BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Pengukuran Kelelahan
Pengukuran terhadap kelelahan pada pekerja penting dilakukan untuk mengantisipasi dan mengetahui seberapa besar tingkat kelelahan yang diderita oleh para pekerja. Menurut Tarwaka (2004) pengukuran kelelahan dapat diukur dengan berbagai cara, yaitu :
1. Kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan
Pada metode ini, kualitas output digambarkan sebagi jumlah proses kerja (waktu yang digunakan setiap item) atau proses operasi yang dilakukan setiap unit waktu. Sedangkan kualitas output (kerusakan produk, penolakan produk) atau frekuensi kecelakaan dapat menggambarkan terjadinya kelelahan, tetapi faktor tersebut bukanlah merupakan causal factor. Kuantitas kerja dapat dilihat pada prestasi kerja yang dinyatakan dalam banyaknya produksi persatuann waktu.
Sedangkan kualitas kerja didapat dengan menilai kualitas pekerjaan seperti jumlah yang ditolak, kesalahan, kerusakan, material dan sebagainya.
2. Uji Psiko-motor (Psychmotor test)
Pada metode ini melibatkan fungsi persepsi, interpretasi dan reaksi motor.
Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan pengukuran waktu reaksi.
Dalam uji waktu reaksi ini dapat digunakan nyala lampu, denting suara, sentuhan kulit atau goyangan badan. Terjadinya pemanjangan waktu reaksi merupakan petunjuk adanya pelambatan pada proses faal syaraf dan otot.
3. Uji hilangnya kelipan (flicker-fusion test)
Dalam kondisi yang lelah, kemampuan tenaga kera untuk melihat kelipan akan berkurang. Semakin lelah akan semakin panjang waktu yang diperlukan
untuk jarak jauh antara dua kelipan. Uji kelipan disamping untuk mengukur kelelahan juga menunjukkan keadaan kewaspadaan tenaga kerja.
4. Perasaan Kelelahan secara subjektif (Subjective feelings of fatigue)
Subjective Self Rating Test dari Industrial Fatigue Research Committee (IRFC) Jepang, merupakan kuesioner yang dapat untuk mengukur tingkat kelelahan subjektif. Kuesioner tersebut berisi 30 daftar pertanyaan yang terdiri dari :
a. 10 pertanyaan tentang pelemahan kegiatan, meliputi : perasaan berat di kepala, lelah di seluruh badan, berat di kaki, menguap, pikiran kacau,mengantuk, ada bebab pada mata, gerakan canggung dan kaku, berdiri tidak stabil, ingin berbaring.
b. 10 pertanyaan tentang pelemahan motivasi : susah berfikir, lelah untuk bicara, gugup, tifak berkonsentrasi, sulit untuk memusatkan perhatian,mudah lupa, kepercayaan diri berkurang, merasa cemas, sulit mengontrol sikap, tidak tekun dalam pekerjaan.
c. 10 pertanyaan tentang gambaran kelelahan fisik : sakit di kepala, kaku di bahu,nyeri di punggung, sesak nafas, haus, suara serak, merasa pening, spasme di kelopak mata, tremor pada anggota badan, merasa kurang sehat.
Kuesioner ini kemudian dikembangkan dimana jawaban diskoring sesuai empat skla Likert, yaitu Sangat Sering (SS) dengan diberi nilai 4, Sering (S) diberi nilai 3, Kadang-kadang (K) diberi nilai 2, dan Tidak Pernah (TP) dengan diberi nilai 1. Pengukuran dengan metode ini bersifat subjektif. Artinya sangat
bergantung dari jawaban responden yang diteliti. Jawaban tiap pertanyaan dijumlahkan kemudian disesuaikan dengan kategori yang diberikan antara lain :
Nilai 30 : Tidak Lelah Nilai 31-60 : Kelelahan Ringan Nilai 61-90 : Kelelahan Sedan Nilai 91-120 : Kelelahan Berat 2.8 Cara Mengatasi Kelelahan
Kelelahan mudah dicegah atau ditiadakan dengan berhenti bekerja dan beristirahat. Jika tenaga kerja mulai merasa lelah dan tetap ia dipaksa untuk terus bekerja, kelelahan akan semakin bertambah dan kondisi lelah demikian sangat mengganggu kelancaran pekerjaan dan juga berefek buruk kepada tenaga kerja yang bersangkutan. Kelelahan sama halnya dengan lapar ataupun haus yaitu salah satu dari pilar-pilar penting mekanisme penyangga untuk melindungi berlangsungnya kehidupan. Istirahat sebagai usaha pemulihan dapat dilakukan dengan berhenti bekerja yang bervariasi dari istirahat sewaktu-waktu dalam waktu sangat pendek saja sampai dengan tidur malam hari atau cuti panjang dari pekerjaan.
