• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

G. Pengujian dan Hasil Analisis

bertahan dan beroperasi secara berkesinambungan sehingga dapat bertahan mengahadapi situasi perubahan pasar dan ekonomi secara global dimana perusahaan dapat menghasilkan keuntungan setiap tahunnya.

VISI

Menjadi salah satu pemimpin pasar produsen nikel primer dunia. Menjadi pemimpin berarti menetapkan tolak ukur bagi pertumbuhan riil, efisiensi, kesinambungan dan

reputasi

MISI

Mengembangkan secara maksimal sumber-sumber daya Indonesia yang telah dipercayakan untuk menghasilkan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan

STRATEGI PERUSAHAAN

Perspektif keuangan

Perspektif custimer

Perspektif Proses Bisnis

Internal

Perspektif Pembelajaran &

Pertumbuhan

BALANCED SCORECARD

Gambar 15. Hubungan antara Visi, Misi, dan Balanced Scorecard

b. Penentuan strategi perusahaan untuk mewujudkan tujuan dan visi perusahaan

Strategi yang digunakan oleh perusahaan adalah strategi pertumbuhan (growth strategy). Pertimbangan dalam pemilihan strategi ini adalah terbukti dengan banyaknya peminat yang masuk ke industri ini dan sesuai dengan visi dan misi perusahaan seperti tersebut di atas maka perusahaan harus terus berkembang.

c. Penentuan perspektif yang ada pada Perusahaan

Perspektif-perspektif yang ada di Perusahaan adalah perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.

Penentuan perspektif-perspektif tersebut dengan memperhatikan keseimbangan antara aspek keuangan dan aspek non keuangan, aspek masa lalu dan aspek masa depan, serta aspek internal dan aspek internal.

d. Penentuan sasaran strategi perusahaan

Sasaran-sasaran strategi perusahaan antara lain:

1) Meningkatkan pengembangan investasi, pertumbuhan riil, efisiensi, kesinambungan dan reputasi perusahaan 2) Menjadi salah satu pemimpin pasar produsen nikel

primer dunia

3) Mengembangkan dan meningkatkan kualitas produksi.

4) Mengembangkan secara maksimal sumber-sumber daya di area kontrak karya untuk menghasilkan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan

2. Penentuan Tolok Ukur Kinerja Perusahaan

Berbagai tolok ukur yang digunakan oleh perusahaan diuraikan pada tabel berikut ini.

Tabel 7. Tolok Ukur Pengukuran Kinerja Tahun 2007-2009

Perspektif Sasaran Strategi Tolok Ukur Keuangan Meningkatkan tingkat

pengembalian investasi

Tingkat pengembalian investasi, tingkat profitabilitas, tingkat pertumbuhan penjualan dan pemanfaatan aktiva.

Pelanggan Meningkatkan citra perusahaann di mata customer

Kelompok pengukuran pelanggan utama yaitu:

tingkat kesesuaian produk sesuai spesifikasi yang sudah disepakati Proses bisnis

internal

Meningkatkan kualitas produksi

Pengembangan dan perbaikan proses operasi dan produksi

Pembelajaran dan pertumbuhan

Meningkatkan

profesionalitas sumber daya insani perusahaan

Kapabilitas karyawan dan kapabilitas informasi yang tersedia secara mudah buat seluruh karyawan.

Dalam menentukan tolok ukur harus memperhatikan keterkaitan visi, misi dan strategi perusahaan dan yang lebih

penting lagi adalah diukurnya keberhasilan pencapaian sasaran-sasaran strategi perusahaan.

3. Pengukuran Kinerja pada Perusahaan dengan Balanced Scorecard

Pengukuran kinerja dengan melihat indikator-indikator keberhasilan dan realisasi strategi Perusahaan tahun 2008 dan tahun 2009. Pengukuran kinerja dilakukan secara komprehensif.

