• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Pengaruh Struktur Pasar terhadap Kinerja Industri Minyak Goreng Sawit di Indonesia.

5.1.2. Hasil Pengujian Statistik dan Ekonom

Analisis pengaruh struktur pasar terhadap kinerja industri minyak goreng sawit di Indonesia berdasarkan pengujian statistik dan ekonomi dapat dijelaskan pada Tabel 5.7.

Tabel 5.7. Hasil Estimasi Model Persamaan PCM pada Industri Minyak Goreng Sawit di Indonesia

Variabel Koefisien Probabilitas

C 2.913528 0.8715 LOU* 3.156461 0.0945 CR4(-1)* 1.305935 0.0230 MES(-1) -2.208663 0.3272 XEFF* 0.102032 0.0629 DK* -33.56003 0.0330 R-squared 0.890588 Adj R-squared 0.812436 S.E. of regression 8.860221 F-statistic 11.39565 Prob(F-statistic) 0.002943 Sumber : Lampiran 3.

Keterangan: * nyata pada taraf nyata 10% (α=10%)

Berdasarkan hasil estimasi model persamaan PCM pada industri minyak goreng sawit di Indonesia seperti pada tabel 5.7. maka dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:

PCM = 2.913528 + 3.156461 LOU + 1.305935 CR4(-1) - 2.208663 MES (-1) + 0.102032 XEFF – 33.56003 DK

Dari hasil regresi, didapatkan koefisien determinasi (R-squared) sebesar 89.05 persen yang berarti bahwa model mampu dijelaskan oleh variabel-variabel eksogen sebesar 89.05 persen sedangkan sisanya sebesar 10.95 persen dijelaskan oleh variabel diluar model. Secara uji parsial menunjukkan bahwa variabel

eksogen kecuali variabel MES, berpengaruh signifikan terhadap PCM pada taraf nyata 10 persen.

Dari hasil uji-F didapatkan bahwa variabel-variabel eksogen mampu menerangkan variabel endogen yang ditunjukkan oleh nilai P-value = 0.002943 yang lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar sepuluh persen (α = 10%). Nilai ini menandakan bahwa persamaan diatas telah mendukung keabsahan model atau dengan kata lain bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh keseluruhan variabel penjelas terhadap variabel dependennya adalah baik dan berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata 10 persen.

Dari uji-t menunjukkan ada empat variabel eksogen yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependentnya, karena nilai probabilitas masing- masing variabel bebasnya lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yakni 10 persen, variabel-variabel tersebut adalah GROWTH, CR4, XEFF dan Dummy krisis ekonomi. Sedangkan variabel lainnya yakni MES tidak signifikan mempengaruhi variabel tak bebasnya (PCM) pada taraf nyata sepuluh persen (α = 10%).

Uji ekonomi adalah uji kesesuaian tanda pada setiap koefisien variabel- variabel eksogen, apakah tandanya sudah sesuai dengan asumsi dasar. Variabel GROWTH berpengaruh positif yang signifikan pada taraf nyata 10 persen (α = 10%) terhadap tingkat keuntungan industri minyak goreng sawit dengan koefisien sebesar 3.156461, yang artinya adalah peningkatan GROWTH sebesar satu persen akan meningkatkan keuntungan industri minyak goreng sawit sebesar 3.156461 persen, dan sebaliknya jika GROWTH turun sebesar satu persen maka tingkat

49

keuntungan industri minyak goreng sawit akan menurun sebesar 3.156461 persen, asumsi ceteris paribus. Tingkat GROWTH yang meningkat bisa diartikan kondisi perekonomian yang membaik. Jadi semakin baik kondisi perekonomian akan semakin tinggi keuntungan industri minyak goreng sawit.

Dengan melihat perkembangan produksi minyak goreng sawit ternyata dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Terbukti pada tahun 1998 produksi minyak goreng sawit sebesar 2.07 juta ton meningkat secara signifikan pada tahun 2005 sebesar 5.39 juta ton. Menurut AIMMI 2005, bahwa persentase produksi terbesar untuk minyak goreng sawit masih dipulau Jawa, yakni mencapai 51.4 persen. Berikutnya di Sumatera yang mencapai 47.5 persen, sementara di Kalimantan Barat hanya 1.1 persen hal ini diakibatkan karena pabrik pengolahan CPO masih sangat terbatas. Produksi minyak goreng sawit yang meningkat adalah dampak dari permintaan minyak goreng sawit. Produsen meningkatkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan mampu mengekspor sebagian minyak goreng sawitnya. Hal ini sesuai dengan teori yang ada pada tinjauan pustaka bahwa Pertumbuhan nilai produksi atau GROWTH diduga dapat mempengaruhi kinerja industri variabel ini dapat mempengaruhi kinerja industri karena variabel ini dapat menunjukkan permintaan pasar (market demand). Jika permintaan pasar terhadap suatu barang meningkat, maka perusahaan akan meningkatkan produksinya untuk memenuhi permintaan yang ada. Adanya peningkatan dalam jumlah produksi akan berdampak terhadap meningkatnya keuntungan yang dialami perusahaan.

