• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Pengukuran Asupan Makanan

2.3.1 24-hour food recall

Prinsip metode recall 24 jam dilakukan dengan mencatata jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Dalam metode ini, respoden, ibu atau pengasuh (bila anak masih kecil) disuruh menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24 jam yang lalu (kemarin). Biasanya dimulai sejak ia bangun pagi kemarin sampai dia istirahat tidur malam harinya, atau dapat juga dimulai

dari waktu saat dilakukan wawancara mundur kebelakang sampai 24 jam penuh (Supariasa, 2001).

Pada metode ini subjek atau responden diwawancarai oleh petugas yang sebelumnya sudah dilatih untuk melakukan wawancara food recall. Hasil wawancara ini dapat menggambarkan konsumsi makanan yang sebenarnya oleh subjek tersebut (Gibson, 2005).

Meskipun demikian, sekali wawancara saja tidak cukup untuk menggambarkan konsumsi makanan subjek. Oleh karena itu, pada metode food recall diperlukan beberapa kali wawancara pada hari yang berbeda untuk dapat mengetahui objektivitas konsumsi makanan subjek (Gibson, 2005). Hari yang dipilih untuk melakukan food recall juga seharusnya tidak berurutan, jika hal tersebut memingkinkan. Pada memperkirakan konsumsi individu dalam jangka panjang, misalnya tahunan, food recall juga sebaiknya dilakukan beberapa kali pada musim yang berbeda (Bearon et al. 1979; Basiotis et al., 2002 dalam Gibson, 2005). Jika tidak memungkinkan untuk mengulang food recall, setidaknya harus dilakukan pengulangan pada 5-15% subsampel untuk memberikan gambaran konsumsi populasi yang valid (Gibson, 2005). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (Sanjur, 1997 dalam Supariasa, 2001).

Food recall dilakukan dengan cara meminta subjek untuk menyebutkan makanan dan minuman apa saja yang telah dikonsumsi selama 24 jam sebelum dilakukan wawancara. Dalam hal ini, subjek diminta untuk menggambarkan informasi secara detail mengenai kuantitas, cara memasak, bahkan memperkirakan makanan dan minuman yang dikonsumsi, jika memungkinkan (Gibson and Ferguson, 1999 dalam Gibson, 2005).

Hal penting yang perlu diketahui bahwa dengan recall 24 jam data yang diperoleh cenderung bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan indivdu ditanyakan secara teliti dengan menngunakan alat Ukuran Rumah Tangga (URT) seperti sendok, gelas, piring, dan lain- lain atau ukuran lainnya yang biasa dipergunakan sehari- hari (Supariasa, 2001). Akan tetapi, akan lebih baik lagi jika petugas menggunakan food models untuk mengkur kuantitas konsumsi subjek (Gibson and Ferguson, 1999 dalam Gibson, 2005).

Terdapat keuntungan dan kerugian dalam penggunaan metode ini. keuntungan recall 24 hour diantaranya adalah beban responden ringan, biaya murah, mudah, cepat dalam pelaksaaan dan cocok digunakan untuk responden yang buta huruf, dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi ndividu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari (Supariasa, 2001).

Kerugiannya, metode ini sangat bergantung pada ingatan responden, sehingga hasil selanjutnya akan kurang baik jika digunakan untuk responden dari kalangan orang lanjut usia dan anak-anak. Selain itu, adanya kesalahan responden dalam memperkirakan porsi makanan juga sering terjadi, tetapi hal ini dapat diminimalisasikan dengan menggunakan food model untuk membantu responden (Gibson, 1993). Disamping itu kekurangan lain dari metode recall 24 jam adalah tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari jika hanya dilakukan recall satu hari, adanya the flat slope syndrome yaitu kecenderungan bagi responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan responden yang gemuk cenderung lapornkan konsumsinya lebih sedikit (under estimate) (Supariasa, 2001).

2.3.2 Food Fre quency Questionnaire (FFQ)

Metode FFQ pada awalnya digunakan untuk memperoleh informasi deskriptif secara kualitatif mengenai pola konsumsi makanan. Dengan adaya pengembangan bentuk kuesioner untuk memperkirakan porsi makanan, metode ini telah menjadi semi-kualitatif (Gibson, 2005). Metode ini dilakukan dengan menilai frekuensi makanan atau kelompok makanan tertentu yang dikonsumsi selama periode waktu yang spesifik, misalnya harian, mingguan, bulanan atau tahunan (Gibson, 1993).

