• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.5 Pengukuran Berat Badan Tikus

Hasil pengukuran berat badan tikus pada masing-masing kelompok, baik pada kelompok normal, kelompok perlakuan dosis rendah (12,5 mg/KgBB), dosis sedang (25 mg/KgBB), dosis tinggi (37,5 mg/KgBB) dapat dilihat pada gambar 4.1.

Dari data grafik, dapat dilihat fluktuasi berat badan tikus di hasil penimbangan yang dilakukan setiap hari. Kenaikan berat badan tikus menunjukkan bahwa tikus berada dalam kondisi sehat dan telah mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

No Kelompok Rerata Bobot Testis Tiap Kelompok (gram) ±SD 1 Kontrol 1,40 ± 0,035 2 Dosis Rendah 12,5 mg/kgBB 1,57 ± 0,051 3 Dosis Sedang 25 mg/kgBB 1,39 ± 0,033 4 Dosis Tinggi 37,5 mg/kgBB 1,45 ± 0,029 230 240 250 260 270 280 290 1 2 3 4 5 6 7 B e r a t B a d a n ( g r a m Minggu Ke-Kontrol Dosis 12,5mg/kgBB Dosis 25mg/kgBB Dosis 37,5mg/kgBB

1,3 1,35 1,4 1,45 1,5 kontrol 12,5 mg/kgBB 25 mg/kgBB 37,5 mg/kgBB b o b o t te st is ( g r Kelompok Perlakuan Grafik bobot testis

2 12,5 mg/kgBB 28,950 ± 7,773 3 25 mg/kgBB 8,334 ± 0,946 4 37,5 mg/kgBB 14,485 ± 2,804 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

kontrol dosis rendah (12,5 mg/kgBB) dosis sedang 25 mg/kgBB Dosis tinggi 37,5 mg/kgBB (%) M o tilit a s Kelompok Perlakuan grafik Motilitas Spermatozoa

Kemudian dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis. Berdasarkan hasil pengamatan pada dosis 12,5; 25 dan 37,5 terjadi penurunan bila dibandingkan dengan kontrol. Data hasil analisa dengan menggunakan Kruskal wallis terjadi penurunan secara bermakna pada ketiga dosis terhadap kontrol (p≤0,05), setelah itu dilanjutkan dengan uji Multi comparisons untuk melihat perbedaan bermakna dari masing-masing kelompok. Ketiga dosis berbeda bermakna jika dibandingkan dengan kontrol (p≤0,05). Penurunan motilitas menandakan adanya senyawa pada ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis) yang berpotensi sebagai agen antifertilitas.

4.1.8 Spermisidal

Pengujian aktivitas spermisidal dilakukan dengan metode Sander dan Cramer dengan variasi dosis (4, 8, 12, 16, 18, 20 mg/mL). Hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel 4.5 dan gambar 4.4

Tabel 4.5. Hasil pengujian spermisidal Konsentrasi Ekstrak (mg/mL) Motilitas (%) MEC awal

Setelah diberikan ekstrak (setelah 20 detik) 4 85,63 26,95 20 mg/mL 8 89,81 13,55 12 89,81 11,16 16 79,96 1,49 18 74,30 0,54 20 74,30 0

Berdasarkan gambar 4.4 didapatkan nilai konsentrasi terendah yang dapat menyebabkan imobilitas sperma sebesar 100% yaitu pada 20 mg/mL

No Kelompok Diameter Tubulus Seminiferus (µm) 1 Kontrol 178,83 ± 2,094 2 12,5 mg/kgBB 167,72 ± 6,833 3 25 mg/kgBB 151,77 ± 3,242 4 37,5 mg/kgBB 165,36 ± 5,79 0 5 10 15 20 4 8 12 16 18 20 M ot il it as Konsentrasi (mg/mL)

