ﺮﺋﺎﻃﻪﺒﺠﻌﻳ
G. Pengulangan hadits dalam shahih al-Bukhari
shahîh, karena diriwayatkan oleh Imam Muslim, tetapi tidak shahîh menurut Imam al-Bukhârî.
5. Hadits mu’allaq dengan shighat tamridh yang hasan.
Con-toh:84
Sanad hadis ini ditemukan berasal dari Sufyân b. Husayn dari al-Zuhrî dari Sâlim dari bapaknya. Periwayatan Sufyân b. Husayn dari al-Zuhrî tidak memenuhi syarat shahîh, meski keduanya ada-lah orang-orang tsiqah. Meski tidak shahih, tetapi sanad hadis ini memiliki syâhid, yakni hadis dari Abû Bakr al-Shiddîq. Jalur yang berpangkal pada Abû Bakr al-Shiddîq ini menguatkan jalur yang berpangkal pada Ibn ‘Umar, sehingga naik derajatnya menjadi ha-san li ghayrih.
6. Hadits mu’allaq dengan shighat tamridh yang dha’if.
Con-toh:» ﻰ
85
«
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan yang lainnya, dari riwayat Abû Ishâq al-Subay‘î dari al-Hârits dari ‘Alî ra. Harîts ada-lah orang yang sangat dha’if.
2. Menunjukkan bahwa masing-masing hadis memiliki makna yang berbeda.
3. Menunjukkan bahwa hadis-hadis tersebut diriwayatkan secara lengkap oleh sebagian, dan secara tidak lengkap oleh sebagian yang lain.
4. Menujukkan bahwa para periwayat hadis meriwayatkan had-is tersebut dengan kalimat yang berbeda-beda karena peri-wayatan bi al-makna.
5. Menunjukkan adanya pertentangan dalam periwayatan hadis antara riwayat yang washal dan riwayat yang irsal.
6. Menunjukkan adanya pertentangan dalam periwayatn hadis antara riwayat yang mawqûf dan riwayat yang marfû‘.
7. Menujukkan bahwa dalam sanad hadis-hadis tersebut terse-but ada tambahan atau pengurangan.
8. Menunjukkan bahwa suatu hadis diriwayatkan secara
‘an’anah, tetapi ada yang diriwayatkan secara sama’i.86 Sebagai contoh, hadis berikut:
» :
-«
-Telah bersabda Nabi SAW: Bendera perang dipegang oleh Zayd lalu dia terbunuh kemudian dipegang oleh Ja‘far lalu dia terbunuh kemudian dipegang oleh ‘Abd Allâh bin Rawâhah namun diapun terbunuh, dan nampak kedua mata Rasulullah SAW berlinang.
Akhirnya bendera dipegang oleh Khâlid bin Al-Walîd tanpa menunggu perintah, namun akhirnya kemenangan diraihnya.
Hadis ini disebutkan secara berulang oleh al-Bukhârî di 6 tempat dalam kitab Shahîhnya:
86Baqâ‘î, Manâhij al-Muhadditsîn, 139.
1. Diriwayatkan oleh al-Bukhârî dengan lafal di atas dalam Kitâb (bab) al-Janâ’iz, Bâb (sub-bab) al-Rajul Yan‘â ilâ Ahl al-Mayyit bi Nafsih, dengan sanad:
:
» :
-87
«
2. Menyebutkan lagi pada Kitâb Jihâd, Bâb Tamannî al-Syahâdah, dengan sanad dan matan sebagai berikut:
: :
»
«،
» :
«
» :
88
«
3. Menyebutkan lagi pada Kitâb al-Jihâd, Bâb Man Ta’ammara fî al-Harb min Ghayr Imrah, dengan matan dan sanad berikut:
: " :
:
"،
89
87Al-Bukhârî, al-Jâmi‘ al-Shahîh, juz I, 386 .
88Al-Bukhârî, al-Jâmi‘ al-Shahîh, juz II, 305.
89Al-Bukhârî, al-Jâmi‘ al-Shahîh, juz II, 377.
4. Menyebutkan lagi pada Kitâb Manâqib, Bâb ‘Alâmât al-Nubuwwah fî al-Islâm, dengan matan dan sanad berikut:
"
:
"
90
5. Menyebutkan lagi pada Kitâb Fadhâ’il Ashhâb al-Nabî SAW, Bâb Manâqib Khâlid, dengan matan dan sanad berikut:
»
91
«
6. Menyebutkan lagi pada Kitâb al-Maghâzî, Bâb Ghazwat Mu’tah min Ardh al-Syâm, dengan matan dan sanad berikut:
» : «
» :
92
«
90Al-Bukhârî, al-Jâmi‘ al-Shahîh, juz II, 535-536.
