BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
METODOLOGI PENELITIAN
H. Analisis Data
6. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk mengetahui apakah kesimpulan berakhir pada penerimaan atau penolakan. Ada dua langkah dalam pengujian hipotesis, yaitu :
a. Analisis Koefisien Korelasi
Analisis korelasi dimaksudkan untuk mengetahui tentang keterkaitan antar variabel X dan variabel Y dalam suatu penelitian. Ukuran yang digunakan untuk mengetahui derajat hubungan dalam penelitian ini adalah statistik parametrik, yaitu teknik analisis korelasi pearson product moment. Hal ini didasarkan pada data penelitian dipilih secara acak dan distribusi data kedua variabel penelitian normal.
Adapun untuk mencari koefisien korelasi antara variabel X dan Y dengan rumus analisis korelasi pearson product moment dalam (Akdon dan Sahlan Hadi, 2005:188) sebagai berikut:
2 2
2
2
. . . . Y Y n X X n Y X XY n rhitung Keterangan: N = jumlah responden∑XY = jumlah perkalian X dan Y
∑X = jumlah skor tiap butir
∑Y = jumlah skor total
∑X² = jumlah skor-skor X yang dikuadratkan
∑Y² = jumlah skor-skor Y yang dikuadratkan
Langkah-langkah yang harus ditempuh sebagai berikut :
1) Membuat tabel penolong untuk menghitung korelasi
2) Mencari r hitung dengan cara memasukkan angka statistik dari tabel penolong sesuai rumus.
3) Menafsirkan tingkat koefisien korelasi dengan kriteria yang telah ditetapkan. Menurut Sugiyono (2010:231) pedoman yang digunakan untuk menafsiran koefisien korelasi sebagai berikut:
Tabel 3.8
Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval
Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000
Koefisien sangat rendah Koefisien rendah Koefisien sedang Koefisien kuat Koefisien sangat kuat
b. Uji signifikansi
Untuk mengetahui tingkat keberartian harga koefisen korelasi dilakukan uji signifikansi T-test. Untuk menujinya dipergunakan rumus yang dikemukakan oleh Akdon dan Sahlan Hadi (2005:190):
2 1 2 r n r thitung Keterangan: t = nilai t
r = nilai koefisien korelasi
n = jumlah sampel
Jika thitung lebih besar dari ttabel dengan dk = n – 2 pada taraf atau tingkat kepercayaan yang dipilih dalam hal ini adalah tingkat kepercayaan 95% maka dapat disimpulkan hipotesis diterima.
c. Analis Regresi
Analisis regresi dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian yang membuktikan adanya hubungan yang fungsional antara variabel X dan variable Y. adapun analisis regresi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu regresi sederhana, dengan rumus yang dikemukakan oleh Sugiyono (2009:261), sebagai berikut:
Keterangan:
Ŷ = Subjek dalam variabel dependen yang diprediksikan a = Konstanta (harga Y bila x = 0)
b = Menunjukkan arah atau koefisien regresi. Menunjukkan angka penurunan atau peningkatan nilai variabel dependen yang didasarkan pada hubungan nilai variabel independen. Bila b (+), maka nilai variabel dependen akan naik, bila b (-) maka nilai variabel dependen akan naik.
X = Subjek independen yang mempunyai niali tertentu.
Berdasarkan rumus diatas, maka untuk mencari harga a dan b adalah sebagai berikut:
2 2 ) ( ) )( ( . x n XY X X Y ax
2 2 ) ( ) )( ( x n Y X XY n bx
Ŷ= α + b×Keterangan:
∑X = jumlah skor tiap item
∑Y = jumlah skor total
∑X² = jumlah kuadrat skor setiap item
∑Y² = jumlah kuadrat skor total N = jumlah sampel
Dengan demikian, harga b merupakan fungsi dari koefisien korelasi. Apabila angka koefisien korelasi tinggi, maka harga b juga tinggi, dan sebaliknya harga b akan rendah jika angka koefisien korelasi juga rendah.
d. Koefisien Determinasi
Derajat determinasi dipergunakan dengan maksud untuk
mengetahui besarnya kontribusi variabel x terhadap variabel y untuk mengujinya dipergunakan rumus yang dikemukakan oleh akdon dan sahlan (2005:188) sebagai berikut:
KDr2100%
Dimana:
KD : koefisien determinasi yang dicari r² : koefisien korelasi
130 Rizqi Syaroh Amaliyah, 2013
Kontribusi Peran Komite Sekolah Terhadap Income Generating Sekolah Pada SD Negeri di Kecamatan Sumur Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Peran komite sekolah pada SD Negeri di kecamatan Sumur Bandung berada pada kategori sangat baik. Meskipun masih ada komite sekolah yang belum secara maksimal menjalankan perannya. Pekerjaan lain diluar komite sekolah, kepribadian serta sikap organisasi komite sekolah menjadi penyebab ketidakmampuan Komite sekolah untuk menempatkan diri sebagai mitra sekolah sehingga komite sekolah menjadi suatu lembaga/badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat sebagaimana tercantum dalam kepmendiknas No 004/U/2002.
