BAB III METODE PENELITIAN
A. Karakteristik Morfologi
1. Pengukuran Sifat Kuantitatif (Morfometrik)
Pengukuran sifat kuantitatif sapi Bali polled dilaksanakan untuk mengetahui perbedaan karakteristik morfologi dengan sapi Bali bertanduk.
Pengukuran sifat kuantitatif meliputi pengukuran tinggi pundak, tinggi pinggul, panjang badan, lingkar dada dan penimbangan berat badan.
Secara deskriptif, perbandingan nilai tengah pada ke 5 (lima) parameter tersebut disajikan pada Gambar 9 – 18.
Gambar 9. Perbandingan Nilai Rataan Tinggi pundak Berdasarkan Status Tanduk dan Jenis Kelamin
Hasil pengukuran tinggi pundak pada sapi Bali menunjukkan nilai rataan pada sapi polled jantan adalah 108,80±3,70 cm sedangkan pada sapi bertanduk adalah 105,76±3,81 cm (Gambar 9). Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak
108.80
± 3.70
109.96
± 2.99 105.76
± 3.81
107.67
± 4.68
41
memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi 0,112 (Lampiran 2). Nilai rataan tinggi pundak pada sapi polled betina adalah 107,67±4,68 cm sedangkan pada sapi bertanduk adalah 109,96±2,99 cm. Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi 0,088 (Lampiran 3). Secara deskriptif nilai rataan tinggi pundak sapi polled lebih tinggi jika dibandingkan nilai rataan sapi bertanduk, dan berbeda pada sapi betina dimana terjadi kejadian sebaliknya.
Perbandingan nilai rataan tinggi pundak antara sapi polled dan bertanduk tidak menunjukkan perbedaan secara nyata, atau dapat dikatakan bahwa antara kedua jenis sapi tersebut tidak berbeda jika ditinjau dari morfologi tinggi pundak. Ukuran tinggi pundak sapi bibit berdasarkan SNI 7651.4:2015 mengenai persyaratan bibit sapi Bali jantan dan betina menunjukkan rataan tinggi pundak untuk ternak jantan sapi polled berada di kelas II sedangkan sapi bertanduk di kelas III. Pada sapi betina polled berada di kelas III sedangkan sapi bertanduk di kelas II (Tabel 1).
.
42
Gambar 10. Sebaran Ukuran Tinggi Pundak Berdasarkan Umur, Status Tanduk, dan Jenis Kelamin
Berdasarkan Gambar 10, sebaran ukuran tinggi pundak sapi polled jantan sebagian besar berada di umur 2 tahun, dengan nilai minimum 106 cm dan maksimum 115 cm, dan terdapat satu sapi umur 2,5 tahun dengan tinggi pundak 106 cm. Untuk sapi bertanduk jantan sebagian besar tersebar di umur 2 tahun dengan tinggi pundak minimum 100 cm dan maksimum 111 cm. Ukuran tinggi pundak tertinggi pada sapi bertanduk yakni 117 cm dengan umur 2,5 tahun. Sebaran ukuran tinggi pundak sapi polled betina menunjukkan sebagian besar pada umur 2 dan 2,5 tahun nilai minimum pada umur 2 tahun yakni 101 cm dan maksimum 104 cm, sedangkan pada umur 2,5 tahun nilai minimum sebesar 107 cm dan maksimum 114 cm. jika dibandingkan dengan pejantan polled maka
Tinggi pundak (cm)
120.0
110.0
100.0
90.0
Umur
3 2.5
2 1.5
Tinggi pundak (cm)
120.0
110.0
100.0
90.0
Jenis Kelamin
Jantan
Betina Bertanduk Polled
Tanduk
43
betina polled memiliki ukuran tinggi pundak yang lebih rendah. Sapi betina polled mencapai tinggi 114 cm pada umur 2,5 tahun, yang mengindikasikan bahwa sapi jantan memiliki pertumbuhan yang relatif lebih cepat. Salah satu sifat yang diturunkan oleh Banteng melalui domestikasi yakni pertumbuhan sapi Bali jantan relatif lebih cepat dibandingkan pada sapi betina (Martojo, 2012).
b. Hasil Pengukuran Tinggi Pinggul
Gambar 11. Perbandingan Nilai Rataan Tinggi Pinggul Berdasarkan Status Tanduk dan Jenis Kelamin
Hasil pengukuran tinggi pinggul pada sapi Bali menunjukkan nilai rataan pada sapi polled jantan adalah 108,40±3,44 cm sedangkan pada sapi bertanduk adalah 105,09±3,60 cm (Gambar 11). Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi (P) sebesar 0,068 (Lampiran 2). Nilai rataan tinggi pinggul pada sapi polled
108.40
± 3.44
108.79
± 2.71 105.09
± 3.60
108.00
± 3.23
44
betina adalah 108,0±3,23 cm sedangkan pada sapi bertanduk adalah 108,79±2,71 cm. Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi 0,502 (Lampiran 3).
