• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Hipotesis

Dalam dokumen BAB III METODOLOGI PENELITIAN (Halaman 57-65)

Langkah selanjutnya setelah menyelesaikan tabel tunggal dan tabel silang adalah melakukan pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah hipotesis dalam penelitian ini ditolak atau diterima. Hipotesis ini meliputi variabel bebas (X) Program CSR “Bedah Rumah” dan variabel terikat (Y) citra perusahaan di masyarakat Kabupaten Batubara.

Peneliti akan melakukan uji tingkat hubungan antara kedua variabel yang dilakukan dengan rumus Koefisien Korelasi Tata Jenjang (Rank-Order Correlation Coefficient) oleh Spearman menggunakan perangkat lunak SPSS versi 17 sebelum melakukan pengujian

tentang pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Hasil uji korelasi bivariat Spearman diperoleh sebesar:

Rumus koefisiennya adalah: Rho = 1 –

Selanjutnya untuk menentukan kekuatan hubungan tinggi rendahnya korelasi digunakan skala Guilford (Rakhmat,2004:29), yaitu sebagai berikut ini:

<0,20 : korelasi rendah sekali 0,20- 0,40 : korelasi rendah tapi pasti 0,41-0,70 : korelasi yang cukup berarti 0,71-0,90 : korelasi yang tinggi; kuat

0,91-1,00 : korelasi sangat tinggi; kuat sekali dapat diandalkan

Dimana hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ho : tidak terdapat hubungan antara program CSR “Bedah Rumah” dengan citra PT Inalum (Persero).

Ha : Terdapat hubungan antara program CSR “Bedah Rumah” dengan citra PT Inalum (Persero).

Berdasarkan hasil dari “output SPSS viewer” telah menghasilkan analisis korelasi dua variabel (bivariate correlations) menggunakan koefisien korelasi Spearman dengan tingkat signifikan 0,05 sebagai berikut:

Tabel 4.47

Analisis Korelasional Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) terhadap Citra Perusahaan di Masyarakat Kabupaten

Batubara Program CSR “Bedah Rumah” Citra Perusahaan

Spearman's rho Program CSR “Bedah Rumah” Correlation Coefficient 1.000 .525** Sig. (2-tailed) . .000 N 45 45

Citra Perusahaan Correlation Coefficient

.525** 1.000

Sig. (2-tailed) .000 .

N 45 45

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Analisis uji korelasional dua variabel (bivariate correlations) dengan menggunakan model Spearman melalui perangkat lunak Program Statistik SPSS 17.0, menunjukkan nilai signifikan yaitu 0,000 < 0,05 yang menyatakan Ho ditolak. Artinya, adanya hubungan yang signifikan antara Program CSR “Bedah Rumah” dengan citra perusahaan di masyarakat Kabupaten Batubara.

Pada perhitungan koefisien korelasi dengan menggunakan spearman Rho Koefisien didapat hasil .525 yang artinya sebagai 0,525. Angka tersebut adalah angka koefisien korelasi. Berikut uraiannya:

a. Sesuai dengan kaidah spearman, jika Rho > 0, maka Ha diterima. Oleh karena itu, 0,525 > 0 maka dapat kita simpulkan bahwa terdapat pengaruh antara Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) terhadap citra perusahaan di masyarakat

b. Bila dilihat pada skala Guilford angka tersebut menunjukkan hubungan yang cukup berarti antara variabel X dan variabel Y karena 0,525 terletak antara 0,40 – 0,70. Dengan demikian, dapat diuraikan bahwa terdapat hubungan yang cukup berarti antara Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) terhadap citra perusahaan di masyarakat Kabupaten Batubara.

c. Selanjutnya adalah mencari besarnya pengaruh yang ditimbulkan Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) terhadap citra perusahaan di masyarakat Kabupaten Batubara, yaitu dengan menggunakan Uji Determinan Korelasi sebagai berikut :

KD= (Rho)2 .100% KD= (0,525)2 . 100% KD=0,2756 .100% KD= 27,56%

Maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) terhadap citra perusahaan di masyarakat Kabupaten Batubara dalam penelitian ini adalah sebesar 27,56% sedangkan 72,44% bersumber dari faktor lainnya.