Variabel CR4 berpengaruh positif yang signifikan pada taraf nyata 10 persen (α = 10%) terhadap tingkat keuntungan industri minyak goreng sawit dengan koefisien sebesar 1.305935 yang artinya adalah peningkatan CR4 sebesar satu persen akan meningkatkan keuntungan industri minyak goreng sawit sebesar 1.305935 persen, dan sebaliknya jika CR4 turun sebesar satu persen maka tingkat keuntungan industri minyak goreng sawit akan menurun sebesar 1.305935 persen, asumsi ceteris paribus. Hasil ini sesuai dengan hipotesis sebelumnya yang menyatakan bahwa tingkat konsentrasi (CR) memiliki hubungan positif dalam memperoleh keuntungan. Semakin tinggi tingkat konsentrasi yang ada didalam pasar, maka semakin besar pula keuntungan yang dapat diperoleh. Hal ini sesuai dengan teori yang digunakan dan sesuai dengan hipotesis awal bahwa rasio konsentrasi dan keuntungan berhubungan positif dan hal ini merupakan halangan masuk bagi perusahaan-perusahaan yang baru karena perusahaan-perusahaan yang ada terus berusaha menigkatkan konsentrasinya.

Variabel MES berpengaruh negatif terhadap tingkat keuntungan industri minyak goreng sawit dengan koefisien sebesar -2.208663 tetapi secara statistik tidak signifikan pada taraf nyata 10 persen (α = 10%) yang artinya adalah peningkatan MES sebesar satu persen akan meningkatkan keuntungan industri minyak goreng sawit sebesar -2.208663 persen, dan sebaliknya jika MES turun sebesar satu persen maka tingkat keuntungan industri minyak goreng sawit akan menaikkan sebesar 2.208663 persen, asumsi ceteris paribus. Koefisien MES yang dihasilkan dari analisis memiliki nilai negatif artinya bahwa hambatan masuk yang diproksi dengan MES tidak mempengaruhi tingkat keuntungan total industri.

51

Pesaing potensial adalah perusahaan-perusahaan di luar pasar yang mempunyai kemungkinan untuk masuk dan menjadi pesain sebenarnya. Segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya penurunan kesempatan masuknya pesaing baru merupakan hambatan untuk masuk. Keberadaan perusahaan terbesar yang ada sebelumnya merupakan salah satu hal yang dapat menjadi hambatan bagi pesaing potensial untuk masuk ke dalam industri minyak goreng. Berdasarkan teori yang ada diketahui bahwa untuk dapat mempertahankan eksistensi dalam industri minyak goreng di Indonesia maka para pesaing potensial harus memiliki skala minimum efisiensi (MES) yang setara dengan yang dimiliki oleh perusahaan terbesar.

Besarnya MES didapatkan dari perbandingan nilai output perusahaan terbesar dengan nilai output total. Berdasarkan teori yang ada maka dapat diketahui bahwa jika pelaku baru ingin bersaing dalam industri minyak goreng Indonesia maka setidak-tidaknya output perusahaan yang ingin dihasilkan adalah rata-rata sebesar 26. 45 persen dari total output minyak goreng sawit di Indonesia. Semakin besar nilai MES suatu industri maka semakin tinggi pula hambatan masuk pada suatu industri. Namun pada industri minyak goreng sawit hal ini ternyata tidak berlaku karena mulai tahun 1970-an sejak bergesernya pola konsumsi minyak goreng kelapa ke minyak goreng sawit bersamaan dengan meningkatnya konsumsi minyak goreng sawit seiring dengan pertumbuhan penduduk tercatat beberapa perusahaan baru yang memasuki industri minyak goreng sawit. Hubungan negatif antara PCM dengan MES menggambarkan bahwa hambatan masuk ternyata tidak berasal dari nilai MES saja namun juga

berasal dari hambatan yang bersifat legal termasuk didalamnya berupa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Salah satunya adalah kebijakan investasi bahwa pada industri minyak goreng berbahan baku kelapa sawit, minyak goreng kelapa dan minyak goreng lainnya terbuka untuk investasi karena tidak pernah tercantum dalam Daftar Negatif Investasi (DNI), baik itu dalam Keppres No. 23 tahun 1991, Keppres no. 23 tahun 1992, Keppres no. 54 tahun 1993 maupun Keppres no. 31 tahun 1995 tentang DNI. Kemudian pemerintah juga tidak mengeluarkan peraturan yang membatasi investasi pada industri minyak goreng sawit. Hal ini diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masuknya perusahaan- perusahaan baru ke dalam industri minyak goreng sawit. Apalagi industri minyak goreng sawit dinilai memiliki prospek yang cukup cerah, ditambah lagi sebagai produsen CPO kedua dibawah Malaysia.

