• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4.4 Pengujian Asumsi Klasik

Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui distribusi data dalam suatu

variabel penelitian yang akan digunakan dalam penelitian. Data yang baik dan

layak digunakan adalah data yang memiliki distribusi atau sebaran normal.

Normalitas data dapat dilihat dari hasil tingkat signifikansi pada uji Kolmogorov-

Smirnov. Berdasarkan hasil uji normalitas data dengan menggunakan uji

Kolmogorov-Smirnov dapat disimpulkan bahwa data memiliki distribusi normal.

Hal ini dapat dilihat pada hasil uji nilai signifikansi pada uji Kolmogorov-

Smirnov sebesar 0,150 sehingga lebih besar dari 0,05. Hasil pengujian yang

dilakukan dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Pengujian Kolmogorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 48

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation 2.44695051 Most Extreme Differences Absolute .164 Positive .084 Negative -.164 Kolmogorov-Smirnov Z 1.137

Asymp. Sig. (2-tailed) .150

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Berdasarkan Tabel 4.9 dapat dilihat hasil uji normalitas data dengan

menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dapat disimpulkan bahwa data memiliki

distribusi normal. Hal ini dapat dilihat pada hasil uji nilai signifikansi pada uji

Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,150 sehingga lebih besar dari 0,05. Hasil

pengujian yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 4.9.

4.4.2 Pengujian Multikolinearitas

Pengujian multikolinearitas dimaksudkan untuk menguji apakah

ditemukan atau tidak korelasi diantara variabel-variabel bebas/variabel

independen. Untuk dapat melihat ada tidaknya multikolinearitas dengan melihat

angka colinierity statisticyang ditunjukkan oleh nilai Variance Inflation Factor

(VIF) dan nilai tolerance, dengan kriteria: jika nilai VIF > dari 10 dan nilai

tolerance < dari 0,1 maka variabel bebas yang ada memiliki masalah

multikolinearitas.

Tabel 4.10. Hasil Pengujian Multikolinearitas

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constan t) 1.427 5.412 .264 .793 PSAKD .567 .116 .589 4.904 .000 .187 .180 KSDM .201 .147 .172 1.367 .178 .612 1.635 PTI .187 .180 .117 1.036 .306 .754 1.326

Berdasarkan Tabel 4.10 dapat dilihat hasil pengujian yang dilakukan

dalam penelitian ini menunjukkan bahwa nilai tolerance colinierity statistic adalah

PSAKD sebesar 0.187, KSDM sebesar 0.612, dan PTI sebesar 0.754 atau lebih

besar dari 0.10 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) adalah PSAKD sebesar

0.180, KSDM sebesar 1.635, dan PTI sebesar 1.326 atau lebih kecil dari 10. Dari

hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa model regresi yang akan diuji

terbebas dari masalah multikolinearitas.

4.4.3 Pengujian Heteroskedastisitas

Pengujian heteroskedastisitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah

dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu pengamatan

ke pengamatan lain. Pengujian dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya pola

tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada grafik plot (scatter-

plot) antara nilai prediksi variabel terkait (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).

Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut

homokedastisitas, dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi

Gambar 4.1. Grafik Scatter Plot Pengujian Heteroskedastisitas

Berdasarkan Gambar 4.1 dapat dilihat hasil pengujian yang dilakukan

menyimpulkan bahwa penyebaran plot-plot masing-masing variabel tidak

tertumpu pada satu titik atau tidak membentuk pola tersendiri melainkan

menyebar secara acak baik di atas ataupun di bawah nilai 0 sehingga model

regresi yang akan diuji terbebas dari asumsi heteroskedastisitas.

4.5 Pengujian Hipotesis

Setelah dilakukan pengujian awal terhadap data penelitian berikut akan

dilakukan uji hipotesis 1 dengan menggunakan analisis regresi berganda

a. Pengujian Hipotesis 1

1. Analisis Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi ( ) merupakan suatu nilai (nilai proporsi) yang

mengukur seberapa besar kemampuan variabel-variabel bebas yang digunakan

dalam persamaan regresi, dalam menerangkan variasi variabel tak bebas

(Supranto, 2005, Gujarati, 2003). Nilai koefisien determinasi berkisar antara 0 dan

1. Nilai koefsien determinasi yang kecil (mendekati nol) berati kemampuan

variabel-variabel tak bebas secara simultan dalam menerangkan variasi variabel

tak bebas amat terbatas. Nilaikoefisien determinasi yang mendekati satu

berarti variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang

dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel bebas.

