• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Pengujian normalitas data model 1

4.3.2. Pengujian Hipotesis 2

Hasil pengujian hipotesis 2 dapat dilihat pada Tabel 5.16 berikut ini

Tabel 5.16. Ringkasan Pengujian Hipotesis 2

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 652622.566 18609.491 35.069 .000

Belanja Modal 4.294E-6 .000 .775 7.562 .000 1.000 1.000

R = 0,775 R² = 0.601 Adjusted R2 = 0.590 F = 57,177 Sig. F = 0.0000

Nilai R² sebesar 0,601 dapat diartikan bahwa 60,1 % dari variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikat, sedangkan sisanya 39,9 % dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh nilai

R² sebesar 0,601 hal ini menunjukkan bahwa variabel Belanja Modal mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan PDRB

Pengujian hipoetis 2 menggunakan uji t karena hanya satu variabel independennya. Berdasarkan hasil pengujian maka nilai t hitung adalah sebesar 7,562 dengan tingkat signifikan 0,000. Karena probabilitas 0,000 lebih kecil dari 0,05, maka hasil dari model regresi menunjukkan bahwa ada pengaruh Belanja Modal terhadap PDRB. Berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah dilakukan maka model penelitian adalah sebagai berikut:

PDRB = 652622,566 + 0.775 Y

Dari persamaan di atas, dapat dilihat bahwa koefisien dari variabel Belanja Modal angka positif. Berarti bahwa hubungan antara variabel Belanja Modal dengan PDRB adalah positip yaitu semakin tinggi Belanja Modal maka semakin tinggi PDRB. Apabila belanja modal adalah 0 maka PDRB berjumlah 652622,566 milliar rupiah.

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya Saggaf (2009), dengan kesimpulan hasil analisis terdapat pengaruh yang signifikan antara PAD dan komponen PAD terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB). Sembiring (2001) melakukan analisis bahwa PAD Karo mempunyai hubungan yang signifikan terhadap PDRB dan pendapatan per kapita. Adi (2006), hasil penelitian adalah pertumbuhan ekonomi daerah mempunyai dampak yang signifikan terhadap peningkatan PAD dan belanja pembangunan mempunyai dampak yang positif dan signifikan terhadap PAD maupun pertumbuhan ekonomi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak pemerintah melakukan pengeluaran untuk peningkatan sarana dan prasarana untuk investasi terutama peningkatan infrastruktur Kabupaten Tapanuli Selatan maka dalam jangka waktu tertentu akan berdampak pada peningkatan PDRB. Jika Infrastruktur jalan pembangunannya lebih baik maka untuk pengangkutan hasil produksi dari

Kabupaten Tapanuli Selatan ke daerah lain akan lebih cepat dan aksesnya akan menjadi lebih luas sehingga akan meningkatkan perekonomian Kabupaten Tapanuli Selatan dan dunia usaha semakin berkembang.

Kabupaten Tapanuli Selatan menggunakan belanja modal lebih besar dibandingkan belanja pegawai dan belanja barang dan jasa. Belanja modal dipergunakan untuk pembangunan wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan seperti pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya yang dapat meningkatkan kegiatan pemberdayaan masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan dalam memanfaatkan Sumber daya alam dan tekhnologi serta peningkatan sumber daya manusia untuk dapat meningkatkan PDRB daerah Kabupaten Tapanuli Selatan dalam pengembangan wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa jika pemerintah daerah mengalokasikan APBD nya ke dalam belanja modal khususnya, maka belanja modal yang digunakan dalam peningkatan sarana dan prasarana infrastruktur yang mendukung pengembangan daerah yang dapat meningkatkan PDRB daerah tersebut.

