• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 38-42

G. Pengujian Keabsahan Data

Pengujian keabsahan dalam metode penelitian kualitatif menggunakan validitas internal pada aspek nilai kebenaran, pada penerapannya ditinjau dari validitas eksternal, dan realibilitas pada aspek konsistensi, serta obyektivitas pada aspek naturalis. Adapun pada penelitian ini, tingkat keabsahan ditekankan pada data yang akan diperoleh pada lapangan tempat meneliti.

43

DI DESA BAJIMINASA BULUKUMBA A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Kondisi Geografis a. Letak Desa

Lokasi yang digunakan dalam penelitian adalah Desa Bajiminasa Kecamatan Rilau Ale’ Kabupaten Bulukumba. Desa Bajiminasa terletak di sebelah Utara Kabupaten Bulukumba dan terdiri dari beberapa dusun yang jaraknya saling berdekatan. Jarak antar desa ke kota letaknya cukup jauh, sehingga termasuk ke dalam wilayah pedesaan. Berikut ini adalah jarak dari desa ke kota:

Tabel 4.1 Jarak dan Waktu Tempuh dari Desa ke Kota

No Uraian Jarak Waktu Tempuh

1. Dari Desa ke Ibukota

Kabupaten 25 km 30 menit

2. Dari Desa ke Ibukota

Kecamatan 2,5 km 15 menit

b. Batas Desa

Desa Bajiminasa berbatasan dengan desa lainnya yang masih dalam satu kecamatan. Adapun batas Desa Bajiminasa, yaitu:

Tabel 4.2 Batas Desa

No Batas Desa/Kelurahan

1. Sebelah Timur Desa Bontobangun 2. Sebelah Timur Laut Kelurahan Palampang 3. Sebelah Selatan Desa Anrang

4. Sebelah Barat Desa Bontomatene

5. Sebelah Utara Desa Bontolohe

Sumber: Kantor Desa Bajiminasa, 2015 c. Luas Wilayah

Desa Bajiminasa memiliki luas wilayah desa menurut keterangan sekitar 1.256 Ha dan 955 Ha/M2 luas wilayah menurut penggunaannya, yang terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

Tabel 4.3 Luas Wilayah Desa Menurut Keterangan

No Uraian Jumlah

1. Dusun Sapepe 311 Ha

2. Dusun Pandang-Pandang 272 Ha

3. Dusun Batu Tompo 209 Ha

4. Dusun Bonto Baju 228 Ha

5. Dusun Pa’lipungang 236 Ha

Sumber: Kantor Desa Bajiminasa, Buku III Profil Desa, halaman 2, Luas Wilayah Menurut Keterangan, 2015

Tabel 4.4 Luas Wilayah Menurut Penggunaan

No Uraian Jumlah

1. Luas Pemukiman 59,90 Ha/M2

2. Luas Persawahan 323,75 Ha/M2

3. Luas Perkebunan 395,50 Ha/M2

4. Luas Pemakaman 1,3 Ha/M2

5. Luas Pekarangan 6,23Ha/M2

6. Luas Hutan Kemasyarakatan 14723Ha/M2

7. Luas Taman -- Ha/M2

8. Perkantoran 0,12 Ha/M2

9. Luas Prasarana Umum Lainnya 7,20 Ha/M2

10. Luas Jalan, Sungai, Irigasi 14 Ha Ha/M2

Sumber: Kantor Desa Bajiminasa, Buku III Profil Desa, halaman 2, Luas Wilayah Menurut Penggunaan, 2015.

Desa Bajiminasa dipimpin oleh seorang kepala desa yang bernama H. Jufri dalam pemerintahannya, kepala desa dibantu oleh 6 orang aparat pemerintahan desa dengan jumlah 6 unit kerja, yakni sekretaris desa, seksi pemerintahan, seksi pembangunan, kepala urusan keuangan, dan kepala urusan umum.

