BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Pengujian Instrumen
2. Pengujian Reliabilitas
Pengujian reliabilitas bertujuan untuk mengetahui taraf kepercayaan dari suatu instrumen. Pengukuran terhadap reliabilitas mengunakan rumus Alpha Cronbach. Hasil perhitungan reliabilitas dapat dijelaskan melalui tabel berikut ini:
Tabel IV. 9 Reliabilitas Instrumen
Variabel rtabel α Kesimpulan
Pemahaman nilai demokrasi
dalam Pembelajaran multikultural bagi siswa.
0,113 0,436 Reliabel
Pemahaman nilai humanism
dalam pembelajaran multikultural bagi siswa.
0,113 0,161 Reliabel
Pemahaman nilai pluralisme
dalam pembelajaran multikultural bagi siswa.
0,113 0,368 Reliabel
Pemahaman nilai anti kekerasan
dalam pembelajaran multikultural bagi siswa.
0,113 0,141 Reliabel
Praktik nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural bagi siswa
0,113 0,670 Reliabel
Praktik nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural bagi siswa.
0,113 0,329 Reliabel
Praktik nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural bagi siswa.
0,113 0,398 Reliabel
Praktik nilai anti kekerasan
dalam pembelajaran multikultural bagi siswa
0,113 0,218 Reliabel
B. Analisis Data
1. Pemahaman dan Praktik Pembelajaran Nilai Demokrasi dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
a. Pemahaman Nilai Demokrasi dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Untuk data pemahaman nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, skor tertinggi dan skor terendah yang mungkin dicapai adalah:
Skor tertinggi yang diharapkan 8 x 1 = 8 Skor terendah yang mungkin dicapai 8 x 0 = 0
Penentuan kategori pemahaman nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, dilakukan berdasarkan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995 : 157), dapat ditentukan sebagai berikut :
Pembulatan 81 % x 8 6 66 % x 8 5 56 % x 8 4 46 % x 8 3 Di bawah 46
Tabel IV. 10
Pemahaman Nilai Demokrasi dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Skor Frekuensi Persentase Kriteria
≥6 295 98,3% Sangat Baik
5 5 1,67% Baik
4 - - Cukup Baik
3 - - Buruk
Di bawah 3 - - Sangat Buruk
Jumlah 300 100%
Sumber:Data Primer Hasil Penelitian, 2009
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 295 (98,3%) responden menyatakan bahwa pemahaman nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sangat baik, 5 (1,67%) responden menyatakan baik, tidak ada responden menyatakan cukup baik tidak ada responden menyatakan buruk, serta tidak ada responden menyatakan sangat buruk. Dengan mengacu pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan oleh siswa adalah sangat baik.
b. Praktik Nilai Demokrasi dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Untuk data praktik nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, skor tertinggi dan skor terendah yang mungkin dicapai adalah:
Skor tertinggi yang diharapkan 8 x 5 = 40 Skor terendah yang mungkin dicapai 8 x 1= 8
Penentuan kategori praktik nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, dilakukan berdasarkan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995 : 157), dapat ditentukan sebagai berikut:
Pembulatan 81 % x 40 32 66 % x 40 26 56 % x 40 22 46 % x 40 18 Di bawah 46
Tabel IV. 11
Praktik Nilai Demokrasi dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Interval Frekuensi Persentase Kriteria 32 – 40 252 84% Sangat Baik
26 – 31 41 13,7% Baik
22 – 25 7 2,3% Cukup Baik
18 – 21 - - Buruk
Di bawah 18 - - Sangat Buruk
Jumlah 300 100%
Sumber: Data Primer Hasil Penelitian 2009
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 252 (84%) responden menyatakan bahwa praktik nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sangat baik, 41 (13,7%) responden menyatakan baik, 7 (2,3%) responden menyatakan cukup baik, tidak ada responden yang menyatakan buruk, dan tidak ada responden menyatakan sangat buruk. Dengan mengacu pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa praktik nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan oleh siswa adalah sangat baik.
