Pengukuran radiasi sinar ultraviolet menggunakan alat ukut UV Meter Hagner EC 1 UV A. pengukuran dilakukan dengan 1 titik di setiap lokasi dengan operator mesin las listrik. Langkah langkahnya yaitu :
a. Mengaktifkan alat UV Hagner EC I
b. Menempatkan sensor UV Radiometer didekat mata pekerja dengan asumsi besar radiasi yang tertangkap Oleh sensor UV Meter Hagner sama dengan radiasi yang ditangkap oleh matapekerja.
c. Mencatat nilai radiasi yang ditampilkan layar UVMeter Hagner EC I d. Jika UV Radiometer menunjukkan angka > 0,0001 mW/cm2 maka
nilai tersebut telah melebihi NAB untuk waktu kerja 8 jam perhari.
Gambar 5. Alat UV Meter Merk Hagner EC 1 UV A Pengukuran radiasi sinar ultraviolet (SNI 16-7060-2004) 1. Peralatan
Direct reading instrument disebut radiometer sinar ultraviolet 2. Titik Pengukuan
Pengukuran minimal dilakukan pada 3 titik, yaitu:
35
a. Zona penglihatan dengan jarak maksimal 30 cm dari mata
b. Setinggi siku dengan jarak maksimal 30 cm dari bagian badan paling luar
c. Setinggi betis dengan jarak maksimal 30 cm dari betis 2. Diagnosa Pterigium
Kejadian Pterigium merupakan terjadinya pertumbuhan selaput jaringan berbentuk segitiga berwarna merah muda dan muncul pada bagian putih bola mata.Pterigium didiagnosa oleh Spesialis Dokter Mata kepada 35 pekerja las di Kecamatan Kisaran Barat. Kejadian pterigium diklasifikasikan menjadi 2 kategori, sebagai berikut:
1. Ada Kejadian Pterigium dengan derajat;
- Derajat 1 bila pertumbuhan pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
- Derajat 2 bila pertumbuhan pterigium sudah melewati limbus kornea tapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea
- Derajat 3 bila pertumbuhan pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi tepi pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm)
- Derajat 4 bila pertumbuhan pterigium sudah melewati tepi pupil.
2. Tidak ada Kejadian Ptergium 3. LamaPaparan
Lama paparan yang dimaksud pada penelitin ini adalah waktu mata pekerja terpajan oleh sinar UV dalam satu kali pengelasan berdasarkan kepmenakertrans per. 13/MEN/X/2017
Kriteria Objektif :
Berisiko : ≥40 Menit
Tidak Berisiko : <40 Menit 3. MasaKerja
Lama bekerja operator las terhitung sejak ia bekerja di bengkel tertentu sampai wawancara berlangsung. (Fahmi,1990 dalam Solech)
Berisiko : ≥ 5 Tahun
Tidak Berisiko : < 5 Tahun 4. Radiasi Sinar Ultraviolet
Dalam penelitian ini Radiasi Sinar Ultraviolet adalah besarnya radiasi yang dihasilkanpadasaat proses pengelasan yang diukur dengan UV Meter Hagner EC I UV A. (Kepmenakertrans Per. 13/MEN/X/2017)
Berisiko : > 0,0001mW/cm2 Tidak Berisiko : ≤ 0,0001mW/cm2 5. Jarak Pengelasan
Dalam penelitian ini jarak pengelasan adalah Jarak antara mata pengelas dengan sumber penghasil radiasi saat bekerja (Susanto,2011)
Berisiko : ≤ 52 cm Tidak Berisiko : > 52 cm 6. Alat Pelindung Diri(APD)
APD pada penelitian ini adalah alat yang harus digunakan oleh pekerja saat pengelasan (kacamata atau topeng las). Katagori dalam penelitian ini yaitu:
1. MenggunakanAPD
2. Tidak Menggunakan APD
37
Metode Analisis Data
Data yang telah diperoleh, dianalisis melalui proses pengolahan data yang mencakup kegiatan-kegiatan seperti entry data dan analysis.
Entry data. adalah data yang telah diambil tersebut kemudian dimasukkan dalam program komputer untuk selanjutnya akan diolah.
Analysis. adalah data-data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat.
Analisis univariat. Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil penelitian yang akan menghasilkan distribusi dan presentasi dari tiap variabel.