2. Kondisi Demografis a. Jumlah Penduduk

Desa Bajiminasa memiliki jumlah penduduk sekitar 3.435 jiwa, yang terdiri dari 1.643 jiwa laki-laki dan 1.792 jiwa perempuan dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak “916 KK”,4 untuk lebih jelasnya dipaparkan dalam tabel halaman selanjutnya:

Tabel 4.5 Jumlah Penduduk Desa Bajiminasa Menurut Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa)

1. Laki-Laki 1.643

2. Perempuan 1.792

Jumlah Total 3.435 Jiwa

Sumber: Kantor Desa Bajiminasa, Buku IV Profil Desa, halaman 2, Perkembangan Kependudukan, 2015.

Berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk 3.435 jiwa yang terdiri dari 1.643 jiwa laki-laki dan 1.792 jiwa perempuan, hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan lali-laki. Jumlah penduduk tersebut merupakan penduduk dengan usia 0-90 tahun yang merupakan penduduk yang sudah nikah dan juga belum nikah.

b. Mata Pencaharian

Masyarakat Desa Bajiminasa Kecamatan Rilau Ale’ Kabupaten Bulukumba sangat berbeda-beda sesuai dengan struktur mata pencaharian dan jenis. Adapun mata pencaharian masyarakat Desa Bajiminasa yaitu:

Tabel 4.6 Mata Pencaharian

No Mata Pencaharian Jumlah (Orang)

1. Sektor pertanian 1857

2. Sektor Peternakan 2440

3. Sektor Perikanan 1

4. Sektor Industri kecil/kerajinan 25

5. Sektor Jasa 116

6. Jasa Keterampilan dan Angkutan 50

7. Jasa Keterampilan 82

Sumber: Kantor Desa Bajiminasa, Buku II Profil Desa, Data BPS Penetapan KK Miskin Penerima Dana Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan peternak

c. Pendidikan

Dibidang pendidikan di Desa Bajiminasa masih perlu adanya peningkatan dan pembenahan. Karena masih banyak anak-anak yang belum sekolah sampai tingkat SMA dan SMP, bahkan ada yang tidak tamat SD. Ini disebabkan karena kurangnya perhatian masyarakat akan pentingnya pendidikan, di samping itu mereka beralasan karena biaya sekolah yang mahal, sekalipun pemerintah telah mengeluarkan program wajib belajar sembilan tahun, akan tetapi masih butuh biaya untuk membeli perlengkapan sekolah. Sedangkan, masyarakat Desa Bajiminasa rata-rata bermata pencaharian petani termasuk di dalamnya buruh tani. Yang mana jika bukan musim panen penghasilan mereka di bawah rata-rata. Sehingga banyak anak-anak yang putus sekolah. Berikut ini tabel jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan:

Tabel 4.7 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

No Uraian Jumlah

(Orang)

1. Jumlah Penduduk Buta Aksara dan Huruf Latin 122

2. Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain Anak 73

3. Sedang SD/Sederajat 344

4. Tamat SD/Sederajat 327

5. Tidak Tamat Sekolah Dasar (SD)/Sederajat 203

6. Sedang SLTP/Sederajat 96

7. Tamat SLTP/Sederajat 137

8. Sedang SLTA/Sederajat 51

9. Tamat SLTA/Sederajat 133

10. Tidak Tamat SLTA/Sederajat 209

11. Sedang D-2 1 12. Tamat D-2 47 13. Sedang D-3 5 14. Tamat D-3 2 15. Sedang S-1 62 16. Tamat S-1 56 17. Sedang S-2 6 18 Tamat S-2 5

Sumber: Kantor Desa Bajiminasa, Buku IV Profil Desa, halaman 16, Pendidikan Masyarakat, 2015

d. Agama

Masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba `rata-rata beragama Islam. Namun, kebanyakan masyarakatnya masih kurang paham tentang hukum-hukum tetang Islam, karena ajaran nenek moyang mereka masih melekat dalam kesehariannya.

B. Sistem Pelaksanaan Gadai Tanah (Sawah) pada Masyarakat Desa Bajiminasa

Bulukumba

Gadai tanah (sawah) adalah perjanjian yang menyebabkan bahwa tanahnya diserahkan untuk menerima sejumlah uang tunai dengan permufakatan bahwa si penggadai (rahin) akan berhak mengembalikan tanah itu ke dirinya sendiri dengan jalan membayarkan sejumlah uang yang sama. Berdasarkan definisi tersebut, bahwa selama uang gadai belum dilunasi maka tanah (sawah) yang digadaikan tetap dalam penguasaan si pemegang gadai (murtahin) dan selama itu hasil tanah seluruhnya menjadi hak si pemegang gadai (murtahin).