Kelelahan biasanya terjadi hanya sementara dan dapat pulih kembali setelah diberikan istirahat dan energi secukupnya. Jika demikian merupakan kelelahan yang ringan. Tetapi untuk kelelahan yang berat, diperlukan waktu yang lama untuk mengadakan pemulihan kembali dan ada kalanya bahkan diperlukan obat-obatan untuk memulihkan kondisi agar dapat fit kembali (Tarwaka, dalam Lola,2017).
Menurut Suma'mur dalam bukunya Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes) bahwa kelelahan dapat dikurangi bahkan ditiadakan dengan pendekatan berbagai cara yang ditujukan kepada aneka hal yang bersifat umum dan pengelolaan kondisi pekerjaa dan lingkungan kerja di tempat kerja.
Menerapkan jam kerja dan waktu istirahat sesuai dengan ketentuan yang berlaku, pengaturan cuti yang tepat, penyelenggaraan tempat istirahat yang memperhatikan kesegaran fisik dan keharmonisan mental-psikologis, pemanfaatan masa libur dan peluang untuk rekreasi dan lain-lain dapat dilakukan sebagai upaya untuk membantu mencegah timbulnya kelelahan. Monotoni dan stress dalam pekerjaan juga dapat dikurangi dengan dekorasi termasuk dekorasi warna pada lingkungan kerja, penggunaan musik saat bekerja di tempat kerja dan pemanfaatan waktu istirahat untuk latihan fisik yang sesuai bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan sambil duduk atau penyelenggaraan aneka jenis permainan yang dapat menghilangkan kejenuhan dan kelelahan akibat pekerjaan.
2.9 Supir
Sopir atau supir (dari bahasa Perancis: chauffeur) adalah pengemudi profesional yang dibayar oleh majikan untuk mengemudi kendaraan bermotor.
Sopir dibagi dalam dua kelompok yaitu sopir pribadi yang menjalankan kendaraan pribadi dan yang kedua adalah sopir perusahaan yang bekerja untuk perusahaan angkutan penumpang umum seperti taksi, bus, ataupun angkutan barang (Wikipedia).
Dalam Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dijelaskan bahwa pengemudi adalah orang yang mengemudikan
kendaraan bermotor di jalan yang telah memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).
Mengemudi merupakan pekerjaan yang memerlukan konsentrasi dan perhatian penuh. Setiap saat pengemudi bisa menghadapai keadaan yang berbahaya ketika mengemudikan kendaraan dengan cara yang tidak tepat dan benar.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi dalam BAB I pasal 1 disebutkan bahwa pengemudi adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor atau orang yang secara langsung mengawasi calon pengemudi yang sedang belajar mengemudikan kendaraan bermotor.
2.10 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan antar konsep satu terhadap konsep lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Notoadmodjo, 2010).
Adapun yang menjadi variabel independen dan variabel dependen dalam penelitian ini dapat dilihat dari kerangka konsep pada bagian berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Faktor Internal :
1. Umur 2. Masa Kerja 3. Status Gizi
1.
Kelelahan Kerja Faktor Eksternal:
4. Durasi Mengemudi 5. Pencahayaan 6. Suhu
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian cross sectional atau potong lintang yang bertujuan untuk melihat hubungan antara faktor-faktor risiko dengan efek melalui wawancara dan pengumpulan data sekaligus pada waktu yang bersamaan.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di PT. Palapa Travel Center yang berlokasi di Jalan Lintas Barat Sumatera No.148, Hutatoruan VI, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dengan alasan:
1. Belum pernah dilakukan penelitian tentang kelelahan kerja pada supir di PT.
Palapa Travel Center.
