• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanah Keras > 200

DATA PERENCANAAN DAN ANALISIS

3.2 Pengolahan Data Penyelidikan Tanah dan Interpretasinya

3.2.1 Pengujian Lapangan

Kegiatan pengujian dilapangan yang dilakukan yaitu dengan uji sondir (CPT) dan bor

A. Sondir (CPT)

Pengujian sondir bertujuan untuk mendapatkan nilai qc (tahanan ujung tiang) dan qs (gesekan selimut). Untuk penyondiran yang dilakukan pada lokasi ini sebanyak 10 (sepuluh) titik dengan alat berkapasitas 2,5 tonf yang dilaksanakan mencapai

lapisan tanah keras dengan tekanan konus qc > 200 kgf/cm2. Dalam uji sondir ini pada kedalaman 2.5 sampai 6 m sudah ditemukan tanah keras, sehingga batang

konus sudah tidak bisa masuk lebih dalam lagi, maka pengujian sondir tidak dapat

diteruskan dan memberikan kesimpulan bahwa dilokasi tersebut tanah keras

berada dikedalaman 6 meter. Gambar dan data-data dari hasil uji sondir dapat

dilihat pada lampiran data sondir. Berikut ini adalah data-data hasil dari 10

pengujian sondir:

Tabel 3.1 Hasil Pengujian Sondir

B. Bor Log (SPT)

Pengujian ini dilakukan guna mendapatkan informasi keadaan tanah dibawah

permukaan akan sifat keteknikannya. Untuk pengeboran dilakukan sebanyak 3

(tiga) lubang sampai kedalaman 24.50 m; 30.50 m; 30.50 m. Selain pengeboran

Titik Nilai Konus No Pengujian Kedalaman (qc) 1 S1 6,1 > 200 2 S2 6,4 > 200 3 S3 5,3 > 200 4 S4 2,3 > 200 5 S5 2,2 > 200 6 S6 2,3 > 200 7 S7 2,5 > 200 8 S8 4,4 > 200 9 S9 2,5 > 200 10 S10 3,1 > 200

meter. Percobaan ini memberikan informasi mengenai kepadatan dari tanah. Hasil

pengeboran menyajikan deskripsi dari lapisan-lapisan tanah yang ditemukan pada

pengeboran.

Dari hasil uji SPT didapat nilai N (banyaknya pukulan). Semakin tinggi nilai N,

maka tanah semakin keras. Berikut ini adalah hasil dari pengujian SPT:

Tabel 3.2 Potongan Lapisan Tanah pada DB1

Pada kedalaman 5 m sudah ditemukan tanah keras dengan nilai N sebesar 105

sudah melebihi angka 40 yang berarti tanah tersebut sudah tergolong tanah keras,

akan tetapi dibawahnya ditemukan lapisan tanah lunak. Kemudian pada

kedalaman 8-9.5 m ditemukan lagi tanah keras dengan nilai N-SPT lebih dari 60,

tetapi pada kedalaman 11-14 m masih ditemukan tanah lunak, kemudian pada

kedalaman 15,5-20 terdapat tanah keras dan pada lapisan bawahnya masih

ditemukan kembali tanah lunak, maka bila kita lihat dari hasil N-SPT diatas dapat

ELEVATION (M) SOIL CLASSIFICATION DEPTH (M) N VALUE (SPT) 0.00 -1.00 Urugan silt lempung dan puing-puing, coklat

Silt, MH, coklat, Abu-abu, silt lempung sedikit pasir halus, 1.50 4 1.00 - 4.20

konsistensi medium, aktivitas tidak aktif 3.50 5 4.20 - 5.50 Silt, abu-abu, cadas silt pasir halus, hard cemented 5.00 105 5.50 - 6.50 Silt, abu-abu, cadas silt, hard cemented

6.50 - 7.10 Silt, abu-abu, very stiff 6.50 21

8.00 66

7.10 - 10.50 Pasir, abu-abu, pasir kasar kerikil dan koral, very dense

9.50 >60 Silt, MH, abu-abu, silt pasir halus & lempung. Stiff, 11.00 14 10.50 - 13.00

very stiff, aktivitas sedang, kepekaan tidak peka. 12.50 15

14.00 26

15.50 84

17.00 40

18.50 88

13.00 - 21.50 Silt, abu-abu, abu-abu kehijauan, cadas silt pasir halus, hard cemented, berlapis silt pasir halus, hard

20.00 50

21.50 - 23.00 Silt, MH, abu-abu kehijauan, cadas silt pasir halus & lemp.

very stiff, aktivitas sedang 21.50 24

kita ambil kesimpulan bahwa pada DB1 ini keadaan tanah tidak terlalu baik

karena dibawah lapisan tanah keras masih terdapat lapisan tanah yang lunak.

Maka penulis menentukan tumpuan tiang bor pada lokasi ini pada kedalaman 16

m, walaupun pada kedalaman 21.5 m masih ditemukan tanah lunak akan tetapi

pada kedalaman ini dirasa cukup sebagai tumpuan untuk mendukung bangunan

diatasnya, karena selain bertumpu pada tanah keras diharapkan friksi dari selimut

tanah dapat membantu memperbesar daya dukung tiang walaupun relatif kecil.

