• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengukuran Parameter Fisik: Suhu, Salinitas, TDS, Konduktivitas, Turbiditas,

Dalam dokumen Laporan Kegiatan Bulanan 2017 (Halaman 28-36)

Densitas

Gambar 4. Hasil pengukuran parameter fisik kualitas air di Estuari Perancak pada survei periodik I (18 Januari 2017)

Dapat dilihat bahwa rata-rata suhu permukaan laut di ke-10 stasiun pengukuran berkisar antara 29.7 ºC – 31.67 ºC. Suhu tertinggi adalah di Stasiun PRC 4 dan terendah di Stasiun PRC 1. Nilai salinitas dapat dibedakan secara jelas bahwa

semakin berkurang menuju ke hulu sungai. Salinitas tertinggi di stasiun yang berada di muara (> 30 ‰) dan terendah di Stasiun PRC 6 (0.43 ‰) dan PRC 10 (3.73 ‰). Konduktivitas, konsentrasi TDS, dan densitas air juga memiliki tren yang sama dengan salinitas. Stasiun pengukuran yang ada di wilayah muara bernilai lebih tinggi dibandingkan yang berada di wilayah sungai atau hulu. Parameter turbiditas berbanding terbalik dengan parameter fisik lainnya. Kondisi air semakin keruh (turbid) ke arah hulu sungai.

Pengukuran Parameter Kimia: pH dan DO

Gambar 5. Hasil pengukuran parameter kimia kualitas air di Estuari Perancak pada survei periodik I (18 Januari 2017)

Seperti di perairan pada umumnya, pH di Estuari Perancak juga menunjukan hal yang sama. Gambar 5 menunjukan nilai pH semakin basa seiring bertambahnya salinitas perairan. Di stasiun yang berada di muara atau dekat muara sungai, nilai pH di atas 7. Sebaliknya, di stasiun dengan salinitas rendah (sungai), nilai pH semakin berkurang. Nilai DO bervariasi di setiap stasiun pengukuran, dengan rata-rata berkisar antara 4.90 – 7.25 mg/l. Konsentrasi DO tertinggi di Stasiun PRC 2 (muara) dan terendah di Stasiun PRC 5 (Sungai Ijo Gading). Parameter nutrien belum dapat ditampilkan dan dibahas saat ini karena masih proses analisis di Laboratorium Kualitas Perairan (LKP) BPOL.

Pengukuran parameter Biologi: Klorofil-a dan Plankton

Gambar 6 Hasil pengukuran parameter kimia kualitas air di Estuari Perancak pada survei periodik I (18 Januari 2017)

Parameter klorofil ini dapat dikaitkan dengan kelimpahan plankton di setiap stasiun. Psampel plankton masih dalam proses identiikasi di Laboratorium Kualitas Perairan (LKP) BPOL sehingga belum dapat ditampilkan dalam laporan ini. Klorofil-a merupKlorofil-akKlorofil-an pigmen penting yKlorofil-ang diperlukKlorofil-an oleh fitoplKlorofil-ankton dKlorofil-alKlorofil-am melKlorofil-akukKlorofil-an fotosintesis.

Klorofil-a merupakan pigmen penting yang diperlukan fitoplankton dalam melakukan fotosintesis. Fitoplankton ini berperan sebagai produsen primer dalam rantai kehidupan di perairan, sehingga keberadaannya sangat penting sebagai dasar kehidupan di perairan. Konsentrasi klorofil di suatu perairan dapat menggambarkan besarnya produktivitas primer di wilayah tersebut.

Gambar 6 menunjukan adanya variasi konsentrasi klorofil di setiap stasiun

pengukuran di Estuari Perancak pada saat pengukuran tanggal 18 Januari 2017. Rata-rata konsentrasi klorofil tersebut antara 0 hingga 3.83 mg/m3). Konsentrasi terendah di Stasiun PRC 1 (muara), dan tertinggi di Stasiun PRC 6 (Sungai Ijo Gading).

5.1.4 Laboratorium Observasi Oceanografi dan Pemodelan

Perkembangan dan kemajuan suatu unit kerja dapat diukur dari perkembangan kinerja dan hasil kegiatan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan NOMOR.PER.34/MEN/2011, tugas pokok dan fungsi Seksi Pelayanan Teknis BPOL adalah melakukan pelaksanaan kerjasama penelitian dan observasi serta diseminasi, komunikasi, publikasi dan dokumentasi hasil penelitian dan observasi strategis di bidang kelautan.

Layanan Laboratorium Observasi dan Pemodelan Laut BPOL meliputi operasionalisasi peralatan survei dan observasi laut, terutama variabel fisik, serta dokumentasi dan publikasi data kondisi laut baik yang bersumber dari stasiun observasi maupun prediksi model.

Di tahun 2017 stasiun observasi laut yang beroperasi sebanyak 10 unit dengan lokasi stasiun adalah sebagai berikut:

a) Perairan Selat Bali, Bali b) Perairan Ende, NTT c) Perairan Kupang, NTT d) Perairan Bacan, Maluku

e) Perairan Pulau Makian, Maluku f) Perairan Ternate, Maluku

g) Perairan Bunta, Sulawesi Tengah h) Perairan Sigenti, Sulawesi Tengah i) Perairan Bolang Uki, Sulawesi Utara j) Perairan Kema, Sulawesi Utara

Variabel yang diukur pada stasiun observasi laut adalah suhu, konduktivitas, kandungan oksigen dan konsentrasi klorofil. Pengukuran dilakukan pada lapisan permukaan dengan kedalaman sensor sekitar 5 m.

