BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
D. Pengujian Hipotesis
Pengujian terhadap hipotesis dilakukan dengan analisis berganda, yaitu untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian analisis berganda terhadap model persamaan regresi diformulasikan sebagai berikut:
Tobin’s q = + WOMDUM + MINORITY + OUTSIDER +
AGE + BSTUDY + PPEBVA + MVEBVE +
commit to user
60 Perhitungan analisis regresi ganda dilakukan dengan bantuan komputer, program SPSS release 16, hasil analisis regresi yang diperoleh adalah:
Tabel 4.6
Hasil Analisis Regresi Berganda
Variabel Coeffisients t Sig Interpretasi
Constant WOMDUM MINORITY OUTSIDER AGE BSTUDY PPEBVA MVEBVE PER CFROA 1,591 -0,021 0,272 -1,011 -1,249 0,002 0,825 0,376 -0,002 -0,682 2,704 -0,189 2,216 -1,928 -2,329 0,011 3,715 8,456 -1,606 -1,263 0,009 0,851 0,030 0,058 0,023 0,991 0,000 0,000 0,113 0,211 - Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan
Sumber: Hasil Pengolahan Data
Dari hasil analisis regresi di atas, maka dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut:
TOBIN = 1,591 – 0,021 WOMDUM + 0,272 MINORITY – 1,011 OUTSIDER – 1,249 AGE + 0,002 BSTUDY + 0,825 PPEBVA + 0,376 MVEBVE – 0,002 PER – 0,682 CFROA
Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai konstanta sebesar 1,591. Hal ini berarti bahwa jika variabel-variabel lain diasumsikan konstan, maka rata-rata abnormal return adalah sebesar 1,591. Nilai koefisien regresi
commit to user
61 WOMDUM sebesar -0,021, artinya apabila WOMDUM mengalami penurunan sebesar 1 kali maka abnormal return akan meningkat sebesar 0,021 kali, begitu pula sebaliknya. Koefisien regresi MINORITY sebesar 0,272 menyatakan bahwa setiap peningkatan 1 kali MINORITY, akan meningkatkan abnormal return sebesar 0,272. Koefisien OUTSIDER sebesar -1,011 menunjukkan bahwa penurunan OUTSIDER sebesar 1 kali maka akan meningkatkan abnormal return sebesar 1,011. Koefisien AGE sebesar -1,249 menunjukkan bahwa penurunan AGE sebesar 1 kali maka akan meningkatkan abnormal return sebesar 1,249, hal ini juga berlaku bagi PER dan CFROA. Nilai koefisien regresi BSTUDY sebesar 0,002 menyatakan bahwa setiap peningkatan 1 kali BSTUDY, maka abnormal return akan meningkat sebesar 0,002, begitu pula dengan PPE/BVA dan MVE/BE.
1. Pengujian Regresi Parsial (t hitung)
Nilai t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2009). Hasil t persamaan regresi dapat dilihat pada tabel 4.6.
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa angka koefisien variabel WOMDUM sebesar -0,021 dengan tingkat signifikansi 0,851 (p-value > 0,05). Tingkat signifikansi yang lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa berdasarkan sampel penelitian, keberadaan wanita dalam anggota dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diproksikan dengan rasio tobin’s q.
Angka koefisien variabel MINORITY atau keberadaan etnis Tionghoa dalam anggota dewan komisaris sebesar 0,272 dengan tingkat signifikansi
commit to user
62 sebesar 0,030 (p-value < 0,05). Tingkat signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa berdasarkan sampel penelitian, keberadaan etnis Tionghoa berpengaruh pada nilai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sedangkan tanda positif pada koefisien interaksi mengindikasikan bahwa keberadaan etnis Tionghoa berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Hasil p-value untuk OUTSIDER adalah sebesar 0,058 yang lebih tinggi dari tingkat alpha yaitu 0,05, sehingga dapat dinyatakan bahwa variabel OUTSIDER atau proporsi dewan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Hasil p-value variabel AGE sebesar 0,023 yang lebih kecil dari 0,05 dan angka koefisien sebesar -1,249, hal ini menunjukkan bahwa proporsi anggota dewan komisaris yang berusia lebih dari 40 tahun berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
Angka koefisien variabel BSTUDY atau proporsi latar belakang pendidikan anggota dewan komisaris sebesar 0,002 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,991 (p-value > 0,05). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa proporsi latar belakang pendidikan anggota dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hasil p-value untuk investment opportunity set yang diproksikan dengan rasio PPE/BVA adalah sebesar 0,000 yang jauh lebih rendah dari tingkat alpha yaitu 0,05 dan angka koefisien sebesar 0,825, sehingga dapat
commit to user
63 nilai buku aktiva dengan nilai total buku aktiva berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Hasil p-value untuk investment opportunity set yang diproksikan dengan rasio MVE/BVE adalah sebesar 0,000 yang lebih rendah dari tingkat alpha yaitu 0,05 dan angka koefisien sebesar 0,376, sehingga dapat
dinyatakan bahwa rasio MVE/BVE atau Market to Book Value of Equity ratio berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
Sedangkan investment opportunity set yang diproksikan dengan rasio Price Earning Ratio (PER) mempunyai hasil p-value sebesar 0,113 yang
lebih besar dari tingkat alpha yaitu 0,05 dan angka koefisien sebesar 0,002, sehingga dapat dinyatakan bahwa rasio PER tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Hal ini juga terjadi pada variabel kinerja perusahaan yang diproksikan dengan CFROA. Hasil p-value untuk CFROA adalah sebesar 0,211 yang lebih besar dari tingkat alpha yaitu 0,05 dan angka koefisien sebesar 0,682, sehingga dapat dinyatakan bahwa CFROA tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
2. Pengujian Regresi Simultan (F hitung)
Uji signifikansi F bisa dilakukan dengan melihat angka signifikansi F. Hasil Nilai F persamaan regresi dan signifikansinya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
commit to user
64 Tabel 4.7
Hasil Uji Nilai F
F Hitung Sig Interpretasi
14,168 ,000 Signifikan pada 0,05
Sumber: Hasil Pengolahan Data
Hasil Nilai F hitung menunjukan hasil 14,168 dengan probabilitas 0,000 (<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu nilai perusahaan.
3. Pengujian Koefisien Determinasi (Goodness of Fit / R2)
Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah diantara 0 dan 1. Semakin besar koefisien determinasi atau semakin mendekati 1 (satu), menunjukkan semakin kuat kemampuan variabel independen dalam menjelaskan perubahan variabel dependen. Sesuai dengan Ghazali (2009) bahwa dalam model terdapat variabel independen lebih dari dua maka nilai adjusted R2 lebih baik dalam menilai kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Nilai koefisien determinasi dapat kita lihat dari pada model summary pada hasil regresi linier berganda.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh board diversity, Investment Opportunity Set (IOS), dan kinerja perusahaan terhadap nilai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
commit to user
65 Tabel 4.8
Hasil Uji Koefisien Determinasi
R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
.814a 0,662 0,616 .42508
Sumber: Hasil Pengolahan Data
Pada tabel 4.8 di atas memperlihatkan nilai adjusted R square sebesar 0,616 atau sebesar 61,6%. Berdasarkan nilai adjusted R square tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 61,6% variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen, sedangkan sisanya sebanyak 39,4% (100% - 61,6%) dijelaskan oleh faktor lain di luar model.