Nilai rataan tinggi pinggul pada sapi Bali jantan secara deskriptif menunjukkan sapi polled memiliki nilai rataan yang lebih tinggi jika dibandingkan sapi bertanduk (Gambar 11). Sedangkan pada sapi betina, antara sapi polled dan bertanduk tidak berbeda jauh. Namun secara statistik baik pada sapi jantan maupun pada betina tidak berbeda secara signifikan antara sapi polled dengan sapi bertanduk. Parameter tinggi pinggul biasa digunakan sebagai salah satu parameter seleksi ternak bibit, sehingga paramater tersebut digunakan juga untuk menentukan karakteristik sapi Bali polled pada penelitian ini.
Gambar 12 menunjukkan bahwa tinggi pinggul sapi polled jantan pada umur 2 tahun memiliki nilai minimum 107 cm dan maksimum 114 cm, sedangkan pada umur 2,5 tahun sebesar 105 cm. Pada sapi polled betina pada umur 2 tahun nilai minimum 104 dan maksimum 105 cm, sedangkan pada umur 2,5 tahun nilai minimum 108 cm dan maksimum 113 cm. Ukuran tinggi pinggul tertinggi didapatkan di sapi jantan (114 cm) pada umur 2 tahun dan nilai terendah pada sapi betina (104 cm) pada umur 2 tahun. Pada sapi Bali bertanduk, ukuran tinggi pinggul jantan lebih tinggi dibandingkan sapi betina. Pada sapi polled jantan laju pertumbuhan terlihat di umur 2 tahun, sedangkan pada betina terjadi pada umur 2,5
45
tahun. Pertumbuhan dapat dinilai sebagai peningkatan tinggi, panjang, berat, dan keliling, yang terjadi pada umur muda (Aberle, 2001).
Gambar 12. Sebaran Ukuran Tinggi Pinggul Berdasarkan Umur, Status Tanduk, dan Jenis Kelamin
Tinggi pinggul (cm)
120.0
110.0
100.0
90.0
Umur
3 2.5
2 1.5
Tinggi pinggul (cm)
120.0
110.0
100.0
90.0
Jenis Kelamin
Jantan
Betina Bertanduk Polled Tanduk
46 c. Hasil Pengukuran Panjang Badan
Gambar 13. Perbandingan Nilai Rataan Panjang Badan Berdasarkan Status Tanduk dan Jenis Kelamin
Hasil pengukuran parameter panjang badan pada sapi Bali menunjukkan nilai rataan pada sapi polled jantan adalah 105,80±4,15 cm sedangkan pada sapi bertanduk adalah 102,81±6,47 cm (Gambar 13).
Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi (P) sebesar 0,331 (Lampiran 2). Nilai rataan parameter panjang badan pada sapi polled betina adalah 107,5±9,99 cm sedangkan pada sapi bertanduk adalah 108,04±5,35 cm. Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi 0,826 (Lampiran 3).
105.80
± 4.15
108.04
± 5.35 102.81
± 6.47
107.50
± 9.99
47
Nilai rataan panjang badan pada sapi Bali secara diskriptif menunjukkan sapi polled jantan lebih tinggi dibandingkan sapi bertanduk, dan sebalinya pada sapi betina (Gambar 13). Nilai rataan panjang badan sapi jantan polled dan bertanduk berada dibawah standar persyaratan sapi bibit jantan SNI 7651.4:2015. Dimana ukuran tinggi badan sapi jantan umur 18 – 24 bulan mulai 119 – 125 cm (Tabel 1).
Gambar 14. Sebaran Ukuran Panjang Badan Berdasarkan Umur, Status Tanduk, dan Jenis Kelamin
Pada Gambar 14, menunjukkan ukuran panjang badan sapi polled pada umur 2 tahun memiliki nilai minimum 102 cm dan maksimum 112 cm, sedangkan pada betina nilai minimum 98 cm dan maksimum 100 cm pada umur 2 tahun. Ukuran panjang badan terendah didapatkan pada sapi bertanduk jantan yakni 85 cm.
