Limbah peternakan memiliki potensi untuk dijadikan produk biogas selain itu dengan dilakukannya pengolahan terhadap limbah peternakan dapat ikut serta menurunkan emisi GRK. Feses ternak ruminansia sangat baik untuk dijadikan bahan pembuatan biogas disebabkan terdapatnya sistem pencernaan khusus pada ternak ruminansia. Biogas yang dihasilkan oleh sapi perah memiliki nilai kalor paling tinggi dibandingkan dari ternak lain oleh karena itu sapi perah sangat potensial dalam menghasilkan biogas. Rata-rata setiap satu ekor sapi menghasilkan 20 kg feses dan urin. Produksi gas per kilogram kotoran ternak sapi menghasilkan 0.023 – 0.040 m3 biogas (Setyati 2012). Skenario ini menerapkan kotoran ternak yang dihasilkan oleh ternak ruminansia atau enterik diolah menjadi biogas.
Gambar 20 Hasil simulasi skenario emisi peternakan. Emisi peternakan BAU, Emisi peternakan skenario.
Pengolahan kotoran ternak menjadi biogas berpengaruh terhadap emisi peternakan yang dihasilkan. Berdasarkan hasil simulasi yang terlihat pada Gambar 20, emisi peternakan setelah diterapkannya skenario dapat mengurangi emisi sebesar 60 %. Pada tahun 2034 emisi peternakan yang dihasilkan sebesar 370 053 ton CO2 eq dan setelah diterapkan skenario emisi peternakan berkurang menjadi 149 021 ton CO2 eq. Penurunan emisi peternakan ini tidak telalu signifikan karena kotoran ternak yang diolah menjadi biogas hanya ternak ruminansia selain itu emisi peternakan juga bersumber dari gas CH4 yang dikeluarkan akibat proses fermentasi enterik melalui eruksi/sendawa dan pernapasan.
Pada tahun 2014 biogas yang diproduksi sebanyak 16 juta m3 dan meningkat tiap tahunnya seiring dengan meningkatnya jumlah ternak. Biogas dapat dijadikan sebagai pengganti bahan bakar lain seperti LPG, minyak solar, dan bensin dengan perbandingan 1 m3 biogas setara dengan 0.46 kg LPG. 0.52 liter minyak solar, dan
0.80 liter bensin (Wahyuni 2009 diacu dalam Salamah 2012) sehingga pada tahun 2014 elpiji yang dihasilkan dari biogas sebesar 7.36 juta kg LPG.
Skenario 4 : Penanaman
Pada skenario ini dilakukan upaya dalam menambah serapan CO2 di Kabupaten Bekasi yaitu dengan penanaman. Program penanaman dilakukan dengan mempertimbangkan pemberdayaan masyarakat serta mengikutsertakan industri yang merupakan salah satu penyumbang emisi CO2 di Kabupaten Bekasi. Tutupan lahan pertanian lahan kering di Kabupaten Bekasi dapat dimanfaatkan sebagai areal penanaman dengan konsep berupa agroforestry. Diasumsikan dengan luas satu hektar lahan akan ditanami 400 pohon dan diselingi tanaman pertanian lahan kering.
Luas lahan yang akan dijadikan agroforestry seluas 500 ha/tahun dari luas lahan pertanian kering yang ada dan serapan CO2 pada sistem agroforestry sebesar 288,79 ton CO2/ha (Adinugroho 2013). Selain itu, direncanakan penanaman dibebankan kepada industri dengan luasan penanaman sebesar 45 ha tiap unit. Terdapat 891 unit industri sedang dan besar yang ada di Kabupaten Bekasi pada tahun 2013 menurut Badan Pusat Statistika. Penanaman tersebut dilaksanakan secara tiga tahap pada tahun 2017, 2022, dan 2027 yang setiap tahapnya penanaman dilakukan oleh 297 unit industri sehingga setiap tahap penanaman dilakukan pada lahan seluas 13 365 ha. Menurut Dahlan (2007) satu unit pohon yang termasuk dalam kelompok jenis pohon berdaya serap CO2 agak tinggi dapat menyerap emisi CO2 rata-rata sebesar 0.306 ton CO2/pohon/tahun. Salah satu pohon yang termasuk dalam golongan berdaya serap CO2 agak tinggi adalah pohon mahoni (Swietenia macropyhlla).
Gambar 21 Hasil simulasi skenario penanaman. Serapan CO2 BAU, Serapan CO2 skenario.
Berdasarkan hasil simulasi yang terdapat pada Gambar 21, skenario yang diterapkan mampu meningkatkan serapan CO2 dimulai pada tahun 2017 hingga 2034. Jumlah peningkatan serapan CO2 bervariasi dikarenakan penanaman yang dilakukan secara tiga tahap. Pada tahun terakhir simulasi serapan CO2 sebelum diterapkan skenario sebesar 1 604 376 ton CO2 dan meningkat setelah diterapkannya skenario yaitu 8 759 425 ton CO2.
