• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Hipotesis

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 21-37)

Rumusan hipotesis untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:

H0 : Terdapat indikasi kebangkrutan pada bank BUMN di Indonesia H1 : Tidak terdapat indikasi kebangkrutan pada bank BUMN di Indonesia

Berdasarkan hasil analisis data diatas, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat indikasi kebangkrutan pada bank BUMN di Indonesia, karena hasil perhitungan nilai kredit poin menunjukan bahwa semua bank BUMN di inonesia berada pada kriteria yang sehat, walaupun ada beberapa komponen yang tidak memenuhi kriteria kurang sehat, ini dikarenakan dalam penelitian ini, penulis membatasi pembahasan atau penelitiannya pada aspek manajemen, dimana aspek manajemen tersebut memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam penilaian kesehatan bank dengan nilai kredit poin sebesar 25%. Oleh karena itu, hasil dari pengujian hopotesisnya adalah sebagai berikut: Tolak Ho, terima H1

70 4.4. Pembahasan

4.4.1. Kesehatan Bank BUMN Dilihat Dari Rasio-Rasio Dalam Komponen CAMEL 4.4.1.1. Bank mandiri

1. Rasio CAR

Gambar 4.1 CAR pada PT. Bank Mandiri

Berdasarkan gambar 4.1 diatas terlihat bahwa aspek permodalan yang dimiliki oleh bank mandiri jauh di atas ketentuan Bank Indonesia sebesar 8% dengan dengan tren rata-rata berdasarkan garis linear yaitu meningkat dari tahun ke tahun walaupun sempat mengalami penurunan pada tahun 2010. Oleh karena itu dapat dikatakan untuk faktor permodalan Bank mandiri berada pada posisi yang sehat.

2. Rasio BDR

Gambar 4.2 BDR pada PT. Bank Mandiri

15.43

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

BDR

BDR Linear (BDR)

71

Semakin kecil rasio ini menujukan bahwa kualitas aset yang dimiliki oleh suatu bank semakin bagus. Untuk rasio BDR, bank mandiri mencatat angka di bawah 2% dengan tren yang semakin menurun dari tahun 2009 sampai tahun 2013. Ini menunjukan bahwa kualitas asset yang dimiliki oleh bank mandiri dinilai bagus karena rasio tersebut menjelaskan bahwa aktiva produktif yang dimiliki oleh Bank Mandiri berkualitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa peringkat kesehatan Bank mandiri adalah sehat.

3. Rasio KAP

Gambar 4.3 KAP pada PT. Bank Mandiri

Cadangan aktiva produktif adalah cadangan yang dibentuk guna mengantisipasi kemungkinan tidak tertagihnya penanaman atau alokasi dan yang telah dilakukan oleh bank. Makin tinggi jumlah kredit bermasalah maka makin tinggi cadangan aktiva produktifnya karena buruknya kolektibilitas aktiva produktifnya. Dari gambar di atas menunjukan tren penurunan untuk rasio KAP dimana tren ini menunjukan bahwa cadangan aktiva produktif yang dibentuk semakin menurun oleh karena menurunnya jumlah kredit bermasalah pada tahun 2009 sampai dengan 2013.

3.75%

3.22%

2.84% 2.77% 2.86%

0.00%

1.00%

2.00%

3.00%

4.00%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

KAP

KAP Linear (KAP)

72 4. Rasio ROA

Gambar 4.4 ROA pada PT. Bank Mandiri

Semakin besar ROA, berarti semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai dan semakin baiknya posisi bank dari segi penggunaan aset.

Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank yang sehat yaitu bank dengan rasio ROA sebesar lebih dari 1,5%. Oleh Bank Mandiri mencatat rasio ROA di atas 3% dengan tren yang semakin menigkat dari tahun 2009 sampai 2013. Ini menunjukan bahwa Bank Mandiri dapat dikategorikan ke dalam kelompok Bank yang sehat.

5. Rasio BOPO

Gambar 4.5 BOPO pada PT. Bank Mandiri

3.13%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

BOPO

BOPO Linear (BOPO)

73

Untuk rasio BOPO, Bank Indonesia menetapkan ketentuan bahwa setiap bank harus memiliki rasio BOPO di bawah angka 83%. Semakin kecil rasio ini akan lebih baik karena bank yang bersangkutan dapat menutup biaya operasional dengan pendapatan operasionalnya. Pada gambar 4.5 di atas menunjukan bahwa untuk rasio BOPO pada Bank Mandiri, tercatat di bawah angka 83% dengan tren yang menunjukan peningkatan rasio ini namum masih mencapai angka di bi bawah ketentuan dengan perolehan rasio yang paling tinggi yaitu pada tahun 2013 sebesar 77,66%.