Pengukuran kinerja strategi perusahaan secara seimbang (balanced) dan komprehensif berdasarkan konsep balanced scorecard adalah:

a. Perspektif Keuangan ( Financial Perspective)

Perspektif balanced scorecard harus dapat mendorong suatu unit bisnis untuk menghubungkan sasaran keuangan dengan strategi perusahaan. Sasaran keuangan berperan sebagai fokus atau sasaran perusahaan di antara tiga perspektif yang lain. Setiap pengukuran yang dipilih, haruslah menjadi bagian dari hubungan sebab akibat yang nantinya akan berpuncak pada perbaikan kinerja keuangan Perusahaan. Tolok ukur kinerja keuangan meliputi rasio-rasio keuangan (financial ratio) yaitu:

1) Tingkat Pengembalian Investasi (Return On Invesment)

Ditunjukkan dengan menggunakan rasio pengembalian investasi yaitu pengukur seberapa efektif perusahaaan memanfaaatkan sumber ekonomi yang ada untuk menciptakan laba.

Berdasarkan data laporan keuangan tahun 2008 sampai dengan tahun 2009 perhitungan ROI adalah:

359.316

ROI2008 = x 100%

1.843.186 = 19,49%

170.417

ROI2009 = x 100%

2.038.000 = 8.36%

Selanjutnya untuk mempermudah analisis perubahan ROI, maka dilakukan pengukuran perubahan ROI dengan menggunakan persentase. Untuk itu ROI tahun 2005 dikurangi dengan ROI tahun 2004. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 8. Tingkat Pengembalian Investasi (ROI) Tahun 2005 – 2009

2009 2008 2007 2006 2005

Laba Bersih (Net Earnings) 170,417 359,316 1,173,036 513,358 267,754 Total Aset 2,038,000 1,843,186 1,887,196 2,122,732 1,649,665

Return on Investment (ROI) 8.36% 19.49% 62.16% 24.18% 16.23%

Perubahan (pengurangan terhadap tahun sebelumnya) -11.13% -42.66% 37.97% 7.95%

Dari hasil pengolahan data di atas dapat diinterprestasikan sebagai berikut:

- Tahun 2007 ROI menunjukkan angka 62,16% artinya setiap $ 1,00 total aktiva menghasilkan keuntungan sebagai laba bersih sebesar $ 0,6216.

- Tahun 2008 ROI menunjukkan angka 19,49%. Terjadi penurunan dari tahun 2007 sebesar 42,66%, ini disebabkan karena penurunan laba bersih akibat penurunan harga nickel dan penurunan jumlah produksi.

- Secara keseluruhan tingkat pengembalian investasi tahun 2005 sampai tahun 2009 positif diatas 8%, perubahan ROI selama periode ini sangat dipengaruhi oleh perubahan harga jual produk. Perusahaan masih dapat membukukan laba dengan pada saat terjadi penurunan harga nickel yang sangat besar dengan melakukan efisiensi.

2) Tingkat Profitabilitas

Ditunjukkan dengan rasio profitabilitas yang menunjukkan kemampuan perusahan yang menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, asset dan modal saham tertentu.

Net Profit Margin

Rasio ini menunjukkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasi pada tingkat penjualan tertentu.

Berdasarkan data laporan keuangan, maka perhitungan profit margin pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2009 adalah sebagai berikut:

478,258

Net Profit Margin2008 = x 100%

1,312,097

= 36,45%

231,875

Net Profit Margin2009 = x 100%

760,952

= 30,47%

Untuk mempermudah analisis perubahan Net Profit Margin (NPM) , maka dilakukan pengukuran

perubahan NPM dengan menggunakan persentase.

Untuk itu perubahan NPM setiap tahun dikurangi dengan NPV tahun sebelumnya. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 9. Tingkat profitabilitas Perusahaan Tahun 2005 – 2009

2009 2008 2007 2006 2005

Laba Operasi (operating profit) 231,875 478,258 1,595,473 735,641 420,097 Penjualan (sales) 760,952 1,312,097 2,325,858 1,337,735 885,087 Net Profit Margin 30.47% 36.45% 68.60% 54.99% 47.46%

Perubahan (pengurangan terhadap tahun sebelumnya) -5.98% -32.15% 13.61% 7.53%

Berdasarkan pengolahan data di atas, dapat diinterprestasikan sebagai berikut:

- Tahun 2007 Net Profit Margin menunjukkan angka tertinggi 68,60% berarti setiap $1,00 penjualan menghasilkan keuntungan bersih sebesar $0,6860.