Analisis bivariat. Analisis bivariat ini digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independen (bebas) dengan variabel dependen (terikat).Analisa statistik dengan uji chi-square, hasil analisa statistik dengan nilai signifikasi p<0,05 dinyatakan berhubungan. Variabel independen (bebas) yang dianalisis secara bivariat dalam penelitian ini adalah intensitas radiasi sinar ultraviolet, masa kerja, lama paparan, jarak pengelasan, dan penggunaan alat pelindung diri, variabel dependen (terikat) dalam penellitian ini adalah kejadian pterigium.
38
Hasil Penelitian
Gambaran Umum Kecamatan Kisaran Barat
Kecamatan Kisaran Barat merupakan salah satu kecamatan di Kota Kisaran yang mempunyai luas 32.81 Km². Total Populasi di kecamatan Kisaran Barat sebesar60.428 Jiwa dan Kepadatan 1.842,03/km2 (4,770,8/sq mi). Secara geografis batas-batas wilayah Kecamatan Kisaran Barat yaitu:
Sebelah utara : Kecamatan Rawang Panca Arga dan Kecamatan Pulo Bandring
Lokasi Bengkel Las di Kecamatan Kisaran Barat
Nama Bengkel Las Alamat
Bengkel Las Aneka Jalan Panglima Polem no. 19
Bengkel Las Tabah Jalan Sei Silau no 23
Bengkel Las Bersama Jalan Sisingamangaraja no 119
Bengkel Las Wahidin Jalan Wahidin no. 27
Bengkel Las Hasan Jalan cokroaminoto no 14
Bengkel Las Relling Jalan Sei Tanjung no 7
Bengkel Las Teknik Jalan Ahmad Yani no 39
39
Proses Pengelasan
Las busur listrik atau umumnya disebut dengan las listrik adalah termasuk suatu proses penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas. Jenis sambungan dengan las Iistrik ini adalah merupakan sambungan tetap.
Las tistrik ini menggunakan alektroda berselaput sebagai bahan tambah.
Busur listrik yang terjadi diantara ujung elektroda dan bahan dasar akan mencairkan ujung elektroda dan sebagian bahan dasar. Selaput elektroda yang turut terbakar akan mencair dan menghasilkan gas yang melindungi ujung elektroda, kawah Ias, busur Iistri dan daerah Ias di sekitar busur listrik terhadap pengaruh udara luar. Cairan selaput elektroda yang membeku akan menutupi permukaan Ias yang juga berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.
Pengelasan merupakan cara yang umum digunakan untuk menyambung logam secara permanen, dimana pada input panas diberikan pada logam hingga mencair dan menyambungnya dalam suatu sambungan yang permanen. Pekerjaan pengelasan listrik memiliki potensi bahaya radiasi sinar ultraviolt, polusi asap pembakaran logamdan debu karat/kerak, serta percikan api (Suhebit, 2014).
Proses pengelasan dibedakan menjadi beberapa jenis, dan SMAW merupakan salah satu proses pengelasan yang umum digunakan, utamanya pada pengelasan singkat dalam produksi, pemeliharaan dan perbaikan, dan untuk bidang konstruksi.
SMAW (Shield Metal Arch Welding) adalah las busur nyala api listrik terlindung dengan mempergunagkan busur nyala listrik sebagai sumber panas
pencair logam. Jenis ini paling banyak dipergunakan untuk hampir semua keperluan pekerjaan pengelasaan. Tegangan yang dipakai hanya 23 sampai dengan 45 Volt AC atau DC, sedangkan untuk pencairan pengelasan dibutuhkan arus hingga 500 Ampere. Namun secara umum yang dipakai berkisar 80–200 Ampere.