6. Rasio LDR

Gambar 4.6 LDR pada PT. Bank Mandiri

Bank Indonesia menetapkan rasio LDR yaitu sebesar 110%, apabila melebihi artinya likuiditas bank tersebut dinilai tidak sehat, dan apabila rasio di bawah 110% maka artinya likuiditas bank tersebut dinilai sehat.

Berdasarkan gambar di atas dapat dikatakan bahwa Bank Mandiri mempunyai aspek likuiditas yang baik walaupun tren perkembangan rasio

59.15% 65.44% 71.65% 77.66% 82.97%

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

100.00%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

LDR

LDR Linear (LDR)

74

selama 5 tahun mengalami kenaikan akan tetapi Bank Mandiri masih mampu menajaga rasio di bawah angka 110%.

4.4.1.2. Bank Tabungan Negara 1. Rasio CAR

Gambar 4.7 CAR pada PT. Bank Tabungan Negara

Berdasarkan gambar 4.7 dapat dikatakan bahwa Bank Tabungan Negara menunjukan rasio kecukupan modal yang sehat karena meskipun mengalami tren penurunan dari tahun 2009 namun tetap memenuhi ketentuan Bank Indonesia yaitu berada di atas angka 8%.

2. Rasio BDR

Gambar 4.8 BDR pada PT. Bank Tabungan Negara

21.54%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

BDR

BDR Linear (BDR)

75

Pada gambar diatas, dapat dijelaskan bahwa perkembangan angka BDR pada BTN mengalami tren kenaikan. Meskipun demikian angka tertinggi dalam 5 (lima) tahun terkahir ini masih dalam taraf yang bisa ditoleransi sehingga BTN dilihat dari segi BDR masih tergolong sehat.

3. Rasio KAP

Gambar 4.9 KAP pada PT. Bank Tabungan Negara

Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa BTN dalam kategori yang sehat, karena rasio KAP berada di atas ketentuan minimum Bank Indonesia yaitu 0.99% meskipun tren perkembangannya mengalami penurunan dalam 5 (lima) tahun terakhir yaitu di angka 1,33% pada tahun 2009 dan terus menurun sampai angka 1.01% pada tahun 2013.

4. Rasio ROA

Gambar 4.10 ROA pada PT. Bank Tabungan Negara

1.33%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

ROA

ROA Linear (ROA)

76

Pada gambar di atas disimpulkan bahwa terdapat tren peningkatan dari tahun 2009 sampai tahun 2013 dan dapat dikategorikan dalam kondisi sehat meskipun pada tahun 2009 ROA bank pada BTN tercatat sebesar 1,47%. Angka ini kurang dari ketetapan Bank indonesia yaitu angka minimum ROA adalah 1,5%. Walaupun ROA pada tahun 2009 ini kurang dari ketetapan minimum, akan tetapi Bank indonesia tidak memberlakukan ketentuan yang ketat, sepanjang bank tersebut tidak mengalami kerugian atau tidak ada tanda-tanda atau kecenderungan untuk mengalami kerugian pada masa yang akan datang, maka hal tersebut cukup dipahami oleh Bank Sentral (Eko, 2012).

5. Rasio BOPO

Gambar 4.11 BOPO pada PT. Bank Tabungan Negara

Ketentuan Bank Indonesia untuk rasio BOPO adalah di bawah angka 83%. Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2009 BTN mencatat rasio BOPO sebesar 87.87%, maka pada tahun 2009 BTN dalam kodisi yang kurang sehat karena beban operasionalnya yang besar di bandingkan dengan pendapatan operasional. Namun secara umum

87.87%

82.39%

81.75%

80.74%

82.19%

76.00%

78.00%

80.00%

82.00%

84.00%

86.00%

88.00%

90.00%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

BOPO

BOPO Linear (BOPO)

77

terdapat tren penurunan untuk rasio BOPO pada BTN yaitu pada tahun 2010 sampai tahun 2013 yaitu di bawah angka 83%. Oleh karena itu BTN dapat dikategorikan sehat, karena adanya upaya peningkatan pendapatan operasional yang dapat meng-cover beban operasionalnya.

6. Rasio LDR

Gambar 4.12 LDR pada PT. Bank Tabungan Negara

Berdasarkan gambar di atas dapat disimpulkan bahwa BTN termasuk dalam kategori sehat, karena berada di bawah angka 110% sesuai ketentuan Bank Indonesia.

