BAHAN DAN METODE
B. Pelaksanaan Percobaan
B.2 Pengujian di Laboratorium
Sebagian kecil benih (± 750 butir benih) segar hasil panen dipisahkan dari daging buah kemudian benih tersebut diuji kadar air benih dan bobot kering benih. Selanjutnya sisa buah diekstrasi secara manual. Benih hasil ekstrasi dikeringkan sampai dengan kadar air benih mencapai 8%. Pengujian dan
pengamatan total klorofil dan karotenoid benih, daya berkecambah benih, kecepatan tumbuh benih, dan bobot 1000 butir benih, dan indeks vigor setelah kadar air diturunkan. Analisis total klorofil benih dilakukan dilaboratorium Biofisika Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan analisis total karotenoid dilakukan di laboraturium RGCI (Research Group on Crop Improvement) Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, sedangkan analisis viabilitas dan vigor benih yaitu kadar air, bobot kering benih, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, bobot 1000 butir, dan indeks vigor dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Pertanian, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB.
B. Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap beberapa tolok ukur sebagai berikut: Kadar Air Benih
Kadar air benih diukur dengan metode langsung menggunakan oven 105°C selama 16±1 jam. Pengukuran kadar air benih dilakukan tiga ulangan per satuan percobaan. Satu cawan alumunium foil tanpa tutup berisi 50 butir benih. Benih yang digunakan adalah benih segar yang diperoleh segera setelah panen. Penentuan kadar air menggunakan rumus berikut :
KA (%) = (bo-bi/bo) x 100%
Keterangan : KA = kadar air benih (%)
bo = bobot benih sebelum dikeringkan bi = bobot benih sesudah dikeringkan
Bobot Kering Benih
Bobot kering benih diukur dengan mengeringkan 200 butir benih dalam oven 60°C selama 3 x 24 jam kemudian ditimbang bobotnya. Pengukuran dilakukan tiga ulangan untuk setiap satuan percobaan.
Daya berkecambah (DB) benih ditentukan dengan pengujian UDK ( Uji Diatas Kertas), yaitu mengecambahkan benih dengan menggunakan media kertas saring lembab di dalam cawan petri. Alat Pengecambah Benih yang digunakan yaitu IPB 73-2A. Setiap satu satuan percobaan menggunakan 150 butir benih dalam tiga wadah, jadi masing-masing wadah berisi 50 butir benih. Pengamatan dilakukan pada hari ke-7 dan ke-14 terhadap kecambah yang tumbuh normal. Persentase daya berkecambah dihitung dengan rumus :
DB (%) =
{(
∑ KN І + ∑ KN ІІ)/
jumlah benih yang diuji}
x 100 % Keterangan : DB = daya berkecambahKN І = kecambah normal pada pengamatan І (hari ke-7) KN ІІ = kecambah normal pada pengamatan ІІ (hari ke-14)
Kecepatan Tumbuh Benih
Benih dari tiap perlakuan sebanyak 150 butir diuji dengan metode UDK seperti halnya uji daya berkecambah. Pengamatan dilakukan setiap hari sampai hari ke-14 terhadap jumlah kecambah normal dan perbedaan jam tiap pengamatan.
Kecepatan tumbuh dihitung dengan menggunakan rumus (Sadjad, 1993):
14
Kecepatan tumbuh =
∑ d
0
Keterangan : d = tambahan persentase kecambah normal setiap etmal (24 jam)
Bobot 1000 Butir
Bobot 1000 butir benih ditentukan dengan cara menimbang 100 butir benih sebanyak 8 kali. Kemudian rata-rata dari penimbangan 8 kali tersebut dikalikan 10. Rumus yang digunakan adalah :
Bobot 1000 butir = П x 10
Keterangan : П = bobot rata-rata dari penimbangan 8 kali benih cabai.
Indeks vigor ditentukan dengan menghitung persentase jumlah kecambah normal pada hitungan pertama. Pengujian dilakukan dengan mengecambahkan 50 butir benih dengan menggubakan metode Uji Diatas Kertas (UDK). Seperti halnya uji daya berkecambah, namun pengamatan hanya dilakukan pada hari ke-7 terhadap kecambah normal (first count germination).
Rumus yang digunakan untuk menghitung indeks vigor benih adalah : KN І
IV = X 100%
Total Benih yang Diuji
Keterangan :
IV = Indeks Vigor
KN І = jumlah kecambah normal pada hitungan pertama (hari ke-7)
Analisis Total Klorofil Benih 1. Pra Preparasi
Sebanyak (± 2 g) benih terung disiapkan. Benih dipisahkan sesuai kelompok perlakuannya, kemudian diuji dengan menggunakan alat LIF (Laser Induced Flouresence) (Jalink, 1998).
