BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
2.1. Landasan Teori 1. Konsep Efisiensi
2.1.5 Pengukuran Kinerja Value for Money (Efisiensi dan Efektivitas)
Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi pemerintah. Kinerja pemerintah tidak dapat dinilai dari sisi output yang dihasilkan saja, akan tetapi harus mempertimbangkan input, output, dan outcome secara bersama-sama (Mardiasmo, 2009 : 127).
Kriteria pokok yang mendasari pelaksanaan manajemen publik dewasa ini adalah: ekonomi, efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas publik. Tujuan yang dikehendaki oleh masyarakat mencakup pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan value for money yaitu ekonomis (hemat cermat) dalam pengadaan dan alokasi sumber daya, efisien (berdaya guna) dalam penggunaan sumber daya dalam arti penggunaannya diminimalkan dan hasilnya dimaksimalkan (maximizing benefits and minimazing costs), serta efektif (berhasil guna) dalam arti mencapai tujuan dan sasaran (Mardiasmo, 2009 : 130).
Pengukuran kinerja berdasarkan indikator alokasi biaya (ekonomi dan efisiensi) dan indikator kualitas pelayanan. Dengan demikian teknik ini sering disebut dengan pengukuran 3E yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
1. Ekonomi adalah hubungan antara pasar dan masukan (cost of input). Pengertian ekonomi (hemat/tepat guna) sering disebut kehematan yang mencakup juga pengelolaan secara hati-hati atau cermat (prudency) dan tidak
xvi
ada pemborosan. Suatu kegiatan perasional dikatakan ekonomis jika dapat menghilangkan atau mengurangi biaya yang tidak perlu.
2. Efisiensi (daya guna) mempunyai pengertian yang berhubungan erat dengan konsep produktivitas. Pengukuran efisiensi dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan (cost of output). Proses kegiatan operasional dapat dikatakan efisien apabila suatu produk atau hasil kerja tertentu dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya dan dana yang serendah-rendahnya (spending well). Jadi, pada dasarnya ada pengertian yang serupa antara efisiensi dan ekonomi karena kedua-duanya menghendaki penghapusan atau penurunan biaya (cost reduction).
3. Efektivitas (hasil guna) merupakan hubungan antara keluaran dengan tujuan atau sasaran yang harus dicapai. Pengertian efektivitas ini pada dasarnya berhubungan dengan pencapaian tujuan atau target kebijakan. Kegiatan operasional dikatakan efektif apabila proses kegiatan mencapai tujuan dan sasaran akhir kebijakan (spending wisely).
Indikator efisiensi dan efektivitas harus digunakan secara bersama-sama. Karena di satu pihak, mungkin pelaksanaanya sudah dilakukan secara ekonomis dan efisien akan tetapi output yang dihasilkan tidak sesuai dengan target yang diharapkan. Sedang di pihak lain, sebuah program dapat dikatakan efektif dalam mencapai tujuan, tetapi mungkin dicapai dengan cara yang tidak ekonomis dan efisien. Jika program dapat dilakukan dengan efisien dan efkektif maka program tersebut dapat dikatakan cost-effectivenes (Mahsun, 2009 : 181-182).
xvi
Gambar 2.1
Pengukuran Value for Money
1. Pengukuran Tingkat Efisiensi
Efisiensi merupakan hal penting dari ketiga pokok bahasan value for money. Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin besar output dibanding input, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi (Mardiasmo, 2009 : 133). Menurut Mahmudi dalam Halim dan Kusufi mengatakan ukuran efisiensi mengukur seberapa baik organisasi mampu memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk menghasilkan output (Halim & Kusufi, 2014 : 129).
Indikator efisiensi menggambarkan hubungan antara masukan sumber daya oleh suatu unit organisasi (misalnya staff, upah, biaya administratif) dan keluaran yang dihasilkan indikator tersebut memberikan informasi tentang konversi masukan menjadi keluaran (yaitu efisiensi dari proses internal) (Halim & Kusufi, 2014 : 130).
Input Value Input Proses Output Outcome Tujuan
EKONOMI
Cost-Effectiveness
xvi
Mengukur tingkat input dari organisasi sektor publik terhadap tingkat outputnya sektor publik. Pengukuran tingkat efisiensi memerlukan data-data realisasi biaya untuk memperoleh pendapatan dan data realisasi pendapatan. Berikut formula untuk mengukur tingkat efisiensi (Mahsun, 2009 : 187) :
Tingkat efisiensi :
Kriteria Efisiensi adalah :
a. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (x<100%) berarti efisien.
b. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x=100%) berarti efisiensi berimbang.
c. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x>100%) berarti tidak efisien.
2. Pengukuran Tingkat Efektivitas
Efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya. Apabila suatu organisasi berhasil mencapai tujuan, maka organisasi tersebut telah berjalan dengan efektif. Efektivitas hanya melihat apakah suatu program atau kegiatan telah mencapai kegiatan yang telah ditetapkan. Pengukuran efektivitas mengukur hasil akhir dari suatu pelayanan dikaitkan dengan outputnya (Cost of outcome).
Indikator efektivitas menggambarkan jangkauan akibat dan dampak (outcome) dari keluaran (output) program dalam mencapai tujuan program. Semakin kontribusi output yang dihasilkan berperan terhadap pencapaian tujuan atau sasaran yang ditentukan, maka semakin efektif proses kerja suatu unit
xvi
organisasi. Pengukuran efektivitas bisa dilakukan hanya dengan mengukur outcome. Suatu pelayanan mungkin dilakukan secara efisien, namun belum tentu efektif jika pelayanan tersebut tidak menambah nilai bagi pelanggan. Oleh karena itu, indikator efisiensi dan efektivitas harus digunakan secara bersama-sama. Jika suatu program dinyatakan efektif dan efisien, maka program tersebutdapat dikatakan cost-effectiveness (Halim & Kusufi, 2014 : 130).