Tabel 4.11. Uji Koefisien Determinasi Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .758a .575 .546 2.529

a. Predictors: (Constant), PTI, PSAKD, KSDM

Sumber : Data Primer yang diolah, 2016

Berdasarkan Tabel 4.11, nilai koefisien determinasi terletak pada

kolom R-Square. Diketahui nilai koefisien determinasi sebesar . Nilai

tersebut berarti Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah, Kapasitas Sumber

Daya Manusia, dan Pemanfaatan Teknologi Informasi mempengaruhi secara

simultan atau bersama-sama terhadap variabel Kualitas Laporan Keuangan

1. Uji Simultan (Uji-F)

Uji signifikansi koefisien regresi parsial secara menyeluruh merupakan

suatu uji untuk menguji apakah seluruh koefisien regresi parsial secara

menyeluruh atau simultan sama dengan nol atau tidak (Gujarati, 2003, Supranto,

2005). Dengan kata lain, menguji apakah variabel Penerapan Sistem Akuntansi

Keuangan Daerah, Kapasitas Sumber Daya Manusia, dan Pemanfaatan Teknologi

Informasi secara bersamaan atau simultan mempengaruhi variabel Penyusunan

Laporan Keuangan.

Cara pengambilan keputusan terhadap hipotesis dapat dilakukan dengan

membandingkan nilai probabilitas dengan nilai tingkat signifikansi, yakni .

Jika nilai probabilitas tingkat signifikansi yang digunakan, dalam penelitian

ini , maka dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel bebas secara

simultan tidak berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Jika nilai probabilitas

tingkat signifikansi , maka dapat disimpulkan bahwa paling tidak

terdapat satu variabel bebas yang mempengaruhi variabel Kualitas Laporan

Keuangan Pemerintah Daerah.

Tabel 4.12. Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 380.397 3 126.799 19.825 .000b

Residual 281.416 44 6.396

Total 661.813 47

a. Dependent Variable: KLKPD

b. Predictors: (Constant), PTI, PSAKD, KSDM

Tabel 4.12. menunjukkan bahwa F hitung adalah sebesar 19.825 > F tabel

2.82 dengan taraf signifikansi sebesar 0.000 < 0.05. Hasil tersebut menunjukkan

bahwa secara bersama-sama variabel penerapan sistem akuntansi keuangan

daerah, kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi

dalam penelitian ini mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap kualitas

laporan keuangan pemerintah daerah.

3. Uji Parsial (Uji-t)

Uji signifikansi koefisien regresi parsial secara individu merupakan suatu

uji untuk menguji apakah nilai dari koefisien regresi parsial secara individu

bernilai nol atau tidak (Gujarati, 2003, Supranto, 2005).

Tabel 4.13. Uji Parsial (Uji-t)

Sumber : Data Primer yang diolah, 2016

Cara pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan membandingkan

nilai probabilitas atau Sig. dengan nilai tingkat signifikansi, yakni . Jika nilai

probabilitas tingkat signifikansi yang digunakan, dalam penelitian ini

, maka nilai koefisien regresi parsial . Hal ini berarti pengaruh

antara variabel bebas terhadap variabel Penyusunan Laporan Keuangan tidak

signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 5%. Namun jika nilai

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.427 5.412 .264 .793 PSAKD .567 .116 .589 4.904 .000 KSDM .201 .147 .172 1.367 .178 PTI .187 .180 .117 1.036 .306

probabilitas < tingkat signifikansi yang digunakan, maka nilai koefisien regresi

parsial . Hal ini berarti pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel

Penyusunan Laporan Keuangan signifikan secara statistik pada tingkat

signifikansi 5%.

Hasil t hitung yang ada selanjutnya dibandingkan dengan nilai t tabel, untuk

kesalahan 5 % uji dua pihak dan dk = n – 4 = 48, maka diperoleh t tabel = 2,01536.