- Tahun 2008 Net Profit Margin menunjukan angka 36,45% terjadi penurunan sebesar 32,15% dari tahun 2007. Penurunan ini karena perubahan penjualan atau laba bersih karena harga produk nickel menurun sangat besar di tahun 2008.

Secara keseluruhan net profit margin tahun 2005 sampai tahun 2009 positif diatas 30%, yang berarti bahwa perusahaan pada periode tersebut menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu.

3) Tingkat Pertumbuhan Penjualan

Rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan menempatkan diri dalam sistem ekonomi untuk industri yang sama. Rasio pertumbuhan penjualan

Berdasarkan data laporan keuangan tahun 2005 sampai 2009 diperoleh rasio pertumbuhan penjualan sebagai berikut:

Penjualan tahun 2007 – Penjualan tahun 2006 RPP2007 =

Penjualan tahun 2006 2,325,858 - 1,337,735

=

1,337,735 = 0.74

Untuk mempermudah analisis perubahan pertumbuhan penjualan, maka hasil pengukuran diubah dengan menggunakan persentase. Untuk itu pertumbuhan penjualan tahun 2005 sampai 2009 hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 10. Rasio Pertumbuhan Penjualan Tahun 2005 – 2009

2009 2008 2007 2006 2005

Penjualan (sales) 760,952 1,312,097 2,325,858 1,337,735 885,087

Ratio Pertumbuhan Penjualan -42.00% -43.59% 73.87% 51.14%

Dari pengolahan data di atas dapat diinterprestasikan sebagai berikut:

- Tahun 2007 pertumbuhan penjualan menunjukkan angka 73,87% artinya pertumbuhan penjualan terjadi kenaikan sebesar 22,72% dari tahun 2006 atau terjadi kenaikan sebesar $988.123 dari tahun 2006.

Kenaikan penjualan disebabkan karena adanya kenaikan harga nickel dan kuantitas penjualan produk pada tahun 2007.

4) Pemanfaatan Aktiva

Pemanfaan aktiva diukur melalui tingkat perputaran aktiva yang ditunjukkan oleh perhitungan perputaran total aktiva (Assets Turn Over/ATO).

Perputaran total aktiva merupakan ukuran efektivitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan.

Berdasarkan data laporan keuangan tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, diperoleh rasio perputaran aktiva untuk tahun 2008 dan tahun 2009 sebagai berikut:

Total aktiva 2008

ATO2008 = x 100%

Penjualan tahun 2008

1.843.186

ATO2008 = x 100%

1.312.097 = 140,48%

2.038.000

ATO2009 = x 100%

760.952 = 267,82%

Untuk mempermudah analisis perputaran total aktiva, maka hasil pengukuran diubah dengan menggunakan persentase. Untuk itu Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 11. Perputaran Total Aktiva Tahun 2005 – 2009

2009 2008 2007 2006 2005

Total Aset 2,038,000 1,843,186 1,887,196 2,122,732 1,649,665 Penjualan (sales) 760,952 1,312,097 2,325,858 1,337,735 885,087 Assets Turn Over/ATO 267.82% 140.48% 81.14% 158.68% 186.38%

Perubahan (pengurangan terhadap tahun sebelumnya) 127.35% 59.34% -77.54% -27.70%

Tabel hasil pengolahan di atas dapat diinterprestasikan sebagai berikut:

- Tahun 2008 perputaran aktiva menunjukkan 140,48%

berarti dana yang tertahan dalam keseluruhan aktiva berputar rata-rata 1,4 kali dalam setahunnya.

- Tahun 2009 perputaran total aktiva menunjukkan 267,82%. Terjadi kenaikan 127,35% dari tahun 2008.

Hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah aktiva tahun 2009 sebesar $198.814 dari tahun 2008.

