BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.9 Pengujian Hipotesis
Data hasil yang telah diperoleh, kemudian dilakukan uji normalitas terlebih dahulu untuk mengetahui data tersebut bedistribusi normal atau tidak normal. Uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 4.6 sebagai berikut:
Tabel 4.6 Uji Normalitas Hasil Penyerapan Fe Berdasarkan Jenis Adsorban
Jenis Adsorban Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic Df Sig.
Non Aktivasi 0,282 6 0,148 0,803 6 0,062
Aktivasi 0,260 6 0,200 0,894 6 0,337
Sumber: Data Primer, 2020
Uji normalitas yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Shapiro-Wilk karena data kurang dari 50 sampel. Pada umumnya, uji Shapiro-Shapiro-Wilk digunakan untuk data yang memiliki sampel kurang dari 50 (Oktaviani, 2014). Dari Tabel di atas, tampak bahwa pada jenis adsorban non aktivasi dan aktivasi dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk diperoleh nilai sig. (p-value) masing-masing 0,062 dan 0,337 > 0,05. Dengan demikian diperoleh keputusan bahwa hasil penyerapan logam Fe berdasarkan jenis adsorban berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Uji Shapiro Wilk standart signifikan apabila nilainya > 0,05 maka distribusi data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas, dan jika nilainya < 0,05 maka diinterpretasikan sebagai tidak normal (Oktaviani, 2014). Selanjutnya untuk uji normalitas hasil penyerapan Fe berdasarkan massa adsorban dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Uji Normalitas Hasil Penyerapan Fe Berdasarkan Massa Adsorban
Massa Adsorban
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic Df Sig.
2,5 gram 0,198 6 0,200 0,913 6 0,459
5 gram 0,300 6 0,097 0,741 6 0,016
58
Dari Tabel di atas, tampak bahwa pada massa adsorban 2,5 gram dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk diperoleh nilai signifikan (p-value) sebesar 0,459 > 0,05. Sedangkan pada massa adsorban 5 gram, diperoleh nilai signifikan (p-value) sebesar 0,016 < 0,05. Dengan demikian diperoleh keputusan bahwa hasil penyerapan logam Fe berdasarkan massa adsorban berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal. Uji Shapiro Wilk standart signifikan apabila nilainya > 0,05 maka distribusi data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas, dan jika nilainya < 0,05 maka diinterpretasikan sebagai tidak normal (Oktaviani, 2014). Selanjutnya untuk uji normalitas hasil penyerapan Fe berdasarkan waktu kontak dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Uji Normalitas Hasil Penyerapan Fe Berdasarkan Waktu Kontak
Waktu Kontak Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.
30 menit 0,299 4 . 0,900 4 0,431
60 menit 0,259 4 . 0,871 4 0,300
90 menit 0,273 4 . 0,883 4 0,351
Sumber: Data Primer, 2020
Dari Tabel di atas, tampak bahwa pada waktu kontak 30, 60, dan 90 menit dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk diperoleh nilai sig. (p-value) masing-masing 0,431 ; 0,300 dan 0,351 > 0,05. Dengan demikian diperoleh keputusan bahwa hasil penyerapan logam Fe berdasarkan waktu kontak berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Uji Shapiro Wilk standart signifikan apabila nilainya > 0,05 maka distribusi data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas, dan jika nilainya < 0,05 maka diinterpretasikan sebagai tidak normal (Oktaviani, 2014).
Data hasil tersebut dilakukan analisis statistik non parametis dengan uji Kruskal Wallis. Uji Kruskal Wallis digunakan karena data penelitian yang diperoleh berdistribusi tidak normal. Berikut merupakan hasil uji statistik Kruskal Wallis yang disajikan pada Tabel 4.9.