Kegiatan yang dilakukan pada bulan Januari:

a) Inventarisasi sarana dan prasarana penunjang kegiatan litbang di BPOL yang operasionalisasinya dilakukan oleh Lab Observasi dan Pemodelan Laut.

b) Mempersiapkan sarana dan prasarana untuk kebutuhan survei lapangan dalam kegiatan penelitian di BPOL

c) Melakukan monitoring dan pengolahan data yang bersumber dari sistem alat observasi laut (sistem buoy permukaan) di 9 lokasi yaitu:

- Perairan Ende, NTT - Perairan Kupang, NTT - Perairan Bacan, Maluku

- Perairan Pulau Makian, Maluku - Perairan Ternate, Maluku

- Perairan Bunta, Sulawesi Tengah - Perairan Sigenti, Sulawesi Tengah - Perairan Bolang Uki, Sulawesi Utara - Perairan Kema, Sulawesi Utara -

Inventarisasi sarana dan prasarana penunjang kegiatan litbang dilakukan untuk mengetahui jumlah dan kondisi peralatan yang ada di BPOL. Sarana dan prasarana dimaksud berupa peralatan dan perlengkapan survei dan monitoring kondisi fisik perairan yang dalam penggunaannya dioperasikan oleh Lab Observasi dan Pemodelan Laut. Peralatan dan perlengkapan yang berada dalam kondisi baik diharapkan dapat membantu kelancaran kegiatan suatu penelitian.

Monitoring dan dokumentasi data yang bersumber dari stasiun observasi laut diperlukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengukuran dan menyediakan data yang siap digunakan lebih lanjut. Pengolahan data awal dilakukan dengan menyaring (filtering) data dengan nilai yang dianggap salah. Data yang telah melalui tahap penyaringan kemudian didokumentasikan untuk keperluan lebih lanjut. Sampai saat ini telah terdokumentasikan hasil dari pengukuran stasiun observasi laut di 9 lokasi, terkecuali Selat Bali

Rencana pada kegiatan bulan depan yaitu :

a) Monitoring dan dokumentasi data yang terukur dari alat observasi laut di 10 lokasi b) Persiapan peralatan survei untuk keperluan survei leg 1 kegiatan penelitian di

BPOL

Berikut Dokumentasi yang dapat disampaikan : 1. Stasiun perairan Ende.

2. Stasiun perairan Kupang.

3. Stasiun perairan Bacan

5. Stasiun perairan Ternate.

6. Stasiun perairan Bunta.

8. Stasiun perairan Bolang Uki.

9. Stasiun perairan Kema

5.2 Infrastructure Development of Space Oceanography (INDESO)

Infrastucture Development Of Space Oceanography (INDESO) merupakan sebuah Proyek kerja sama dengan Pemerintah Prancis yang dimiliki oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mempunyaii infrastruktur oseanografi berbasis teknologi satelit dan mulai diimplementasikanpada tahun 2012 dan menjadi inovasi teknologi pertama di Indonesia yang mengadopsi sistem operasional oseanografi..

Sistem ini dikembangkan sebagai wujud konsistensi pemerintah dalam menjami keberlangsungan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara lestari dan berkelanjutan. INDESO merupakan program yang didesain untuk memantai kondisi perairan Indonesia termasuk biogeokimia dan ekosistem dengan melibatkan berbagai displin ilmu dalam pengimplementasiannya. INDESO ditujukan juga untuk memperketat pengawasan terhadap aksi pencurian ikan di perairan Indonesia sekaligus melindungi kekayaan biodevitasnya.

Proyek ini mengacu pada pembentukan jaringan pengamatan oseanografi yang nyata, adaptasi pengembangan bentuk dan prediksi dalam sistem pengolahan maupun analisa

sehingga dimungkinkan untuk melakukan pemeliharaan perikanan secara berkesinambungan oleh nelayan di Indonesia.

Proyek INDESO yang berlangsung selama ini mencakup dua kegiatan utama. Pertama, pembangunan infrastruktur ground station/satellite reception dan fasilitas pengolah

datanya. Kedua, pengembangan infrastruktur computing untuk pemodelan oseanografi dan hayati laut. Keduanya dibangun di BPOL Perancak – Bali, sedangkan sistem basis data sebagai sistem backup (Redundant Database System) dibangun di Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (BalitbangKP) di Jakarta.

Pada Bulan Januari ini telah dilaksanakan beberapa kegiaan diantaranya :

a) Analisis posisi kapal ber-VMS/AIS, akuisisi dan analisis radar di perairan Bintan 1 scene, dan Arafura 1 scene.

b) Monitoring sistem INDESO, menanggapi email, respon user, monitoring antena (test pass antena secara rutin).

c) Telah dibuat rekap bulanan periode Januari 2017 untuk data radar, optik, Oil Spill, ONM dan mengirimkan ke pusat (Jakarta)

d) Telah dilakukan memeriksa AOI dari enduser apakah sesuai dengan prosedur, lalu menginformasikan ke enduser setelah memperbaiki AOI berdasarkan prosedur dan melakukan order optikal

BAB VI. PERMASALAHAN DAN TINDAK LANJUT

Dalam dokumen Laporan Kegiatan Bulanan 2017 (Halaman 28-36)

Dokumen terkait