Tabel 3.3 Potongan Lapisan Tanah pada DB2

Pada DB2 tanah keras ditemukan pada kedalaman 6.5 m tetapi pada kedalaman 8

m terdapat tanah yang lunak, selanjutnya pada kedalaman 9.5-12.5 terdapat tanah

keras, sedangkan pada lapisan bawahmya terdapat lapisan tanah lunak yang tipis

pada kedalaman 14 m, sampai pada kedalaman 15.5 terdapat tanah keras lagi

ELEVATION (M) SOIL CLASSIFICATION DEPTH (M) N VALUE (SPT) Silt, MH, coklat kemerahan, abu-abu, kuning, coklat, 1.50 16 0.00 - 4.20

silt lempung sedikit pasir halus, very stiff, akt tdk aktif 3.50 26 4.20 - 5.40 Silt, abu2, hitam, cadas silt pasir halus, hard cemented 5.00 43

Pasir, hitam, pasir halus, dense 5.40 - 7.80

Pasir, hitam, cadas pasir halus, very dense cemented 6.50 109 Pasir, hitam, pasir halus + kasar kerikil dan koral, 8.00 28 7.80 - 10.30

medium dense, dense 9.50 43

Silt, MH, abu-abu coklat, cadas silt lemp dan pasir halus 11.00 50 10.30 - 13.80

hard cemented, aktivitas tidak aktive 12.50 54

14.00 29

15.50 53

17.00 61

13.80 - 19.70 Pasir, hitam, cadas pasir halus + kasar, very dense cemented

18.50 53

20.00 42

19.70 - 22.00 Silt, abu-abu, cadas silt, hard cemented

21.50 25

22.00 - 23.70 Silt, hitam, silt pasir halus sedikit lempung, very stiff 23.00 24

24.50 14

Silt, Ml, hitam, silt pasir halus& lempung, very stiff, 26.00 12 stiff, hard, aktivitas tidak aktive 27.50 14 23.70 - 30.50

sampai kedalaman 20 m. Sehingga pada lokasi ini penulis menentukan

kedalaman 16 m sebagai tumpuan pondasi tiang bor, walupun pada kedalaman

21.5 m terdapat tanah lunak akan tetapi pada kedalaman 16 m tanah dirasa cukup

kuat menahan beban.

Tabel 3.4 Potongan Lapisan Tanah pada DB3

Pada lokasi DB 3 tanah keras sudah ditemukan pada kedalaman 4.5-12 m, pada

kedalaman 13.5m terdapat lapisan tanah lunak, pada kedalaman 16-23 m

ditemukan kembali tanah keras, sampai pada kedalaman 24.5-26 terdapat tanah

lunak hingga pada saat kedalaman mencapai 27.5-30 ditemukan lagi tanah keras.

Dari hasil data N-SPT diatas penulis memutuskan untuk meletakkan tumpuan

pondasi bor pada kedalaman 16 m karena pada kedalaman ini terdapat lapisan

tanah keras yang cukup tebal sehingga dirasa cukup kuat untuk menahan beban.

ELEVATION (M) SOIL CLASSIFICATION DEPTH (M) N VALUE (SPT) 0.00 - 2.20 Silt, MH, coklat, abu2, silt lemp pasir halus,very stiff, akt tdk aktive 1.50 17 2.20 - 3.50 Pasir, abu-abu , cadas pasir halus, very dense cemented 3.00 33 3.50 - 5.00 Silt, abu2 coklat,cadas silt pasir halusdan kerikil, hard cemented 4.50 50

6.00 73

7.50 81

5.00 - 9.50 Pasir, SW, abu2, pasir kasar kerikil dan koral, very dense

9.00 >60 10.50 >60 9.50 - 13.50 Silt, abu2, cadas silt berlapis pasir halus, hard cemented

12.00 49

13.50 - 15.10 Silt, ML, abu2, silt pasir halus dan lempung, very stiff, akt tdk aktif 13.50 18 15.10 - 16.60 Pasir, sabu2, pasir halus very dense dan cadas silt , abu2 hijau 16 97 16.60 - 18.20 Pasir, abu2, coklat, pasir hls, very dense, cadas pasir halus, abu2 17.50 88 Lemp, CL, abu2 hijau, cadas lemp pasir halus dan silt 19.00 84 18.20 - 21.00

hard cemented, aktivitas tdk aktive 20.00 40

21.00 - 22.00 Silt, abu2 hijau, silt pasir kasar, hard

23.00 55

24.50 30

22.00 - 26.50 Pasir, abu2, pasir halus, very dense, dense

26.00 38

26.50 - 28.50 Silt, abu2, cadas silt, hard cemented 27.50 42 28.50 - 30.50 Silt, coklat hitam, cadas silt pasir halus + kasar, hard cemented 30.00 57

Dokumen terkait