Las busur listrik ini disebut juga Stick Welding atau Manual Metal Arc Welding. Prinsip kerjanya adalah menggunakan logam elektroda consumable dengan komposisi/kandungan yang tepat untuk menghasilkan arc welding antara elektroda dengan benda kerja. Logam elektroda yang meleleh akibat panas mengisi celah antara ujung elektroda dan bergabung dengan benda kerja. Elektroda dilapisi dengan shielding flux yang terbuat dari komposisi khusus. Shielding flux meleleh bersama dengan logam inti dari elektroda, membentuk gas dan kerak, dan melindungi arc welding dan weld pool. Fluks melakukan pembersihan permukaan logam, mensuplai beberapa elemen paduan untuk kontak welding, dan melindungi lelehan logam dari oksidasi dan menstabilkan arc wleding. Kerak dihilangkan setelah dilakukan proses Solidification yaitu proses transformasi dari fase lelehan dari paduan menjadi bagian padat dari paduan, melibatkan kristalisasi dari fase cair, pemisahan kotoran dan elemen paduan, pembebasan gas terlarut dalam lelehan dan pembentukan porositas.
41
Analisis Univariat
Distribusi frekuensi pekerja las berdasarkan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Distribusi Frekuensi Kejadian Pterigium Pekerja Las di kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021 pada sampel berjumlah 35 orang ada tidaknya kejadian pterigium pada pekerja las diperoleh hasil seperti pada tabel.
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Pekerja Las Berdasarkan Kejadian Pterigium di Kecamatan KisaranBarat Tahun 2021
Kejadian Pterigium Frekuensi(n) Persen (%)
Ada Pterigium 16 45,7
Tidak ada Pterigium 19 54,3
Jumlah 35 100
Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa ada 16 orang pekerja dengan 45,7%
mengalami kejadian Pterigium.
Distribusi frekuensi intensitas radiasi sinar ultraviolet di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Pengukuran intensitas radiasi sinar ultraviolet dilakukan di 7 titik. Intensitas radiasi sinar UV berasal dari mesin las listrik.Besarnya radiasi yang dihasilkan pada saat proses pengelasan yang diukur dengan UV Meter Hagner EC I UV A dengan ≤0,0001 NAB intensitas radiasi sinar ultra violet diperoleh hasil seperti tabel.
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Intensitas Radiasi Sinar Ultraviolet di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Lokasi Intensitas Radiasi
Distribusi Frekuensi Intensitas Radiasi Sinar Ultraviolet di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021 intensitas radiasi sinar ultraviolet terendah sedangkan 0,01297 adalah intensitas radiasi sinar ultraviolet tertinggi.
Distribusi frekuensi pekerja las berdasarkan intensitas radiasi sinar ultravioletpada pekerja las di kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021.Intensitas radiasi sinar ultraviolet yang dihasilkan las listrik kepada pekerja di Bengkel las dilihat pada tabel berikut.
43
Tabel 6
Distribusi Frekuensi Pekerja Las Berdasarkan Intensitas Radiasi Sinar Ultravioletdi kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Intensitas Radiasi Sinar UV Frekuensi(n) Persen(%)
>NAB (Berisiko) 30 85,7
≤NAB (Tidak Berisiko) 5 14,3
Jumlah 35 100
Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa Intensitas radiasi sinar ultraviolet yang dihasilkan dari las listrik kepada pekerja terdapat 30 dengan 85,7 % pekerja yang terpapar melebihi batas NAB.
Distribusi frekuensi pekerja las berdasarkan masa kerjadi kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Pengukuran masa kerja pada pekerja Las dilakukan untuk mengetahui tingkat masa kerja dengan kelompok masa kerja berisiko dan tidak berisiko adalah ≥ 5 tahun dan < 5 tahun, yang paling terendah 1 tahun dan tertinggi 20 tahun. Distribusi pekerja Las berdasarkan masa kerja dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 7
Distribusi Frekuensi Pekerja Las Berdasarkan Masa Kerja di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021 banyak adalah ≥5 tahun, yaitu berjumlah 25 orang (71,4%) sedangkan masa kerja pekerja ≤ 5 tahun berjumlah 10 orang (28,6%).
Distribusi frekuensi pekerja las berdasarkan lama paparan di kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021.Lama paparan dilakukan untuk mengukur waktu mata pekerja terpapar sinar Ultraviolet dalam sekali pengelasan.
Tabel 8
Distribusi Frekuensi Pekerja Las Berdasarkan Lama Paparan diKecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Lama Paparan (Menit) Jumlah %
≥40 Menit (Berisiko) 22 62,9
<40 Menit (Tidak Berisiko) 13 37,1
Jumlah 35 100
Berdasarkan tabel 6, diketahui bahwa lama paparan pekerja yang bekerja dalam satu kali pengelasan sebesar >40 menit adalah 22 orang dengan 62,9%
sedangkan pekerja yang bekerja dalam satu kali pengelasan ≤40 menit adalah 13 orang dengan persentase 37,1 %..
