• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.3 Pengujian Asumsi Klasik

4.2.3.1 Pengujian Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah ditemukan ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Uji Deteksi ada atau tidaknya Heteroskedastisitas berpedoman pada titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi Heteroskedastisitas (Singgih, 2000)

Berdasarkan data yang diperoleh dari instansi terkait selanjutnya dengan bantuan komputer pada gambar 4.2 diperoleh uji deteksi Heteroskedastisitas yang menunjukkan titik-titik menyebar secara acak dan tersebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, artinya model regresi tidak menunjukkan terjadinya Heteroskedastisitas.

4.2.3.2 Pengujian Autokorelasi

Uji Autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah ditemukan korelasi antar variabel kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya) yang dapat dilihat pada tabel 4.5.

Uji deteksi ada atau tidaknya Autokorelasi berpedomen besaran Durbin-Watson (D-W) yang dari peroleh atas model regresi, apabila :

 Angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif.

 Angka D-W diantara -2 sampai +2berarti tidak ada autokorelasi

positif.

 Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif (Singgih,

2000)

Berdasarkan data yang diperoleh dari instansi terkait selanjutnya dengan bantuan komputer diperoleh uji deteksi Autokorelasi dengan angka D-W 0,372 yaitu antara -2 sampai +2, artinya pada model tidak terdapat autokorelasi.

Tabel 4.5 Uji Autokorelasi

Model R R Square Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .911a .830 .812 65483966017.780 .372

a. Predictors: (Constant), Lain-lain Pad yang Sah, Retribusi Daerah, Pajak Daerah b. Dependent Variable: PDRB Harga Berlaku

4.2.3.3 Pengujian Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah ditemukan korelasi antar variabel independent

Uji deteksi ada atau tidaknya multikolinieritas berpedoman pada besaran VIF dan tolerance suatu model regresi yang dapat dilihat pada tabel 4.6.

Variabel yang menyebabkan multikolinieritas dapat dilihat dari

 Mempunyai nilai varians inflation factor (VIF) lebih besar daripada nilai 10

 Mempunyai nilai Tolerance mendekati lebih kecil daripada 0,1

(Duwi Priyatno, 2009)

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS dan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Toba Samosir, selanjutnya dengan bantuan komputer diperoleh hasil uji multikolinieritas menunjukkan nilai tolerance lebih dari 0,1 dan nilai VIF kurang dari 10, sehingga tidak terjadi multikolinieritas antar variabel independen.

Tabel 4.6 Uji Multikolinearitas

Model

Correlations Collinearity Statistics

Zero-order Partial Part Tolerance VIF

1 (Constant)

Pajak Daerah .814 .235 .100 .265 3.778

Retribusi Daerah .829 .591 .302 .298 3.354

Lain-lain Pad yang Sah -.615 -.597 -.306 .784 1.276

a. Dependent Variable: PDRB Harga Berlaku

4.2.4 Pengujian Hipotesis

Data Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Lain-lain PAD yang Sah berpengaruh terhadap PDRB diuji secara statistik pada α = 5% dengan hasil seperti pada tabel berikut :

Tabel 4.7 Hasil Uji Statistik Pengaruh variabel Pajak Daerah, Retribusi Daerah dan Lain-lain PAD yang Sah Terhadap PDRB

Variabel Model Significant

Koefisien Regresi T –hitung (p)

Konstanta 333196004382.62 6.344 0

Pajak Daerah 173.831 1.281 0.211

Retribusi Daerah 567.758 3.88 0.001

Lain-lain PAD yang Sah -52.662 -3.933 0.001

T -tabel = 1.701 F -tabel = 2.947 R2 = 0.911 Adj.R.Square = 0.812 F -hitung = 45.575 D/W = 0.372

4.2.4.1 Uji Statistik secara Partial

Berdasarkan Tabel 4.6 di atas maka diperoleh hasil uji statistik dengan memasukkan seluruh variabel bebas meliputi : (1) Pajak Daerah, (2) Retribusi Daerah. dan (3) Lain-lain PAD yang Sah dengan hasil berikut :

