Pendahuluan
Ekologi berkaitan dengan kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya yaitu tanah, air, aliran udara, serta mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan siklus kehidupan lain yang ada, berkaitan dengan proses pemanfaatan energi dan limbah. Secara keseluruhan itu merupakan satu lingkaran proses, dikenal dengan istilah permaculture. Diperlukan suatu langkah kegiatan yang memberikan dampak negatif terkecil dalam daur kehidupan itu (Hejgaard 2002).
Sejarah dan Rantai PerkembanganEcohouse
Permaculture dari Perma(nent-agri)culture adalah pemeliharaan dan perancangan yang baik dan berorientasi terhadap lingkungan, kehidupan pertanian, dan sistem produksi yang memperhatikan ekosistem dimana fluktuasi dan stabilitas dari eco-system alami dijaga secara terintegrasi dari orang-orang yang berpikir secara harmonis dalam menyediakan makanan, energi, tempat berlindung, dan material yang digunakan.
Koordinasi secara gabungan dan kooperatif untuk pelestarian alam dan bumi diperkenalkan kepada masyarakat sebagai suatu pendekatan ke arah perancangan lingkungan yang beraneka ragam secara fleksibel agar stabilitas kelestarian ekosistem alami terpelihara. Manusia sebagai sumber daya diusahakan untuk mengurangi kelelahan agar tenaga kerja di kawasan pertanian yang besar dan melelahkan itu mendapat ruang istirahat yang nyaman (Ernest 1998).
Perincian kultur eco berkaitan dengan usaha mempertahankan kelestarian dari keseimbangan lingkungan. Rancangan Ecohouse mempunyai syarat utama yaitu berkaitan antara manusia dan alam, khususnya lahan pertanian. Tujuannya adalah supaya energi dapat terdaur ulang, dan memberikan dampak lingkungan paling kecil pada iklim, air, udara, flora dan fauna, serta lahan. Banyak proses kegiatan positif dalam kultur atau budaya lokal yang menjadi perilaku dan kebiasaan masyarakat. Hal ini hendaknya diberlakukan sesuai di masing-masing lokasi tinggal dan setiap individu. Penghuni kampung mempunyai kehidupan
berusaha-tani yang “bio-region”, yang memerlukan tanah, air, dan udara
lingkungan yang tetap bersih dan terpelihara. Maka, untuk itu diperlukan suatu disain “Permanent Agriculture“(Jackson 2002)
Proses ketahanan berdasar pada konservasi dan regenerasi kehidupan yaitu a) mereduksi konsumsi energi dan dapat didaur ulang, b) material yang berkaitan dengan ekologi yang tidak berdampak buruk pada kesehatan, c) mempertahankan penyediaan air dan kualitas, d) memperkecil limbah, e) menjaga keseimbangan bumi dan lahan, sesuai isu kerusakan global (Wanget al. 2003).
Telah diklasifikan lima zoning pembatasan suatu wilayah usaha tani, pada arah sektor dan vektor, terutama Zone-1 yang adalah rumah dan kebun tanaman pangan, Zone-2 lahan untuk masyarakat umum dan orchad, serta Zone-3 lahan untuk kebun tanaman keras dan perkampungan. Semua ini dihubungkan dengan keseimbangan lingkungan, hingga tercapai kondisi kenyamanan tubuh, yang dinyatakan dalam kurva keseimbangan kebutuhan tubuh (UNEP 2002).