Grafik Motilitas Setelah 20 detik

135 140 145 150 155 160 165

kontrol dosis 12,5 mg/kgBB dosis 25 mg/kgBB dosis 37,5 mg/kgBB

Dia m e te r T u b u lu s S e m m ) Kelompok Perlakuan

4.2 Pembahasan

Salah satu tanaman yang diduga berpotensi sebagai antifertilitas adalah

Costus spiralis dengan nama Indonesia pacing. Bagian yang digunakan adalah daun pacing yang diperoleh dari Mega Mendung Cisarua, Bogor. Determinasi tanaman dilakukan di Center for Plant Conservation Botanic Gardens, menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan adalah benar Costus spiralis dari famili Costaceae. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi. Maserasi dipilih karena menggunakan peralatan yang sederhana dan mudah dalam proses pengerjaannya. Metode maserasi juga dapat digunakan untuk menarik senyawa –

senyawa yang tidak tahan terhadap pemanasan. Pelarut yang digunakan adalah etanol 70%. Etanol 70% digunakan untuk maserasi karena kemampuannya yang dapat menarik lebih banyak senyawa polar dan bagian semipolarnya. Pada tanaman pacing masih belum diketahui senyawa yang bersifat sebagai antifertiltias, oleh karena itu digunakan pelarut etanol 70% agar lebih mampu menarik banyak senyawa.

Ekstrak kental yang didapat sebanyak 77 gram. Rendemen ekstrak yang diperoleh yaitu 7,7%. Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak etanol daun pacing. Penapisan fitokimia yang dilakukan adalah uji alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan terpenoid dan menghasilkan ekstrak daun pacing positif mengandung tanin, saponin, flavonoid dan terpenoid yang diduga memiliki efek antifertilitas.

Penapisan fitokimia yang dilakukan oleh Britto et al (2011) ekstrak air daun pacing positif mengandung phenol, tanin, flavon, xanton, flavonoid, flavon, dan saponin. Menurut Asmaliyah (2010) daun pacing (Costus spiralis) juga mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, tetapi pada penapisan yang dilakukan tidak dihasilkan positif alkaloid, hal tersebut kemungkinan karena adanya perbedaan tempat tumbuh dari tanaman pacing (Costus spiralis) atau terlalu sedikitnya kadar alkaloid sehingga perlu dilakukan metode lain untuk dapat mendeteksi adanya alkaloid pada ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis).

Saponin steroid yang terkandung pada ekstrak etanol 70% daun pacing adalah diosgenin. Menurut Natural Standard (2015) Diosgenin banyak terkandung

pada genus Costus. Diosgenin merupakan prekusor dari sintetis kontrasepsi oral, hormon seks (progesteron), dan steroid lainnya (Pazhanichamy et al, 2012). Ekstrak etanol Dioscorea esculenta dengan kandungan utama saponin steroid dapat menurunkan kadar terstosteron secara signifikan yang dapat menyebabkan penurunan kinerja sel sertoli menjadi tidak optimal sehingga terjadi gangguan proses spermiogenesis, gangguan metabolisme sel germinal, bahkan apoptosis sel (Sari, 2013).

Selain diosgenin, metabolit yang diduga juga memiliki efek sebagai antifertilitas pada tanaman pacing yaitu tanin. Tanin mampu mensupresi kualitas sperma melalui penurunan motilitas, yaitu dengan menggumpalkan protein sehingga dapat mengganggu motiltias spermatozoa (Widiyani, 2006).

Pemeriksaan parameter spesifik dan non spesifik ekstrak juga dilakukan. Pada parameter non spesifik dilakukan uji susut pengeringan dan kadar abu. Tujuan pemeriksaan susut pengeringan adalah untuk mengetahui jumlah senyawa yang hilang selama proses pengeringan (Depkes RI, 2000) sedangkan pemeriksaan kadar abu bertujuan untuk mengetahui kandungan mineral yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak (Depkes RI, 2000). Hasil pemeriksaan susut pengeringan yaitu 18,667% dan kadar abu 22,314%.