Implikasi dari penelitian ini bahwa salah satu indikator yang biasa dijadikan sebagai ukuran penilaian kemajuan pembangunan suatu daerah adalah aspek kesejahteraan masyarakat. Hal ini bisa diwujudkan dengan penggunaan belanja modal yang bersumber dari PAD untuk investasi pembangunan ekonomi seperti infrastruktur. Tingkat kesejahteraan masyarakat suatu daerah selain dapat dinilai dari perkembangan ekonomi secara makro juga dapat dilihat dari aksesibilitas masyarakat terhadap pemenuhan pelayanan akan kebutuhan fasilitas

pelayanan umum. Penggunaan belanja modal untuk investasi dapat berpengaruh terhadap peningkatan PDRB yang menjadi indikator dalam pengembangan ekonomi wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kaitan RPJMD daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2011-2015 dengan hasil penelitian ini kebijakan pemerintah daerah terhadap PAD Kabupaten Tapanuli Selatan dalam tahun 2011-2015 diarahkan pada :

a. Menyediakan dan memperbaharui perangkat lunak/dasar hukum yang

mengatur tentang sumber-sumber pendapatan daerah yang disesuaikan dengan perundangundangan, kondisi masyarakat, serta dinamika/perkembangan zaman.

b. Mengoptimalkan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan pajak dan

retribusi.

c. Meningkatkan tertib administrasi pendapatan daerah dan mewujudkan system

informasi pendapatan daerah.

d. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang proporsional dengan

menerapkan reward and punishment.

e. Meningkatkan akurasi perencanaan dan realisasi pendapatan daerah.

f. Meningkatkan pemeliharaan sarana dan prasarana perekonomian yang

dimiliki oleh pemerintah daerah.

g. Mencegah terjadinya korupsi dalam pengelolaan pendapatan daerah.

Adapun kebijakan pendapatan daerah Kabupaten Tapanuli Selatan meliputi :

a. Dalam merencanakan target pendapatan daerah dari kelompok PAD

tahun lalu, potensi, dan asumsi pertumbuhan ekonomi yang dapat mempengaruhi serta rincian obyek penerimaan.

b. Dalam upaya peningkatan pendapatan asli daerah, pemerintah daerah tidak

menetapkan kebijakan yang memberatkan dunia usaha dan masyarakat.

c. Upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah dan retribusi daerah serta

lain-lain pendapatan yang sah terus ditingkatkan sesuai potensi pungutan.

d. Regulasi peraturan daerah tentang pendapatan daerah yang tidak bertentangan

dengan kebijakan investasi (pro investasi).

e. Menyelenggarakan pelayanan prima melalui pengadaan sarana dan prasarana

yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan serta pelayanan yang cepat dan sederhana dengan didukung tenologi informasi yang memadai.

Keterbatasan kemampuan anggaran yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, mendorong untuk pemanfaatan sumber daya pembangunan yang ada agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Dengan pemanfaatan dan pengalokasian anggaran yang tepat dan sesuai kebutuhan, diharapkan dapat lebih mempercepat proses peningkatan kesejahteraan rakyat, serta menjamin terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan.

Menyikapi kondisi tersebut diatas, kebijakan belanja Kabupaten Tapanuli Selatan tahun 2011- 2015 diarahkan untuk tetap melakukan peningkatan efisiensi dan efektifitas serta peningkatan alokasi anggaran yang berpihak pada kebutuhan pelayanan publik. Hal tersebut dilakukan melalui seleksi yang ketat dan pilihan yang tepat terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan dengan mendasarkan pada

urgensi, kemanfaatan, dan dampak serta keterkaitan antara program dan bidang-bidang pembangunan.

Kebijakan belanja daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2011-2015 adalah sebagai berikut :

a. Menyediakan dana yang cukup untuk belanja langsung dan tidak langsung

seuai dengan prioritas daerah.

b. Mengefektifkan reward and punishment (ganjaran dan hukuman).

c. Meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah.

d. Menjamin keutuhan dan terpeliharanya asset Pemerintah Daerah.

e. Menjamin tersedianya dana yang cukup untuk menunjang kelancaran

pelaksanaan pemerintahan dan pelayanan masyarakat.

f. Menyediakan dana cadangan untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam

BAB V

Dokumen terkait