Pergerakan udara ruangan hanya di bagian atas saja, sedangkan bagian bawah hanya dapat imbasannya. Aktifitas ini kurang kuat, sehingga perlu tambahan ventilasi di bagian bawah yang digerakkan oleh udara ruangan bawah secara langsung. Angin ini akan langsung terasa oleh penghuni yang berada di bagian bawah ruangan. Ventilasi bawah yang terletak 20 cm dari lantai merupakan feature yang sudah lama dihilangkan, tapi sebenarnya merupakan ventilasi efektif, dan sebaiknya dikenalkan lagi. Kualitas udara jenuh yang tidak mengalir, akan menghambat sistem pelepasan kalor panas atau pernafasan permukaan kulit tubuh manusia. Oleh karena itu, diperlukan pergantian aliran udara kurang jenuh yang mengalir untuk menggantikan panas dalam sistem untuk mendinginkan suhu tubuh dan melancarkan pelepasan panas, hingga tercapai kenyamanan. Hal tersebut dinyatakan dengan ukuran ”pergantian udara per jam” (Saptono 2005).
Udara yang mengandung polutan ternyata menyebabkan penyakit kulit, seperti skin diseases pada pekerja Industri Plywood di Kalimantan Selatan, dimana 35% pegawai mengidap penyakit kulit tineapedis, 21.3% menderita penyakit kulit akibat kontak dermatis, dan 10.6% mengalami alergi. Aspek ergonomika harus diperhatikan dalam merencanakan tempat kerja seperti tempat
duduk, meja kerja dan luas pandangan. Kelengkapan hal-hal tersebut diperlukan untuk menjamin sikap tubuh paling alami dan memungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Pada posisi berdiri dan pekerjaan ringan, tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm di bawah siku. Untuk pria tinggi ideal meja kerja adalah 90-95 cm, sedangkan untuk wanita 85-90 cm .
Cermin Dunia Kedokteran No. 136 (2002) menunjukkan suhu lingkungan kerja yang terlalu tinggi, atau lingkungan kerja panas, akan mengganggu kenyamanan, karena mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Jika jumlah udara yang masuk dalam metabolisme tubuh tidak cukup, produksi urin akan menurun dan kepekatan urin meningkat (hipersaturasi/superaturasi). Hal ini bila berlangsung cukup lama dapat mendorong terbentuknya antara lain kristal dan batu asam urat di saluran kemih.
Pendinginan aliran udara pasif berkaitan dengan lingkungan termal di bangunan beriklim tropis, dimana bangunan menjadi sangat panas sepanjang hari. Hal ini berkaitan dengan banyaknya panas surya yang masuk keselubung bangunan dan cahaya masuk kedalam bangunan (Dielshanet al. 2002). Ditelaah dari sudut pandang kenyamanan di siang hari suhu udara di dalam bangunan dibutuhkan lebih rendah dari suhu luar (Givoni 1994). Kondisi pemanasan radiasi di luar akan merubah udara di lingkungan tubuh manusia itu. Tingkat kenyamanan dari tubuh dinyatakan dengan persamaan Fanger (ASHARE 2001).
Rancang bangun suatu struktur rumah sederhanaEcohousesebagai kajian untuk penerapan teknik secara riil memanfaatkan aliran udara alami untuk menahan efek radiasi matahari di siang hari. Proses pengendalian lingkungan di dalam bangunan model adalah pendinginan. Pengujian dilakukan pada bangunan yang mempunyai model sederhana yang sama dengan pemukiman buatan Departemen Transmigrasi tahun 1995. Keberhasilan ini menjadi pokok untuk hipotesis bahwa pemindahan dan penyebaran penduduk yang semakin padat di pulau Jawa, ke seluruh pelosok Indonesia dapat dilakukan agar terjadi keseimbangan pola kepadatan penduduk. Analisa struktur konstruksi kayu bertujuan mempersiapkan struktur bangunan yang kuat dan sederhana, yang cukup mampu menahan beban orang tinggal dan beban konstruksi. Yang harus
dianalisis antara lain beban untuk pondasi, rangka serta sambungan, dan atap kuda-kuda pelana (Karlinasari 2006).
Banyak penelitian dilakukan untuk sistim pengendalian lingkungan yang ekonomis dengan menggunakan microprocessor, walau pun grafik psikometri masih digunakan untuk mengetahui perubahan kelembaban dan suhu (Chao dan Gates 1995).
