3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM
3.2 Perancangan Sistem
4.2.4 Pengujian Beta
Pengujian beta merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kegunaan aplikasi yang dibangun, apakah telah memenuhi harapan atau
belum. Untuk itu dalam pengujian beta ini akan dilakukan penelitian terhadap hak akses dari citra tersebut dengan cara mencoba menemukan kunci privatnya menggunakan metode bruteforce dan perhitungan matematis.
1. Metode BruteForce
Metode BruteForce adalah metode yang melakukan percobaan terhadap semua kemungkinan yang ada atas segala masukan. Dalam kasus ini maka untuk melakukan metode bruteforce ini akan sangat sulit dilakukan karena komponen kunci yang banyak selain itu juga panjang kunci yang bervariasi dari setiap komponennya. Sebagai contoh sederhana telah dibangkitkan kunci dengan komponen pembangkit terkecil sebagai berikut:
P = 3 Q = 7 E = 5
Dari aplikasi pembangkit kunci yang ada maka didaptkan hasil sebagai berikut:
Didapatkana bahwa kunci publik = 5 – 21 dan kunci privat = 1 – 5 – 1 – 3 – 7. Terlihat bahwa angka terbesar yang berhasil dibangkitkan adalah 7 yang masih dalam range 10 angka awal. Jika saja seseorang mencoba memecahkan kunci ini dengan range 10 angka awal maka didapatkan kemungkinan sebanyak :
Kemungkinan = 10 x 10 x 10 x 10 x 10 = 100.000 kali percobaan.
Dan dari percobaan itu jika dilakukan percobaan dengan mengurutkan angka maka kunci akan didapatkan pada percobaan ke 15137 atau 15137/100000 percobaan.
Angka yang besar ini maka akan sulit ditemukan terutama jika menggunakan percobaan manual. Selain itu kemungkinan ini akan terus bertambah seiring dengan komponen pembangkit kunci (P, Q, dan E) yang semakin besar nilainya. Oleh karena itu direkomendasikan untuk menggunakan nilai yang besar untuk membangkitkan kunci secara manual.
2. Metode Matematis
Perhitungan matematis ini bisa dilakukan untuk mengurangi banyak percobaan yang dilakukan. Metode ini tujuannya hanya untuk menemukan nilai P dan Q yang merupakan penyusun nilai N. Namun untuk menjalankan metode matematis ini diperlukan beberapa syarat sebagai berikut :
a. Memiliki kunci publik.
b. Mengetahui bahwa kriptografi menggunakan metode RSA – CRT.
Sebagai contoh kita menggunakan kunci yang berada pada contoh sebelumnya yaitu kunci publik = 5 – 21 dan kunci privat = 1 – 5 – 1 – 3 – 7. Dengan skenario seperti diatas maka akan dilakukan dekomposisi terhadap kunci ada sebagai berikut:
a. Tentukan mana nilai N dan E pada kunci publik (5, 21) 1) Tentukan N = 5 dan E = 21
Maka dari nilai tersebut akan dekomposisi nilai N karena nilai N merupakan komponen yang dibentuk oleh nilai P dan Q. Pendekomposisian ini dilakukan dengan cara memfaktorkan nilai N.
Faktor N = Faktor 5 = (1, 5)
Dari faktor tersebut maka didapatkan faktor N = (1, 5) dan jelas ini bukan faktor pembentuk nilai N karena syarat untuk P dan Q adalah bilangan prima dan 1 bukan merupakan bilangan prima.
2) Tentukan N = 21 dan E = 5
Maka dari nilai tersebut akan didapatkan faktor sebagai berikut : Faktor N = Faktor 21 = (3, 7)
Dari nilai 3 dan 7 tersebut harus ditentukan mana nilai P dan Q. Dengan menggunakan algoritma pembangkit kunci yang telah dibahas pada bab 3 maka kita akan mendapatkan nilai sebagai berikut :
Tabel 4.19 Perbandingan nilai P dan Q
A B
P = 3 P = 7
Q = 7 Q = 3
E = 5 E = 5
Kunci Privat : 1 – 5 – 1 – 3 – 7 Kunci Privat : 5 – 1 – 5 – 7 – 3
Dari hasil diatas untuk nilai N yang memiliki 1 faktor pembentuk kunci memiliki 2 kemungkinan untuk membangun sebuah kunci yaitu (3, 7) dan (7,3). Untuk setiap kemungkinan terdapat 5 komponen kunci yang menghasilkan 5 ! (lima faktorial) = 120 kombinasi kunci yang bisa dibentuk. Jadi kemungkinan percobaan untuk melakukan serangan terhadap kunci privat ini setelah nilai P dan Q ditemukan adalaha sebagai berikut : Kemungkinan yang ada = 2 x 120
= 240 Kemungkinan
Kemungkinan itu akan terus bertambah bergantung pada besarnya nilai P dan Q pembentuk nilai N. Pertambahan itu yaitu sebanyak 120 x 2f. Dimana f merupakan banyaknya pasangan faktor penyusun nilai N. Sehingga sangat penting untuk memilih nilai P dan Q dengan nilai prima yang cukup besar dan sangat disarankan untuk memilih nilai P dan Q lebih dari 3 digit angka (ratusan) sehingga membuat nilai kemungkinan yang terbentuk akan semakin susah untuk diretas.