Income generating sekolah pada SD Negeri di Kecamatan sumur Bandung diukur dari fungsi pengelolaan pembiayaan sekolah berada pada kategori sangat baik. Pengelolaan ini sangat esensial dimana melalui fungsi-fungsi tersebut Komite sekolah bersama pihak sekoolah dapat mengidentifikasi berbagai jenis pengeluaran dan potensi-potensi sumber dana yang dapat digali untuk meningkatkan pendapatan sekolah guna mendukung kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.
Peran komite sekolah memiliki kontribusi yang positif terhadap Income generating sekolah khususnya SD Negeri di kecamatan Sumur Bandung. Pendapatan sekolah meningkat seiring dengan semakin baiknya peran yang dijalankan komite sekolah. Berbagai kekurangan kebutuhan sarana prasarana maupun dana untuk kegiatan disekolah dapat dipenuhi dengan dukungan dana
Rizqi Syaroh Amaliyah, 2013
Kontribusi Peran Komite Sekolah Terhadap Income Generating Sekolah Pada SD Negeri di Kecamatan Sumur Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
yang diperoleh dari orang tua, masyarakat, pemerintah maupun dunia usaha/dunia industri melalui komite sekolah.
B. Rekomendasi
Baik komite sekolah, pihak sekolah maupun masyarakat harus memahami konsep keberadaan sekolah secara hakiki sebagai mitra sekolah dalam pemberdayaan dan pengembangan sekolah dalam upaya membangun dan
meningkatkian mutu pendidikan serta bukan “alat legalitas” sekolah. Sehingga
komite sekolah berubah menjadi suatu badan mandiri yang berbasis profit oriented (mencari keuntungan pribadi).
Sekolah memberi kesempatan kepada komite sekolah untuk melaksanakan tupoksinya sebagai pemberi bantuan, baik berupa pikiran bagaimana cara mengatasi problematika sekolah maupun finansial untuk mendukung manajemen di kegiatan belajar mengajar yang dibutuhkan sekolah.
Untuk meningkatkan pendapatan (income generating) sekolah dapat
dilakukan melalui peningkatan dan pemberdayaan peran komite sekolah. Berbagai kegiatan dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan pendapatan (income generating) sekolah seperti pengembangan jalinan kerja dengan penyandang dana, baik donatur tetap maupun tidak tetap, penggalangan dana dari berbagai sumber termasuk dari sponsor, menyusun proposal untuk setiap program kegiatan, dan sebagainya.
132
Rizqi Syaroh Amaliyah, 2013
Kontribusi Peran Komite Sekolah Terhadap Income Generating Sekolah Pada SD Negeri di Kecamatan Sumur Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Bakar, Abu dan C. Taufani. (2011). “Manajemen Keuangan Pendidikan”, dalam Manajemen Pendidikan. (cetakan ke-4). Bandung: Alfabeta.
Achmad Kurniadi, D. (2005). Pembiayaan Pendidikan, Ekonomi, Pendidikan dan
Ekonomi Pendidikan. [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/197106092005011DEDY_ACHMAD_KUR NIADY/Pembiayaan_pend/Pembiayaan_Pendidikan.pdf. [ 1 Desember 2012] Akdon dan Sahlan Hadi. (2005). Aplikasi Statistika dan Metode Penelitian untuk.
Administrasi dan Manajemen. Bandung : Dewa Ruchi.
Ali, Mohammad. (1987). Penelitian kependidikan: Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa.
Anggun. (2012). Sumber Pendapatan Untuk Sekolah Umum. [Online]. Tersedia:
http://goenable.wordpress.com/tag/sumber-pendapatan-sekolah/. [1 Desember 2012].
Arikunto, Suharsimi. (1998). Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Peneltian Suatu Pendekatan Praktik. (ed. rev). Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas RI. (2002). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 004/U/2002 Tanggal 2 April 2002 tentang Peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Jakarta: Sekjend. Depdiknas RI.