Persyaratan bangunan rumah pemukiman dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti:
1 Pengaruh tata letak dan tata guna lahan
2 Perencanaan dan sistem perancangan struktur, yang tergantung pada lahan, sumber daya manusia, dan usaha untuk mempertahankan kehidupan, serta berkaitan dengan energi.
Negara tropis mempunyai suhu dan kelembaban yang tinggi, maka untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan penghuni, di pedesaan perlu energi yang dijabarkan dalam suatu sistem, seperti energi pendinginan untuk bangunan
Ecohouse(UNEP 2003). Tujuan dari pembangunan pemukiman Ecohouseadalah
berkurangnya dampak negatif pada lingkungan, penghematan, kesehatan, dan seni yang menggugah perasaan. Dalam Standar IBPSA pada bidang arsitektur untuk
Ecohouse, bentuk dan habituasi masyarakat akan memberikan informasi yang efektif dalam pengembangan bangunan sesuai kebutuhan (Hensen 1995 dan Hayeset al. 2001).
Gambar 3 Ilustrasi perpindahan panas dari matahari ke bumi (Tiwari 2002) Perpindahan panas radiasi, konveksi, dan konduksi yang terjadi dalam suatu bangunan akan memberikan pengaruh pada distribusi suhu, tekanan, dan aliran
udara. Sebagai kontribusi terhadap lingkungan indoor atau bagian dalam bangunan yang baik dan berkelanjutan, ventilasi telah dikembangkan agar aliran udara yang bersifat lokal, yang bergerak di sekitar tubuh orang dan sangat dipengaruhi oleh kondisi sekitarnya, dapat didekatkan dengan posisi ventilasi yang diberikan dalam pergerakan udara dalam itu. Proses pindah panas dapat dilihat dari ilustrasi proses panas yang mengenai bumi, seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.
Gambar 4 Ilustrasi persentase panas mengenai bumi (Hopskins 2007)
Sinar radiasi matahari yang datang di atas atmosfer sebesar 342 watt terpencar menjadi radiasi teradsorpsi 67 watt. Sinar itu kemudian mencapai permukaan bumi sebesar 168 watt, terefleksi karena awan di atmosfer 77 watt, dan terefleksi di permukaan awan 30 watt. Panas di permukaan bumi menghasilkan evaporasi dan transpirasi adalah sebesar 78 watt, sedangkan yang pindah ke udara 24 watt. Radiasi ini menghasilkan gelombang panjang yang dipantulkan ke udara dalam bentuk emisi infared sebesar 350 watt, yang tertransmisi melalui atmosfer 40 watt sehingga total yang kembali ke atmosfer 235 watt (ditampilkan pada Gambar 4).
Pendinginan alami adalah teknik pendinginan pasif pada beberapa kasus yang digunakan untuk mengurangi atau menghapuskan proses pengaturan suhu,
tanpa alat mekanis. Efektivitas energi dan biaya perlu dipertimbangkan oleh pemilik rumah dan ahli bangunan dalam merancang sistem pendinginan alami.
Kenyamanan di musim kemarau diperoleh dengan memelihara temperatur udara dalam rumah di bawah 24 °C. Temperatur tinggi, kelembaban tinggi, atau kedua-duanya dapat membuat orang merasa gelisah. Ada tiga sumber panas utama yang tak dikehendaki yaitu pemindahan kalor dan asupan dari bagian luar yang temperaturnya tinggi, perpindahan kalor sebagai dampak sinar matahari yang masuk ke dalam bangunan melalui kaca, atap, jendela dan unsur elemen material bangunan lainnya, serta panas internal yang diproduksi oleh peralatan dan penghuni. Potensi yang terbesar berasal dari arah barat daya, karena adanya angin Moonson untuk Indonesia. Rumah dibangun berorientasi arah barat–timur dan mempunyai sepertiga luas lantai yang mengarah pada pandangan menuju arah selatan. Sisanya ditempatkan pada dinding barat dan timur. Rumah ini akan mengalami kelebihan pemanasan, berkisar 1.7-3.2 J s-1pada bulan Juli. Ini berarti sekitar 0.045-1 kg udara harus didinginkan agar proses pengaturan suhu di masing-masing posisi berjalan dengan baik pada puncak kondisi, sehingga diperoleh ruang yang nyaman di siang hari itu. Pengendalian panas yang masuk dalam rumah harus dilakukan dengan memperhatikan bentuk dan macam material tembok dan lantai, yang mempunyai massa panas tertentu dan bertindak sebagai penahan panas. Panas menaikkan temperatur internal bahan dan pada malam hari bukaan ventilasi atau pendingin mekanik akan menurunkan kembali suhunya.