2. Pemahaman dan Praktik Pembelajaran Nilai Humanistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
a. Pemahaman Nilai Humanistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Untuk data pemahaman nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, skor yang tertinggi dan skor terendah yang mungkin dicapai adalah:
Skor tertinggi yang diharapkan 2 x 1 = 2 Skor terendah yang mungkin dicapai 2 x 0 = 0
Penentuan kategori pemahaman nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, dilakukan berdasarkan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995 : 157), dapat ditentukan sebagai berikut:
81 % x 2 = 1,62 66 % x 2 = 1,32 56 % x 2 = 1,12 45 % x 2 = 0,92 Di bawah 46
Tabel IV. 12
Pemahaman Nilai Humanistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Interval Frekuensi Persentase Kriteria 1,62 – 2 282 94% Sangat Baik
1,32 – 1,61 - - Baik
1,12 – 1,31 - - Cukup Baik 0,92 – 1,11 17 5,67% Buruk
Di bawah 0,92 1 0,33% Sangat Buruk
Jumlah 300 100%
Sumber: Data Primer Hasil Penelitian, 2009
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 282 (94%) responden menyatakan bahwa pemahaman nilai humanistic dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sangat baik, tidak ada responden menyatakan baik, tidak ada responden menyatakan cukup baik, 17 (5,67%) responden yang menyatakan buruk, dan 1 (0,33) responden menyatakan sangat buruk. Dengan mengacu pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa dengan sangat baik.
b. Praktik Nilai Humanistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Untuk data praktik nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, skor tertinggi dan skor terendah yang mungkin dicapai adalah:
Skor tertinggi yang diharapkan 2 x 5 = 10 Skor terendah yang mungkin dicapai 2 x 1 = 2
Penentuan kategori praktik nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, dilakukan berdasarkan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995 : 157), dapat ditentukan sebagai berikut:
Pembulatan 81 % x 10 8 66 % x 10 7 56 % x 10 6 46 % x 10 5 Di bawah 46
Tabel IV. 13
Praktik Nilai Humanistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Interval Frekuensi Persentase Kriteria 8 – 10 141 47% Sangat Baik
7 – 7,9 96 32% Baik
6 – 6,9 49 16,33% Cukup Baik 5 – 5,9 10 3,33% Buruk
Di bawah 5 4 1,33% Sangat Buruk
Jumlah 300 100%
Sumber: Data Primer Hasil Penelitian, 2009
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 141 (47%) responden menyatakan bahwa praktik nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sangat baik, 96 (32%) responden menyatakan baik, 49 (16,33%) responden menyatakan cukup baik, 10 (3,33%) responden menyatakan buruk, dan 4 (1,33%) responden menyatakan sangat buruk. Dengan mengacu pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa praktik nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa dengan sangat baik.
3. Pemahaman dan Praktik Pembelajaran Nilai Pluralistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
a. Pemahaman Nilai Pluralistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Untuk data pemahaman nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, skor tertinggi dan skor terendah yang mungkin dicapai adalah :
Skor tertinggi yang diharapkan 5 x 1 = 5 Skor terendah yang mungkin dicapai 5 x 0 = 0
Penentuan kategori pemahaman nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, dilakukan berdasarkan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995 : 157), dapat ditentukan sebagai berikut:
81 % x 5 = 4,1 66 % x 5 = 3,3 56 % x 5 = 2,8 45 % x 5 = 2,3 Di bawah 46
Tabel IV. 14
Pemahaman Nilai Pluralistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Interval Frekuensi Persentase Kriteria 4,1-5 244 81,33% Sangat Baik 3,3-4 - - Baik
2,8-3,2 43 14,33% Cukup Baik
2,3-2,7 - - Buruk
Di bawah 2,3 13 4,33% Sangat Buruk Jumlah 300 100%
Sumber: Data Primer Hasil Penelitian, 2009
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 244 (81,33%) responden menyatakan bahwa pemahaman nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sangat baik, tidak ada responden menyatakan baik, 43(14,33%) responden menyatakan cukup baik, tidak ada responden menyatakan buruk, dan 13 (4,33%) responden menyatakan sangat buruk. Dengan mengacu pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa dengan sangat baik.