4.6 Pembahasan

Peneliti telah melaksanakan serangkaian penelitian terhadap responden. Dari serangkaian penelitian tersebut, rata-rata responden berpendapat setuju atas pernyataan mengenai PT Inalum (Persero) yang berkonotasi positif. Hal ini berarti dapat disimpulkan bahwa kegiatan penunjang berdirinya sebuah perusahaan, terutama perusahaan besar seperti BUMN sangatlah penting. Kegiatan penunjang tersebut ialah kegiatan-kegiatan CSR yang rutin dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Seperti pada halnya PT Inalum (Persero) yang melakukan Program CSR tahunan yaitu Program “Bedah Rumah”.

Berbagai cara akan terus dilakukan oleh perusahaan ataupun intitusi untuk membentuk, menjaga dan meningkatkan citra. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menjaga kelangsungan perusahaan. Agar PT Inalum (Persero) tidak tergilas oleh persaingan dan perkembangan yang pesat dengan perusahaan dalam maupun luar negeri. Dengan kegiatan-kegiatan CSR PT Inalum (Persero) akan menjaga dan menjalin hubungan yang baik dengan menjadikan PT Inalum (Persero) menjadi perusahaan BUMN dengan segudang prestasi.

Sesuai dengan definisi oleh Cutlip dan Center (dalam Broom et al, 2006), ciri khas dari public relations adalah suatu kegiatan timbal balik antara lembaga dengan publiknya. Tidak saja melakukan kegiatan kepada publik yang ada diluar lembaga, tetapi juga pihak publiknya melakukan kegiatan terhadap lembaga tersebut, sehingga terjadilah suatu pengertian bersama dalam meraih kepentingan bersama. Hal ini dapat dilihat pada peristiwa hubungan timbal balik antara masyarakat Kabupaten Batubara dengan PT Inalum (Persero). Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) membuat masyarakat Kabupaten Batubara mengalami peningkatan terutama pada bidang kesejahteraan masyarakat. Demikian pula halnya dengan perusahaan, PT Inalum (Persero) mengalami peningkatan dalam citranya dimata masyarakat sehingga membuat perusahaan tinggi eksistensinya di masyarakat.

Program CSR “Bedah Rumah” yang dilaksanakan oleh PT Inalum (Persero) tidak semata-mata dilakukan kepada masyarakat sekitar area kantor utama dan pabrik peleburan saja. Melainkan terhadap masyarakat diluar provinsi Sumatera Utara, seperti di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut berdiri bukan hanya sekedar melakukan kegiatan ekonomi yang menciptakan keuntungan demi keberlangsungan usaha, namun juga tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungannya.

Perusahaan yang tidak memperhatikan faktor sosial dan lingkungannya, tentu tidak akan memunculkan resistensi masyarakat ke permukaan. Perusahaan-perusahaan besar seperti perusahaan BUMN di Indonesia secara tidak langsung dituntut untuk berperan serta dalam kontribusinya untuk membantu menjawab semua kebutuhan dan permasalahan masyarakat yang tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Hal tersebut sesuai dengan fungsi Public Relations ketika menjalankan tugas baik sebagai komunikator, organisator, maupun mediator menurut Effendy (dalam Ruslan, 2007).

Sebanyak 44 pernyataan telah diberikan kepada 45 responden dengan dominasi jawaban setuju. setelah dilakukan uji hipotesis didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang berarti antara Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) dengan citra perusahaan di masyarakat Kabupaten Batubara. Hal ini berarti PT Inalum (Persero) secara keseluruhan telah berhasil membentuk citra perusahaan dengan sangat baik di lingkungan sekitarnya.

