• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.4. Prosedur Pengujian

3.4.8 Pengujian Metalografi

Pengujian metalografi dilakukan untuk melihat mikrostruktur yang ada dipermukaan spesimen. Pengujian ini menggunakan Reflected Metallurgical Microscope dengan type Rax Vision No.545491, MM-10A,230V-50Hz dan dilakukan di Laboratorium Ilmu Logam Teknik Mesin USU.

Adapun prosedur yang dilakukan untuk pengujian metalografi (metallography test) adalah sebagai berikut:

1. Mempersiapkan benda uji dengan menghaluskan permukaan spesimen yang akan dilakukan pengujian.

2. benda uji digosok dengan kertas amplas menggunakan mesin polish diatas permukaan yang rata dan penggosokan dilakukan dengan menggunakan kertas amplas tahan air yang di aliri air. Ukuran kertas amplas yang digunakan adalah kekasaran 1000, 1500 dan 2000 permukaan yang dilakukan dengan amplas hanya satu permukaan saja.

3. Setelah dipolis dengan kertas pasir, spesimen dipolis lagi dengan larutan alumina dan digosok dengan autosol agar mikrostruktur spesimen terlihat di mikroskop optik.

4. Dilihat mikrostruktur yang ada dipermukaan spesimen.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pencetakan Spesimen

Serbuk aluminium 95% sebagai matriks dan POFA 5% sebagai penguat diaduk dengan menggunakan mesin pencampur selama 60 menit dengan kecepatan 80 rpm. Hasil campuran tersebut selanjutnya dilakukan proses kompaksi dengan tekanan 243 MPa dan dilakukan penahan selama 15 menit untuk menghasilkan green compact. Hasil dari proses kompaksi dapat dilihat pada gambar 4.1 di bawah ini.

Gambar 4.1. Spesimen green compact

Selanjutnya green compact akan dimasukkan ke dalam furnace untuk dilakukan proses sintering dengan variasi tempertur 462 oC, 495 oC, 528 oC, 561

oC, dan 594 oC dan penahanan suhu dilakukan selama 120 menit. Hasil dari proses sintering dapat dilihat pada gambar 4.2 di bawah ini.

Gambar 4.2. Spesimen setelah sintering

Keterangan :

(a) spesimen dengan temperatur sintering 462 oC (b) spesimen dengan temperatur sintering 495 oC (c) spesimen dengan temperatur sintering 528 oC (d) spesimen dengan temperatur sintering 561 oC (e) spesimen dengan temperatur sintering 594 oC

4.2. Hasil Uji Kuat Tekan (Bending)

Pengujian ini merupakan salah satu pengujian sifat mekanik bahan yang digunakan untuk mengukur kekuatan material akibat pembebanan. Pengujian Bending dilakukan pada semua sample Metal Matrix Composite (MMC) dengan

standart ASTM B 312, dimana bentuk spesimen yang digunakan berbentuk balok dengan ukuran, p = 31,75 mm l = 12,7 mm dan t = 6,35 mm.

Sedangkan pengujian bending ini dilakukan berdasarkan standard pengujian ASTM B 528 - 99. Pengujian ini dilakukan terhadap spesimen Raw Material dan semua variasi temperatur sintering serbuk Al–POFA menggunakan metode pengujian three point bending. Foto pengujian bending dapat dilihat pada gambar 4.3.

Gambar 4.3. Pengujian Bending

Hasil pengujian Bending dapat dihiung dengan menggunakan persamaan : TRS (Transverse Ruptue Strength) = 3P x L

2 t2 x W MPa ...(4.1) Retakan pada

saat bending

Penekan bending

Tumpuan bending

Keterangan : P = Pembebanan

L = Jarak antar tumpuan t = Tinggi spesimen W = Lebar spesimen

Hasil perhitungan uji bending ditampilkan dalam bentuk tabel 4.1. di bawah ini:

Tabel 4.1. Data Hasil Uji Bending dengan variasi temperatur sintering Variasi

Temperatur Spesimen L (mm)

Dari data di atas terlihat bahwa bentuk serta ukuran spesimen yang telah dicetak tidak sesuai dengan yang diharapkan. Cetakan (mold) dan fraksi massa untuk satuan spesimen menjadi faktor penyebab spesimen yang dicetak tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Grafik pengaruh variasi temperatur sintering terhadap pengujian bending pada paduan Al-POFA dan nilai rata-rata kekuatan bending dapat diliat pada gambar 4.4.