1. Variabel Pajak Daerah

Pajak daerah tidak berpengaruh nyata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), hal ini terlihat dari nilai t hitung =1.281 <t tabel = 1.701 pada α 5%. Dapat pula dikatakan bahwa pajak

daerah tidak berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan kepercayaan 95%. Tidak signifikannya pengaruh pajak daerah terhadap PDRB disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah yang digunakan dalam membiayai pembangunan daerah melalui APBD. Semakin tinggi penerimaan daerah dari pajak daerah seharusnya akan meningkatkan dana untuk pembangunan yang pada akhirnya akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pajak adalah salah satu bentuk peran masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi dan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai pemerintahan dan pembangunan daerah. Permasalahan yang dihadapi oleh daerah umumnya berkaitan dengan

penggalian sumber-sumber Pajak daerah, yang merupakan komponen PAD yang memiliki peran yang terbesar. Untuk itu diperlukan intensifikasi dan ekstensifikasi subjek dan objek pendapatan.

Dalam rangka intensifikasi kemampuan keuangan daerah, Pemerintah daerah melakukan berbagai kebijakan perpajakan, diantaranya dengan menetapkan UU Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pemberian kewenangan dalam pengenaan pajak dan retribusi daerah, diharapkan dapat mendorong Pemerintah Daerah terus berupaya untuk mengoptimalkan PAD, khususnya yang berasal dari Pajak Daerah. Pajak Daerah diharapkan bisa menjadi tulang punggung PAD. Jenis Pajak Daerah yang ada di Kabupaten Toba Samosir antara lain:

a) pajak reklame; b) pajak hiburan;

c) pajak penerangan jalan;

d) pajak pengambilan bahan galian golongan c;

Meski demikian, untuk mencegah hal-hal yang dapat merugikan masyarakat dan dunia usaha, UU membatasi pajak dan retribusi yang dapat dipungut oleh Pemerintah Daerah sebagai berikut: a) pendapatan yang cukup dan elastis; b) adil dan merata secara vertikal dan secara horizontal ; c) administrasi yang fleksibel ; d) secara politis

dapat diterima oleh masyarakat; dan d) Non-distorsi terhadap perekonomian.

Untuk mengoptimalkan potensi PAD, Pemerintah daerah memiliki dua alat utama (measures), yaitu policy measures dan

administrative measures. Policy Measures mengandalkan kebijakan

yang berwujud penerbitan ketentuan-ketentuan Pemerintah daerah yang menyangkut masalah pokok.

Pemerintah daerah melalui perda menetapkan obyek pajak, mengenai apa saja yang akan dikenai Pajak (basis transaksi / kebendaan). Kebijakan pungutan pajak daerah yang berdasarkan Perda tidak boleh tumpang tindih dengan pungutan pusat akan menimbulkan duplikasi pungutan. “Objek Pajak daerah bukan merupakan objek Pajak pusat”.

Peraturan daerah juga menetapkan subyek pemungutan Pajak, mengenai siapa saja yang akan dipajaki, baik sebagai pembayar, penanggung maupun entitas yang diminta membantu untuk mengumpulkan Pajak (collecting agent).

Ketentuan dalam perda juga menetapkan Tarif Pajak. Tarif bisa berbentuk prosentase atau jumlah rupiah tertentu. Tarif untuk Pajak Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan daerah, tetapi tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam UU.

Alat (measures) lain yang perlu dilaksanakan langkah-langkah administratif. Langkah ini berkaitan dengan kapasitas administratif pemerintah daerah, terutama di bidang yang berkaitan dengan pendapatan daerah seperti organisasi, sistem dan prosedur, sistem informasi, sumberdaya manusia.

Selanjutnya, ekstensifikasi perpajakan juga dapat dilakukan, yaitu melalui kebijaksanaan Pemerintah untuk memberikan kewenangan perpajakan yang lebih besar kepada daerah pada masa mendatang. Untuk itu, perlu adanya perubahan dalam sistem perpajakan Indonesia sendiri melalui sistem pembagian langsung atau beberapa basis Pajak Pemerintah Pusat yang lebih tepat dipungut oleh daerah.

Pembangunan yang dilakukan dapat meningkatkan PDRB Kabupaten Toba Samosir. Ini juga menunjukkan peran serta pajak daerah dalam meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Toba Samosir.

