BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.1 Penguasaan Bahan Pengajaran
Menguasai bahan pengajaran merupakan syarat mutlak bagi mahasiswa calon guru untuk melakukan kegiatan mengajar karena kompetensi ini merupakan roh dalam sebuah pengajaran. Proses dari hasil belajar siswa tergantung pada penguasaan mata pelajaran dan ketrampilan mengajarnya. Ekspresi guru (mahasiswa PPL) yang telah menguasai bahan pelajaran tercermin dari kemampuan mengkomunikasikan atau menjelaskan bahan pelajaran dalam arti guru tersebut mampu mewujudkan
kecakapannya, menguraikan atau menjabarkan teori-teori secara jelas, yang pada intinya memenuhi aspek-aspek yang diperlukan sebagai seorang guru di depan kelas. Penguasaan bahan pengajaran ini diperoleh ketika di bangku kuliah sejak semeter 1 sampai semester 6. Selain itu pihak Universitas Negeri Semarang mensyaratkan bagi mahasiswa yang akan mengikuti Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) telah mengikuti minimal 110 SKS, lulus mata kuliah MKK (Mata Kuliah Keilmuan dan Ketrampilan), SBM 1, SBM 2 (Dasar Proses Pembelajaran 1 dan Dasar Proses Pembelajaran 2) serta mata kuliah pendukung lainnya dengan mendapat persetujuan ketua jurusan dan menunjukkan KHS (Kartu Hasil Studi) komulatif dengan IPK minimal 2,0 (Peraturan Rektor UNNES no 22 Tahun 2008, pasal 15). Kegiatan lainnya yang tidak kalah penting adalah microteaching, pembekalan PPL dan orientasi PPL yang diselenggarakan oleh pusat pengembangan PPL di kampus dan mengikuti kegiatan di sekolah latihan meliputi observasi lapangan. Kegiatan tersebut tidak lain untuk memberikan bekal agar mahasiswa benar-benar menguasai bahan ketika melakukan praktik pengajaran (pedoman PPL, 2008: 13).
Tabel 4.1 Persepsi Guru Pamong tentang Penguasaan Bahan Pengajaran Mahasiswa PPL
Awal Mengajar Akhir Mengajar No Indikator
Rata-rata Kriteria Rata-rata Kriteria 1 Menguasai bahan studi dan
kurikulum sekolah 3,54 Baik 3,61 Baik
2 Menguasai bahan penunjang bidang
studi 3,4 Cukup 3,51 Baik
Rata-Rata 3,46 Baik 3,56 Baik
Sumber : Hasil penelitian yang diolah
Berdasarkan tabel 4.1, bahwa menurut guru pamong, kompetensi profesional mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dalam menguasai bahan dalam
kategori baik. Hal ini dapat dilihat dari penguasaan bahan studi dan kurikulum, serta menguasai bahan penunjang bidang studi.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Persepsi Guru Pamong tentang Penguasaan Bahan Pengajaran Mahasiswa PPL
Awal Mengajar Akhir PPL Interval Kriteria
Frekuensi % Frekuensi % 84 < % skor < 100 Sangat Baik 1 2,3 2 4,5
68 < % skor < 84 Baik 28 63,6 30 68,2
52 < % skor < 68 Cukup 10 22,7 11 25,0
36 < % skor < 52 Kurang 5 11,4 1 2,3
20 < % skor < 36 Kurang Sekali 0 0,0 0 0,0
Jumlah 44 100 44 100
Sumber : Data penelitian yang diolah
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa guru pamong memandang para mahasiswa yang dibimbingnya telah memiliki kemampuan yang baik dalam penguasaan bahan pengajaran. Dengan kata lain mahasiswa dianggap telah mampu menyampaikan materi berdasarkan urutan yang ada pada rencana pengajaran, telah mampu menjelaskan materi dengan bahasa yang baik dan benar, telah terbiasa mengajurkan kepada siswa untuk mempelajari buku pelajaran sebagai acuan, serta telah mampu memberikan penjelasan bahan pengajaran secara singkat telebih dahulu sebelum masuk ke pokok pengajaran. Para mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) juga telah mampu membawa materi secara konkrit dan memberi ringkasan materi di akhir pelajaran dan mampu menanyakan pada siswa tentang materi yang belum dipahami siswa. Kegiatan pengajaran seperti ini menunjukkan bahwa penguasaan materi yang relatif baik sehingga tidak canggung ketika mengikuti praktik mengajar.