Efektivitas kinerja keuangan merupakan hasil dari nilai kinerja outcome dengan nilai kinerja output. Pengukuran tingkat efektivitas kinerja memerlukan data-data realisasi pendistribusian dana zakat dan target pendistribusian dana zakat. Analisis tingkat efektivitas kinerja dapat dirumuskan sebagai berikut (Mahmudi, 2007 : 111) :
Menurut Mahsun (2009 : 187-188) kriteria efektivitas adalah :
a. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (x<100%) berarti tidak efektif. b. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x=100%) berarti efektivitas
berimbang.
c. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x>100%) berarti efekktif.
Pengukuran efektivitas ini dapat juga mengacu pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900.327 Tahun 1996. Berikut kriteria penilaian efektivitas berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900.327 Tahun 1996:
xvi Tabel 2.2
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900.327 Tahun 1996
Persentase Kinerja Keuangan Kriteria
Diatas 100% Sangat Efektif
90% - 100% Efektif
80% - 90% Cukup Efektif
60% - 80% Kurang Efektif
Kurang dari 60% Tidak efektif
Sedangkan menurut Mahmudi, kriteria dalam mengukur efektivitas kinerja lembaga sektor publik adalah seperti pada tabel berikut :
Tabel 2.3
Menilai Pencapaian Efektivitas Kinerja
Nilai Kinerja Keterangan
≥ 100% Efektif
85 s.d. 99% Cukup Efektif
65 s.d. 84% Kurang Efektif
xvi 2.2. Penelitian Yang Relevan
Tabel 2.4
Penelitian Yang Relevan Variabel Peneliti,
Metode dan Sampel
Hasil Penelitian Saran Penelitian
Pengukuran kinerja Organisasi Pengelola Zakat Meutia (2012), deskriptif kualitatif, LAZ BMH, LAZ Bamuis BNI, LAZ DPU-DT Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kinerja keuangan dan non keuangan ketiga OPZ ini sudah baik.
Pengukuran kinerja
lembaga amil zakat dengan menggunakan model pengukuran GASB yaitu dengan mengukur input,
output, outcomes dan
efisiensi belum dapat dikatakan tepat karena alat pengukuran tersebut belum dapat digeneralisasikan. Pengukuran kinerja Organisasi Pengelola Zakat Alvionita dan Hisamuddin (2015), penelitian kualitatif, LAZISMU Jember dan LAZ AZKA Al Baitul Amien Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama tahun 2012 – 2014, LAZ AZKA telah mengelola dana ZIS dengan tingkat efisiensi yang cukup baik dan pengukuran efektivitas juga telah menjalankan progrmanya secara efektif. Sedangkan LAZISMU jember telah mengelola dana ZIS dengan tingkat efisiensi yang baik dan sudah efektif sebagai OPZ.
Penelitian selanjutnya diharapkan dapat
menggambarkan dampak penyaluran dana ZIS secara langsung kepada masing – masing mustahiq.
xvi Lanjutan Tabel 2.4 ....
Variabel Peneliti, Metode dan Sampel
Hasil Penelitian Saran Penelitian Penilaian kinerja Lembaga amil zakat dengan pendekatan Indonesia Magnificienc e of Zakat Yuanta (2016), penelitian kualitatif, YDSF Cabang Jember Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja YDSF Cabang Jember tidak mengalami peningkatan maupun penurunan kinerja selama tahun 2012 – 2014 dengan lima komponen yaitu kinerja kepatuhan Syariah, legalitas dan kelembagaan; kinerja manajemen; kinerja keuangan; kinerja program pendayagunaan; dan kinerja legitimasi sosial.
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan
masukan yang positif untuk lembaga. Pengelolaan Zakat pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Kuningan Ismiyati (2013), pendekatan kualitatif, BAZNAS Kabupaten Kuningan Hasil penelitian menyebutkan bahwa BAZNAS kabupaten Kuningan dalam pengelolaannya terdapat tiga jenis yaitu
penghimpunan, pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat. Dari pengelolaan tersebut lembaga dari tingkat efisiensi dan efektifitas sudah bagus.
Sebaiknya Baznas Kabupaten Kuningan lebih meminimalisir biaya operasional agar dapat memaksimalkan dana zakat yang diperoleh dan lebih meningkatkan realisasi penyaluran dana zakat yang telah ditargetkan sebelumnya. Pengukuran kinerja lembaga pengelola zakat, infaq dan sedekah dengan metode Balanced Scorecard Polinggapo, pendekatan kualitatif deskriptif, Yayasan Dana Sosial Al Falah Malang
Penilaian kinerja dengan menggunakan metode Balanced Scorecard pada YDSF memperoleh nilai sebesar 94 dari perspektif keuangan, pelanggan, proses internal bisnis dan pembelajaran dan pertumbuhan.
Bagi YDSF Malang untuk dapat menerapkan metode balanced scorecard dalam menilai kinerjanya karena dengan menerapkan metode balanced scorecard YDSF Malang bisa menilai kinerja lembaga tidak hanya dari aspek keuangan tetapi juga dari aspek non keuangan.
xvi BAB III
METODE PENELITIAN