Secara keseluruhan tingkat perputaran total aktiva tahun 2009 lebih tinggi dari tahun 2008, yang berarti penggunaan total aktiva pada tahun 2009 lebih efektif dari pada penggunaan total aktiva tahun 2008 untuk mendukung penjualan perusahaan.

Tabel 12. Pengukuran KInerja Keuangan Tahun 2007 – 2009

2007 2008 2009

ROI 62.16% 19.49% 8.36% 30.00%

Net Profit Margin 68.60% 36.45% 30.47% 45.17%

Pertumbuhan Penjualan

73.87% -43.59% -42% -3.91%

ATO 81.14% 140.48% 267.82% 163.15%

Tahun Rata - rata

Rasio

Berdasarkan hasil perhitungan balanced scorecard menggunakan perspektif keuangan di atas, dapat diketahui bahwa secara umum terjadi kinerja keuangan yang positif.

Hal ini dapat diketahui dengan terjadinya rata-rata ROI sebesar 30,00% , rata-rata NPM sebesar 45,17%, terjadi penurunan pertumbuhan penjualan pada tahun 2008 dan tahun 2009. Akan tetapi dilihat dari segi pemanfaatan aktiva yang dilihat dari nilai ATO dapat diketahui bahwa terjadi

peningkatan perputaran aktiva dari tahun 2007 sampai tahun 2009, rata-rata ATO 163,15%

Terjadinya penurunan harga nickel yang menyebabkan penurunan penjualn ini tidak dapat dibiarkan terjadi begitu saja. Perusahaan harus segera mengambil langkah-langkah yang dapat memperbaiki kinerja keuangan dilihat dari segi perputaran aktiva perusahaan. Untuk itu pertama-tama perusahaan harus mengetahui hal apa yang menyebabkan penyerapan aktiva yang tinggi dalam proses produksi perusahaan.

Dari wawancara yang dilakukan dengan Bagian Produksi dan Keuangan Perusahaan diketahui bahwa hal yang perlu di pantau secara baik adalah penurunan biaya produksi dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi listrik yang dihasilkan PLTA dan mengurangi pemakaian energi listrik dari generator diesel sehingga mengurangi pembelian bahan bakar. Perusahaan juga mengurangi pengeluaran barang modal kas dengan membuat perubahan prioritas proyek-proyek yang berlangsung termasuk pengurangan biaya untuk kontrak dan jasa.

Biaya produksi di operasi tambang mampu diturunkan dengan meningkatkan recovery perolehan bijih dari ROM menjadi SSP dan juga dengan mengontrol penggunaan air di

station penyaringan untuk menurunkan kandungan air di produk sehingga jumlah bahan bakar yang dipakai untuk mengeringkan produk dapat di kurangi. Tabel berikut menunjukkan peningkatan dalam recovery produk dari tahun 2006 sampai tahun 2009 dimana dengan meningkatnya recovery sehingga biaya produksi menurun sangat signifikan.

Tabel 13. Recovery Produk Tahun 2006 – 2009

Tahun Produk Recovery 2006 52.1%

2007 56.8%

2008 56.9%

2009 62.7%

Perubahan H2O Produk

-2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00

May-05 Oct-06 Feb-08 Jul-09 Nov-10 Apr-12

%H2O

Gambar 16. Perubahan kandungan air (H2O) produk

Dari kedua tabel diatas dapat terlihat dengan jelas terjadi peningkatan recovery dan perubahan kandungan air terlihat tren meningkat yang artinya terjadi penurunan yang

lebih besar kandungan air di produk. Kedua hal ini sangat berpengaruh pada biaya produksi.

b. Perspektif Pelanggan (Customer Perspective)

Sasaran strategi dalam perspektif ini adalah meningkatkan hubungan yang selaras antara pelanggan dan penyedia produk diukur berdasarkan tingkat kesesuaian produk yang disiapkan oleh tambang dengan spesifikasi produk yang sudah disepakati antara tambang dan operasional pabrik peleburan nickel. Kesepakatan antara pelanggan (customer) dan penyedia produk (supplier) antara pabrik peleburan dengan penghasil bijih pihak tambang dijabarkan dalam service level agreement (SLA) yang isinya:

