• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUASAAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA ATAS MINYAK DAN GAS BUMI

B. Penguasaan Negara Melalui Pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sektor Minyak dan Gas Bumi (BUMN) Sektor Minyak dan Gas Bumi

1. Penguasaan Negara atas Migas melalui PT Pertamina

Pertengahan tahun 1960-an seluruh aset Migas yang sedang beroperasi atau belum namun sudah terikat suatu perjanjian pertambangan telah kembali dikuasi oleh Pemerintah Indonesia. Pengelolaanya dilakukan melalui tiga perusahaan Negara yaitu PN Pertamin, PN Permina, dan PN Permigan. Pada tanggal 4 Januari 1966 berdasarkan surat Keputusan Menteri Urusan Migas Nomor 6/M/Migas/66 PN Permigan dibubarkan. Seluruh aset persahaan diserahkan kepada Negara dalam hal ini kepada Departemen Urusan Migas. Dengan demikian hanya tinggal dua perusahaan gas Negara yang diberikan wewenang untuk mengelola kekayaan Migas yakni PN Pertamin dan PN Permina.92

Guna meningkatkan efisiensi dan kinerja kedua perusahaan tersebut, dengan Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Migas Nomor 123/M/Migas/66 tanggal 24 Maret 1966 diadakan pengkhususan tugas-tugas PN Pertamin dan PN Permina. PN Permina ditugaskan untuk menyelenggarakan pengusahaan Migas dibidang produksi dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Sementara itu, PN Pertamin

92 Ibid., hal. 30.

ditugaskan untuk menyelenggarakan distribusi minyak dan hasil-hasil minyak di dalam negeri dan segala sesuatu yang berhubungan denganya.93

Puncakdari konsolidasi antara perusahaan-perusahaan Negara yang terlibat dalam pengelolaan pengusahaan Migas di Indonesia adalah dengan dileburnya PN Pertamin dan PN Permina. Berdasarkan perkembangan dan kemajuan yang dicapai PN Pertamina, maka dipandang perlu untuk memberikan landasan kerja baru yang lebih kuat guna meningkatkan kemampuan hasil usaha selanjutnya. Untuk itu pada tanggal 15 September 1971 didirikanlah Pertamina melalui UU Nomor 8 Tahun 1971.

Dimana di dalamnya mengatur peran Pertamina sebagai satu-satunya perusahaan milik Negara yang ditugaskan melaksanakan pengusahaan Migas mulai dari mengelola dan menghasilkan Migas dari ladang-ladang minyak di seluruh wilayah Indonesia. Kemudian mengolahnya menjadi berbagai produk dan menyediakan serta melayani kebutuhan bahan bakar Migas di seluruh Indonesia.94

Prinsip-prinsip dasar yang diatur dalam Undang-Undang No 8 Tahun 1971 adalah sebagai berikut:

a. Pertamina didirikan untuk menjalankan pengusahaan Migas yang meliputi kegiatan eksplorasi, ekploitasi, pemurnian dan pengolahan, pengangkutan dan penjualan dan bidang-bidang lain sepanjang masih ada hubungannya dengan pertambangan Migas;

b. Untuk dimaksud diatas, kepada Pertamina diberikan kekuasaan pertambangan atas seluruh wilayah hukum pertambangan Indonesia, sepanjang mengenai pertambangan Migas;

93Kementerian BUMN, Sejarah Pertamina, pada http://bumn.go.id/pertamina/halaman/47 (diakses pada tanggal 22 Maret 2019, pukul 10.20 WIB).

94 Rudi M. Simamora,, Hukum Minyak dan Gas Bumi, (Jakarta: Djambatan, 2000), hal .29.

c. Dengan pertimbangan tertentu, Pertamina dapat bekerjasama dengan pihak lain dalam menjalankan pengusahaan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan Migas dalam bentuk kontrak Production Sharing;

d. Diaturnya struktur perusahaan, permodalan, kepengurusan dan pembukuan sedemikian rupa. Sehingga dapat menjamin penyelenggaraan pengusahaan pertambangan Migas sesuai dengan semangat perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan UU Nomor 44/PRP tahun 1960, terdapat tujuan Pertamina yaitu:

a. Mencukupi kebutuhan Migas dalam negeri yang terus meningkat sebagai akibat pertambahan penduduk dan pelaksanaan pembangunan nasional.

b. Memenuhi kebutuhan data dan devisa untuk pembangunan nasional.