Ibu Darma (rahin) mengungkapkan:

karena biaya sekolah, na kalau butuhmi uang, maumi membayar. Na tidak ada musim panen, apalagi pekerjaanku petaniji na tidak adami bapaknya juga. Jadi terpaksa kodong di pasanraki (digadaikan) itu sawah... 5

Masyarakat Desa Bajiminasa pada umumnya bermata pencaharian di sektor pertanian, yang mana mereka mengandalkan musim padi dan musim cengkeh. Bila tiba musim panen mereka akan mendapatkan hasil. Dan dari hasil tersebut akan dipergunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya selain itu disisihkan pula untuk berjaga-jaga akan keperluan nantinya. Namun dalam keadaan mendesak seperti butuh biaya untuk sekolahkan anaknya, modal usaha, dan sebagainya, mereka terpaksa menggadaikan sawahnya. Sawah yang digadaikan tersebut adalah tanah milik mereka sendiri.

5 Darma, Pihak penggadai (rahin), Masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba.

Masyarakat Desa Bajiminasa menyebut gadai dengan sebutan “Sanra” yaitu transaksi gadai tanah (sawah) sebagai jaminan dan tanah itu dimanfaatkan oleh penerima gadai. Orang yang melakukan gadai disebut “appasangra” (penggadai/rahin), sedangkan yang menerima disebut “annyangrai” (penerima gadai/murtahin). Adapun mengenai batas waktu pelunasanya biasanya ditentukan dalam bentuk tahunan dan tanpa batas waktu tertentu. Seperti yang diungkapkan oleh

murtahin sebagai berikut:

Bapak Karis mengtakan: “….. Batas waktunya 3 tahun. Tapi kalaupun sampaimi 3 tahun na tidak adapi uangnya. Yaa… tetap berlanjut.”6

Ibu Manika mengatakan: “Tida’. Tida’ adaji perjanjian. Tida’ pake perjanjianji. Ituji na ada batas waktuna kalau ada perjanjian. Adapi uangna nabayarki”7

Namun, apabila sudah sampai batas waktu yang ditentukan, penggadai (rahin) belum mampu untuk membayar uang yang dipinjamnya maka penerima gadai (murtahin) berhak untuk tetap menahan, mengarap, dan mengambil seluruhnya hasil dari tanah (sawah) tersebut. Ada pun mengenai pelunasan tanpa batas waktu tertentu, asalkan uang sudah dikembalikan maka sawah yang digadaikan pun kembali menjadi hak pemiliknya. Berdasarkan intervieu rata-rata yang terjadi jika sampai batas waktu atau jatuh tempo. Rahin (penggadai) belum mampu untuk membayar hutangnya,

6 Karis, pemegang gadai (murtahin), Masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba.

Wawancara,Bulukumba, 13 Agustus 2016.

7 Manika, pemegang gadai (murtahin), Masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba.

maka Murtahin (penerima gadai) masih berhak atas sawah tersebut sampai si rahin melunasi pinjamannya.

Gadai tanah di Desa Bajiminasa Bulukumba dilakukan dengan cara perkiraan seberapa banyak uang yang akan dipinjam oleh si penggadai (rahin) serta tawar menawar antara si penggadai (rahin) dan penerima gadai (murtahin). Dan apabila dalam akad tidak ditentukan batas waktunya maka gadai tersebut akan berakhir ketika

rahin melunasi utangnya. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Darma:

Saya yang datang di rumahnya. Langsungka minta uang, baru kutawarkangngi sawahku. Bilang, 20 juta….. jadi uang yang separu itu uang untuk sekolah. Dia yang tentukangngi (batas waktu) ka saya tida’ mauka tentukangngi, paling kalau adami uangku kukasi keluarmi (dilunasi/berakhirnya gadai). Seandainya nda’ di tentukangngi ini kukasi keluarmi. Tapi tiga tahunpi baru bisa di kasi keluar, tahun depanpi.8

Praktek gadai di Desa Bajiminasa Bulukumba, proses mu’amalah mulai terjadi ketika si A (rahin) mendatangi si B (murtahin) dan menawarkan sawahnya sebagai jaminan dengan maksud meminjam sejumlah uang, jika si B setuju maka dilakukan perjanjian yang mana di dalam perjanjian tersebut seberapa banyak uang yang akan dipinjam dan sampai kapan batas waktunya.

