• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Manajemen Laba

2.1.1.5 Pengukuran Manajemen Laba

2.1.1.5 Pengukuran Manajemen Laba

Manajemen laba dapat diukur dengan dua cara yaitu manajemen laba riil dan manajemen laba akrual. Dalam penelitian ini pengukuran manajemen laba yang akan digunakan adalah manajemen laba akrual karena konteks penelitian ini adalah mendeteksi praktik manajemen laba bukan kecurangan. Selain itu, pengukuran manajemen laba riil hanya berfokus pada manajemen laba income increasing sedangkan manajemen laba akrual dapat mendeteksi manajemen laba

income increasing dan income decreasing secara sekaligus. Dua pengukuran manajemen laba adalah sebagai berikut:

1. Manajemen Laba Riil

Manajemen laba riil dapat didefinisikan sebagai tindakan-tindakan manajemen yang menyimpang dari praktek bisnis yang normal yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mencapai target laba (Roychowdhury, 2006 dalam Ratmono, 2010). Manajemen laba riil dapat dilakukan dengan 3 (tiga) cara yaitu:

a. Manipulasi Penjualan

Manipulasi penjualan merupakan usaha untuk meningkatkan penjualan secara temporer dalam periode tertentu dengan menawarkan diskon harga produk secara berlebihan atau memberikan persyaratan kredit yang lebih lunak. Strategi ini dapat meningkatkan volume penjualan dan laba periode saat ini, dengan mengasumsikan marginnya positif. Namun pemberian diskon harga dan syarat kredit yang lebih lunak akan menurunkan aliran kas periode saat ini. Manipulasi penjualan diukur dengan model Abnormal Cash Flow Operatons (CFO) sebagai berikut: = 0 + 1

+

2

+ 3 + t Keterangan:

CFOt : Arus kas operasi perusahaan i pada tahun t St : Penjualan tahun t

St : Perubahan pendapatan dalam periode t At-1

: Aset total perusahaan i pada tahun

t-1

: Koefisien regresi

t

: Error

b. Penurunan beban-beban diskresionari (discretionary expenditures) Perusahaan dapat menurunkan discretionary expenditures seperti beban penelitian dan pengembangan, iklan, dan penjualan, administrasi, dan umum terutama dalam periode di mana pengeluaran tersebut tidak langsung menyebabkan pendapatan dan laba. Strategi ini dapat meningkatkan laba dan arus kas periode saat ini namun dengan resiko menurunkan arus kas periode mendatang. Penurunan beban-beban diskresionari diukur dengan model Abnormal Discretionary Expenses sebagai berikut:

= 0 + 1

+ 2

+ t Keterangan:

DISEXPt : discretionary expenses (beban Research & Development + beban iklan + beban penjualan + beban administrasi + umum)

St : Penjualan tahun t

St-1 : Penjualan tahun t-1

At-1 : Aset total perusahaan i pada tahun t-1

: Koefisien regresi

t : Error

c. Produksi yang berlebihan (overproduction)

Untuk meningkatkan laba, manajer perusahaan dapat memproduksi lebih banyak daripada yang diperlukan dengan asumsi bahwa tingkat produksi yang lebih tinggi akan menyebabkan biaya tetap per unit produk lebih rendah. Strategi ini dapat menurunkan kos barang terjual

(cost of goods sold) dan meningkatkan laba operasi. Produksi yang berlebihan diukur dengan model Abnormal Production Cost sebagai berikut: = 0 + 1 + 2 + 3 + 3 + t Keterangan:

PRODt : Production Costs (harga pokok penjualan + perubahan persediaan)

St : Penjualan tahun t

St : Perubahan pendapatan dalam periode t St-1 : Perubahan penjualan tahun t-1

At-1 : Aset total perusahaan i pada tahun t-1 : Koefisien regresi

t : Error

2. Manajemen Laba Akrual

Manajemen laba dilakukan dengan mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab akrual merupakan komponen yang mudah untuk dipermainkan sesuai dengan keinginan orang yang melakukan pencatatan transaksi dan menyusun laporan keuangan. Alasannya, komponen akrual merupakan komponen yang tidak memerlukan bukti kas secara fisik sehingga upaya mempermainkan besar kecilnya komponen akrual tidak harus disertai dengan kas yang diterima atau dikeluarkan perusahaan (Sri Sulistyanto, 2008:161).