4.4.1.3. Bank Negara Indonesia 1. CAR

Gambar 4.13 CAR pada PT. Bank Negara Indonesia

101.29%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

CAR

CAR Linear (CAR)

78

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa perkembangan CAR pada BNI menunjukan tren yang stabil dan meningkat pada tahun 2010 yaitu sebesar 18,60%. Oleh karena itu BNI dikategorikan dalam kelompok sehat karena memenuhi ketentuan Bank Indonesia dimana CAR minimum sebesar 8%.

2. BDR

Gambar 4.14 BDR pada PT. Bank Negara Indonesia

Semakin kecil rasio ini, maka semakin baik kualitas aktiva yang dimiliki oleh bank bersangkutan. Berdasarkan gambar di atas BNI dapat dikategorikan sebagai bank yang sehat karena mengalami penurunan rasio BDR untuk setiap tahunnya dari tahun 2009 sampai tahun 2013

3. KAP

Gambar 4.15 KAP pada PT. Bank Negara Indonesia

3.24%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

KAP

KAP Linear (KAP)

79

Pada gambar di atas dapat dijelaskan bahwa tren perkembangan rasio KAP mengalami penurunan dari tahun 2009 sampai 2013, ini menunjukan bahwa adanya penurunan cadangan aktiva produktif namun masih berada di atas ketentuan minimum Bank Indonesia yaitu sebesar 0,99%.

4. ROA

Gambar 4.16 ROA pada PT. Bank Negara Indonesia

Pada gambar di atas menunjukkan bahwa tren perkembangan ROA pada BTN menunjukan perkembangan yang sangat signifikan dari tahun 2009 sampai 2013 dimana rasio ROA ini jauh di atas ketetapan Bank Indonesia yaitu minimum ROA sebesar 1,5%. Hal ini menunjukan bahwa BNI dikategorikan dalam kondisi sehat.

1.72%

2.50%

2.90% 2.90%

3.40%

0.00%

1.00%

2.00%

3.00%

4.00%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

ROA

ROA Linear (ROA)

80 5. BOPO

Gambar 4.17 BOPO pada PT. Bank Negara Indonesia

Pada gambar di atas untuk tahun 2009 BNI mencatat angka BOPO sebesar 84,86% dimana angka tersebut di atas ketetapan Bank Indonesia untuk maksimum BOPO yaitu 83%. Namun dalam perkembangannya BNI berhasil menurunkan Beban Operasionalnya dengan mencatat rasio BOPO kurang dari angka 83% sampai tahun 2013.

6. LDR

Gambar 4.18 LDR pada PT. Bank Negara Indonesia

Pada gambar di atas BNI dikategorikan sebagai Bank yang sehat dengan angka rasio LDR di bawah 110% sesuai ketentuan Bank Indonesia.

84.86%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

LDR

LDR Linear (LDR)

81 4.4.1.4. Bank Rakyat Indonesia

1. CAR

Gambar 4.19 CAR pada PT. Bank Rakyat Indonesia

Pada gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa BRI berada pada kategori sehat karena rasio CAR berada jauh di atas ketentuan minimum CAR oleh Bank Indonesia yaitu 8%. Dan tren menunjukkan bahwa meningkatnya CAR dari tahun 2009 sampai 2013.

2. BDR

Gambar 4.20 BDR pada PT. Bank Rakyat Indonesia

Pada gambar di atas dapat disimpulkan bahwa tren perkembangan rasio BDR pada BRI mengalami penurunan. Hal ini menunjukan semakin

13.20%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

BDR

BDR Linear (BDR)

82

kecil aktiva produktif yang diklasifikasikan dimana mengindikasikan bahwa BRI tergolong dalam kategori sehat.

3. KAP

Gambar 4.21 KAP pada PT. Bank Rakyat Indonesia

Pada gambar di atas dapat dijelaskan bahwa KAP berada di atas 0,99% ketentuan Bank Indonesia walaupun mengalami penurunan setiap tahunnya, akan tetapi masih tergolong sehat.

4. ROA

Gambar 4. 22 ROA pada PT. Bank Rakyat Indonesia

2.59%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

4.64% 4.93% 5.15% 5.03%

0.00%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

ROA

ROA Linear (ROA)

83

Ketentuan Bank Indonesia untuk rasio ROA adalah harus di atas 1,5%. Pada gambar di atas tercatat rasio ROA BRI pada tahun 2009 sampai 2013 mengalami tren peningkatan dengan angka rasio jauh di atas 1,5%.