Distribusi frekuensipekerja las berdasarkan jarak pengelasan di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. PengukuranJarakPengelasan antara mata pengelas dengan sumber penghasil radiasi saat bekerja dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9
Distribusi Frekuensi Pekerja Las Berdasarkan Jarak Pengelasan di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Jarak Pengelasan Jumlah %
≤ 52 cm(Berisiko) 18 51,4
> 52 cm (Tidak Berisiko) 17 48,6
Jumlah 35 100
45
Berdasarkan tabel 8, diketahui bahwa jarak pengelasan antara mata pengelas dengan sumber penghasil radiasi saat bekerja dengan jarak ≤ 52 cm adalah 18 orang dengan 51,4% sedangkan pekerja dengan jarak pengelasan >52 adalah 17 orang dengan persentase 48,6 %
Distribusi Frekuensi Pekerja Las Berdasarkan Penggunaan APD di Kecamatan Kisaran Barat. Frekuensi pekerja las berdasarkan penggunaan APD dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 10
Distribusi Frekuensi Pekerja Las Berdasarkan Penggunaan APD di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Alat Pelindung Diri(APD) Jumlah %
Menggunakan APD 27 77,1
Tidak Menggunakan APD 8 22,9
Jumlah 35 100
Berdasarkan tabel 9, diketahui bahwa pekerja yang menggunakan APD saat bekerja dalah 27 orang dengan 77,1% sedangkan pekerja dengan yang tidak menggunakan APD saat bekerja adalah 8 orang dengan persentase 22,9 %.
Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah jenis analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen , dapat dilihat sebagai berikut :
Hubungan antara intensitas radiasi sinar UV dengan kejadian pterigium pada pekerja las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Hasil uji statistik hubungan Intensitas radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian pterigium dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 11
Hubungan Antara Intensitas Radiasi Sinar UV dengan Kejadian Pterigium pada Pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Intensitas Radiasi Sinar UV (mW/cm2)
Kejadian Perigium Jumlah P
value
Ya Tidak
N % N % N %
>0,0001 16 45,7 14 40 30 85,7 0,049
≤0,0001 0 0 5 14,3 5 14,3
Berdasarkan tabel 10, diketahui bahwa kejadian pterigium dengan intensitas radiasi sinar ultraviolet yang dihasilkan melebihi NAB (> 0,0001) sebesar 16 orang (45,7%) sedangkan kejadian pterigium dengan intensitas radiasi sinar ultraviolet yang dihasilkan dibawah NAB (≤0,0001) pekerja tidak mengalami kejadian pterigium (0%). Berdasarkan analisis data menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p < 0,05 hal ini menunjukkanadanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021.
Hubungan antara masa kerja dengan kejadian pterigiumpada pekerja las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Hasil uji statistik masa kerja dengan kejadian pterigium dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 12
Hubungan Antara Masa Kerja dengan Kejadian Pterigium pada Pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
47
Masa Kerja (tahun)
Kejadian Perigium Jumlah P
value
Ya Tidak
N % N % N %
≥ 5 Tahun 15 42,9 10 28,6 25 71,4 0,010
< 5 Tahun 1 2,9 9 25,7 10 28,6
Berdasarkan tabel 11, dapat diketahui pekerja yang mengalami kejadian pterigium denganmasa kerja ≥ 5 tahun adalahsebesar 15 orang (42,9%) sedangkan pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan masa kerja <5 tahun adalah1 orang (2,9%). Berdasarkan analisis data menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p < 0,05 hal ini menunjukkanadanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021.
Hubungan antara lama paparan dengan kejadian pterigiumpada pekerja las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Hasil uji statistik Lama Paparan dengan kejadian pterigium dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 13
Hubungan Antara Lama Paparan dengan Kejadian Pterigium pada Pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Lama Paparan (menit)
Kejadian Perigium Jumlah P
value
Ya Tidak
N % N % N %
≥40 menit 14 40 8 22,9 22 62,9 0,012
<40 menit 2 5,7 11 31,4 13 28,6
Berdasarkan tabel 12, dapat diketahui pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan lama paparan ≥40 menit adalah 14 orang (40%) sedangkan pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan lama paparan <40 menit
adalah 2 orang (2,9%). Berdasarkan analisis data menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p < 0,05 hal ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021.
