• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Data

1. Pengujian Prasyarat Analisis

Pengujian normalitas dimaksudkan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data tentang variabel status kepegawaian, tingkat pendidikan, dan masa kerja guru. Berikut ini disajikan pengujian normalitas berdasarkan uji satu sampel dari Komogorof Smirnov:

Tabel 5.10

Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi Guru terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari Status

Kepegawaian

PNS GTY GTT

N 94 8 20

Normal Parametersa,,b Mean 124,61 122,13 126,65 Std. Deviation 14,987 5,436 9,735 Most Extreme Differences Absolute 0,070 0,240 0,204 Positive 0,064 0,240 0,125 Negative -0,070 -0,173 -0,204 Kolmogorov-Smirnov Z 0,680 0,679 0,912

Asymp. Sig. (2-tailed) 0,745 0,746 0,377

Dari tabel 5.10 dapat diketahui bahwa nilai asymptotic significance (Asymp. Sig) untuk distribusi data persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian PNS adalah 0, 745, status kepegawaian GTY adalah 0,746, dan status kepegawaian GTT adalah 0,377. Nilai asymptotic significance (Asymp. Sig) pada masing-masing status kepegawaian tersebut lebih besar dari alpha (α) = 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa distribusi data persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non- Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian guru adalah normal.

Tabel 5.11

Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi Guru terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari

Tingkat Pendidikan

S1 D3

N 109 10

Normal Parametersa,,b Mean 124,00 130,70 Std. Deviation 13,934 11,643 Most Extreme Differences Absolute 0,067 0,188 Positive 0,067 0,188 Negative -0,061 -0,127 Kolmogorov-Smirnov Z 0,703 0,596

Asymp. Sig. (2-tailed) 0,706 0,870

Dari tabel 5.11 dapat dilihat bahwa untuk tingkat pendidikan S2, D2, dan di bawah D2 tidak dapat ditunjukkan karena jumlah responden hanya 1 orang saja, sehingga hal ini mengakibatkan pengujian dengan menggunakan One-Sample Kolmogorov- Smirnov Test tidak dapat menunjukkan outputnya. Dari tabel tersebut juga dapat diketahui bahwa nilai asymptotic significance (Asymp. Sig) untuk distribusi data persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non- Kependidikan ditinjau dari tingkat pendidikan D4/S1 adalah 0,706, dan untuk tingkat pendidikan D3 adalah 0,870. Nilai

asymptotic significance (Asymp. Sig) pada masing-masing tingkat pendidikan tersebut lebih besar dari alpha (α) = 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa distribusi data persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi

sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari tingkat pendidikan guru adalah normal.

Tabel 5.12

Rangkuman Hasil Pengujian Normalitas Variabel Persepsi Guru terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari Masa

Kerja

LebihDr2Thn KrgDr2Thn

N 113 9

Normal Parametersa,,b Mean 124,88 123,56 Std. Deviation 13,424 18,796 Most Extreme Differences Absolute 0,083 0,287 Positive 0,083 0,178 Negative -0,060 -0,287 Kolmogorov-Smirnov Z 0,884 0,862

Asymp. Sig. (2-tailed) 0,415 0,448

Dari tabel 5.12 dapat diketahui bahwa nilai asymptotic significance (Asymp. Sig) untuk distribusi data persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari masa kerja lebih dari dua tahun adalah 0,415, dan masa kerja kurang dari dua tahun adalah 0,448. Nilai asymptotic significance (Asymp. Sig) pada masing- masing masa kerja tersebut lebih besar dari alpha (α) = 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa distribusi data persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari masa kerja guru adalah normal.