Menurut persepsi guru pamong, kemampuan sangat baik pada aspek penguasaan bahan adalah kemampuan menyampaikan materi berdasarkan urutan-
urutan yang ada pada RP (Rencana Pengajaran). Dalam hal ini guru pamong bisa memberikan penilaian sangat baik didasari oleh pengamatan pada saat proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dianggap telah sesuai dengan RP (Rencana Pengajaran) yang sebelumnya telah dikonsultasikan dan disetujui oleh guru pamong. Sedangkan dalam kemampuan memberi ringkasan materi pelajaran saat pelajaran berakhir dirasa sebagian mahasiswa kurang mampu. Memberi ringkasan materi pelajaran merupakan suatu proses memberi kesimpulan bagi siswa dan langkah ini jarang dilakukan karena pada umumnya terbentur oleh terbatasnya waktu pembelajaran atau kurang mampu mengatur alokasi waktu secara cermat dan efisien, sehingga kegiatan menutup pelajaran menjadi terlupakan oleh mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Menurut persepsi guru pamong kurangnya pemberian ringkasan materi pelajaran oleh mahasiswa dikarenakan dinilai mahasiswa kurang mempunyai pengalaman mengajar, jadi dalam pemberian ringkasan materi pelajaran mereka belum mampu secara efektif. Kurangnya pengetahuan awal mahasiswa tentang keguruaan merupakan salah satu penyebab tidak berhasilnya mahasiswa dalam pemberian ringkasan materi pelajaran.
Agar penelitian ini seimbang, para siswa yang diajar oleh mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) juga diberikan kuesioner pertanyaan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap kompetensi penguasaan bahan mengajar mencapai 66,55 lihat (Lampiran 15) dalam kategori cukup. Jika dirinci lebih lanjut, kemampuan mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dalam menerangkan materi secara urut sesuai dengan modul dipandang sebagai aspek yang paling baik menurut persepsi siswa. Sedangkan pada kemampuan memberikan
ringkasan materi pada saat berakhir pelajaran adalah aspek yang paling rendah. Ada juga sebagian siswa berpendapat bahwa mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dalam menyampaikan materi sering berbelit-belit dalam menanggapi pertanyaan dari siswa. Mahasiswa juga kurang mampu merespon pertanyaan siswa sehingga jawaban (argumen) kurang kuat. Hendaknya mahasiswa belajar melalui pengalaman untuk dapat mengungkap dan berbicara berdasarkan pengalaman dan ilmu yang didapatkan.
Guru memandang mahasiswa yang diampunya telah mampu dengan baik dalam menyampaikan materi. Namun siswa memandang mahasiswa masih banyak kekurangan dalam menyampaikan materi. Perbedaan cara pendang guru dan siswa dikarenakan guru hanya melihat sekilas mahasiswa mengajar meskipun sebelum melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mahasiswa mengajukan Rencana Pengajaran (RP) kepada guru, hal itu tidak dapat dijadikan sebagai acuan karena pada dasarnya yang merasakan langsung proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) adalah siswa. Dalam hal ini penilaian siswa cenderung objektif tanpa adanya rasa tolerasi, kasihan dan sebagainya. Untuk menjembatani antara persepsi guru dengan siswa sebaiknya mahasiswa lebih fokus mempersiapkan diri untuk mengajar dan meng up_date hal-hal baru yang berkaitan dengan teknik bangunan.