1) Kandungan dalam produk ore tambang yang akan di supply ke pabrik peleburan harus memenuhi kriteria berikut :

 %Fe : 18.5 - 22.5

 SM ratio : 2.05 – 2.25 2) Ukuran ore adalah :

 Tidak ada batuan besar

 Ore East Block ukurannya tidak ada yang lebih besar dari 6 inch

 Ore West Block ukurannya tidak ada yang lebih besar dari 3 inch

 Meningkatkan citra perusahaan di mata customer 3) Ore yang di supply oleh tambang tidak mengandung kotoran seperti potongan kayu, potongan besi dan plastik.

4) Ore yang di hasilkan tambang harus di simpan di stockpile untuk dibiarkan beberapa minggu supaya kandungan airnya menurun, batasan masa penyimpanan di stockpile sebagai berikut :

 Ore east block maksimum 4 minggu karena kalau lebih dari 4 minggu material akan menjadi lengket dan susah di masukkan ke smelter

 Ore west block minimum 4 minggu, sehingga diharapakan kandungan airnya turun lebih dari 5%

Oleh karena itu tambang Pt Inco dalam mencapai sasaran strateginya tersebut mengupayakan hal-hal sebagai berikut:

1) Membuat rencana tambang tahunan, bulanan dan mingguan harus memenuhi kuantitas dan kualitas yang di sepakati dengan pihak pabrik pelebur.

 Untuk target kuantitas dinyatakan dalam ton produk SSP dan di stockpile selalu di jaga supaya tersedia SSP yang jumlahnya sama dengan konsumsi pabrik untuk 6 minggu

 Untuk kulaitas maka dilakukan proses pencampuran (blending) dibeberapa tempat:

(a) Lokasi penambangan ore

(b) ROM pile di sekitar stasiun penyaringan (c) Blending pada saat memasukkan ore ke

stasiun penyaringan

(d) Blending dengan metoda batching dari beberapa periode produksi dan dari beberapa lokasi stasiun penyaringan pada saat SSP di masukkan ke stockpile

(e) Blending pada saat mengkonsumsi SSP dari stockpile, dimana ore yang di supply ke pabrik berasal dari dua lokasi yang dicampur sesuai dengan komposisi yang ditentukan

2) Menciptakan suasana kemitraan dan selalu mengadakan komunikasi dengan pelanggan. Hal ini bertujuan agar operasi tambang mengetahui bagaimana tanggapan atas

produk yang diinginkan. Apabila ada ketidakpuasan dari pelanggan maka akan segera ditindaklanjuti.

Tujuan dari aspek pelanggan ini adalah agar kebutuhan ore yang diinginkan pelanggan tercapai sehingga mengurangi produk yang tidak terpakai dan meningkatkan efisiensi pengangkutan material sehingga semua produk dapat dikonsumsi oleh pabrik peleburan.

Sehingga tolok ukur yang tepat untuk mengukur perspektif pelanggan, yaitu:

1) Pemenuhan jumlah material yang ada di stockpile cukup untuk konsumsi 6 minggu dan kualiatas material yang ada di stockpilre tersedia minimum untuk 3 minggu konsumsi adalah material on spec.

2) Pemenuhan on spec %Fe dan SM ratio .

3) Menghitung coeficien variability untuk on spec %Fe dan SM ratio.

4) Melakukan pencatatan setiap ditemukan batu besar atau material pengotor di produk sehingga menciptakan terhentinya operasi.

1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12 13 14 1516 1718 1920 21 22 23 242526 2728 29 30 31 323334 35 36 37 3839 4041 4243 4445 46 47 48495051 52 WOS at Spec (weeks) Target

Gambar 17. Produk Material on spec di stockpile

Pemenuhan jumlah produk yang ada di stockpile dengan kualitas material minimum untuk 3 minggu konsumsi adalah material on spec dapat terlihat dari gambar diatas, pada tahap awal ada beberapa kondisi yang menyebabkan produk material on spec di stockpile lebih rendah dari 3 minggu tetapi dengan melakukan perencanaan yang baik dan proses blending yang akurat kemudian hasilnya terlihat produk material yang di stockpile selalu jumlahnya lebih dari kebutuhan untuk 3 minggu konsumsi.