Panjang badan (cm)
130.0
120.0
110.0
100.0
90.0
80.0
Umur
3 2.5
2 1.5
Panjang badan (cm)
130.0
120.0
110.0
100.0
90.0
80.0
Jenis Kelamin
Jantan
Betina Bertanduk Polled
Tanduk
48 d. Hasil Pengukuran Lingkar Dada
Gambar 15. Perbandingan Nilai Rataan Lingkar Dada Berdasarkan Status Tanduk dan Jenis Kelamin
Hasil pengukuran parameter lingkar dada pada sapi Bali menunjukkan nilai rataan pada sapi polled jantan adalah 136,4±10,99 cm sedangkan pada sapi bertanduk adalah 132,19±6,39 cm (Gambar 15).
Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi (P) sebesar 0,241 (Lampiran 2). Nilai rataan parameter panjang badan pada sapi polled betina adalah 136,67±8,85 cm sedangkan pada sapi bertanduk adalah 137,72±7,51 cm. Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi 0,746 (Lampiran 3).
136.40
± 10.99
137.72
± 7.51 132.19
± 6.39
136.67
± 8.85
49
Perbandingan nilai rataan lingkar dada sapi Bali jantan secara deskriptif menunjukkan nilai rataan sapi polled lebih tinggi dari sapi bertanduk, sedangkan sebaliknya pada sapi betina. Nilai rataan lingkar dada sapi Bali polled dan bertanduk jantan masih dibawah parameter sapi bibit jantan berdasarkan SNI 7651.4:2015 dengan ukuran 142 – 155 cm untuk kelas III – I, pada umur 18 – 24 bulan (Tabel 1). Sedangkan nilai rataan lingkar dada sapi betina polled dan bertanduk sudah memenuhi kriteria sapi bibit kelas II untuk umur 18 – 24 bulan.
Gambar 16. Sebaran Ukuran Lingkar Dada Berdasarkan Umur, Status Tanduk, dan Jenis Kelamin
Berdasarkan Gambar 16, menunjukkan sapi polled jantan memiliki ukuran lingkar dada tertinggi pada umur 2,5 tahun yakni 151 cm.
Berdasarkan umur, lingkar dada sapi polled memiliki lingkar dada tertinggi (145 cm) pada umur 2 tahun. Sedangkan pada betina, sapi polled memiliki
Lingkar dada (cm)160.0
140.0
120.0
Umur
3 2.5
2 1.5
Lingkar dada (cm)160.0
140.0
120.0
Jenis Kelamin
Jantan
Betina Bertanduk Polled Tanduk
50
ukuran lingkar dada yang relatif lebih rendah dibandingkan sapi bertanduk baik pada umur 2 dan 2,5 tahun. Lingkar dada tertinggi didapatkan pada sapi bertanduk (152 cm) pada umur 2,5 tahun dan mencapai 172 cm pada umur 3 tahun.
e. Hasil Pengukuran Berat Badan
Gambar 17. Perbandingan Nilai Rataan Berat Badan Berdasarkan Status Tanduk dan Jenis Kelamin
Hasil pengukuran berat badan pada sapi Bali menunjukkan nilai rataan pada sapi polled jantan adalah 158,8±14,75 kg sedangkan pada sapi bertanduk adalah 148,19±20,44 kg (Gambar 17). Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi (P) sebesar 0,281 (Lampiran 2). Nilai rataan berat badan pada sapi polled betina adalah 155,33±34,68 kg sedangkan pada sapi bertanduk adalah 161,92±19,58 kg. Analisa uji T (t- test independent sample) menunjukkan
158.80
± 14.75
161.92
± 19.58 148.19
± 20.44
155.33
± 34.68
51
kedua nilai rataan tersebut tidak memiliki perbedaan yang nyata atau P>0,05 dengan nilai signifikansi 0,460 (Lampiran 3).
Nilai rataan berat badan pada sapi Bali jantan secara deskriptif menunjukkan sapi polled memiliki nilai rataan yang lebih tinggi jika dibandingkan sapi bertanduk (Gambar 17). Sedangkan pada sapi betina, sapi bertanduk memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan sapi polled. Namun secara statistik baik pada sapi jantan maupun pada betina tidak berbeda secara signifikan antara sapi polled dengan sapi bertanduk. Parameter berat badan merupakan parameter yang banyak digunakan sebagai salah satu parameter seleksi ternak bibit, sehingga paramater tersebut digunakan juga untuk menentukan karakteristik sapi Bali polled pada penelitian ini.