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang sama. Kesamaan asal sampel dibuktikan dengan adanya kesamaan variansi kelompok-kelompok yang membentuk sampel tersebut. Pengujian ini didasarkan pada uji Levene Statistic. Secara ringkas hasil pengujian untuk homogenitas disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 5.13

Tabel Hasil Pengujian Homogenitas

Variabel Levene

Statistic df1 df2 Sig. Keterangan Persepsi Guru Terhadap

Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari Status Kepegawaian Guru

5,038 2 119 0,008 Tidak Homogen

Persepsi Guru Terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Guru

0,368 1 117 0,545 Homogen

Persepsi Guru Terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari Masa Kerja Guru

1,191 1 120 0,277 Homogen

Dari tabel 5.13 tersebut diperoleh nilai levene statistic untuk persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian sebesar 5,038 dengan nilai probabilitas signifikansi

sebesar 0,008. Oleh karena nilai probabilitas (0,008) < nilai alpha (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa sampel yang digunakan memiliki varian yang tidak sama atau tidak homogen. Nilai levene statistic untuk persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari tingkat pendidikan sebesar 0,368 dengan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,545. Oleh karena nilai probabilitas (0,545) > nilai alpha (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa sampel yang digunakan memiliki varian yang sama atau homogen. Nilai levene statistic untuk persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari masa kerja sebesar 1,191 dengan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,277. Oleh karena nilai probabilitas (0,277) > nilai alpha (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa sampel yang digunakan memiliki varian yang homogen.

2. Pengujian hipotesis

Berdasarkan pengujian prasyarat analisis data diketahui bahwa data persepsi guru SMA terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan berdistribusi normal dan mempunyai varians yang sama atau homogen, kecuali hipotesis pertama tidak homogen maka untuk hipotesis pertama menggunakan uji Chi Square Sedangkan karena kedua syarat telah terpenuhi maka

pengujian hipotesis kedua dan ketiga menggunakan uji Anova dan uji T dapat dilakukan. Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan One Way Anova SPSS 17 for Windows Evaluation Version. Hasil pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Persepsi Guru terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari Status Kepegawaian Guru

1) Perumusan Hipotesis I

Ho1 = Tidak ada perbedaan persepsi guru SMA terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan dilihat dari status kepegawaian guru

Ha1 = Ada perbedaan persepsi guru SMA terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan dilihat dari status kepegawaian guru

2) Pengujian Hipotesis I

Tabel 5.14

Hasil Uji Chi-Square Data Berdasarkan Status Kepegawaian Guru Skor Total Status Kepegawaian Chi-Square 68.787a 106.689b Df 45 2 Asymp. Sig. .013 .000

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis tabel 5.14 nilai Chi- Square sebesar 68,787, dengan nilai probabilitas signifikansi 0,013. Nilai probabilitas signifikansi (0,013) < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima hal ini berarti persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian adalah tidak identik atau memiliki perbedaan yang signifikan.

b. Persepsi Guru terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Guru

1) Perumusan Hipotesis II

Ho2 = Tidak ada perbedaan persepsi guru SMA terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan dilihat dari tingkat pendidikan guru

Ha2 = Ada perbedaan persepsi guru SMA terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan dilihat dari tingkat pendidikan guru

2) Pengujian Hipotesis II

Tabel 5.15

Hasil Uji Beda Data Berdasarkan Tingkat Pendidikan Guru

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Between Groups 836,925 4 209,231 1,103 0,358

Within Groups 22188,100 117 189,642

Total 23025,025 121

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis tabel 5.15 nilai Fhitung sebesar 1,103, dengan nilai probabilitas signifikansi 0,358. Nilai Ftabel pada taraf signifikansi 0,05 dengan df between Groups = 4, dan df within groups = 117 adalah 2,449 oleh karena nilai probabilitas signifikansi (0,358) > 0,05 maka Ho diterima. Hal ini berarti persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non- Kependidikan ditinjau dari tingkat pendidikan adalah identik atau tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

c. Persepsi Guru terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau dari Masa Kerja Guru

1) Perumusan Hipotesis III

Ho3 = Tidak ada perbedaan persepsi guru SMA terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan dilihat dari masa kerja guru

Ha3 = Ada perbedaan persepsi guru SMA terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan dilihat dari masa kerja guru