Depdiknas RI. (2003). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun
2003. Jakarta: Depdiknas RI.
Depdiknas RI. (2008). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.60 Tahun
2011 Tentang Larangan Pungutan Biaya Pendidikan Pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Depdiknas RI.
Depdiknas RI. (2008). Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang
Pendanaan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas RI.
Depdiknas RI. (2009). Income Generating Activity Sebagai Kegiatan
Kewirauasahaan. [Online]. Tersedia: http://www.docstoc.com/docs/26372696/e nterpreneurship---PowerPoint. [1 Desember 2012].
Rizqi Syaroh Amaliyah, 2013
Kontribusi Peran Komite Sekolah Terhadap Income Generating Sekolah Pada SD Negeri di Kecamatan Sumur Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Ditjen Dikdasmen Depdiknas. (2007). Indikator Kinerja Komite Sekolah.
[Online]. Tersedia: http://dpjp.wordpress.com/2007/04/28/indikator-kinerja-komite-sekolah/. [1 Desember 2012].
Farid, Ismail. (2010). Analisis Kebutuhan Lembaga.
[Online]. Tersedia: manhijismd.wordpress.com/…/06/analisis-kebutuhan. [1
Desember 2012].
Fattah, Nanang. (2002). Persepsi Kepala Sekolah, Guru, Dewan Sekolah dan Orang Tua Terhadap Pelaksanaan MBS di Kota Bandung. Jurnal Administrasi Pendidikan, volume: I No 1, 2002.
Fattah, Nanang. (2008). Pembiayaan Pendidikan: Landasan, Teori dan Studi Empiris. Jurnal Pendidikan Dasar. [Online], No.9-April 2008, 4halaman. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/PENDIDIKAN_DASAR/Nomor_9_April_
2008/Pembiayaan_Pendidikan_Landasan_Teori_Dan_Studi_Empiris_Pdf. [1
Desember 2012].
Fattah, Nanang. (2009). Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. (cetakan ke-5).
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Garmawandi. (2012). Peran Komite Sekolah dalam Mendukung Sumber Pembiayaan
Pendidikan Di Tingkat Sekolah Dasar dan Menengah. [Online]. Tersedia: www.docstoc.com/docs/129439177. [1 Desember 2012].
H. Jones, Thomas. (1985). School Finance: Technique and Social Policy. London: Collier McMillan Publisher.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1984). Balai Pustaka.
Kemendikbud RI. (2012). Draf Naskah Manual Mutu Pada Sedolah Dasar (SD) / Madrasah Ibtidaiyah (MI). Jakarta: Kemendikbud.
M. Asrori Ardiansyah. (2011). Peran dan Fungsi Komite Sekolah.[Online]. Tersedia:
http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/peran-dan-fungsi-komite-sekolah.html. [1 Desember 2012].
Mulyasa, E. (2009). Manajemen Berbasis Sekolah. (cetakan ke-12). Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Purwanto. (2004). Pengaruh Komunikasi Interpersonal Kepala Sekolah Terhadap Iklim Kerja Guru Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Di Kecamatan
Rizqi Syaroh Amaliyah, 2013
Kontribusi Peran Komite Sekolah Terhadap Income Generating Sekolah Pada SD Negeri di Kecamatan Sumur Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu
Sudjana. (1996). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Admnistrasi. (cetakan ke-18). Bandung:
Alfabeta.
Supriadi, Dedi. (2004). Satuan Biaya Pendidikan Dasar dan Menengah. (cetakan
ke-2). Bandung: PT: Remaja Rosdakarya.
Surakhmad, Winarno. (1998). Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode Dan
Tehnik. (edisi. Kedelapan). Bandung: Tarsito.
Tim Pengembang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. (2003). Acuan
Operasional dan Indikator Kinerja Dewan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Tim Pokja School Based Management. (2001). Pedoman Implementasi MBS di Jawa
Barat. Bandung: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Trimo. (2008). Peranan Komite Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.
[Online]. Tersedia: http://re-searchengines.com/trimo80708.html. [1 Desember 2012].
Yasin. Mohammad. (2011). Komite Sekolah dalam PP No 17 Tahun 2010. [Online].
Tersedia: http//komitekdn.blogspot.com/2011/01/k-s-dalam-PP-17-tahun-2010-html. [1 Desember 2012].
Rizqi Syaroh Amaliyah, 2013
Kontribusi Peran Komite Sekolah Terhadap Income Generating Sekolah Pada SD Negeri di Kecamatan Sumur Bandung