Proses terjadinya akad gadai hanya dilakukan secara lisan dengan asumsi adanya saling percaya diantara kedua belah pihak. Selain itu terkadang dihadirkan pihak lain yang akan menjadi saksi.

Seperti yang telah dikemukakan tersebut bahwa alasan mereka untuk menggadaikan sawahnya adalah karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang

8 Hasil wawancara.

mendesak diantaranya biaya sekolah, modal usaha dan lain sebagainya. Namun kebanyakan dari mereka yang melakukan gadai dengan alasan biaya sekolah. Oleh karena itu mereka terpaksa mengadaikan tanahnya (sawahnya) tersebut.

Dari pihak murtahin ada 2 faktof yang menyebabkan mereka melakukan gadai yaitu:

1. Faktor kebiasaan.

Karena masyarakat di Desa Bajiminasa sudah terbiasa sejak zaman dahulu menggadaikan tanah, apabila ingin memenuhi kebutuhannya yang membutuhkan anggaran yang tidak sedikit selalu mengadakan gadai. Sehingga mereka beranggapan bahwa hal tersebut sudah menjadi kebiasaan atau sudah terbiasa, maka sudah menjadi ketetapan umum bila seseorang berhutang maka harus ada pegangan (jaminan). Dengan demikian pihak yang membutuhkan dana tersebut mereka mendatangi orang-orang tertentu yang dianggap mampu menolongnya atau menyelesaikan masalahnya, seperti ungkapan yang diungkapkan oleh Ibu Manika (murtahin) di bawah ini:

“ka dia jugaji yang datang minta uang terus nabilang itu sawahku di sana pegang.”9

Dari komentar tersebut, bahwasanya rahin sendirilah yang datang kepada

murtahin untuk meminjam uang dan menawarkan sendiri sawahnya untuk digadai

dan digarap. Dari hal tersebut berarti kegiatan gadai tanah (sawah) di Desa Bajiminasa memang sudah menjadi kebiasaan masyarakatnya walaupun tanpa diminta oleh si murtahin.

9 Hasil wawancara.

2. Faktor ingin menolong

Berangkat dari rasa tolong menolong, maka si penerima gadai (murtahin) meminjamkan uangnya kepada si penggadai (rahin). Karena sebagai rasa kebersamaan dalam masyarakat yang didasari tolong-menolong antara sesama manusia. Begitu pula sebaliknya bagi rahin merasa bergembira karena mendapat pinjaman dalam bentuk gadai, juga sebagai rasa terima kasih telah dipinjamkan uang maka mereka rela menyerahkan sawahnya kepada si penerima gadai sebagai jaminan dan untuk digarap (dimanfaatkan). Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Karis:

“Ka butuhki uang do kodong. Jadi, dipinjangiki.”10

Dari komentar tersebut, dapat dimaknai bahwa alasan penerima gadai (murtahin) melakukan gadai karena kasian terhadap rahin sehingga ia ingin menolongnya dengan cara meminjamkan uang kepadanya. Dari hal tersebut penulis mengambil kesimpulan bahwa dalam melakukan gadai di masyarakat Desa Bajiminasa terdapat unsur tolong-menolong.

Adapun Hak dan Kewajiban Penggadai (rahin) dan Penerima Gadai (murtahin) yaitu:

1. Hak dan Kewajiban Penggadai (rahin): Hak penggadai (rahin) yaitu:

a. Berhak untuk mendapatkan sejumlah uang dari penerima gadai (murtahin).

b. Berhak untuk mendapatkan pengembalian sawah yang digadaikan sesudah ia melunasi pinjaman utangnya.