2) Pengujian Hipotesis III

Tabel 5.16

Hasil Uji T Data Berdasarkan Masa Kerja Guru

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis tabel 5.16 nilai Thitung sebesar 0,275, dengan nilai probabilitas signifikansi 0,784. Nilai Ttabel pada taraf signifikansi 0,05 dengan df = 120, dan adalah 1,980 oleh karena nilai probabilitas signifikansi (0,784) > 0,05 maka Ho diterima. Hal ini berarti persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari masa kerja adalah identik atau tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Levene's Test

for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. T Df Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Skor Equal variances assumed 1,191 0,277 0,275 120 0,784 1.321 4.796 -8.175 10.817 Equal variances not assumed 0,207 8,662 0,841 1.321 6.391 -13.224 15.865

C. Pembahasan hasil Penelitian

1. Persepsi Guru SMA Terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau Dari Status kepegawaian Guru

Menurut hasil pengujian hipotesis pertama diketahui bahwa ada perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian guru. Artinya bahwa guru dengan status kepegawaian yang berbeda (PNS, GTY, GTT) memiliki persepsi yang berbeda terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Kesimpulan tersebut didasarkan pada perhitungan Chi Square yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,013 lebih kecil dari α = 0,05.

Hasil deskripsi data status kepegawaian guru menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status kepegawaian sebagai PNS dan ada 8 guru GTY, yang berarti bahwa mereka berhak mengikuti program pendidikan profesi guru karena telah memenuhi salah satu persyaratan untuk mengikuti program pendidikan profesi guru dalam jabatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan persepsi guru, yaitu persepsi positif terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Menurut penulis, adanya perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian

disebabkan karena guru dengan status kepegawaian PNS dan GTY beranggapan bahwa dengan mengikuti program pendidikan profesi guru maka sarjana Non-Kependidikan dipandang dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Karena para sarjana Non-Kependidikan dianggap lebih memiliki keilmuan yang mumpuni di dalam bidang masing-masing, sehingga dengan mengikuti pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ini akan dibekali ilmu untuk mengajar sehingga para sarjana Non-Kependidikan dapat menjadi seorang guru yang menguasai kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran, menindaklanjuti hasil penilaian dengan melakukan pembimbingan, dan pelatihan peserta didik, mampu melakukan penelitian dan mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan. Hal ini akan menyebabkan Guru yang mempunyai status kepegawaian PNS dan GTY memiliki persepsi yang positif terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Sebelum dilaksanakan program pendidikan profesi guru, pemerintah telah melakukan sosialisasi tentang pendidikan profesi guru sehingga guru memahami tujuan dan manfaat sesungguhnya dari pendidikan profesi guru yang pada intinya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan, mewujudkan tujuan Nasional, meningkatkan kompetensi keguruan, dan untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Atas dasar inilah guru dengan status kepegawaian GTT mempunyai persepsi yang negatif terhadap adanya pendidikan profesi guru yang terbuka bagi

sarjana Non-Kependidikan. Hal ini disebabkan karena guru yang telah lama bekerja sebagai GTT dapat tergeser oleh sarjana Non-Kependidikan yang telah mengikuti program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan dan juga pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan sesungguhnya akan memperkecil peluang sarjana pendidikan dalam memperoleh pekerjaan.

2. Persepsi Guru SMA Terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan Guru

Menurut hasil pengujian hipotesis kedua diketahui bahwa tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari tingkat pendidikan guru. Artinya bahwa guru dengan tingkat pendidikan yang berbeda (S2, D4/S1, D3, D2, dan dibawah D2) memiliki persepsi yang identik terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Kesimpulan tersebut didasarkan pada perhitungan Anova yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,358 lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 1,103 lebih kecil dari Ftabel sebesar 2,449.

Hasil deskripsi data tingkat pendidikan guru menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan D4/S1. Namun baik yang memiliki tingkat pendidikan D4/S1 dan D3 sama-sama

