BAB IV: HASIL PENELITIAN
C. Pengujian Hipotesis Penelitian dan Pembahasan
1. Pengujian Hipotesis Penelitian
Berdasarkan hasil uji prasyarat menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan homogen, maka selanjutnya data dianalisis untuk pengujian hipotesis. Perhitungan uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh dalam pembelajaran yang menggunakan model pencapaian konsep terhadap pemahaman konsep matematika siswa.
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t, dengan menggunakan data yang diperoleh, yaitu hasil tes pemahaman
konsep matematika kelompok eksperimen sebesar 71,15. Dengan
varians sebesar 176,46. Dan kelompok kontrol diperoleh sebesar
50,19 dengan varians sebesar 182,56
Setelah itu dilakukan perhitungan dengan menggunakan uji t, maka
diperoleh nilai t hitung sebesar 5,64. Untuk mengetahui nilai t tabel dengan
derajat kebebasan (dk) = 50 dan taraf signifikansi (α) = 0,05 dilakukan
penghitungan, dari hasil penghitungan didapat nilai t tabel = 2,01. Dengan
membandingkan nilai t hitung dan t tabel diperoleh thitung > t tabel, ini berarti H0
rata-rata hasil tes pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran pencapaian konsep lebih tinggi daripada rata-rata hasil tes pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel IV.6
Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Hipotesis
Kelompok Sampel Mean thitung ttabel Kesimpulan
Eksperimen 26 71,15 5,64 2,01 Tolak H0
Kontrol 26 50,19
2. Pembahasan Hasil Penelitian
Setelah dilakukan pengujian hipotesis dengan uji t pada taraf
signifikansi α = 0,05 dan derajat bebas (dk) = 50, diperoleh nilai t hitung
sebesar 5,64. Sedangkan dari hasil penghitungan didapat nilai t tabel = 2,01.
Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata hasil tes pemahaman konsep siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran pencapaian konsep lebih tinggi daripada rata-rata hasil tes pemahaman konsep siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa terdapat pengaruh pada model pembelajaran pencapaian konsep terhadap pemahaman konsep matematika siswa.
Pengaruh ini juga dapat dilihat dari perbedaan hasil tes pemahaman konsep matematika siswa pada kelas eksperimen yang memperoleh nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 45, sedangkan pada kelas kontrol yang memperoleh nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 23 Adanya kelas kontrol sebagai pembanding memperkuat bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan model pencapaian konsep lebih efektif.
Dari hasil pengamatan penulis selama proses pembelajaran berlangsung, pembelajaran menggunakan model pencapaian konsep merupakan pengalaman baru bagi guru dan siswa karena model
pembelajaran ini belum pernah diterapkan sebelumnya. Selama proses penelitian ada tiga dimensi yang diukur peneliti yaitu :
a. Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari
Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari diwakili oleh indikator belajar tentang menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan sifat-sifat pangkat rasional. Dalam pelaksanaan pembelajarannya siswa diberikan LKS tentang sifat-sifat pangkat rasional, dimana LKS tersebut disusun berdasarkan tahapan-tahapan model pembelajaran pencapaian konsep, dalam pelaksanaannya peneliti terlebih dahulu mempresentasikan data sampai siswa mengerti tentang konsep materi yang dipelajari. Sifat-sifat pangkat rasional tidak dipresentasikan sekaligus tetapi dipresentasikan satu per satu, setelah siswa mengerti siswa diminta menyelesaikan soal-soal yang terkait dengan konsep yang telah dipresentasikan oleh peneliti kemudian membuat kesimpulan dari konsep tersebut dengan bahasa mereka sendiri. Ketika mengerjakan soal-soal yang terkait dengan konsep-konsep tersebut peneliti mendatangi siswa dan memberi pertanyaan-pertanyaan yang merangsang jalannya fikiran siswa hingga siswa bisa menarik kesimpulan tentang konsep yang dipelajari. Dalam membuat kesimpulan terdapat beberapa siswa yang kurang tepat membuat sebuah kesimpulan, untuk itu diakhir pembelajaran peneliti menyampaikan kesimpulan tentang konsep yang telah dipelajari, dengan tujuan siswa yang salah dalam menarik kesimpulan bisa memperbaikinya.