Penilaian dengan metode FFQ dilakukan dengan me nggunakan kuesioner. Kuesioner terdiri atas 2 komponen yaitu daftar makanan dan satu set jawaban kategori frekuensi konsumsi makanan. Daftar makanan berisi daftar makanan tertentu atau daftar kelompok makanan, atau makanan yang dikonsumsi khusus pada waktu-waktu tertentu (Anderson, 1986 dalam Gibson, 1993).

Keuntungan metode ini adalah tingkat respon yang tinggi dan beban responden rendah, cepat, relatif tidak mahal dan dapat menilai kebiasaan konsumsi makanan. Selain itu, metode ini juga dapat dilakukan oleh hasil yang terstandarisasi (howarth, 1990 dalam Gibson, 1993). Dengan metode ini responden juga dapat melakukannya sendiri tanpa bantuan dari petugas, petugas yang bertugas tidak membutuhkan latihan khusus. Metode ini juga dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan makan (Supariasa, 2001).

Disamping kelebihan-kelebihan diatas, terdapat juga beberapa kekurangan yaitu metode ini tidak dapat untuk menghitung intake zat gizi sehari, sulit untuk emengembangkan kuesioner pengumpula n data. Selain itu metode ini juga cukup menjemukan bagi pewawancara. Responden juga harus jujur dan mempunyai motivasi yang tinggi, serta perlu membuat percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner (Supariasa, 2001).

2.3.3 Estimated Food Record

Pada metode ini, responden diminta untuk mencatat semua jenis makanan dan minuman, termasuk snack yang dikonsumsi dengan mengunakan ukuran rumah tangga, selama periode yang telah ditentukan. Informasi detil mengenai makanan dan minuman yang dikonsumi (termasuk nama merek), serta metode persiapan dan pengolahan makanan juga harus dicatata. Jika memungkinkan, pencatatan mengenai bahan mentah yang digunakan untuk pembuatan makanan, serta hasil akhirnya (ketika sudah matang) juga dilakukan (Dufour et al, 1999 dalam Gibson, 2005).

Perkiraan ukuran atau porsi makanan dapat dilakukan oleh responden dengan menggunakan ukuran rumah tangga (misalnya, satu cangkir, satu sendok makan, satu mangkok dan sebagainya). Jumlah hari dalam pelaksaan food record bervariasi, tergantung dari tujuan studi yang dilakukan.

Langkah- langkah pelaksanaan food record yaitu: (1) Responden mencatat makanan yang dikonsumsi dalam URT atau gram (nama masakan, cara persiapan dan pemasakan dalam makanan), (2) Petugas memperkirakan/estimasi URT ke dalam ukuran berat (gram) untuk bahan makanan yang dikonsumsi tadi, (3) Menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi dengan DKBM, (4) Membandingkannya dengan AKG (Supariasa, 2001).

2.3.4 Dietary History (Riwayat Konsumsi Makanan)

Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola konsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama, bisa 1 minggu, 1 bulan atau 1 tahun (Supariasa, 2001). Tujuan metode dietary history atau riwayat konsumsi makanan adalah untuk mendapatkan informasi retrospektif atas makanan yang biasa dikonsumsi oleh seseorang dalam periode waktu yang bervariasi. Periode waktu yang dimaksud dapat mencakup bulan sebelumnya, 6 bulan sebelumnya atau terkadang bahkan tahun sebelumnya (Challmer et al, 1985 dalam Gibson, 1993). Riwayat konsumsi makanan biasanya dilaksanakan dalam durasi waktu kurang lebih 1,5-2 jam (Gibson, 1993).

Metode ini terdiri dari tiga komponen, yaitu (1) Wawancara (termasuk recall 24 hour), yang mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam terakhir dan mendapatkan gambaran umum pola asupan makanan, (2) Penggunaan dari sejumlah bahan makanan dengan memberikan daftar (check list) yang sudah disiapkan, untuk mengklarifikasi jenis dan jumlah makanan pada recall 24 hour, (3) Pencatatan konsumsi selama 2-3 hari sebagai cek ulang (Burke, 1947 dalam Supariasa, 2001).

Terdapat keuntungan dan kerugian dalam menggunakan metode ini. keuntungan metode ini adalah dapat diperolehnya gambaran atau informasi konsumsi makanan sehari-hari dengan beban respoden yang

relatif lebih rendah daripada metode food record. Sedangkan kerugian dari metode ini yaitu, metode ini sangat bergantung pada ingatan responden dan kemampuan responden dalam mengingat porsi makana n dengan benar, sehingga merode ini kurang cocok dipakai untuk usia dibawah 14 tahun (Cameron and Van Staveren, 1988 dalam Gibson, 1993).

Dokumen terkait