111
Dari beberapa tahapan penerapan kriptografi menggunakan metode RSA dengan CRT pada citra digital di konsultan Art And Design House The House maka didapatkan beberapa kesimpulan dan saran.
5.1 Kesimpulan
Setelah melalui tahap – tahap perancangan, implementasi hingga pengujian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Aplikasi yang dibangun telah memberikan hak akses untuk melihat gambar dengan cara menggunakan kunci yang cukup tahan terhadap serangan pihak yang mencoba membuka kunci tersebut sehingga gambar tetap aman dan tidak akan bisa dilihat oleh pihak yang tidak berkepentingan.
2. Gambar yang diamankan telah memiliki nilai pembatas untuk melihat gambar tersebut sehingga mengurangi penyalahgunaan oleh pihak yang memiliki hak akses yaitu klien dari pihak perusahaan House The House.
5.2 Saran
Saran yang didapat berdasarkan semua yang telah dilakukan dalam pembangunan aplikasi kriptografi pada citra digitak yang disarankan untuk pengembangan lebih lanjut adalah :
1. Tampilan dibuat lebih menarik.
2. Dapat menangani lebih dari satu gambar saat melakukan enkripsi dan dekripsi suatu citra digital.
1
1.1 Latar Belakang Masalah
House The House adalah salah satu konsultan art dan design di Bandung. Perusahaan ini menangani beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan desain seperti branding,
perencanaan dan desain bangunan, penelitian dan hiburan. Perusahaan ini memiliki lebih dari 8 pekerja dengan jumlah proyek yang pernah ditangani 30 branding, 4 desain interior dan 40 kegiatan serta pernah mendapatkan penghargaan “Shell LiveWIRE Indonesia Business Start-
Up Awards 2013”.
Dilihat dari prestasi yang telah didapatkan tersebut tentu saja banyak klien yang meminta pihak House The House untuk menjadi desainer mereka. Setelah dilakukan wawancara langsung dengan CEO dari House The House didapatkan sebuah informasi bahwa dari beberapa klien tidak semuanya melanjutkan kerjasama mereka setelah mendapatkan desain dari pihak House The House. Namun dari informasi yang didapatkan pihak House The House bahwa klien yang tidak melanjutkan kerjasama dengan pihak House The House tersebut tetap menggunakan desain mereka. Jika kasus tersebut terus terjadi maka akan mengakibatkan kerugian besar untuk pihak House The House mengingat dalam dunia desain konsep suatu desain itu sangat berharga. Meskipun pada implementasinya suatu desain mengalami perubahan namun dengan konsep yang sama tentu bisa dikatakan tetap menggunakan konsep dari pihak House The House.
Berdasarkan kasus yang ada maka diperlukan sebuah aplikasi untuk mengamankan gambar di perusahaan House The House tersebut. Dalam hal ini khususnya untuk membatasi klien untuk melihat desain agar mengurangi penggunaan tanpa izin oleh klien. Salah satu caranya adalah dengan cara menyamarkan gambar digital sehingga tidak bisa dilihat tanpa menggunakan kode dari pihak perusahaan. Untuk hal itu penelitian kali ini akan menggunakan pengamanan dengan teknik kriptografi yang dapat menyamarkan gambar digital menggunakan metode Rivest-Shamir-Adleman dengan Chinese Remainder Theorem (RSA-CRT). Metode RSA-CRT dipilih karena berdasarkan hasil penelitian Rini Wati Lumbangaol [1] bahwa RSA bisa digunakan untuk enkripsi gambar. Namun berdasarkan buku Kriptografi Untuk Keamanan Jaringan [2] dikatakan bahwa metode RSA membutuhkan waktu lebih lama dalam proses dekripsi sehingga ditambahkan teorema CRT untuk mempercepat proses dekripsi tersebut.
