Bab II Hasil Pengawasan terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan dan
4 Penguatan Tata Kelola Pemerintah dan Korporasi
BPKP mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan K/L, Pemda dan Korporasi melalui kegiatan pendampingan penerapan SPIP, evaluasi SPIP Korporasi, evaluasi kinerja BUMD-BLUD, pembinaan implementasi GCG, pencegahan tindak pidana korupsi dan pendampingan pengadaan barang dan jasa.
a. Pembinaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
Kualitas penyelenggaraan SPIP dapat diukur menggunakan tingkat kematangan (maturitas) dalam penyelenggaraan SPIP. Tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP pemerintah daerah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dinilai berdasarkan keberadaan sistem pengendalian inten yang telah dibangun oleh instansi pemerintah tampak sebagaimana tabel 12 di bawah.
Tabel 12
Hasil Maturitas SPIP Pemerintah Daerah Tahun 2016
No. Pemda Skor Kategori
1. Daerah Istimewa Yogyakarta 3,39 Terdefinisi
2. Kota Yogyakarta 3,33 Terdefinisi
3. Kab. Bantul 1,72 Rintisan
4. Kab. Sleman 3,28 Terdefinisi
5. Kab. Kulon Progo 3,20 Terdefinisi
6. Kab. Gunungkidul 1,44 Rintisan
Dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan SPIP, BPKP melakukan kegiatan pembinaan penerapan SPIP sebagai berikut:
1) Penilaian maturitas SPIP pada Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemkot Yogyakarta, Pemkab Sleman, Pemkab Kulon Progo.
2) Asistensi peningkatan maturitas SPIP pada Pemkab Kulon Progo dan Pemkab Gunungkidul.
3) Pendampingan Bimtek penilaian Maturitas SPIP dan Penyusunan RTP pada Inspektorat Kab Bantul
4) Narasumber Implementasi SPIP dan penyusunan RTP pada Pemkab Gunungkidul.
5) Narasumber workshop evaluasi pengukuran maturitas pemerintah Kota Yogyakarta.
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta
39
7) Narasumber penyusunan SPIP pada Dinas Pendidikan Kab Kulon Progo. 8) Narasumber evaluasi penerapan SPIP pada Pemkab Kulon Progo
9) Narasumber pelatihan SPIP pada Bappeda Kabupaten Kulon Progo
Permasalahan dalampenyelenggaraan SPIP di lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain:
1) Pemahaman konsep SPIP belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh stakeholder. 2) Reviu atas penilaian risiko belum dilaksanakan secara periodik dan terstruktur
untuk perbaikan pengendalian.
3) Keterbatasan infrastruktur untuk melakukan pemantauan otomatis yang terintegrasi
Secara umum, langkah yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan SPIP di lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah:
1) Meningkatkan pemahaman atas konsep SPIP melalui alih pengetahuan. 2) Meningkatkan jumlah SDM penggerak SPIP.
3) Membangun komitmen yang ditunjukkan dalam penetapan target maturitas SPIP di RPJMD, roadmap penyelenggaraan SPIP, penganggaran dan pemantauan untuk membangun dan mengimplementasikan SPIP.
4) Melakukan penilaian risiko untuk menyusun rencana tindak pengendalian dalam rangka memperbaiki dan menyempurnakan pengendalian yang telah ada.
5) Menginternalisasikan pengendalian intern sebagai proses yang melekat/terintegrasi pada kegiatan.
6) Melakukan evaluasi secara berkala dan terdokumentasi atas efektivitas prosedur pengendalian dan membangun sistem pemantauan otomatis yang terintegrasi dalam kegiatan.
b. Evaluasi Sistem Pengendalian Internal Korporasi
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan pembinaan pada BUMD untuk dapat meningkatkan efektivitas pengendalian internal melalui evaluasi sistem pengendalian intern.
1) Evaluasi SPI PDAM
Hasil evaluasi PDAM Kabupaten Bantul mencapai nilai rata-rata 65,23 menunjukkan bahwa PDAM telah cukup efektif dalam penyelenggaraan pengendalian intern yaitu telah diterapkan dan didokumentasikan namun belum
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta
40
dilakukan evaluasi secara berkala. Uraian hasil evaluasi per unsur tampak pada tabel 13 di bawah.
Tabel 13
Hasil Evaluasi SPI PDAM
No Komponen Bobot Nilai Capaian Capaian Efektivitas % I Lingkungan Pengendalian 30 20,56 68,55 II Penilaian Risiko 20 3,91 19,57 II Kegiatan Pengendalian 20 15,32 76,6 IV Informasi Komunikasi 15 15 100 V Pemantauan 15 10,43 69,52 Total 100 65,23 65,23
Meskipun telah cukup efektif namun masih terdapat kelemahan dalam implementasi sehingga diperlukan perbaikan praktek-praktek sistem pengendalian intern.