2. Pengujian {berdasarkan metode flouresens (Jalink, 1996) dan metode ekstrasi (Sims dan Gamon, 2002)}
Violet laser dioda didekatkan pada ± 2 g benih yang disiapkan. Alat sensor fiber optic bundle akan merespon emisi flouresens yang dihamburkan oleh violet laser dioda, lalu diteruskan ke USB spectroflourometer. USB spectroflourometer kemudian mendeteksi kandungan klorofil a dalam benih. Kemudian dikirim sinyal flouresens klorofil ke komputer yang membentuk spektrum emisi flouresens dan panjang gelombang di monitor komputer. Komputer akan mengontrol mekanisme alat penghambur untuk memisahkan benih yang diperbolehkan pada intensitas flourescens tertentu. Prosedur pengujian secara skematis tersaji pada Gambar 3.
Sensor fiber optic bundle akan merespon emisi flouresens
USB spectroflourometer mendeteksi kandungan klorofil a
Sinyal flouresens klorofil dikirim ke komputer
baca kurva frekuensi di monitor komputer
Gambar 3. Skema Pengujian Total Klorofil Menurut Jalink (1998) yang Telah Dimodifikasi.
Benih terung yang telah dihaluskan ditempatkan dalam mortal. Benih dihaluskan dengan menambahkan 1 ml aseton. Sebanyak 2 ml aseton dicampurkan pada benih yang telah dihaluskan. Campuran benih yang telah dihaluskan diaduk, kemudian cairan tersebut dimasukkan ke tube dengan bola (kelereng) sebagai tutup, kemudian sampel dikocok, disaring dan disentrifuse pada 1000 rpm selama 10 menit. Supernatan ditampung pada tabung reaksi. Sebanyak 2 ml aseton ditambahkan. Pembacaan Supernatan dengan menggunakan spektrometer UV 1201 pada panjang gelombang λ 470 nm, 537 nm, 647 nm, 663 nm untuk mendapatkan serapan nilai klorofil a dan b. Prosedur pengujian secara skematis tersaji pada Gambar 4.
± 0,2 g benih terung halus + 1 ml aseton Benih dihaluskan + 2 ml aseton
Dikocok
Tampung cairan dalam tube
Menyaring dan mensentrifuse pada 1000 rpm selama 10 menit Menampung supernatan pada tabung reaksi+ 2 ml aseton Mengukur absorbannya pada λ 470 nm, 537 nm, 647 nm, 663 nm.
Gambar 4. Skema Pengujian Total Klorofil Menurut Sims dan Gamon (2002).
Total klorofil = 7.15 x A 663 – 18.71x A 647 Keterangan :
A 663 = Nilai absorban pada panjang gelombang 663 nm A 647 = Nilai absorban pada panjang gelombang 647 nm Analisis Total Karotenoid Benih
1. Pra Preparasi
Contoh benih terung sebanyak (± 5 g) di haluskan dengan menggunakan grinding machine (blender). Sehingga diperoleh hancuran benih sehalus mungkin. Setiap satuan percobaan dilakukan triplo untuk mengurangi galat. 2. Pengujian
Benih terung yang telah dihaluskan ditempatkan dalam mortal. Gerus dengan menambahkan 1 ml aseton. Kemudian tambahkan 2 ml aseton. Aduk, masukkan cairan ke tube dengan bola (kelereng) sebagai tutup Kemudian sampel dikocok, saring dan sentrifuse pada 1000 rpm selama 10 menit. Tampung supernatan pada tabung reaksi. Tambahkan aseton sebanyak 2 ml. Baca supernatan dengan menggunakan spektrometer UV 1201 pada panjang gelombang λ 470 nm, 537 nm, 647 nm, 637 nm untuk mendapatkan serapan nilai klorofil a dan b. Prosedur pengujian secara skematis tersaji pada Gambar 5.
± 0,2 g benih terung halus + 1 ml aseton Gerus + 2 ml aseton
Dikocok
Tampung cairan dalam tube
Saring dan Sentrifuse pada 1000 rpm selama 10 menit Tampung supernatan pada tabung reaksi+ 2 ml aseton Ukur absorbannya pada λ 470 nm, 537 nm, 647 nm, 663 nm.
Gambar 5. Skema Pengujian Total Karotenoid Menurut Sims dan Gamon (2002).
klorofil a = 0.01375 x A663-0.000897 x A537-0.003046 x A647 klorofil b = 0.02405 x A647-0.004305 x A537-0.005507 x A663 antosianin = 0.08173 x A537-0.00697 x A647-0.002228 x A663
Karoten (µmol/ml) = [A470-{17.1x(klorofil a + klorofil b)-9.475 x antosianin] 119.26
Keterangan :
A 470 = Nilai absorban pada panjang gelombang 470 nm A 537 = Nilai absorban pada panjang gelombang 537 nm A 663 = Nilai absorban pada panjang gelombang 663 nm A 647 = Nilai absorban pada panjang gelombang 647 nm