Variabel XEFF berpengaruh positif yang signifikan pada taraf nyata 10 persen (α = 10%) terhadap tingkat keuntungan industri minyak goreng sawit dengan koefisien sebesar 0.102032, yang artinya adalah peningkatan XEFF sebesar satu persen akan meningkatkan keuntungan industri minyak goreng sawit sebesar 0.102032 persen, dan sebaliknya jika XEFF turun sebesar satu persen maka tingkat keuntungan industri minyak goreng sawit akan menurun sebesar 0.102032 persen, asumsi ceteris paribus. Dalam industri minyak goreng sawit komponen biaya yang terbesar adalah untuk utility ( uap, listrik, air dsb) kemudian bahan kimia, tenaga kerja, perbaikan dan perawatan, depresiasi, dan biaya lain- lain. Kemampuan perusahaan minyak goreng sawit dalam menekan biaya

53

produksi terbukti mampu memperbesar nilai tambah yang dihasilkan sekaligus peningkatan keuntungan.

Dalam industri minyak goreng sawit pengolahan minyak goreng banyak dilakukan oleh pabrik yang berskala besar di Jakarta dan pabrik dari anggota AIMMI (Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia). Pada pabrik yang berskala besar mereka langsung mengolah CPO menjadi produk turunan minyak sawit misalnya minyak goreng, margarine dsb. Perbandingan struktur biaya pengolahan dalam industri minyak goreng sawit bila dibandingkan antara pabrik minyak goreng berskala besar di Jakarta dan rata-rata pabrik anggota AIMMI ternyata biaya pengolahan CPO menjadi minyak goreng dari pabrik yang berskala besar ternyata lebih murah. Begitupun dengan komponen biaya bahan kimia dari pabrik-pabrik anggota AIMMI ternyata lebih besar daripada pabrik skala besar, hal ini diperkirakan kondisi pabrik skala besar lebih baru dan modern sehingga penggunaan bahan kimia dalam proses produksi akan lebih efisien. Namun dilain pihak biaya depresiasi dari pabrik skala besar lebih mahal karena pabrik tersebut membutuhkan investasi awal yang lebih besar sehingga relative depresiasi-nya juga lebih besar. Untuk biaya lain-lain pabrik anggota AIMMI nampak jauh lebih besar karena termasuk komponen biaya bunga bank, administrasi bank dan provisi bank sedangkan pada pabrik berskala besar biaya tersebut sudah dimasukkan dalam masing-masing komponen biaya.

Krisis ekonomi berdampak negatif yang signifikan terhadap keuntungan industri minyak goreng sawit pada taraf nyata 10 persen (α = 10%) dengan koefisien sebesar -33.56003 yang artinya adalah krisis ekonomi yang terjadi di

Indonesia menurunkan tingkat keuntungan industri minyak goreng sawit sebesar 33.56003 asumsi ceteris paribus. Perkembangan harga minyak goreng tergantung pada ketersediaan minyak goreng dipasar, dengan kata lain, ketersediaan minyak goreng ini akan ditentukan oleh besarnya penawaran dan konsumsi oleh masyarakat, dan harga pasar internasional. Selain itu juga harga minyak goreng sawit ini akan ditentukan oleh harga-harga input yang digunakan dalam proses produksi minyak goreng, dan kebijakan pemerintah.

Krisis ekonomi berdampak terhadap ketidakstabilan makroekonomi seperti meningkatnya laju inflasi yang mengakibatkan biaya produksi (faktor-faktor produksi) sehingga perusahaan akan mengurangi jumlah produksi akibatnya skala ekonomi tidak tercapai yang pada akhirnya akan menurunkan keuntungan atau dengan kata lain perusahaan tersebut akan sangat merugi. Krisis ekonomi yang mengakibatkan harga-harga produksi meningkat merupakan suatu pukulan yang hebat bagi industri minyak goreng sawit karena akan menurunkan daya beli masyarakat yang secara langsung mempengaruhi konsumsi menurun. Inflasi akan mendorong tingkat harga dalam negeri relatif lebih mahal daripada harga diluar negeri hal ini akan mengakibatkan meningkatnya impor minyak goreng dari luar negeri karena harganya lebih murah sehingga daya saing perusahaan minyak goreng dalam negeri menurun akibatnya keuntungan total industri akan menurun.

Dokumen terkait