Tujuan Penelitian
a Menganalisa karakteristik lingkungan dalam bangunan konstruksi kayu rumah percobaan ecohouse yang meliputi proses pindah panas, pergerakan aliran udara dan distribusi suhu.
b Mengkaji pindah panas yang terjadi dari radiasi gelombang pendek cahaya matahari yang mengenai selubung bangunan mengubah suhu dalam bangunan.
Tinjauan Pustaka
PerencanaanEcohousesebagai Bangunan Geometri Sederhana
Menurut Hand Book of Ecohouse Australia (2001), kondisi batas radiasi matahari dan perubahannya pada suatu bangunan dapat digambarkan sebagai berikut (lihat Gambar 5 dan Gambar 6). Peredaran matahari siang dan malam hari memberikan berkas radiasi pada atap bangunan, yang selanjutnya dihantarkan masuk ke dalam ruang bangunan.
Gambar 5 Ilustrasi dari penerimaan panas lingkungan pada bangunan (Handbook of EcohouseAustralia 2001)
Gambar 6 Peletakan tatanan aliran udara dalam suatu bangunan (Handbook of EcohouseAustralia 2001)
Wilayah dan Kependudukan Transmigran
Menurut Hauser (1959) dan Kemmeyer (1971) dalam Bandiyono (1998) demografi dapat dipahami dari dua segi yaitu demografi formal dan demografi sosial. Pemerintah pusat selalu berupaya untuk menangani masalah masalah kenaikan jumlah penduduk di kota-kota besar untuk mengendalikan dampak yang negatif bagi
perkembangan kota tersebut. Faktor yang menghambat perkembangan desa adalah daya tolak di desa dan faktor menarik di kota. Urbanisasi akan mempengaruhi daerah pedesaan yang ditinggalkan maupun di kota yang dituju. Pembangunan di daerah pedesaan akan semakin menurun sesuai produktivitas, sumber penghasilan, dan tenaga pengelola. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi pengangguran di Indonesia adalah program transmigrasi. Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari satu provinsi atau pulau yang padat penduduk ke provinsi atau pulau lain yang jarang penduduknya dalam satu wilayah negara (UU No.3 Tahun 1972 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Transmigrasi). Pemerintah melaksanakan program transmigrasi antara lain untuk meratakan penyebaran penduduk Indonesia.
Pemerintah melalui Departemen Transmigrasi RI sejak tahun 1972 telah memberikan fasilitas-fasilitas bagi transmigran dalam rangka mendukung program transmigrasi. Fasilitas yang disediakan pemerintah bagi tiap keluarga antara lain lahan garapan seluas 2-2.5 hektar, dana bantuan sebesar Rp. 16-20 juta, alat-alat pertanian, dan brosur-brosur penyuluhan tentang cara mengelola lahan yang baik dan jenis tanaman budidaya apa yang cocok untuk ditanam pada lahan tersebut.