memiliki persepsi yang positif terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Hal ini disebabkan karena masing-masing guru berusaha mencari informasi yang sebanyak- banyaknya mengenai pendidikan profesi guru. Informasi tidak hanya diperoleh dari saat pendidikan saja, namun bisa diperoleh dari media massa, teman, masyarakat, ataupun dari media yang lain.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kesamaan persepsi guru, yaitu persepsi positif terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Menurut penulis, adanya kesamaan persepsi guru yang positif terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari tingkat pendidikan disebabkan karena guru dengan berbagai tingkat pendidikan baik D4/S1 dan D3 menyadari bahwa peningkatan mutu pendidikan menuntut kualifikasi tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Selain hal tersebut menurut penulis pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan merupakan langkah yang terbilang cukup efektif untuk mendobrak mutu pendidikan di Indonesia. Dengan demikian semua guru dengan tingkat pendidikan diploma maupun sarjana sama-sama berusaha untuk menguasai segala aspek yang diharapkan dapat dikuasai oleh guru sesuai yang diinginkan dalam pendidikan profesi guru, sehingga menurut saya tingkat pendidikan tidak banyak mempengaruhi persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Selain hal

tersebut dengan dibukanya pendidikan profesi guru bagi sarjana Non- Kependidikan diharapkan akan lebih meningkatkan keprofesionalan sebagai seorang guru bila ada sarjana Non-Kependidikan yang ingin menjadi guru.

3. Persepsi Guru SMA Terhadap Program Pendidikan Profesi Guru yang Terbuka Bagi Sarjana Non-Kependidikan Ditinjau Dari Masa Kerja Guru

Menurut hasil pengujian hipotesis ketiga diketahui bahwa tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari masa kerja guru. Artinya bahwa guru dengan masa kerja yang berbeda (lebih dari dua tahun, dan kurang dari dua tahun) memiliki persepsi yang sama terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Kesimpulan tersebut didasarkan pada perhitungan uji T yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,784 lebih besar dari α = 0,05 dan Thitung sebesar 0,275 lebih kecil dari Ttabel sebesar 1,980.

Hasil deskripsi data masa kerja guru menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki masa kerja lebih dari dua tahun, dan telah memenuhi salah satu persyaratan untuk mengikuti program pendidikan profesi guru dalam jabatan. Dari hasil deskripsi data persepsi guru terhadap adanya program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari masa kerja menunjukkan

bahwa sebagian besar guru memiliki persepsi yang positif. Selain itu dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ada kesamaan persepsi guru, yaitu persepsi positif terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan. Menurut penulis, adanya kesamaan persepsi guru yang positif terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari masa kerja disebabkan karena pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana murni dianggap mempunyai keunggulan, terutama dalam penguasaan ilmu. Penguasaan sarjana Non-Kependidikan di bidang keilmuan lebih tinggi daripada melalui sarjana pendidikan karena sarjana Non-Kependidikan mempelajari bidang keilmuan lebih lama daripada jalur S1 pendidikan. Dengan demikian, diharapkan sarjana Non- Kependidikan mempunyai pengertian keilmuan lebih baik, benar, dan tidak membuat kesalahan dalam mengajarkan ilmunya.

Dari beberapa penelitian tentang uji mutu guru di lapangan (menurut www.tabaos.htm) diketahui, bahwa salah satu kelemahan guru adalah dalam penguasaan bidang kajian ilmunya. Hal ini salah satunya disebabkan banyak guru yang mengajar tetapi memiliki latar belakang ilmu yang berbeda dengan yang diajarkannya. Misalnya, guru lulusan pendidikan agama mengajar fisika, guru lulusan olahraga mengajar biologi, guru lulusan seni mengajar bahasa jawa, dan masih banyak lagi. Dengan dibukanya kesempatan bagi para lulusan sarjana Non- Kependidikan menjadi guru maka dapat diharapkan guru itu

berkompeten dalam bidang kajian ilmunya. Namun kita juga tidak boleh mengatakan bahwa pengetahuan semua guru lulusan sarjana kependidikan lebih rendah karena memang ada beberapa lulusan yang berbakat dan berpotensi tinggi sehingga dapat menguasai keilmuannya secara baik dan unggul.

98 BAB VI

KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah dibahas pada Bab V maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Ada perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian. Hal ini didasarkan pada perhitungan Chi-Square yang menunjukkan bahwa nilai probabilitasnya signifikan sebesar 0,013 lebih kecil dari α = 0,05.

2. Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari tingkat pendidikan. Hal ini didasarkan pada perhitungan Anova yang menunjukkan bahwa nilai probabilitasnya signifikan sebesar 0,358 lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 1,103 lebih kecil dari Ftabel sebesar 2,449.

3. Tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian. Hal ini didasarkan pada perhitungan Anova yang menunjukkan bahwa nilai probabilitasnya signifikan sebesar

0,784 lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 0,275 lebih kecil dari Ftabel sebesar 1,980.

B. Keterbatasan

1. Peneliti tidak dapat melacak kejujuran responden dalam mengisi kuesioner penelitian

2. Dalam menyerahkan kuesioner kepada responden peneliti tidak menemui responden secara langsung satu per satu. Peneliti hanya menitipkan kepada salah satu guru di sekolah, oleh karena itu peneliti tidak dapat mengetahui apakah responden benar-benar mengetahui mengenai pendidikan rofesi guru yang terbuka bagi sarjana Non- Kependidikan atau tidak.

C. Saran

Hasil pengujian menunjukkan bahwa untuk hipotesis pertama menunjukkan ada perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-Kependidikan ditinjau dari status kepegawaian, dan untuk hipotesis kedua dan ketiga tidak ada perbedaan persepsi guru terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non- Kependidikan ditinjau dari tingkat pendidikan, dan masa kerja. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian guru-guru sekolah menengah atas (SMA) negeri dan swasta di Kabupaten kulon Progo memiliki persepsi yang positif terhadap program pendidikan profesi guru yang terbuka bagi sarjana Non-

Kependidikan. Persepsi ini dapat lebih ditingkatkan lagi. Hal-hal konkrit yang dapat dilakukan, misalnya:

1. Melakukan program pendampingan dengan mengadakan pertemuan rutin, misalnya tiga bulan sekali bagi para sarjana Non-Kependidikan yang menjadi guru. Dalam pertemuan itu, para sarjana Non- Kependidikan dapat saling berbagi kesulitan dan kemajuan. Para sarjana Non-Kependidikan juga dibantu untuk terus mengembangkan keterampilan mengajar dan keterampilan melaksanakan tugasnya sebagai guru. Lokakarya dan pelatihan untuk pengembangan profesi dapat diadakan bagi para sarjana Non-Kependidikan. Pendampingan ini dapat dilakukan dinas pendidikan atau yayasan sekolah.

2. Diadakan evaluasi rutin pada tiap semester praktik mengajar. Evaluasi ini dapat dilakukan oleh kepala sekolah, rekan guru, dan siswa yang dibimbing. Siswa yang dibimbing dapat dimintai masukan sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja guru yang mengikuti program pendidikan profesi guru yang berasal dari sarjana Non- Kependidikan. Demikian juga dengan teman dan kepala sekolah. Dengan cara ini, perkembangan profesi keguruannya diharapkan kian maju dan akhirnya mereka sungguh-sungguh menjadi guru yang profesional.

3. Penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan melakukan penelitian misalnya berkaitan dengan profesionalisme guru sebelum dan sesudah diadakan program pendidikan profesi guru.

4. Bagi peneliti berikutnya diharapkan agar dalam melakulan penelitian dalam hal ini menyebarkan kuesioner, peneliti menemui responden secara langsung satu per satu sehingga nantinya peneliti dapat mengetahui kesulitan yang dialami oleh responden dan dapat menjelaskan kepada responden bila ada hal-hal yang tidak diketahui oleh responden, sehingga nantinya tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam pengisian kuesioner.

103

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1990. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Sebagai Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Brataningrum, Natalina Premastuti. 2008. Modul Pengolahan data Elektronik (PDE 1). Yogyakarta: FKIP Universitas Sanata Dharma

Daviddof, L. 1981. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.

Fadilah, Ayu. 2007. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Profesionalisme Guru. {Online} Available

http://ipoeldpm.blogspot.com/2007/08/makalah-strategi-belajar- mengajar-ctl.html

(Accessed, September 6, 2009)

Ghozali, Imam. (2002). Statistik Non-Parametrik. Semarang: Undip

Hamalik, Oemar. 2002. Pendidikan Guru: Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara.

Kunandar. (2007). Guru Profesional, Implementasi KTSP dan Sukses Dalam

Dokumen terkait