Gambar 4.4. Grafik Variasi Temperatur Sintering

Gambar 4.4 memperlihatkan pengaruh temperatur sintering serbuk Al-POFA terhadap kuat tekan MMC. Dari grafik terlihat bahwa peningkatan temperatur akan meningkatkan kekuatan bending. Dari hasil uji, nilai rata-rata terendah diperoleh pada suhu 462 oC yaitu 11,46 MPa dan nilai rata-rata tertinggi diperoleh pada suhu 594 oC yaitu 38,2 MPa. Jika dibandingkan dengan green compact yang tidak dilakukan proses sintering pada suhu 462-495 oC kenaikan kekuatan bending tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan temperatur 528-594

oC. Sifat mekanis AMC juga meningkat seiring meningkatnya temperatur sinter ( Subarmono. Dkk, 2008). Pada pengujian ini menyimpulkan bahwa variasi suhu terbaik sintering yaitu pada suhu 594 oC. Hal ini disebabkan oleh peningkatan suhu sintering selama proses ini terbentuk batas-batas butir yang merupakan tahap rekristalisasi dan gas-gas yang ada menguap akan mengakibatkan antar butir saling mengikat satu dengan lainnya sehingga akan merubah struktur butir pada spesimen.

Sintering adalah proses pemanasan sampai temperatur tinggi yang menyebabkan bersatunya partikel dan meningkatnya efektivitas reaksi tegangan permukaan (Martha Zainuddin, Wahyono Suprapto).

Secara umum, perlakuan sintering bertujuan untuk meningkatkan kerapatan antar permukaan unsur yang berefek pada kekerasan sample seiring dengan berkurangnya porositas (Dinda P. Hafizah dan Heny Faisal, 2012). Penambahan 5%

0

POFA dapat meningkatkan kekuatan bending pada Aluminium Matrix Composit.

Hal ini juga sesuai dengan yang dikatakan oleh (Seprianto, D., 2010) dan (Gustini, 2010) yang menyatakan bahwa penambahan fly ash sebesar 5% dapat meningkatkan sifat mekanik pada komposit aluminium. Pembuktian dapat dilihat pada pengujian mikrostruktur.

4.3. Hasil Pengujian Kekerasan ( Vickers Test)

Pengujian kekerasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian kekerasan dengan metode Vikers. Pengujian kekerasan dengan metode Vickers bertujuan menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap intan berbentuk piramida dengan sudut puncak 136 derajat yang ditekankan pada permukaan material uji.

Angka kekerasan Vickers dari spesimen yang telah diuji dapat dihiung dengan menggunakan persamaan :

VHN (Vickers Hardness Number) =1,8544 P

d2 Kgf/mm2 ...(4.2) Keterangan :

P = Force (Kgf) D = Diagonal rata-rata

Berikut adalah panjang diagonal indentor pada permukaan untuk setiap masing – masing spesimen uji adalah :

1. Spesimen Uji Al- POFA dengan sintering 462 oC

Dari foto mikroskop optik spesimen sintering 462 oC dengan beban indentor (P) sebesar 1 kgf dan waktu penahanan tekan selama 30 detik, pada titik 1 didapat panjang diagonal (d1 = 0,282; d2 = 0,288) , titik 2 (d1 = 0,284; d2 = 0,271), dan titik 3 (d1 = 0,302; d2 = 0,297). Besar panjang diagonal dapat dilihat pada gambar 4.5.

berikut.

Gambar 4.5. Besar panjang diagonal indentasi pada spesimen sintering 462 oC

a. Titik 1 b. Titik 2 c. Titik 3

d2

d1

Keterangan :

d1 : Diameter horizontal d2 : Diameter vertikal

2. Spesimen Uji Al- POFA dengan sintering 495 oC

Dari foto mikroskop optik spesimen sintering 495 oC dengan beban indentor (P) sebesar 1 kgf dan waktu penahanan tekan selama 30 detik, pada titik 1 didapat panjang diagonal (d1 = 0,272; d2 = 0,278) , titik 2 (d1 = 0,284; d2 = 0,291), dan titik 3 (d1 = 0,272; d2 = 0,281). Besar panjang diagonal dapat dilihat pada gambar 4.6.

berikut.