b. Praktik Nilai Pluralistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Untuk data praktik nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, skor tertinggi dan skor terendah yang mungkin dicapai adalah :
Skor tertinggi yang diharapkan 5 x 5 = 25 Skor terendah yang mungkin dicapai 5 x 1 = 5
Penentuan kategori praktik nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, dilakukan berdasarkan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995 : 157), dapat ditentukan sebagai berikut:
81 % x 25 = 20,3 66 % x 25 = 16,5 56 % x 25 = 14 45 % x 25 = 11,3 Di bawah 46
Tabel IV. 15
Praktik Nilai Pluralistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Interval Frekuensi Prosentase Kriteria 20,3-25 101 33,67% Sangat Baik 16,5-20,2 169 56,33% Baik
14-16,4 21 7 % Cukup Baik
11,3-13,9 6 2 % Buruk
Di bawah 11,3 3 1 % Sangat Buruk Jumlah 300 100% Sumber: Data Primer Hasil Penelitian,2009
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 101(33,67%) responden menyatakan bahwa praktik nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sangat baik, 169 (56,33%) responden menyatakan baik, 21 (7%) responden menyatakan cukup baik, 6 (2%) responden menyatakan buruk, dan 3 (1%)responden menyatakan sangat buruk. Dengan mengacu pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa praktik nilai pluralistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa dengan baik.
4. Pemahaman dan Praktik Pembelajaran Nilai Anti Kekerasan dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
a. Pemahaman Nilai Pluralistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Untuk data pemahaman nilai anti kekerasan dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, skor tertinggi dan skor terendah yang mungkin dicapai adalah :
Skor tertinggi yang diharapkan 2 x 1 = 2 Skor terendah yang mungkin dicapai 2 x 0 = 0
Penentuan kategori pemahaman nilai anti kekerasan dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, dilakukan berdasarkan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995 : 157), dapat ditentukan sebagai berikut:
81 % x 2 = 1,62 66 % x 2 = 1,32 56 % x 2 = 1,12 45 % x 2 = 0,92 Di bawah 46
Tabel IV. 16
Pemahaman Nilai Anti Kekerasan dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Interval Frekuensi Persentase Kriteria 1,62 – 2 257 85,67% Sangat Baik
1,32 – 1,61 - - Baik
1,12 – 1,31 - - Cukup Baik 0,92 – 1,11 41 13,67% Buruk
Di bawah 0,92 2 0,67% Sangat Buruk
Jumlah 300 100%
Sumber: Data Primer Hasil Penelitian, 2009
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 257 (85,67%) responden menyatakan bahwa pemahaman nilai anti kekerasan dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sangat baik, tidak ada responden menyatakan baik, tidak ada responden menyatakan cukup baik, 41 (13,67%) menyatakan buruk, dan 2 (0,67%) responden menyatakan sangat buruk. Dengan mengacu pada tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman nilai anti kekerasan dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa dengan sangat baik.
b. Praktik Nilai Anti Kekerasan dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Untuk data praktik nilai anti kekerasan dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, skor tertinggi dan skor terendah yang mungkin dicapai adalah :
Skor tertinggi yang diharapkan 2 x 5 = 10 Skor terendah yang mungkin dicapai 2 x 1 = 2
Penentuan kategori praktik nilai anti kekerasan dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa, dilakukan berdasarkan pedoman Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995 : 157), dapat ditentukan sebagai berikut:
Pembulatan 81 % x 10 8 66 % x 10 7 56 % x 10 6 46 % x 10 5 Di bawah 46
Tabel IV. 17
Praktik Nilai Anti Kekerasan dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan Siswa
Interval Frekuensi Persentase Kriteria 8 – 10 228 76 % Sangat Baik
7 – 7,9 34 11,33 % Baik
6 – 6,9 36 12 % Cukup Baik 5 – 5,9 1 0,33 % Buruk
Di bawah 5 1 0,33 % Sangat Buruk
Jumlah 300 100%
Sumber: Data Primer Hasil Penelitian, 2009
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 228(76%) responden menyatakan bahwa praktik nilai anti kekerasan dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sangat baik, 34 (11,33%) responden menyatakan baik, 36 (12%) responden menyatakan cukup baik, 1(0,33) responden menyatakan buruk, dan 1(0,33%) responden menyatakan sangat buruk.
C. Pembahasan
1. Pemahaman dan Praktik Pembelajaran Nilai Demokrasi dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan oleh Siswa
Hasil penelitian pemahaman nilai demokrasi menunjukkan bahwa pemahaman nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan oleh siswa sudah baik. Hal ini ditunjukkan dalam hasil penelitian bahwa ada sekitar 295 (98,3%) siswa memiliki tingkat pemahaman nilai demokrasi yang sangat baik, serta 5 (1,67%) siswa memiliki tingkat pemahaman terhadap nilai demokrasi yang baik. Pemahaman nilai demokrasi dipahami oleh siswa antara lain dengan pemahaman membangun hak asasi manusia, pemahaman membanngun sikap anti diskriminasi, pemahaman memberi kebebasan berpendapat dan berkreativitas dan pemahaman menghargai perbedaan kemampuan.
