BAB II : KAJIAN PUSTAKA
2.2 Kajian Teoritis
2.2.8 Pengukuran Kepuasan Kerja
27
2.2.9. Perbedaan Tingkat Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda:
2.2.9.1. Pekerja muda
Pekerja muda yang baru masuk di dalam sistem perusahaan cenderung mempunyai kepuasan kerja yang lebih kecil bila dibandingkan pekerja yang sudah lama bekerja di tempat yang sama. Ada beberapa alasan yang mendasari pernyataan ini, antara lain: Pertam, Pekerja muda yang baru masuk cenderung memiliki harapan yang tinggi pada suatu perusahaan tempat dia akan bekerja, akan tetapi hal ini dapat tidak terpuaskan apabila pekerjaan yang dia terima tidak sesuai dengan pengharapannya; Kedua, Para lulusan mahasiswa baru cenderung mempunyai kualitas kerja yang lebih (overqualified).
2.2.9.2. Blue-collar workers
Mereka cenderung tidak percaya bahwa banyak terdapat kesempatan kerja yang tersedia, baik untuk mereka sendiri ataupun untuk anak mereka. Walaupun mereka mempunyai pendidikan yang lebih baik, akan tetapi kesempatan mereka diambil alih oleh pekerja muda.
Meningkatkan kualitas karyawan akan meningkatkan produktivitas kerja mereka dan pada akhirnya meningkatkan laba
29
perusahaan. Kuswadi (2004: 54-55) berpendapat ukuran kepuasan karyawan merupakan langkah pertama yang krusial untuk sebagian besar kepuasan perusahaan dan program-program loyalitas. Para karyawan merupakan titik temu antara merek perusahaan dan pelanggan. Karyawan yang tidak puas sering mengakibatkan pelanggan tidak puas.
2.2.10. Teori Kepuasan Kerja
Menurut Wexley dan Yukl (1977) teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga macam yang lazim dikenal:
2.2.10.1. Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory) Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya. Kepuasan akan dirasakan olehindividu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar.
2.2.10.2. Teori Keadilan (Equity Theory)
Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupunditempat lain.
2.2.10.3. Teori Dua – Faktor (Two Factor Theory)
Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda.
Menurut teori ini, karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators.
2.2.11. Kepuasan Kerja dalam Pandangan Islam
Sesuai dengan kodratnya, kebutuhan manusia sangat beraneka ragam, baik jenis maupun tingkatnya, bahkan manusia memiliki kebutuhan yang cenderung tidak terbatas. Artinya, kebutuhan selalu bertambah dari waktu ke waktu dan manusia selalu berusaha dengan segala kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Kebutuhan manusia diartikan sebagai segala sesuatu yang ingin dimilikinya, dicapai dan dinikmati. Untuk itu
31
manusia terdorong untuk melakukan aktivitas yang disebut dengan kerja.
Islam memandang kepuasan kerja seseorang bukan dari aspek keduniawian saja tetapi aspek ukhrawi juga diperhatikan. Di dalam bekerja seorang muslim harus bersikap ikhlas dan bersungguh-sungguh (ikhsan) dan berniat karena Allah, maka dengan memastikan perkara tersebut sudah terpenuhi maka akan melahirkan perasaan puas terhadap apa yang sudah dikerjakan dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Selain dari faktor pekerja yang bersangkutan, sokongan atau dorongan dari pemimpin seperti pujian, gaji yang setimpal, pendekatan, dan lainya juga sangat mempengaruhi psikologi seorang pekerja. Justru kepuasan kerja di dalam Islam menekankan kepada kepuasan rohani dan jasmani, hal tersebut dapat dilihat dalam Al-Quran QS.
Al-Baqarah:83 yang berbunyi:
“Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.
Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”. (QS. Al-Baqarah:83)
Al Banna mengungkapkan (1997:387) Parameter kepuasan dalam ekonomi Islam bukan hanya terbatas pada benda-benda konkrit (materi), tapi juga tergantung pada sesuatu yang bersifat abstrak, seperti amal shaleh yang manusia perbuat. Kepuasan dapat timbul dan dirasakan oleh seorang manusia muslim ketika harapan mendapat kredit poin dari Allah SWT melalui amal shalehnya semakin besar.
Dari pernyataan diatas menegaskan bahwa ruang lingkup keilmuan ekonomi Islam lebih luas dibandingkan dengan ekonomi konvensional. Ekonomi Islam bukan hanya berbicara tentang pemuasan materi yang bersifat fisik, tapi juga berbicara cukup luas tentang pemuasan materi yang bersifat abstrak, pemuasan yang lebih berkaitan dengan posisi manusia sebagai hamba Allah SWT.
Hal ini dipertegas dengan adanya firman Allah dalam surat (Lukman 31:20) yang berbunyi:
33
„Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan‟.
Dengan adanya konsep keislaman ini diharapkan kedepannya para pekerja khususnya yang Muslim bisa lebih sejahtera dan lebih total dalam bekerja.
2.2.12. Model Konsep
Secara keseluruhan, model konsep penelitian ini disusun sebagaimana gambar berikut:
Gambar 2.1 Model Konsep
Sumber: Diolah Berdasarkan Kajian Teori
2.2.13. Hipotesis Penelitian
Rumusan masalah penelitian ini terdiri dari lima rumusan masalah. Dua rumusan masalah pertama bersifat non-hypothetic dan akan dijawab dengan statistik deskriptif, sedangkan tiga rumusan sesudahnya bersifat hipotetik dan akan dijawab dengan uji beda. Jadi, hipotesis penelitian untuk tiga rumusan masalah terkahir adalah sebagai berikut:
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK
IBRAHIM
Karyawan Kontrak (Non PNS)
Motivasi
Karyawan Tetap (PNS)
Kepuasan Kerja
Motivasi
Kepuasan Kerja
35
2.2.11.1. Ho: Tidak ada perbedaan motivasi antara karyawan tetap dan karyawan kontrak di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Ha : Ada perbedaan antara motivasi antara karyawan tetap dan karyawan kontrak di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
2.2.11.2. Ho: Tidak ada perbedaan kepuasan kerja antara karyawan tetap dan karyawan kontrak di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Ha: Ada perbedaan kepuasan kerja antara karyawan tetap dan karyawan kontrak di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.