2. Variabel Retribusi Daerah

Retribusi daerah berpengaruh nyata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), hal ini dilihat dari nilai t hitung = 3.880 > t tabel = 1.701 pada α 5%. Dapat pula dikatakan bahwa retribusi daerah

berpengaruh signifikan terhadap PDRB dengan tingkat kepercayaan 95%. Dalam penelitian ini sektor retribusi daerah berpengaruh secara

signifikan terhadap PDRB disebabkan karena retribusi daerah juga merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang digunakan dalam membiayai pembangunan daerah melalui APBD. Didalam retribusi daerah masyarakat dikenakan retribusi karena telah menikmati fasilitas yang disediakan pemerintah daerah. Sehingga semakin jelas bahwa penerimaan retribusi daerah dapat langsung dirasakan oleh masyarakat manfaatnya. Karena dana yang dikumpulkan dari retribusi daerah tersebut digunakan pemerintah untuk pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat setempat. Dan semakin tinggi pemerintah daerah dari retribusi akan meningkatkan dana untuk pembangunan yang pada akhirnya akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ini juga menunjukkan peran serta retribusi daerah dalam meningkatkan PDRB Kabupaten Toba Samosir.

Untuk meningkatkan pelaksanaan pembangunan dan pemberian pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan pertumbuhan perekonomian di daerah, diperlukan penyediaan sumber-sumber pendapatan asli daerah yang hasilnya memadai. Upaya peningkatan penyediaan pembiayaan dari sumber-sumber tersebut antara lain, dilakukan dengan peningkatan kinerja pemungutan, penyempurnaan dan penambahan jenis retribusi daerah, serta pemberian keleluasaan bagi daerah untuk menggali sumber-sumber penerimaan khususnya dari sektor Retribusi Daerah.

Pemerintah Kabupaten Toba Samosir melalui Peraturan Daerahnya telah menetapkan jenis-jenis retribusi daerahnya yaitu : a) retribusi parkir ditepi jalan umum;

b) retribusi terminal;

c) retribusi izin usaha dan trayek angkutan; d) retribusi tempat pendaratan kapal; e) retribusi pelayanan kesehatan;

f) retribusi penyelenggaraan pendaftaran penduduk dan catatan

sipil, dan

g) retribusi pendaftaran perusahaan.

Dari analisa ini dapat pula dilihat bahwa pengenaan retribusi daerah di wilayah Kabupaten Toba Samosir bersifat positif yang artinya dapat meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

3. Variabel Lain-lain PAD yang sah

Lain-lain PAD yang sah berpengaruh nyata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ini ter lihat dari nilai t hitung = 3.933 > t tabel = 1,701 pada α 5%. Dapat pula dikatakan bahwa lain-lain PAD yang sah berpengaruh signifikan terhadap PDRB dengan tingkat kepercayaan 95%. Dalam penelitian ini pemasukan lain-lain PAD yang sah memberikan pengaruh signifikan terhadap PDRB.

Merupakan seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan, yang meliputi hibah, dana darurat, dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan pemerintah. Hibah merupakan bantuan berupa uang, barang, dan/atau jasa yang berasal dari pemerintah, masyarakat, dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri yang tidak mengikat.

Jenis lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah sesuai UU No. 33 Tahun 2004 disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis Pajak Daerah, Retribusi Daerah, dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang antara lain: hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan secara tunai atau angsuran/cicilan, jasa giro, pendapatan bunga, penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah, penerimaan komisi, potongan atau bentuk lain sebagaimana akibat dari penjualan atau pengadaan barang dan jasa oleh daerah, penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

4.2.4.2 Uji Statistik Secara Serentak

Berdasarkan Nilai F –tab dan F –hit diperoleh F –hit > F –tab; 45.575 > 2.947 artinya secara serentak variabel bebas meliputi : (1)

Pajak Daerah, (2) Retribusi Daerah dan (3) Lain-lain PAD yang Sah berpengaruh signifikan terhadap PDRB.

Secara serentak variabel bebas meliputi : (1) Pajak Daerah, (2) Retribusi Daerah dan (3) Lain-lain PAD yang Sah, dapat menjelaskan

variasi perubahan yang terjadi pada variabel PDRB sebesar 81,2%. Hal

ini ditunjukkan oleh nilai R-Square sebesar 0.812 sedangkan sisanya 8,8% dipengaruhi oleh faktor lain.

Berdasarkan hasil pengolahan data seperti pada tabel 4.6 diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

PDRB = 333196004382.62 + 173,831PD + 567,758 RD – 56,662 LPAD

Dimana :

PD = Pajak Daerah

RD = Retribusi Daerah

LPAD = Lain-lain PAD yang sah

PDRB = Produk Domestik Regional Bruto

Dokumen terkait