Adleman dengan Chinese Remainder Theorem (RSA-CRT) Pada Citra Digital Di Konsultan Art dan Design House The House”.
Diharapkan dengan penelitian ini akan mengurangi kasus yang terjadi. Selain itu juga dengan teknik kriptografi ini juga dapat mengurangi kemungkinan pihak selain klien dan perusahaan untuk melihat desain yang dibuat.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, masalah-masalah yang ada dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Belum ada pembatasan hak akses untuk melihat citra digital.
2. Pihak klien dapat melihat gambar berulang kali sehingga bisa digunakan pihak klien untuk kepentingan lainnya.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk menerapkan kriptografi dengan metode rivest- shamir-adleman dengan chinese remainder theorem RSA-CRT pada citra digital di konsultan
art and design House The House.
Adapun beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Membuat pembatasan hak akses untuk melihat citra digital. 2. Memberikan batas pada citra untuk dilihat oleh pihak klien.
1.4 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini ditetapkan beberap batasan masalah, diantaranya sebagai berikut : 1. Pengolahan foto hanya dilakukan pada citra berwarna 24bit.
2. Format foto yang bisa dilakukan enkripsi yaitu .jpg dan .bmp
3. Aplikasi pengolahan citra menggambarkan proses kriptografi citra saja yaitu proses enkripsi dan dekripsi.
4. Proses enkripsi dan dekripsi menggunakan metode kriptografi RSA - CRT 5. Aplikasi ini akan menghasilkan sebuah chipertext dengan format file .jpg
6. Aplikasi ini merupakan aplikasi desktop yang berjalan pada Sistem Operasi Windows.
9. Aplikasi ini dibangun menggunakan bahasa pemrograman C# dengan aplikasi Visual Studio 2013
1.5 Metodelogi Penelitian
Metode penelitian akan menggunakan metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan suatu metode yang penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya. Secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata - kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan bebagai metode alamiah [3].
Secara singkat dapat dijabarkan bahwa metode penelitian kualitatif merupakan metode yang didasarkan pada kasus khusus sehingga pengumpulan dan analisis data bersifat khusus pula [4].
Karena sifatnya yang bersifat khusus itu maka metode penelitian kualitatif sering digunakan dalam berbagai research, meskipun beberapa kalangan menolak metode ini karena dianggap tidak bisa mewakili sifat umum penelitian. Namun metode ini tetap saja digemari karena pada prinsipnya bahwa teori yang berkembang perlu menyesuaikan dengan keadaan lingkungannya.
1.5.1 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang akan digunakan berdasar metode yang digunakan maka diperoleh beberapa teknik pengumpulan data [4] sebagai berikut :
1. Observasi
Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung kepada objek yang diteliti. Dalam hal ini observasi yang dilakukan melalui beberapa cara sebagai berikut :
a. Melalui wawancara langsung
Wawancara langsung ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai latar belakang perusahaan, pekerjaan yang dilakukan, masalah yang ada dan hal lain yang berkaitan dengan penelitian.
2. Studi Dokumentasi
Metode studi dokumentasi ini sering juga disebut dengan metode studi pustaka. Metode ini dilakukan dengan mencari informasi pada catatan tertulis/gambar yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini diambil beberapa dokumentasi seperti jurnal, laporan peneletian sebelumnya, dokumen perusahaan, buku referensi, proceding dan beberapa informasi tertulis dari internet.
Metode ini penting untuk membantu menyusun teori dan validasi data. Dengan teori yang cukup memadai dan data yang valid diharapkan penelitian yang dilakukan dapat memberikan hasil yang sesuai dengan bidang keilmuwan yang ada.
1.5.2 Metode Pembangunan Perangkat Lunak
Metode Pembangunan Aplikasi, melalui metode inkremental yaitu metode yang menggabungkan elemen-elemen model sekeunsial linier (diaplikasikan secara berulang) dengan filosofi prototipe iteratif. Model inkremental menggunakan urutan-urutan linier di dalam model seiring dengan laju waktu kalender [5].
Pada proses pengembangan inkremental, pelanggan mengidentifikasi, secara garis besar, layanan (service) yang akan disediakan oleh sistem. Mereka mengidentifikasi layanan mana yang paling penting dan mana yang tidak penting. Bagian-bagian yang harus diserahkan kemudian diidentifikasi, dengan setiap inkremen(bagian) memberikan sebagian dari fungsionalitas sistem. Alokasi layanan pada inkremen bergantung pada prioritas layanan. Layanan dengan prioritas tertinggi dikirimkan terlebih dahulu kepada pelanggan [6].