Bandiyono (1998) menyatakan bahwa perkembangan daerah transmigrasi dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap. Tahap pertama adalah pada masa kolonialisasi yang dimulai tahun 1905, dimana diberangkatkan sejumlah 155 Kepala Keluarga (KK) yang berasal dari Karesidenan Kedu–Jawa Tengah menuju Tanjung Karang-Lampung. Tahap selanjutnya adalah Kolonisasi II (1905-1942), dimana penduduk dari Pulau Jawa sebanyak 60155 KK dipindahkan ke sembilan propinsi di luar Pulau Jawa. Perpindahan selanjutnya adalah pada tahap Pra- PELITA (1950-1968) sebanyak 98631 KK, pada tahap PELITA satu sampai dengan PELITA enam (1969-1998) sebanyak 1808823 KK, pada tahun 2000 berjumlah 6756 KK, pada tahun 2001 sebanyak 22609 KK, tahun 2002 sebanyak 23907 KK, tahun 2003 sebanyak 19678 KK, tahun 2004 sebanyak 14821 KK dan pada tahun 2005 sebanyak 619 KK. Pembangunan transmigrasi yang sudah ada (PTA) juga telah melaksanakan rehabilitasi rumah tinggal dan jamban keluarga sebanyak 159 unit pada 24 provinsi.
Pada lokasi transmigrasi juga disediakan rumah tinggal tipe Rumah Sangat Sederhana yang telah dialiri listrik dan air bersih, yang terletak dalam suatu
kawasan pemukiman yang disebut Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT). Pemukiman ini memiliki struktur pemerintahan yang setara dengan sebuah desa dan memiliki sarana dan prasarana yang dapat mendukung dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakat transmigran sesuai dengan sistem pemerintahan yang menyangkut pembangunan daerah. Fasilitas di pemukiman transmigrasi memperbaiki dan menyempurnakan masyarakat lokal dan transmigrasi, dan sejak tahun 2008 dicanangkan sebagai Program Kota Terpadu Mandiri (KTM).
Sesuai dengan 1) Undang Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469), 2) Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839), 3) Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun Berdiri Sendiri (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 171, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3892), bahwa pemerintah menetapkan Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (RS Sehat) sebagai bagian integral dari pembangunan daerah untuk melaksanakan pembangunan pedesaan baru dan rehabilitasi, serta meningkatkan sarana dan prasarana permukiman transmigrasi yang sudah ada. Hal ini bertujuan mendukung perkembangan permukiman transmigrasi dan desa sekitarnya, yang meliputi pembangunan desa- desa baru yang terintegrasi dalam Satuan Kawasan Pengembangan (SKP) dan wilayah pengembangan parsial. Kawasan pemukiman dari pusat pusat pertumbuhan yang sudah ada akan mendorong pertumbuhan desa-desa yang kurang berkembang melalui pertambahan penduduk dan pembangunan prasarana.
Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Republik Indonesia Nomor: 403/KPTS/M/2002 menetapkan Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (RS Sehat) untuk Penyiapan Sarana Dan Prasarana Permukiman Transmigrasi dalam membangun perkampungan berdasarkan 1) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). 2) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/M Tahun 2001 tentang Kabinet Gotong Royong, Keputusan Presiden
Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Departemen, 3) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/KPTS/1986 tentang Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sederhana Tidak Bersusun 4) Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/KPTS/1989 tentang Pedoman Teknik Pembangunan Kapling Siap Bangun, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 54/PRT/1991 tentang Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sangat Sederhana serta 5) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Berdasarkan keputusan tersebut, sebuah rumah:
1 Merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat manusia, maka perlu diciptakan kondisi yang dapat mendorong pembangunan perumahan.
2 Menjaga kelangsungan penyediaan perumahan bagi seluruh lapisan masyarakat khususnya yang kemampuannya terbatas dan berpenghasilan rendah, belum mampu membeli rumah yang layak, sehat, aman, serasi, dan teratur. Pembangunan perumahan perlu dilakukan secara bertahap sesuai dengan keragaman potensi bahan bangunan dan budaya lokal di Indonesia. 3 Menanganani bentuk perumahan yang berbeda-beda pada setiap daerah,
sesuai dengan potensi lokal, agar biaya pembangunan terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Pedoman teknik pembangunan perumahan sederhana tidak bersusun, pedoman teknik pembangunan kavling siap bangun dan pedoman teknik pembangunan perumahan sangat sederhana perlu untuk ditingkatkan.