24
Mitigasi Emisi CO2 Kabupaten Bekasi
Mitigasi emisi CO2 di Kabupaten bekasi dilakukan dengan mengkombinasikan keempat skenario diatas. Perbandingan emisi CO2 skenario dengan kondisi BAU dapat dilihat pada Gambar 22 dan jumlah reduksi emisi CO2
dari skenario dapat dilihat pada Tabel 8.
Gambar 22 Perbandingan CO2 BAU dengan skenario Tabel 10 Sisa emisi dan jumlah reduksi emisi CO2 dari skenario
No Mitigasi
Sisa Emisi (ton CO2) Reduksi Emisi (ton CO2) Tahun 2017 Tahun 2034 Tahun
Berdasarkan Gambar 22 dan Tabel 10, penerapan keempat skenario dapat menurunkan sisa emisi CO2 sekitar 41-82 % yaitu 3.8 – 15.5 juta ton CO2 dari sisa
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034
TON CO2
TAHUN
P E R B A N D I N G A N E M I S I C O 2 B A U D E N G A N S K E N A R I O
CO2 BAU CO2 Skenario diversifikasi bahan bakar
CO2 Skenario pengolahan sampah CO2 Skenario pengolahan limbah ternak CO2 skenario penanaman CO2 Semua skenario
emisi selama tahun simulasi. Emisi CO2 yang belum tereduksi setelah penerapan mitigasi sekitar 3.6 – 5.5 juta ton CO2. Untuk menetralkan emisi setelah penerapan skenario dapat dilakukan dengan sistem karbon kredit. Harga karbon yang berlaku pada tahun 2010 menurut The World Bank Climate Change sebesar US$ 7.3 per ton CO2eq yang artinya Kabupaten Bekasi dalam sistem karbon kredit untuk mengurangi emisinya memerlukan biaya berkisar antara US$ 26.5 juta sampai US$ 40 juta setara dengan Rp 357 milyar hingga Rp 541 milyar dengan kurs rupiah menurut BI yang berlaku pada saat ini sebesar Rp 13 493.
Implikasi penelitian ini secara global dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian konsep Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan sebuah kesepakan pembangunan berkelanjutan pengganti Millenium Development Goals (MDGs). SDGs dihasilkan dari konferensi PBB yang berisikan 17 tujuan dan 169 sasaran pembangunan. Penelitian ini berkontribusi pada tujuan ke tujuh yaitu menjamin akses terhadap energi yang terjangkau, handal, berkelanjutan, dan modern bagi semua orang, tujuan ke sebelas yaitu membuat kota dan permukiman manusia yang inklusif, aman, dan berkelanjutan, tujuan ke dua belas yaitu memastikan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, dan tujuan ke tiga belas yaitu aksi dalam menanggulagi perubahan iklim dan dampaknya. Keempat tujuan tersebut dapat dilihat pada konsep utama dan skenario yang diterapkan.
Penerapan substitusi bahan bakar fosil dengan lpg, cng, dan biodiesel pada sektor transportasi dan penggunaan bahan bakar nuklir pada pembangkitan listrik dapat mendukung peningkatan sumber energi terbarukan akibat kelangkaan cadangan bahan bakar fosil yang terus digunakan dan mendukung pengembangan teknologi terbarukan khususnya bagi Indonesia. Penerapan skenario pengolahan sampah dengan mengkonversinya menjadi produk kompos, listrik, dan biogas serta mengolah limbah peternakan menjadi biogas turut serta dalam menjadikan lingkungan perkotaan yang sehat dan bersih, mencapai pengelolaan ramah lingkungan serta menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan dengan mengolah sisa konsumsi menjadi produk yang berguna. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menurunkan emisi yang dapat berpengaruh terhadap perubahan iklim sehingga secara global penelitian ini juga ikut serta dalam aksi menanggulangi perubahan iklim yang tercantum dalam tujuan ke tiga belas dengan penerapan skenario-skenario mitigasi penurunan emisi.
Penerapan skenario-skenario penurunan emisi yang direncanakan pada penelitian ini memiliki kontribusi untuk Indonesia terhadap kesepakatan paris yang dihasilkan dari Conferensi of Parties (COP) ke 21 yang menekankan pada setiap negara untuk mengurangi tingkat emisinya sehingga dapat menghentikan suhu permukaan bumi tidak lebih dari 2 derajat celcius dan indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 26% untuk semua sektor di tahun 2020 dan menargetkan penurunan emisi pada tahun 2020-2030 sebesar 29% sampai 41% dari kondisi busines as usual.
26