91Al-Bukhârî, al-Jâmi‘ al-Shahîh, juz III, 33.
92Al-Bukhârî, al-Jâmi‘ al-Shahîh, juz III, 146.
Itulah contoh satu hadis yang diulang oleh Imam al-Bukhârî di 6 tempat, yang masing-masing memiliki makna yang dapat di-jelaskan sebagai berikut:93
Pada tempat pertama, dari jalur ‘Abd al-Wârits dari Ayyûb. Di sini tidak ada kata tambahan, sebagaimana pada tempat-tempat lainnya, karena tujuannya adalah menjelaskan bolehnya meng-abarkan kematian seseorang kepada keluarganya sendiri. Berbeda dengan orang jahiliyah yang mengutus orang untuk mengumum-kan kematian seseorang ke rumah-rumah dan ke pasar-pasar.
Pada tempat kedua, Imam al-Bukhârî menyebutkan jalur Ibn
‘Ulayyah dari Ayyûb. Di sini ada tambahan kata-kata yang menun-jukkan makna keinginan mendapatkan keshahidan. Kata-kata ter-sebut adalah (Kejadian itu meng-gembirakan kami seolah mereka ada bersama kami). Hal ini muncul karena para shahabat melihat adanya karamah pada orang yang mati syahid.
Pada tempat ketiga, Imam al-Bukhârî menyebutkan jalur lain dari Ibn ‘Ulayyah dari Ayyûb. Tujuannya adalah untuk dijadikan dalil atas apa yang dimaksudkan dalam redaksi judul bab: Man Ta’ammara fî al-Harb min Ghayr Imrah (seseorang yang me-mimpin pasukan tanpa ditunjuk). Ini dapat difahami dari ung-kapan yang terdapat dalam hadis, yang bunyinya:
(Akhirnya bendera itu diambil oleh Kâlid b. al-Walîd padahal sebelumnya dia tidak ditunjuk).
Pada tempat keempat, Imam al-Bukhârî menyebutkan Hammâd dari Ayyûb secara ringkas, yang disertai tambahan kata, yang tidak ada pada nash-nash sebelumnya. Hanya riwayat Hammâd dari Ayyûb inilah yang memberi kata-kata tambahan ini, yakni (sebelum berita kematian mereka sampai).
Ini termasuk tanda-tanda kenabian, karena beliau mengetahui
93al-Syamâlî, al-Wâdhih, 142
kematian tiga orang ini (Zayd, Ja‘far dan Ibn Rawâhah), sebelum seorangpun memberitahu beliau.
Pada tempat kelima, imam al-Bukhârî menyebutkan jalur lain dari Hammâd dari Ayyub. Di dalamnya ada tambahan kata-kata yang tidak ada pada lafal-lafal hadis sebelumnya. Kata-kata tam-bahan dimaksud adalah:
»
«
Semula bendera komando perang dipegang oleh Zayd lalu dia gugur kemudian bendera itu dipegang oleh Ja'far lalu dia pun gugur kemudian bendera itu dipegang oleh 'Abdullah bin Rawahah namun dia pun gugur pula. Kedua mata beliau menitikkan air ma-ta. Akhirnya bendera itu diambil oleh Sayf (pedang) diantara pedang-pedangnya Allah (maksudnya Khâlid b. al-Walid) hingga Allah memberi kemenangan kepada mereka.
Lafal hadis pada tempat keempat disebutkan secara ringkas.
Mungkin lafal itu dari Sulaymân dari Hammâd, lalu Imam al-Bukhârî meriwayatkan hadis seperti yang ia dengar, dan mungkin Imam al-Bukhârî membuang sebagaian dari hadis untuk mering-kas. Pada tempat keenam, Imam al-Bukhârî menyebutkan ulang hadis yang sudah disebutkan pada tempat kelima, sama persis, baik matan maupun sanad. Pengulangannya ini dimaksudkan un-tuk menjelaskan perang Mut’ah dan dampaknya yang memakan korban mati syahidnya para pemimpin, lalu mendapat keme-nangan di tangan Khâlid ra.