Oleh karena itu dapat dikategorikan sebaga bank yang sehat.

5. BOPO

Gambar 4.23 BOPO pada PT. Bank Rakyat Indonesia

Pada gambar di atas BOPO pada BRI berada di bawah 83%

berdasarkan ketentuan Bank Indonesia dengan tren penurunan yang menunjukkan bahwa bank telah berhasil meminimalisir beban operasional dan menaikkan pendapatan operasional.

6. LDR

Gambar 4.24 LDR pada PT. Bank Rakyat Indonesia

77.64%

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

2009 2010 2011 2012 2013

Persentase

Periode

LDR

LDR Linear (LDR)

84

Berdasarkan gambar di atas dapat disimpulkan bahwa BRI tergolong sehat karena mencatat angka LDR di bawah 110% sesuai ketentuan Bank Indonesia.

4.4.2. Kesehatan Bank Dilihat Dari Jumlah Angka Credit Point untuk Masing-Masing Komponen dalam CAMEL

4.4.2.1. Bank Mandiri

Berdasarkan tabel 4.2 untuk nilai kredit poin pada Bank mandiri tahun 2009 adalah sebesar 82,43 (sehat), pada tahun 2010 angka kredit poin sebesar 81,54 (sehat), pada tahun 2011 sebesar 85,40 (sehat), pada tahun 2012 adalah sebesar 88,38 (sehat), dan pada tahun 2013 angka kredit poinnya adalah sebesar 87,90 (sehat). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat dijelaskan bahwa ada tren peningkatan untuk angka kredit poin, meskipun komponen manajemen dalam CAMEL tidak dapat disertakan dalam perhitungan niali kredit poin namun bank mandiri mencatat angka kredit poin dari tahun 2009 sampai tahun 2013 yang dapat digolongkan dalam kategori sehat. ini menunjukan pula Bank Mandiri adalah bank yang sehat baik dalam hal Capital, Assets, Manajemen, Earning, dan Liquidity.

4.4.2.2. Bank Tabungan Negara

Berdasarkan table 4.4 untuk nilai kredit poin pada BTN untuk tahun 2009 sebesar 79,30 (cukup sehat), Tahun 2010 sebesar 72,00 (cukup sehat), tahun 2011 sebesar 69,68 (cukup sehat), tahun 2012 sebesar 70,03 (cukup sehat), dan tahun 2012 sebesar 66,99 (cukup sehat). Meskipun pada tahun 2009 sampai 2013 nilai kredit poin dalam kategori cukup sehat akan tetapi dapat

85

dikatakan sehat karena aspek manajemen belum di teliti dan disertakan penjumlahannya dalam semua komponen CAMEL.

4.4.2.3. Bank Negara Indonesia

Berdasarkan hasil perhitungan nilai kredit poin pada BNI pada table 4.6 untuk tahun 2009 sebesar 62,59 (cukup sehat), tahun 2010 sebesar 82,93 (sehat), tahun 2011 sebesar 84,32 (sehat), tahun 2012 sebesar 83,68 (sehat), dan tahun 2013 sebesar 84,49 (sehat). Untuk tahun 2009 dikategorikan cukup sehat dikarenakan aspek manajemen tidak dapat di hitung dalam penelitian ini namun nilai tersebut dapat di anggap dalam kategori sehat. untuk tahun 2010 sampai 2013, yang oleh karena perbaikan yang dilakukan oleh BNI menunjukan nilai kredit yang dikategorikan sehat walaupun belum termasuk komponen manajemen di dalam anaisis CAMEL.

4.4.2.4. Bank Rakyat Indonesia

Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat perkembangan nilai kredit komponen CAMEL pada tahun 2009 sebesar 70,19 (cukup sehat), tahun 2010 sebesar 77,88 (cukup sehat), tahun 2011 sebesar 84,37 (sehat), tahun 2012 sebesar 95,81 (sehat), dan tahun 2013 sebesar 95,42 (sehat). pada tahun 2009 dan 2010 nilai kredit komponen CAMEL tergolong cukup sehat karena belum termasuk aspek manajemen jadi dapat dikategorikan sebagai sehat, dan untuk 2011 sampai 2013 BRI mencatat kinerja keuangan yang cukup baik sehingga dapat mencapai angka kredit poin yang termasuk dalam kategori sehat meskipun belum termasuk komponen manajemen.

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 21-37)

Dokumen terkait