Berdasarkan hasil Tabel 4.13, uji hipotesis yang telah dilakukan, terlihat

model regresi penelitian adalah sebagai berikut:

Ŷ = 1,427 + 0,567X1 + 0,201X2 + 0,187X3 + e

Secara parsial, pengaruh masing-masing variabel independen dapat

diuraikan sebagai berikut:

a. PSAKD mempunyai t hitung = 4,904 > t tabel = 2,01536 dan memiliki nilai

signifikansi = 0,000 < α = 5% maka dapat disimpulkan penerapan sistem akuntansi keuagan daerah pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas

laporan keuangan pemerintah daerah.

b. KSDM mempunyai t hitung = 1,367 < t tabel = 2,01536 dan memiliki nilai

signifikansi = 0,178 > α = 5%, maka dapat disimpulkan bahwa KSDM berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap kualitas laporan

keuangan pemerintah daerah.

c. PTI mempunyai t hitung = 1,1036 < t tabel = 2,01536 dan memiliki nilai

berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap kualitas laporan

keuangan pemerintah daerah.

b. Pengujian Hipotesis 2

Variabel Moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah

hubungan antara satu variabel dengan variabel lain (Syafrizal:2014). Menurut

Ghozali (2013) menyatakan terdapat tiga cara menguji regresi dengan varaibel

moderating, yaitu: (1) uji interaksi (MRA), (2) uji nilai selisih mutlak, dan (3) uji

residual. Dalam penelitian ini digunakan ujiinteraksi (MRA). Moderated

Regression Analysis (MRA) atau uji Intraksi menggunakan pendekatan analitik

yang mempertahankan integritas sampel dan memberikan dasar untuk mengontrol

pengaruh variabel mediator.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji intraksi. Pengujian hipotesis 2

ini dilakukan untuk melihat pengaruh penerapan sistem akuntansi keuangan

daerah dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating yang dilakukan

dengan menggunakan metode uji intraksi.

Tabel 4.14 Uji Signifikansi Komitmen Organisasi dalam Memoderasi Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah terhadap KLPD

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 18.455 16.127 1.144 .259 PSAKD .295 .363 .306 .812 .421 KO -.235 .505 -.372 -.466 .643 Moderat .010 .011 .844 .852 .399 a. Dependent Variable: KLKPD

Diketahui berdasarkan Tabel 4.14. nilai Sig. dari intraksi X1.X4 adalah

0,399, yakni lebih besar dari α = 0,05. Hal ini berarti variabel komitmen organisasi tidak mampu memoderasi hubungan antara penerapan sistem akuntansi

keuangan daerah dan kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji intraksi. Pengujian hipotesis 2

ini dilakukan untuk melihat pengaruh kapasitas sumber daya manusia dengan

komitmen organisasi sebagai variabel moderating yang dilakukan dengan

menggunakan metode uji intraksi.

Tabel 4.15 Uji Signifikansi Komitemen Organisasi dalam Memoderasi Kapasitas Sumber Daya Manusia terhadap KLPD

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 36.723 20.232 1.815 .076 KO -.347 .595 -.549 -.584 .562 Moderat .019 .020 1.280 .948 .348 KSDM -.219 .716 -.187 -.306 .761 a. Dependent Variable: KLKPD

Sumber : Data Primer yang diolah, 2016

Diketahui berdasarkan Tabel 4.16. nilai Sig. dari intraksi X2.X4 adalah

0,348, yakni lebih besar dari α = 0,05. Hal ini berarti variabel komitmen organisasi tidak mampu memoderasi hubungan antara kapasitas sumber daya

manusia dan kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan uji intraksi. Pengujian hipotesis 2

komitmen organisasi sebagai variabel moderating yang dilakukan dengan

menggunakan metode uji intraksi.

Tabel 4.16 Uji Signifikansi Komitemen Organisasi dalam Memoderasi Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap KLPD

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 79.679 38.402 2.075 .044 KO -1.549 1.080 -2.448 -1.434 .159 PTI -1.602 1.208 -1.008 -1.327 .191 Moderat .057 .034 3.572 1.692 .098 a. Dependent Variable: KLKPD

Sumber : Data Primer yang diolah, 2016

Diketahui berdasarkan Tabel 4.17. nilai Sig. dari intraksi X3.X4 adalah

0,098, yakni lebih besar dari α = 0,05. Hal ini berarti variabel komitmen organisasi tidak mampu memoderasi hubungan antara pemanfaatan teknologi

informasi dan kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.

Dokumen terkait