10 Hasil wawancara.

Kewajiban penggadai (rahin) yaitu:

a. Berkewajiban untuk menyerahkan sawahnya dan dimanfaatkan oleh penerima gadai (murtahin).

b. Berkewajiban untuk mengembalikan uang pinjaman kepada penerima gadai (murtahin).

2. Hak dan Kewajiban Penerima Gadai (murtahin): Hak penerima gadai (murtahin) yaitu:

a. Berhak untuk memanfaatkan dan mengambil hasil sawah yang dijadikan jaminan. b. Berhak untuk melakukan perjanjian baru dengan orang lain (bagi hasil) atas

barang gadai (sawah).

c. Berhak untuk menagih uang pinjaman jika sudah sampai batas waktu yang telah ditentukan.

d. Berhak untuk tetap menahan barang gadai selama pinjaman belum dilunasi (jatuh tempo) oleh pemberi gadai (rahin).

Kewajiban penerima gadai (murtahin) yaitu:

a. Berkewajiban untuk menyerahkan uang pinjaman kepada penggadai (rahin) atas terjadinya transaksi gadai.

b. Berkewajiban untuk mengembalikan sawah yang dijadikan jaminan kepada penggadai (rahin) jika sudah melunasi pinjaman utangnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, pemanfaatan barang gadai yang terjadi dalam pelaksanaan gadai tanah (sawah) di masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba dilakukan oleh penerima gadai (murtahin).

Bapak Baharuddin (murtahin): “Iya tentumi saya yang kerjai, saya yang ambilki hasilnya”11

Ibu Manika (murtahin): “…. Bukang. Nakerjai orang. Nantipi hasilna baru dibagi dua ii”12

Pemanfaatan barang gadai dikekola atau digarap oleh penerima gadai (murtahin). Selain itu ada pula yang dikelola atau digarap oleh pihak ketiga atau orang lain yang dipercaya dengan ketentuan bagi hasil antara penggarap dengan sipenerima gadai (murtahin). Meskipun demikian kebanyakan sawah yang dijadikan sebagai jaminan digarap atau dikelola oleh penerima gadai itu sendiri. Namun hasil dari pemanfaatan barang gadai tidak dilakukan bagi hasil antara si penggadai (rahin) dengan penerima gadai (murtahin) setelah dipisahkan dengan biaya pemeliharaan. Hasil tersebut semuanya diambil oleh penerima gadai (murtahin). Bahkan hasil yang telah diambil dari sawah (barang gadai) tersebut biasanya sudah melebihi dari utang si penggadai (rahin). Oleh karena itu, pemanfaatan barang gadai (sawah) yang terjadi dalam masyarakat di Desa Bajiminasa Bulukumba harus ditinjau ulang karena merugikan bagi pemberi gadai.

11 Baharuddin, penerima gadai (murtahin), Masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba.

Wawancara,Bulukumba, 13 Agustus 2016.

12 Manika, penerima gadai (murtahin), Masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba.

C. Pandangan Ekonomi Islam Terhadap Pelaksanaan Gadai Tanah (Sawah) pada

Masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba

Gadai merupakan suatu perjanjian atau akad dalam bermu’amalah yang dilakukakan oleh dua belah pihak dalam bentuk hutang piutang dengan menyerahkan suatu barang sebagai jaminan atas hutang. Perjanjian gadai ini dibenarkan dengan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah (2) ayat 283 yang berbunyi:



















...

Terjemahnya:

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)…13

Pengertian ٌةَض ْوُبْقَّم ٌنَّهِرَف dalam ayat tersebut yaitu barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Barang tanggungan tersebut dalam masyarakat disebut dengan gadai atau jaminan.

Dari ayat tersebut bila dicermati maka ‘illat hukum yang terkandung adalah adanya faktor kebutuhan, hal ini dapat dijumpai dalam pendapatnya as-Saukani yang mengemukakan bahwa “barang siapa dalam perjalanan melakukan perjanjian hutang piutang dan tidak dijumpai seorang pun penulis maka untuk meringankannnya (hutang piutang) diadakannya jaminan yang dipegang”.14 Jadi adanya utang piutang

13 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, (Bandung: PT Syamil Cipta Media, 2005), h. 49.