b. Kemampuan mengaitkan berbagai konsep matematika
Kemampuan mengaitkan berbagai konsep matematika diwakili oleh indikator menentukan nilai dari suatu persamaan pangkat rasional. Dalam pelaksanaannya siswa diberikan LKS tentang persamaan pangkat rasional, sebelum menguji tahap pencapaian konsep siswa tentang persamaan pangkat rasional, peneliti mengingatkan kembali siswa tentang sifat-sifat pangkat rasional kemudian mempresentasikan tentang konsep-konsep yang terkait dalam menentukan nilai dari suatu persamaan. Dalam proses pembelajaran pencapaian konsep pada
pokok bahasan ini, peneliti mengalami sedikit kesulitan sehingga pembelajaran membutuhkan waktu yang lebih lama dari sebelumnya, siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep persamaan kuadrat sehingga kurang bisa menyelesaikan soal-soal tentang konsep persamaan bentuk pangkat. Akan tetapi, peneliti berusaha memberikan stimulus kepada siswa tentang konsep persamaan kuadrat, agar siswa mampu mengingat konsep tersebut dan mengaitkannya dengan konsep yang dipelajari.
c. Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma
Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma diwakili oleh dua indikator belajar yaitu: menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan sifat-sifat bentuk akar dan merasionalkan penyebut suatu pecahan. Dalam pelaksanaannya siswa tetap diberikan LKS yang disesuaikan dengan tahap-tahap pembelajaran model pencapaian konsep. Dalam proses pembelajaran pada pokok bahasan ini, pembelajaran berjalan maksimal dikarenakan siswa sudah terbiasa dengan model pembelajaran pencapaian konsep, sehingga peneliti tidak mengalami kesulitan dalam mempresentasikan data seperti pertemuan-pertemuan sebelumya. Sifat-sifat bentuk akar dan cara merasionalkan bentuk akar tidak dipresentasikan sekaligus tetapi dipresentasikan satu per satu, setelah siswa mengerti siswa diminta menyelesaikan soal-soal yang terkait dengan konsep yang telah dipresentasikan oleh peneliti. Siswa lebih mudah memahami dan langsung mampu mengerjakan soal-soal yang terkait, bahkan untuk konsep yang belum dipresentasikan, hampir semua siswa bisa mengerjakan dan menarik kesimpulan dengan benar.
Indikator pemahaman konsep pada kelas kontrol, yang diajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional kurang tercapai dengan baik, hal ini terlihat pada proses pembelajaran yang dilakukan selama penelitian berlangsung. Pada dimensi kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari, terlihat kurang
mampunya siswa mengingat konsep pada saat peneliti melakukan apersepsi, sehingga peneliti seringkali mengulang pembahasan yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya. Pada dimensi kemampuan mengaitkan berbagai konsep matematika, rata-rata siswa mengalami kesulitan, sama halnya pada kelas eksperimen, siswa terlihat kesulitan menghubungkan konsep bentuk pangkat dengan konsep persamaan kuadrat, bahkan siswa kebingungan mengerjakan soal yang berbeda dengan contoh yang telah dijelaskan peneliti. Kemudian pada dimensi kemampuan menerapkan konsep secara algoritma, pada saat peneliti menjelaskan, siswa cepat memahami konsep tersebut. Namun, pada saat mengerjakan latihan yang berbeda dengan contoh, terjadi kesulitan yang sama seperti dimensi kemampuan mengaitkan berbagai konsep matematika, dimana rata-rata siswa tidak bisa mengerjakan latihan yang berbeda dengan contoh.