Selanjutnya dengan penetapan on spec %Fe dan SM ratio yang diukur dari tahun ke tahun menunjukkan perubahan yang sangat baik yakni semakin besar porsi produk yang dihasilkan sudah on spec. Peningkatan produk on spec ini tentunya menjadi tingkat kepuasan pelanggan

dan dapat menciptakan performance perusahaan yang baik dan menghasilkan keuntungan yang maksimal, karena dengan banyaknya material yang tidak on spec akan membutuhkan proses re-handling yang secara langsung akan menaikkan biaya operasi dan selama proses re-handling tersebut juga ada potensi kehilangan produk disebabkan material yang tertumpah atau tertinggal karena adanya proses pemindahan material dari stockpile ke statiun penyaringan atau ke lokasi pencampuran.

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

2005 2006 2007 2008 2009

On Spec LOW High Sum of TON

Year

Ket

Gambar 18. Komposisi produk on spec dari tahun 2005 – 2009

Perbaikan dan strategi yang diterapkan perusahaan selama periode tahun 2005 sampai 2009 menunjukkan hasil yang sangat baik terlihat dengan peningkatan komposisi on spec setiap tahunnya seperti ditunjukkan gambar diatas dari tahun 2005 pencapaian on spec 52% ditahun 2009 pencapaian on spec 87%. Jadi terjadi perubahan atau peningkatan yang sangat signifikan dalam menghasilkan

produk dalam hal kualitas sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati.

%Fe EF slag

0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4

10.0 11.0 12.0 13.0 14.0 15.0 16.0 17.0 18.0 19.0 20.0 21.0 22.0 23.0 24.0 25.0 26.0 27.0 28.0

%Fe 2006 %Fe 2007 %Fe 2008 %Fe 2009

Gambar 19. Produk Material on spec di stockpile

Pencatatan pemenuhan spesifikasi %Fe selama periode tahun 2006 sampai 2009 menunjukkan hasil yang sangat baik terlihat dari gambar histogram diatas kurva yang lebih baik dan lebih mendekati ke nilai rata-rata mulai dari tahun 2007 hingga tahun 2009. Sama halnya dengan coeficien variability untuk on spec %Fe dan SM ratio terlihat pencapaian yang sangat baik sesuai dengan gambar berikut dibawah. Data menungjukkan di tahun 2008 dan 2009 rata-rata %Fe sudah sangat mendekati 19% dan variabilitinya sangat kecil yakni minimum 16% dan maksimum 22%.

Dibandingkan dengan tahun 2006 rata-rata %Fe masih dibawah 19% dengan variability yang masih sangat besar.

RKF1 - FE Performance

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30

910 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 5212345678910 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Week

% Fe

0 2 4 6 8 10 12 14 16

Coef of Variance (%)

Average of FE Fe Target Top Limit Fe Bottom Limit Fe Average of Co x 100

Gambar 20. Hasil Perhitungan Coeficien variability

Melakukan pencatatan setiap ditemukan batu besar atau material pengotor di produk sehingga menciptakan terhentinya operasi merupakan salah satu ukuran yang ditetapkan oleh perusahaan untuk operasi tambang dalam pemenuhan kepuasan pelanggan.

Pada tahap awal rata-rata terhentinya operasi akibat ditemukan batu besar dan material pengotor di produk material berkisar 0,71 jam dalam seminggu, kemudian dengan melakukan audit dan melakukan analisa pada setiap lokasi kerja yang memungkinkan masuknya batu besar dan material pengotor yang tidak diinginkan dan selanjutnya disiapkan prosedur kerja standar untuk selalu melakukan pengecekan dan penempatan produk material secara teratur sesuai dengan rencana minggu yang dibuat. Setelah sekian masa program ini dijalankan maka hasilnya terlihat di

gambar berikut dimana terhentinya operasi menurun menjadi 0,28 jam dalam setiap minggunya.