59
Tabel 4.9 Uji Kruskal Wallis Berdasarkan Jenis Adsorban
Test Statistics Jenis Adsorban Hasil Penyerapan Fe Chi-Square 7,410 Df 1 Asymp. Sig. 0,006
Sumber: Data Primer, 2020
Berdasarkan Tabel di atas, menyatakan bahwa hasil uji Kruskal Wallis didapatkan nilai sig. (p-value) sebesar 0,006 < 0,05 yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima atau Ada Perbedaan yang nyata (signifikan) pada variasi jenis adsorban non aktivasi dan aktivasi. Dalam artian variasi jenis adsorban aktivasi maupun non aktivasi memiliki peranan untuk menurunkan kandungan Fe, karena modifikasi komponen kimia atau temperatur pada adsorban dapat menambah atau mengembangkan volume pori dan memperbesar luas area permukaan adsorban sehingga kemampuan adsorpsi meningkat. Pada penelitian (Widayatno, 2017), yang menyatakan bahwa hasil penelitian menggunakan adsorban aktivasi dan non aktivasi memiliki efisiensi adsorpsi yang berbeda. Kemampuan penyerapan logam berat dengan menggunakan adsorban tanpa aktivasi lebih kecil, sedangkan pada adsorban yang telah diaktivasi kemampuan penyerapannya baik.
Tabel 4.10 Uji Kruskal Wallis Berdasarkan Massa Adsorban
Test Statistics Massa Adsorban Hasil Penyerapan Fe Chi-Square 0,923 df 1 Asymp. Sig. 0,337
Sumber: Data Primer, 2020
Berdasarkan Tabel di atas, menyatakan bahwa hasil uji Kruskal Wallis didapatkan nilai sig. (p-value) sebesar 0,337 > 0,05 yang artinya H0 diterima dan Ha ditolak atau Tidak Ada Perbedaan yang nyata (signifikan) pada
60
variasi massa adsorban 2,5 gram dan 5 gram yang telah diterapkan pada penelitian ini untuk penyerapan logam Fe pada limbah artifisial. Hal ini mungkin disebabkan karena sedikitnya variasi massa adsorban yang digunakan.
Akan tetapi, dalam penggunaan massa adsorban 2,5 gram dan 5 gram ini mampu menurunkan konsentrasi besi. Pada proses adsorpsi tergantung pada banyaknya tumbukan yang terjadi antara partikel-partikel adsorbat dan adsorban. Tumbukan efektif antara partikel itu akan meningkat dengan meningkatnya luas permukaan. Jika permukaan gugus aktif dari adsorban menjadi lebih luas, maka jumlah ion besi yang terserap pada adsorban semakin banyak.
Tabel 4.11 Uji Kruskal Wallis Berdasarkan Waktu Kontak
Test Statistics Waktu Kontak Hasil Penyerapan Fe Chi-Square 0,038 df 2 Asymp. Sig. 0,981
Sumber: Data Primer, 2020
Berdasarkan Tabel di atas, menyatakan bahwa hasil uji Kruskal Wallis didapatkan nilai sign. (p-value) sebesar 0,981 > 0,05 yang artinya H0 diterima dan Ha ditolak atau Tidak Ada Perbedaan yang nyata (signifikan) pada variasi waktu kontak 30, 60, dan 90 menit. Akan tetapi, dalam penggunaan waktu 30, 60, dan 90 menit ini mampu menurunkan konsentrasi besi. Hal ini mungkin disebabkan karena sedikitnya variasi waktu kontak yang digunakan atau waktu penyerapan yang kurang panjang.
Penurunan konsentrasi besi semakin meningkat seiring dengan lamanya waktu kontak. Tetapi pada penelitian ini semakin lama waktu kontak penurunan yang terjadi semakin kecil. Menurut (Wartina, 2016), menyatakan bahwa kecilnya penurunan konsentrasi besi terhadap waktu kontak ini
61
disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pH, sifat adsorban, sifat serapan, dan temperatur. Apabila pH asam organik dinaikkan, maka adsorpsi akan berkurang sebagai akibat dari terbentuknya garam. Sedangkan sifat adsorban seperti struktur pori, berhubungan dengan luas permukaan yang semakin besar, sehingga kecepatan dari adsorpsi bertambah. Sifat serapan juga merupakan salah satu faktor dari penurunan konsentrasi besi, banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh adsorban, tetapi kemampuannya berbeda-beda. Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari struktur yang sama. Selain itu, pada pemakaian adsorban dianjurkan untuk menyelidiki temperatur pada saat berlangsungnya proses penelitian pada saat pengontakkan dengan limbah artifisial.