2) Evaluasi Satuan Kerja Audit Intern PT Bank BPD Daerah Istimewa Yogyakarta Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakrta telah melakukan evaluasi Satuan Kerja Audit Intern PT Bank BPD DIY untuk tahun buku 2014, 2015, 2016 dengan simpulan sebagai berikut :
a) PKAT telah lengkap dan telah sesuai dengan standar dalam SPFAIB dan telah memperoleh persetujuan Direksi serta diketahui Dewan Komisaris. b) Penempatan pegawai SPI belum sepenuhnya bebas dari conflict of interest
dan sesuai kebutuhan.
c) Peningkatan kualitas auditor belum optimal.
c. Evaluasi Kinerja BUMD-BLUD
Evaluasi kinerja BUMD/BLUD bertujuan membantu manajemen dalam mendorong pencapaian tujuan secara ekonomis, efisien, efektif, memperbaiki dan meningkatkan kinerja, serta memberikan bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan oleh pihak yang bertanggung jawab. Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah melaksanakan kegiatan pengawasan sebagai berikut:
1) Evaluasi BLUD
Evaluasi kinerja dilaksanakan pada RSUD Prambanan Kabupaten Sleman dan RSJ Ghrasia mencakup tiga indikator kinerja yaitu kinerja keuangan, kinerja
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta
41
pelayanan dan kinerja mutu pelayanan serta penilaian terhadap capaian standar pelayanan minimal. Hasil evaluasi BLUD RSUD terlihat pada tabel berikut.
Tabel 14
Hasil Evaluasi Kinerja BLUD
No. RSUD Capaian Predikat
1 RSUD Prambanan 75,11 A (Baik)
2 RSJ Ghrasia 75,63 A (Baik)
Dari hasil evaluasi diketahui bahwa:
a) Kondisi SDM pada RSJ Ghrasia belum sesuai dengan kebutuhan jabatan fungsional menurut analisis beban kerja yang telah ditetapkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
b) Struktur organisasi RSUD Prambanan Kabupaten Sleman belum sesuai dengan kriteria Rumah Sakit Tipe C.
2) Evaluasi Kinerja BUMD
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta telah melakukan evaluasi kinerja tahun 2015 pada lima PDAM di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. PDAM telah menunjukkan kinerja baik dan meningkat dari tahun sebelumnya dengan hasil sebagaimana tampak pada tabel 15 di bawah.
Tabel 15
Hasil Evaluasi Kinerja PDAM Tahun 2013-2015
No PDAM
Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015
Nilai Kinerja Tingkat Kesehatan Nilai Kinerja Tingkat Kesehatan Nilai Kinerja Tingkat Kesehatan 1 Kota Yogyakarta 60,12 3,145 60,22 3,20 63,22 3,35 2 Kab. Sleman 59,27 3,175 60,97 2,99 61,62 3,03 3 Kab. Gunungkidul 61,15 2,945 60,09 3,05 65,83 3,08 4 Kab. Bantul 60,24 2,990 61,32 2,82 62,74 3,24
5 Kab. Kulon Progo 64,75 3,480 63,05 3,37 63,80 3,38
Pengelolaan PDAM pada umumnya belum sepenuhnya menerapkan kebijakan pengelolaan aset dan belum memiliki Geographic Information System (GIS) atau peta jaringan pipa dan data pelanggan secara menyeluruh. Selain itu, diperlukan
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta
42
kebijakan konservasi daerah-daerah tangkapan air untuk menjamin ketersediaan air baku dan untuk menjaga debit air kepada pelanggan tidak mengalami penurunan. 3) Evaluasi Perusahaan Umum Daerah
Perusahaan daerah didirikan oleh pemerintah daerah yang modalnya sebagian besar/seluruhnya dari pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun pencapaian keuntungan finansial yang merupakan bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hasil evalusi kinerja Perusahaan Umum Daerah Aneka Usaha Kabupaten Kulon Progo Tahun Buku 2015 mencapai 60,58 atau masuk kategori cukup. Hal ini menunjukan masih diperlukan dorongan pemerintah daerah dalam upaya perbaikan agar perusahaan dapat lebih memberikan konstribusi bagi perekonomian daerah antara lain dengan cara:
a) Mendorong optimalisasi pengelolaan keuangan perusahaan, dan meningkatkan investasi untuk memanfaatkan idle capacity aset lancar.
b) Melaksanakan riset pengembangan usaha.
d. Implementasi Good Corporate Governance (Khusus BUMN/D)
Pengembangan dan penerapan Good Corporate Governance merupakan wujud komitmen perusahaan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitasnya dalam jangka panjang yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan berupa peningkatan kinerja (performance) dan penciptaan citra perusahaan yang baik (good corporate image).
BPKP melaksanakan kegiatan penguatan GCG pada BUMN dan BUMD antara lain melaui kegiatan:
1) Diagnostic Assesment GCG pada PDAM Kulon Progo
Dari hasil diagnostic assesment diketahui penerapan GCG pada PDAM Kabupaten Kulon Progo masih memerlukan perbaikan pada aspek komitmen, kebijakan GCG, partisipasi GCG dan pengungkapan Informasi. Kami telah menyarankan PDAM bersama partisipan GCG untuk mengambil langkah-langkah perbaikan pada weakness area GCG tersebut.