Big Rock Delays

0.71

0.28

0 1 2 3 4

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Week

Delay (hrs)

Delay (Hrs) Average (Hrs) Target (Hrs) Target = 0.60 hrs per week

Big Rock Elimination

Program

Gambar 21. Pencatatan delay karena ditemukan batu besar atau material pengotor di produk

c. Perspektif Proses Bisnis Internal

Perspektif ini memiliki sasaran strategi, antara lain Pengembangan dan perbaikan proses operasi dan produksi.

Sasaran strategi tersebut untuk mengantisipasi perubahan kondisi global baik terhadap harga nickel dan munculnya pesaing dalam produk yang sama atau mirip. Sehingga tingkat keberhasilan dalam bertahan dan bersaing dapat dipertahankan untuk masa yang cukup panjang yang pada akhirnya akan memperbesar penguasaan pangsa pasar dan keberlanjtan proses bisnis serta pengelolaan cadangan nickel yang dikuasai oleh perusahaan pada saat ini.

Tolok ukur yang tepat untuk mengukur keberhasilan pencapaian sasaran strategi ini adalah:

1) Pengembangan metoda operasi tambang untuk memaksimumkan perolehan tambang (mine recovery) cadangan yang ada

Manajemen operasi tambang terus berupaya untuk mengenali kondisi operasi dan jumlah cadangan yang ada sehingga tetap mempertahan kemampuan menghasilkan produk yang dibutuhkan pelanggan saat ini dan yang akan datang serta mengembangkan strategi-strategi baru baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan mengoptimalkan penggalian cadangan yang ada. Pada tahap awal inovasi yang dilakukan perusahaan hanya berupa proses penggalian pada lokasi cadangan yang langsung hasilnya sesuai dengan spesifikasi produk yang diinginkan pelanggan, sehingga apabila ditemukan material yang tidak sesuai atau jauh dari spesifikasi produk maka lokasi penggalian akan dipindahkan ke tempat yang lain yang lebih sesuai.

Praktek ini menyebabkan banyak lokasi yang tidak sampai dituntas ditambang dan ditinggalkan untuk sementara dan terjadi perpindahan alat gali yang lebih banyak yang menyebabkan rendahnya tingkat

produktivitas alat gali karena harus terjeda pada saat di transportasi ke lokasi yang baru.

Perusahaan melakukan kajian dan menerapkan strategi tambang secara tuntas karena dari data terlihat bahwa masih ada kesempatan untuk melakukan penambangan yang tuntas dimana material yang tidak on spec di simpan di ROM pile dan kemudian didata dengan baik sehingga dengan proses pencampuran yang terencana maka material tersebut dicampur dengan komposisi yang tepat dan menghasilkan produk akhir yang sesuai spesifikasi.

Overburden

0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0

P eriod

O B (Actual) O B (M odel)

Gambar 22. Pencapaian penggalian overburden

ORE

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0

P eriod

O re (M odel) O re (A ctual)

Gambar 23. Pencapaian penggalian ORE

Dari hasil monitoring dan pengukuran dilapangan dibandingkan dengan perhitungan jumlah cadangan mulai dari tanah penutup (overburden) dan bijih yang mengandung nickel (ore) dan ditampilkan dalam gambar 20 dan 21, terlihat bahwa mulai dari periode tahun 2006 sampai tahun 2009 ada peningkatan yang sangat signifikan dimana hasil aktual lebih besar dari nilai perhitungan. Data ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan metoda operasi tambang untuk memaksimumkan perolehan tambang (mine recovery) dari cadangan yang ada berhasil, telihat peningkatan selama periode tersebut jumlah Ore yang diperoleh mencapai 176% dari data perkiraan atau hitungan sehingga semua Ore yang ada di tambang secara tuntas.

Secara rinci angka-angka monitoring yang dianlisa setiap tiga bulan mulai dari tahun 2006 sampai tahun 2009 ditampilkan di table berikut.