2. Adanya kemudahan perizinan yang diberikan oleh PT. Palapa Travel Center.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari - Mei 2018.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2010). Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh supir yang bekerja di PT. Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung dengan jumlah keseluruhan sebanyak 37 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2010). Pada penelitian ini pengambilan besar sampel ditentukan dengan total sampling dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel penelitian yaitu sebanyak 37 orang.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari pengemudi melalui wawancara dengan menggunakan alat bantu berupa kuesioner yang memuat beberapa pertanyaan seperti data diri pengemudi, usia, , masa kerja, status gizi, durasi mengemudi, pencahayaan, suhu kerja dan kuesioner gejala kelelahan yang dirasakan oleh pengemudi.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari PT. Palapa Travel Center yang berhubungan dengan pekerja seperti gambaran umum PT.Palapa Travel Center dan jumlah pengemudi guna penentuan sampel serta data-data pendukung lainnya yang berkaitan dengan tingkat kelelahan pengemudi yang diperoleh dari berbagai literatur seperti buku, jurnal, artikel,dan sebagainya.
3.5 Variabel dan Defenisi Operasional 3.5.1 Variabel Penelitian
1. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya kelelahan yaitu umur, masa kerja, status gizi, durasi mengemudi, pencahayaan dan suhu.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kelelahan kerja.
3.5.2 Defenisi Operasional
Defenisi Operasional dalam penelitian ini adalah
1. Kelelahan kerja adalah perasaan berupa gejala yang bersifat subjektif yang dirasakan karena pekerjaan yang diukur dengan subjective self rating test dari Industrial Research Fatique Committee (IFRC).
2. Umur adalah jumlah tahun hidup supir PT.Palapa Travel Center yang dihitung berdasarkan tahun lahir sampai waktu penelitan dilakukan.
3. Masa kerja adalah jangka waku lama bekerja (tahun) yang dihitung berdasarkan mulai bekerja sebagai supir di PT. Palapa Travel Center sampai waktu penelitian dilakukan.
4. Status Gizi adalah keadaan gizi supir PT. Palapa Travel Center yang dinyatakan dengan Indeks Masa Tubuh.
5. Durasi mengemudi merupakan lamanya waktu mengemudi yang digunakan supir dalam satu hari kerja yang dihitung berdasarkan perkalian jumlah rotasi dengan waktu tempuh dalam 1 kali rotasi dengan satuan jam.
6. Pencahayaan adalah sumber cahaya yang dapat menerangi supir selama mengemudi baik itu penerangan alamiah yang berasal dari cahaya sinar matahari maupun penerangan buatan yang berasal dari lampu.
7. Suhu adalah keadaan panas atau dingin yang dirasakan supir dari lingkungan kerjanya selama mengemudi.
3.6 Metode Pengukuran
3.6.1 Pengukuran Variabel Dependen
Variabel Dependen dari penelitian ini adalah kelelahan kerja yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner kelelahan secara subyektif (Subjective Self Rating Test) dari Industrial Fatigue Research Committe (IFRC). Metode ini merupakan pengukuran subyektif yang terdiri dari 30 daftar pertanyaan. 10 pertanyaan pertema tentang pelemahan kegiatan, 10 pertanyaan kedua tentang pelemahan motivasi dan 10 pertanyaan terakhir tentang gambaran kelelahan fisik.
Kuesioner ini kemudian dikembangkan dimana jawaban kuesioner di skoring sesuai empat skala Likert yaitu Sangat Sering (SS) dengan diberi nilai 4, Sering
(S) diberi nilai 3 , Kadang-kadang (K) diberi nilai 2, dan Tidak Pernah (TP) dengan diberi nilai 1. Dalam menentukan tingkat kelelahan, jawaban tiap pertanyaan dijumlahkan kemudian disesuaikan dengan kategori tertentu. Kategori yang diberikan antara lain :
Nilai 30 : Tidak Lelah Nilai 31-60 : Kelelahan Ringan Nilai61-90 : Kelelahan Sedang Nilai 91-120 : Kelelahan Berat
3.6.2 Pengukuran Variabel Independen 1. Umur
Data mengenai umur pekerja diperoleh dengan cara wawancara langsung pada pekerja dengan menggunakan alat ukur melalui kuesioner. Penilaian umur yang merupakan skala ordinal dikelompokkan menjadi 2 kategori antara lain :
1 = ≥ Nilai Median (Tahun) 2 = < Nilai Median (Tahun)
2. Masa Kerja
Data mengenai masa kerja pekerja diperoleh dengan cara wawancara langsung pada pekerja dengan menggunakan alat ukur melalui kuesioner. Penilaian masa kerja yang merupakan skala ordinal dikelompokkan menjadi 2 kategori antara lain:
1 = ≥ Nilai Median (Tahun) 2 = < Nilai Median (Tahun)
3. Status Gizi
Data mengenai status gizi pekerja diperoleh dengan mengukur secara langsung Berat Badan(BB) dan Tinggi Badan (TB) untuk mendapatkan Indeks Masa Tubuh (IMT) pekerja. Dimana untuk data Berat Badan dilakukan dengan cara melakukan penimbangan berat badan langsung menggunakan timbangan badan dan untuk data Tinggi Badan dilakukan dengan cara pengukuran tinggi badan secara langsung menggunakan meteran yang kemudian mencatat hasil pengukuran tinggi dan berat badan tersebut.