Gambar 4.6. Besar panjang diagonal indentasi pada spesimen sintering 495 oC Keterangan :

d1 : Diameter horizontal d2 : Diameter vertikal

3. Spesimen Uji Al- POFA dengan sintering 528 oC

Dari foto mikroskop optik spesimen sintering 528oC dengan beban indentor (P) sebesar 1 kgf dan waktu penahanan tekan selama 30 detik, pada titik 1 didapat panjang diagonal (d1 = 0,268; d2 = 0,263) , titik 2 (d1 = 0,261; d2 = 0,272), dan titik 3 (d1 = 0,276 ; d2 = 0,271). Besar panjang diagonal dapat dilihat pada gambar 4.7 berikut.

Gambar 4.7. Besar panjang diagonal indentasi pada spesimen sintering 528 oC

a. Titik 1 b. Titik 2 c. Titik 3

a. Titik 1 b. Titik 2 c. Titik 3

d1 d2

d2

d1

Keterangan :

d1 : Diameter horizontal d2 : Diameter vertikal

4. Spesimen Uji Al- POFA dengan sintering 561 oC

Dari foto mikroskop optik spesimen sintering 561 oC dengan beban indentor (P) sebesar 1 kgf dan waktu penahanan tekan selama 30 detik, pada titik 1 didapat panjang diagonal (d1 = 0,253; d2 = 0,257) , titik 2 (d1 = 0,251; d2 = 0,262), dan titik 3 (d1 = 0,266; d2 = 0,261). Besar panjang diagonal dapat dilihat pada gambar 4.8.

berikut.

Gambar 4.8. Besar panjang diagonal indentasi pada spesimen sintering 561 oC Keterangan :

d1 : Diameter horizontal d2 : Diameter vertical

5. Spesimen Uji Al- POFA dengan sintering 594 oC

Dari foto mikroskop optik spesimen sintering 594 oC dengan beban indentor (P) sebesar 1 kgf dan waktu penahanan tekan selama 30 detik, pada titik 1 didapat panjang diagonal (d1 = 0,239; d2 = 0,244), titik 2 (d1 = 0,244; d2 = 0,268), dan titik 3 (d1 = 0,258; d2 = 0,279). Besar panjang diagonal dapat dilihat pada gambar 4.9.

berikut.

Gambar 4.9. Besar panjang diagonal indentasi pada spesimen sintering 594 oC Keterangan :

a. Titik 1 b. Titik 2 c. Titik 3

a. Titik 1 b. Titik 2 c. Titik 3

d2 d1

d2

d1

d1 : Diameter horizontal d2 : Diameter vertikal

Dari hasil pengujian kekerasan dengan menggunakan metode Vikers dengan pembebanan 1 kg dan waktu penahanan selama 30 detik, diperoleh data-data hasil pengujian kekerasan. Data hasil pengujian kekerasan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2 Data Hasil Uji Kekerasan Vickers

Variasi Temperatur Titik a (mm) b (mm) d(mm) P (Kgf) VHN

Tabel 4.2 menunjukkan hasil uji kekerasan paduan Al-POFA, kemudian disajikan dalam bentuk grafik berdasarkan nilai VHN rata-ratanya, dapat dilihat pada gambar 4.10.

Gambar 4.10. Grafik Pengaruh Temperatur Sintering Terhadap Kekerasan Al-POFA (Skala Vickers)

Gambar 4.10 memperlihatkan pengaruh temperatur sintering terhadap nilai kekerasan pada spesimen, pada grafik diatas terlihat bahwa rata-rata nilai kekerasan yang terendah ada pada suhu 462 oC yaitu 22,52 VHN sedangkan nilai rata-rata tertinggi ada pada suhu 594 oC yaitu 28,6 VHN. Sama seperti pada pengujian bending, pada pengujian ini juga menyimpulkan bahwa variasi suhu terbaik sintering yaitu suhu 594 oC. Pada penelitian terhadap komposit Al-POFA memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. Kenaikan suhu sinter dapat menaikkan kekerasan pada spesimen. Hal ini sesuai dengan Toto Rusianto (2009), pada penelitiannya bahwa peningkatan kekerasan yang terjadi pada spesimen yang telah mengalami proses sintering, diuji kekerasannya sehingga diketahui bahwa spesimen hasil pengepresan dengan suhu yang lebih tinggi pada metalurgi serbuk, semakin menaikkan kekerasan spesimen. Pembuatan spesimen dengan variasi kenaikan suhu sinter dan ditahan selama 2 jam akan mengakibatkan meningkatknya kekerasan dan densitas dari spesimen seiring dengan peningkatan suhu sinter (Fitria dan Waziz, 2004).