Tikus yang digunakan sebagai bahan uji adalah tikus putih jantan strain

Sprague Dawley berumur 2,5-3 bulan. Pemilihan strain Sprague Dawley

dikarenakan strain ini memiliki tingkat kesuburan yang tinggi ditandai dengan jumlah sperma dalam epididimis lebih banyak dibandingkan dengan strain lain (Wilkinson et al., 2000). Hewan coba dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol, dosis rendah (12,5 mg/kgBB), dosis sedang (25 mg/kgBB) dan dosis tinggi (37,5 mg/kgBB) serta satu kelompok untuk pengujian aktivitas spermisidal secara in vitro. Setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Hal ini disesuaikan dengan Research Guidelines for Evaluating The Safety and Efficacy of Herbal Medicines (WHO, 2000) yaitu jika hewan pengerat yang digunakan maka masing-masing kelompok perlakuan harus terdiri dari setidaknya lima ekor hewan percobaan. Berat badan hewan coba diukur setiap hari sekali untuk menghitung volume ekstrak yang akan diberikan.

Perlakuan yang diberikan kepada hewan coba dibagi menjadi dua, pertama yaitu dilakukan secara in vivo, terdiri dari 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, dosis rendah, sedang dan tinggi diberikan ekstrak sesuai dosis setiap kelompok per oral menggunakan sonde oral, sedangkan kelompok kontrol diberikan suspensi Natrium CMC 0,5%. Pemberian suspensi ekstrak dilakukan setiap hari selama 48 hari. Kedua, yaitu kelompok tikus untuk uji aktivitas spermisidal secara

in vitro.

Data berat badan menunjukan perkembangan berat badan kelompok tikus kontrol dan kelompok tikus yang diberi ekstrak pacing dimana keduanya mengalami kenaikan dan juga penurunan (fluktuatif) berat badan tiap minggunya. Pertumbuhan yang baik merupakan suatu proses pertambahan massa, sehingga hewan mengalami pertambahan bobot badan, pertambahan tinggi, pertambahan panjang atau pertambahan kandungan kimiawi tubuhnya. Kenaikan berat badan yang terjadi baik pada tikus kontrol dan tikus yang mendapat perlakuan ekstrak etanol daun pacing kemungkinan dikarenakan konsumsi pakan harian yang diberikan memenuhi syarat untuk terjadinya pertumbuhan (Maula, 2014).

Pertumbuhan berjalan normal apabila makanan yang diberikan mengandung nutrisi dalam kualitas dan kuantitas yang baik. Apabila seekor hewan kekurangan nutrisi atau mengalami defisiensi suatu zat makanan maka laju pertumbuhan hewan tersebut akan terhambat (Muliani, 2011). Pemberian ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis) tidak berpengaruh terhadap penurunan berat badan pada semua kelompok perlakuan.

Pada hari ke 49 tikus diterminasi dengan cara dibius dengan eter kemudian dilakukan pengamatan. Pengamatan yang diamati yaitu bobot testis, diameter tubulus seminiferus, motilitas secara in vivo dan aktivitas spermisidal secara in vitrodari ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis).

Pengamatan parameter yang pertama yaitu bobot testis. Rata-rata bobot testis kelompok kontrol lebih kecil dibandingkan dengan kelompok uji, hal tersebut kemungkinan karena dari awal tikus pada kelompok kontrol memiliki bobot testis yang memang lebih kecil dibandingkan dengan kelompok uji, kecuali pada kelompok dosis sedang (25 mg/kgBB) dimana terjadi penurunan bobot testis jika dibandingkan dengan kontrol tetapi tidak berbeda secara bermakna (p≥0,05),

maka pemberian ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis) tidak mempengaruhi bobot testis secara bermakna (p≥0,05).

Produksi spermatozoa tidak akan terjadi jika alat kelamin jantan tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan alat kelamin jantan baik alat kelamin primer yang berupa testis maupun alat kelamin sekunder berupa saluran-saluran reproduksi (Maula, 2014).

Testis berukuran normal memiliki hubungan positif dengan potensi substansi fungsional (tubulus seminiferus) yang terkandung di dalam testis. Fungsi reproduksi testis adalah berupa produksi spermatozoa yang dihasilkan oleh bagian tubulus seminiferus dari testis. Berat dan ukuran testis dapat digunakan sebagai indikator kuantitatif produksi spermatozoa (Maula, 2014). Adanya penurunan bobot testis menandakan adanya penurunan elemen spermatogenik pada testis (Jahan, 2009).

