D. Konsep Kinerja Organisasi
3. Pengukuran Kinerja Organisasi Lembaga Pendidikan
Ada beragam parameter yang bisa digunakan sebagai rujukan untuk mengukur kinerja sebuah organisasi, baik kinerja organisasi secara umum maupun kinerja organisasi sekolah atau lembaga pendidikan. Munculnya keragaman tersebut karena adanya berbagai alternatif alokasi sumber daya yang berbeda, alternatif desain organisasi yang berbeda, serta pilihan pendistribusian tugas dan wewenang yang berbeda pula pada setiap organisasi.
Whittaker, menyatakan bahwa pengukuran kinerja organisasi adalah suatu alat manajemen yang digunakan dalam meningkatkan
kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas.205 Sementara itu Stout
dalam Tangkilisan, menyatakan bahwa pengukuran kinerja organisasi sebagai sebuah proses mencatat dan mengukur sejauh mana pelaksanaan kegiatan dalam rangka pencapaian misi, yang diperlihatkan lewat
hasil-hasil berupa produk, jasa ataupun suatu proses.206
204Tika Moh. Pabundu, Budaya Organisasi…, hlm. 122
205James B. Whittaker, The Government Performance and Result Act of 1993, (Washington DC: GAO, 1996), hlm. 171
206
Sangat penting bagi suatu organisasi untuk mengukur kinerjanya, karena hal tersebut akan mendorong tercapainya tujuan organisasi dan akan memberikan umpan balik untuk langkah perbaikan secara berkesinambungan. Oleh karena itu, sistem pengukuran kinerja harus dibangun sebaik-baiknya dan sedemikian rupa sehingga diperoleh
informasi tentang kinerja sebanyak dan seakurat mungkin.207
Kinerja bersifat multidimensional akan bias jika diukur dengan
menggunakan pengukuran atau standar tunggal.208 Sehingga, secara
umum kinerja diukur berdasarkan perbandingan dengan berbagai kriteria
atau standar.209 Sebab, penggunaan ukuran yang semakin banyak, akan
memberikan informasi kinerja yang semakin baik.210 Kesalahan dalam
menetapkan ukuran kinerja, akan berdampak pada kesalahan informasi tentang kinerja. Maka, langkah awal dalam merancang sistem pengukuran kinerja adalah memilih ukuran-ukuran yang tepat, sesuai
dengan seluruh aspek dan kepentingan organisasi.211
Bastian, berpendapat bahwa pengukuran kinerja organisasi melalui enam aspek, yaitu: finansial, kepuasan pelanggan, operasi bisnis internal, kepuasan pegawai, kepuasan komunitas dan stakeholder, serta
207Indra Bastian, Akuntansi Sektor Publik di Indonesia, (Yogyakarta: BPFE, 2001), hlm. 330
208
Mingfang Li & Roy L. Simerly, “The Moderating Effect of Environmental Dynamism on the Ownership and Performance Relationship”, Strategic Management Journal, 19 (1998), hlm. 169-179.
209Johan Wiklund, The Sustainability of the Entrepreneurship Orientation Performance Relationship, Entrepreneurship Theory and Practice, (t.t.: Baylor University, 1999), hlm. 37-55
210G.T. Lumkin & G.G. Dess, “Clarifying the Entrepreneurial Orientation Construct and Lingking it to Perormance”, Academy of Management Review, 21 (1996), hlm. 135-172.