Hubungan antara jarak pengelasan dengan kejadian pterigiumpada pekerja las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Hasil uji statistik Jarak Pengelasan dengan kejadian pterigium dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 14
Hubungan Antara Jarak Pengelasan dengan Kejadian Pterigium pada Pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Jarak Pengelasan(cm)
Kejadian Perigium Jumlah P
value
Ya Tidak
N % N % N %
≤ 52 cm 5 14,3 13 37,1 18 51,4 0,044
> 52 cm 11 31,4 6 17,1 17 48,6
Berdasarkan tabel 13, dapat diketahui pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan Jarak Pengelasan ≤52 cm adalah 5 orang (14,3%) sedangkan pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan jarak pengelasan adalah 11orang (31,4%). Berdasarkan analisis data menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p < 0,05 hal ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021.
Hubungan antara penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian pterigium. Hasil uji statistik Penggunaan Alat Pelindung Diri dengan kejadian pterigium dapat dilihat pada tabel berikut.
49
Tabel 15
Hubungan Antara Penggunaan Alat Pelindung Diri dengan Kejadian Pterigium pada Pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Penggunaan APD
Kejadian Perigium Jumlah P
value
Berdasarkan tabel 14, dapat diketahui pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan menggunakan APD adalah 8 orang (22,9%) sedangkan pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan bekerja tidak menggunakan APD adalah 8 orang (22,9%). Berdasarkan analisis data menggunakan uji chi-square diperoleh nilai p < 0,05 hal ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
50 Pembahasan
Kejadian Pterigium
Dari hasil Hasil Diagnosis Dr. H. Hasmui, Sp.M terhadap pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat ditemukan bahwa 17 pekerja bengkel las dengan persentase 45,7. % mengalami kejadian ptergium dan tipe derajat pterigium berbeda yang dialami oleh pekera las listrik.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Pekerja yang mengelami kejadian pterigium memiliki keluhan mata yaitu, mata merah, terasa ada yang mengganjal di mata Seperti ada pasir,Terasa gatal atau perih di area selaput dan adanya terjadi pertumbuhan selaput jaringan berbentuk segitiga berwarna merah muda dan biasanya muncul pada bagian putih bola mata. Kondisi pterigium biasanya hanya terdapat di salah satu mata.Jika dibiarkan penyakit ini bisa menjadi parah, maka bisa meningkatkan risiko pupil mata tertutup dan gangguan penglihatan yang signifikan pada pengidap pterygium bahkan ada pekerja yang mengalami kebutaan bila tidak diobati sesuai petunjuk dokter.
Sedangkan pekerja yang tidak mengalami kejadian pterigium sebanyak 19 orang dengan persentase 54,3%, mengalami keluhan seperti mata merah dan terasa ada yang mengganjal pada malam hari namun tidak ada selaput jaringan berbentuk segitiga berwarna merah muda pada bagian bola mata.
Hubungan antara Paparan Radiasi Sinar Ultravviolet dengan Kejadian Pterigium pada Pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Berdasarkan hasil uji statistika,Kejadian pterigium dengan intensitas radiasi sinar ultraviolet yang dihasilkan melebihi NAB (> 0,0001) sebesar 16
51
orang (45,7%) sedangkan kejadian pterigium dengan intensitas radiasi sinar ultraviolet yang dihasilkan dibawah NAB (≤0,0001) pekerja tidak mengalami kejadian pterigium (0%). Berdasarkan analisis data menggunakan uji chi-square diperoleh nilai 0,049 (p < 0,05) hal ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Semakin besar paparan radiasi sinar ultraviolet yang dihasilkan, maka semakin tinggi risiko pekerja mengalami kejadian pterigium.Kondisi ini tentu sangat menganggu kenyamanan pekerja serta mengancam kesehatan mata pekerja. Nilai intensitas radiasi ini diperparah dengan adanya radiasi langsung dari sinar matahari untuk pekerja yang berada di ruang terbuka.
Hasil analisis data menggunakan uji chi-square deperoleh nilai p=0,049 (p<0,05) hal ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian ppterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rista Rikasi di pasar cinde Palembang Tahun 2016 dengan desain cross sectional diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) yang artinya ada hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan risiko kejadian pterigium pada pekerja las di pasar cinde Palembang.