Penurunan bobot testis tersebut kemungkinan terjadi karena adanya senyawa saponin pada tanaman pacing, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Gupta dkk (2005) menyatakan bahwa dengan pemberian saponin yang diisolasi dari Albizia lebbeck pada tikus jantan memberikan penurunan bobot testis yang signifikan, yang kemungkinan berhubungan dengan jumlah sel spermatid dan spermatozoa yang ada pada jaringan. Penurunan yang signifikan pada jumlah sel germinal terutama pakiten dan spermatosit sekunder pada tikus yang diberikan saponin dari Albizia lebbeck mengakibatkan penurunan bobot testikular.

Penurunan bobot kelenjar aksesoris seksual mengindikasikan adanya atropi pada jaringan glandular, dan penurunan kadar testosteron karena organ-organ ini bersifat bergantung androgen (Chauhan, 2008). Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan kemungkinan karena perbedaan lamanya waktu pemberian, dimana pada penelitian yang dilakukan Gupta dkk (2005) melakukan pemberian saponin selama 60 hari sementara pada penelitian ini hanya 48 hari. Hasil ini juga berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Adnan (2000) dimana pemberian ekstrak rimpang tumbuhan pacing (Costus speciosus) yang diberikan pada mencit selama 18 hari menunjukan adanya penurunan bobot testis yang berbeda secara bermakna terhadap kontrol (p≤0,05).

Pengamatan parameter berikutnya yaitu motilitas spermatozoa yang diperoleh dari kauda epididimis. Kauda epididimis merupakan tempat pematangan spermatozoa sebelum siap diejakulasikan. Diperkirakan spermatozoa yang telah matang paling banyak dibagian kauda epidimis (Suckow, 2006)

Berdasarkan hasil perhitungan motilitas menunjukan adanya penurunan motilitas spermatozoa secara bermakna (p≤0,05) setelah pemberian ketiga dosis

ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis) secara peroral selama 48 hari. Pada penelitian ini daun pacing dengan spesies yang berbeda (Costus spiralis)

menghasilkan penurunan motilitas yang berbeda secara bermakna dengan nilai signifikan 0,01 (p≤0,05) dibandingkan dengan kontrol. Penurunan paling besar yaitu pada dosis 25 mg/kgBB dengan nilai persen motilitas 8,334 ± 0,946% tetapi tidak berbeda secara bermakna bila dibandingkan dengan dosis tinggi 37,5 mg/kgBB. Persentase motilitas spermatozoa di bawah 40% menunjukan nilai semen yang kurang baik dan berhubungan dengan infertilitas (Widiyani, 2006).

Dosis yang paling efektif dalam memberikan persen motilitas yang paling terendah pada penelitian ini adalah pada dosis 25 mg/kgBB. Senyawa yang kemungkinan memberikan peran dalam menurunkan motilitas pada ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis) adalah tanin. Tanin mempunyai aktivitas biologis antara lain dapat menggumpalkan protein. Diduga protein enzim (ATP-ase/dinein) mengalami kerusakan oleh adanya senyawa tanin tersebut sehingga mekanisme pembebasan energi bagi motilitas spermatozoa akan terganggu.

Bagian penting untuk gerakan spermatozoa adalah leher spermatozoa. Di bagian leher ini terdapat mitokondria yang merupakan sumber energi sperma yaitu sebagai penghasil ATP. Gerakan spermatozoa melibatkan molekul dinein, yaitu suatu makromolekul protein yang terdapat pada bagian aksonema ekor sperma. Molekul dinein tersebut memiliki aktivitas ATP-ase. Oleh ATP-ase, ATP akan dihidrolisis menjadi ADP dan fosfat. Energi yang dihasilkan dari hidrolisis ATP inilah yang kemudian akan digunakan bagi gerakan spermatozoa. Hasil penelitian menunjukan pemberian ekstrak akar som jawa dapat menyebabkan gangguan motilitas spermatozoa. Hal ini diduga karena sistem enzim yang terlibat dalam mekanisme pembebasan energi (ATP-ase) bagi motilitas sperma mengalami

gangguan. Gangguan itu mungkin disebabkan oleh adanya senyawa tanin yang terkandung dalam ekstrak som jawa (Widiyani, 2006)