Adapun pengukuran untuk Indeks Masa Tubuh (IMT) adalah sebagai berikut:
Hasil untuk perhitungan Indeks Masa Tubuh berdasarkan hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan kemudian dikelompokkan berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar Kemenkes Tahun 2013 menjadi 4 kategori antara lain :
1. Kurus apabila IMT < 18,5
2. Normal apabila IMT ≥18,5 - <24,9 3. Kegemukan apabila IMT ≥ 25,0 - <27,0 4. Obesitas apabila IMT ≥27,0
4. Durasi Mengemudi
Data mengenai durasi mengemudi pekerja pekerja diperoleh dengan cara wawancara langsung pada pekerja dengan menggunakan alat ukur melalui kuesioner. Penilaian durasi mengemudi yang merupakan skala ordinal
dikelompokkan berdasarakan Peraturan Pemerintah RI Nomor 44 Tahun 1993 Pasal 240 menjadi 2 kategori antara lain :
1. ≥ 8 Jam 2. < 8 Jam
5. Pencahayaan
Persepsi mengenai pencahayaan yang dirasakan pekerja selama mengemudi diperoleh dengan cara wawancara langsung pada pekerja dengan menggunakan alat ukur melalui kuesioner persepsi. Penilaian pencahayaan yang merupakan skala ordinal dikelompokkan menjadi 2 kategori antara lain:
1.Tidak Nyaman 2.Nyaman
6. Suhu
Persepsi mengenai suhu yang dirasakan oleh pekerja selama mengemudi diperoleh dengan cara wawancara langsung pada pekerja dengan menggunakan alat ukur melalui kuesioner persepsi. Penilaian suhu yang merupakan skala ordinal dikelompokkan menjadi 2 kategori antara lain :
1. Tidak Nyaman 2. Nyaman
3.7 Metode Analisis Data 3.7.1 Pengolahan Data
Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan, diolah sesuai tujuan dan kerangka konsep penelitian. Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan tahap-tahap sebagai berikut (Soekidjo Notoatmodjo, 2014) :
1. Editing, kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner tersebut. Apakah lengkap, apakah jawaban jelas, relevan dan konsisten dengan pertanyaan. Apabila ada jawaban-jawaban yang belum lengkap, jika memungkinkan perlu dilakukan pengambilan data ulang untuk melengkapi jawaban-jawaban tersebut. Tetapi apabila tidak memungkinkan, maka pertanyaan yang jawabannya tidak lengkap tidak diolah atau dimasukkan dalam pengolahan
"data missing".
2. Coding, mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Koding atau pemberian kode sangat berguna dalam memasukan data (data entry).
3. Entry Data, dimana jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk 'kode (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program atau
"software" komputer untuk dianalisis.
4. Cleaning (Pembersihan Data) , merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat mengentry data ke komputer.
3.7.2 Uji Validitas dan Realibilitas
Uji validitas dan reliabilitas bertujuan untuk mengetahui apakah kuesioner tentang suatu variabel mampu mengukur apa yang hendak diukur. Penelitian ini terlebih dahulu melakukan uji validitas dan realibilitas di lokasi yang berbeda dari lokasi penelitian untuk mengukur variabel independen pencahayaan dan suhu. Uji dilakukan pada PT. KBT yang trayeknya sama dengan sampel penelitian yaitu trayek dari Medan ke Tarutung.
a. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran untuk melihat seberapa besar tingkat ketepatan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2011). Pengujian validitas dilakukan untuk mengetahui item kuesioner yang valid maupun tidak valid yang berpengaruh pada dapat atau tidaknya item kuesioner tersebut digunakan dalam penelitian. Pengujian validitas dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan dengan rumus korelasi Pearson Product Moment (r) kemudian membandingkan antara nilai korelasi atau r hitung dari variabel penelitian dengan r tabel. Nila R-tabel yang digunakan adalah 0,361 karena jumlah responden yang akan diuji sebanyak 30 orang. Apabila nilai r hitung > r tabel (0,361) maka Ho ditolak yang berati variabel valid. Sebaliknya apabila r hitung < r tabel maka Ho gagal ditolak, berarti variabel tidak valid.
Jumlah pertanyaan dalam instrumen yang akan diuji sebanyak 6 pertanyaan yang berkaitan mengenai persepsi pencahayaan dan suhu yang dirasakan supir saat mengemudi. Uji Validitas didapatkan hasil bahwa nilai r-hitung > r -tabel yang artinya setiap pertanyaan dalam instrumen dinyatakan valid.
b. Uji Realibilitas
Uji Reabilitas dilakukan setelah item kuesioner sudah valid. Sugiyono (2011), menyatakan bahwa suatu instrumen dikatakan reliabel atau konsisten jika digunakan beberapa kali utntuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data atau jawaban yang sama. Pengujian realibilitas dapat dilakukan dengan menggunakan rumus statistik cronbach alpha keseluruhan dengan membandingkan nilai r tabel dengan nilai r hasil (nilai alpha). Apabila r alpha > r tabel maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel. Namun apabila r alpha < r tabel makan instrumen tersebut tidak reliabel.
Jumlah pertanyaan dalam instrumen yang akan diuji sebanyak 6 pertanyaan yang berkaitan mengenai persepsi pencahayaan dan suhu yang dirasakan supir saat mengemudi. Uji realibilitas didapatkan hasil bahwa nilai r-alpha> r -tabel yang artinya setiap pertanyaan dalam instrumen dinyatakan reliabel.
3.7.3 Analisis Data
1. Analisis Univariat, bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Persentase ini disajikan dalam bentuk tabel untuk menggambarkan tiap masing-masing variabel.
Variabelnya adalah umur, status gizi, masa kerja, durasi mengemudi dan pencahayaan, suhu dan kelelahan kerja.
2. Analisis Bivariat yaitu analisis lanjutan yang dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen (usia, status gizi, masa kerja, durasi mengemudi, pencahayaan dan suhu) terhadap variabel dependen (kelelahan kerja)
menggunakan Uji Chi-Square dengan derajat kepercayaan yang digunakan adalah 95% (α=0,05). Uji ini dipilih karena skala variabel yang diuji berupa skala kategorik daan kategorik. Jika p-value lebih kecil dari α (p< 0,05), artinya terdapat hubungan yang bermakna (signifikan) dari kedua variabel yang diteliti. Bila p-value lebih besar α (p> 0,05) artinya tidak terdapat hubungan bermakna antara kedua variabel yang diteliti (Saryono, 2013).
42
4.1 Gambaran Umum PT.Palapa Travel Center
PT.Palapa Travel Center adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelayanan transportasi. Tujuan utama didirikannya perusahaan ini adalah untuk membuka lapangan kerja baru yang sesuai dengan talenta dan keterampilan masyarakat dari daerah Tarutung dan sekitarnya terkhusus dalam hal mengemudi.
PT.Palapa Travel Center didirikan pada tanggal 13 Mei 2013 dihadapan Notaris Ferry Susanto Limbong, SH, M.Hum, Ependi Patar Panusunan Purba selaku direktur. Izin perusahaan didukung oleh Surat Keputusan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara Nomor: 551.21/3362/R/PHB/2013 Tentang Izin Trayek Angkutan antar jemput dalam provinsi AN PT. Palapa Travel Center, Keputusan Gubernur KDH TK.I Sumatera Utara Nomor: 188.341/244/K/Tahun 1998 tentang Petunjuk Pelaksaan Perda Nomor 19 Tahun 1998 tentang Retribusi izin Trayek. Perusahaan ini menyediakan jasa pengangkutan dengan jenis armada executive L-300 dan berlokasi di Jalan Lintas Barat Sumatera No.148, Hutatoruan VI, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. PT.Palapa Travel Center beroperasi setiap hari senin-minggu dimulai dari jam 03.30 -23.00 WIB. Jumlah supir yang bekerja saat ini sebanyak 37 orang dan memiliki 37 armada mobil yang sering digunakan.