Pada spesimen alumunium murni (tanpa ditambah POFA 5%) nilai kekerasan yaitu 20,76 VHN, jika dibandingkan dengan spesimen yang ditambah POFA (5%), nilai kekerasan bertambah seiring dengan pertambahan suhu sintering. Hal ini membuktikan bahwa penambahan 5% POFA dapat meningkatkan nilai kekerasan pada spesimen. POFA yang mengandung sebagian besar silica (SiO2) dan alumina

0

(Al2O3) dan sebagian kecil calcium oxides (CaO) dan magnesium oxides (MgO) merupakan keramik yang memiliki kekuatan dan kekerasan yang baik. Proses pencampuran serta penekanan kompaksi yang dilakukan antara aluminium dan unsur-unsur di dalam POFA membuat keduanya saling mengisi dan berikatan sehingga menyebabkan sifat mekanik dari aluminium sebagai bahan utama meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gustini (2010), yang menyatakan bahwa penambahan fly ash sebesar 5% pada komposit aluminium dapat meningkatkan sifat mekanik dari komposit yaitu kekerasan vikers.

Naiknya nilai kekerasan dapat terjadi karena distribusi Al-POFA yang merata, yang berakibat tercapainya ikatan antar permukaan dengan baik antar penyusun komposit. Peningkatan kekerasan dapat juga dipengaruhi oleh adanya pengerasan regangan dari partikel Al, jika bahan dideformasi pada temperatur sintering rendah (relatif terhadap titik cairnya), maka pengerasan terjadi mengikuti deformasinya (Toto Rusianto, 2009). Meningkatnya deformasi akan meningkatkan kekuatan dari spesimen tersebut. Sedangkan rendahnya nilai kekerasan dapat diakibatkan oleh banyaknya oksigen yang terjebak akibat kesalahan pada sejak pembuatan sample, sehingga menghambat difusi interaksi antar permukaan partikel dan juga meningkatnya porositas juga dapat menurunkan nilai kekerasan (Dinda P.

Hafizah dan Heny Faisal, 2012).

4.4. Hasil Pengujian Makro

Foto makro yang dilakukan pada spesimen campuran serbuk aluminium–

palm oil fly ash (POFA) untuk melihat distrubusi serbuk aluminium dan POFA.

Namun dari hasil foto makro, tidak tampak perbedaan warna antara serbuk aluminium dengan POFA. Dilihat dari perpatahan spesimen yang tegak lurus terhadap bidang tekan. Secara teori, konfigurasi pengujian three point bending dimana serat penyusun komposit tegak lurus dengan panjang spesimen. Terdapat dua kemungkinan penyusunan serat, yaitu dengan serat sejajar dengan panjang spesimen dan serat melintang terhadap panjang spesimen. Pada salah satu konfigurasi tersebut, akan terjadi retakan yang mengakibatkan perpatahan pada bagian luar permukaan spesimen yang berada pada tegangan tensile maksimal. Foto makro bentuk retakan dapat dilihat pada gambar 4.11.

Gambar 4.11 Bentuk retakan pada saat pengujian bending Keterangan :

A : foto makro dari penampang bawah spesimen hasil pengujian bending B : foto makro dari penampang samping spesimen hasil pengujian bending

Gambar diatas menunjukkan bahwa tekanan yang ditimbulkan pada saat bending membuat serat penyusun pada bahan komposit saling tarik-menarik sehingga pada penampang bagian bawah mengalami deformasi. Hal tersebut juga terjadi karena penampang bagian bawah spesimen merupakan bagian yang mengalami tegangan tensile maksimal. rambatan retakan yang terjadi pada spesimen uji. Dari sisi samping spesimen dapat dilihat bahwa rambatan retakan tidak menjalar sampai ke bagian atas permukaan spesimen. Hal ini menunjukkan bahwa spesimen alumunium memiliki sifat cenderung getas. Berikut ini adalah gambar bentuk patahan dari setiap variasi temperatur sintering

Sintering 528 oC

A B

Daerah yang mengalami tegangan tensile maksimal

Ujung rambatan retakan

Permukaan patahan kasar dan berserat

Alur retakan yang terbentuk setelah bending

Gambar 4.12. Foto makro dari patahan pada setiap variasi tempetarur sintering.