Motilitas dikatagorikan menjadi motilitas baik dan buruk, dimana motilitas baik jika jumlah spermatozoa yang bergerak lebih dari 50%, sebaliknya motilitas buruk apabila jumlah spermatozoa yang bergerak kurang dari 50%. Pria dikatakan fertil apabila bentuk spermatozoa baik lebih dari 50% (Nuraini. 2012). Menurut WHO motilitas spermatozoa yang dianggap normal adalah apabila 50% atau lebih bergerak maju dengan lambat atau 25 % bergerak maju dengan cepat.

Beberapa mekanisme kerja antimotilitas spermatozoa yaitu pada ekstrak biji pepaya yang mampu menginduksi inhibisi motilitas sperma, kemungkinan disebabkan kandungan glikosinolat yang mempengaruhi pembentukan plasma semen. Glikosilat kemungkinan dapat menghambat pematangan spermatozoa dan mempengaruhi pembentukan plasma semen sebagai media dalam transport spermatozoa, selain itu juga mampu menggumpalkan semen sehingga motilitas dan viabilitas menjadi terganggu. Mekanisme penggumpalan ini termasuk cara kerja agen antifertilitas pada tingkat epididimis yaitu dengan cara mengganggu komposisi cairan epididimis dan mempengaruhi enzim-enzim yang dihasilkan oleh spermatozoa (Nuraini. 2012).

Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari dkk, pemberian infusa daun pacing (Costus speciosus) pada dosis 275 dan 550 mg/kgBB yang diberikan pada mencit selama 14 hari dapat menurunkan motilitas spermatozoa sebesar 36-39% (p<0,05).

Parameter selanjutnya yaitu aktivitas spermisidal yang dilakukan secara in vitro. Aktivitas spermisidal yaitu kemampuan ekstrak dalam membunuh 100% sperma dalam waktu 20 detik. Pengujian yang dilakukan menggunakan metode Sander and Cramer. MEC (Minimum Effective Concentration) ekstrak daun pacing yang dapat membunuh 100% sperma dalam 20 detik adalah 20 mg/mL. Hasil tersebut tergolong bagus jika dibandingkan dengan nilai MEC ekstrak lain yaitu ekstrak air Alium sativum L yang diujikan pada sperma domba menghasilkan MEC pada konsentrasi 250 mg/mL (Chakrabakti, 2003).

Mekanisme kerja dari beberapa senyawa yang terkandung di dalam tanaman dan memiliki aktivitas sebagai spermisidal yaitu melalui aksi permukaan,

merusak membran plasma spermatozoa. Sediaan vaginal spermisidal yang baru-baru ini digunakan yaitu nonoxynol-9 bekerja dengan mekanisme yang sama, yaitu dengan menghasilkan disrupsi lipid pada membran sperma, pada bagian akrosom sehingga menyebabkan disrupsi dan penghilangan motilitas sperma secara cepat. Penghambatan enzim spesifik sperma yaitu akrosin dan hialuronidase memiliki peranan yang penting dalam proses fertilisasi dari tanaman yang berpotensi sebagai antifertilitas. Flavonoid dan derivat nya seperti flavon, dan flavonol juga berpotensi dalam penghambatan aktivitas hialuronidase (Nirmal, 2000).

Kandungan senyawa tanaman yang banyak berperan sebagai spermisidal adalah saponin, flavonoid, dan phenol (Hyacinth, 2012). Saponin yang terkandung pada Cyclomen periscum, Primula vulgaris dan Gypsophyla paniculata telah diteliti mampu menghasilkan imobilisasi spermatozoa manusia selama 20 detik. Saponin memiliki aktivitas spermisidal yang paling baik pada dosis lebih rendah dibandingkan dengan agen spermisidal lainnya. Kebanyakan agen spermisidal yang terkandung di dalam ekstrak bekerja dengan menginduksi disrupsi membran plasma, agen tersebut juga mampu menyebabkan inhibisi enzim spesifik pada membran sperma seperti akrosin dan hyaluronidase, enzim penting yang membantu proses fertilisasi (Kammoun, 2007).