4.2 Gambaran Umum Jalan Trayek Medan-Tarutung
Jalan Medan - Tarutung merupakan jaringan jalan 2 arah dan memiliki 2 jalur dengan lebar jalan ±7 meter dan panjang jalannya ±277 km dengan kondisi
pjaringan jalan yang baik. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan diperoleh jalur gerak (rute) angkutan umum Medan ke Tarutung yaitu Stasiun Medan (Amplas) - Tanjung Morawa - Lubuk Pakam - Perbaungan - Sei Rampah - Tebing Tinggi - Pematangsiantar - Parapat - Porsea - Balige - Siborong-borong - Tarutung. Rute yang sama juga dilalui apabila menuju Medan dari Tarutung.
4.3 Karakteristik Supir PT.Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung Tahun 2018
4.3.1 Distribusi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung Tahun 2018 berdasarkan Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan kerja seseorang karena dengan usia seseorang dapat mengubah kapasitas atau kemampuan seseorang dalam bekerja. Berdasarkan hasil penelitian distribusi frekuensi usia supir dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung Tahun 2018 Berdasarkan Usia
No. Usia (Tahun) Frekuensi (Orang) Persentase (%)
1. 25 1 2,7
18. 50 2 5,4 usia supir yang paling tua adalah 67 tahun. Usia supir tersebut dapat dikategorikan menurut nilai median yaitu ≥44 tahun dan <44 tahun Maka distribusi frekuensi berdasarkan kategori usia supir dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung Tahun 2018 Berdasarkan Kategori Usia
No Usia (Tahun) Frekuensi (Orang) Persentase (%)
1. ≥ 44 20 54,1
2. < 44 17 45,9
Total 37 100
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jumlah supir berdasarkan usia
≥ 44 tahun berjumlah 20 orang (54,1%) dan usia <44 tahun berjumlah 17 orang (45.9%).
4.3.2 Distribusi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung Tahun 2018 berdasarkan Status Gizi/IMT
Status gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kelelahan pekerja karena berkaitan dengan kesehatan dan daya kerja. Berdasarkan
hasil penelitian diperoleh distribusi status gizi supir yang diukur dari Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung Tahun 2018 Berdasarkan Kateogri Status Gizi/IMT
No Status Gizi/IMT (Kg/m2) Frekuensi (Orang) Persentase (%)
1. Kurus (<18,5) 6 16
2. Normal (≥18,5 - <24,9) 24 65
3. Kegemukan (≥25 - 27) 4 11
4. Obesitas (≥27) 3 8
Total 37 100
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa status gizi supir yang dilihat dari indeks massa tubuh diketahui bahwa supir yang termasuk dalam kategori IMT kurus berjumlah 6 orang (16,2%), IMT kategori normal berjumlah 24 orang (64,9%), IMT kategori kegemukan berjumlah 4 orang (10,8%) dan supir yang termasuk IMT kategori obesitas berjumlah 3 orang (8,1%). Status gizi dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu normal bila IMT ≥18,5 - <24,9 kg/m2 dan tidak normal bila IMT <18,5kg/m2 ; ≥25 kg/m2.
4.3.3 Distribusi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung Tahun 2018 berdasarkan Masa Kerja
Masa kerja ialah suatu akumulasi waktu seseorang dalam menekuni pekerjaannya dan juga merupakan faktor lain yang mempengaruhi terjadinya kelelahan. Berdasarkan hasil penelitian distribusi masa kerja dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek Medan-Tarutung Tahun 2018 Berdasarkan Masa Kerja
No Masa Kerja PT.Palapa Travel Center Tahun 2018 yang paling singkat adalah 1 tahun dan masa kerja supir yang paling lama adalah 5 tahun. Masa kerja supir tersebut dapat dikategorikan menurut nilai median yaitu ≥2,5 tahun dan <2,5 tahun. Maka distribusi frekuensi berdasarkan kategori masa kerja supir dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Supir PT.Palapa Travel Center Trayek