14 Imam Muhammad ‘Ali ibn muhammad as-Saukani, Fath al-Qadir, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah 1410 H/1994 M), h. 383.

dengan barang jaminan (gadai) karena adanya kebutuhan yang mendesak. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Darma (rahin):

karena biaya sekolah, na kalau butuhmi uang, maumi membayar kasian. Na tidak adak musim panen, apalagi pekerjaanku petaniji na tidak adami bapaknya juga. Jadi terpaksa kodong di pasanraki (digadaikan) itu sawah... 15

Masyarakat Desa Bajiminasa pada umumnya bermata pencaharian di sektor pertanian, yang mana mereka mengandalkan musim padi dan musim cengkeh. Bila tiba musim panen mereka akan mendapatkan hasil. Dan dari hasil tersebut akan dipergunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya selain itu disisihkan pula untuk berjaga-jaga akan keperluan nantinya. Namun dalam keadaan mendesak seperti butuh biaya untuk sekolahkan anaknya, modal usaha, dan sebagainya, mereka terpaksa menggadaikan sawahnya. Sawah yang digadaikan tersebut adalah tanah milik mereka sendiri. Seperti yang telah dijelaskan di bab sebelumnya bahwasanya praktek gadai itu dibolehkan dalam ekonomi islam karena tujuan mereka melaksanakan gadai adalah tolong-menolong tanpa adanya unsur mengambil keuntungan semata. Adapun barang yang digadaikannya tersebut adalah tanah (sawah) milik mereka sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Menang berikut ini: Iya kasihan, saya yang datang tawarkangngi, ka bagaimana kalau tidak ditawarki orang na maumaki uang. Kalau maumi membayar anak-anakka na tida’ ada laona kodong kunria mammase-mase….. ee bgitu kodongnge “mauki ma’gadai sawah ka mauka mappinjam uang malu-maluka do jadi ada anuku ki pegang to ee tanahku” bilang “iye’ berapa? Ee berapa tahun?” jadi bilangnga tidak perjanjiang jaki do ee kalau ada uangku kukasi maki” bilangnga begitu. Tidak ada perjanjiang kalau ada pejanjiang nadapikki ta’taungna naparelluna

na ennappa gaga doi’ku, masusasikki to, pakkoroo. Dia yang kerjai, itu sawah

dia yang kerjai, dia semua yang ambilki hasilna. Ka gadai namanya do….. yang

15 Hasil wawancara.

ada waktu itu omnu, ana’-ana’na, dia sama istrina. Atas dasar kepercayaanji do. Begitu.16

Maksud dari wawancara dari pihak rahin tersebut bahwasanya pihak rahin sendirilah yang datang kepada si murtahin dan menawarkan sawahnya untuk digadaikan dengan maksud ingin meminjam uang. Karena ia merasa malu jika hanya sekedar meminjam uang dalam jumlah yang cukup besar. Jadi untuk itulah ia menawarkan sawahnya sebagai jaminan. Murtahin setuju dan bertanya berapa banyak yang ingin dipinjamnya? Dan berapa lama jangka waktunya? Namun si rahin tidak menginginkan adanya jangka waktu tertentu. Asalkan ia sudah memiliki uang maka ia akan melunasinya dan mengambil kembali sawahnya.

Dari hal tersebut penulis mengambil kesimpulan bahwa dalam akad tersebut telah memenuhi rukun dan syarat gadai sebagaimana dijelaskan dalam pandangan ekonomi Islam yaitu aqid ialah orang yang melakukan akad yang meliputi dua arah penggadai (rahin) dan penerima gadai (murtahin) menurut golongan As-Syafi’iyyah yaitu rahin dan murtahin cakap berbuat hukum dan keduanya sudah baliqh serta berakal. Shighat yaitu berupa ucapan ijab qabul (serah terima antara penggadai dengan penerima gadai) atau pernyataan yang disampaikan pada waktu akad (contract). Adanyanya barang gadai (marhun), dan Marhun bih yaitu dana atau uang yang diperoleh rahin (pemberi gadai) dari murtahin (penerima gadai). Akan tetapi, pihak yang melakukan gadai di Desa Bajiminasa pada saat melakukan shigat tidak memberi kejelasan akan batas waktu (jatuh tempo) artinya mereka tidak

16 Menang, Pihak penggadai (rahin), Masyarakat Desa Bajiminasa Bulukumba.

mempermasalahkan waktu jatuh temponya. Asalkan ada uang/pinjaman (marhun bih) dan barang jaminan (marhun) maka sudah memenuhi syarat gadai.