Program-program CSR tersebut dilaksanakan oleh perusahaan sebagai media kerjasama antara perusahaan dengan publiknya, sehingga akan terbentuk relasi yang kuat diantara PT Inalum (persero) dengan masyarakat. Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) dilaksanakan secara terstruktur dan terorganisir dengan rapi dan menarik bagi masyarakat Kabupaten Batubara.

Alasan penting mengapa dunia usaha harus merespon dan mengembangkan CSR sejalan dengan operasional usahanya, salah satunya ialah karena kegiatan CSR merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial (Wibisono, 2007). Hal ini sesuai dengan upaya yang dilakukan oleh PT Inalum (Persero) untuk menjaga segala hubungan baik dengan masyarakat sekitar perusahaan. Melalui Program CSR “Bedah Rumah”, perusahaan berusaha memperbaiki atau meningkatkan citra baik perusahaan di mata masyarakat.

Public Relations dalam sebuah perusahaan berupaya dan bertanggung jawab untuk

mempertahankan citra perusahaan, agar mampu mempengaruhi harga saham maupun keuntungan marketing perusahaan agar bersaing di dunia usaha. Menciptakan citra perusahaan yang positif merupakan tujuan utama PR dibidang external public relations menurut Jeffkins (dalam Ruslan, 2008). Hal ini sesuai dengan keberhasilan PT Inalum (Persero) dalam membangun citra positif perusahaan. Kegiatan CSR tersebut merupakan kegiatan luar (eksternal) yang dilakukan oleh seksi SCD (Smelter Community Development).

Sesuai dengan Walter Lipman yang menyebut “picture in our head” mengenai pembentukan citra individu terhadap stimulus (rangsang) (Soemirat, Soleh dan Ardianto, 2004), pembentukan citra perusahaan PT Inalum (Persero) dari masyarakat Kabupaten Batubara dapat dimulai dari persepsi masyarakat yang memberi pemaknaan bahwa dengan adanya pra-survei dan sosialisasi tentang Program CSR “Bedah Rumah” masyarakat menjadi yakin dengan perusahaan. Kemampuan masyarakat dalam mempersepsi akan dapat melanjutkan proses pembentukan citra. Persepsi masyarakat akan positif apabila informasi yang diberikan oleh rangsang (Perusahaan) dapat memenuhi kognisi masyarakat.

Kognisi yaitu keyakinan masyarakat Kabupaten Batubara terhadap Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) sebagai rangsang. Keyakinan ini akan timbul apabila masyarakat telah mengerti dengan rangsang tersebut. Keyakinan tersebut dapat terlihat pada responden yang mengetahui pengorganisisasian pelaksanaan program tersebut, pengetahuan responden mengenai dana dan material bangunan, dan lain-lain. Informasi-informasi yang

diberikan oleh PT Inalum (Persero) merupakan rangsangan yang kuat untuk mengembangkan pengaruh terhadap kognisi responden.

Motivasi merupakan keadaan dalam diri masing-masing responden yang mendorong keinginan mereka untuk melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Dalam hal ini, kegiatan yang membuat masyarakat Kabupaten Batubara terdorong untuk membentuk citra positif perusahaan ialah upaya PT Inalum (Persero) yang memenuhi keinginan masyarakat untuk membedah rumah tak layak huni milik responden. Tempat tinggal adalah kebutuhan hidup yang menjamin adanya kemajuan dan kesejahteraan hidup, dengan dibantunya permasalahan tersebut tentu akan membuat masyarakat merasa dihargai dan diperhatikan kebutuhannya. Ditambah lagi, program CSR ini tidak dipungut biaya apapun terhadap responden. Hal itulah yang membuat responden yaitu masyarakat Kabupaten Batubara termotivasi untuk membentuk citra perusahaan yang positif terhadap PT Inalum (Persero).