Setiap bagian akan menyerahkan fungsional utama ke bagian lain dan kemudian bagian tersebut akan melakukan pekerjaan untuk fungsionalitas tambahan yang dirasa perlu. Sehingga analisis untuk persyaratan inkremen lainnya bisa dikerjakan namun perubahan persyaratan tidak dapat diterima.
Menurut Ian Sommerville pengembangan inkremental dapat digambarkan sebagai berikut [6] :
Kembangkan
Pembagian Sistem Validasi Inkremen
Integrasikan
Inkremen Validasi Sistem Sistem akhir
Bagan 1.1 Pengembangan Inkremental [6]
Sedangkan menurut Roger S. Pressman [5] berdasar proses yang dilakukan model inkremental ini bisa digambarkan sebagai berikut :
Analisis Desain Kode Tes
Analisis Desain Kode Tes
Analisis Desain Kode Tes
Analisis Desain Kode Tes
Pengiriman Inkremen Ke -1 Pengiriman Inkremen Ke -2 Pengiriman Inkremen Ke - 3 Pengiriman Inkremen Ke - 4 Inkremen 1 Inkremen 2 Inkremen 3 Inkremen 4 Rekayasa Sistem Informasi
Bagan 1.2 Model Inkremental berdasar waktu kalender [5] Adapun penjelasan setiap tahapnya sebagai berikut :
a. Analisis
Pada bagian ini akan disusun proses bisnis yang terjadi, analisis kebutuhan pengguna dan pengumpulan data yang berkaitan dengan penelitian ini.
b. Desain
Pada tahapan ini akan dilakukan perancangan aplikasi berdasarkan kebutuhan dari pengguna. Desain dilakukan bertahap sesuai dengan prinsip model inkremental yaitu melakukan desain terhadap kebutuhan utama. Dalam penelitian ini desain akan menggambarkan proses yang akan terjadi, rancangan antarmuka dan detail algoritma prosedural.
c. Kode
Pada langkah ini akan dituliskan kode program berdasarkan rancangan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam tahapan ini desain akan ditransformasikan ke bentuk bahasa pemrograman.
e. Pengiriman
Proses pengiriman ini bukan tahapan utama dari pembuat aplikasi. Tahap ini untuk mengetahui kesesuaian fungsionalitas dari aplikasi. Dalam model inkremental fungsionalitas utama akan dikirimkan pada tahap awal. Ini menentukan apakah aplikasi sudah sesuai atau belum sedangkan fungsionalitas bukan prioritas di kirimkan dalam tahap selanjutnya. Pada model inkremental iterasi ini tidak terbatas. Hal ini bisa saja dalam pengiriman pertama fungsionalitas sudah sesuai sehingga iterasi hanya berjalan sekali namun bisa juga dilakukan berkali-kali. Hal ini sesuai dengan perencanaan tahapan setiap inkremennya dan hasil review dari pelanggan dalam hal ini konsultan
Art and Design House The House.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan tugas akhir ini disusun untuk memberikan gambaran secara umum tentang penelitian yang dijalankan. Sistematika penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Pada bab pendahuluan ini, penulis menguraikan tentang secara singkat tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan disusunnya penulisan skripsi ini serta batasan-batasan yang digunakan untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. Serta menguraikan pula tentang metodologi penelitian yang digunakan serta sistematika penulisan.
BAB 2 LANDASAN TEORI
Pada bab ini, akan dibahas mengenai teori-teori yang berkaitan dengan judul dari penulisan skripsi ini. Digunakan untuk dapat membantu menyelesaikan setiap tahapan yang dilalui. Seperti teori tentang citra digital, kriptografi, kriptografi RSA-CRT, model sistem, DFD dan bahasa pemrograman yang digunakan.
BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN
Berisi analisis kebutuhan untuk sistem yang akan dibangun sesuai dengan metode pengembangan perangkat lunak yang digunakan. Selain itu, bab ini juga berisi perancangan
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN
Bab ini berisi implementasi dari hasil analisis dan perancangan aplikasi kriptografi dengan menggunakan metode RSA-CRT pada citra digital yang telah dibuat, disertai juga dengan hasil pengujian dari aplikasi kriptografi dengan menggunakan metode RSA-CRT pada citra digital sehingga diketahui apakah aplikasi yang dibangun dapat bermanfaat untuk mengamankan citra digital.