Dalam pemahaman membangun hak asasi manusia, siswa dapat memahami bahwa setiap siswa mempunyai hak memperoleh pendidikan untuk masa depannya, siswa juga paham bahwa setiap anak mempunyai hak asasi pribadi yaitu hak untuk memeluk agama dan beribadah menurut agama masing-masing, dan siswa memahami bahwa semua siswa mempunyai hak untuk mendapat pengayoman dan perlakuan yang sama di sekolah.
Dalam pemahaman membangun sikap anti diskriminasi diwujudkan siswa antara lain dengan memperoleh pelayanan pendidikan yang sama tanpa dibedakan berdasarkan kontribusi orang tua siswa terhadap sekolah sehingga
siswa dapat memahami bahwa setiap siswa mempunyai tingkat martabat dan kedudukan yang sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Pemahaman memberi kebebasan berpendapat dan berkreativitas, siswa dapat memahaminya dengan siswa berhak untuk berpendapat dalam segala aspek di sekolah, sehingga tidak ada larangan bagi siswa untuk memberikan kritik dan saran demi kemajuan sekolah.
Pemahaman siswa dalam menghargai perbedaan kemampuan, yaitu dengan memahami bahwa setiap siswa mempunyai daya kreativitas sesuai dengan bakat yang dimilikinya dan siswa juga mengakui adanya potensi yang sama dalam berekspresi pada masing-masing siswa.
Sedangkan, hasil penelitian praktik nilai demokrasi menunjukkan bahwa 252 (84%) praktik nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural oleh siswa sudah sangat baik. Sedangkan siswa yang memiliki tingkat praktik nilai demokrasi yang baik ada 41 (13,7%), dan ada 7 (2,3%) siswa yang praktik nilai demokrasi tergolong cukup baik. Praktik nilai demokrasi oleh siswa antara lain dengan praktik membagun hak asasi manusia, praktik membangun sikap anti diskriminasi, praktik memberi kebebasan bependapatan dan berkreativitas, dan praktik menghargai perbedaan kemampuan.
Dalam praktik membangun hak asasi manusia, siswa dapat melaksanakannya dengan diberi ijin pada siswa untuk meninggalkan kelas di luar ketentuan peraturan di sekolah. Sebagai contoh, seorang siswa yang
sedang sakit atau sedang ada kepentingan keluarga yang sangat mendesak, maka siswa diberi hak ijin untuk beristirahat dan pulang ke rumah meskipun belum waktunya untuk meninggalkan kelas. Praktik lain adalah saat pemilihan pengurus kelas, seorang siswa diberi hak memilih bagi semua siswa untuk memillih pengurus kelas, selain hak untuk memilih, hak untuk dipilih juga harus diberikan guru bagi semua siswa. Contohnya saat pemillihan ketua kelas, diberikan hak pillih bagi semua siswa termasuk juga siswa perempuan sehingga hak pillih sebagai ketua kelas untuk siswa laki-laki dan siswa perempuan sama.
Praktik membangun sikap anti diskriminasi meminta guru dapat memposisikan diri secara netral, yang berarti bahwa tidak mengistimewakan siswa yang dianggap mempunyai nilai lebih dari siswa lain misalnya siswa yang seagama dengan kepercayaan guru, siswa yang secara fisik menarik atau siswa yang mampu memberikan kontribusi yang lebih kepada sekolah.
Dalam membangun praktik memberi kebebasan berpendapat dan berkreativitas siswa, antara lain: bekerjasama dan siswa dilibatkan dalam membuat rancangan pembelajaran, siswa dilibatkan dalam kegiatan evaluasi dikelas, sampai menerapkan metode pembelajaran yang merupakan persetujuan dari semua siswa.
Praktik menghargai perbedaan kemampuan, dilaksankan siswa antara lain dengan guru tidak menghardik siswa yang mempunyai daya tangkap lambat ketika menerima pelajaran sehingga guru perlu memberi
kesempatan pada siswa untuk bertanya dan mengulangi materi pelajaran apabila belum jelas.