Tabel 14. Tabel Pencapaian Recovery Penggalian Overburden dan ORE

OB ROM Ni Fe SiO2 MgO SM

Q1 06 88% 150% 97% 114% 101% 84% 121%

Q2 06 88% 167% 94% 110% 103% 89% 116%

Q3 06 86% 172% 95% 105% 108% 95% 113%

Q4 06 73% 212% 100% 99% 120% 106% 114%

Q1 07 82% 240% 107% 102% 119% 108% 110%

Q2 07 75% 122% 100% 96% 125% 113% 110%

Q3 07 86% 147% 101% 93% 127% 117% 109%

Q4 07 86% 144% 99% 90% 128% 125% 103%

Q1 08 79% 193% 96% 105% 115% 108% 107%

Q2 08 75% 246% 93% 103% 119% 113% 105%

Q3 08 53% 237% 99% 103% 118% 105% 113%

Q4 08 77% 214% 105% 118% 125% 118% 106%

Q1 09 84% 171% 97% 76% 125% 119% 105%

Q2 09 86% 132% 104% 90% 143% 136% 105%

Q3 09 84% 148% 98% 87% 125% 118% 106%

Q4 09 83% 162% 93% 81% 71% 75% 95%

Total 77% 176% 99% 97% 116% 106% 109%

Sorowako

Area

Actual/Model

Tonnage Grade

Periode

2) Pengembangan metoda operasi tambang untuk memaksimumkan utilitas alat tambang dan cycle time alat angkut

Selain berpindah lokasi tambang perusahaan pada saat awal hanya membatasi jumlah station penyaringan dan lokasi ROM pile untuk memproses hasil tambang. Hal ini juga menyebabkan seringnya operasi tambang terhenti apabila ada kerusakan pada salah satu statiun penyaringan atau kemampuan stasiun penyaring

sudah terlampaui dan ROM Pile juga sudah penuh, apabila situasi ini terjadi maka alternatif yang bisa dilakukan di lapangan adalah memindahkan ke operasi stripping atau menghentikan operasi penambangan sampai bisa ditampung lagi oleh stasiun penyaringan atau ada ROM pile yang tersedia.

Berdasarkan kondisi yang ini akhirnya perusahaan melakukan pengkajian dan menjalankan strategi inovasi untuk meningkatkan kemampuan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi pelanggan tanpa harus membuka areal tambang yang lebih besar dan tanpa harus menambah alat – alat operasi, artinya meningkatkan utilisasi alat dan cadangan yang ada dengan melakukan penambangan yang lebih menerus dan tuntas.

Perusahaan melakukan hal ini karena dari data terlihat bahwa angka utilisasi alat masih berpeluang untuk ditingkatkan dan dari kajian cadangan masih ada kesempatan untuk melakukan penambangan yang tuntas dimana material yang tidak on spec di simpan di ROM pile dan kemudian didata dengan baik sehingga dengan proses pencampuran yang terencana maka material tersebut dicampur dengan komposisi yang tepat

dan menghasilkan produk akhir yang sesuai spesifikasi.

Juga dengan menambah jumlah stasiun penyaringan dibeberapa tempat selain menambah jumlah produk investasi ini juga dapan mengurangi jarak angkut hasil tambang yang biasanya berlokasi sangat jauh dari lokasi tambang yang sedang aktif.

Data-data yang ditampilakan di gambar berikut menunjukkan kenaikan pada produktivitas alat angkut dan alat gali. Peningkatan produkstivitas alat angkut rata-rata 21% dan peningkatan produkstivitas alat gali rata-rata 29%. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan metoda operasi tambang untuk memaksimumkan utilitas alat tambang dan cycle time alat angkut memberikan hasil yang baik untuk meningkatkan produkstivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah produksi dengan menggunakan peluang-peluang yang ada tanpa harus menambah jumlah alat – alat tambang atau menambah jumlah pekerja yang mengoperasikan alat tambang. Secara langsung hal ini sangat mempengaruhi dalam efisiensi dan efektivitas kerja oeprasi tambang yang pada akhirnya menurunkan biaya operasi sehingga

Dokumen terkait