Berdasarkan Gambar 18, berat badan sapi polled jantan memiliki nilai minimum 142 kg dan maksimum 175 kg pada umur 2 tahun, sedangkan pada sapi bertanduk nilai minimum 100 kg dan maksimum 173 kg pada umur 2 tahun. Sedangkan pada betina, sapi polled memiliki nilai minimum 142,5 kg dan maksimum 204 kg pada umur 2,5 tahun, sedangkan pada sapi bertanduk di umur yang sama, nilai minimumnya 138 kg dan maksimum 206,5 kg.
52
Gambar 18. Sebaran Ukuran Berat Badan Berdasarkan Umur, Status Tanduk, dan Jenis Kelamin
f. Hubungan antara Sifat Polled dengan Tinggi Pudak, Tinggi Pinggul, Panjang Badan, Lingkar Dada dan Berat Badan pada sapi Bali
Berdasarkan hasil pengukuran sifat kuantitatif antara lain tinggi pudak, tinggi pinggul, panjang badan, lingkar dada dan berat badan pada sapi Bali polled dan bertanduk (Gambar 9, 11, 13, 15, dan 17) didapatkan hasil bahwa secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05), namun secara deskriptif terdapat perbedaan hasil pengukuran sifat kuantitatif antara sapi polled dengan bertanduk. Sapi jantan polled relatif lebih tinggi hasil pengukurannya dibandingkan sapi jantan bertanduk. Berbeda halnya pada jenis kelamin betina, dimana sapi polled relatif lebih rendah hasil pengukurannya dibandingkan sapi betina bertanduk.
Berat badan (kg)
220.0 200.0 180.0 160.0 140.0 120.0 100.0
Umur
3 2.5
2 1.5
Berat badan (kg)
220.0 200.0 180.0 160.0 140.0 120.0 100.0
Jenis Kelamin
Jantan
Betina Bertanduk Polled Tanduk
53
Sebaran hasil pengukuran sifat kuantitaif sapi polled dan bertanduk seperti pada Gambar 10, 12, 14, 16, dan 18 menunjukkan umur sampel penelitian (sapi Bali polled dan bertanduk) untuk jenis kelamin jantan secara keseluruhan berkisar 2 – 2,5 tahun. Sehingga perbedaan umur bukanlah menjadi penyebab perbedaan hasil pengukuran pada sapi jantan, berbeda halnya pada jenis kelamin betina, perbedaan umur diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan ukuran sifat kuantitatif.
Hal teserbut sesuai dengan pandapat Williamson dan Payne (1993) yang menyatakan bahwa umur berpengaruh terhadap perbedaan bobot hidup sapi.
Perbedaan hasil pengukuran sifat kuantitatif antara sapi Bali polled dan bertanduk juga diduga disebabkan oleh ketiadaan tanduk pada sapi polled terutama pada jenis kelamin jantan. Ketiadaan tanduk pada sapi Bali menyebabkan tempramen menjadi jinak. Menurut Francisco et al., (2012), tempramen pada sapi dapat diartikan sebagai respon tingkah laku ternak ketika mendapatkan perlakuan dari manusia. Tempramen pada sapi dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yakni jenis kelamin, umur dan status tanduk (Voisinet et al., 1997).
Sapi Bali polled menunjukkan tempramen yang jinak dalam pemeliharaannya dan tidak mudah mengalami stres ketika diberikan penanganan dalam pemeliharaan, yang berindikasi pada peningkatan efisiensi pakan dan peningkatan pertambahan berat badan. Sesuai dengan hasil penelitian Lindholm-Perry et al., (2014) yang menyatakan bahwa sapi yang memiliki tempramen yang mudah diatur cenderung
54
memiliki efisiensi pakan yang lebih tinggi. Hubungan antara tempramen yang liar terhadap penurunan pertambahan berat badan harian dan penurunan kualitas daging pada sapi Bos taurus dan Bos indcus ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Voisinet et al., (1997), dan pengaruh tempramen liar terhadap penurunan produksi susu ditunjukkan oleh penelitian Burrow and Dillon, (1997).