4 Menyediakan perumahan yang mengakomodasi potensi bahan bangunan, budaya dan aspirasi lokal perlu dilengkapi dengan menyempurnakan pedoman teknik yang sudah ada. Perlu pengaturan dan penetapan pedoman teknis pembangunan rumah sederhana sehat berbasis pada potensi lokal. Hal ini perlu ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah bahwa Pemukiman Transmigrasi sebagai bagian dari Pembangunan daerah transmigrasi adalah sebagai bagian integral dari pembangunan daerah.
Disain Bangunan Ekologi di Pedesaaan
Jumlah penduduk tahun 2000-2025 di Jawa Barat dalam kurun waktu 25 tahun akan meningkat dari 35.7 juta jiwa menjadi 52.7 juta jiwa (Lampiran 2).
Gambar 7 Rumah Transmigran & Lahan Transmigran (Priayanto dalam Laporan Transmigrasi 1995)
Bangunan seperti gambar 7 telah dikembangkan untuk pemukiman yang modern (dimulai 2009) di daerah-daerah seperti Teluk Bawang (Sumatera Selatan), Merauke (Irian), dan beberapa tempat lain. Seluruh bangunan yang ada menjadi inspirasi dibuatnya model seperti bangunan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB.
a b c
Gambar 8 Spesifikasi rumah transmigrasi RTNP-36 dari kayu siap pakai a) Tipe 2 ruangan, b) Tipe 3 ruangan, dan c) Tipe 4 ruangan (Departemen Pemukiman dan Pengembangan Wilayah 2000)
Gambar 9 Pengembangan bangunan untuk daerah Kota terpadu Mandiri Merauke (Departemen Pemukiman dan Pengembangan Wilayah 2000)
Bangunan percobaan model rumah transmigrasi berada padalatituderendah dan beratap rendah sehingga pada musim panas terpengaruh oleh pergerakan energi surya yang menghantarkan panas radiasi ke bangunan. Radiasi tersebut terhambat oleh lindungan tanaman sekitar. Struktur bangunan yang berbeban ringan memberikan sekat dan atap yang baik. Bangunan harus menghadap ke arak utara-selatan supaya sinar matahari masuk melalui jendela dan aliran udara ventilasi dapat menyeberang ruang bangunan (Gambar 10).
Bangunan ini mempunyai slope atap yang tinggi sehingga terjadi ventilasi dari arah atas. Naungan pepohonan memberikan aliran udara alami di bagian bangunan dan di bawah lantai. Bangunan dengan atap beton dan slope yang rendah menerima radiasi surya sehingga terjadi pemanasan langsung. Dinding tembok akan menyimpan panas yang dihantarkan ke dalam bangunan sehingga terjadi selubung mikro-klimat yang panas dan untuk hantaran di bagian dalam diperlukan mikro-klimat yang lebih dingin. Bangunan rumah pemukiman
Ecohouse di Indonesia direncanakan memiliki geometri sederhana, yang lembab dan panasnya dipengaruhi oleh peredaran matahari. Pada siang hari ada berkas panas radiasi pada lantai, dinding, dan atap bangunan yang dihantarkan masuk ke dalam ruang bangunan, sedangkan pada malam hari terjadi proses pendinginan.
Nodal Network dengan CFD dapat digunakan untuk menduga perubahan kecepatan aliran yang bervariasi dan distribusi suhu dalam berbagai dimensi ventilasi untuk mencapai kondisi pendinginan dan pemanasan suatu ruang.
