari model sistem hirarki keputusan. Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa petani memberi pertimbangan berturut-turut pada faktor aspek kondisi lapangan (0.5176), faktor aspek ekonomi (0.3102), faktor teknis dan ergonomi (0.1087) serta yang terakhir faktor aspek sosial budaya (0.0635). Walaupun faktor aspek sosial budaya memperoleh bobot paling kecil, tetapi petani tetap mempertimbangkan penggunaan traktor terhadap aspek sosial secara tidak memaksakan penggunaan traktor untuk pengolahan lahan.

Berdasarkan hasil wawancara, traktor yang ada di Desa Purwasari dan Desa Cikarawang dikelola oleh ketua kelompok, untuk para petani yang akan memakai traktor harus mendapat izin dari pengelola dan membayar uang sewa, sedangkan petani lain tidak dipaksakan menggunakan traktor, para petani dibebaskan untuk menggunakan sumber tenaga kerja lokal lainnya seperti tenaga hewan atau manusia.

Dalam Tabel 9 dapat dilihat bahwa elemen-elemen dalam subfaktor/level ketiga yang cenderung dipertimbangkan petani padi sawah adalah subfaktor aksesibilitas traktor (0.2420), subfaktor biaya operasional (0.1788), dan subfaktor fasilitas penunjang operasi (0.1593). Ketiga elemen tersebut merupakan hal yang paling memberatkan dalam pertimbangan penggunaan traktor. Bila suatu daerah telah maju dengan adanya traktor belum tentu traktor dapat berfungsi atau digunakan secara maksimal, petani akan mempertimbangkan penggunaan traktor tersebut yang dimulai dari garasi tempat penyimpanan traktor, membawa traktor sampai lahan dan pemakaian traktor di lahan.

Tabel 9. Hasil pengolahan vertikal pada subfaktor dalam setiap faktor yang mempengaruhi pemilihan tenaga pengolahan tanah sawah (level 3)

Subfaktor Bobot Prioritas

Harga beli/sewa

Ketersediaan bengkel dan spare part Ukuran petakan

Ketersediaan tenaga kerja lokal

0.0383

Selain itu, Tabel 9 di atas juga mengidentifikasi elemen yang mendapat prioritas terakhir dari petani dalam mempertimbangkan penggunaan traktor serta alat mesin pertanian lainnya adalah subfaktor fungsi kegunaan dengan besar bobot 0.0048. Petani berpendapat bahwa semua pabrik menciptakan produk guna untuk membantu pekerjaan petani, namun tidak menutup kemungkinan bila ada produk yang bekerja tidak sesuai fungsi kegunaannya secara maksimal. Untuk mendapatkan fungsi kegunaan suatu alat mesin pertanian khususnya traktor secara maksimal diperlukan sedikit perubahan atau perbaikan pada alat mesin pertanian tersebut, khususnya traktor. Menurut petani hal tersebut merupakan hal yang biasa. Hasil pengolahan vertikal pada level ketiga dapat dilihat dalam Gambar 15.

0.03

ketersedian bengkel dan spare part ukuran petakan

Gambar 15. Hasil pengolahan vertikal pada subfaktor dalam setiap faktor yang mempengaruhi pemilihan tenaga pengolahan tanah sawah (level 3) E. UJI KONSISTENSI

Hasil dari pembentukan model struktur hirarki untuk identifikasi hambatan-hambatan pemakaian traktor dalam pengolahan tanah sawah diperoleh matriks perbandingan berpasangan yang terdiri dari :

1. Level faktor : aspek ekonomi, aspek teknis dan ergonomi, aspek kondisi lapangan, dan aspek sosial budaya.

2. Subfaktor aspek ekonomi : harga beli/sewa, harga suku cadang, biaya operasional, dan pendapatan petani.

3. Subfaktor aspek teknis dan ergonomi : kesesuaian desain, berat, fungsi kegunaan, kemampuan manuver, konsumsi bahan bakar, dan ketersediaan bengkel dan spare part.

4. Subfaktor aspek kondisi lapangan : ukuran petakan, bentuk petakan, aksesibilitas traktor, fasilitas penunjang operasi, dan kedalaman lumpur.

5. Subfaktor aspek sosial budaya : pengetahuan, informasi, dan ketersediaan tenaga kerja lokal.

Matriks perbandingan berpasangan yang nilainya didapat dari pendapat responden pada wawancara perlu dilakukan uji konsistensi. Uji konsistensi

dimaksudkan untuk mengetahui apakah penilaian perbandingan berpasangan telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak (Marimin, 2004).

Matriks perbandingan berpasangan yang diuji konsistensinya adalah matriks-matriks yang disebutkan diatas setelah dibuat pendapat gabungan responden. Hasil uji konsistensi disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil uji konsistensi

Matrik pendapat CI CR

Level faktor 0.017 0.018

Subfaktor aspek ekonomi 0.0251 0.028

Subfaktor aspek teknis dan ergonomi 0.036 0.03 Subfaktor aspek kondisi lapangan 0.018 0.016

Subfaktor aspek sosial budaya 0.0001 0.0017

Berdasarkan hasil pengujian konsistensi didapat nilai CR < 10%. Hal ini menunjukkan bahwa matriks pendapat gabungan yang merupakan perbandingan berpasangan ini telah memenuhi kriteria konsistensi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan, yaitu :

1. Penggunaan tenaga mekanis, terutama traktor pada pengolahan tanah sawah telah lama digunakan tetapi masih adanya kendala-kendala dalam penerapannya.

2. Biaya pokok pemakaian traktor relatif tinggi, yaitu Rp. 1 070 200/ha di Desa Cikarawang dan Rp. 605 520/ha di Desa Purwasari karena rendahnya luas

2. Biaya pokok pemakaian traktor relatif tinggi, yaitu Rp. 1 070 200/ha di Desa Cikarawang dan Rp. 605 520/ha di Desa Purwasari karena rendahnya luas

Dokumen terkait