Pada gambar diatas, patahan pada masing-masing spesimen yang tegak lurus terhadap bidang tekan memperlihatkan permukaan patahan nampak kasar, berserat (fibrous), dan berwarna kelabu. Dilihat dari hasil rambatan retakan yang terjadi pada masing-masing spesimen menunjukkan bahwa spesimen-spesimen tersebut cenderung getas. Patahan pada masing-masing spesimen tersebut terjadi karena adanya pemberian beban yang menyebabkan partikel di dalam spesimen uji mengalami deformasi secara bertahap dari elastis menjadi plastis hingga akhirnya mengalami keretakan (patahan). Wardana, (2014) mengatakan bahwa sifat komposit yang perpatahannya cenderung getas disebabkan karena adanya sifat kekerasan dari partikel penyusun yang tinggi.

4.5. Hasil Pengujian Mikrostruktur

Pengujian mikrostruktur dilakukan untuk mengetahui bentuk butir dan persebaran fly ash pada paduan Al-POFA dengan naiknya suhu pemanasan.

Pengujian ini menggunakan Refected Metalurrgical Microscope dengan type Rax Vision No.54549. Hasil dari pengujian mikrostruktur ini dapat memperkuat hasil dari pengujian kekerasan. Detail struktur diamati dengan mikroskop pada skala

Sintering 462 oC Sintering 495 oC

Sintering 528 oC Sintering 594 oC

perbesaran 100x. Struktur mikro material uji (specimen) ditampilkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.13. Struktur mikro dengan suhu sintering 462 oC

Gambar 4.14. Struktur mikro dengan suhu sintering 495 oC

Gambar 4.15. Struktur mikro dengan suhu sintering 528 oC Alumunium

Alumunium POFA

POFA

Alumunium POFA

Gambar 4.16. Struktur mikro dengan suhu sintering 561 oC

Gambar 4.17. Struktur mikro dengan suhu sintering 594 oC

Kenaikan suhu sinter dapat menaikkan kekerasan pada spesimen, secara umum perlakuan sintering bertujuan untuk meningkatkan kerapatan antar permukaan unsur (Dinda P. Hafizah dan Heny Faisal, 2012). Geometri batas butir dan pori yang terjadi pada tahap menengah tergantung pada laju sinter. Pada mulanya pori terletak pada bagian batas butir yang memberikan struktur pori.

Sedangkan pemadatan (densification) yang terjadi pada tahap ini diikuti oleh difusi volum dan difusi batas butir. Semakin tinggi temperatur dan waktu tahan sinter serta semakin kecil partikel serbuk, maka ikatan dan densifikasi yang terjadi juga semakin tinggi. Pada suhu 594 oC, terdapat banyaknya porositas yang dihasilkan disebabkan karena terdapat udara yang terperangkap dan POFA yang menggumpal (aglomerasi). Penggumpalan pada POFA menyebabkan interaksi antar batas butir aluminium dan POFA tidak berikatan dengan sempurna. Hal tersebut dapat

Alumunium

Alumunium POFA

POFA

100.0

dibuktikan dari uji foto mikro dimana terdapat banyak porositas di masing-masing spesimen uji.

4.6. Hasil Pengujian Densitas

Pengujian densitas dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai densitas akibat variasi temperatur sintering. Nilai densitas yang didapat dari pengujian akan memperkuat hasil nilai kekerasan dan kekuatan bending yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dengan bertambahnya temperatur sintering akan meningkatkan nilai kekerasan serta meningkatkan kekuatan bending dari spesimen.

Pengujian densitas pada penelitian ini mengacu pada standart ASTM B311.

Perhitungan densitas dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan prinsip Archimedes. Untuk perhitungan secara eksperimen dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 4.3 berikut ini:

ρ Exp

=

(ms−mg)ms

𝑥

ρ H₂O...(4.3) Keterangan : ρ Exp = Densitas eksperimen (gr/cm3)

ms = Massa sampel kering

mg = Massa sampel yang digantung didalam air

Berikut ini adalah data hasil pengujian densitas dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3. Data Hasil Pengujian Densitas

Variasi sintering Mg Ms ρ H₂O ρ Exp sintering. Hasil tersebut disajikan dalam bentuk grafik berdasarkan nilai densitas dari experimen yang dilakukan. Grafik tersebut dapat dilihat pada gambar 4.17 berikut ini.