Pengubahan integritas membran sperma telah dibuktikan melalui pengujian dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) dimana terjadi perusakan bagian kepala pada sperma yang kemungkinan karena adanya interaksi saponin dengan sterol pada membran plasma. Saponin dapat membentuk kompleks tidak larut dengan kolestrol. Bagian hidrofobik dari saponin akan bergabung dengan bagian hidrofobik dari nukleus sterol dan membentuk agregasi misel. Interaksi ini memainkan peranan penting dari efek biologis yang dihasilkan pada saponin, biasanya melibatkan aktivitas membran (Kammoun, 2007).

Penapisan fitokimia pada tanaman pacing (Costus spiralis) yang dilakukan pada ekstrak air daun pacing positif mengandung phenol, tanin, flavon, xanton, flavonoid, flavon, dan saponin (Britto et al 2011), sehingga kemungkinan yang memberikan aktivitas spermisidal pada ekstrak pacing adalah senyawa golongan saponin, dan flavonoid.

Parameter selanjutnya yaitu pengukuran diameter tubulus seminiferus, dimana dihasilkan pada dosis 25 mg/kgBB terjadi penurunan diameter tubulus seminiferus dan berbeda secara bermakna jika dibandingkan dengan kontrol (p≤0,05). Tubulus seminiferus merupakan bagian utama dari masa testis (80%)

yang merupakan tempat berlangsungnya spermatogenesis (Sherwood, 2001). Berkurangnya diameter tubulus seminiferus mencerminkan adanya penurunan jumlah sel sertoli atau hambatan spermatogenesis (Kovacevic et.al., 2006) dan juga kemungkinan disebabkan banyaknya sel germinal yang mengalami apoptosis. Dalam epitel seminiferus, apoptosis dapat terjadi secara spontan atau sebagai respon terhadap beberapa faktor-faktor seperti agen kemoterapi, suhu tinggi dan hormonal (Costa and Silva, 2006).

Menurut suatu penelitian, senyawa saponin dapat digunakan sebagai antikanker karena dapat menghambat proliferasi sel, (Widiyani, 2006) sehingga penurunan diameter tubulus seminiferus pada penelitian ini kemungkinan karena adanya saponin pada tanaman pacing (Costus spiralis) melalui jalur apoptosis sel. Penyusutan berat testis telah dilaporkan berhubungan dengan penyusutan dimensi tubulus seminiferus sebagai tempat utama berlangsungnya proses spermatogenesis untuk menghasilkan spermatozoa (Wahyuni, 2012) sehingga pada penelitian ini terbukti bahwa pada dosis 25 mg/kgBB daun pacing menyebabkan penurunan bobot testis dan penurunan diameter tubulus seminiferus.

Hasil parameter bobot testis, motilitas, dan diameter tubulus seminiferus menunjukan bahwa dosis optimum yang dapat memberikan efek antifertilitas paling maksimal yaitu pada dosis sedang 25 mg/kgBB, hal tersebut kemungkinan karena ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis) bekerja tidak spesifik secara biologis, sehingga tidak hanya di satu reseptor yang menyebabkan aktivitas yang timbul tidak berbanding lurus dengan peningkatan dosis (Harro, 2004), atau penyebab lain kemungkinan pada ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis)memiliki kandungan senyawa yang sifatnyaautometabolismseperti pada MPA (Medroksi Progesteron Asetat) dimana ketika MPA mengalami peningkatan dosis yang terjadi kemudian adalah bioavabilitas mengalami penurunan, hal tersebut disebabkan oleh peningkatan bioavabilitas MPA dapat menginduksi enzim yang memetabolisme nya (Smith, 1993), sehingga kadar nya akan

berkurang. Kemungkinan kandungan senyawa pada ekstrak etanol 70% daun pacing (Costus spiralis)yang berperan dalam menyebabkan aktivitas antifertilitas adalah saponin, tanin, dan flavonoid.

BAB V

Dokumen terkait