2) Bimbingan teknis atas self assessment GCG pada PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.
3) Bimbingan teknis penyusunan Corporate Plan pada PDAM Kabupaten Kulon Progo. Penyusunan corporate plan PDAM merupakan salah satu bagian yang tidak
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta
43
dapat dipisahkan dari rencana jangka menengah pemerintah daerah. Corporate plan harus sejalan dengan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) Kabupaten.
e. Pencegahan Tindak Pidana Korupsi
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta berperan aktif dalam upaya pencegahan tindak pidana korupsi melalui penerapan strategi edukatif (pre-emptif) dan strategi preventif, meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1) Sosialisasi program anti korupsi focus group Pramuka Penegak dari Wilayah Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya gerakan pramuka tentang permasalahan korupsi dan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan memerangi korupsi
2) Bimbingan teknis Implementasi Fraud Control Plan pada RSUD Wonosari Kabupaten Gunungkidul.
Fraud Control Plan merupakan upaya prenventif berupa program yang dirancang secara spesifik untuk mencegah, menangkal, dan memudahkan pengungkapan kejadian berindikasi fraud dalam suatu organisasi.
3) Narasumber diskusi dengan tema "Sekolah Ramah Bebas Pungli dan Gratifikasi" pada Dinas Dikpora Kabupaten Gunungkidul.
Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta diskusi mengenai pengertian pungli dan gratifikasi dan kaitannya dengan peraturan perundang-undangan.
4) Bimbingan teknis audit investigasi, penghitungan kerugian keuangan negara dan pemberian peterangan ahli pada Inspektorat Kabupaten Sleman dan Inspektorat Kota Yogyakarta.
Dengan kegiatan tersebut diharapkan menambah pemahaman auditor Inspektorat Sleman terkait audit investigasi, penghitungan kerugian keuangan negara dan pemberian peterangan ahli sebagai bekal dan tambahan ilmu dalam melakukan kegiatannya.
5) Narasumber dalam Sosialisasi Pembangunan Zona Integritas menuju wilayah bebas dari korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani di lingkungan Kantor Kemenag Kabupaten Gunungkidul dan Pemda Sleman.
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta
44
6) Pendampingan pelaksanaan administrasi pengadaan tanah untuk pembangunan bandara baru Yogyakarta tahun 2015 pada Kanwil BPN DIY dan PT angkasa Pura I.
f. Pengadaan Barang dan Jasa
BPKP telah melakukan kegiatan pengawasan pada beberapa K/L dan Pemda untuk mendorong agar proses PBJ dilakukan mengikuti prinsip ekonomis, efektif dan efisien sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan aset yang dicatat mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain:
1) Reviu atas rencana pengadaan tanah pada Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta dengan anggaran yang tersedia sebesar Rp6.846.325.000,00 dengan volume 3.077 m2. Berdasarkan hasil reviu, proses pengadaan tanah yang dilakukan oleh BBTKLPP Yogyakarta telah memenuhi ketentuan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 yang diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. 2) Bimbingan dan konsultasi pengadaan pekerjaan konstruksi rehabilitasi gedung
ruang pembinaan pada Rumah Tahanan Klas II B Wonosari sebesar Rp950.860.000,00 yang bersumber dari APBN-P Tahun 2016.
Telah disarankan kepada Kepala Rutan Wonosari untuk mengoptimalkan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa, yaitu melengkapi berita acara penyerahan lokasi kerja, meminta dokumen program mutu dari penyedia konstruksi dan memerintahkan konsultan manajemen konstruksi dan konsultan perencana melakukan pengecekan lapangan.
3) Bimbingan dan konsultasi pengadaan barang dan jasa pada Universitas Negeri Yogyakarta, dilaksanakan untuk pembangunan gedung pasca sarjana dengan sumber dana PNBP sebesar Rp24.000.000.000,00 dan pembangunan 13 gedung penunjang perkuliahan dengan sumber dana pinjaman luar negeri (IDB) sebesar Rp74.917.515.000,00
Terhadap permasalahan yang dijumpai, telah disarankan kepada Rektor Universitas Negeri Yogyakarta antara lain:
a) ULP membuat dokumen evaluasi terhadap penawaran yang dibawah 80% dari HPS.
Perwakilan BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta
45
b) Meneliti kembali RAB atau EE yang dihasilkan oleh PT Pola Data Consultant terutama pada harga satuan yang mengalami perubahan, sehingga HPS yang dihasilkan mendekati harga yang wajar.
c) Melengkapi berita acara evaluasi prakualifikasi penyedia jasa konsultasi perencanaan, berita acara hasil pelelangan (BAHP) dan berita acara evaluasi administrasi dan teknis.