211Charles H. Brandon & Ralph E. Drtina, Management Accounting Strategy and Control, (Canada: Mc. Graw-Hill Companies, Inc., 1998), hlm. 77
waktu.212 Sementara itu Dwiyanto, et al., mengemukakan tingkat kinerja organisasi diukur dari produktivitas, orientasi kualitas layanan kepada
pelanggan, responsivitas, dan akuntabilitas.213 Lusthaus, et al.,
menyatakan bahwa pengukuran kinerja organisasi melalui dimensi
efektivitas, efisiensi, relevansi, dan kesinambungan keuangan.214 Senada
dengan apa yang disampaikan oleh Nurkolis, bahwa kinerja sekolah dapat diukur melalui efektivitas, kualitas, produktivitas, efisiensi,
inovasi, kualitas kehidupan, dan moral kerja.215
Ammons dalam Muhammad, menjelaskan kinerja organisasi dapat diukur melalui kriteria workload (jumlah beban kerja yang diselesaikan), efficiency (perbandingan antara input dan output), effectiveness (perbandingan antara output dan outcome yaitu tingkat ketercapaian hasil akhir setelah output diperoleh), dan productivity
(jumlah hasil yang dicapai pada kurun waktu tertentu).216
Ada tiga dimensi yang digunakan oleh Fenwick dalam Muhammad, untuk mengukur kinerja organisasi, yaitu ekonomis, efisiensi, dan efektivitas. Dimensi ekonomis merupakan perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dan kualitas sumber daya yang diperoleh sebagai input dalam proses manajemen. Dimensi efisiensi adalah perbandingan antara sumber daya yang digunakan dan output yang
212Indra Bastian, Akuntansi Sektor…, hlm. 331-332
213Agus Dwiyanto, et al., Reformasi Birokrasi di Indonesia, (Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, 2002), hlm. 48-49
214Charles Lusthaus, et al., Enhancing Organizational…, hlm. 46
215Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model, dan Aplikasi, (Jakarta: Grasindo, 2003), hlm. 111
216
dihasilkan. Semakin besar output yang dihasilkan dan semakin kecil input yang masuk akan semakin efisien. Dimensi efektivitas adalah sejauhmana output yang dihasilkan dapat memenuhi sasaran dan tujuan manajemen. Jadi, besarnya output tidak selalu menunjukkan besarnya
outcome karena berhubungan dengan sasaran dan tujuan. Meskipun
Fenwick membedakan ukuran ekonomis dari efisiensi, namun kedua
ukuran tersebut sering digabung menjadi efisiensi saja.217
Dari berbagai uraian di atas terlihat jelas betapa banyak dimensi yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk mengukur kinerja organisasi. Maka, dalam menilai kinerja organisasi hendaknya dikembalikan kepada tujuan atau alasan dibentuknya suatu organisasi.
Sekolah atau lembaga pendidikan merupakan organisasi yang tugas utamanya adalah memberikan layanan pendidikan bermutu kepada masyarakat, tidak terkecuali Pondok Pesantren, baik modern maupun tradisional (salaf). Oleh karena itu, pemerintah telah menetapkan Standar Pendidikan Nasional sebagai pijakan untuk mengukur kinerja sekolah atau lembaga pendidikan. Dengan memperhatikan berbagai pendapat para ahli tentang dimensi pengukuran kinerja organisasi, maka pengukuran kinerja organisasi Pondok Pesantren Modern dalam penelitian ini merujuk kepada Standar Pendidikan Nasional, sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 19 Tahun 2005. Ada delapan Standar Pendidikan Nasional yang dapat dijadikan sebagai pijakan dalam
217
mengukur kinerja organisasi lembaga pendidikan, sebagaimana tertuang
dalam Pasal 2 Ayat 1.218
Kedelapan standar tersebut adalah standar isi (kurikulum), standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
a. Dimensi kurikulum didefinisikan sebagai kelengkapan dokumen kurikulum yang ada di lembaga pendidikan, meliputi dokumen kurikulum, dokumen perangkat kurikulum, dokumen pendukung perangkat kurikulum.
b. Dimensi proses pembelajaran didefinisikan sebagai pelaksanaan pembelajaran di lembaga pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan, meliputi perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan pelaksanaan pembelajaran.
c. Dimensi kompetensi lulusan, didefinisikan sebagai kualifikasi kemampuan lulusan berupa prestasi akademik dan prestasi non akademik.
d. Dimensi penilaian, didefinisikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.
218Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
e. Dimensi pendidik dan tenaga kependidikan didefinisikan sebagai kualifikasi dan kualitas kinerja guru, tenaga administrasi, tenaga laboran, dan tenaga kebersihan.
f. Dimensi sarana dan prasarana didefinisikan sebagai kualitas dan
kuantitas fasilitas pendidikan untuk menunjang fasilitas pembelajaran. Dimensi ini meliputi sarana fisik, media pembelajaran, alat peraga/praktek, dan perpustakaan.
g. Dimensi pengelolaan didefinisikan sebagai aktivitas
merencanakan program, implementasi rencana kerja, serta
pengawasan, untuk mencapai efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
h. Dimensi pembiayaan didefinisikan sebagai efektivitas dan efisiensi penggunaan biaya pendidikan untuk membiayai kegiatan operasi satuan pendidikan agar dapat berlangsungnya kegiatan pendidikan secara teratur dan berkelanjutan.