Hubungan antara Masa Kerja dengan Kejadian Pterigium pada Pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Berdasarkan hasil uji statitsik dapat diketahui bahwa pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan masa kerja ≥ 5 tahun adalah sebesar 15
orang (42,9%) sedangkan pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan masa kerja <5 tahun adalah 1 orang (2,9%). Berdasarkan analisis data menggunakan uji chi-square diperoleh nilai 0,0010 (p<0,05) hal ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinarultraviolet dengan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Semakin lama masa kerja pekerja las, maka semakin berat gangguan kesehatan mata yang dialami. Sejalan dengan hasil penelitian dari Setya ningsih, dkk (2007) bahwa masa kerja dapat mempengaruhi ketajaman penglihatan pekerja las. Perbedaan masa kerja pekerja las turut mengurangi ketajaman penglihatan mata pekerja, bila tidak menggunakan APD.. Masa kerja yang baru dan yang lama, mempunyai perbedaan dampak radiasi sinar Ultra Violet, sehingga pengukuran tingkat ketajaman penglihatan mata bisa saja disebabkan oleh masa kerja. Hal ini sesuai dengan Pratiwi, dkk. (2015) bahwa las listrik merupakan kegiatan yang menghasilkan pancaran sinar las listrik, sebagai pekerja las listrik, pancaran sinar las listrik menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Pancaran sinar las listrik merupakan unsur fisik yang dapat menyebabkan trauma pada mata. Semakin lama terpapar sinar las listrik, mata akan berpotensi mengalamigangguan.
Lestari, dkk (2013) dalam penelitiannya menunjukkan masa kerja responden rata-rata di atas 3 tahun akan berisiko terhadap kesehatan pekerja dikarenakan umur responden yang semakin bertambah dan juga mata yang dituntut untuk terus terakomodasi maka akan menyebabkan ketegangan otot- otot mata sehingga dapat menimbulkan mata lelah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rista Rikasi di pasar cinde Palembang Tahun 2016 dengan desain cross sectional diperoleh nilai p=0,007
53
(p<0,05) yang artinya ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan risiko kejadian pterigium pada pekerja las di pasar cinde Palembang.
Masa kerja seseorang pada suatu tempat kerja dapat mempengaruhi efek akumulatif terhadap berbagai faktor resiko seperti biologi, fisika, dan kimia.
Semakin lama mereka telah bekerja maka semakin besar pula efek negatif yang dapat diterima dari faktor risiko tersebut.
Masa kerja seseorang dapat menandakan lama ia bekerja ditempat tertentu.
Seseorang yang masa kerjanya lama akan lebih mengetahui berbagai hal terkait pekerjaannya termasuk sumber bahaya yang ada. Hal ini nantinya turut mempengaruhi sikap mereka terhadap sumber bahaya tersebut. Misalnya pada proses pengelasan dapat memberikan efek akut maupun jangka panjang pada mata akan lebih berhati-hati dalam bekerja. Berbeda dengan seorang pekerja yang masa kerjanya relatif baru selain tidak tahu, terkadang mereka tidak peduli karena ingin menyelesaikan pekerjaan dengan segera.
Hubungan antara Lama Paparan dengan Kejadian Pterigium pada Pekerja Las di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021
Berdasarkan hasil uji statistik, dapat diketahui pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan lama paparan ≥ 40 menit adalah 14 orang (40%) sedangkan pekerja yang mengalami kejadian pterigium dengan lama paparan <40 menit adalah 2 orang (2,9%). Berdasarkan analisis data menggunakan uji chi-square diperoleh nilai 0,012 (p < 0,05) hal ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara paparan radiasi sinar ultraviolet dengan kejadian pterigium di Kecamatan Kisaran Barat Tahun 2021. Lama Paparan pada- penelitian ini adalah waktu mata pekerja terpajan oleh sinar UV dalam satu kali pengelasan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rista Rikasi di pasar cinde Palembang Tahun 2016 dengan desain cross sectional diperoleh nilai p=0,001
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rista Rikasi di pasar cinde Palembang Tahun 2016 dengan desain cross sectional diperoleh nilai p=0,001