Sikap menganduk aspek evaluative yang artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Dalam hal ini sikap responden terhadap PT Inalum (Persero) menjadi menyenangkan berkat adanya Program CSR “Bedah Rumah” tersebut. Sikap merupakan adanya kecenderungan responden untuk bertindak, berpikir, dan merasa dalam menghadapi adanya Program CSR “Bedah Rumah” tersebut. Sikap responden yang sangat pro terhadap rangsang tersebut telah membuat citra perusahaan menjadi baik di masyarakat Kabupaten Batubara.

Kabupaten Batubara merupakan wilayah tempat berdirinya kantor utama dan pabrik peleburan aluminium PT Inalum (Persero). Dengan demikian masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut merupakan masyarakat yang paling dekat dengan segala kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Bagi masyarakat Kabupaten Batubara, dengan adanya kegiatan CSR “Bedah Rumah” tersebut akan meningkatkan nilai tambah adanya perusahaan di daerah tersebut. Kabupaten Batubara merupakan wilayah yang jauh dari pusat kota terutama dari ibukota Provinsi Sumatera Utara yaitu Kota Medan.

Masyarakat sekitar PT Inalum (Persero) yang rata-rata bekerja sebagai nelayan dan wirausaha, atau bahkan tidak lagi bekerja, sangat terbantu dengan kehadiran perusahaan tersebut. Karena bagi masyarakat, dengan berdirinya sebuah perusahaan besar di wilayah mereka, akan membuka lapangan pekerjaan yang banyak. Tidak hanya penyerapan

pekerjaan juga terlihat pada jalan lintas menuju kantor dan pabrik PT Inalum (Persero). Banyak ditemui berbagai macam usaha masyarakat, terutama toko atau gerai penjualan barang sehari-hari di jalan lintas menuju PT Inalum (Persero) tersebut.

Rumah masyarakat yang sudah direnovasi oleh PT Inalum (Persero) wajib memasang prasasti pada dinding depan rumah. Prasasti tersebut menandakan bahwa rumah tersebut merupakan hasil renovasi atau bedah rumah dari PT Inalum (Persero). Prasasti tersebut berguna sebagai tanda bahwa telah dilaksanakannya Program CSR “Bedah Rumah” tersebut. PT Inalum (Persero) akan melakukan peninjauan terhadap rumah yang telah dibedah atau direnovasi untuk survei perusahaan. Maka dari itu hubungan yang baik antara masyarakat dan PT Inalum (Persero) akan selalu meningkat. Sebab perusahaan selalu mendekatkan diri kepada masyarakat sekitar.

Peneliti telah melakukan analisis data, kemudian dilanjutkan dengan cara analisis korelasional dan pengujian hipotesis. Yaitu pengukuran tingkat hubungan diantara dua variabel, dengan menggunakan uji korelasional dua variabel (bivariate correlations) dengan model Spearman. Uji bivariate correlations dengan model Spearman merupakan model pengujian statistik non parametik yang bersifat korelasional untuk menjelaskan hubungan antara variabel X dan variabel Y dengan skala ordinal. Maka hasil yang diperoleh Ho ditolak artinya, adanya hubungan yang signifikan antara Program CSR “Bedah Rumah” PT Inalum (Persero) terhadap citra perusahaan di masyarakat Kabupaten Batubara. Adanya hubungan yang signifikan diantara kedua variabel, berdasarkan pengukuran derajat hubungan Skala Guilford atau koefisien asosiasi data diatas menunjukkan nilai koefisien korelasi 0,525 yang berarti bahwa hubungan dua variabel tersebut cukup berarti.

Pembahasan uji hipotesis ini merupakan akhir keseluruhan analisis data. Selanjutnya akan dibuat beberapa kesimpulan dan saran yang akan dilanjutkan pada BAB V.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen BAB III METODOLOGI PENELITIAN (Halaman 57-65)

Dokumen terkait