Melaksanakan penimbangan yang menguntungkan antara konsumsi dalam negeri dan ekspor.

c. Mempertahankan kedudukan Indonesia dalam pasar dunia.

d. Memperbesar pendapatan Negara yang berasal dari Migas.

e. Turut memecahkan masalah pengangguran.

f. Turut meningkatkan pendapatan nasional dan pendapatan perkapita untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

g. Melaksanakan pengusahaan Migas dengan memperoleh hasil yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dan Negara serta menyediakan, melayani dan memenuhi kebutuhan bahan bakar Migas untuk dalam negeri.

Seiring dengan waktu, menghadapi dinamika perubahan di industri Migas nasional maupun global, Pemerintah menerbitkan UU Migas. Sebagai konsekuensi penerapan UU tersebut, Pertamina beralih bentuk menjadi Pertamina (Persero) dan melepaskan peran gandanya. Peran regulator diserahkan ke lembaga pemerintah sedangkan Pertamina hanya memegang satu peran sebagai operator murni. Peran regulator dijalankan oleh BP MIGAS yang dibentuk pada tahun 2002. Sektor hulu, Pertamina membentuk sejumlah anak perusahaan sebagai entitas bisnis yang merupakan kepanjangan tangan dalam pengelolaan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak, gas, dan panas bumi, pengelolaan transportasi pipa Migas, jasa

pemboran, dan pengelolaan portofolio di sektor hulu. Wujud implementasi amanat UU Migas yang mewajibkan Pertamina (Persero) untuk mendirikan anak perusahaan guna mengelola usaha hulunya sebagai konsekuensi pemisahaan usaha hulu dengan hilir.

Setelah penerapan tersebut, penyelenggaraan kegiatan bisnis Public Service Obligation tersebut akan diserahkan kepada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat, dan transparan dengan penetapan harga sesuai yang berlaku di pasar. Pertamina didirikan berdasarkan akta Notaris Lenny Janis Ishak, SH Nomor 20 tanggal 17 September 2003 dan disahkan oleh Menteri Hukum & HAM melalui Surat Keputusan Nomor C-24025 HT.01.01 pada tanggal 09 Oktober 2003. Pendirian Perusahaan ini dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero), dan Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1998 dan peralihannya berdasarkan PP Nomor 31 Tahun 2003 Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Pertambangan Migas Negara (Pertamina) menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).95 Sesuai akta pendiriannya, maksud dari perusahaan perseroan adalah untuk menyelenggarakan usaha di bidang Migas, baik di dalam maupun di luar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang Migas tersebut. Adapun tujuan dari Pertamina adalah untuk:96

95Kementerian BUMN, Sejarah Pertamina, Op.Cit., hal. 47

96 Ibid.

a. Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perseroan secara efektif dan efisien.

b. Memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Guna mencapai maksud dan tujuan tersebut, Pertamina melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut:97

a. Menyelenggarakan usaha di bidang Migas beserta hasil olahan dan turunannya.

b. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat pendiriannya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang telah mencapai tahap akhir negosiasi dan berhasil menjadi milik Perseroan.

c. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas (LNG) dan produk lain yang dihasilkan dari kilang LNG.

d. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam nomor 1, 2, dan 3.

Berdasarkan dengan ketentuan dalam UU Migas, Pertamina tidak lagi menjadi satu-satunya perusahaan yang memonopoli industri Migas dimana kegiatan usaha Migas diserahkan kepada mekanisme pasar. Tujuan dari perusahaan persero ini adalah untuk mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan secara efektif dan efisien serta, memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Konsekuensi lain dari UU Migas adalah bidang hilir penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami era liberalisasi mulai November 2005, karena UU baru ini mengubah posisi Pertamina yang monopolistik ke posisi persaingan bebas. Organisasi perusahaan akan berubah

97 Ibid.

sesuai dengan karakteristik sebuah Holding Company. Visidan misi perusahaan semakin global serta paradigma bisnis lebih terdepan.98

Tujuan Perusahaan ini juga untuk membangun dan melaksanakan pengusahaan Migasyang meliputi eksplorasi, pemurnian, pengolahan, pengangkutan dan penjualan. Dalam arti seluas-luasnya untuk menciptakan kemakmuran rakyat dan Negara serta ketahanan Republik Indonesia. 99 Pertamina dalam kegiatan pertambangan di Indonesia dapat melakukan perluasan bidang-bidang usaha selama masih ada hubungannya dengan pengusahaan Migas serta berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan. Kuasa pertambangan tersebut diberikan pada batas dan wilayah serta syarat-syarat yang ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri Pertambangan dan Energi.100