Secara umum pemahaman dan praktik pembelajaran nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural oleh siswa sangat baik. Praktik pembelajaran nilai demokrasi di sekolah hanya dapat diwujudkan melalui pemahaman yang baik mengenai nilai demokrasi dalam pembelajaran multikultural oleh siswa. Siswa harus dapat membangun pengakuan atas hak asasi manusia yang merupakan dasar dari terwujudnya demokrasi pendidikan. Siswa juga harus mampu untuk membangun sikap demokratis, artinya dalam segala tingkah lakunya, baik sikap maupun perbutannnya, tidak diperlakukan diskriminatif yaitu diperlakukan adil dan bijaksana, memberi kebebasan berpendapat dan berkreativitas dengan tetap menghargai perbedaan kemampuan masing-masing siswa.
Dari hasil pengamatan selama melakukan penelitian di sekolah-sekolah, nilai demokrasi sudah dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Dimana ketika guru menerangkan materi pelajaran tertentu, maka siswa diberi kebebasan untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Bila ada siswa yang bertanya maka guru akan menjawab pertanyaan siswa tersebut dan bila guru memberikan pertanyaan pada siswa maka siswa tersebut akan menjawab sehingga ada interaksi yang baik antara guru dan siswa. Dengan demikian nilai demokrasi telah diterapkan dengan baik di sekolah-sekolah.
2. Pemahaman dan Praktik Pembelajaran Nilai Humanistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan oleh Siswa
Hasil penelitian pemahaman nilai humanistik menunjukkan bahwa 282 (94%) pemahaman nilai humanisme dalam pembelajaran multikultural oleh siswa sudah sangat baik. Tetapi masih ada siswa yang belum memahami nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural. Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian ada 17 (5,67%) siswa menyatakan pemahaman nilai humanistik dengan buruk, serta 1 (0,33%) siswa menyatakan pemahaman nilai humanistik yang sangat buruk. Pemahaman nilai humanisme dipahami oleh siswa antara lain dengan pemahaman membangun toleransi dan pemahaman membangun kasih sayang.
Pemahaman membangun toleransi dapat dipahami oleh siswa dengan melihat bahwa perbedaan atau keragaman sebagai kekayaan bukan hal yang perlu ditakutkan, mengingat prinsip Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua yang juga menggambarkan keragaman dari masyarakat Indonesia. Dengan demikian seorang siswa dapat memahami bahwa segala sesuatu macam fanatisme antara lain sukuisme dan chauvinisme bertentangan dengan paham nasionalisme bangsa. Fanatisme tidak memberikan tempat atau ruang untuk berdialog, fanatisme terhadap kebudayaan dan agama atau golongan bertentangan dengan paham nilai humanistik.
Dalam pemahaman membangun kasih sayang diwujudkan oleh siswa dengan mengembangkan dan menanamkan kasih sayang pada semua siswa agar dapat mempribadikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan, hasil penelitian praktik nilai humanistik menunjukkan bahwa 141 (47%) praktik nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan siswa sudah sangat baik, terdapat 96 (32%) siswa tergolong baik, 49 (16,33%) siswa tergolong cukup baik. Tetapi masih ada siswa yang mempunyai tingkat pemahaman nilai humanistik yang kurang baik. Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian, terdapat 10 (3,33%) siswa tergolong memiliki pemahaman yang buruk dan 4 (1,33%) siswa mempunyai tingkat pemahaman ynag sangat buruk. Praktik nilai humanistik antara lain dengan praktik membangun toleransi dan praktik membangun kasih sayang.
Dalam praktik membangun toleransi, diwujudkan siswa dengan selalu membangun tali silaturahmi dengan siswa maupun dengan guru dan menanamkan paham nasionalis sehingga paham kecintaan yang berlebihan pada suku atau paham sukuisme dapat diminimalkan.
Untuk praktik membangun kasih sayang, dalam proses pembelajaran guru mendisiplinkan siswa dengan menciptakan suasana belajar mengajar yang penuh rasa kekeluargaan sehingga kasih sayang antara siswa dan guru dapat terjalin dengan baik. Guru juga senantiasa mengajarkan pada siswa untuk menyelesaikan konflik dengan jalan perdamaian, tidak menyimpan rasa dendam dan saling memaafkan.
Secara umum pemahaman dan praktik pembelajaran nilai humanistik dalam pembelajaran multikultural sudah dilaksanakan oleh siswa dengan baik. Suatu masyarakat akademis tidak akan bertahan apabila hanya dikuasai oleh kemampuan intelektual tanpa dibarengi kemampuan untuk memahami nilai humanisme.