Adapun Hak dan Kewajiban Penggadai (rahin) dan Penerima gadai (murtahin) yaitu:

1. Hak dan Kewajiban Penggadai (rahin): Hak penggadai (rahin) yaitu:

a. Berhak untuk mendapatkan sejumlah uang dari penerima gadai (murtahin).

b. Berhak untuk mendapatkan pengembalian sawah yang digadaikan sesudah ia melunasi pinjaman utangnya.

Kewajiban penggadai (rahin) yaitu:

a. Berkewajiban untuk menyerahkan sawahnya dan dimanfaatkan oleh penerima gadai (murtahin).

b. Berkewajiban untuk mengembalikan uang pinjaman kepada penerima gadai (murtahin).

2. Hak dan Kewajiban Penerima Gadai (murtahin): Hak penerima gadai (murtahin) yaitu:

a. Berhak untuk memanfaatkan dan mengambil hasil sawah yang dijadikan jaminan. b. Berhak untuk melakukan perjanjian baru dengan orang lain (bagi hasil) atas

barang gadai (sawah).

c. Berhak untuk menagih uang pinjaman jika sudah sampai batas waktu yang telah ditentukan.

d. Berhak untuk tetap menahan barang gadai selama pinjaman belum dilunasi (jatuh tempo) oleh pemberi gadai (rahin).

Kewajiban penerima gadai (murtahin) yaitu:

c. Berkewajiban untuk menyerahkan uang pinjaman kepada penggadai (rahin) atas terjadinya transaksi gadai.

d. Berkewajiban untuk mengembalikan sawah yang dijadikan jaminan kepada penggadai (rahin) jika sudah melunasi pinjaman utangnya.

Mengenai hak dan kewajiban rahin dan murtahin, penulis berpendapat bahwa hak dan kewajiban rahin dan murtahin di Desa Bajiminasa tersebut sudah sesuai dengan ekonomi Islam. Akan tetapi, masih ada hak dan kewajiban yang belum terpenuhi seperti: murtahin berhak menjual barang gadai apabila telah jatuh tempo. Dan rahin berkewajiban merelakan penjualan harta benda gadaiannya, bila dalam jangka waktu yang telah ditentukan penggadai (rahin) tidak dapat melunasi uang pinjamannya.

Sedangkan, yang terjadi di Desa Bajiminasa Bulukumba tidak adanya penjualan barang gadai (sawah) meskipun telah jatuh tempo karena sudah menjadi kebiasaan disana bahwa jika telah jatuh tempo dan rahin belum mampu untuk membayarnya maka yang terjadi yaitu: murtahin tetap berhak untuk tetap menahan dan memanfaatkan sawah tersebut hingga rahin melunasi utangnya. Dan rahin harus merelakan sawahnya untuk tetap dimanfaatkan. Karena mereka memang tidak mau

menjual sawah tersebut (barang gadai). Seperti ungkapan rahin dan murtahin berikut ini :

Bapak Karis (murtahin): “Ah… siapa yang berani mau jualki sawahnya orang… nassami (sudah tentu) tidak mau punyanya jualki sawahnya.”17

Ibu Dona (murtahin):

Tidak mau tongma itu ea kalau dijualki sawahku. Itumi na tidak mauki tentukanki waktunya, karena kalau ditentukangngi na kalau nadapatmi jatuh temponya na tidak bisa paki lunasiki masusasikki to (bikin susah lagi).18

Dari komentar tersebut dapat disimpulkan bahwa pada masyarakat Desa Bajiminasa tersebut tidak adanya penjualan sawah (barang gadai) karena memang

rahin tidak ingin menjual tanah (sawah) yang digadaikan tersebut. Karena rahin

Dokumen terkait