Sapi Bali masih memiliki karakteristik liar yang berasal dari tetuanya banteng (Bos banteng) sehingga cenderung masih ditemukan bersifat liar terutama pada sistem pemeliharaan ekstensif / tanpa intervensi manusia (Martojo, 2012). Sifat liar tersebut masih bertahan disebabkan waktu domestikasi yang masih relatif singkat. Sifat liar pada sapi Bali berindikasi terhadap sifat tempramen yang liar dan mudah mengalami stres. Sapi yang memiliki tempramen yang liar cenderung memiliki profil hormon cortisol yang tinggi (Cafe et al., 2011; Cooper et al., 1995) terutama ketika diberikan penanganan yang melibatkan manusia seperti pemberian pakan dan pemeriksaan kesehatan.
Sifat polled pada sapi Bali memiliki hubungan dengan tempramen yang jinak, kemudahan dalam pemeliharaan dan tingginya efisiensi pakan, yang berindikasi terhadap pertumbuhan ukuran tinggi pudak, tinggi pinggul, panjang badan, dan lingkar dada. Salah satu indikator untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan tersebut adalah dengan mengukur peningkatan ukuran tubuh dengan indikator berupa lingkar dada, panjang badan dan tinggi tubuh ternak (Sampurna, 2013).
55
Perbandingan ukuran tubuh ternak antara bangsa/ individu dapat dijadikan sebagai indikator pembanding dalam menentukan hubungan bangsa/ individu ternak. Otsuka et al., (1980; 1982) telah menggunakan ukuran-ukuran tubuh hewan dalam melakukan perbandingan antara berbagai bangsa sapi asli Indonesia, serta hubungannya dengan berbagai bangsa sapi lain di Asia. Penggunaan ukuran tubuh selain untuk menaksir bobot badan dan karkas, dapat digunakan juga untuk memberikan gambaran bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas bangsa ternak tertentu (Diwyanto, 1982).
Karakter fenotipe ternak dapat diketahui melalui ukuran-ukuran tubuh (Otsuka et al., 1982; Surjoatmodjo, 1993), warna, pola warna tubuh dan pertumbuhan tanduk (Wiley, 1981; Warwick et al., 1990; Riwantoro, 2005). Sehingga dalam penelitian ini, karakter fenotipe sapi Bali seperti tinggi pundak, tinggi pinggul, panjang badan, lingkar dada dan berat badan dijadikan parameter dalam menentukan karakter khas dari sapi Bali polled dan sapi bertanduk.
Untuk menambah kedalaman kajian mengenai ukuran tubuh (morfometrik) sapi Bali polled, maka beberapa ukuran sapi Bali hasil penelitian lain (referensi) dijadikan pembanding dengan hasil pengukuran dalam penelitian ini (Tabel 5 dan 6).
56
Tabel 5. Ukuran-Ukuran Tubuh dan Bobot Badan Sapi Bali Jantan
Sifat Bangsa Sapi
Polled1 Bali1 Bali2 Bali3 Bali4
Tinggi pundak, cm 108,80±3,70 105,76±3,81 106,97±4,93 104,4±2,1 103,2±1,9
Tinggi pinggul, cm 108,40±3,44 105,09±3,60 - - -
Panjang badan, cm 105,80±4,15 102,81±6,47 100,2±5,15 108,8±3,4 105,8±7,0 Lingkar dada, cm 136,40±10,99 132,19±6,39 138,8±6,82 148,5±4,2 141,7±5,3 Berat badan, kg 158,80±14,75 148,19±20,44 170,80±20,52 - -
Sumber : 1) Sapi hasil penelitian; 2) Zurahmah dan The, (2011); 3) Sariubang et al,.
(1998) (Jantan Lokal x Induk Lokal); 4) Sariubang et al., (1998) (Jantan Unggul x Induk Lokal).
Tabel 6. Ukuran-Ukuran Tubuh dan Bobot Badan Sapi Bali Betina
Sifat Bangsa Sapi
Polled1 Bali1 Bali2 Bali3
Tinggi pundak, cm 107.67 ± 4.68 109.96 ± 2.99 100,4 ± 4,8 98,6 ± 3,6
Tinggi pinggul, cm 108.00 ± 3.23 108.79 ± 2.71 - -
Panjang badan, cm 107.50 ± 9.99 108.04 ± 5.35 104,0 ± 0,2 103,0 ± 1,8 Lingkar dada, cm 136.67 ± 8.85 137.72 ± 7.51 133,2 ± 8,0 131,1 ± 7,6
Berat badan, kg 155.33 ± 34.68 161.92 ± 19.58 - -
Sumber : 1) Sapi hasil penelitian; 2) Sariubang et al., (1998) (Jantan Lokal x Induk Lokal), 3) Sariubang et al., (1998) (Jantan Unggul x Induk Lokal).