Antara pemahaman dan praktik nilai humanistik, terdapat perbedaan hasil yang cukup signifikan. Hal ini diketahui dari hasil pemahaman nilai humanistik 94 % siswa sedangkan hasil praktik nilai humanistik 47 % siswa yang tergolong dalam pemahaman dan praktik yang sangat baik. Perbedaan ini disebabkan oleh 2 faktor yaitu faktor eksternal dan internal. Dilihat dari faktor internal (dalam diri siswa) perbedaan tersebut lebih dikarenakan pribadi siswa masing-masing. Misalnya: sikap egois yang ada pada diri siswa.
Seorang siswa yang mempunyai sikap egois yang tinggi maka siswa tersebut bisa memiliki pemahaman tinggi namun sulit untuk mempraktikkannya. Sebagai contoh: siswa memahami dengan baik bahwa mengganggu teman saat pelajaran berlangsung merupakan perbuatan yang tidak baik, namun karena siswa tersebut memiliki sikap egois yang tinggi untuk kesenangannya sendiri, maka perbuatan tersebut tetap saja dilakukan. Bila dilihat dari faktor ekternal (dari luar diri siswa) perbedaan tersebut lebih dikarenakan oleh pengaruh lingkungan siswa. Misalnya: siswa yang berada di lingkungan yang baik dan sopan, maka siswa cenderung akan mempunyai sikap yang baik juga. Sebagai contoh: sikap memaafkan. Siswa yang berasal
dari keluarga yang baik maka akan mempunyai pemahaman yang baik juga tetapi untuk siswa yang berasal dari lingkungan yang kurang baik tetapi tidak terbiasa untuk memaafkan orang lain mungkin siswa tersebut memiliki pemahaman yang baik tetapi sulit untuk mempraktikkannya.
Dari hasil pengamatan selama melakukan penelitian di sekolah-sekolah, nilai humanistik sudah dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Hal ini dapat dilihat pada saat istirahat, guru sedang asyik berdialog dengan siswanya sehingga hubungan antara guru dan siswa terlihat sangat dekat. Selain itu, rasa toleransi dan kasih sayang antara siswa satu dengan siswa yang lain dan anara guru dengan siswa juga terlihat ketika ada salah satu siswa yang berulang tahun maka baik siswa yang lain maupun guru juga memberikan selamat pada siswa yang berulang tahun tersebut. Dengan demikian, nilai humanistik telah diterapkan dengan baik di sekolah.
3. Pemahaman dan Praktik Pembelajaran Nilai Pluralistik dalam Pembelajaran Multikultural yang Dilaksanakan oleh Siswa
Hasil penelitian pemahaman nilai pluralisme menunjukkan bahwa 244 (81,33%) pemahaman nilai pluralisme dalam pembelajaran multikultural yang dilaksanakan oleh siswa sudah sangat baik. Tetapi masih ada siswa yang belum memahami nilai pluralisme dalam pembelajaran multikultural, hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian ada 13 (4,33%) siswa menyatakan pemahaman nilai pluralisme dengan sangat buruk. Pemahaman nilai pluralisme dipahami oleh siswa antara lain dengan pemahaman menghargai
keragaman agama, pemahaman membangun sikap sensitif gender, pemahaman membangun pemahaman kritis terhadap ketidakadilan dan perbedaan status, dan pemahaman menghargai perbedaan umur.
Pemahaman menghargai keragaman agama, dipahami oleh siswa dengan menyadari bahwa hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa merupakan hak pribadi yang paling hakiki dengan demikian setiap siswa tidak perlu terikat pada keluarga dan sekolah dalam menentukan agama yang akan dianut.
Untuk pemahaman membangun sikap sensitif gender, siswa membangun kesadaran dengan mengenal pentingnya menjunjung tinggi kesetaraan gender, perbedaan jenis kelamin dalam kelas tidak mengakibatkan peran antara siswa laki-laki dan perempuan.
Sedangkan untuk membangun pemahaman kritis terhadap ketidakadilan dan perbedaan satus, siswa memahaminya diantaranya pada saat pemilihan ketua kelas, dalam memilih ketua kelas harus dengan bijaksana tanpa melihat perbedaan status sosial siswa. Contoh lain adalah pemberian sanksi tegas kepada setiap siswa yang melakukan kebohongan atau mencontek dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dilakukan demi membangun sikap siswa untuk percaya diri dan bertanggung jawab.
Dalam pemahaman menghargai perbedaan umur, diwujudkan