Pertamina didirikan dengan maksud untuk meningkatkan baik produktivitas, efektivitas serta efisiensi operasi perminyakan nasional didalam wadah suatu integrated oil company dengan satu manajemen yang sempurna. Pada awal pembentukannya Pertamina menunjukkan kinerja dan hasil yang cukup baik.Pertamina telah mampu memulai dan memasuki era baru sebagai real player dalam industri Migas nasional dan internasional. Penerapan bentuk kontrak kerja production sharing mendorong laju pertumbuhan yang cukup berarti karena intensnya hubungan dan exposures sehubungan dengan kehadiran dan kerjasama dengan orang asing. Teknologi muktahir disamping semakin meningkatkan

98Ibid.

99Ibid.

100Ibid.

kepercayaaan kontraktor asing untuk menanamkan modalnya. Kegiatan eksplorasi dan produksi pun meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah kontrak production sharing.101

Pertamina dianggap sebagai jasa pengusahaan dan pengelolaan sehingga atas jasa tersebut pertamina akan mendapatkan imbalan jasa (service fee atau management fee). Imbalan jasa inilah yang menjadi milik pertamina.Sedangkan terhadap semua hasil dari pelaksanaan usaha pertambangan Migas, setelah dikurangi imbalan penggantian jasa, serta aset yang ada adalah milik Negara. Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan, bahwa Pertamina mengusahakan dan mengelola kekayaan milik Negara berupa Migas untuk kemakmuran bangsa dan atas jasanya tersebut pertamina mendapatkan imbalan.

Pertamina yang didirikan sejak 10 Desember 1957 merupakan perusahaan energi yang bergerak dari sektor upstream hingga sektor downstream. Perusahaan ini memiliki visi untuk menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia. Bisnis sektor hulu Pertamina yang dilaksanakan di beberapa wilayah di Indonesia dan luar negeri meliputi kegiatan di bidang-bidang eksplorasi, produksi, serta transmisi minyak, gas, panas bumi dan energi non-konvensional (misalnya: CBM, shale gas, dll.). Dalam menjalankan bisnis hulunya, Pertamina menjalankan kegiatan melalui Anak Perusahaan Hulu seperti PT Pertamina EP, PT Pertamina EP Cepu, PT Pertamina Drilling Services Indonesia, PT Pertamina Geothermal Energy, PT Pertamina

101 Rudi M. Simamora, Op.Cit., hal. 31.

Internasional EP, PT Pertamina EP Cepu Alas Dara Kemuning, serta PT Pertamina Hulu Energi.

Adapun bisnis sektor hilir Pertamina meliputi kegiatan pengolahan minyak mentah, pemasaran, niaga produk hasil minyak, gas dan petrokimia, dan bisnis perkapalan terkait untuk pendistribusian produk perusahaan. Di bidang pengolahan, saat ini Pertamina mengoperasikan 6 (enam) kilang minyak yang tersebar di seluruh Indonesia (Dumai, Plaju, Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Kasim) dengan total kapasitas sebesar 1,031 MBSD. Sedangkan terkait dengan pemasaran, Pertamina memiliki 7 (tujuh) Marketing Operation Region yang juga tersebar di seluruh Indonesia (Medan, Plaju, Jakarta, Semarang, Surabaya, Balikpapan, Makassar, dan Jayapura). Untuk menjalankan usahanya di sektor downstream, Pertamina juga membentuk beberapa anak perusahaan hilir, yaitu PT Pertamina Trans Kontinental, PT Pertamina Retail, PT Pertamina Lubricant, dan PT Pertamina Patra Niaga.

Berdasarkan uraian diatas terlihat bahwa kepada Pertamina diberikan wewenang yang sangat luas. Hal itu terlihat dari wilayah kerjanya, kegiatan usahanya, dan struktur perusahaan serta keuangannya. Kewenangan tersebut tidak lain dimaksudkan untuk mengoptimalkan kinerja Pertamina dalam mengemban amanat Pasal 33 UUD 1945.

2. Penguasaan Negara Atas Gas Bumi Melalui PT Perusahaan Gas Negara