Hasil pengukuran dimensi tubuh sapi Bali polled dan bertanduk jantan dan betina memiliki kesamaan dengan hasil pengukuran beberapa penelitian lainnya (Tabel 5 dan 6). Tinggi pundak sapi polled jantan pada penelitian ini memiliki rataan 108,80±3,70 cm, sedangkan Zurahmah dan The., (2011) melaporkan hasil pengukuran tinggi pundak pada sapi Bali yakni 106,97±4,93 cm, dan Sariubang et al., (1998) melaporkan ukuran yang lebih rendah yakni 104,4±2,1 cm untuk sapi yang lahir dari pejantan lokal dengan induk lokal dan 103,2±1,9 cm untuk sapi yang lahir dari jantan unggul (hasil seleksi) dengan induk lokal. Sedangkan untuk ukuran panjang badan dan lingkar dada sapi polled lebih rendah jika
57
dibandingkan dengan hasil pengukuran tubuh sapi Bali hasil penelitian Sariubang et al., (1998) dan Zurahmah dan The., (2011).
Hasil pengukuran tinggi pundak sapi Bali polled betina yakni 107.67±4.68 cm lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil pengukuran Sariubang et al., (1998) yakni 100,4±4,8 cm untuk sapi yang lahir dari pejantan lokal dengan induk lokal dan 98,6±3,6 cm untuk sapi yang lahir dari jantan unggul (hasil seleksi) dengan induk lokal. Sama halnya pada ukuran lingkar dada memiliki ukuran yang lebih tinggi pada sapi polled.
Sedangkan pada ukuran lingkar dada, antara hasil pengukuran pada sapi polled maupun di sapi Bali hasil pengukuran Sariubang et al., (1998) menunjukkan selisih yang kecil.
Berdasarkan hasil pengukuran sifat kuantitatif pada sapi Bali polled, maka didapatkan karakteristik ukuran dimensi tubuh seperti pada Tabel 7.
Berbagai bangsa ternak asli yang telah berkembang dalam berbagai sistem dan lingkungan yang ada saat ini telah menghasilkan berbagai kombinasi gen yang unik (Utomo et al., 2010). Gen-gen ini tidak hanya menentukan kualitas sifat produksi dari masing-masing bangsa, tetapi juga terhadap kemampuan adaptasinya pada kondisi lokal termasuk makanan, ketersediaan air, iklim dan penyakit (FAO, 2001). Noor, (2004) mengungkapkan bahwa ternak-ternak asli telah terbukti dapat beradaptasi dengan lingkungan dan iklim tropik. Dengan demikian, ternak-ternak inilah yang paling cocok untuk dipelihara dan dikembangkan di Indonesia, walaupun produksinya lebih rendah dari ternak impor.
58
Sapi Bali memiliki ukuran yang relatif lebih kecil dibandingkan sapi bangsa Bos taurus dan Bos indicus, yang disebabkan karena secara genetik sapi Bali memiliki karakteristik sebagai sapi berukuran kecil.
Seleksi yang tidak berimbang turut memberikan sumbangsih terhadap ukuran tubuh sapi Bali yang kecil. Pada era 1980-an terjadi seleksi negatif secara besar-besaran terhadap sapi-sapi Bali yang berukuran besar, dimana sapi Bali yang berukuran besar kemudian dijual (disebar) kedaerah Kalimantan dan sekitarnya. Pasca 1980-an, sapi Bali yang dikembangkan cenderung sapi yang berukuran kecil dan berdampak hingga saat ini. Kehadiran sapi Bali polled diharapkan memberikan sumbangsih terhadap pengembangan sapi Bali (lokal) yang memiliki potensi ukuran tubuh lebih besar.
Tabel 7. Karakteristik ukuran tubuh sapi Bali Polled umur 2 – 2,5 tahun
Sifat Sapi Bali Polled
Jantan Betina
Tinggi pundak, cm 108,80 ± 3,70 107.67 ± 4.68 Tinggi pinggul, cm 108,40 ± 3,44 108.00 ± 3.23 Panjang badan, cm 105,80 ± 4,15 107.50 ± 9.99 Lingkar dada, cm 136,40 ± 10,99 136.67 ± 8.85 Berat badan, kg 158,80 ± 14,75 155.33 ± 34.68
59