Menurut Sri Sulistyanto (2008:211) ada beberapa model untuk pendeteksi manajemen laba yaitu dengan model pemisahan akrual;

1. The healthy model. 2. The de angelo model. 3. The jones model.

4. The modified jones model. 5. Industry adjusted model. 6. Akrual khusus.

7. The cross-sectional models.

Menurut Sri Sulistyanto (2008:225), langkah-langkah yang dilakukan dalam perhitungan disrectionary accruals (DTA), yaitu:

1. Menghitung nilai total akrual (TAC)

2. Menghitung nilai current accruals yang merupakan selisih antara perubahan (D) aktiva lancar (current assets) dikurangi dengan kas, dengan perubahan utang lancar (current liabilities) dikurangi utang jangka panjang yang akan jatuh tempo (current maturity of long-term debt).

3. Menghitung nilai nondisrectionary accruals sesuai dengan rumus di atas terlebih dahulu melakukan regresi linier sederhana terhadap

sebagai variabel dependen serta

dan

sebagai variabel independennya.

TAC = Net Income – Cash Flow From Operations

Current Accruals = D (current Assets-Cash) – D (Current Liabilities-Current maturity of LongTerm Debt)

= ᵅ

1

[

]

+ᵅ

2

[

]

+ ∑

=

Dengan melakukan regresi terhadap ketika variabel itu akan memperoleh koefisien dari variabel independen, yaitu

1dan

2 yang dimasukan dalam persamaan dibawah ini untuk menghitung nilai nondisrectionary accruals.

Keterangan :

= Nondisrectionary current accruals perusahaan i periode t

1 = Estimated intercept perusahaan i periode t

2 = Slope untuk perusahaan i periode t TAi.t-1 = Total assets untuk perusahaan i periode t ΔSalesi.t = Perubahan penjualan perusahaan i periode t

ΔTRi.t = Perubahan dalam piutang dagang perusahaan periode t 4. Menghitung nilai disrectionary current accruals, yaitu desrectionary

accruals yang terjadi dari komponen-komponen aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

DCAi.t =Disrectionary current accruals perusahaan i periode t = Current Accruals perusahaan i periode t

TAi.t-1 = Total aktiva perusahaan i periode t

= ᵅ

1

[

]

+ ᵅ

2

[

]

DCA

i.t

=

NDCAi.t = Nondisrectionary current accruals perusahaan i periode t 5. Menghitung nilai nondisrectionary accruals sesuai dengan rumus di atas

dengan terlebih dahulu melakukan regresi linier sederhana terhadap sebagai variabel dependennya serta

,

, dan

sebagai variabel independennya.

Dengan melakukan regresi terhadap ketiga variabel itu akan diperoleh koefisien dari variabel independen yaitu b1, b2 dan b3 yang akan dimasukkan dalam persamaan dibawah ini untuk menghitung nilai nondisrectionary accruals.

Keterangan :

= Estimated intercept perusahaan i periode t , = Slope untuk perusahaan i periode t

= Aktiva tetap (Gross property, plant, and equipment) perusahaan I periode t

6. Menghitung nilai disrectionary accruals, disrectionary long-term accruals, dan nondisrectionary long-term accruals. Disrectionary accruals (DTA) merupakan selisih total akrual (TAC) dengan nondisrectionary accruals

+ ∑

(NDTA). Disrectionary long-term accruals (DLTA) merupakan selisih disrectionary accruals (DTA) dengan disrectionary current accruals (DCA), sedangkan nondisrectionary long-term accruals (NDLTA) merupakan selisih nondisrectionary accruals (NDTA) dengan nondisrectionary current accruals (NDCA).

Sedangkan Muid (2005) menyatakan untuk mendeteksi apakah perusahaan melakukan manajemen laba dalam laporan keuangannya maka digunakan rumus total accruals, dengan menggunakan persamaan:

TACPT : Total Accruals pada periode tes.

NOIPT : Net Operating Income pada periode tes.

CFFOPT : Cash Flow from Operations pada periode tes.

Total akrual terdiri dari discretionary dan non-discretionary accruals. Total akrual digunakan sebagai indikator, sebab discretionary accruals (DAC) sulit untuk diamati, karena ditentukan oleh kebijakan masing-masing manajer. Menurut Sri Sulistyanto (2008:165) Manajemen laba dapat diukur dengan discretionary accrual. Dalam penelitian ini discretionary accrual digunakan sebagai proksi karena merupakan komponen yang dapat dimanipulasi oleh manajer seperti penjual.

Muid (2005) merumuskan dalam persamaan sebagai berikut: TACPT = NOIPT – CFFOPT

Keterangan:

PT : Periode Tes PD : Periode Dasar

Adanya manajemen laba ditandai dengan DAC positif dan apabila DAC bernilai negatif berarti tidak terdapat manajemen laba. Penulis menggunakan discretionary accruals ini karena lebih sederhana.

Dokumen terkait