Gambar 4.18. Grafik Pengaruh Temperatur Sintering Terhadap Nilai Densitas Al-POFA

Gambar 4.17. memperlihatkan pengaruh temperatur sintering terhadap nilai densitas pada spesimen, pada grafik diatas terlihat bahwa rata-rata nilai densitas yang terendah ada pada suhu 462 oC yaitu 1,7911 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 sedangkan nilai rata-rata tertinggi ada pada suhu 594 oC yaitu 2,2581 𝑔𝑟/𝑐𝑚3. Peningkatan tersebut disebabkan oleh sifat logam Al sebagai matrik yang bersifat ulet dan memiliki sifat plastis, dengan adanya sifat plastis tersebut apabila ada beban yang bekerja pada bahan tersebut maka bahan akan berubah bentuk. Perubahan bentuk dikarenakan tekanan yang mendorong serbuk-serbuk mengisi ruang kosong di dalam cetakan (Sigit Budihartono, 2012).

Densitas merupakan salah satu parameter untuk menentukan kualitas POFA. Hal ini berkaitan dengan pemadatan POFA menjadi komposit dilihat dari bobot dan volume per satuan komposit. Komposit dengan densitas yang tinggi lebih kompak dibanding dengan densitas rendah (Sudiro dan Suroto, 2014). Besar butir dari serbuk juga dapat mempengaruhi densitas. Perbandingan besar butir dari Al berbanding POFA sebaiknya kecil untuk memudahkan proses kompaksi berjalan dengan baik, makin besar perbedaan ukuran besar butir Al-POFA, proses pemampatan pada saat kompaksi akan semakin sulit, hal ini disebabkan Al yang bersifat ulet tidak dapat menyatu secara optimal. Pembuatan spesimen dengan variasi suhu sinter 450 oC , 500 oC dan 550 oC dan ditahan selama 2 jam akan mengakibatkan meningkatknya kekerasan dan densitas dari spesimen seiring

0,0

dengan peningkatan suhu sinter (Fitria dan Waziz, 2004). Proses pemanasan (sinter) juga dapat mempengaruhi densitas dari spesimen, karena perbedaan suhu lebur (Sigit Budihartono, 2012). Oleh karena itu, fly ash dengan suhu lebur yang lebih tinggi dari alumunium, dimana suhu lebur fly ash 900-1200°C, sedangkan suhu lebur dari alumunium 660°C, sehingga pada saat proses pemanasan pada suhu 462

°C, 495 °C, 528 °C, 561 °C, 594 °C fly ash belum sinter.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah

1. Peningkatan temperatur sintering akan meningkatkan kekerasan, kekuatan bending dan densitas. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil pengujian bending dimana nilai rata-rata terendah diperoleh pada suhu 462 oC yaitu 11,46 MPa dan nilai rata-rata tertinggi diperoleh pada suhu 594 oC yaitu 38,2 MPa. Dari hasil pengujian kekerasan didapat nilai rata-rata nilai kekerasan yang terendah ada pada suhu 462 oC yaitu 22,52 VHN sedangkan nilai rata-rata tertinggi ada pada suhu 594 oC yaitu 28,6 VHN. Dari hasil pengujian densitas didapat nilai densitas terendah terletak pada titik tekanan kompaksi 145 Mpa yaitu sebesar 1,94 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 sedangkan nilai densitas tertinggi terdapat pada titik tekanan kompaksi 243 Mpa yaitu sebesar 2,25 𝑔𝑟/𝑐𝑚3.

2. Perlakuan sintering bertujuan untuk meningkatkan kerapatan antar permukaan unsur yang berefek pada kekerasan sampel seiring dengan berkurangnya porositas. Peningkatan suhu sintering dapat membentuk batas-batas butir yang merupakan tahap rekristalisasi dan gas-gas yang ada menguap akan mengakibatkan antar butir saling mengikat satu dengan lainnya sehingga akan merubah struktur butir pada spesimen.

5.2. Saran

Berikut ini merupakan saran yang berguna bagi penelitian di masa mendatang, mengingat masih banyaknya kekurangan pada penelitian sebelumnya.

1. Cetakan sebaiknya didesain dengan baik untuk memperoleh green compact yang lebih presisi sesuai dengan dimensi yang diharapkan.

2. Fraksi massa antara masing-masing spesimen yang akan dicetak harus sama agar bentuk serta ukuran yang seragam.

3. Sebaiknya ada penambahan variasi ukuran butiran Palm Oil Fly Ash (POFA) terhadap pembentukan Metal Matrix Composite (MMC) untuk melihat pengaruhnya dalam menghasilkan komposit.

DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, M. F., (2008), Laporan Praktikum Struktur Dan Sifat Mekanik, Universitas Diponegoro, Semarang.

Alamsyah, M. F., dan Sulardjaka, (2013), Pengaruh Holding Time Pada Proses Age Hardening Terhadap Kekerasan Komposit AL-CU Yang Diperkuat Serbuk FLY ASH, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.

Bienas, J., Walezak, M., Surowska, B., Sobezak, J., (2003), Microstructure and Corrosion Behavior of Alumunium Fly Ash Composites, Journal of Optoelectronics and Advanced Materials 1.5(2).

Budihartono, S., (2012), Pengaruh Pressureleses Sintering Komposit Al-Kaolin Terhadap Densitas, Kekerasan dan Struktur Mikro, Jurusan Teknik Mesin, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta.

Chan,Y., (2010), Metalurgi Serbuk: https://yefrichan.files.wordpress.com/2010/.../

metalurgi-serbuk1.pdf akses September 2016.

Callister, D. W., (2001), Fundamentals of Materials Science and Engineering, John Wiley & Sons, Inc, New York.

David, C., dan Myrna, A., (1999), Metalurgi Serbuk: Teori dan Aplikasi Jilid I, Metalurgi Universitas Indonesia, Depok.

Douglas, M., Considin P. E., (1983), Scientific Encyclopedia, Van Mostran Reinold Company, Australia.

German, R. M., (1984), Powder Metallurgy Science, second edition, Metal Powder Industries Federation, Pricenton, New Jersey.

German, Randall, M., (1994), Powder Metallurgy Sciense, The Pennsylvania State University, USA.

Graham, W., (2008), Utilizing Fly Ash Particels To Reduce Low Cost Metal Matrix Composit, Ultalite, Melbourne, Australia.

Gustini, (2010), Analisa Kekerasan Komposit Alumunium Fly Ash, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya.

Hartomo, Anton, J., dan Kaneko, T., (1992), Mengenal Pelapisan Logam (Elektroplating), Andi Offset, Yogyakarta.

Hibbeler, R.C., (2005), Mechanics of Materials, Sixth Edition, Pearson Education.

Singapore.

Kartaman, M., (2010), Fabrikasi Komposit Al/Al2O3 Coated dengan Metode Stir Casting dan Karakterisasinya, Universitas Indonesia, Depok.

Klar, E., (1983), Powder Metallurgy: Application, Advantages, and Limitation, Ohio, American Society for Metals.

M, Ramachandra., K, Radhakhrisna., (2006), Sliding wear,slurry erosive wear, and corrosive wear of alumunium/ SiC composite, Department of Manufacturing Engineering, BMS College of Enginering Bangalore, Karnataka, India.

Martha, Z., Zuhri, M., dan Wahyono, S., (....), Pengaruh Tekanan Hot Compacting Terhadap Laju Korosi dan Kekerasan Bushing Powder Duralumin, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya.

Pratama, (2011), Analisa Sifat Mekanik Komposit Bahan Kampas Rem Dengan Penguat Fly Ash Batubara, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.

Rusianto, T., (2005), Pengaruh Kadar TiO2 Terhadap Kekuatan Bending Komposit Serbuk Al/ TiO2, Jurnal Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 7(1).

Rusianto, T., (2009), Hot Pressing Metallurgi Serbuk Aluminium dengan Variasi Suhu Pemanasan, 2(1).

Rusdianto, T., dan Lilik, D. S., (2006), Pengaruh Kadar TiO2 Terhadap Kekuatan Bending Komposit Serbuk Al/ TiO2, Jurnal Teknik Mesin, 7(2).

S. Deni, et.all., (2008), Analisis Pengaruh Komposisi Sic Terhadap Sifat Mekanis Komposit Serbuk Al/ SiC Dengan Proses Single Compaction, Jurnal Makara Sains.

Safril, M., (2016), Analisis Wear Resistant Bahan Komposit Matriks Alumunium Diperkuat Palm Oil Fly Ash Menggunakan Pin On Disk Test, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

Seprianto, D., (2010), Pengaruh Tekanan Dan Holding Time Terhadap Densitas

Seprianto, D., (2010), Pengaruh Tekanan Dan Holding Time Terhadap Densitas

Dokumen terkait