Gambar 10 Pergerakan aliran udara luar masuk ke tengah ruang dibatasi oleh naungan bangunan (Chalermwatet al.2002)
Kajian Lapang untuk Lingkungan Pedesaan yang Nyaman
Bogor yang lokasinya sangat dekat dengan ibukota negara sangat strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri, perdagangan, transportasi, komunikasi, dan pariwisata.
Gambar 11 Peta Indonesia (NASA - USA 2010)
Areal hijau dan areal bangunan dengan perbandingan 1:1 atau 1:2, jumlah curah hujan, kondisi suhu dan angin, serta kelembaban dan kecepatan angin digunakan sebagai bahan analisis untuk domain bangunan. Sinar surya tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan Bogor di atas 1200 mm. Total luas wilayah Bogor 118.5 km2. Luas lahan kabupaten Bogor mencapai 29 383 830 Ha, dan yang menjadi kawasan hutan 3 750 989 Ha, sekitar 12.55%, meliputi 82 desa dan 74 desa yang sudah tertib administrasi. Jumlah penduduk 834 ribu jiwa. Pada tahun 2009 masih didapatkan sekitar 30% penduduk dalam kondisi pendapatan yang rendah. Jumlah penduduk kota Bogor per kecamatan menurut
jenis kelamin tahun 2006 ditampilkan pada Tabel 2. Bogor terletak diantara 106o43’30” BT-106o43’30” BT dan 30o30” LS-6o41’0”LS. Ketinggian rata-ratanya 190 m, dengan kampus IPB Darmaga berada 290 m dpl. Menurut klasifikasi Oldeman Bogor memiliki 9 bulan basah atau termasuk kategori iklim A.
Tabel 1 Luas panen, hasil per hektar, dan produksi padi di Jawa Barat tahun 2005
Kawasan / Kota Bogor
Padi Sawah Ladang
Luas Pane n Hasil / Hekta r Produks i Luas Pane n Hasil / Hekta r Produks i Luas Pane n Hasil / Hekta r Produks i
(Ha) (Kw) (Ton) (Ha) (Kw) (Ton) (Ha) (Kw) (Ton)
Kabupate 79 51.88 411.511 76 52.81 403.860 2.840 26.94 7.651 Kota 1.750 52.68 9.219 1.750 52.68 9.219 0 0 0 Jawa 1.894 51.65 9.787 1.778 53.30 9.480 116 26.39 306.724 2004 1.880 51.07 9.602 1.759 52.84 9.299 120 25.19 302.796 2003 1.631 52.72 8.602 1.501 8.256 130 26.53 345.559 2002 1.792 51.15 9.166 1.672 53.04 8.871 119 24.66 295.491
*)Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Barat 2008
(a) (b)
Gambar 12 Peta lokasi a) Darmaga di kota Bogor, b) IPB–Darmaga
Tabel 2 Kependudukan wilayah administrasi Daerah Kota Bogor.
Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah
Bogor Selatan 77 254 73 881 151 135 Bogor Timur 38 307 38 958 77 265 Bogor Utara 64 148 61 710 125 858 Bogor Barat 86 496 84 148 170 644 Bogor Tengah 46 235 46 620 92 855 Tanah Sareal 67 006 65 487 132 493 Jumlah 379 446 370 804 750 250
Bangunan Konstruksi Kayu Darmaga
Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 106’ 48’ BT dan 6’ 26’ LS, atau berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Daerah Darmaga mempunyai karakteristik hujan yang tinggi, sehingga kelembaban malam hari dapat mencapai seratus persen dan terjadi kondensasi. Kota Bogor mempunyai ketinggian minimum 190 m dan maksimum 330 m dari permukaan laut. Suhu rata-rata tiap bulannya 26 oC dengan suhu terendah 21.8 oC dan suhu tertinggi 30.4oC. Kelembaban udaranya 70%, dan curah hujan rata-rata setiap tahun 3500– 4000 mm dengan curah hujan terbesar pada bulan Desember dan Januari.
Standar BangunanEcohouseMenurut UNEP